Ini hanya dunia. Tak pernah ada yang benar-benar tahu susah berapa tabungan amal seseorang. Barangkali dalam lingkup yang lebih kecil, aku akan bilang: ini hanya dunia maya. Tak pernah ada yang benar-benar tahu apa saja yang telah dilewati seseorang.
Berapa banyak orang yang terlihat begitu romantis dengan keluarga yang harmonis di depan kamera, ternyata adalah pribadi yang suka main tangan. Kasar minta ampun. Berbanding terbalik dengan apa yang ditampakkan pada orang-orang.
Orang-orang dengan ragam prestasi, juga belum tentu sempurna di semua hal. Tentu mustahil akan sempurna. Sebab apapun itu, apalagi manusia, pasti akan senantiasa ada cela. Seolah mendukung siapapun untuk berkembang, padahal hatinya tak terima jika ada yang melebihi dirinya, misal.
Benar. Penyakit hati bisa menghinggapi siapapun. Beragam pula bentuknya. Itu hanya beberapa contoh kecil saja. Lalu, bukan berarti kita akan menjadi orang yang pandai menunjuk, mengorek-ngorek aib orang lain atau berspekulasi tentang hidup orang lain. Namun, aku hanya bilang, terutama pada diriku sendiri, untuk tak usah terlalu kagum pada manusia. Sewajarnya saja.
Tak perlu terlalu mengidolakan seseorang. Sesekali menjadikan mereka (yang tak terbatas oleh usia, ras, jenis kelamin, profesi, bahkan agama) sebagai sumber ilmu, motivasi, pengalaman hidup memang tak ada salahnya . Tapi jangan lupa, untuk dengarkan dirimu sendiri. Mendengarkan hati kecilmu. Mana yang terbaik, mana yang perlu diserap, dan mana yang perlu dipilah. Kamu berhak atas hidup yang lebih berdaulat. Untuk itu, tentu kamu membutuhkan nurani yang 'sehat'.
Memang butuh jam terbang untuk versi kamu yang lebih memahami dirimu itu. Untuk nurani yang tidak terbelenggu dosa dan bisa terdengar. Sebab terkadang dunia terlihat begitu jahat dan menyeramkan. Menghakimimu sedemikian hebat, seolah jauh lebih paham. Tapi, selama kamu benar dan senantiasa berusaha hidup menjadi orang baik, tidak mendzolimi orang lain, aku rasa tak perlu ada yang dirisaukan. Ingat kembali: Ini hanya dunia.