Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Di usia menjelang seperempat abad, atau jauh lebih dini daripada itu kita mungkin akan terbiasa mendapati introgasi sejenis: "Kapan nikah?", "Kamu kapan?", Kapan nyusul?", dan tambahkan sendiri. Ragam kalimat seperti itu umumnya bertandan ke telinga kala sedang menghadiri kondangan, atau sialnya balasan usai memposting foto akad teman, bahkan saat tak ada api ataupun hujan. Apalagi bagi mereka yang bernapas di desa, lontaran demikian bisa amat menyesaki pikiran, penyimpanan yang mubazir. Baiknya langsung tekan shift+delete saja. Permanently. Sayangnya, tidak bisa mengelak mayoritas Indonesian society juga lekat dengan budaya semacam itu.

Tak banyak yang terbiasa dengan itu. Berjejal yang kemudian 'baper' dan sakit hati. Sementara pribadi yang mengusutkan perbincangan, santai saja seperti tengah meneguk susu hangat yang dihidangkan. Sedang aku termasuk orang yang awalnya selalu menganggap itu pertanyaan biasa, basa-basi, sekenanya, atau kalau mau lebih mendalam mungkin doa. Karena itulah jawaban yang kerap aku lemparkan beberapa tahun terakhir adalah "Doakan saja". Berbeda dengan pada saat masih usia 20 ke bawah, eh ke awal, aku selalu lancar menjawab---Ah, masih lama. Jawaban serius, meski terdengar sekenanya.

Tiga tahun kemudian, seorang dosen berbagi kisah, yang kalau disarikan isinya adalah kiat-kiat memilih pasangan dan ilmu-ilmu parenting. Aku kemudian berceloteh, "Benar juga ya, Bu," ucapku merasa tercerahkan. Beliau menimpali, "Ibu tahu, kamu bahkan tak pernah memikirkan hal semacam itu, kan." Aku tersenyum, sedikit nyengir sebelah, agak pahit, tanda mengiyakan. Dosenku tertawa. Dibanding dengan yang lain, cuma bertanya, beliau malah langsung menyusupi ilmu-ilmunya. Betapa paham betul beliau, memikirkan saja hampir tak pernah, apalagi sampai menuliskan target untuk itu. Hehe, daripada memikirkan kapan menikah, aku lebih suka belajar bagaimana membesarkan anak nanti, itupun sebenarnya jika diamanahkan. Aneh memang.

Namun aku bersyukur, hampir selalu merasa biasa dengan perbincangan pasaran dari society itu merupakan buah karena tidak menjadikan menikah sebagai such a main purpose in life. Seolah cinta dari seseorang atau pasangan hidup adalah segalanya. Iya, penting, tapi bukan akhir tujuan hidup juga. Case tiap orang tidak sama. Ada yang ingin terlebih dulu meraih taqwa dengan fokus berprestasi. Ada yang dengan memperbanyak bakti. Ada pula yang menyibukkan diri dulu dengan berkontrbusi pada negeri. We know, it's all about our choice and His will.

_______

Aku tadi menulis "hampir" bukan "selalu" lagi. Karena ternyata ucapan semacam itu bikin muntab dan menyakitkan juga jika keluar dari lisan orang-orang tertentu. Seperti orang dekat, orang yang mungkin sering berselisih paham dengan kita---padahal bagiku, bukan berdebat, atau mendebat, hanya saling memberi ruang untuk bertukar pendapat. Jadi pada akhirnya everthing is OK. Don't take it personal---Tapi entah kenapa, nasihat mengenai pernikahan seolah menjadi serangan yang sangat menyakitkan. Kalimat, "sudah waktunya kamu menikah," menghujam begitu keras, seperti paksaan. Setelahnya, pemikiran-pemikiran yang dianggap modern keluar, berlarian menghampiriku satu-satu. Serupa anak-anak kecil yang meluapkan isi hatinya pada sang bunda. Yang satu berkata, "Memangnya menikah itu dilandasi paksaan!", Lainnya berebut angkat bicara, tak mau kalah: "Memangnya menikah hanya karena dikejar usia", si bontot mengadu: "Menikah bukan perlombaan, kan", "Alasan menikah tak sedangkal menghindarkan zina, dong", "dan seterusnya. Bergerombol, berteriak-teriak liar dalam batok kepala. Berdemo, ingin aspirasinya tersampaikan. Sementara sang empu hanya terdiam.

Pikirannya terseret ke potret dirinya dulu yang paling anti bercerita perihal nikah, masih sangat jauh pikirnya, sampai akhirnya diusia 20-an, beberapa referensi membawanya pada pemahaman: manusia tidak boleh mendikte Tuhan. Termasuk dengan menancapkan kalimat: Aku tidak mau menikah sebelum ini dan itu, meskipun tidak sepenuhnya salah. Menjadi salah jika kita merasa kitalah yang menentukan, tanpa pernah kembali pada satu titik, bahwa sudah ada yang menggariskan.

Jangan hanya karena kesombongan, nasihat menjelma menjadi nyinyiran. Jangan hanya karena merasa pemikiran yang katanya sudah modern, (padahal tidak juga, karena ide-ide semacam menikah bukan karena dipaksa dan lain-lain sebenarnya sudah termaktub sejak dulu. Islam yang sejati lebih dari pada itu dalam menunaikan hak-hak pemeluknya) membuat kita menutup diri dari masukan, hingga tak paham hakikat open minded yang digaungkan orang-orang.

Well, pada akhirnya siapalah aku yang berhak menyalahkan mereka yang memilih menikah muda untuk menghindari zina, ilmuku masih amat cetek, siapa yang menduga itu adalah bentuk ketaqwaan yang berat timbangannya, lagi pula alasan mereka tak hanya berkutat di situ, ada banyak ulasan luas lain! Aku tidak bilang aku tidak setuju bahwa lewat menikah justru kita berbakti dengan membahagiakan ortu. Aku tidak bilang jika dengan menikah kita berhenti mengukir prestasi dan menikah membatasi kita memperoleh impian-impian yang hakiki. Aku tidak bilang, aku bersih dari tidak pernah mengudarakan "Kamu kapan?" sebab seingatku pernah sesekali bahasan itu menguap juga sebagai guyonan, yang sepertinya harus dihentikan. Karena di banyak momen, sudah benar-benar tidak lucu lagi. Tapi tidak dengan doa, semoga selalu mengudara, untuk siapa saja. Pun aku tidak ingin bilang dengan menulis catatan ini aku akan menikah setelahnya. Ayolah, yang benar saja. But, wallahua'lam. *meskipun cuma "but" yang penting ada campuran bahasa Inggris-nya, biar modern, eh. ✌

Rasanya sudah setahun draft catatan ini bercokol tanpa pernah ditindak lanjuti. Berat sekali menggerakan jemari untuk menyentuh huruf virtual pada sekotak benda yang ditenteng kesana kemari. Sedang pikiran begitu penuh, ingin sekali berbagi. Namun perasaan itu seakan baru menetap kemarin. Haru melihat orang-orang sepuh yang masih berjuang untuk menyambung kehidupan, selalu. Berjualan dengan ragam barang yang ala kadarnya, untungnya pun tak seberapa.

Hmm, aku tak pernah sepeka ini. Maksudku seseorang bisa memilih ingin melihat satu topik dari sudut yang mana. Dan aku belum pernah mencoba melirik topik ini: pekerjaan. Sampai akhirnya aku belajar untuk melihat dari sudut pandang yang lain. Sama seperti saat berburu beasiswa dan merasakan (baru sedikit) rentetan perjuangannya, kala itu aku juga seolah merasakan bagaimana susahnya memperoleh penghidupan. Boleh jadi memang tak seberat mereka yang menjadi tumpuan keluarga. Tapi paling tidak aku bisa menuliskan beberapa hal yang baru kupelajari itu.

Begini. Menjelang kelulusan, seorang dosen bertanya padaku, "Kalo Lutfiyah, setelah lulus mau kerja atau punya perusahaan sendiri?", refleks aku menjawab, "Kerja dulu baru buka usaha sendiri, Bu." Namun kenyataannya belum pernah terpikir bagiku untuk melamar apalagi bekerja setelah kuliah. Maksudku di masa setelahnya aku masih ingin mengeksplor diri. Tapi aku juga tidak bilang, dengan bekerja artinya tidak bisa bertumbuh. Biar ku perjelas. Yang ku maksud, pekerjaan tetap, atau rutinitas yang 'terasa' bekerja (Eh, susah dijelaskan istilahnya). Mungkin karena selama ini yang ada di otakku hanyalah tentang sekolaaah saja. Entah ini menjadi kabar baik atau buruk, karena bagiku semua pilihan, pemikiran, dan lainnya memiliki argumen dan sisi-sisi yang berbeda.

Bukan. Ini bukan berarti karena aku tidak pernah berpikir untuk mandiri secara finansial sedari muda. Tentu penting jika bisa atau berusaha demikian. Karena aku pun berasal dari keluarga dengan perekonomian yang sederhana---pantang meminta pada orang tua selain kebutuhan sekolah, keadaan menjelma pengertian nyata, bahwa untuk mendapatkan sesuatu haruslah dengan usaha dan doa sendiri. Terlebih impian kita tak terbatas disitu. Siapa yang bisa mengelak jika ada macam kebermanfaatan terbuka setelahnya. Akan tetapi, dalam hal ini hanya soal rangkaian prinsip yang kadang membikin bingung sendiri.

Hingga pada akhirnya kebingungan itu membawaku kepada pusaran yang sama dengan apa yang telah lama diceritakan dan dipersiapkan orang-orang: melamar pekerjaan. Cerita tentang betapa kian peliknya persoalan yang satu ini. Cerita tentang pengangguran di sana sini. Cerita tentang potensi yang berhenti digali. Cerita-cerita demikian, kala itu membentang lebih terang.

Jadilah, lagi, aku merasakan (meski baru sedikit) betapa sulitnya mendapat pekerjaan, atau mungkin lebih tepatnya memperoleh pekerjaan yang tepat dan sesuai. Sebab kalau berkaca pada diri dengan banyaknya syarat, mungkin, mendapatkannya juga akan lebih perlu perjuangan. Betul, seperti; apakah seragam kerjanya cocok, apakah pekerjaan itu tidak membuat stuck melainkan berkembang, atau apakah bisa berkontribusi banyak, apakah, apakah, apakah, begitu saja terus. Hehe.

Saat "apakah" itu masih meloncat-loncat liar dalam batok kepala, di bagian kehidupan lain justru terus bergulir ragam perjuangan. Kakek yang entah sudah berkepala berapa itu terlihat sangat sepuh. Cara bicara beliau juga sepertinya sudah tidak sesempurna dulu. Tapi semangat juangnya lebih dari pemuda-pemudi yang menulis lembaran kehidupan mereka dengan berpetualang. Mendaki gunung bersama kawan sefrekuensi, berswafoto di spot langka, menjelajah. Bedanya kakek itu berulang kali menghitung lembaran rupiah yang ia dapat dalam setengah hari ini. Belum sampai dua lembar, tapi energinya masih berbinar. Rasa syukurnya tetap meletup-letup.

Kita ke potret kisah yang lain. Anak Adam yang terlihat kerepotan dengan bawaan yang banyak. Siapa sangka, ia masih berstatus sebagai mahasiswi namun terpaksa rehat sejenak dari perkuliahan. Dana menjadi salah satu yang menghambatnya. Aku ralat: menjadi salah satu tantangan dalam hidupnya, karena saban hari alasan itu tidak lantas menjadi penghambat untuk mengumpulkan rezeki lewat berjualan nasi bungkus, kue-kue dan makanan lezat lain bikinannya sendiri, aneka dagangan yang membuatnya terlihat repot tadi.

Pada kepingan mozaik lain, tampak pasangan muda tak kalah menularkan energi yang baik. Kita patut bersyukur karena memiliki akses dan pemahaman untuk memanfaatkan teknologi. Karena meski itu yang belum dimiliki, mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan penuh harap dan hamdalah yang lebih penuh. Auranya memenuhi dagangan yang dijejer rapi, usai sebelumnya diamankan karena hujan mendera siang ini.

Walau tak seberapa, aku jadi teringat saat keterbatasan justru membuatku semakin giat belajar. Keringat yang membasahi tubuh setelah berjalan hingga ruang kelas, justru menjadi pemantik semangat untuk lebih fokus menyimak kuliah yang disampaikan dosen. Saat tak memiliki laptop, aku malah berinisiatif untuk menulis dulu konsep tugas akhir di kertas-kertas bekas sebelum akhirnya mengetiknya di ruang Warnet dengan kepulan asap rokok yang menyebalkan.

Keterbatasan harusnya juga mampu membuat kita berlama lama dalam berdoa. Lalu selipkan juga agar tak berhenti bersua dengan-Nya saat tak butuh, meski hakikatnya kita selalu membutuhkan Dia. Seperti yang juga aku rasakan. Saat tak ada lagi jalan kaki, sabar yang diuji kala menunggu angkutan yang tak pasti, melainkan motor yang tinggal dipacu, dan sederet hal lain yang agaknya menyeret kita ke zona nyaman.

Padahal berjibun orang 'sukses' yang lahir dari keterbatasan. Aku memaknai keterbatasan tidak melulu pada anggaran, walau maraknya begitu. Aku mengartikannya lebih luas. Sebab sering yang lahir dari keluarga berada (dari orang tua) tapi mau bekerja sangat keras dan mandiri. Hei, zona nyaman juga bisa jadi sebuah keterbatasan yang---jika tidak dikelola, melahirkan akses untuk bisa berbuat lebih---akan menghanyutkan.

Di tingkat yang lebih tinggi, persepsi keterbatasan berkenaan dengan terbatasnya amal kita untuk mendapat sisi terbaik. Pemahaman itu yang membuat kita terus berusaha memperbaiki diri. Salah satu yang bisa dilakukan ialah memaknai hidup lewat perjuangan seperti yang dilakukan orang-orang tadi, siapapun, atau bisa jadi sosok-sosok di sekitar kita.

Namun sering kita malah menimpali perjuangan orang-orang hebat itu dengan komentar-komentar tak perlu bahkan menjijikkan. Seperti, "Ya ampun, kok ngga gengsi, sih. Kan, anak orang kaya," atau "Sarjana tapi gitu-gitu aja tuh kerjaannya," "Kok mau, ya. Ngga gampang loh." dan ungkapan sejenis.

Sering pula aku berusaha mencerna kalimat-kalimat yang patutnya tak pernah diterima itu. Meski bukan pribadi yang dikomentari, aku, terjadi begitu saja, berpikir atas apa jawabannya. "Lah, kenapa harus gengsi, ya.Toh asal halal dan diniatkan untuk-Nya semua bernilai ibadah. Lagi pula pekerjaan ini-itu, label kaya-miskin itu, kan, cuma standarisasi buatan manusia. Bahwa yang kaya cenderung lebih terhormat dan perlu diberi tempat duduk khusus. Sedang yang melarat bahkan tak pernah diakui sebagai kerabat. Secara tidak sadar kita kerapkali terdoktrin bahwa orang yang bisa survive dan terpandang adalah mereka yang bekerja di kantor, berkemeja, bayaran terjamin. Padahal tiap orang sah-sahnya saja berusaha dalam bentuk apapun untuk bertahan hidup. Tak perlu ada paradigma yang menyudutkan. Justru butuh saling menguatkan. Sungguh, bukan kita yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian. Lantas kenapa seperti pihak yang mempertimbangkan nasib banyak orang" gumamku dalam hati.

Kabarnya, orang berkacamata identik dengan seseorang dianugerahi kepintaran yang lebih, yang salah satunya terformat melalui pendidikan. Sepotong bukti hening kalau sang empu mau berlama-lama dengan buku, menyelami ragam ilmu.

Kali ini asumsi mereka kurang tepat. Bapak bahkan tidak pernah mencicipi bangku formal. Benda bergagang itu hanya membantunya menyelesaikan misi: beribadah lewat mencari nafkah.

Tak sepenuhnya salah, karena meski tak pernah bersekolah beliau memang sosok yang pintar, cerdas nan tangguh. Seperti banyak orang, bapak memiliki banyak keahlian. Bagaimana tidak, tempaan kehidupan yang keras sejak kecil membuatnya terbentuk sedemikian tajam.

Sebenarnya bapak bisa dibilang datang dari keluarga yang cukup bila diusahakan untuk mengakses pendidikan, namun beliau harus menerima diskriminasi. Bahasa yang terlalu kasar, sebab bapakku tak beranggapan semacam itu. Ia menerima dengan lapang, sebagai secuil bakti dari panjangnya pengorbanan orang tuanya. Lagipula pemahaman perihal pentingnya "pendidikan" tidak melulu sama pada sisi tertentu, pada generasi yang berbeda.

Jadi tak masalah saat saudaranya yang lain belajar mengeja aksara, belajar menggerakan pena, bapak justru bercucuran keringat, kepanasan, kelelahan, sedari pagi menggerakkan cangkulnya dengan giat. Lelah yang terasa nikmat menjadi bentuk khidmat. Walau tak dusta jika dari pengakuannya beliau juga sempat berkeinginan seperti yang lain.
__ __ __

Berbeda dengan jalan hidup yang dilalui ibuku,  penanggung hidup yang bagiku tak terhitung kebaikannya itu memiliki orang tua yang lengkap hingga menikah dengan ibu dan dikaruniai keturunan.

Syukur alhamdulillah, bapak tidak membeda-bedakan anak-anaknya. Kami semua boleh bersekolah. Tak harus pergi ke sawah. Meski sekarang, aku ingin bilang, ternyata keduanya penting: sawah mengajarkan kehidupan dengan uraian yang amat luas. Sedang sekolah, kerapkali membuat pandangan kita jadi amat terbatas.

Mungkin hanya perasaanku saja. Waktu kecil pernah aku merasa terintimidasi saat momen-momen keluarga besar berkumpul. Kala itu, seperti yang sudah-sudah, obrolan mengarah pada pertanyaan rangking kelas yang diperoleh saudara-saudaraku. Bapak dan kerabatku menanyakan mereka satu-persatu. Tak pelak, aku merasa kaku di balik tiang sendirian karena tak ditanya. Tak berharap juga disebut nama sebab seperti biasa belum pernah diurutan tiga besar di kelas. Rasanya aku menjadi satu-satunya anak Bapak-Ibu yang bodoh dan melas.

Aku tahu, mereka tak berniat demikian. Aku saja yang kemudian selalu berpikir setelahnya jika peringkat kelas adalah instrumen paling valid dan reliabel untuk menilai kecerdasan dan kepintaran seseorang. Meski pemahaman kelam itu acapkali dicerahkan oleh ibu, ia tetap saja memenuhi sebuah folder yang membersamai file-file lain dalam otakku sampai aku duduk di bangku pertama MA. Ternyata aku yang salah mengerti. Padahal bapak selalu berusaha mengerti kami. Tak masalah mengenyam pendidikan tinggi-tinggi, selama akhlak senantiasa dipatri.

Bapak memang tak banyak bicara. Namun perhatian pada semua anaknya selalu sama, seakan mereka tak pernah beranjak dewasa. Perkara mengingatkan makan sesekali diluapkan, atau susah dimintai izin waktu aku pertama kali memutuskan berkendara ke jalan raya, meski ibu telah berabad lalu mengetuk palu. Sekali bicara bisa panjang, dan tak berlebihan kalau seolah ada yang tengah mengiris bawang tak kasat mata. Pantas sering ditunjuk menjadi penengah kala beberapa orang terlibat masalah, retorika dan pesan-pesan yang disampaikan sungguh menawan.

Tetap saja, bapak lebih memesona saat pandai sekali mengucap terima kasih kepada Tuhannya. Sekalipun terhadap hal yang beberapa orang anggap remeh temeh. Apalagi pada hadiah terbesar berupa kesehatan yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Serupa dengan jodohnya, bapak hampir tidak pernah menyuruh anaknya ini-itu. Sebisa mungkin pekerjaan dilakukan sendiri. Betul, ada plus minus-nya. Hanya karena catatannya selalu harum, bukan berarti selama ini mereka tidak dilengkapi kekurangan, kan. Mustahil rasanya manusia terlepas dari itu.

Alur kehidupan yang sebenarnya tak pernah seideal tuntutan sinetron. Kacamata kitalah yang dituntut untuk melihat lebih dekat keelokannya, bukan semata-mata berfokus pada cela. Tak perlu kepintaran yang berlebih. Kita hanya butuh sepotong bukti berwujud hati yang senantiasa diasah, supaya syukur berkelanjutan lantaran diberkahi rupa-rupa anugerah. Lalu mengalirlah doa yang selalu sama, tak ingin hanya berkumpul di tempat yang fana. Melainkan bermuara pada ''tayangan" yang sifatnya abadi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates