Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Di usia menjelang seperempat abad, atau jauh lebih dini daripada itu kita mungkin akan terbiasa mendapati introgasi sejenis: "Kapan nikah?", "Kamu kapan?", Kapan nyusul?", dan tambahkan sendiri. Ragam kalimat seperti itu umumnya bertandan ke telinga kala sedang menghadiri kondangan, atau sialnya balasan usai memposting foto akad teman, bahkan saat tak ada api ataupun hujan. Apalagi bagi mereka yang bernapas di desa, lontaran demikian bisa amat menyesaki pikiran, penyimpanan yang mubazir. Baiknya langsung tekan shift+delete saja. Permanently. Sayangnya, tidak bisa mengelak mayoritas Indonesian society juga lekat dengan budaya semacam itu.

Tak banyak yang terbiasa dengan itu. Berjejal yang kemudian 'baper' dan sakit hati. Sementara pribadi yang mengusutkan perbincangan, santai saja seperti tengah meneguk susu hangat yang dihidangkan. Sedang aku termasuk orang yang awalnya selalu menganggap itu pertanyaan biasa, basa-basi, sekenanya, atau kalau mau lebih mendalam mungkin doa. Karena itulah jawaban yang kerap aku lemparkan beberapa tahun terakhir adalah "Doakan saja". Berbeda dengan pada saat masih usia 20 ke bawah, eh ke awal, aku selalu lancar menjawab---Ah, masih lama. Jawaban serius, meski terdengar sekenanya.

Tiga tahun kemudian, seorang dosen berbagi kisah, yang kalau disarikan isinya adalah kiat-kiat memilih pasangan dan ilmu-ilmu parenting. Aku kemudian berceloteh, "Benar juga ya, Bu," ucapku merasa tercerahkan. Beliau menimpali, "Ibu tahu, kamu bahkan tak pernah memikirkan hal semacam itu, kan." Aku tersenyum, sedikit nyengir sebelah, agak pahit, tanda mengiyakan. Dosenku tertawa. Dibanding dengan yang lain, cuma bertanya, beliau malah langsung menyusupi ilmu-ilmunya. Betapa paham betul beliau, memikirkan saja hampir tak pernah, apalagi sampai menuliskan target untuk itu. Hehe, daripada memikirkan kapan menikah, aku lebih suka belajar bagaimana membesarkan anak nanti, itupun sebenarnya jika diamanahkan. Aneh memang.

Namun aku bersyukur, hampir selalu merasa biasa dengan perbincangan pasaran dari society itu merupakan buah karena tidak menjadikan menikah sebagai such a main purpose in life. Seolah cinta dari seseorang atau pasangan hidup adalah segalanya. Iya, penting, tapi bukan akhir tujuan hidup juga. Case tiap orang tidak sama. Ada yang ingin terlebih dulu meraih taqwa dengan fokus berprestasi. Ada yang dengan memperbanyak bakti. Ada pula yang menyibukkan diri dulu dengan berkontrbusi pada negeri. We know, it's all about our choice and His will.

_______

Aku tadi menulis "hampir" bukan "selalu" lagi. Karena ternyata ucapan semacam itu bikin muntab dan menyakitkan juga jika keluar dari lisan orang-orang tertentu. Seperti orang dekat, orang yang mungkin sering berselisih paham dengan kita---padahal bagiku, bukan berdebat, atau mendebat, hanya saling memberi ruang untuk bertukar pendapat. Jadi pada akhirnya everthing is OK. Don't take it personal---Tapi entah kenapa, nasihat mengenai pernikahan seolah menjadi serangan yang sangat menyakitkan. Kalimat, "sudah waktunya kamu menikah," menghujam begitu keras, seperti paksaan. Setelahnya, pemikiran-pemikiran yang dianggap modern keluar, berlarian menghampiriku satu-satu. Serupa anak-anak kecil yang meluapkan isi hatinya pada sang bunda. Yang satu berkata, "Memangnya menikah itu dilandasi paksaan!", Lainnya berebut angkat bicara, tak mau kalah: "Memangnya menikah hanya karena dikejar usia", si bontot mengadu: "Menikah bukan perlombaan, kan", "Alasan menikah tak sedangkal menghindarkan zina, dong", "dan seterusnya. Bergerombol, berteriak-teriak liar dalam batok kepala. Berdemo, ingin aspirasinya tersampaikan. Sementara sang empu hanya terdiam.

Pikirannya terseret ke potret dirinya dulu yang paling anti bercerita perihal nikah, masih sangat jauh pikirnya, sampai akhirnya diusia 20-an, beberapa referensi membawanya pada pemahaman: manusia tidak boleh mendikte Tuhan. Termasuk dengan menancapkan kalimat: Aku tidak mau menikah sebelum ini dan itu, meskipun tidak sepenuhnya salah. Menjadi salah jika kita merasa kitalah yang menentukan, tanpa pernah kembali pada satu titik, bahwa sudah ada yang menggariskan.

Jangan hanya karena kesombongan, nasihat menjelma menjadi nyinyiran. Jangan hanya karena merasa pemikiran yang katanya sudah modern, (padahal tidak juga, karena ide-ide semacam menikah bukan karena dipaksa dan lain-lain sebenarnya sudah termaktub sejak dulu. Islam yang sejati lebih dari pada itu dalam menunaikan hak-hak pemeluknya) membuat kita menutup diri dari masukan, hingga tak paham hakikat open minded yang digaungkan orang-orang.

Well, pada akhirnya siapalah aku yang berhak menyalahkan mereka yang memilih menikah muda untuk menghindari zina, ilmuku masih amat cetek, siapa yang menduga itu adalah bentuk ketaqwaan yang berat timbangannya, lagi pula alasan mereka tak hanya berkutat di situ, ada banyak ulasan luas lain! Aku tidak bilang aku tidak setuju bahwa lewat menikah justru kita berbakti dengan membahagiakan ortu. Aku tidak bilang jika dengan menikah kita berhenti mengukir prestasi dan menikah membatasi kita memperoleh impian-impian yang hakiki. Aku tidak bilang, aku bersih dari tidak pernah mengudarakan "Kamu kapan?" sebab seingatku pernah sesekali bahasan itu menguap juga sebagai guyonan, yang sepertinya harus dihentikan. Karena di banyak momen, sudah benar-benar tidak lucu lagi. Tapi tidak dengan doa, semoga selalu mengudara, untuk siapa saja. Pun aku tidak ingin bilang dengan menulis catatan ini aku akan menikah setelahnya. Ayolah, yang benar saja. But, wallahua'lam. *meskipun cuma "but" yang penting ada campuran bahasa Inggris-nya, biar modern, eh. ✌

Rasanya sudah setahun draft catatan ini bercokol tanpa pernah ditindak lanjuti. Berat sekali menggerakan jemari untuk menyentuh huruf virtual pada sekotak benda yang ditenteng kesana kemari. Sedang pikiran begitu penuh, ingin sekali berbagi. Namun perasaan itu seakan baru menetap kemarin. Haru melihat orang-orang sepuh yang masih berjuang untuk menyambung kehidupan, selalu. Berjualan dengan ragam barang yang ala kadarnya, untungnya pun tak seberapa.

Hmm, aku tak pernah sepeka ini. Maksudku seseorang bisa memilih ingin melihat satu topik dari sudut yang mana. Dan aku belum pernah mencoba melirik topik ini: pekerjaan. Sampai akhirnya aku belajar untuk melihat dari sudut pandang yang lain. Sama seperti saat berburu beasiswa dan merasakan (baru sedikit) rentetan perjuangannya, kala itu aku juga seolah merasakan bagaimana susahnya memperoleh penghidupan. Boleh jadi memang tak seberat mereka yang menjadi tumpuan keluarga. Tapi paling tidak aku bisa menuliskan beberapa hal yang baru kupelajari itu.

Begini. Menjelang kelulusan, seorang dosen bertanya padaku, "Kalo Lutfiyah, setelah lulus mau kerja atau punya perusahaan sendiri?", refleks aku menjawab, "Kerja dulu baru buka usaha sendiri, Bu." Namun kenyataannya belum pernah terpikir bagiku untuk melamar apalagi bekerja setelah kuliah. Maksudku di masa setelahnya aku masih ingin mengeksplor diri. Tapi aku juga tidak bilang, dengan bekerja artinya tidak bisa bertumbuh. Biar ku perjelas. Yang ku maksud, pekerjaan tetap, atau rutinitas yang 'terasa' bekerja (Eh, susah dijelaskan istilahnya). Mungkin karena selama ini yang ada di otakku hanyalah tentang sekolaaah saja. Entah ini menjadi kabar baik atau buruk, karena bagiku semua pilihan, pemikiran, dan lainnya memiliki argumen dan sisi-sisi yang berbeda.

Bukan. Ini bukan berarti karena aku tidak pernah berpikir untuk mandiri secara finansial sedari muda. Tentu penting jika bisa atau berusaha demikian. Karena aku pun berasal dari keluarga dengan perekonomian yang sederhana---pantang meminta pada orang tua selain kebutuhan sekolah, keadaan menjelma pengertian nyata, bahwa untuk mendapatkan sesuatu haruslah dengan usaha dan doa sendiri. Terlebih impian kita tak terbatas disitu. Siapa yang bisa mengelak jika ada macam kebermanfaatan terbuka setelahnya. Akan tetapi, dalam hal ini hanya soal rangkaian prinsip yang kadang membikin bingung sendiri.

Hingga pada akhirnya kebingungan itu membawaku kepada pusaran yang sama dengan apa yang telah lama diceritakan dan dipersiapkan orang-orang: melamar pekerjaan. Cerita tentang betapa kian peliknya persoalan yang satu ini. Cerita tentang pengangguran di sana sini. Cerita tentang potensi yang berhenti digali. Cerita-cerita demikian, kala itu membentang lebih terang.

Jadilah, lagi, aku merasakan (meski baru sedikit) betapa sulitnya mendapat pekerjaan, atau mungkin lebih tepatnya memperoleh pekerjaan yang tepat dan sesuai. Sebab kalau berkaca pada diri dengan banyaknya syarat, mungkin, mendapatkannya juga akan lebih perlu perjuangan. Betul, seperti; apakah seragam kerjanya cocok, apakah pekerjaan itu tidak membuat stuck melainkan berkembang, atau apakah bisa berkontribusi banyak, apakah, apakah, apakah, begitu saja terus. Hehe.

Saat "apakah" itu masih meloncat-loncat liar dalam batok kepala, di bagian kehidupan lain justru terus bergulir ragam perjuangan. Kakek yang entah sudah berkepala berapa itu terlihat sangat sepuh. Cara bicara beliau juga sepertinya sudah tidak sesempurna dulu. Tapi semangat juangnya lebih dari pemuda-pemudi yang menulis lembaran kehidupan mereka dengan berpetualang. Mendaki gunung bersama kawan sefrekuensi, berswafoto di spot langka, menjelajah. Bedanya kakek itu berulang kali menghitung lembaran rupiah yang ia dapat dalam setengah hari ini. Belum sampai dua lembar, tapi energinya masih berbinar. Rasa syukurnya tetap meletup-letup.

Kita ke potret kisah yang lain. Anak Adam yang terlihat kerepotan dengan bawaan yang banyak. Siapa sangka, ia masih berstatus sebagai mahasiswi namun terpaksa rehat sejenak dari perkuliahan. Dana menjadi salah satu yang menghambatnya. Aku ralat: menjadi salah satu tantangan dalam hidupnya, karena saban hari alasan itu tidak lantas menjadi penghambat untuk mengumpulkan rezeki lewat berjualan nasi bungkus, kue-kue dan makanan lezat lain bikinannya sendiri, aneka dagangan yang membuatnya terlihat repot tadi.

Pada kepingan mozaik lain, tampak pasangan muda tak kalah menularkan energi yang baik. Kita patut bersyukur karena memiliki akses dan pemahaman untuk memanfaatkan teknologi. Karena meski itu yang belum dimiliki, mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan penuh harap dan hamdalah yang lebih penuh. Auranya memenuhi dagangan yang dijejer rapi, usai sebelumnya diamankan karena hujan mendera siang ini.

Walau tak seberapa, aku jadi teringat saat keterbatasan justru membuatku semakin giat belajar. Keringat yang membasahi tubuh setelah berjalan hingga ruang kelas, justru menjadi pemantik semangat untuk lebih fokus menyimak kuliah yang disampaikan dosen. Saat tak memiliki laptop, aku malah berinisiatif untuk menulis dulu konsep tugas akhir di kertas-kertas bekas sebelum akhirnya mengetiknya di ruang Warnet dengan kepulan asap rokok yang menyebalkan.

Keterbatasan harusnya juga mampu membuat kita berlama lama dalam berdoa. Lalu selipkan juga agar tak berhenti bersua dengan-Nya saat tak butuh, meski hakikatnya kita selalu membutuhkan Dia. Seperti yang juga aku rasakan. Saat tak ada lagi jalan kaki, sabar yang diuji kala menunggu angkutan yang tak pasti, melainkan motor yang tinggal dipacu, dan sederet hal lain yang agaknya menyeret kita ke zona nyaman.

Padahal berjibun orang 'sukses' yang lahir dari keterbatasan. Aku memaknai keterbatasan tidak melulu pada anggaran, walau maraknya begitu. Aku mengartikannya lebih luas. Sebab sering yang lahir dari keluarga berada (dari orang tua) tapi mau bekerja sangat keras dan mandiri. Hei, zona nyaman juga bisa jadi sebuah keterbatasan yang---jika tidak dikelola, melahirkan akses untuk bisa berbuat lebih---akan menghanyutkan.

Di tingkat yang lebih tinggi, persepsi keterbatasan berkenaan dengan terbatasnya amal kita untuk mendapat sisi terbaik. Pemahaman itu yang membuat kita terus berusaha memperbaiki diri. Salah satu yang bisa dilakukan ialah memaknai hidup lewat perjuangan seperti yang dilakukan orang-orang tadi, siapapun, atau bisa jadi sosok-sosok di sekitar kita.

Namun sering kita malah menimpali perjuangan orang-orang hebat itu dengan komentar-komentar tak perlu bahkan menjijikkan. Seperti, "Ya ampun, kok ngga gengsi, sih. Kan, anak orang kaya," atau "Sarjana tapi gitu-gitu aja tuh kerjaannya," "Kok mau, ya. Ngga gampang loh." dan ungkapan sejenis.

Sering pula aku berusaha mencerna kalimat-kalimat yang patutnya tak pernah diterima itu. Meski bukan pribadi yang dikomentari, aku, terjadi begitu saja, berpikir atas apa jawabannya. "Lah, kenapa harus gengsi, ya.Toh asal halal dan diniatkan untuk-Nya semua bernilai ibadah. Lagi pula pekerjaan ini-itu, label kaya-miskin itu, kan, cuma standarisasi buatan manusia. Bahwa yang kaya cenderung lebih terhormat dan perlu diberi tempat duduk khusus. Sedang yang melarat bahkan tak pernah diakui sebagai kerabat. Secara tidak sadar kita kerapkali terdoktrin bahwa orang yang bisa survive dan terpandang adalah mereka yang bekerja di kantor, berkemeja, bayaran terjamin. Padahal tiap orang sah-sahnya saja berusaha dalam bentuk apapun untuk bertahan hidup. Tak perlu ada paradigma yang menyudutkan. Justru butuh saling menguatkan. Sungguh, bukan kita yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian. Lantas kenapa seperti pihak yang mempertimbangkan nasib banyak orang" gumamku dalam hati.

Kabarnya, orang berkacamata identik dengan seseorang dianugerahi kepintaran yang lebih, yang salah satunya terformat melalui pendidikan. Sepotong bukti hening kalau sang empu mau berlama-lama dengan buku, menyelami ragam ilmu.

Kali ini asumsi mereka kurang tepat. Bapak bahkan tidak pernah mencicipi bangku formal. Benda bergagang itu hanya membantunya menyelesaikan misi: beribadah lewat mencari nafkah.

Tak sepenuhnya salah, karena meski tak pernah bersekolah beliau memang sosok yang pintar, cerdas nan tangguh. Seperti banyak orang, bapak memiliki banyak keahlian. Bagaimana tidak, tempaan kehidupan yang keras sejak kecil membuatnya terbentuk sedemikian tajam.

Sebenarnya bapak bisa dibilang datang dari keluarga yang cukup bila diusahakan untuk mengakses pendidikan, namun beliau harus menerima diskriminasi. Bahasa yang terlalu kasar, sebab bapakku tak beranggapan semacam itu. Ia menerima dengan lapang, sebagai secuil bakti dari panjangnya pengorbanan orang tuanya. Lagipula pemahaman perihal pentingnya "pendidikan" tidak melulu sama pada sisi tertentu, pada generasi yang berbeda.

Jadi tak masalah saat saudaranya yang lain belajar mengeja aksara, belajar menggerakan pena, bapak justru bercucuran keringat, kepanasan, kelelahan, sedari pagi menggerakkan cangkulnya dengan giat. Lelah yang terasa nikmat menjadi bentuk khidmat. Walau tak dusta jika dari pengakuannya beliau juga sempat berkeinginan seperti yang lain.
__ __ __

Berbeda dengan jalan hidup yang dilalui ibuku,  penanggung hidup yang bagiku tak terhitung kebaikannya itu memiliki orang tua yang lengkap hingga menikah dengan ibu dan dikaruniai keturunan.

Syukur alhamdulillah, bapak tidak membeda-bedakan anak-anaknya. Kami semua boleh bersekolah. Tak harus pergi ke sawah. Meski sekarang, aku ingin bilang, ternyata keduanya penting: sawah mengajarkan kehidupan dengan uraian yang amat luas. Sedang sekolah, kerapkali membuat pandangan kita jadi amat terbatas.

Mungkin hanya perasaanku saja. Waktu kecil pernah aku merasa terintimidasi saat momen-momen keluarga besar berkumpul. Kala itu, seperti yang sudah-sudah, obrolan mengarah pada pertanyaan rangking kelas yang diperoleh saudara-saudaraku. Bapak dan kerabatku menanyakan mereka satu-persatu. Tak pelak, aku merasa kaku di balik tiang sendirian karena tak ditanya. Tak berharap juga disebut nama sebab seperti biasa belum pernah diurutan tiga besar di kelas. Rasanya aku menjadi satu-satunya anak Bapak-Ibu yang bodoh dan melas.

Aku tahu, mereka tak berniat demikian. Aku saja yang kemudian selalu berpikir setelahnya jika peringkat kelas adalah instrumen paling valid dan reliabel untuk menilai kecerdasan dan kepintaran seseorang. Meski pemahaman kelam itu acapkali dicerahkan oleh ibu, ia tetap saja memenuhi sebuah folder yang membersamai file-file lain dalam otakku sampai aku duduk di bangku pertama MA. Ternyata aku yang salah mengerti. Padahal bapak selalu berusaha mengerti kami. Tak masalah mengenyam pendidikan tinggi-tinggi, selama akhlak senantiasa dipatri.

Bapak memang tak banyak bicara. Namun perhatian pada semua anaknya selalu sama, seakan mereka tak pernah beranjak dewasa. Perkara mengingatkan makan sesekali diluapkan, atau susah dimintai izin waktu aku pertama kali memutuskan berkendara ke jalan raya, meski ibu telah berabad lalu mengetuk palu. Sekali bicara bisa panjang, dan tak berlebihan kalau seolah ada yang tengah mengiris bawang tak kasat mata. Pantas sering ditunjuk menjadi penengah kala beberapa orang terlibat masalah, retorika dan pesan-pesan yang disampaikan sungguh menawan.

Tetap saja, bapak lebih memesona saat pandai sekali mengucap terima kasih kepada Tuhannya. Sekalipun terhadap hal yang beberapa orang anggap remeh temeh. Apalagi pada hadiah terbesar berupa kesehatan yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Serupa dengan jodohnya, bapak hampir tidak pernah menyuruh anaknya ini-itu. Sebisa mungkin pekerjaan dilakukan sendiri. Betul, ada plus minus-nya. Hanya karena catatannya selalu harum, bukan berarti selama ini mereka tidak dilengkapi kekurangan, kan. Mustahil rasanya manusia terlepas dari itu.

Alur kehidupan yang sebenarnya tak pernah seideal tuntutan sinetron. Kacamata kitalah yang dituntut untuk melihat lebih dekat keelokannya, bukan semata-mata berfokus pada cela. Tak perlu kepintaran yang berlebih. Kita hanya butuh sepotong bukti berwujud hati yang senantiasa diasah, supaya syukur berkelanjutan lantaran diberkahi rupa-rupa anugerah. Lalu mengalirlah doa yang selalu sama, tak ingin hanya berkumpul di tempat yang fana. Melainkan bermuara pada ''tayangan" yang sifatnya abadi.

Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati, ucap Andrea Hirata. Hidup tanpa visi: mungkin salah satu alasan yang membuat banyak dari kita sukar mempertahankan nyala semangat hingga akhir. Memang, wajar jika sebagai manusia, kadang sinarnya meredup, tapi tentu jangan sampai mati. Sebab kita akan selalu mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang dahulu kita tancapkan sebagai visi.

Ah, mudah bukan. Memang. Menulisnya memang terlampau mudah. Tak seperti pengamalannya. Susah bukan main, kalau sandaran semangatnya hanyalah diri kita yang rapuh bagai rempeyek. Maka yang terjadi, peka sedikit saja rasanya sudah ingin mewek. Hmm. Namun beda jika semangat itu disandarkan pada Yang Maha Kuat, Al - Qawiyy. Lalu terus menerus diminta dari Yang Maha Membangkitkan, Al - Baa'its.

___

Tetap di rumah jika tidak ada keperluan genting sebenarnya memang sudah menjadi makanan sehari-hari bahkan sebelum himbauan pemerintah sejak pandemi membersamai. Malas keluar akut mungkin salah satu alasannya. Padahal petualangan seringkali didapat dari perjalanan-perjalanan menakjubkan, tapi yang benar-benar penting, bukan kesia-siaan. Hehe. Maka saat kini himbauan itu berlaku, aku tidak sebegitu riweuh. Hanya saja, sekarang kondisinya sudah berbeda, ada kewajiban penting yang harus dijalani. Di luar yang satu itu, mendekam di rumah memang tidak perlu diperintah lagi.

Adapun kala itu Senin. Kaki rasanya berat sekali beranjak keluar kamar, apalagi rumah. Berat. Payah. Di usia sepuh ini masih kelimpungan mencari ikigai sendiri. Masih sibuk mempertanyakan. Masih ini dan itu. Padahal Allah selalu punya jawabannya. Jadi tanyakan saja pada-Nya, bukan pada rumput yang bergoyang apalagi pada search engine yang tak punya perasaan. Eh, kembali ke hari Senin. Aku akhirnya memang harus melewati masa itu. Kerikil kecil yang muncul karena mungkin hidupku yang terlalu 'nyaman'. Kecil tapi mampu menutup cela untuk meneropong visi yang dari dulu sudah berusaha dibangun satu demi satu, layaknya lego-lego kecil.

____

Motor yang kupacu melewati pasar---tetap saja ramai di masa seperti ini. Maklum, meski sudah dicap sebagai zona merah, masyarakat masih pergi mencari nafkah. Selain lembaga pendidikan yang mendaringkan KBM, dan membuat usaha-usaha di sekitarnya tutup---semua relatif tak berubah. Yang paling terlihat adalah hampir semua orang mengenakan masker dan tersedianya 'wastafel' cuci tangan di beberapa spot. Sesekali pandanganku menyapu bagian luar pasar yang terletak persis disamping jalan raya. Ku dapati orang-orang dengan ragam dagangan, penuh semangat, penuh harap, penuh perjuangan. Menjajakan dagangan, rela berpanas-panasan, bahkan meski nyawa yang menjadi ancaman. Aku mulai merasa kecil, melihat para pedagang kecil namun Allah mampukan memiliki semangat yang besar.

Beberapa menit kemudian motorku, eh motor Bapak ding, melesat menyisiri jalanan kota. Ada yang sibuk mencabuti rumput sebagai tugas mulia sekaligus ibadah untuk memperoleh suapan nasi. Ada yang sejak lama ku dapati berpeluh-peluh membawa gerobak sorong berisi kursi-kursi dari bambu. Ada yang melewati hidup yang lebih berat: sopir-sopir angkot dan tukang becak yang sepi penumpang. Penjual nasi bungkus, dan pedagang kecil lainnya yang menguap saking terlalu lama berdiam. Lebih berat artinya, insya Allah, disediakan pahala yang lebih berlipat.

Kalau melihat di media massa, banyak guru honorer yang beralih profesi dadakan menjadi penjahit, kuli bangunan, buruh tani dan lain-lain. Sungguh, tanpa merendahkan profesinya, aku hanya ingin kembali mengingatkan diriku, betapa mereka benar-benar berjuang, menerima apapun bentuk jalan yang mereka hadapi di depan.

Di masa yang berat ini, ada juga mereka yang diPHK sepihak, para ABK Indonesia yang tak punya pilihan dan mereka yang ditimpa musibah seperti kebakaran. Bahkan kalau mau lebih luas lagi di belahan negara lain hari-hari yang mereka lalui jauh lebih berat. Karena saban hari harus menghadapi krisis kemanusiaan, krisis pangan, konflik antar negara, dan gap sosial yang sebenarnya juga terdapat di negara kita.

Jadi merasa aneh jika harus menjadi budak oleh diri kita sendiri. Duh, semoga selalu dibimbing untuk memanfaatkan tiap waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sebab kita semua punya visi yang sama, yang tak hanya berakhir bila kita hanya tinggal sebuah nama.

Kata Buya Hamka, "Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah." Tak heran jika beliau berpesan demikian, karena Allah SWT telah memampukannya untuk menelurkan beragam karya.

Satu pesan menarik dalam sebuah konten dakwah visual yang temanku bagikan beberapa hari yang lalu berjudul: Menu di Bulan Ramadhan. Adapun salah satunya: Talas. Yang merupakan akronim dari Tak Ada Kata Malas. Aku pun terbangun, benar-benar related dengan apa yang aku alami Senin itu.

Tak mau buang waktu. Aku juga ingin berusaha sepeti yang lain. Mengerjakan apapun dengan luapan semangat. Apalagi di bulan penuh nikmat dan pahala yang berlipat-lipat. Terlebih, orang tua sudah berbuat sangat banyak, rugi rasanya jika tidak bermanfaat. Paling tidak dimulai dari lingkungan terdekat.

Semangat, besok Senin lagi! Hihi.

Kucing-kucing itu mendekat. Aku masih saja keheranan. Mereka terlihat begitu akrab. Seperti hewan lain yang menjadi piaran di rumah-rumah. Tapi ini bukan rumah, ini tempat umum, dan mereka kini mampu membuatku berhenti sejenak untuk memperhatikan. Sekepal hikmah yang begitu saja menyusup, rasanya tak bisa dinegasikan begitu saja.

Ternyata, selain membekali diri untuk makan siang, seorang wanita parubaya yang ku kenal ramah itu juga membawa sekotak makanan kucing tiap pergi ke kantor. Selesai dari ruang kerjanya untuk pulang, beliau sudah siap dengan kucing-kucing yang berhamburan di luar. Lapar. Ia pun langsung memanggil mereka. Seperti memanggil anak-anak kecil untuk dihadiahi permen satu-satu.

Seringkali pemandangan yang tak sengaja kulihat ini tak menunggu jam pulang. Sebab saat mendengar kucing mengeong kelaparan, beliau langsung sigap dan mencari sumber suara. Seperti biasa, para kucing patuh, bahkan sangat antuasias. Lahap menyantap limpahan rezeki yang terhidang untuk mereka. Berperantara seorang yang peka dengan sekitarnya, dengan hal kecil yang seringkali luput dari perhatian.

___

"Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri."
"Melakukan kebaikan tidak perlu menunggu hal besar. Kita bahkan bisa melakukannya dari hal-hal kecil yang tidak dihiraukan oleh orang lain."

Begitu kira-kira ungkapan seorang wanita parubaya lain. Ternyata bukan omong kosong. Sebab sering aku dapati beliau dimampukan melakukan kebaikan yang juga kerap luput dari perhatian orang. Seperti meletakkan sabun secara cuma-cuma di beberapa kamar mandi. Me-laundry mukena-mukena hingga semua orang bisa melaksanakan ibadah dengan lebih nyaman dan mungkin lebih khusyuk. Merelakan beberapa koleksi tanaman pribadinya untuk memberikan kesejukan di ruang dan beberapa sudut kantor. Dan sebagainya. Dilakukan tanpa berharap imbalan atau pujian dari manusia. Kebahagiaan yang menenangkan sudah lebih dari cukup.

___

Kebaikan memang banyak sekali bentuknya. Tidak melulu berupa barang. Keramahan juga barangkali setara dengan senyum yang bernilai ibadah. Ramah kepada siapapun tanpa tebang pilih. Pak Satpam itu contohnya. Tak heran bila ini kemudian berbalas hal yang sama dari banyak orang. Walau kadang tak selalu begitu. Karena tanpa ujian, katanya hidup akan terasa datar.

___

Sekelumit kisah tentang kebaikan-kebaikan tadi acapkali membuat aku merenung. Lantas aku kemudian bertanya pada diri: Apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan, yang mungkin luput dari penglihatan orang-orang karena anggapan 'remeh'? Atau bahkan apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan secara sembunyi-sembunyi? Jangan-jangan semua sudah terpublikasikan. Lalu nilainya sudah tergerus dengan kemurnian jiwa yang kerap terombang ambing tak keruan. *Naudzubillah.

Betul. Aku kadang amat malu. Ingin memberikan dampak kebermanfaatan yang besar, tapi lupa akan kebaikan-kebaikan kecil yang bisa dicicil. Lupa bahwa banyak kebaikan yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, kampus, kantor, sekolah dan lain-lain.

Padahal benar juga yang beliau sampaikan. "Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri." Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Kita tentu tidak bisa mengandalkan kebaikan orang lain, melainkan fokus kepada sejauh mana kita telah berbuat baik.

Serupa hasil yang takkan menghianati proses, amal juga tidak akan menghianati tuannya. Ia menjelma sebuah akse, yang jadi sebab kita merasakan ridho dan surga-Nya. Maka di tengah pandemi. Semoga dimudahkan untuk menabur kebaikan, sembari belajar menata hati. Dengan harap kemuliaan, bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan manusiawi. Apalagi sedang berlangsung bulan suci, yang kehadirannya selalu dinanti-nanti.

Meski belum seberdaya mereka yang mampu menggerakan jutaan orang untuk bederma. Setidaknya kita bisa menghaturkan doa serta langkah-langkah kecil namun bermakna. Menggerakkan diri untuk membeli kebutuhan pangan di pedagang kecil, menghemat penggunaan energi, #dirumahaja bila tidak teramat perlu, dan lain sebagainya. Aku yakin teman-teman jauh lebih paham akan hal ini. Aku yang masih berusaha mengisi kealpaan. Sampai menyebutkan saja belum diberi cukup kemampuan. Mari saling mendoakan!

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri." (QS. Al-Isra': 7)

Ingin sekali menulis catatan yang menggetarkan jiwa  tapi rasanya hatiku belakangan ini kian dikotori, jadi bagaimana pantas menjadi perantara untuk menggetarkan kalbu banyak orang. Ingin pula menulis catatan yang bercakrawala, tapi akhir-akhir ini aku jarang membaca. Akibatnya wawasanku masih sesempit pakaian kekecilan. Jadilah aku kini, meski biasanya juga demikian, menuliskan catatan harian yang bisa jadi tidak begitu penting. Namun, akhirnya ditulis juga, dengan harapan ada secuil kebaikan, dan semoga bisa menjadi penghapus bagian hati yang tidak glowing ini, kusam oleh amal buruk. Hmm, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita.

_______

Sering dikira ingin jadi ini - itu lantaran kerap merapalkan doa untuk bisa memiliki kesempatan bersekolah lagi membuat senyum tak kuasa ditahan lagi. Padahal, kalau diuraikan kembali, dingat, dipikir, dan berdialog dengan diri sendiri sebenarnya tidak pernah menargetkan untuk memiliki 'posisi' atau jabatan apapun. Kadang memang acapkali terbawa oleh masa-masa kecil, dan perjalanan mengarungi hidup hingga kini---entah berkeinginan menjadi jurnalis, guru bahasa Inggris, menteri pertanian, agripreneur, fotografer, designer, traveler, chef atau apapun itu. Lantaran mungkin akan lebih mudah membantu banyak orang, dengan beragam cara di masing-masing peran.

Aneh mungkin, kian menua justru kian tidak mengerti ingin jadi apa. Seolah tak memiliki tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya tuntutan hidup. Namun sungguh, ini hanya opini pribadi. Sebab aku juga masih sangat mendukung perihal memiliki cita besar di masa depan. Karena katanya itu salah satu yang memacu diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Lagi pula, faktanya tidak mesti seperti yang kita lihat. Misalnya saja, kerap ku dengar orang-orang yang sebetulnya tidak mendamba apa-apa, katakanlah jabatan (di dunia) tapi malah diamanahi tanggung jawab yang besar. Serupa ada invisible hand.

Ya, ternyata memang nyata, tentu dan aku mengimani itu. Bahwa seberapa rinci rencana kita, pasti ada yang Maha Baik, yang mampu merevisi perencanaan kita menjadi yang terbaik. Maha Mengetahui perkara yang tidak kita ketahui akan ketetapan-ketetapan yang paling baik bagi kita. Dari cerita-cerita itu aku jadi makin belajar bahwa (lagi-lagi) tidak bisa kita mendikte hasil akhir, meski wajar merencanakan, mendoakan dan mengusahakan hidup seperti apa yang kita idamkan di masa mendatang.

Sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian yang besar. Hanya saja definisi 'besar' tak sesempit dulu, tidak juga seperti pakaian tadi. Yang jelas, semoga selalu berpegang pada satu kata: bermanfaat. Lalu muaranya selalu satu: meraih ridlo-Nya. Ah, gampang sekali menuliskannya. Semoga menjadi doa untuk kita semua. Agar tidak melupa akan tujuan eksistensi kita di dunia. Karena hakikatnya, menjadi bermanfaat tak melulu dari hal besar. Kadang untuk memulai yang kecil saja sulitnya minta ampun. Maka aku salut dengan mereka yang tak banyak babibu tapi bergerak, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Aku jadi belajar untuk tidak menyamaratakan: bahwa tiap orang yang memilih bersekolah hanyalah karena sekadar gelar dan gengsi. Supaya kemudian tidak kaget saat menemui seseorang yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu rumah tangga sebab memiliki makna dan pemahaman tersendiri tentang pencapaian hidup. Bahkan jika mengerti, itulah karir terbaik seorang wanita di mata Allah.
Selain kaget, dewasa ini kisah seseorang yang memiliki 'gelar' dan memilih berwirausaha malah jadi viral di kalangan warga net. Seolah berpendidikan tinggi tak boleh menjadi seorang pengusaha. Eh, mungkin hanya anggapanku saja. Karena statement itu bisa juga membawa pesan baik lain.

________

Menimba ilmu, seperti aktivitas lainnya (bekerja, dan lain-lain) bisa menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Memohon agar Allah pertemukan dengan orang-orang yang bertujuan sama. Memang tidak melulu melalui jalur formal untuk menggapainya. Namun siapa yang bisa menjamin kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang. Pun bagaimana jalan untuk memperolehnya, bukan. Kita masih sama-sama berusaha. Meng-upgrade niat, agar paling tidak, bisa lebih baru dan lebih baik.

Selain itu, sebaiknya buanglah anggapan jika yang memilih untuk sembari meniti karir, hanyalah sebab mereka terlampau ambisius terhadap materi. Boleh jadi ada banyak hal sebagai prioritas, karena hidup bukan tentang diri sendiri. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan apa yang kita lihat. Siapa sangka kalau ternyata kita belum mendapat gambar yang utuh, lalu dengan mudahnya mendistraksi dan menyampaikan pemikiran sebelum melihat kebenaran. Belum lagi, jawaban dari barisan pertanyaan kita tidak bisa diketahui sekali waktu, atau bahkan menjadi misteri sampai kapanpun selayaknya takaran-takaran pahala. Maka (nasihat untuk diriku) jangalah mudah memberi gelar pada orang lain seolah kitalah Tuhan.

Bukan. Bukan sayang jika gerombolan pandemi #corona ----yang mungkin saja sedang menertawakan kita saat ini----dibuang. Tapi yang ku maksud adalah pelajaran yang terkandung di dalam setiap kejadian yang makhluk bumi alami akhir-akhir ini. Rasanya amat sayang kalau dibiarkan menguap begitu saja tanpa diabadikan lewat catatan. Belum lagi pesan itu disampaikan bukan oleh iklan layanan masyarakat. Karena meski itu yang ditunggu-tunggu lantaran muak dengan tontonan yang ada, ini adalah hal yang berbeda. Salah satu influencer di dunia nyata yang belum lama ini hadir di list sumber inspirasi harianku-lah yang menyampaikannya.

Aku tadi bilang: menertawakan. Lihat saja, beragam rencana yang sudah disusun sedemikian rupa kini harus diatur ulang dengan sistem yang tak lagi sama. Benda yang tidak terlihat oleh mata telanjang itu benar-benar mengajarkan kita, ungkap beliau, bahwa kita seringkali merasa menjadi seorang penentu masa depan, lanjutnya. Seolah kita sudah pasti tahu apa makanan yang besok bisa kita nikmati karena telah memenuhi isi kulkas saban hari.

Kita seperti begitu yakin akan mampu menatap hari esok. Menggenggam pencapaian demi pencapaian, mendapat beasiswa luar negeri, mencetak murid-murid mumpuni, memiliki segudang prestasi, memberi nafkah anak-istri, melambungkan pergerakan ekonomi, merasa menjadi sosok yang paling kuat di bumi. Sombong. Sungguh terlampau sombong tanpa pernah melibatkan Allah SWT di setiap lini.

Maka benar, ikhtiar memang sebuah keharusan, tapi hasil pada akhirnya selalu Allah-lah yang menentukan. Sama seperti saat ini, ikhtiar sangat perlu dilakukan demi jalan yang terbaik untuk semua. Semoga. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah upaya-upaya kebaikan yang justru dinodai dengan oknum-oknum yang kian memperkeruh suana. Semoga lekas terbuka hatinya.

Saat jawaban seringkali menjadi misteri. Kita hendaknya tak saling tunjuk jari. Karena bisa jadi setiap kita juga berkontribusi di tengah 'kekalutan' ini. Dengan menyadari itu, kita kemudian tidak akan mudah menuduh malah rajin mengintropeksi diri. Mengistighfari kesombongan yang mungkin memang sudah sangat melampaui besarnya biji sawi, bahkan Fuji. Setelah itu, semoga menjadi kian peduli dan bersinergi. Bahwa kita tak hidup sendiri dan hidup bukan untuk diri sendiri.

Selagi lagi, itu semua bukan kataku (Memang ada penambahan tanpa mengubah maksud). Bukan juga oleh iklan layanan masyarakat di sekotak layar televisi. Itu ujar seorang influencer di dunia nyata yang nyata juga amalannya. Yang saat itu hanya mampu membuatku berkaca-kaca. Tanpa tahu harus berkontribusi apa selain doa, memperbaiki pola hidup dan #dirumahsaja jika memang tidak ada yang teramat penting. 
______

Ah, kalimat terakhir lalu membawaku pada cuplikan-cuplikan sulitnya menghadapi hidup yang dialami segenap manusia di berbagai daerah, kota, bahkan negara. Entah karena kemiskinan, konflik antar negara, diskriminasi, krisis kemanusian dan lain-lain. Betapa kadang aku hanya lebih banyak terdiam untuk mereka. Menikmati anugerah tidur nyenyak dan makan dengan lahap. Hmm, semoga kita bisa meringankan kesedihan dari lingkup yang paling dekat, seperti keluarga, dan seterusnya. 
______

Salam hangat untuk kawan-kawan semua. Semoga diberkahi kesehatan dengan produktivitas yang berkualitas selalu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah berjasa di tengah situasi tak terduga. Semoga badai sangat cepat berlalu. Dan kita diberikan kemudahan untuk menyerap tiap hikmahnya.

#ncbn #nggacumabelajarnulis #pesan #lawancorona #dirumahaja #belajarnulis #writingiscaring

Bukan sepenuhnya karena usai mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor, aku akhirnya enggan belajar naik sepeda motor. Padahal adikku sudah mahir mengendarai benda 'ajaib' pada masanya tersebut. Hingga akhirnya saat menjelang lulus dari MA, aku memberanikan diri untuk belajar sendiri. Bertahap, sampai pada hari ini alhamdulillah bisa menyebrang pulau sendiri. Perkara yang mudah, biasa dan bukan sebuah prestasi bagi banyak orang. Terkecuali bagi anak yang kala itu atau bahkan mungkin sampai sekarang, masih gelagapan memacu motor ala pembalap handal. Hehe.

Dari perjalanan kesana-kemari (Aih, seperti sudah berkelana kemana-mana saja), maksudku perjalanan 'formalitas' itu, aku akhirnya jadi belajar satu hal. Tentang mengarungi hidup yang mungkin bisa aku analogikan layaknya mengarungi perjalanan dengan motor (ini disesuaikan dengan kendaraan yang digunakan masing-masing pribadi) ini.

Betapa tidak, orang yang sampai duluan bukan perkara mereka yang start-nya lebih awal atau jarak tujuan yang relatif lebih dekat. Karena tiap orang punya tujuan dan kepentingan yang tidak senada. Ada yang lambat, karena harus membantu orang yang tengah mengalami kecelakaan. Ada yang mempercepat laju karena sudah banyak yang menunggu bantuan. Dan lain sebagainya. (Serupa hidup dengan maut, jodoh, dan lain-lain yang sudah digariskan dan tiba dengan timing dan cara yang beragam).

Di bagian lain, menyetir kendaraan mungkin agaknya seperti menyetir kehidupan. Meleng sedikit, kita bisa tertinggal, didahului, atau bahkan yang paling parah kecelakaaan.  Maka seringkali, fokus yang kita alokasikan tidaklah main-main. Apalagi fokus kita untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak, tak terbayang berapa lelah-lillah yang perlu dialokasikan.

Ada mereka yang menikmati perjalanan dengan begitu menghayati setiap masanya. Pelan-pelan berkendara sembari hati-hati memandangi sekitar. Entah melihat peluang lain, atau memang hanya sekadar memaknai dan menyelami setiap detik anugerah yang diberikan.

Hingga maut tiba, hidup di dunia akan terus berjalan. Bukankah baik dari segi keimanan, harta, ilmu, fisik, usia dan apapun itu akan terus dinamis. Tak selamanya kita berada di tempat yang sama. Selama itu pula semoga kita istiqomah untuk tidak bosan meminta.

Karena itulah kita mungkin pernah berada di kondisi amat senang, antusias, ketagihan mengaji berlama-lama dan benci sekali pada syair-syair duniawi, tapi juga pernah di posisi malas membaca kalam ilahi dan malah lihai memencet playlist musik yang hakikatnya tak pernah bisa mewarnai sunyi. Pernah dengan mudah menyerap ilmu karena hati senantiasa direfresh dengan amal kebaikan, tapi juga pernah dalam posisi otak seakan tumpul, susah menyerap pelajaran.

Itulah kenapa dilarang untuk merasa lebih suci dan dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar selalu dipatrikan keimanan pada hati. Atau terus bermimpi besar, karena harta, ilmu dan kebaikan pada diri dan untuk orang lain mampu diusahakan. Pun jangan pernah berputus asa jika diri menjadi amat terhina karena dosa yang menggunung. Sepanjang kita berusaha meremidinya, sungguh, Allah Maha Pengampun.
______

BTW, apa hanya karena aku yang culun saja hingga merasa speed kendaraan mereka yang mengemudi di kota ini (Surabaya) bikin ngos-ngosan. Tapi mau tidak mau seringkali wajib diikuti. Sama seperti kehidupan yang kadang mau tidak mau juga demikian. Padahal ini sudah sekitar lebih dari sepuluh kali kesini. Relatif tak banyak. Jadi mungkin cukup normal kalau pada perjalanan kedua, hampir satu jam lebih aku berkutat di jalan dan tempat yang sama sebab handphone sedang lobat dan aku benar-benar seperti kehilangan petunjuk, meski berulang kali bertanya ke penduduk sekitar. Benar-benar sama seperti kehidupan, kita butuh pedoman sebagai petunjuk agar tidak kelimpungan menjalani hidup yang benar.

Berbicara tentang benar, sebagai orang tua, anak, suami, istri, kakak, adik paman, bibi, dan seterusnya kadang kita tidak menyadari bagaimana seharusnya 'menyetir' dengan benar. Bahwa hanya karena kita lebih tua dan sebaliknya, lebih berpengalaman, (merasa) lebih berilmu dan lebih-lebih lainnya kita kerap tidak mau mendengar mereka yang lebih kanak. Walau yang disampaikan adalah kebenaran dan meski sebenarnya mereka hanya perlu didengar, bukan karena merasa pintar.

Hanya karena gender dan posisi dalam keluarga, kita akan menganggap seharusnya mereka hanya diam dan menurut, tanpa harus ikut andil menentukan pilihannya sendiri. Seolah kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak bisa berjalan ke tempat selain yang diminta sang empu.

Kita juga akan lebih mudah mendikte dan menasehati orang lain, tanpa pernah mengoreksi cara kita atau bahkan tindak tanduk kita sendiri. Saat mereka menyampaikan pendapat, kita malah menyangka sedang didebat. Tak berhak memberikan opsi. Sudah sepantasnya mereka bungkam dan tak pernah bersuara. Sepertinya kita yang paling sempurna, dan satu-satunya yang perlu didengarkan. Tidak hanya itu, perkataan kitalah yang paling benar dan patut dituruti. Sungguh, huruf-hurufnya tak perlu direvisi barang sebiji.

Itu cuma satu sampel di satu lini kehidupan, bahwa kadang kita tidak berada di jalan yang benar melainkan terus merasa benar. Yang bisa terjadi di kantor, sekolah, dimana-mana. Duhai Rabbi, ampuni kami, bimbing kami agar lebih bijak mengemudi. Supaya tidak beranggapan jika apa-apa yang kami kendarai adalah milik pribadi, padahal hakikatnya Engkau yang memiliki.

_______

Pada akhirnya, ada banyak orang yang tak patah arang. Semua dilalui sebagai tempaan untuk beribu balasan kebaikan yang menunggu di depan. Jangan merasa final menganalisis, barangkali banyak kebaikan yang disaksikan dalam kacamata buruk. Maka daripada terus meributkan perilaku orang lain, lebih baik memperbaiki diri untuk senantiasa menjaga nyala semangat menggapai impian. Karena dengan kemampuan (yang bahkan rapuh mendapati perlakuan menyakitkan dari manusia) agaknya impian hanya disematkan bersama kata mustahil. Namun dengan daya dan kekuatan dari Allah tidak akan ada yang muskil.

Mimpi. Bukan hanya soal pribadi. Banyak yang ingin diuraikan agar mereka mengerti. Meski pada akhirnya akan terdengar klise karena membawa-bawa 'negeri'. Tak ada salahnya dengan mengkritisi. Asal jangan salah fokus, karena mungkin saja tidak ada yang lebih memahami jutaan sisi.

Pernahkah dianggap terlalu idealis? Sampai disangka sangat anti dengan pemahaman realistis. Bahwa ujar mereka, menjadi manusia tak akan semudah itu. Walau begitu seseorang akan selalu percaya: bahwa tak akan sesulit itu juga.

Bukan berarti mati rasa. Tapi, bukankah memperkeruh suasana memang bukanlah caranya. Maka selama hidup, impian harus menjadi harga mati. Ikhtiar untuk mendapatkannya memang tidak bisa ditawar lagi. Tapi yang terpenting bagi beberapa orang adalah doa dan harapan. Lalu pada siapa mereka menggantungnya.

__________

Tidak sama dengan idealnya harapan harusnya tidak lantas membuat seseorang berhenti berharap dan melangitkan impian. Meski definisinya akan terus bermetamorfosa dan barangkali kian mengandung beragam makna serta tujuan. Mungkin bagi beberapa orang akan terdengar konservatif. Tapi pintu bagi jalan yang tak disangka-sangka juga akan terus aktif.

Terbaca seperti bualan. Namun kenyataannya memang sudah banyak yang membuktikan. Sampai-sampai ada yang bilang. Kreativitas tidak pernah keluar dari keadaan yang serba nyaman. Maka dengan bertubi-tubi terpaan ketidakmungkinan. Akan selalu ada alasan untuk merapalkan doa dan harapan.

___________

Lihatlah. Siapa yang menyangka seseorang itu bisa berkesempatan memotret ini. Karena sungguh, dari kecil dan agaknya memang bawaan lahir, dia lebih suka berada di tempat hangat yang acapkali didefinisikan sebagai surga: rumah. Meski sebenarnya, keinginan untuk mengarungi belahan-belahan dunia kerapkali mendera.

Yang lebih tidak disangka lagi, kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat dia mengagumi sosok-sosok menginspirasi, salah satunya beliau. Bermimpi kelak bisa berkesempatan untuk banyak berdiskusi. Tak dinyana, dan dia pun juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

Beliau merasa dia yang membantu. Alih-alih mengamini ungkapan itu, ia malah merasa ialah yang telah banyak terbantu. Diskusi-diskusi yang mungkin bagi beberapa orang terdengar biasa, menjadi asupan-asupan hebat bagi dirinya. Kembali diingatkan betapa penting untuk terus me-refresh diri dengan menjaga kemurnian jiwa. Supaya lebih mudah membuka hati lagi mata.

Memang benar. Ada kalanya, pada banyak adegan kehidupan, kita perlu untuk benar-benar tidak mendengarkan orang lain. Semua ucapan dan tindakan yang mengarah pada kemorosotan kita. Sungguh, bukan ditujukan sebagai saran untuk kebaikan bagi pribadi kita yang sedang mencoba bertumbuh.

Orang lain. Iya, siapa pun itu. Orang yang kita kenal, atau bahkan orang dekat sekalipun. Apalagi orang yang belum pernah kita kenal dan mengenal kita. Tak perlu heran jika kemudian dengan mudah melontarkan hate speech. Karena kalau tujuannya ingin menjatuhkan--baik secara langsung maupun tidak--maka saat ngin bangkitpun mereka akan  mengira kita berlebihan. Saat kita terpuruk, bukannya memberi asupan semangat mereka malah mengutuk. Saat kita cerah, mereka justru gerah.

Mungkin pernah, orang-orang yang bahkan kita kagumi, orang-orang dekat, dan sebagainya justru meretakkan apa-apa yang sudah kita rintis dan bangun dengan susah payah. Entah itu berupa keyakinan, semangat, karya dan kawan-kawannya.

Bisa saja menurut mereka, itu hanya celetukan tak bermakna. Sedang bagi kita amat mendalam maksudnya. Bergentayangan di langit-langit kamar, berani-beraninya mengurangi jatah istirahat dari segala kepenatan. Karena itulah, jangan habiskan waktu dengan pikiran-pikiran tak mendesak. Jangan habiskan energi dengan hal-hal tak berarti. Jangan biarkan penat bertambah, lebih-lebih tak terhitung ibadah.

Padahal kita tidak pernah merasa bermasalah dengan hidup orang lain. Mereka senang, kita ikut bersuka cita. Bahkan meski tak pernah mengenal, selama yang dilakukan adalah kebaikan. Mereka terjatuh, kita ikut mendoakan meski hanya gemericik kecil di dalam hati. Mereka terlibat kabar miring, kita merasa tak perlu ikut campur memperkeruh, karena tak tahu betul.

Bisa jadi, opini yang sebenarnya kita ungkap dalam konteks yang sifatnya umum, disangka menyudutkan pribadi mereka. Dinilai ikut andil mengomentari entah itu cara bersikap, berpenampilan, dan lain sebagainya. Padahal sama sekali tidak demikian. Betul. Saat kita menulis A dalam cara pikir kita, orang atau mereka serta siapapun akan memiliki hasil tafsir mereka sendiri. Bisa terbaca B, C, dan seterusnya.

Tolong. Selama hidup, kita sama-sama belajar. Salah satunya untuk memahami bagaimana berpikir terbuka. Tidak hanya melihat satu hal dari satu sudut, yakni ego sendiri. Sebab seseorang yang kita ludahi itu butuh solusi, bukan malah dituduh lalu diracuni.

Kalau tebing yang dibangun sudah kokoh, kita akan tahan dengan mayoritas terpaan. Benar juga, ya. Sebelum bertanya siapa saja mereka. Baiknya kita tanya pada diri sendiri dulu. Jangan-jangan yang pertama kali menyusun narasi berbisa, menyumbangkan pikiran-pikiran buruk, busuknya keraguan dan bingkai pesimisme yang lambat laun mengakar adalah diri kita sendiri.

______

Lagi dan lagi, aku diceramahi diriku "yang lain". Kali ini dia bilang, "Ikutilah kata hatimu. Jangan dengarkan mereka. Fokuslah pada hatimu yang mungkin sedang sekarat. Pedulilah dengan kesehatannya, keberlangsungan hidupnya. Jangan biarkan dia mati, hingga kelak tak ada yang bisa kau dengar lagi."

Ah, jadi ingat penggalan tulisan dalam novel Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz Salim. A. Fillah, "Setiap kemaksiatan yang kita lakukan menjadi noktah dosa yang menghitamkan hati. Awalnya nurani akan selalu mengirimkan tanda bahwa ia tersakiti. Tapi ketika hawa diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang dan diulang, noktah-noktah dosa telah menjadi jeruji, membelenggu nurani hingga suaranya makin lirih. Padahal satu noktah dosa selalu mengundang teman-temannya. Hingga suatu ketika, hati mati rasa. "Hukuman terberat atas suatu dosa", kata Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir, "Adalah perasaan tidak berdosa." Ya. Karena merasa tak berdosa adalah kain kafan yang membungkus hati ketika ia mati."

_______

Biar aku tulis disclaimer-nya: Perihal "dijatuhkan" tak melulu tentang seseorang yang sudah "berhasil" menurut definisi kebanyakan manusia. Sebab banyak yang dalam kondisi sedang tidak baik-baik saja, namun kian diinjak-injak. Walau penting untuk selalu diingat, bahwa Allah SWT akan selalu membersamai kita, kala yang lain memandang dengan ekor mata.

"Aku cinta diriku," ini kalimat yang bukan saja ku pelajari untuk  diucapkan, melainkan juga diamalkan. Memang betul, selama hidup, manusia akan terus belajar apa saja. Termasuk untuk kian belajar mencintai berawal dari memahami dan mencintai diri mereka. Ini adalah bukti usaha pengembangan diri. Karena mungkin saja kita memiliki impian yang besar---memberdayakan masyarakat---namun sebelum itu haruslah dimulai dengan memberdayakan diri terlebih dulu. Yang bisa sejenak kita pelajari dari catatan populer mengenai seseorang yang ingin mengubah dunia, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ialah yang harus berbenah diri sebagai langkah pertama misi akbarnya.

Bagiku, berbenah diri tidak melulu tentang menjadi pribadi lebih baik dan memanen hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab dengan berdamai dengan diri sendiri pun adalah bentuk membenahi diri. Menerima apapun yang sudah dilalui karena selain kita bukan penentu hasil, kita juga cuma manusia yang bisa salah, lelah, gagal, kecewa, menangis dan sisi lain lainnya dalam menapaki hidup.  Sisi-sisi itu tidak lantas diartikan dengan kekurangan, bahkan mungkin memang tidak sama sekali diartikan demikian. Itu normal dan manusiawi. Setelah itu, lebih manusiawi lagi kalau kemudian memaafkan diri dan menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai kekuatan di masa depan. Ah, klise sekali, bukan?

Klise juga tapi benar adalah pernyataan bahwa  langkah merawat tubuh dari luar dan dalam akan mencerminkan bahwa kita mencintai diri kita. Tidak mesti diperlihatkan dengan berbelanja segunung barang branded, make up mahal dan makanan yang sulit dijangkau, atau menghadiri seminar tokoh populer demi mendapatkan sengatan semangat. Dengan hal-hal kecil seperti menjaga pola makan, mengaji, membersihkan kamar, membaca buku, mengucapkan kalimat positif, tidak menyia-nyiakan waktu, beramal dan kegiatan berarti lain (meski kadang juga tidak mudah diterapkan) juga membuat kita merasa menjadi manusia yang lebih berarti dan kian mencintai diri sendiri.

Bentuk mencintai diri sendiri juga bisa dilakukan dengan penerimaan kenyataan bahwa kita cuma manusia: yang bisa mengerjakan 'banyak' hal dalam 24 jam, tapi tidak 'semua' hal. Lagi-lagi narasi: cuma manusia---bukan malah meringankan kita untuk berbuat kesalahan, tidak produktif, tidak punya visi dan seterusnya. Melainkan justru dalam konteks ini menyajikan bagaimana kita bisa belajar menjadi manusia (Seperti kalimat awal bahwa kita akan terus belajar----manusia tempatnya lupa membuat mereka sekaligus (kerap) lupa menjadi manusia. Sampai-sampai lupa memanusiakan manusia). Jadi sebenarnya tidak perlu stres berlebih jika tidak semua list dalam schedule bisa tercentang, selama masih ada prioritas.

Sama halnya saat berbicara mengenai tahun baru dengan resolusi tahun lalu yang jumlahnya tidak sedikit tapi baru beberapa tercentang. Duh, rasanya kepala auto pusing. Aku mengira, itu adalah bentuk koreksi pada doa dan usaha yang kurang maksimal, padahal aku saja barangkali yang kurang bersyukur. Sampai akhirnya aku menemui satu 'ritual' yang banyak dilakukan oleh orang-orang 'besar' yang aku singkat menjadi: bersyukur. Belakangan aku tahu jika teknik ini banyak ditulis ulang dan dikembangkan oleh praktisi-praktisi pengembangan diri.

Langkahnya dengan menulis apa-apa yang sudah kita capai (sebelum tidur). Rasakan energi positif dan kebahagiannya mengalir. Ingat semua daya yang sudah diberikan Allah SWT untuk bisa menyelesaikan kegiatan-kegiatan itu. Lantas bersyukur. Karena meski hanya membantu membersihkan rumah (misalnya), membantu orang tua dan hal lain yang dianggap remeh, itu adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri.

Menyadari dan menerima bahwa tiap manusia memang akan selalu berbeda dalam banyak hal juga bentuk mencintai diri. Entah dari segi fisik, kekayaaan, jalan hidup atau apapun itu. Termasuk keunikan yang mampu menjadi kekuatan di tiap pribadi. Lalu percaya, jika tiap insan pasti dianugerahi potensi. Dengan begitu, tidak perlu membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena jalan yang kita pilih akan selalu berbeda. Pun saat pilihannya sama, hasilnya tidaklah sama. Jadi berbeda pilihan tidak selalu berarti salah. Kita akan menulis versi cerita kita sendiri.

Orang bilang, kita juga perlu jujur dalam memilih apa yang kita sukai. Karena kita berhak menentukan apa yang ingin kita jalani. Meski ada kalanya, kita tidak melulu memahami diri dengan do what we love tapi juga love what we do. Selain itu mungkin kita kerap merasa menjadi pribadi yang egois karena berani say no to not to do something karena ada hal prioritas yang juga harus dilakukan. Merasa egois karena tidak mau membantu orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri. Namun ternyata, pada beberapa momen kita memang perlu mengutamakan diri guna menuntaskan kewajiban kita terlebih dahulu.

Intiya, mencintai diri sendiri dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan. Memahami bahwa kita hanyalah seorang manusia. Kita hanya seorang hamba. Menjadi diri sendiri kapan pun dan dimanapun karena bagaimanapun kadarnya pasti akan dipertanggung jawabkan di hari nanti. Tidak melulu sibuk memperindah tampilan, namun memupuk isi senantiasa didahulukan. Juga hidup yang bukan hanya tentang diri sendiri tapi tentang manfaat yang bisa diberi. Memang berat diamalkan. Semoga Allah SWT ringankan.

"Duhai Allah, terima kasih atas seluruh nikmat di hari lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan hingga hari ini dan barangkali esok hari. Di saat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, di saat itulah kudapati dosaku yang kian menggunung."

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣).

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan." (QS: Ar-Rahman: 13).

#backtoquran #selflove #selfnote #selfempoverment 💙

Kurang lebih dua kali dalam seminggu kaki ini Allah izinkan untuk menapaki RSUD di kotaku dalam kurun waktu hampir dua bulan. Aku amat bersyukur, saat pertama kali melihat dan mengamati tempat ini aku merasa banyak menyerap pelajaran. Karena nuraniku seolah bercerita panjang lebar dengan latar baru yang hadir menyesaki pikiran.

Lalu hari ini. Aku seolah berhenti sejenak. Sepersekian menit bahkan lebih, untuk merenungi apa yang sudah aku pelajari sejauh ini. Aku kemudian menyapukan pandangan ke sekitar. Ku lihat seperti biasa ramai orang duduk dalam antrean. Tapi nyatanya hatiku sepi, sepi dari pelajaran.

Berusaha lebih, akupun meletakkan HP pintar di tas bagian paling dalam. Berharap tidak ada hal yang akan mengalihkan. Namun tetap saja sama. Kosong. Hanya debu di depan daun pintu beterbangan karena terkena angin yang cukup kencang. Keringat dingin serupa kian membawaku sendirian, ke dalam keheningan.

Lalu lalang petugas dan pasien. Keluh kesah yang terselip dalam perbincangan panjang mereka tak juga memberi titik terang. Gelap. Sukar kudapati hikmah di sepanjang perkataan. Yang ada, kembali sendiri, seperti meratapi pribadi yang bagiku makin berubah ke arah yang hakikatnya tidak pernah ada satupun orang menginginkannya.

Aku kemudian menyeret ingatanku pada memori lama saat pertama kali sampai di sini. Harapan-harapan untuk sembuh dari orang-orang. Berbagai lini petugas dengan beragam karakter juga kian memperluas wawasan. Ada yang ramah bukan kepalang. Sabar dan tulus melayani tanpa membaca pangkat jabatan. Ada juga yang menyebalkan---siapa tahu---mungkin sedang memanggul berton-ton beban.

Kerap kali aku dibikin malu saat bertemu dengan orang-orang yang lebih tangguh menjalani hidup. Salah satu dari mereka ialah seorang nenek yang menopangkan tangan kirinya ke tongkat, berjalan seorang diri kesana kemari mengurusi rentetan tahapan untuk bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Setelah membagikan kisahnya, ternyata beliau mengidap penyakit jantung. Tak ku jumpai keluhan, yang kulihat hanyalah ketabahan dan segenap perjuangan.

Di beberapa sudut, beberapa petugas kebersihan menjalani kewajibannya dengan takzim. Hmm.

Lanjutan 👇

Belum dipindah, soon. Dari @l_utfiyah (Instagram)

Pagi itu aku pergi ke pasar lagi bersama ibu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ibu tidak sekuasa dulu berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh, bahkan meski hanya dari parkiran motor ke pintu utama pasar. Namun kali ini, kemuliaan hatinya mendorong ia mau tidak mau harus ke pasar untuk kepentingan orang lain tanpa mau diwakili. Jadilah aku ikut bersamanya. Sembari terbiasa menikmati suasana pasar yang sarat pesan, aku berjalan dibelakangnya, lebih tak kuasa sebenarnya melihat beliau berjalan tertatih dan perlahan. 

Hmm, waktu seolah melesat bak pacuan kuda. Bahkan lebih cepat, tidak terasa sebab sering membikin terlena. Lihat saja, ibu di usianya kini sudah tidak mampu berjalan lama-lama. Padahal rasanya seperti baru beberapa tahun lalu beliau mengerjakan apa saja, mengerahkan segenap tenaga, bahkan rela mengorbankan jiwanya sekalipun.

Benar, label beliau sejak dulu memang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi sebenarnya yang beliau lakukan jauh daripada itu. Eits, aku mengatakan 'hanya' bukan karena merendahkan profesi mulia tersebut. Karena ibu memang tidak merangkapkan dirinya sebagai seorang guru, polwan, dokter, atau apapun secara formal. Tapi sekali lagi, bagiku beliau lebih daripada itu. Dan aku mengimani, setiap anak juga memiliki kesan mendalam terhadap orang tua mereka, apalagi seorang ibu.

Ibuku berasal dari keluarga yang sederhana. Merana. Mungkin kata itulah yang mendeskripsikan hampir dari sepanjang hidupnya saat kecil. Sejak kecil ibu sudah di tinggal pergi ibunya untuk melanjutkan hidup secara mandiri di dunia saat berusia sepuluh tahun. Saat itu seperti kebanyakan anak manusia, ia sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu, tapi pena takdir menggoreskan warna tinta yang berbeda. Tapi baginya, beruntung selama sepuluh tahun ia dianugerahi kedua orang tua yang lengkap. Sampai akhirnya, Ayah yang menopang hidupnya menyusul mendiang sang istri.

Perih hati ibuku, menerima kenyataan yang menyedikan. Namun sewajarnya saja, sebab itulah hakikat kehidupan, yakni kematian. Ibu bukan wanita kecil yang lemah. Ia tetap melanjutkan hidup meski sulit menyalakan kembali api semangat yang sempat sirna. Berkat-Nya, ibu meneruskan jalan hidup yang kini semakin bertambah pelik, tinggal bersama nenek dan bibinya. Meski ia masih belia, ia tak mau diam memandangi kedua orang tua angkatnya itu bekerja.

Setiap hari ia memeras keringat, membantu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak, menimba air, menyapu, bahkan menggiling padi dengan beban yang begitu berat. Belum lagi jaraknya yang jauh dan ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Semua ia kerjakan demi meringankan beban nenek dan bibinya yang berdagang di pasar dan tidak pernah menuntut apapun pada mereka. Semangatnya seakan tak pernah surut, semua pekerjaan yang berat meski dengan tubuhnya yang kecil, dianggap ringan saja baginya. Kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang memiliki mental, semangat dan optimisme menjalani hidup dengan baik.

Ibu tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik, kulit cerah bersih, dan senyumnya manis. (Kata orang, cantik itu relatif. Jadi apa salahnya aku memuji ibuku sendiri dengan pendapatku, hehe). Namun sayangnya ia tak pernah mengenyam pendidikan formal lantaran eratnya rantai kemiskinan. Bibi dan neneknya juga tak terlalu mafhum dengan masa depan dan pentingnya pendidikan untuk seorang yang bergender perempuan. Sebab itu ibu hanya cukup dimasukkan ke pesantren untuk belajar mengaji dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Masa bergulir. Ibu menikah dengan bapak dan memiliki delapan orang anak. Kesabaran yang ia tanam sejak kecil justru kian tumbuh subur. Tak perlu kujelaskan betapa sabarnya ibu mengaruhi lautan hidup. Biar Allah yang catat, itu sudah lebih dari cukup. Dengan melihat jalan hidupnya, bahkan mungkin sejak lahir hingga kini telah merefleksikan betapa beliau adalah wanita yang kuat dan penyabar. *musik sedih, please! hehe.

Berbeda dengan hidupku. Selain mendapati nikmat pendidikan, kehidupan nyaman, dan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, aku memiliki kedua orang tua yang dianugerahi umur panjang hingga sekarang. Sungguh itu nikmat tak terbilang. Terlebih, kedua sosok itu bukan hanya memberikan sokongan besar di setiap fase hidupku, namun juga penuh dengan ketidakterhinggaan mozaik kisah dan kasih yang tidak penah bisa dinegasikan keindahannya.

Ternyata benar, kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. Lantas bergumam dengan lirih, "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak, kita mungkin serupa bocah ingusan dalam bertindak. Cepat mengeluh, cengeng, lekas menyerah dan mudah menggerutu. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang bersikap lebih dewasa daripada itu. Lalu bagaimana saat dihadapkan pada kerasnya kehidupan, sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan?

Tak apa, sebelum semuanya terlambat. Kita masih punya waktu untuk meneladani karakter orang-orang hebat. Orang-orang di sekitar kita, khususnya kedua orang tua. Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model dengan karya menggelegar, menggetarkan kalbu. Di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi, kisah dan eksistensinya bisa dengan mudah kita ketahui. Pun bisa kita pahami meski mereka telah lama pergi. Karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam. Jangan jauh-jauh ke sosok yang sulit dicerna pelafalan namanya, karena kita memiliki uswatun hasanah yang rekam jejaknya bukan saja mendunia. Dialah Muhammad SAW. Manusia penerang bak rembulan kala malam.

__________

Semoga memang belum terlambat. Semoga Ibu kembali sehat dan Bapak sehat selalu. Semoga kita lekas bergerak. Meneladani sosok-sosok inspiratif sehingga mampu membahagiakan kedua orang tua, terlebih keluarga dan banyak orang---kata doa klise yang sebenarnya pengamalannya amat berat: berguna bagi bangsa dan agama. Semoga tidak pernah lelah untuk senantiasa melantunkan doa, agar tidak hanya bersama di dunia dalam iman dan ketaqwaan, melainkan berkumpul juga di akhirat dengan rahmat dalam keabadian. Aamiin.



وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)


#backtoquran #kisahibu #kasih ibu #love 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Door Duisternis Tot Licht
  • Innamal A'malu Binniyat
  • Soal Ide, Implementasi Pesan dan Kecelakaan
  • Buat Apa Sih?!
  • Kamu Yakin Ngga sih?
  • Obsesi?
  • Rindu Allah
  • Kapan Nikah?
  • Hobi Gue Dengerin Musik. What?!!!
  • Berkaca Diri

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates