Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Di keluarga, kami tidak terbiasa merayakan ulang tahun dengan segala pernak-pernik yang biasa kita lihat, atau bahkan sampai mengadakan sebuah pesta. Paling mentok kita hanya mengucapkan selamat dan melantunkan doa-doa terbaik. Begitu saja sudah sangat membahagiakan.

Sedang menurutku, sebenarnya yang paling perlu diapresiasi adalah ibu yang telah melahirkan dan seringkali disusahkan oleh kita sebagai anaknya. Meski beliau tidak merasa dibuat susah. Apalagi tepat di hari lahir kita, beliau tengah bertaruh nyawa.
_______

Dulu saat masih kecil, aku, kakak perempuan dan adikku terbiasa saling membuatkan 'pesta' yang begitu sederhana saat tiba hari ulang tahun kita masing-masing. Kita akan riweuh menghias dinding, membuat kue ultah dari roti-roti kecil, menyiapkan penutup mata sebagai cara untuk memberikan kejutan, yang padahal sudah diketahui sebelumnya. Tak lupa kado-kado mungil yang terbungkus rapi berisi chiki-chiki berharga ratusan perak saja.

Adalah Mbak Aisyah, kakak perempuanku yang saat itu masih SD, mungkin kelas 2 atau 3, aku lupa tepatnya. Yang ku ingat, ia memang selalu punya cara-cara unik bahkan nyeleneh untuk bermain bersama adik-adiknya. Dia mampu membuat permainan yang seru walau hanya bermain di rumah. Permainan yang paling kusuka adalah "Tresure Hunt" yang entah ditirunya darimana. Ia mulai membuat peta dengan selembar kertas dan sebuah pena. Lalu kami begitu antusias mencari harta karun dan menyusuri tiap sudut rumah dengan interuksi dari peta itu.

Bahkan aku ingat, kami pernah begitu senang membuat dan menghias 'pohon natal'. Aku dan Mbak memotong sendiri bagian ranting tanaman di halaman rumah, yang memang kerucut bentuknya. Lalu kita mulai menghias dengan tali-tali ber-glitter sisa hajatan saat kakak pertamaku menikah. Sambil menghias, kita menyanyikan lagu jingle bells bersama-sama. Ampun, deh! Ada apa sih dengan anak-anak ini? 😆

________

Minggu lalu, aku bersyukur sekali menyaksikan adikku, Matus dan keponakanku, Muna mencuci piring dan masak-masak bersama. "Ciee, alhamdulillah, anak kembar kompak," kataku mengomentari mereka yang sibuk membuat kue. Awalnya ku pikir karena ada Rohman dan Anam. Ternyata tiba-tiba  saat kita berkumpul di Mushola, lampu dimatikan dan mereka menyanyikan lagu ulang tahun. Ibu spontan nyeletuk, "Kok malah nyanyi, bukan sholawat". Haha.

Mereka kemudian menyodorkan kue brownis buatan sendiri lengkap dengan tiga buah lilin berjejer rapi. Seketika aku terharu, dan ingin menangis. Namun urung karena direkam, suasana malah jadi mencekam. Hehe *canda. Diminta untuk meniup lilin, akhirnya ku tiup begitu saja---lucunya---tanpa berdoa karena aku bingung. Hehe. Kejutan tambah meriah diiringi teriakan merdu oleh keponakanku, Nuh dan tingkah gemas Daud.

Aku pikir hal-hal seperti ini tidak penting (maksudku hal-hal untuk saling memberikan sedikit perhatian, yang bentuknya tidak mesti berupa sepotong kue). Namun ternyata memang membikin haru. Aku sangat mengapresiasi niat baik mereka, waktu luang yang sudah dihabiskan untuk mempersiapkan, dan doa-doa yang dengan tulus dipanjatkan.

Namun hakikatnya, bagaimana pun cara kita memperingati hari kelahiran, semoga tidak lupa merenungi usia yang kian berkurang. Juga mulai melihat kembali, bahwa ada banyak hal yang perlu satu-satu kita syukuri. Termasuk saat Allah SWT anugerahkan adik-adik dan keponaankan yang baik dan tidak neko-neko, insya Allah.

_________

Setelah terharu, doa-doa dilantunkan, aamiin-aamiin diucapkan. Kita mengobrol ceplas-ceplos:

"Eh, iya. Ultahku kan besok," kataku bingung.

"Kan pake kalender Hijriyah," kata Matus menjelaskan.

"Hahaha, bagooos!!! Tradisi yang ngga islami, bisa ditutupi dengan ini, ya." Kami pun tertawa.

Di nyaris paling akhir obrolan, Matus tiba-tiba nyeletuk: "Jadi udah umur berapa, nih?"

"Kurang ajaaar!," ku jawab sambil melemparinya sebuah bantal.

_________

Anyway, perayaan tidak selalu berarti buruk. Sebab bisa saja menjadi sebuah jalan untuk bersedekah. Hanya saja, semoga kita tidak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas dan masih berada pada jalur-jalur yang tepat. Aamiin. "Teruslah belajar, Nak."

Ironinya orang-orang yang seringkali menjadi orang-orang terdekat dan paling cepat membantu kita untuk bangkit lagi adalah orang-orang yang kerapkali mudah kita sakiti. Seperti kedua orang tua dan saudara.

Kalau sudah begini, kita harus memahami kembali apa arti hidup di bumi. Bagaimana cara untuk memperoleh mimpi (baca: surga) tanpa harus menyakiti.

Ini kemudian membawa kita pada ingatan betapa Allah SWT menjadi Dzat Yang Paling Dekat dan selalu ada untuk kita. Saat banyak yang meremehkan, Allah hadirkan kepercayaan. Saat banyak yang menjatuhkan, Allah menguatkan.

Padahal sudah berapa kali kita menyakiti Allah dengan segala perbuatan tercela rasanya tidak terhitung adanya. Meski itu tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan-Nya. Karena sejatinya kita yang selalu membutuhkan-Nya.

Subhanallahiwabihamdihi agaknya tidak cukup untuk kita lantunkan 100 kali. Karena sepertinya dosa kita lebih dari jumlah buih di lautan, terlampau banyak sekali.

Kata Napoleon Hill, tubuh bisa mencapai apapun yang dipercayai dan dipikirkan oleh benak. Itulah kenapa banyak 'orang besar' yang mengawali langkahnya dengan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif untuk kemudian dimampukan berkonsisten dalam berupaya. Lalu setelah sampai di 'puncak', mereka seolah tak percaya efek dahsyat dari kekuatan berpikir dan berucap.

Memang tak mudah, Nak. Tak mudah membiasakan diri untuk selalu mengatakan yang baik-baik. Apalagi saat ombak di lingkunganmu tak mendukung. Meski kerapkali kuat, kadang hatimu juga tergerus, atau malah mengikuti arus.

Benar, ini bukan soal kawasan elite atau kumuh, kalangan atas atau bawah.  Sebab seringkali kita dapat menemukan hangatnya optimisme dari sosok-sosok 'kecil' di luaran sana. Lalu tercengang kala lontaran-lontaran pesimis justru meletus dari beberapa orang yang katanya berpendidikan. *hanya permisalan.

Maka, seperti apapun kenyataan yang kini sedang kamu jalani. Teruslah mengatakan yang baik-baik pada diri. Hal-hal yang baik berawal dari kebaikan. Baik itu pikiran, perkataan maupun perbuatan yang kamu tanam. Seperti kata Allah SWT, bahwa Ia tergantung prasangka hamba-hambaNya.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates