Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Kucing-kucing itu mendekat. Aku masih saja keheranan. Mereka terlihat begitu akrab. Seperti hewan lain yang menjadi piaran di rumah-rumah. Tapi ini bukan rumah, ini tempat umum, dan mereka kini mampu membuatku berhenti sejenak untuk memperhatikan. Sekepal hikmah yang begitu saja menyusup, rasanya tak bisa dinegasikan begitu saja.

Ternyata, selain membekali diri untuk makan siang, seorang wanita parubaya yang ku kenal ramah itu juga membawa sekotak makanan kucing tiap pergi ke kantor. Selesai dari ruang kerjanya untuk pulang, beliau sudah siap dengan kucing-kucing yang berhamburan di luar. Lapar. Ia pun langsung memanggil mereka. Seperti memanggil anak-anak kecil untuk dihadiahi permen satu-satu.

Seringkali pemandangan yang tak sengaja kulihat ini tak menunggu jam pulang. Sebab saat mendengar kucing mengeong kelaparan, beliau langsung sigap dan mencari sumber suara. Seperti biasa, para kucing patuh, bahkan sangat antuasias. Lahap menyantap limpahan rezeki yang terhidang untuk mereka. Berperantara seorang yang peka dengan sekitarnya, dengan hal kecil yang seringkali luput dari perhatian.

___

"Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri."
"Melakukan kebaikan tidak perlu menunggu hal besar. Kita bahkan bisa melakukannya dari hal-hal kecil yang tidak dihiraukan oleh orang lain."

Begitu kira-kira ungkapan seorang wanita parubaya lain. Ternyata bukan omong kosong. Sebab sering aku dapati beliau dimampukan melakukan kebaikan yang juga kerap luput dari perhatian orang. Seperti meletakkan sabun secara cuma-cuma di beberapa kamar mandi. Me-laundry mukena-mukena hingga semua orang bisa melaksanakan ibadah dengan lebih nyaman dan mungkin lebih khusyuk. Merelakan beberapa koleksi tanaman pribadinya untuk memberikan kesejukan di ruang dan beberapa sudut kantor. Dan sebagainya. Dilakukan tanpa berharap imbalan atau pujian dari manusia. Kebahagiaan yang menenangkan sudah lebih dari cukup.

___

Kebaikan memang banyak sekali bentuknya. Tidak melulu berupa barang. Keramahan juga barangkali setara dengan senyum yang bernilai ibadah. Ramah kepada siapapun tanpa tebang pilih. Pak Satpam itu contohnya. Tak heran bila ini kemudian berbalas hal yang sama dari banyak orang. Walau kadang tak selalu begitu. Karena tanpa ujian, katanya hidup akan terasa datar.

___

Sekelumit kisah tentang kebaikan-kebaikan tadi acapkali membuat aku merenung. Lantas aku kemudian bertanya pada diri: Apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan, yang mungkin luput dari penglihatan orang-orang karena anggapan 'remeh'? Atau bahkan apa amal kebaikan yang sudah aku lakukan secara sembunyi-sembunyi? Jangan-jangan semua sudah terpublikasikan. Lalu nilainya sudah tergerus dengan kemurnian jiwa yang kerap terombang ambing tak keruan. *Naudzubillah.

Betul. Aku kadang amat malu. Ingin memberikan dampak kebermanfaatan yang besar, tapi lupa akan kebaikan-kebaikan kecil yang bisa dicicil. Lupa bahwa banyak kebaikan yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Lingkungan rumah, kampus, kantor, sekolah dan lain-lain.

Padahal benar juga yang beliau sampaikan. "Yang bisa kita pegang adalah kebaikan kita sendiri." Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Kita tentu tidak bisa mengandalkan kebaikan orang lain, melainkan fokus kepada sejauh mana kita telah berbuat baik.

Serupa hasil yang takkan menghianati proses, amal juga tidak akan menghianati tuannya. Ia menjelma sebuah akse, yang jadi sebab kita merasakan ridho dan surga-Nya. Maka di tengah pandemi. Semoga dimudahkan untuk menabur kebaikan, sembari belajar menata hati. Dengan harap kemuliaan, bisa menjadi pribadi yang lebih berarti dan manusiawi. Apalagi sedang berlangsung bulan suci, yang kehadirannya selalu dinanti-nanti.

Meski belum seberdaya mereka yang mampu menggerakan jutaan orang untuk bederma. Setidaknya kita bisa menghaturkan doa serta langkah-langkah kecil namun bermakna. Menggerakkan diri untuk membeli kebutuhan pangan di pedagang kecil, menghemat penggunaan energi, #dirumahaja bila tidak teramat perlu, dan lain sebagainya. Aku yakin teman-teman jauh lebih paham akan hal ini. Aku yang masih berusaha mengisi kealpaan. Sampai menyebutkan saja belum diberi cukup kemampuan. Mari saling mendoakan!

"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri." (QS. Al-Isra': 7)

Ingin sekali menulis catatan yang menggetarkan jiwa  tapi rasanya hatiku belakangan ini kian dikotori, jadi bagaimana pantas menjadi perantara untuk menggetarkan kalbu banyak orang. Ingin pula menulis catatan yang bercakrawala, tapi akhir-akhir ini aku jarang membaca. Akibatnya wawasanku masih sesempit pakaian kekecilan. Jadilah aku kini, meski biasanya juga demikian, menuliskan catatan harian yang bisa jadi tidak begitu penting. Namun, akhirnya ditulis juga, dengan harapan ada secuil kebaikan, dan semoga bisa menjadi penghapus bagian hati yang tidak glowing ini, kusam oleh amal buruk. Hmm, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita.

_______

Sering dikira ingin jadi ini - itu lantaran kerap merapalkan doa untuk bisa memiliki kesempatan bersekolah lagi membuat senyum tak kuasa ditahan lagi. Padahal, kalau diuraikan kembali, dingat, dipikir, dan berdialog dengan diri sendiri sebenarnya tidak pernah menargetkan untuk memiliki 'posisi' atau jabatan apapun. Kadang memang acapkali terbawa oleh masa-masa kecil, dan perjalanan mengarungi hidup hingga kini---entah berkeinginan menjadi jurnalis, guru bahasa Inggris, menteri pertanian, agripreneur, fotografer, designer, traveler, chef atau apapun itu. Lantaran mungkin akan lebih mudah membantu banyak orang, dengan beragam cara di masing-masing peran.

Aneh mungkin, kian menua justru kian tidak mengerti ingin jadi apa. Seolah tak memiliki tujuan hidup. Mungkin lebih tepatnya tuntutan hidup. Namun sungguh, ini hanya opini pribadi. Sebab aku juga masih sangat mendukung perihal memiliki cita besar di masa depan. Karena katanya itu salah satu yang memacu diri kita untuk menjadi lebih baik lagi. Lagi pula, faktanya tidak mesti seperti yang kita lihat. Misalnya saja, kerap ku dengar orang-orang yang sebetulnya tidak mendamba apa-apa, katakanlah jabatan (di dunia) tapi malah diamanahi tanggung jawab yang besar. Serupa ada invisible hand.

Ya, ternyata memang nyata, tentu dan aku mengimani itu. Bahwa seberapa rinci rencana kita, pasti ada yang Maha Baik, yang mampu merevisi perencanaan kita menjadi yang terbaik. Maha Mengetahui perkara yang tidak kita ketahui akan ketetapan-ketetapan yang paling baik bagi kita. Dari cerita-cerita itu aku jadi makin belajar bahwa (lagi-lagi) tidak bisa kita mendikte hasil akhir, meski wajar merencanakan, mendoakan dan mengusahakan hidup seperti apa yang kita idamkan di masa mendatang.

Sampai sekarang pun, aku masih memiliki impian yang besar. Hanya saja definisi 'besar' tak sesempit dulu, tidak juga seperti pakaian tadi. Yang jelas, semoga selalu berpegang pada satu kata: bermanfaat. Lalu muaranya selalu satu: meraih ridlo-Nya. Ah, gampang sekali menuliskannya. Semoga menjadi doa untuk kita semua. Agar tidak melupa akan tujuan eksistensi kita di dunia. Karena hakikatnya, menjadi bermanfaat tak melulu dari hal besar. Kadang untuk memulai yang kecil saja sulitnya minta ampun. Maka aku salut dengan mereka yang tak banyak babibu tapi bergerak, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Aku jadi belajar untuk tidak menyamaratakan: bahwa tiap orang yang memilih bersekolah hanyalah karena sekadar gelar dan gengsi. Supaya kemudian tidak kaget saat menemui seseorang yang berpendidikan dan memilih menjadi ibu rumah tangga sebab memiliki makna dan pemahaman tersendiri tentang pencapaian hidup. Bahkan jika mengerti, itulah karir terbaik seorang wanita di mata Allah.
Selain kaget, dewasa ini kisah seseorang yang memiliki 'gelar' dan memilih berwirausaha malah jadi viral di kalangan warga net. Seolah berpendidikan tinggi tak boleh menjadi seorang pengusaha. Eh, mungkin hanya anggapanku saja. Karena statement itu bisa juga membawa pesan baik lain.

________

Menimba ilmu, seperti aktivitas lainnya (bekerja, dan lain-lain) bisa menjadi ajang untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Memohon agar Allah pertemukan dengan orang-orang yang bertujuan sama. Memang tidak melulu melalui jalur formal untuk menggapainya. Namun siapa yang bisa menjamin kadar keimanan dan ketaqwaan seseorang. Pun bagaimana jalan untuk memperolehnya, bukan. Kita masih sama-sama berusaha. Meng-upgrade niat, agar paling tidak, bisa lebih baru dan lebih baik.

Selain itu, sebaiknya buanglah anggapan jika yang memilih untuk sembari meniti karir, hanyalah sebab mereka terlampau ambisius terhadap materi. Boleh jadi ada banyak hal sebagai prioritas, karena hidup bukan tentang diri sendiri. Kita seringkali tidak bisa menyimpulkan apa yang kita lihat. Siapa sangka kalau ternyata kita belum mendapat gambar yang utuh, lalu dengan mudahnya mendistraksi dan menyampaikan pemikiran sebelum melihat kebenaran. Belum lagi, jawaban dari barisan pertanyaan kita tidak bisa diketahui sekali waktu, atau bahkan menjadi misteri sampai kapanpun selayaknya takaran-takaran pahala. Maka (nasihat untuk diriku) jangalah mudah memberi gelar pada orang lain seolah kitalah Tuhan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates