Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Aku bersyukur memiliki Ibu yang bagiku zuhud pada dunia (Entah apa istilah yang pas, sebab sepertinya kata zuhud terlalu tinggi maknanya). Lihatlah, saat yang lain tengah terkagum dan berkata wow---entah pada Anam yang tiap tahun menggondol piala, atau pada hadiah yang ternyata di luar ekspektasi, Ibu hanya terdiam. Selalu, sikap Ibu bagiku menelurkan banyak makna. Ini memang bukan kali pertama, sebab Ibu memang selalu tidak ingin membangga-banggakan anak-cucunya di depan siapapun apalagi banyak orang, Ibu tidak pernah memuji meski saudara-saudaraku selalu mendapat rangking satu di kelas. Bagi Ibu, kecerdasan yang tampak dari oretan nilai di atas kertas jika tidak disertai kecerdasan spiritual dan emosional (akhlak yang baik, dll) adalah kosong. Ibu selalu bersikap biasa saja, tak mau berlebihan, kalem, jauh dari sosok diriku yang kerapkali heboh.

Pagi ini aku jadi paham apa maksud Ibu. Bahwa menimba ilmu jangan mengharap apa-apa. Bisa membaca dan menulis sudah merupakan anugerah yang luar biasa. Ungkapan keinginan Ibu yang berbunyi: Pokok'eh lâ bisa adhuwâin rebbhâ bik bisa ngajhih (yang penting bisa mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengaji, Red)---ternyata menyiratkan banyak makna mendalam. Bahwa jangan muluk terhadap keinginan. Sebab kebahagiaan tidak disertai oleh harta yang menumpuk, tapi kekayaan hati yang kian dipupuk. Karena kalau sudah materi tujuannya, maka kita akan silau kapan dan bagaimana keadaannya. Sekarang aku paham apa maksud Ibu mengatakan padaku, bahwa jangan terlalu bermimpi besar. Sebab impian besar harus dibarengi dengan doa dan usaha yang kian besar. Ibu tak ingin aku terbebani dengan sesuatu yang besar dan menjadi beban. Mengingatkan kembali kepada pesan pertama: bisa membaca dan menulis adalah anugerah yang luar biasa, serta menanamkan nilai dan akhlak luhur dalam diri agar mendarah daging dan tidak silau terhadap dunia.

Betapa banyak kekuasaan dan posisi yang mapan mampu merubah seekor domba menjadi srigala jika tidak dibarengi keteguhan iman. Kala itu aku mengira Ibu tak merestui setiap mimpiku. Tapi aku salah, justeru aku yakin beliaulah yang mengamini setiap mimpiku lebih dari siapapun. Siapa yang tidak ingin anaknya memberikan kebermanfaatan yang besar untuk umat? Yang perlu digarisbawahi adalah soal ketaqwaan, sifat qonaah, niat dan pandai mengendalikan amarah. Seperti apa yang dimaksud ibuku secara tersirat, tentang betapa pentingnya kecerdasan emosinal dan spiritual. Semoga Allah Swt memudahkan kita. Aamiin ~
Allah, terima kasih telah memberiku Ibu seperti Ibu. Aku mencintaiMu dan mencintai Ibuku.

Alhamdulillah, berkat hape dan tab baru akhirnya dua anak itu bisa menggeluti game lagi. Persetan budaya literasi dan berbakti. Itu tak membuat segar dan senang hati. Seolah asing jika mesti berkunjung ke konten, aplikasi, dan segala tetek bengek yang bercokol di smartphone yang bermanfaat, tak sudi. Semoga bisa menjadi gamer profesional. Dan aku sendiri tidak pernah menyemogakannya. Entah, apa ini beriorientasi akhirat? Oh, barangkali keluh mereka saat kalah tanding dengan menyebut nama Tuhan bisa jadi bahan pertimbangan! Haram menghakimi tanpa tahu isi hati. Bukankah hidayah tidak berada di tangan manusia? Bisa jadi, mereka telah menyiapkan amunisi amal sholih tanpa ada satu pun manusia yang berhak mengetahui. Pun tak ada yang menjamin bagaimana Dia membolak-balikkan hati. Lagi pula, kegiatan yang lillahita'ala tidak selalu terlihat oleh mata. Tak ada yang tahu mana kegiatan baik dengan niat yang benar-benar suci. Tapi yang ku tahu, betapa mengiris hati melihat mereka membiarkan banyak masa terbuang sia-sia. Meski tak sama, aku juga merasa sering melakukan hal yang sama.

Beda dengan satu anak lagi. Ia adalah adikku. Hapenya masih diservis. Katanya stress lama ga maen ini. Bodo amat pikirku. Tapi pas mikir lagi, nanti dia stress beneran. Akhirnya aku pinjemin hape dengan dua syarat; 1. Sholat Dhuha, 2. Ngarè' râbbhâ alias ngarit rumput alias mengambil rumput dengan arit untuk pakan ternak. Dan diluar dugaan, ia menyanggupinya! Hmm, ini sebagai langkah agar dia jadi cowo beneran pikirku. Sebab Bapak dan Ibu memang tidak pernah menyuruh-nyuruh. Itulah kenapa kita harus menjemput softskill kita sendiri. Beda dengan jaman kakak dulu. Mereka memang proaktif sendiri. Kak Wahed yang biasa membantu Bapak di sawah, Kak Udin yang jualan sejak kecil, Kak Ucup yang mandiri sejak lulus SMP, dll. Hmm, kini ortu memang seolah begitu memanjakan kami. Kami pun harus sadar diri, memiliki keinginan sendiri untuk menempa diri. Anyway, ini gimana maennya ya? Kapan-kapan nyoba ah. Kalo toeflku udah 670. Laah, maen game bisa bikin score toefl melambung loh. Iya, sama belajar dan praktik tapi, bukan cuma maen. *krik.

Beda lagi dengan satu anak lainnya. Namanya Ilul. Bocah kecil itu bukan adik atau keponakanku, tapi karena dia tinggal bersamaku, aku telah merasa memiliki dan sedih jika ternyata dia juga kecanduan dengan game. Aku tidak habis pikir, kenapa di desa yang nyaman seperti ini tega dibubuhi tempat atau warung PS? Iya, benar. Aku tidak boleh menghakimi. Setiap orang memiliki pilihan dan prinsip hidup yang berbeda. Tapi hari ini aku benar-benar dibikin geleng-geleng kepala. Ilul tak mau makan, tak mau sekolah, tak mau ke madrasah dan mengaji hanya karena sibuk meramaikan warung game yang meracuni otak itu.

Aku pun akhirnya menghubungi pemilik warung. Jahat banget aku ya? membatasi bermain anak, membatasi lahan rejeki orang, dst. Hehe. Abisnya ini sudah kesekian kalinya. Padahal sudah ada waktunya, pun di rumah, gratis tidak.l perlu keluar duit. Bisa dipilih juga gamenya, bukan game yang aduhai cewewew gambarnya, bukan juga game sadis nembak sana sini, dll. Aksi penembakan di LN pas di berita juga bisa jadi sepersekian persen pengaruh game tidak mendidik seperti itu.

- - - -

Melihat keempat anak yang amat aku sayangi itu candu dengan gadget, benar-benar membuat hatiku pilu. Aku seperti melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Saat tengah duduk di bangku SMP, setiap usai pulang sekolah aku berada di depan komputer memainkan beraneka ragam permainan baru. Hingga lupa waktu. Hingga lupa bahwa jika itu dilakukan tidak sesuai porsi akan mengarah pada hal yang benar-benar tidak perlu. Duh Gusti, hanya pada-Mu lah hamba berserah diri.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates