Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Tentu semua setuju bahwa setiap hari adalah Hari Ibu. Selamanya adalah Hari Ibu. Namun mungkin peringatan Hari Ibu ini menjadi salah satu momen untuk mengingat kembali setiap kesalahan yang pernah kita lakukan kepada ibu kita. Untuk kemudian mulai mencari cara bagaimana memperbaikinya, bagaimana mengantinya dengan ragam kebaikan. Apapun itu, aku yakin akan selalu ada cara.

Well, tiap kita punya definisi Ibu masing-masing. Ada yang menjadikan ayah sebagai Ibu, nenek sebagai ibu, bibi sebagai ibu dan seterusnya. Meski sejatinya, saat seorang ibu sudah tak membersamai, mereka tak pernah terganti. Betul, yang ada dalam benakku juga demikian. Ibuku, bagiku tak akan pernah bisa digantikan. Bahkan jika aku dilahirkan kembali dan ditanya, aku tetap ingin lahir dari ibuku, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya. Sebab beliau punya kelebihan tak terhingga, dan kekurangannya hanyalah seperciknya saja.

Aku mungkin salah satu yang beruntung, memiliki ibu seperti beliau. Aku tidak bercerita ini untuk membanding-bandingkan. Karena aku yakin, setiap ibu spesial. Sedang ibuku spesial karena dari kecil selalu mengutamakan anak-anaknya. Dalam banyak hal. Aku ingat sekali saat aku duduk di bangku pertama sekolah dasar kemudian sakit cacar berbulan-bulan, di-bully beberapa teman dan 'ditodong' untuk berhenti sekolah saja---Ibu nampak tidak ambil pusing dengan keputusanku untuk berhenti sekolah. Dia tidak mengutamakan ego dan gengsinya. Dengan santai, beliau bilang aku bisa sekolah lagi tahun depan. Saat itu aku berusia enam tahun. Seolah mengambil gap year, aku lalu kembali bersekolah di tahun berikutnya, di usia ketujuh.

Pagi itu begitu dingin. Ibu membangunkanku untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Di hari pertama itu, ibu memandikan, menyiapkan perlengkapan, memakaikan baju dan menyiapkan sarapan. Tak akan pernah aku lupa saat Ibu memakaikanku kaos dalam saat gigiku masih bergemeletak kedinginan. Hebatnya, Ibu tak memaksaku sama sekali. Saat itu murni keinginanku sendiri untuk sekolah lagi. Tentu dengan dukungan beliau juga.

Ada banyak sekali momen yang begitu berkesan dan tidak bisa ku lupa. Namun momen lain yang mungkin akan aku sebut juga adalah saat hari libur sekolah aku diminta ibu untuk menjaga adikku karena beliau membantu bapak di sawah. Aku ingat sekali, waktu itu adikku menangis kencang dan tidak mau berhenti meski telah berusaha ku tenangkan. Saat ku gendong ternyata tangisnya malah semakin keras. Sampai aku rasanya putus asa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di rumah hanya tinggal kami berdua, aku dan adikku, Matus. Jika asumsinya aku berusia 8 tahun, maka adikku 4 tahun. Lalu tiba-tiba ibu datang, meski masih kelelahan ibu langsung menggendong adikku. Dia akhirnya senyap. Benar-benar seperti malaikat penolong yang tiba-tiba datang di detik keputusasaan. Dan benar, dalam kehidupan sebenarnya beliau memang selalu menjadi malaikatku.

Dari kisah itu, aku jadi teringat: ibu katanya memang hanya seorang ibu rumah tangga namun beliau sangat luar biasa karena hampir mampu mengerjakan semua hal. Seperti bekerja di sawah, mengambil pakan ternak, mencari kayu bakar, menjual ternak  dan beberapa hasil kebun di pasar dan lain sebagainya. Bahkan aku ingat sekali kalau ibu sudah bekerja di sawah, beliau akan sedikit sekali istirahat dan banyak bekerja. Ya, beliau adalah sosok pekerja keras.

Hal lain yang membuat aku sangat bersyukur adalah saat ibu tidak pernah mempermasalahkan nilaiku di kelas dan hingga aku dewasapun tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini dan itu, begini dan begitu. Aku tidak bilang bahwa seorang ibu yang mengarahkan anaknya adalah ibu yang buruk, atau penuntut. Karena sejatinya tiap ibu memiliki cara yang berbeda untuk mendidik anak-anak mereka. Kita tidak bisa menghakimi satu sama lain. Kelebihan ibu yang satu ini juga kerap kali membuat aku dan ibu berbeda pendapat tentang konsep untuk bermimpi besar. Jika aku ingin sekali bermimpi besar maka ibu bilang, jangan terlalu bermimpi besar. Namun pada akhirnya, kita seringkali sefrekuensi.

Selain perbedaan prestasiku di kelas yang begitu signifikan dengan saudaraku yang lain, aku barangkali juga memiliki karakter yang juga berbeda. Aku bahkan kerap dilabeli anak yang cengeng. Karena kerap menangis saat dibawa kemana-mana. Terutama saat naik kendaraan umum. Tapi ibu hampir selalu membawaku bepergian, dia tidak pernah menghakimi aku yang acapkali berbeda dari anak-anaknya yang lain.

Berbicara tentang karakter, saat kuliah aku pernah bercerita tentang beberapa orang yang kerap mem-body shaming dan lain-lain. Namun selalu, dari kecil ibu selalu bilang untuk tidak diambil hati. Tidak usah dibalas. Tidak usah dihiraukan. Jangan berhenti untuk belajar menjadi orang baik hanya karena perlakuan orang lain.

Hmm, aku menulis ini untuk ibuku tapi beliau tidak bisa membaca. Tapi aku percaya beliau bisa merasakannya. Semoga hari ibu kali ini menjadi perenungan yang begitu dalam untuk kita semua. Bahwa kesempatan untuk mendapati kedua orang tua yang utuh hingga kini adalah kebahagiaan yang tidak boleh terlewatkan. Maka yang boleh diberikan pada mereka hanyalah melulu tentang kebahagiaan. Aamiin.



Aku bukan orang yang suka menyaksikan berita. Paling tidak, itu yang bisa aku simpulkan semakin ke sini. Itu salah satu yang membuat aku kurang update. Bagiku hidup sudah cukup rumit dan dengan menonton berita negatif rasanya akan semakin menambah penyakit. Sebab seringkali aku malah ikut pusing. Meskipun sebetulnya seringkali kita memang butuh perspektif baru, dari kebebobrokan manusia bumi sekalipun atau bahkan kejadian yang tengah happening, walau kadang beberapa tak menyajikan bingkai dan isi yang sesuai harapan.

Arrgh! Dalam minggu ini, seolah tak terhitung berapa kali aku, kita mendapati berita yang terkait dengan kekerasan seksual. Sedih! Miris! Hati berkali-kali ikut teriris! Padahal, memang dari kecil, kala mendengar kata 'pemerkosaan' saja rasanya diri ini sangat marah, bahkan saking jijiknya ingin muntah. Kalau bisa muntah di wajah pelaku. Maaf jika terlalu kasar. Siapa yang terima dan tidak mengecaman perbuatan semacam itu, kan? Jangankan kejadian fatal seperti itu. Kejadian yang dianggap remeh oleh beberapa orang saja bisa membuatku sangat muntab.

Ingat sekali waktu masih kecil aku seringkali menemani kakak perempuanku dan teman-temannya hadir dalam pengajian atau gambus yang memeriahkan sebuah pernikahan. Biasanya acara itu diadakan di malam hari. Lalu setahuku, seolah lumrah sepulang dari sana kita para perempuan akan dihadapkan oleh para lelaki sepantaran tak dikenal yang kemudian mengikuti dari belakang, seolah mengantar kita pulang, menggoda bahkan memaksa meminta nomor seluler. Aku ingat sekali waktu itu aku sok jadi jagoan melindungi kakak perempuanku untuk tidak didekati dan memperingatkan keras lelaki yang mengganggunya agar tidak berani macam-macam, akhirnya mereka pulang. Padahal aku masih SD, jika tidak salah. Itulah kenapa sejak kakak perempuanku di pesantren aku tidak lagi suka hadir di acara semacam itu.

Sama halnya saat aku tidak suka lagi menyaksikan berita. Karena seringkali beberapa media hanya mementingkan keuntungan komersil buka semata-mata untuk mengungkap kebenaran. Tidak heran jika sering kita temui berita kekerasan seksual dengan thumbnail dan judul berita yang sangat menyakitkan. Karena justru terbaca menyudutkan korban, mempersulit korban bahkan menganggap bahwa korban kekerasan seksual tidaklah berharga.

Maka jangan salah jika kemudian kita kerap mudah menyalahkan korban kekerasan seksual daripada ikut mendukung mereka memperoleh keadilan (baca: victim blaming). Media menjadi salah satu yang andil untuk itu. Seperti saat kita malah menyalahkan korban karena pakaian yang dikenakannya, menyalahkan perempuan yang bekerja hingga larut malam, pulang dini hari sebab mengerjakan tugas kampus dan lain sebagainya. Sebab bagiku bagaimanapun perempuan, selama masih dalam koridor yang normal, tidak ada satu manusia pun yang boleh berkata bahwa kekerasan seksual diperbolehkan.

Memakai pakaian yang sopan, tidak keluyuran di malam hari, tetap berada di rumah jika tidak ada keperluan mendesak memang menjadi salah satu langkah pencegahan. Namun perspektif berbeda orang lain dalam menentukan cara berpakaian bukan lantas menjadi alasan kita untuk mudah menghina orang lain, kan? Apalagi menjadikan itu senjata untuk memborbardir korban sekaligus secara tidak langsung membela pelaku. Belum lagi, data menunjukkan banyak kekerasan seksual terjadi di kediaman korban sendiri. Ya Tuhan!

Kedua, seringkali kekerasan seksual dianggap sesuatu yang lumrah, atau sering disebut rape culture, karena dinilai bahwa setiap manusia khususnya laki-laki memiliki hawa nafsu. Sehingga harusnya si perempuan yang pandai menjaga diri. Ujung-ujungnya korban yang selalu salah. Padahal kita semua tahu bahwa nafsu diciptakan untuk dikelola bukan dengan mudah dilampiaskan layaknya binatang. Dan alasan-alasan lain.

Hal lain yang membuat kekerasan seksual makin tersebar dan tumbuh subur adalah karena kita secara tidak sadar menormalisasi bibit-bibitnya. Ini karena kurangnya pemahaman. Iya, kekerasan seksual bukan hanya tentang pemerkosaan. Setidaknya ada lima belas perilaku kekerasan seksual, seperti pemerkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi, penghukuman bernuansa seks, praktik tradisi bernuansa seks, dan kontrol seksual. Contoh yang sering kita anggap kecil adalah bersiul dengan maksud menggoda orang lain (baca: cat calling) termasuk ke dalam pelecehan seksual. Sebab pelecehan seksual bisa berupa verbal dan non verbal (fisik).

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan juga (2020) pelaku sangat beragam, bisa orang tak dikenal, orang yang masih ada hubungan keluarga, majikan dan kasus terbanyak dan sangat meroket jauh sekali dibanding yang lainnya adalah pelaku yang berstatus sebagai pacar.  Lagi dan lagi ini berdasarkan data, bukan lantas menjadi bahan (secara pribadi) untuk menyudutkan orang yang menghalalkan pacaran.

Faktor lain yang juga merupakan rahasia umum adalah hukum yang berlaku. Ah tak perlu diperjelas, rasanya yang satu ini sudah paling jelas. Aku hanya ingin bilang, bahwa kekerasaan seksual juga tidak mengenal latar belakang pendidikan, agama atau gender. Laki-laki juga bisa menjadi korbannya. Maka akhirnya tulisan ini sejatinya tidak untuk mendiskreditkan latar belakang, agama atau gender apapun. It's all about personalnya. Melainkan ini adalah bentuk ketidak-habis-pikiran dengan keadaan yang terjadi akhir akhir ini. Atau bahkan sejak dulu yang bahkan tak pernah diungkap sekaligus. Semoga kita semua Allah SWT lindungi. Dan mereka yang kejam dan tidak bermoral itu benar-benar diadili.


Mungkin aku adalah salah satu orang yang kalau ditanya "Apa titik terendahmu?" akan sangat bingung menjawabnya karena merasa, sorry to say, tidak pernah melalui titik terendah. Karena bagiku, ujian dan cobaan yang ada dalam hidupku selama ini masih bisa kulalui. Tentu atas kehendak-Nya juga. Tapi, yang ku maksud mereka semua bukanlah hal yang begitu berat dilalui. Sebab, personally hal yang berat dan membuat mungkin sebagian dari kita berada di titik terendah adalah saat kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, seperti keluarga. Meskipun kematian adalah sebuah keniscayaan. Namun aku hanya manusia biasa, pasti akan berat untuk menghadapi itu semua. Tapi percayalah, Allah SWT selalu ada.

Betul, aku merasa benar-benar cukup dengan semuanya dalam hidupku. Aku merasa tidak pernah kekurangan meskipun katakanlah, aku belum bisa menjamah hal-hal mewah. Bagaimana tidak? Adakah yang kurang setelah kita dikaruniai iman, kemudahan untuk berusaha mencapai taqwa,tak ada masalah kesehatan, mempunyai makanan yang cukup dan dianugerahi keluarga yang harmonis? Apalagi seingatku, sebenarnya aku juga bukan orang yang memiliki banyak keinginan. Contoh kecil, kala itu aku cukup dengan HP butut ketika teman-temanku yang lain sudah menggunakan HP canggih. Aku tidak pernah benar-benar tergiur untuk kemudian mempunyai kekayaan yang orang lain miliki, dan apapun itu. Sekalipun dulu aku pernah di-bully karena fisik aku tidak merasa mendambakan atau bahkan iri melihat fisik yang sudah masuk dalam standarisasi kesempurnaan oleh masyarakat kita. Kecuali jika itu tentang ilmu dan pendidikan. Meski aku bukanlah siswa yang cemerlang. Mungkin karena aku pernah mengklaim bahwa aku sudah merasa cukup dan bahagia dengan mendapatkan akses pendidikan. Bahkan aku kerap berteori pada diriku, jika dengan pendidikan dan keluarga yang hangat aku sudah tidak memerlukan apa-apa lagi. Ilmu yang diperoleh dari baik itu pendidikan formal dan pendidikan yang berasal dari keluarga akan membuat kita kian dekat dengan sang pencipta. Juga menjadikan kita pribadi dengan pola pikir yang lebih baik dan karakter yang lebih apik. But, Wallahu a'lam.

Namun beberapa hari yang lalu aku melewati hari-hari yang cukup berat. Bahkan mungkin bisa diuraikan bahwa aku mengalami stres atau mungkin depresi. Meskipun bukan pada tingkatan yang tinggi. Karena dari beberapa bacaan, seseorang dinyatakan depresi jika sudah dua minggu merasa sedih, putus asa atau tidak berharga. Atau mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan masalah atau terlalu sensitif pada saat itu. Tapi bagi orang yang masih amat belajar ini, beberapa orang memang setuju, jika masalah keluarga kerapkali menjadi sesuatu yang cukup berat dan pelik. Kala itu, dampaknya, aku merasa menjadi manusia yang paling tidak ada gunanya. Aku benar-benar merasa tidak berguna sama sekali. Aku merasa tidak bisa, belum pernah dan tidak akan melakukan apa-apa.

Aku yakin, hampir semua orang mengalami stres yang berujung depresi meskipun pada tingkat dan masalah yang berbeda-beda. Yang menjadi fokus ialah bagaimana feedback terhadap masalah yang sedang kita hadapi, yang juga kerapkali berbeda-beda. Pada saat itu aku merasa sangat rapuh, tak seperti biasanya, sampai-sampai jatuh sakit lahir dan batin selama tiga hari. Jadi sebetulnya belum ke taraf depresi. Namun tetap saja menguras energi. Kemudian berkat keinginan sendiri (mungkin) dan rahmat Allah SWT, akhirnya aku mampu melewati itu semua. Mungkin ini akan terbaca begitu mandramatisir. Tapi aku sangat sangat sangat bersyukur bisa melewati itu dan insya Allah bisa belajar dari itu semua. Kemudian kembali kepada pikiran-pikiran yang baik dan berhusnudzon kepada Allah dan semua orang yang terlibat.

Sebab bagiku yang paling berat dalam hidup adalah saat kita mudah sekali memelihara pikiran yang buruk kepada orang lain bahkan kepada diri kita sendiri. Sehingga nikmat dari Allah Ta'ala hari ini berupa pikiran yang lebih positif kepada diri sendiri dan orang lain adalah nikmat yang tidak terkira untukku, dan hal semacam itu tidak dapat dimanipulasi. Maka sejatinya ini yang ingin aku sampaikan kepada diriku dan (barangkali) pembaca. Seberapapun besarnya masalahmu, jangan lupakan Allah dan teruslah memohon ampunan serta kemudahan untuk melewati setiap ujian agar menjadi pribadi yang lebih matang. Mmm, aku ingat sekali, satu potongan tulisan dalam buku La Tahzan yang kira-kira begini: "Bahwa hidup bukan tentang menyesali hari kemarin yang telah terjadi atau mengkhawatirkan hari esok yang belum tentu terjadi. Ini adalah tentang hari ini. Tentang bagaimana kamu mengisi dengan hal-hal terbaik hari ini. Bukankah kamu tidak pernah tahu sampai kapan usiamu di bumi." Maka tidak perlu menunggu untuk mengubah pikiran baik. Itulah kenapa, aku ingin sekali mengisi kesempatan usia yang Allah beri dengan sebaik mungkin. Jika memungkinkan, kamu bisa memulainya hari ini juga, saat ini. Jika tidak, setidaknya mulai hari ini kamu sudah berpikir positif jika kamu akan menjadi pribadi yang berpikir posfitif. Hehe. Bukan, bukan untuk toxic positivity dan menolak emosi negatif. Itulah kenapa aku memberikan dua kemungkinan. Lalu Tuhan memiliki banyak sekali kemungkinan. Ya, at the end of the day, it's all about bersyukur. Lagi-lagi bukan untuk membandingkan poin syukur yang kita miliki dengan orang lain. Sebab tiap-tiap manusia mempunyai jalan dan proses yang tak selalu sama.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates