Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

[ Jangan sampe kalo nikah nanti, nikahnya sama manusia hape. Kan bakal ga nyambung tuh. Kita ngomong apa yang didengerin apa. Dan pagi ini aku bener-bener paham, kalo ngomong sama manusia hape bisa amat menyakitkan. ]

"Nam, turunin motor, Nam. Anterin," pintaku pada Anam yang tengah fokus pada layar hape smart itu. Aku pada saat itu masih sibuk mengenakan kaos kaki. Aku pikir dengan meminta tolong, aku akan lebih menghemat waktuku. Mengingat kelas di mulai pukul setengah enam. Tapi yang ku dapati adalah jawaban yang sama, yakni "hah?," dari tiga pertanyaan yang juga sama karena memang sampai harus aku ulang dengan jarak durasi waktu sepersekian detik.

Akhirnya, aku ingat apa yang disampaikan Bapak pekan lalu:
"Orang tua itu ga butuh dunia. Saya, meskipun orang bodoh sekalipun, lebih memilih akhlak ketimbang harta berlimpah ruah. Kita lebih perlu disumbang tingkah laku yang baik daripada disumbang materi, tapi akhlak dinomorsekiankan," begitu kira-kira menurut beliau.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki karena aku merasa tidak butuh materi (dalam hal ini jasa antar menggunakan motor). Aku hanya butuh didengarkan kala itu. Keputusan ini justeru membuat Anam yang tadinya sibuk bermain hape kini bangun. Tapi aku sudah berjalan cukup jauh, aku tidak mau diantar oleh siapapun. Termasuk Muna yabg sedari tadi juga enggan kala aku berbincang pada Anam. Sekali lagi aku tidak perlu diantar, aku bisa berjalan kaki. Aku hanya butuh didengar. Itu saja.

Akhirnya mereka, juga Ibu seperti menyesali apa yang aku lakukan. Aku pun demikian. Karena meski tujuanku untuk memberi pelajaran, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan Ibu. Pastilah Ibu menyesali kejadian pagi itu. Maaf, Bu. Aku hanya ingin mereka mengerti, bahwa hidup ini bukan hanya tentang 'aku', tapi tentang 'keluarga' dan banyak orang.

---

Omong-omong tentang Anam yang jadi manusia hape, sebenernya aku jadi inget kalo ternyata aku juga sering jadi manusia hape. Parahnya lagi aku melakukannya pada Ibu!
Kemarin sore Ibu bertanya padaku yang memang tidak sedang memegang hape, tapi pikiran masih fokus pada apa yang ada di dalam hape, laporan. Begini pertanyaannya, "Sudah Ashar, Lut?"
“Belum,” jawabku.
“Sudah jam segini kok kamu bilang belum ashar. Kenapa kamu jadi telmi ya akhir-akhir ini,” Ibu heran.
“Eh, iya bu, hehe."

Aku akhirnya langsung kaget dengan sikapku dan meminta maaf pada Ibu, tertawa kemudian mengenang betapa memang akhir-akhir ini aku seringkali telmi. “Kenapa hape tidak lantas menjadikan aku makin smart, ya?” Tanyaku dalam hati. “Ah, penggunaan yang tidak semestinya inilah yang menjadi akar masalahnya.”

Aku seringkali berpikir jika aku tidak ingin memiliki pasangan hidup yang terlalu sering update status di media sosial, apalagi hanya sekedar sepiring makanan. Tapi setelah ku pikir lagi, aku adalah orang yang masih dan aktif membagikan status, termasuk makanan. Padahal orang-orang di sekitar kita, keluarga, sahabat, pasangan hidup dan lain sebagainya  bisa jadi adalah cerminan diri kita sendiri. Maka mulailah dengan mengevaluasi dan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

“Anam, ternyata Tantemu ini juga manusia hape. Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Supaya kita tidak menjadi budak teknologi.”

[ Yuk, sebelum sibuk lagi sama hape, tugas, kerjaan, dll. Sudah ngga ngasih senyum dan bilang sayang ama anggota keluarga, nelfon ortu, dll? Sebab kita seringkali punya senyum buat orang lain, tapi tidak untuk keluarga sendiri. Dan bilang sayang tidak selalu berarti lewat ucapan. ]

Sepatu yang lebih kuanggap sebagai sendal kemarin kehujanan dan lupa aku cuci. Sementara sepatu yang juga lebih kuanggap sebagai sendal minggu lalu kehujanan dan juga lupa aku cuci. Haha, serius. Akhirnya pagi ini aku meminjam sepatu milik Muna, kemenakan yang lebih ku anggap adik sendiri.

Anyway, pagi ini petugas telat mengembalikan kunci laboratorium. Akhirnya aku kelimpungan mencari kunci. Naik-turun lantai tiga sampai  tiga kali. Mondar-mandir melebihi setrika.

Beberapa saat kemudian Dek Irul datang. Dia akhirnya membantuku untuk mencari kunci, atau lebih tepatnya mencari petugas yang membawa kunci.

Dia juga bingung. Sebab kelasnya harus menggunakan komputer di laboratorium. Nah, kalau aku sendiri berniat untuk belajar di luar ruangan sebagai plan B, karena kali ini tidak memerlukan layar proyektor dll.

Jam di layar handphone-ku telah menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula ada yang mengembalikan kunci. Padahal sebenarnya kelas dimulai jam 07:00 WIB. Ibarat kata nih ya, 30 menit itu bisa digunakan untuk mencuci piring, baju dll. Hehe.

Ternyata usut punya usut, petugas memang datang telat bukan sebab lupa mengembalikan kunci. Omong-omong pegel juga karena aku memakai sepatu pinjeman berhak tinggi. Meski amat tinggi, aku amat berharap bisa memenuhi haknya, eh. 

Pada saat mencari kunci kesana kemari, saya menemukam sebuah kursi. Lantas ia berkata, "Rugi, kan? Dampak telat memang dahsyat. Yang telat satu, yang rugi banyak orang. Padahal dari rumah sudah berangkat lebih dari sekedar tepat. Nah, gimana rasanya? Itu yang dirasakan dosenmu. Lihat, mereka juga telah datang tepat waktu. Dan berhak atas itu, memulai kelas dan pelajaran tepat waktu."

Pada akhirnya, kita juga harus pandai memaklumi. Sebab tidak ada yang menjamin jika suatu saat justeru kita yang berada di posisi demikian. Manusia hanyalah manusia yang kadang kala urusannya susah untuk ditebak. Hanya saja jangan lupa dan malas untuk senantiasa menegakkan kedisiplinan.

Saya membagikan status bertuliskan potongan kutipan dari novel Andrea Hirata yang berjudul Ayah, "Bolehlah kita miskin, bodoh, jelek, tapi janganlah pernah kita berhenti sekolah."

Bisa diperhatikan, kalau orang yang paham, mestilah memahami jika makna dari kutipan tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk mendikotomikan sekolah dan sholat. Tapi nyatanya apa yang terjadi. Seseorang malah berkomentar begini, "Bukan sekolah, tapi sholat sebelum di sholati."

Kemudian aku membalas dengan emoji berupa lima buah jempol. Karena saat itu tengah sibuk mencari materi untuk Skripsi. Namun kemudian justru dibalas lagi, "Memangnya hidup cuma butuh sekolah? Sholat yang terpenting. Aneh banget kamu, kamu sekolah aja yang dipikirin," begitu katanya kira-kira.

Lantas, entah kenapa, seolah teringat hadits tentang wajib sombong pada orang yang menyombongkan dirinya, aku pun membalas pesan itu dengan: "Sholat mah wajib. Lalu memangnya kenapa kalau aku pikir sekolah lebih penting daripada sholat?" lagipula, Allah Maha Mengetahui isi hatinya hambanya, apa yang menurut hambanya menjadi prioritas. Ketimbang hanya mampu berucap lewat lisan. Padahal sepatah pun aku tidak menulis, jika sholat dinomorduakan dari sekolah.

Begitu sedikit cuplikan percakapan via WhatsApp dengan seseorang yang tidak perlu kita sebut namanya. Kemudian aku mempermisalkannya dengan perbincangan yang lebih pendek:
"Jadi kamu pikir makan lebih penting daripada sholat!"

"Lantas kalau saya pikir makan lebih penting daripada sholat, anda mau apa?," aku menjawab dengan permisalan demikian.

----

Memangnya anda pikir yang butuh makan cuma perut?
Aduhai, tidakkah kita ingat otak dan hati kita juga perlu nutrisi, berupa ilmu?
Apa anda mengira kita cukup mengerjakan sholat dan ibadah lain tanpa ilmu?
Bisa anda bayangkan hal itu?
Ada seorang ahli ibadah yang tuna-ilmu?
Akan seperti apakah sholatnya?
Lagipula, lupakah kita bahwa sekolah memiliki artian yang amat luas, tidak hanya sebatas mengenyam pendidikan secara formal?

Hati-hati jika ingin berpendapat. Jangan tinggal comot al-Qur'an dan al-Hadits sana sini. Bahkan foto instagram pun bertebaran dengan caption serupa, bukan? Paham kulit luar, tapi sudah secara membabi buta berkoar-koar. Ini penyakit yang bisa menimpa siapa saja. Perlu diwaspadai. Kala kita sudah mengetahui banyak hal hanya dengan membaca satu buku. Kala kita sudah merasa amat bijak dan bertindak kala mendengar satu buah isu. Merasa paling benar. Berbicara panjang lebar. Tak gentar. Menggelegar bak halilintar.

----

Kata ahli ilmu, al-Qur'an memang pedoman, tapi kalau yang menafsirkan seperti kita-kita---orang yang acap kali tidak membawa otak dan hati untuk mengkaji melainkan egoisme---ini, maka apa jadinya. Jangan sampai menafsirkan, karena bahkan kita seringkali hanya mengartikan secara lurus. Tapi seolah paham makna kalimat yang tafsirannya bisa tertulis dalam halaman beratus-ratus.

"Eh, maaf, anda Lutfiyah?"

"Iya, benar."

"Anda dipanggil Mbak Skripsi, tuh."

"Oh, hehe. Iya. Bentar."

"Kamu kenapa sih? Kok baper? Biasanya kan kamu cuma senyum kalo ada yang nyinyir. Katamu, baik kebaikan atau keburukan seseorang adalah jalanmu untuk memperoleh pelajaran?"

"Hehe, Maklum, karena dari SMP bergaulnya dengan teman-teman yang pandai menjaga omongan. Jadi kurang variatif gitu temannya, hehe, baik semua. Akibatnya kalau sudah dinyinyirin, langsung ingin bersuara. Salah satunya lewat tulisan ini. Karena setelah didiamkan, yang bersangkutan justru kekeuh. Maka ini sedikit apa yang ingin saya ungkapkan. Ah, lagak saya sudah seperti orang berilmu saja. Padahal masih haus akan ilmu, sedikit sekali yang saya pahami. Tapi saya bersyukur, karena dinyinyiri saya jadi punya bahan tulisan. Saya juga jadi termotivasi untuk belajar lagi."

Setelah saya baca lagi riwayat percakapannya, saya jadi tertawa sendiri, jangan-jangan saya hanya mudah terpancing. Jangan-jangan iman saya sedang lobat, buktinya mudah terprovokasi. Sebab beberapa orang tidak butuh penjelasan, mereka hanya ingin mempermasalahkan dan sama sekali tidak menginginkan jawaban jadi wajib diabaikan. Itulah kenapa banyak kumpulan nitizen yang tiap waktu kerjanya hanya mengomentari orang, mencaci, membully, bersumpah serapah, dsb di sosial media. Mereka merasa aman karena menggunakan fake account, meski telah mencoreng nama agama, karena tidak sedikit juga yang mengcover akun dengan nuansa Islami. Seperti foto profil, status dll. Nah, kalau yang itu perlu ditindaklanjuti, tidak bisa didiamkan.

----

Lagi pula ini pemikiran kita, hidup kita, jalan kita. Kenapa orang lain yang jadi sibuk. Innallaha a'lamu malaa ta'lamun. My life and yours are so simple. It is me and you who make it complicated. No matter, Allah will always be with us. Everything will be get easier.


Seorang teman les bilang padaku, "Weih, pantesan adeknya jago bahasa Inggris, kakaknya aja begitu." katanya. Kemudian aku hanya tersenyum. Padahal kalau saja dia tahu bahwa aku bahkan hampir tidak pernah belajar bahasa Inggris dengan kakakku itu. Pernah suatu ketika aku bertanya, "Kak, artinya ... (menyebutkan satu kosa kata dalam bahasa Inggris yang aku lupa apa) apa?"
Ia kemudian menjawab dengan kalimat yang sebenarnya bukan jawaban melainkan perintah, eh maksudku mungkin petuah, itu pun setelah aku pikir-pikir ulang, karena sebelumnya aku mengira jika itu bukan ketiganya. Bukan jawaban, petuah ataupun perintah, tapi pelit. Begini ujarnya, "Coba buka kamus."
Bisa dibayangkan, ekspresi bete wajahku kala itu. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya arti vocab. Ataupun belajar padanya. Tapi tetap, kadangkala jika sedang good mood, aku meminta dibenarkan kala bercakap-cakap, dalam bahasa Arab. Hehe.

Tidak hanya itu. Dulu, saat aku memilih untuk mendaftar sekolah di SMA 1, dia justru mengantarkanku ke depan gerbang MAN Bangkalan. Lalu menyuruhku untuk masuk dan mendaftar sendiri. Alamaaaak! Macam mana pula? Bagaimana tidak, aku kala itu sangat pemalu lu lu lu, hehe, biar dapet penekanan malunya, eih teorinya siapa? Aku dong😄. Akhirnya terpaksa aku mendaftar sendiri takut-takut. Sejak saat itu aku jadi belajar  untuk benar-benar mandiri kemana-mana.

Juga pernah suatu saat, waktu kakak masih mengajar di Primagama aku bilang padanya, "Kak, di Primagama ada lomba, aku pengin ikut. Daftarin ya,"
Sebenarnya kalimat, "daftarin ya" belum aku ungkapkan. Masih rencana. Tapi ternyata sudah ditanggapi kakak dengan, "Oh, ya udah besok datang kesana. Daftar. Jangan bilang adik kakak, nanti dikasih gratis." *Jendaaar. Eh, memang waktu itu hujan dan ada petir, ya? Eh, ngga deh. Biar alay aja, hehe.

Pun baru-baru ini saat aku bilang jika aku ingin belajar Toefl padanya. Beliau malah bilang, "Nanti kakak kasih bukunya." Aku sendiri tidak tahu 'nanti'nya itu kapan. Sebab yang aku tahu, bahwa dari semua perilakunya, aku belajar bahwa jangan bergantung pada orang lain, meskipun itu keluarga sendiri. Setiap apapun haruslah diperoleh dari keringat sendiri, bergantung pada kemampuan diri sendiri dan yang terpenting adalah bergantung pada Allah Azza wa Jalla.

Note: Kadang dari luar kita terlihat jago ya. Padahal nilai Toefl masih jauh dari target. Lantas apa masalahnya? "Males belajar dan berdoa!" pekik Sang Toefl.

Gue awalnya mikir, gimana mungkin Allah ngemudahin dan ngasih rahmat sama gue, Si Pendosa yang jauh dari kriteria orang-orang shalih(a). Gue bukan orang alim, bukan (belum mungkin ya) penghafal al-Qur'an, bukan anak yang amat berbakti dll---yang menurut gue bakal lebih mudah diijabah maunya apa. Lalu gimana bisa Allah kasih rahmat ke gue? Gimana mungkin gue bisa dapetin impian gue tanpa rahmat-Nya.

Tapi akhirnya gue mikir lagi. Bahwa rahmat Allah bisa menyertai siapa saja yang Dia ridloi. Selama kita mau berdoa dan senantiasa berharap pada-Nya. Semoga kita senantiasa dianugerahi kalbu yang tulus.

Sebab kalo mintanya ke sesama manusia bisa jadi kita dianggep ngeganggu dan nyebelin. Tapi kalo mintanya sama Allah, justru Allah seneng bukan main.

Begini kata Ust. Yusuf Mansur yang mengena di hati gue, "Allah mah super tahan dengerin kita minta. Kitanya aja. Tahan ngga?."

Hidup itu seperti mengerjakan soal Matematika. Kalau kita sudah pernah ditempa dengan mengerjakan soal yang sulit, maka kita akan merasa lebih ringan saat mengerjakan soal yang gampang. Pun saat mengendarai motor.
Kalau sudah biasa dibuat ribet dengan mengendarai motor ukuran besar, maka rasanya ringan kala mengendarai motor dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

Ingin secepatnya mendapat keringanan setelah berlama-lama ditempa dan bersusah payah? Hmm, tentu urusan kesuksesan, tentu tidak adanya yang namanya instan. Aku berani berkata demikian setelah menoleh kembali ke belakang. Ke sedikit perjuangan-perjuanganku di masa lalu. Mungkin bagi beberapa orang, cerita yang akan aku sampaikan akan terdengar biasa saja. Namun bagiku, tetap saja ini bisa jadi perjuangan yang akan selalu dikenang. Sebab apapun kesulitan dan perjuangan yang aku lalui waktu itu adalah sebuah latian untuk menuju hidup yang lebih baik dan penuh dengan tantangan yang lebih tinggi.

Aku percaya, Allah selalu memberikan tantangan karena kita akan mampu melewatinya untuk kemudian menghadapi tantangan selanjutnya, hingga kita bisa sampai di puncak kesuksesan nan hakiki. Tantangan demi tantangan itu dapat aku rasakan dari cerita sederhana beberapa tahun silam. Dulu, rasanya begitu berat harus sampai di sekolah pada jam lima pagi tepat untuk mengikuti praktik olahraga mengingat jarak rumah dengan sekolah yang bisa dikatakan lumayan jauh. Belum lagi pada jam sekian tidak ada angkutan  mobil carry yang biasa aku naiki melainkan sebuah mini bus yang karena bukan sejalur akhirnya hanya mampu mengantarkan sampai polres, bukan sekolah. Alhasil aku harus berangkat lebih pagi agar bisa berjalan selama sepuluh sampai lima belas menit dari polres ke sekolahku, MAN Model Bangkalan. Jika sedang beruntung, akan nada angkot yang melintas hingga aku tidak perlu berjalan. Namun sering kali aku berpikir, akan lebih baik jika aku berangkat lebih pagi dan berjalan kaki. Sebab selain bisa jalan sehat, aku juga akan menghemat beberapa peser rupiah. Sehingga alokasi dana yang tadinya aku canangkan untuk membayar ongkos angkot, dapat aku alihkan untuk membeli sebungkus sarapan setelah kelas usai. *hehehe, bahasanya wuih over.

Kala itu, begitu berat bagiku, karena sekolahku dulu (MTs Nurul Amanah) hanya ditempuh kurang dari lima belas menit. Di sana juga tidak pernah menerapkan aturan untuk berada di sekolah pada jam lima tepat. Jadilah aku benar-benar ditempa saat dulu bersekolah di MAN Model Bangkalan. Salah satunya untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar tidak sampai terlambat di sekolah. Karena toleransi keterlambatan hanya lima menit. Aku akhirnya bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Tak jaranag aku sholat di masjid dekat polres, karena kerap berangkat sebelum adzan Subuh berkumandang. Aku juga acap kali mendapat mini bus yang ternyata masih bongkar muatan komoditas pertanian di pasar baru. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan lebih rajin merapalkan doa agar tidak terlambat. Pembelajaran untuk hidup disiplin seperti itu sangat aku rasakan manfaatnya setelah aku lulus.

Setelah aku lulus dan melanjutkan studi di Universitas Trunojoyo Madura, aku pikir tidak akan ada lagi prosesi berangkat sekolah, eh maksudku berangkat kuliah di pagi buta. Ternyata, saat ospek fakultas aku harus tiba di kampus pukul setengah enam pagi. Sedang jarak rumah ke kampus adalah dua kali lipat dari jarak rumah ke sekolah aliyah dulu. Kali ini, bagaimana pun keadaannya aku selalu naik mini bus, meski pada akhirnya di-oper ke mobil carry saat sampai di polres. Karena ongkos mini bus jauh lebih murah dari ongkos mobil carry ke kampus. Aku juga perlu mengalokasikasikan waktu untuk perjalanan dari pertelon ke kampus, karena tidak ada angkutan umum menuju kesana kecuali becak. Lagi-lagi aku berpikir, jika ada baiknya berjalan saja sedang uang untuk naik becak disimpan atau dibelikan sarapan, sehingga uang yang awalnya untuk membeli sarapan bisa aku simpan. *hehehe. Biasanya aku mengalokasikan satu setengah jam perjalanan. Sepuluh menit untuk menyetop, lima puluh menit untuk perjalanan bus, tiga puluh menit untuk perjalanan dari pertelon ke kampus dan tiga puluh menit untuk cadangan karena kadang aku menghasikan waktu untuk menyetop bus selama lebih dari tiga puluh menit. Sering juga aku menghabiskan waktu tiga jam untuk menunggu bus pulang. Tapi semua itu insyaAllah bisa aku lewati, sebab sejak di MAN, semua pernah aku jalani. Termasuk berjalan kaki dengan jarak yang lumayan di bawah terik mentari.

Saat aku duduk di bangku MA, aku mendapatkan beasiswa belajar bahasa Inggris selama dua tahun. Kala itu aku mendapatkan kelas C3 di hari Selasa dan Jumat. Disanalah aku ditempa untuk berjalan kaki di bawa sengat matahari yang mampu menggelapkan warna kulit. Pelajaran ini, maksudku pelajaran berjalan kaki---bukan bahasa Inggris (Tapi lesnya juga berguna, kok)---ini sangat berguna saat aku pada akhirnya belajar di kampus. Maka aku bersyukur telah ditempa terlebih dahulu sampai kini bisa merasakan tantangan yang lebih tinggi hingga aku bisa melewati kuliah pengganti yang acapkali diganti di pagi hari atau malam hari.

Begitulah kehidupan, kita akan menaiki anak tangga yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dengan begitu tantangan yang kita dapatkan juga akan lebih tinggi. tapi jangat takut, karena itu sudah konsekuensi, sebab kita punya mimpi. Jangan takut, kita punya Allah yang akan menggenggam mimpi kita dengan senang hati.

Mbah-mbah malem-malem gini lewat depan rumah. Bawa senter. Jalan kaki. Mau nganter barang dagangan. Gue tahu rumah itu Mbah ga deket dari sini. Gila, keren. Uda dua kali di waktu yang hampir sama gue liat Mbah itu lewat. Kapan-kapan pengen gitu wawancara. MasyaAllah, keren banget😭. Malu, malu, malu kalo cuma bisa ngeluh.

Gue tahu, dagang rempah kecil-kecilan kek gitu hasilnya ga seberapa. Receh. Bagi mereka bisa berkah tuh. Perjuangan banget menurut gue. Ngejalaninnya kudu bener-bener sepenuh hati. Malu gue.

----

Loe kira orang-orang yang tersenyum di atas pencapaiannya itu ga ngelewatin hari-hari pahit, hah? Loe kira loe bakal mendapat lebih kalo loe ga mau ngelakuin lebih, hah? Yang pasti, tetaplah berdiri. Meski ga selalu berlari. Berdiri, bangun, impian bukan hanya bunga tidur. Ia terjadi bukan berarti oleh semangat yang ga pernah luntur.

Boleh luntur buat beberapa menit, abis itu warnain lagi sama yang lebih awet. Loe harusnya malu banget. Mereka yang lebih keren dan bisa berjuang di hidup yang ga semudah yang loe bayangin. Nah, jadi jangan gampang ngeluh deh loe. Iya sih, cuma dalem hati. Tapi justru itu yang ntar lebih ngerusak pola pikir loe. So, mulai sekarang loe harus yakin kalo hidup adalah perjuangan. Bukankan loe pengen banget berbuat buat orang banyak salah satunya kek ke Mbah-Mbah itu?

Allah, aku mendapat kabar kalau kerabat mendapat undian berangkat umroh gratis dari KH. Fakhri. Katanya barokah sholawat dan doa ortu salah satu alasannya. Hmm, benar-benar dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Kalau Allah sudah berkehendak, maka jadilah!

Pertanyaannya benarkah kita ini yakin?
Kamu yakin ngga sih?
Ayo, tanyakan pada hatimu, Nak!

---

Sungguh, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin mencapai posisi dimana aku bisa bersholawat dan berdoa tidak hanya dengan lisan, tapi juga kalbu. Pun berdoa (sholat, berdzikir, dll).

Sebab orang bisa bilang, "Saya yakin Allah Maha Tahu. Jadi tanpa jaminan apapun saya terima, tidak apa-apa" di lisan. Tapi hati tidak demikian. Kadang orang itu masih takut, secara tidak langsung masih percaya dengan kekuatan lain. Di hati sebenarnya tertera "Allah, Maha Tahu. Tapi saya takut dia berbuat yang macam-macam, ingkar janji, dll."

Seperti itu.

Wallahua'lam. Siapa yang tahu isi hati seseorang.

Dan keajaiban Allah terjadi karena ada keyakinan yang tidak hanya dilantunkan lewat lisan, tapi mengalun di hati. Jadi, kalau misalnya doa belum terkabul, itu bisa jadi karena yang terbaik, juga bisa jadi kita kurang yakin dengan kekuatan dan cara Allah yang sama sekali bentuk dan jalannya tidak perlu dipikir dengan logika. Barangkali juga karena tingkat keimanan belum sampai pada tingkat dimana kita pantas menyaksikan kekuasaan Allah yang terjadi di diri kita sendiri.

Ah, sungguh. Manusia pendosa seperti aku saja bisa melihat kekuasaan Allah yang tersebar di mana-mana, di muka bumi. Langit tanpa tiang, padang pasir yang gersang, tetumbuhan yang subur, dua air laut yang tidak bercampur, bayi-bayi yang baru lahir, rezeki setiap makhluk yang terjamin dan terus mengalir, maut yang datang tanpa permisi, siang dan malam runtun berganti dll. Maka benar kata temanku, "Kenapa kita masih ragu dan belum yakin? Padahal kita sudah punya Tuhan Yang Maha Segalanya."

----

Allah, aku bukannya tidak yakin. Aku hanya ingin berada di posisi dimana aku tidak hanya beribadah dengan lisan, tapi juga kalbu.

Siang ini aku dibikin menganga mendengar cerita dari adik laki-lakiku. Bagaimana tidak, aku tidak percaya mendengar kenyataan yang ada pada cerita. Berkali-kali aku bertanya. Apakah itu kejadian nyata. Atau hanya karangannya saja.

----

"Mbak, Tadi temenku nemuin hape yang jatuh dari kantong pemiliknya. Orangnya naik motor. Lalu sadar kalo hapenya jatuh dan ingin mengambil hapenya kembali. Tapi sama temenku langsung dibawa lari. Hapenya bagus!"

"Hah? Lah, kenapa ga dikembaliin. Kan sudah tahu siapa pemilikinya. Kalopun belum tahu tetap saja itu bukan haknya. Perlu diumumkan untuk waktu yang sangat lama hingga ditemulan pemiliknya." aku menjelaskan, benar-benar tidak habis pikir.

"Itu dia. Temanku sudah tahu tapi pengen aja ke hapenya. Padahal dia juga sudah memiliki hape. Dan hapenya juga tidak kalah bagus."

"Allah... Dek, yang namanya bukan hak kita ya jangan diambil. Apapun itu akan berpengaruh pada tubuh dan perilaku kita sehari-hari. Tidakkah temanmu itu merasa bersalah?"

"Dia biasa aja. Langsung bawa kabur hape terus dipake. Pas ada yang nelfon ga dia angkat. Takut yang punya katanya," jelas adikku yang masih sibuk bermain Mobile Legend.

"Nih ya, Mbak kasih tahu. Apapun, kalo yang namanya nemu, meskipun cuma satu rupiah, itu bukan hak kita. Jadi harus dikembalikan pada yang punya. Dalam Islam juga ada ketentuan berapa lama kita harus ngumumin barang yang hilang itu biar kembali ke tangan pemilik. Coba, gimana mau berkah dan mudah memahami pelajaran di sekolah kalo mengambil hak orang lain sudah dianggap lumrah?"

Tidak mengomentari apa yang aku sampaikan ia malah bercerita kembali, "Terus ada temenku lagi, Mbak. Dia nemu sekotak besar rokok di gardu. Udah tahu siapa pemiliknya tapi malah dia jual. Laku Rp. 150.000,- katanya."

"Allah," aku menggeleng-geleng.

"Kamu jangan sampai seperti itu, Dek. Inget, kalo bukan hak kita, meski sebesar biji sawi tetaplah berat timbangan dosanya buat kita."

Ia sibuk dengan gamenya. Aku bertanya-tanya sendiri. Bagaimana bisa moral anak millenial yang kerap mengaku kids jaman now jadi seperti ini? Perilaku yang dulu amat ditentang, sekarang justru mudah dilakukan.

Salah satu penyebab butanya mata hati adalah karena mungkin otak yang terlalu sering ditempa dengan gadget. Handphone memiliki peran yang begitu besar. Bagaimana tidak? Dengan adanya jaringan internet, mereka bisa melihat apa saja. Yang mubah hingga yang haram. Tak sedikit yang secara tidak langsung tercuci otaknya, tergiring pemikirannya, dan yang lebih parah tidak peduli lingkungan di sekitarnya.

Tontonan sinetron juga ikut andil. Sinetron yang kebanyakan menampilkan adegan konsumtif membuat para anak millenial ikut terpengaruh. Memiliki sebuah handphone belum cukup jika tidak bisa memiliki dua. Membeli sebuah baju tidak bisa dikatakan anak hits. Menaiki motor butut bagi mereka adalah hal yang harus dijauhkan dari sosok anak millenial. Jauh dari kerja keras, yang penting hidup enak. Jauh dari belajar dengan keras, yang penting di sekolah punya pacar. Dan lain sebagainya.

Ah, apa mungkin aku yang terlalu berprasangka buruk pada moral anak millenial kekinian? Entahlah. Setidaknya semoga kita termasuk orang-orang yang tidak mau turut diam, minimal memperingati diri sendiri dan lingkungan keluarga. Bahwa hidup tidak melulu bermain gadget dengan cara yang negatif dan menonton sinetron cinta monyet. Hidup harus berpengan teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Juga teladan para nabi dan sahabat-sahabatnya. Tentang Nabi Musa as yang dalam perjalanannya berdakwah tetap menahan lapar meski menjumpai banyak pohon kurma tak bertuan. Tentang Imam Syafi'i yang sampai takut hafal jika membuka buku karena kemampuan mengahafalnya yang sangat dahsyat sebab ketaqwaan yang selalu ia pelihara. Dan masih banyak kisah lain yang seharusnya mampu menjadi contoh agar moral anak millenial biasa terarah ke jalan kebaikan.

Aku menatap adikku yang masih sibuk bermain game sembari menghela napas. Semoga Allah menuntun kami untuk tidak menghabiskan masa dengan perilaku yang sia-sia. Aamiin.

Waktu itu saya ketahuan Kakak saat tengah melihat ceramah Ustad X di Youtube. Lalu beliau bilang. "Itu orang Wahabi," dengan nada yang mungkin kurang lebih berarti: "Ngapain?"

Akhirnya saya menjawabnya sambil cengengesan, "Hehe iya," dengan nada yang maksudku berarti: "Aku hanya suka isi dan caranya berceramah, bukan paham alirannya.

Hanya sebegitu, percakapannya.

Jangan heran kalo kadang kita nemuin orang yang ngerasa kena banget sama kalimat atau bacaan yang menurut beberapa orang biasa aja karena uda biasa ditemuin. Di bungkus kacang, di poster, di beranda IG, dll.

Ingat, bukan seberapa sering seseorang mendapat pelajaran, namun seberapa sering seseorang mengamalkan apa yang ia ketahui meski hanya seayat. Apalagi itu bisa jadi mereka lebih mudah tersentuh hatinya ketimbang kita. Halus. Lembut. Peka.

Perasaan seperti itu konon cuma bisa dirasain oleh orang-orang yang sering nginget Tuhannya dengan cara berdzikir, membaca al-Qur'an dan sholat. Selain itu mereka juga sering ngeliat ke bawah. Melihat orang-orang kurang beruntung. Orang yang mengemis di jalan, orang yang kelaparan, orang yang bekerja keras tapi hasil pas-pasan, dan lain sebagainya.

Hati mereka yang awalnya kasar akan beruabah perlahan menjadi kian lembut, halus dan peka. Lembut dan halus karena sering menghabiskan waktu untuk mengingat Sang Kholik. Karena hanya dengan mengingat-Nya-lah hati akan menjadi tenang. Kemudian menjadi orang yang peka terhadap lingkungan sekitar dan orang yang membutuhkan uluran tangan, karena kerapkali menghujani jiwa dengan bersyukur saat melihat mereka yang secara tidak langsung mengingatkan bahwa kita jauh lebih beruntung. Sehingga kita akan senantiasa diberi panggilan untuk membantu.

Jadi, pastikan bukan cuma orang-orang itu yang bisa ngerasain nikmatnya memiliki perasaan itu, kita juga kudu usaha untuk ngeraih posisi itu, punya hati yang halus, lembut dan peka. Awalnya memanglah tidak gampang, karena biasanya kita hanya berdzikir dengan lisan, tanpa mengikutsertakan hati. Namun bismillah, percayalah, Allah yang akan menuntun kita pada akhirnya. Agar kita mampu istiqomah berdzikir pada-Nya tidak hanya dengan lisan, tapi juga hati dan perbuatan. Aamiin.

Pagi itu, seperti biasa Irvi yang memegang kendali motor, nyetir. Kalau aku yang membawa, maka aku yang menyetir. Maka hari ini Irvi yang membawa motor, jadi dia yang menyetir. Ku percayakan padanya, seperti iya yang percaya padaku, meski cara menyetirku masih sembrono, asal-asalan atau bahkan ngebut.

---

Motor melaju melewati jalan beraspal dengan hiruk pikuk kendaraan lain, juga hamparan sawah nan hijau di sisi kanan dan kiri jalan. Hmm, ku pejamkan mataku sejenak. Indah nian menikmati udara segar dengan percuma, kemudian setelah ku buka mata, kudapati hamparan hijau mencuci mata, mendamaikan pikiran, menyentuh perasaan.

Ternyata, baru kali ini aku benar-benar mencoba untuk menikmati perjalanan sembari merenung. Biasanya aku hanya boncengan biasa, fokus ke depan, mengawasi jika ada apa-apa. Tapi saat ini berbeda, ku nikmati alurnya, ku sapu seluruh pandangan yang tertangkap mata. Para pedagang kaki lima mulai menata barang dagangannya, kios-kios mulai terbuka, petani berjalan di pematang sawah hendak ke tujuan, hilir mudik manusia segala rupa berkendara dengan tujuan dan kesibukan masing-masing.

Betapa bersyukur diri ini dengan nikmat yang kian hari kian sulit untuk dihitung. Anugerah kesehatan tak ternilai meski silih berganti melakukan kesalahan. Permohonan ampun yang kerap lupa terlantun, namun dibalas dengan kita yang senantiasa dituntun. Keluh kesah yang hanya dicurahkan pada-Nya membuat Ia dengan mudah menghadirkan masa depan cerah.

---

Seperti halnya hidup. Yang merupakan sebuah perjalanan. Maka, nikmatilah hidupmu. Nikmati jalannya. Nikmati rintangannya. Nikmati alurnya. Jangan terlalu fokus ke tujuan, hingga lupa samping kiri dan kanan, lingkungan sekitar. Nikmati setiap kepahitan yang yang dihadapi. Sebab itulah yang mampu membuatmu dapat menikmati manis hasilnya kelak, lantas berbagi. Nikmatilah, jika bukan sekarang kapan lagi berpayah-payah? Karena yang saat ini kita tangisi, kelak akan membuat kita senyum-senyum sendiri. Bertanya dalam hati, mengapa dulu bisa sesedih itu?

Begitulah, dari tempat duduk boncengan motor yang dikendalikan Irvi aku jadi belajar untuk lebih menikmati hidup. Meski jujur, aku lebih takut jika dibonceng daripada membonceng atau menyetir sendiri. Ketakutan itu yang sebelumnya membuat aku hanya fokus ke depan, mengawasi. Padahal telah ku sampaikan jika aku telah percaya pada Irvi.

Berbeda saat menyetir sendiri, aku atau mungkin setiap orang akan merasa lebih berani. Berani melaju. Berani melewati rintangnya sendiri. Berani menatap risiko (sendiri) di masa depan. Berani ngebut. Dan keberanian lain yang acap kali tidak timbul saat kita hanya menjadi seseorang yang dibonceng.

Dari situlah aku belajar, jika maju sendiri terkadang membuat kita lebih berani dan percaya diri. Menjadi orang yang mandiri. Maka benar, jika membuka lapangan pekerjaan lebih indah dari pada menjadi pekerja. Karena kita yang akan memegang kendali, menyalurkan kreativitas tanpa batas. Kitalah yang menentukan, akan maju untuk hal yang demikian atau cukup diam dalam lamunan. Yang pasti, jika belum, nikmatilah hidupmu mulai hari ini. Jangan terus kau tangisi, agar tetesan airnya tidak menenggelamkan keindahan alur dan nikmat yang tak terukur. Enjoy your life ~

Belajar masak, belajar ngaji, belajar bikin esai, belajar ngegambar, belajar ilmu agama, belajar motret, belajar bahasa asing, belajar nulis, belajar jahit, belajar ngedit, belajar bikin kue, belajar nyanyi, belajar sholawatan, belajar bikin prakarya, belajar manah, belajar naik kuda, belajar ngomong, belajar nge-make up-in dan lain-lain. Dan semua itu tertunda karena skripsi, eh maksudku, karena banyak alasan. Huu!

Lihatlah, banyak temanmu yang bisa mengerjankannya sambil belajar jualan, sambil belajar jahit, sambil belajar bahasa, dll.

Ayolah, sederhanakan pikiranmu, skripsi tak jauh berbeda dengan tugas kelas biasa. Ia tidak akan pernah mengganggu mimpimu yang lain, Nak. Justru ia adalah langkah awal berbagi untuk negara. Yang perlu dibenahi adalah dirimu, pola pikirmu. Sebab selama masih hidup, setiap manusia masih dalam proses belajar. Gotta learn ~

Nuh, kalo besar kelak, jangan jadi kayak Nte ya, banyak salah sama ortu. Meskipun setelah seringkali mikir, ga pernah ngebantah, jadi ga ada salah. Tapi ternyata, Nte banyak banget dosanya sama mereka. Tadi Nte mimpi seorang muslimah boncengan, terus dibegal. Muslimah itu ga mau ngalah, ngelawan, akhirnya kedua kendaraan itu sama-sama ngebut dan bergelut di jalan. Seolah seperti cuplikan film, tiba-tiba Nte uda sampe di bagian ending, muslimah yang ngelawan meninggal, dan si begal patah kaki, diamputasi. Kejadiannya benar-benar seperti real. Nte jadi tertampar. Kaget. Ini kah teguran buat Nte, yang sering ngebantah ortu meskipun kata Nte ngga. Pas pulang kuliah malem dan disuruh nginep Nte ga mau, maksa buat pulang. Padahal mereka, ortu Nte, Mbah Nek dan Mbah Kek-mu ketar ketir mikirin Nte! Dan pernah secara kurang ajar betul Nte mikir kalo ortu cuma sayang sama motornya bukan Nte. Ya Allah, jahat banget saya. Ternyata Nte begitu egois. Nte juga sempet mikir, kalo toh ada pelaku begal bakal Nte lawan, dan ingetan bahwa Nte pernah mikir gitulah yang akhirnya bikin Nte yakin kalo pemeran di mimpi itu Nte, meskipun ga jelas wajahnya. Yang pasti, latarnya di jalan pada malam hari.

Tragis banget ceritanya, Nuh. Meski kepikiran buat bikin beberapa cerpen, Nte ga pernah kepikiran buat bikin alur cerita setragis itu, ga tega.

Iya sih, Nte selalu yakin kalo Allah adalah sebaik-baik pelindung, tapi Nte jadi benar-benar lupa buat ngejaga perasaan kedua ortu. Duh, Gusti. Ampuni diri ini. Panjangkan dan barokahkanlah usia kedua orang tuaku. Tetaplah seperti ini, selalu ingatkan hambaMu yang penuh dengan dosa.

----

Semoga kita adalah manusia yang sering mengintropeksi diri dan mendapat bimbinganNya. Karena tidak ada yang lebih indah ketimbang bimbingan dari-Nya. Tulus, dibales, ga R, apalagi D doang, udah disetting D mulu biarpun uda di-R, haha. Meskipun kalo Allah yang nge-WA justru kita yang nge-R doang, ato D, uda kita setting, biarpun udah kita R, hmm.

Ngakunya' uda rajin dengerin ceramah, uda mau hijrah, rajin ngaji, dll. Tapi ngejaga perasaan ortu aja ngga bisa. Padahal hijrah yang sebenarnya adalah hijrah yang dimulai dengan memperbaiki akhlak, Nak. Akhlak kepada Allah, Ortu, dll. Ortu adalah manusia yang patut dijaga perasaannya. Apalagi seorang ibu. Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu.

Kelas dimulai jam 8 dan mereka dateng 7. Rajin banget. Apalagi yang namanya Uut. Masih bersih-bersih kelas, ngapus papan. Jadi inget pertanyaannya pekan lalu, "Mrs, boleh ngga kalo les ngga usah pake kerudung?" "Eh, iya deh kalian pake kerudung semua, ya," aku baru ngeh. "Gimana, Mrs?" "Iya ga papa, tapi kalo mau pake kerudung juga ga papa."

---

Kelas akhirnya dimulai jam 7 lewat beberapa menit. Selang beberapa menit kemudian Dyah angkat bicara, "Lapaar, Mrs. Diikuti Mega, "Cape, Mrs. Pulang."

"Hade, jam 8 artinya kalian sudah sarapan dan puas-puasin di rumah, Ndro."

---

Mereka beberapa bulan terakhir adalah orang-orang yang menjadi bagian di hidupku. Meski butuh kesabaran karena ulah mereka yang seringkali menyebalkan, namun mereka juga kerap kali aku rindukan. Anak-anak kelas 1 hingga 5 SD itu. Mega, Rahma, Sofi, Nadia, Dyah, David, Barok, Ipin, Ucup, Subhan, Rizal, Abay, Uut, Ika, Shola, dan Eni.

Seperti yang ku sampaikan, mereka rajin sekali. Sesuai kesepakatan, les diadakan Jumat pukul 13:00 dan Minggu pukul 08:00. Tapi faktanya, mereka selalu datang beberapa jam lebih awal. Maka untuk urusan yang ini, aku malu pada semangat mereka. Aku jadi termotivasi.

Tapi anehnya, namanya juga anak-anak, saat di kelas mereka bisa ada aja alasannya. Lapar lah, capek lah, dan lah lain. Pernah suatu ketika di awal pertemuan, seorang anak mungkin tidak biasa dididik dan dicontohkan perihal etika. Perilaku benar-benar memprihatinkan. Akhirnya aku membubuhi pelajaran dengan sedikit ceramah. Aku sampaikan pada mereka, jika belajar Bahasa Inggris itu tidaklah penting kalau kita tidak memiliki etika yang baik. Akhlak adalah hal yang paling krusial dan perlu ditumbuh kembangkan sejak dini.

Kakak perempuanku tersenyum dan geleng-geleng kepala lalu berucap saat mereka sudah pulang, "Kamu itu mau jadi guru bahasa Inggris apa agama? Hehe."

Apapun itu, aku sangat berharap banyak untuk masa depan mereka yang lebih baik lagi. Semoga kelak mereka menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin.

...

Pada suatu pagi, gue dan bocah-bocah.

Bocah: Mrs (Sebenernya agak geli juga dipanggil 'Mrs' karena ngerasa belum tau apa-apa. Tp mikir lagi, emang dipanggil gitu kudu tau apa-apa?), ini rambutan siapa? *nunjuk plastik besar berisi rambutan.

Gue: Udah, makan aja. Kulitnya dibuang disana, ya. *nunjuk tempat sampah berwarna hitam yang jaraknya sekitar 10 meter dr rambutan.

Gue pun pergi...

Dipikiran gue berputar, gimana cara bocah-bocah makan dan buang sampahnya. Menurut gue, ada bbrp alternatif; mereka makan ditempat dan ngumpulin kulitnya dulu terus sampahnya dibuang belakangan bersamaan, atau main lempar-lemparan kulit sampe gol di tempat sampahnya.

Beberapa menit kemudian.

Gue pun balik...

Gue: Ahaha (ketawa dalem ati).

Mereka asyik makan rambutan sambil ngebuang kulitnya di depan. Di depan mereka pas, udah ada tempat sampah yang ternyata udah mereka angkat dari tempat sebelumnya.

Gue: Cerdik kali bocah-bocah ini (masih dalem ati, bergumam).

Dan makanan seringkali bikin otak lebih encer. Hehe.🤣

Aku paling tidak suka mengundur keberangkatan kuliah meski hanya beberapa menit. Karena ini juga akan menunda segalanya. Satu setengah jam yang aku alokasikan untuk lama perjalanan membuat aku hampir tidak pernah telat, meski angkutan kerap ngetem dan jalannya lambat. Saat aku mengundur beberapa menit, aku nyaris akan terlambat. Atau kadang amat terlambat.

Terlambat saat ke kampus membuatku rugi berkalilipat. Aku bukan hanya saja harus mengeluarkan biaya untuk ongkos becak menuju ke gerbang kampus. Tapi aku juga akan tertinggal materi kuliah. Ini membuat aku rugi berkali-lipat. Tapi setelah dipikir lagi, aku justru senang karena akhirnya para tukang becak mendapat rezeki dari orang yang berangkat telat sepertiku. Hehe

Tidak hanya itu, saat terlambat aku pada akhirnya harus duduk di belakang. Meskipun memang sering sih duduk di belakang tapi untuk mata kuliah yang menurutku susah, aku lebih suka duduk di bangku paling depan atau paling tidak di urutan kedua sehingga mampu mendengarkan ceramah dosen dengan jelas. Namun jika aku telat dan duduk di bangku terbelakang aku jadi makin menyadari jika lagi-lagi aku rugi. Karena kebanyakan saat aku duduk di belakang, aku tak paham sama sekali. Entah karena suara dosen terlalu lembut atau karena hal lain. Yang ku tahu aku rugi lagi. Karena ulahku sendiri.

----

Waktu SMA aku sangat anti untuk datang terlambat. Karena aturan sekolah yang begitu ketat. Karena di SMP tidak terlalu sebegitunya. Mungkin karena swasta, meski tak selalu itu tolok ukurnya. Pernah waktu belum bisa beradaptasi, aku datang telat hingga harus dipulangkan. Duh, menyedihkan. Padahal jarak rumah bisa dibilang amat jauh. Pernah juga waktu pelajaran olahraga di kelas aku terlambat lebih dari 5 menit hingga dilarang masuk ruangan. Dan masih banyak pernha yang lainnya. Bairlah menjadi aibku saja, hahaha.

Semenjak masuk kuliah, aku jadi agak mafhum dengan keterlambatan. Bagaimana tidak. Toleransi waktu untuk datang terlambat bisa mencapai 15 menit. Bukan main. Lalu meski aku didiklat untuk super duper disiplin, nyatanya saat menjadi asprak, yang mendiklat dulu justru datang terlambat. Parah. Namanya juga manusia. Katanya. Entahlah, pokoknya aku sadar, jika terlambat hanya membuatku makin rugi, berkali-lipat.

Ini gue ga mimpi? Bapak nyuruh buat bawa motor? Kalo Ibu udah biasa. Ini Bapak loh. Yang biasanya ke pasar aja kudu dianterin, kudu ada barengnya, dan sebagainya. Ke warnet yang bisa ditempuh dalam waktu lima belas menit aja nih kudu ada ajudan yang nemenin, ponaan, adek, mbak dll. Gue bener-bener berasa jadi anak siapa gitu. Padahal usia gue udah menua. Dan kalo dibukuin penjelasannya bakal ngalahin tebelnya ensiklopedia. Hehe. Tapi gue paham, itu karena mereka kuatir, karena gue cewe. Gue jadi mafhum akan itu.

Kemaren aja pas nekat bawa karena telat dan lebih tepatnya karena ga ada Bapak, (hehe, jangan ditiru) besoknya langsung dikasih ongkos bus plus ongkos becak. Hadeee, segitunya ya. Begal ga bakal berani gitu ngelawan gue. Secara silat gue, mmm.. Silat gue, mmm... Ngga banget.  Dan, kalo gue jadi ortu kelak, gue bakal bolehin anak gue ngendarain apa aja, bahkan pesawat, selama itu pekerjaan yang sesuai ama syari'at Islam. Tapi kalo mikir-mikir lagi, gue bahkan lebih kuatir berkali-lipat. Waktu Tomato sekolah di MAN dan pulang malem aja gue jadi kuatir banget. Padahal gue udah tahu gimana rasanya, dan gue ga kuatir ama diri gue sendiri waktu dulu di MAN, biasa aja. Hehe. Tapi ya maksimal nyampe ba'dha isya' kalo kuliah maksimal bisa nyampe sepuluh kalo ga dapet-dapet angkutan. That's why ga dibolehin bawa motor, malam, rawan begal, katanya.

Lalu hari ini Bapak nyuruh sendiri, mungkin karena kasian juga ngeliatnya. Meski gue kadangkala lebih seneng jalan kaki biar berkeringet. Tapi ada syaratnya, jangan pulang sore banget apalagi malem. Kalo syarat itu bisa disepakatin, maka Bapak ga bakal ngelarang deh. Nah, akhirnya kalo jadual udah mentok ampe sore banget, gue ga maksain bawa motor daripada ortu gue ketar ketir mikirin gue.

Kadang kalo udah pake motor, gue jadi kangen masa-masa jalan kaki, panas, keringetan, dll. Untuk ngobatin kekangenan itu, esok harinya gue ga bawa motor. Tapi ya kudu berangkat lebih pagi. Ga papa, buat ngobatin kangen. Sama kalo misalnya kamu kangen sama si doi *wkwk, paan sih!

Kenyataan emang seringkali ga semudah kutipan Mario Teguh. Juga seringkali ga semanis sikap sopir angkot kala kapal berlabuh. But you just need to move, yang bisa kamu lakukan hanyalah bergerak. Bagaimanapun hasilnya biarlah urusan yang Kuasa. Jangan mendikte Tuhan. Cukup berdoa agar selalu dianugerahi semangat. Karena kata Andrea Hirata, "Semangat dan ilmu dapat menaklukkan apapun." Sedang ilmu bisa didapatkan dengan adanya semangat. Tanpa semangat, kita tidak akan bergerak untuk belajar, dll.

---

Aku kaget, kemarin seorang teman ingin meminta kata motivasi padaku. Aku ngakak. Bagaimana mungkin. Aku juga mengalami krisis semangat. Semua motivasi yang ku tulis adalah untuk diriku sendiri. Memang, katanya inspirasi hanya berperan 1% untuk kesuksesan. 99% adalah kerja keras. Tapi inspirasi berupa motivasi dari kumpulan kata-kata juga memiliki andil yang luar biasa jika dilakukan terus menerus, bagiku.

Lihatlah, banyak yang lebih kekurangan dari kita tapi bisa menebar aura semangat. Para pemulung, petugas kebersihan, pedagang kecil, dll. Maka aku benar-benar malu mengatakan aku tengah krisis semangat, daripada terus berusaha mengisi kotak semangat. Bagaimana pun caranya. Dengan mendekatkan diri pada Tuhan, sering melihat ke bawah, mengingat pengorbanan ortu untuk kita dan berbagai cara lain.

Karena orang yang semangat lebih unggul dari orang yang jenius. Orang yang rajin dan tekun lebih mudah berada didepan ketimbang orang yang pintar dan cerdas, tapi malas. Apalagi orang yang memiliki perpaduan semangat dan jenius. Seperti, BJ Habibie, Dahlan Iskan, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, dll.

Tetaplah berdoa agar kita selalu dilimpahi semangat. Selain itu keajaiban doa seringkali membuat suatu hal terjadi tanpa diduga-duga sebelumnya. Tanpa disangka. Sebuah hadiah dari doa-doa yang sekian lama tidak letih untuk dilantunkan dengan keyakinan dan rasa sabar yang tidak pernah sekalipun luruh.

Ingatlah, bahwa ilmu dan kesuksesan tidak dapat diraih hanya dengan bermalas-malasan, melainkan dengan perjuangan dan penuh pengorbanan. Sedang jodoh, maut dan sebagainya telah dituliskan. Untuk itu, semangat memang memiliki peran yang begitu besar karena mampu mengantarkan kita pada apa yang kita inginkan.

Semangat~

Tadi pagi keceplosan pas ngomong sama Ebok. Keliru pake kata 'Mat' gitu. Gini: "Berarti So itu cucu dari Mbah Sup, Mat." Tak pelak aku langsung mende-eh, kaget, keceplosan. Hehe, ini karena kebiasaan. Padahal seperti kata Gue dan Ndro, kata Mat juga termasuk kata yang dulu amat tidak aku sukai. Memang benar, jangan terlalu membenci sesuatu, nanti malah jadi biasa. Hingga akhirnya biasa menjadikan kata Gue, Ndro dan Mat sebagai kata ganti dan sapaan akrab.

Padahal awalnya gue, eh aku benci banget kalo denger temen yang biasanya ga pake Gue tapi pada beberapa kesempatan malah gitu. Ga suka aja, ga enak didenger. Sampai akhirnya, seperti yang pernah aku ceritakan di entri lain, bahwa aku ngefans sama Almarhum Ust. Jefri Al-Bukhory. Gimana beliau ngerangkul siapa aja kalo lagi berdakwah. Karena mengidolakan beliau akhirnya lambat laun aku jadi terprovokasi untuk menggunakan Gue---yang sebenernya hanyalah budaya.

Teman SMA-ku berasal dari Bekasi. Di sekolah dia tidak pernah menggunakan kata ganti Gue. Tapi waktu aku bermain ke rumahnya, aku terkejut menyaksikan dan mendengarku temanku itu tengah bercakap-cakap dengan sang Ibunda. Bahasa yang dipakai Loe-Gue gitu. Terdengar wedeeeeh awalnya. Tapi aku pikir lagi, ternyata emang budaya. Seperti halnya, hanya dengan seseorang memakai sarung, gamis, sorban, bukan berarti itu menandakan ia Islam. Barangkali celananya belum kering, ujar Cak Nun. Karena Islam pertama kali ada di Arab maka dalam al-Qur'an sunnah mengonsumsi tiga butir kurma saat berbuka puasa. Kalau misal awlanya ada di Bangkalan, maka mungkin bisa dipastikan akan sunnah berbuka dengan tiga buah Salak, jelas Pak Widodo. Tidak mesti penampilan luar menggambarkan isi hati seseorang. Begitu intinya.

Maka, sebelum memahami pengertian itu, karena aku sudah mengidolakan beliau, aku pun membuat status yang didalamnya ku selipakan sedikit pelajaran berisi pengalaman dengan menggunakan kata ganti Gue. Kebiasaan itu akhirnya makin menjadi biasa hingga sekarang.

----

Siapa yang tidak paham dengan sapaan akrab Kasino dan Dono untuk Indro dalam film fenomenal berjudul Warkop itu. Mereka bukan hanya sekadar sebagai teman yang tidak serumah. Lebih daripada itu mereka begitu akrab. Film fenomenal ini akhirnya mengantarkan sapaan akrab itu booming. Sebelum pada akhirnya film Warkop Reborn tayang, aku sudah lama menggunakan kata Ndro sebagai sapaan akrab pada saat tertentu.

Seperti halnya Ndro, kata ganti Mat juga mengindikasikan jika aku ingin, sedang, atau telah akrab dengan seseorang yang aku panggil Mat. Setahuku Mat itu panggilan untuk pria dan kependekan dari Muhammad. Awalnya aku benar-benar risih mendengar panggilan ini viral, jika tidak salah ingat kala SMA. Bagaimana tidak risih, jika yang menggunakan kata itu juga para perempuan. Padahal mungkin untuk perempuan harusnya disapa Siti.

Aku begitu terganggu dengan panggilan yabg satu itu. GJ banget pikirku. Hingga akhirnya secara tidak sengaja justru lihai memakai kata itu. Lama-kelamaan justru makin biasa, apalagi dengan orang yang sudah begiru akrab.

Jadi, jangan terlalu membeci sesuatu. Nanti sesuatu itu bisa menjadi bagian dari hidupmu. Lalu jangan melihat sesuatu hanya dari cover. Karena tidak selalu begitu. Juga jangan terlalu membenci seseorang, nanti jadi suka. Jangan melihat orang hanya dari kulit luarnya, nanti jadi menyesal.

Sambil waiting, olahjari dulu dah. Ngomongin apa ya? Lebih tepatnya, apa bahan cerita yang bakal kita kasih ke jari biar diolah? Oh iya. Menurutmu waktu yang bener-bener bikin kita ga mikirin dunia itu kapan?

Kalo menurut gue (è jâwâb dhibi'😆) mulai tengah malem sampe jam limaan pagi. Pas kita bangun tidur di jam itu (asumsinya bangun tok) terus mau sedikit merenung, disitu kadang kita mikir kalo ternyata hidup cuma sibuk dipake buat nyiapin tujuan dunia, disaat itu juga terbesit pikiran kalo harta, dll bener-bener ga berarti, ga penting.

Di jam itu (apalagi tengah malem sampe sepertinga malam terakhir) kebanyakan orang-orang lagi pada tidur pules. Yang punya mobil ga bakal tidur meluk mobilnya, digotong ke rumah. Melainkan diam, mati di bagasi. Yang punya barang-barang berharga lainnya juga tidak mesti dibawa tidur. Tidak mungkin selama dua puluh empat jam mengawasi kulkas, teve, dan lain-lain.

Pernah ga ngerasa demikian? Meskipun di jam itu juga merupakan waktu (banyak) orang tengah mencari nafkah (ke pasar, dll). Dan nafkah bisa jadi jalan untuk bekal akhirat, tapi yang gue maksud adalah pure persiapan (aktivitas) yang orientasinya benar-benar akhirat.

Permisalan diatas adalah gambaran betapa harta bahkan tidak dibawa tidur, apalagi dibawa mati. Harta itu ga penting, kalo tujuannya cuma duniawi. Beda kalo misal kita dianugerahi kekayaan melimpah, tapi paham jika semua hanya milik yang Kuasa. Kapan saja bisa Dia minta kembali. Jika Dia kehendaki.

Gue jadi inget ungkapan (entah hadits ato kata mutiara, lupa gue) ini: Persiapkan akhiratmu seolah-olah kamu mati besok dan carilah nafkah seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi. Begitu kira-kira bunyinya.

Ternyata sering sekali menutrisi pikiran dengan hal-hal yang negatif. Seperti dalam status yang aku bagikan beberapa minggu yang lalu ini:

"Kamu mending suka baca." Mmm, bagiku, belum dikatakan suka membaca kalau belum mampu membaca banyak jurnal setiap harinya. Lalu faktanya, membaca sebuah jurnal seringkali membuat mataku mengantuk secara tiba-tiba. Haefhh, memang awalnya perlu dipaksakan. Karena kelak jika sudah terbiasa, rasanya akan lebih mudah dari makan kacang. Hehe, nulis doang sih gampang. Coba lakukan, sayang!😑."

Nah, bagian kalimat yang tebal adalah salah satu cara membentuk akibat negatif dari pikiran-pikiran yang melahirkan mindset dan menentukan tindakan.

Maka jika seseorang menganggap monday adalah monsterday, maka tidak dengan kamu. Kamu harus punya pikiran positif yang akan melahirkan tindakan-tindakan baik. Ubahlah skripshit menjadi skripsweet. Sugestikan demikian. Sebab ia adalah proyek malaikat dann bisa jadi merupakan hajat orang banyak. Iya, rasa malas kerap melumat-lumat ide yang tertimbun hingga akhirnya berkarat. Kumpulan jemari di atas qwerty akhirnya stuck, skakmat. Jadi, mula-mula adalah mengasahnya dengan pikiran-pikiran yang indah. Meski nyatanya memang tidak mudah. Akan selalu ada kerikil-kerikil beragam ukuran yang menguji kesabaran. Oleh karenanya, selalu sugestikan perihal kebaikan sebagai makanan utama sebuah pikiran. Pikiran yang melahirkan tindakan. Konon, pikiran yang baik akan
menciptakan kemudahan-kemudahan.

Selalu ingat bahwa kita perlu ikhtiar membebaskan diri dari belenggu malas, dll---yang kapan saja menghalangi. Perlu perjuangan keras untuk itu. Barulah,  saat kelak indah pada waktunya, kita akan merasakan buah manis. Buah manis yang juga akan dinikmati banyak orang. Karena kita tidak berhenti membebasakan diri kita sendiri, tapi juga belenggu yang ada pada banyak orang.

Bismillah💞

Aku dikejutkan dengan pesan adikku yang ingin pindah kost karena tidak tahan dengan kelakuan pemilik kostan yang teramat genit. Ada saja yang dilakukan lelaki yang juga berstatus sebagai dosen itu. Ada saja kata-kata sampah yang diucapkan. Tanpa permisi, ia tidak sungkan memasuki kawasan kost wanita kemudian basa basi. Kalimat yang sepertinya sudah dia anggap mujarab selalu ia keluarkan pada siapapun, apalagi penghuni kost baru. Dan adikku adalah satu-satunya anak baru yang akhirnya menjadi sasaran untuk menjadi tong sampah bagi ucapannya, seperti, "Kamu ngga usah bayar kost ya, tapi syaratnya jadi selingkuhanku," katanya tanpa mimik berdosa.

Awalnya adikku mengira itu hanyalan bualan dan candaan murahan, tapi ternyata kelakuannya tambah keterlaluan. Masuk kamar tanpa permisi dengan dalih menagih bayaran kost. Pret. Apakah ia tidak tahu apa itu privasi? Saat itu meski juga ada senior yang seorang perempuan, adikku tetap dan malah makin merasa takut apalagi ditambah dengan omongan lelaki yang katanya berilmu itu, yakni, "Duh, kamu gemesin deh. Sini-sini. Pengen nyubit."

Walaupun adikku tidak menghiraukan, ia merasa amat geram. Sudah sering perkataan tidak pantas itu dilontarkan. Bahkan ia menangis tersedu-sedu meski tidak diapa-apakan. Akhirnya, senior yang sekamar dengan adikku menenangkannya. Mengatakan bahwa semua juga pernah mengalami hal yang sama. Meski sudah tahu kalau mereka telah bertunangan atau bahkan mengaku telah bersuami. Mereka tidak menghiraukan, hingga akhirnya ocehan itu menghilang juga, kata para senior itu. Tapi adikku benar-benar adakalanya, sepertiku, menjadi amat perasa. Ia pun melontarkan kekesalannya di grup keluarga. Akhirnya kami kaget dan membalas dengan chatan panjang yang intinya menyuruh ia untuk pindah kost. Apalagi aku. Aku teramat geram! Tak bisa dibiarkan!

----

Bukan tanpa alasan. Pengalaman bertahun-tahun naik angkot dengan karakter penumpang yang berbeda-beda semoga membuat aku makin belajar. Karena aku percaya apa yang diungkapkan dalam kitab Mukasyafatul Qulub bahwa wanita yang keluar rumah akan dihiasi oleh syaitan hingga terlihat menarik. Oleh karenanya, meski tidak secantik dan seelok Claudia Shyntia Bella, aku mengerti jika kalimat itu ada benarnya.

Kembali ke angkot yang silih berganti aku tumpangi.

Saat itu aku dan teman MA hendak pulang. Kami naik angkot. Di depan tempat duduk kami persis duduk seorang lelaki berusia tiga puluhan. Lebih tepatnya, persis di tempat dudukku. Gerak geriknya sedari tadi mencurigakan. Sepertinya temanku tidak merasakannya. Hingga tiba-tiba lelaki itu dengan kurang ajar memegang kakiku, kaos kaki, seolah merogoh. Reflek aku berteriak, meneriaki lelaki itu. Aku akan mafhum jika ini dilakukan guru BP MTs saat memeriksa apakah kita menyembunyikan handphone di dalam sepatu karena saat itu dilarang membawa handphone. Tapi guru BP itu pun seorang wanita. Maka lelaki itu kaget, tidak menyangka aku berani melawan. Sekilas wajahnya ketakutan, karena di belakangku terdapat kursi yang dipenuhi lelaki lain---beretika---yang kapan saja bisa mengeroyokinya. Tapi aku sudah shock. Aku jijik. Aku ingin berhenti. Pindah angkot. Aku tidak peduli jika harus membayar ongkos lagi. Yang jelas aku harus pergi. Menghilangkan trauma. Ingin sekali menonjok mukanya. Tapi aku memutuskan untuk pergi saja! Jangan sampai kejadian seperti ini menimpa keluarga dan orang lain, pikirku. Aku menyetop angkot baru bersama temanku yang masih kaget denganku---yang katanya bisa seberani itu. Tapi aku hanya diam. Perasaan jijik dan bergidik mengingat saat menyaksikan berita-berita di TV perihal pelecehan membuat pitamku makin naik.

Kejadian serupa beberapa bulan selanjutnya terjadi lagi. Dalam mini bus. Untungnya tidak sampai menyentuh kaki, tangan atau apapun. Jangan sampai! Karena kala itu aku telah mengeluarkan kamus besar dan tebal sebagai senjata jika ada apa-apa. Kebetulan saat itu aku hendak berangkat les. Jadi ada kamus.

Untuk itu teruslah waspada. Jangan takut, innallaha ma'ana. Bukankah kita ingin menjelajah dunia?

Mungkin bagi beberapa orang yang membaca cerita ini akan berkata: "Aduhai, sikapmu terlalu berlebihan!" Jika begitu kau harus mencobanya sendiri. Bagaimana rasanya ingin mencakar-cakar lelaki yang berakhlak tercela. Meski aku bahkan tidak memelihara kuku di jari jemariku. Hehe. Aku doakan semoga kau tidak pernah mengalaminya.

Ingat, seperti halnya membully, pelecehan seksual atau kejahatan seksual (sexual harassment) tidak hanya berbentuk tindakan tapi juga perkataan. Membully seseorang tidak selalu berarti mengeroyokinya dengan tangan. Namun, menyakiti hatinya dengan perkataan juga masuk pada kategori membully. Sama halnya dengan pelecehan. Aku sendiri seakan mau muntah kala mendengar: "Heh, kamu. Jangan gitu. Ntar gue cium nih, ya," yang merupakan salah satu bentuk pelecehan lewat perkataan, setelah melihat konteks pembicara dan lawan bicaranya.

Lalu di jaman yang kekinian ini aku melihat jika sexual harassment ternyata tidak hanya bisa dilakukan lelaki, tapi juga wanita. Salah satunya bisa kita lihat di dunia maya. Komentar menjijikkan di akun sosial media idola mereka. Terlepas itu fake account atau tidak, tetap saja semua akan dipertanggung jawabkam dan tidak bisa dibenarkan. Dan lagi, maya atau nyata, yang menulis juga sama-sama manusia. Tak akan bisa lari dari hisab kelak.

----

Adikku memutuskan untuk pindah kost di akhir bulan, di hari-hari terakhirnya itu ia terus waspada dan banyak berdoa. Bahkan jauh dari pemikiranku ia dengan berani membubuhkan kertas di pintu kamarnya dan ditulis besar besar: JANGAN LUPA KETUK PINTU DULU, DI SINI KAWASAN WANITA. TERUTAMA BUAT PAK KOST!

Aku tidak percaya sebelumnya jika adikku bisa seberani itu. Ia juga menceritakan saat akhirnya tulisan itu dibaca, dicabut paksa dari kediamannya, disobek, lantas di buang ke tempat sampah. Mendengar bagian itu, aku reflek merapalkan doa, semoga Allah melindungi adikku, Karena Dialah sebaik-baik pelindung.

Kalo ngaduk semen malem-malem kek gini jadi inget Kak Udin. Ga kenal waktu ngelakuin apa aja. Kek benerin motor, bikin kursi, dan sbgnya. Meskipun pinternya ga mirip, ternyata setelah gue pikir-pikir ada beberapa sifat dan sikap Kak Udin yang mirip kek gue. Keknya sih. Iya, Kak Udin kalo uda sibuk ngerjain sesuatu ampe lupa waktu, lupa makan. Alhasil Ibu manggil-manggil buat nyuruh makan cuma di-iya-iya-in aja. Tapi orangnya tetep belepotan oli benerin motor. Gue inget banget meskipun waktu itu masih kecil, Kak Udin kelar ama motornya jam sepuluan. Pas abis itu mau makan, ke dapur, dan ternyata nasinya uda abis. Hahaha. Gue yang masih kecil ya diem aja, pas ga bisa masak.

Kedua, kalo uda bikin apa-apa maunya cepet selese. Kek pas bikin kursi. Kak Udin ngelarin itu kursi kurang dari sehari. Pokonya bikin apa aja kelarnya kudu pas itu juga. Jadi inget waktu bikin kolam lele yang gedenya ngalain kapal Nabi Nuh. Hehehe. Kelarnya pas hari itu juga! Tiba-tiba ujan, akhirnya kelabakan masangin terpal. Terpalnya kenak ke bagian tembok kolam yang masih lembek dan basah saking anginnya kurang bersaudara. Akhirnya banyak bagian yang ambruk. Kelabakan benerin. Hari itu juga!

Gue tahu, gue emang ga bisa benerin motor apalagi bikin kursi. Tapi pas gue liat awan di atas kepala sebelah kanan, gue liat dua sifat dan sikap itu lumayan ada kemiripan. Disitu gue liat diri gue yang lagi bikin desain baju. Pokonya selesenya harus hati itu. Alhasil muka modelnya rata. Eh, itu sih sengaja! Maksud gue, alhasil kegiatan yang lain keteteran. Terus adegannya ganti, gue lagi jait baju. Kurang dari empat jam kelar itu baju atasan. Ga makan, ga istirahat, sama ga minum dulu. Tapi masih bisa sambil nyanyi, huhu. Tadaaa, hasilnya adalah kalo ga lengannya kekecilan, bagian badannya yang kebesaran. Hadee.

Intinya kalo bikin apa-apa pengennya cepet selese, ga mau dicicil. Meskipun kaga everthing at once juga.
"Akhirnya, moralnya adalah jangan sampe ini juga berlaku ama skripsi. Jangan kek tugas-tugas yang lain, ngerjain pas mau deadline, selese, ga maksimal, yang penting kelar." Nah, bagian bertanda kutip ini ga ada di awan tadi, tapi nurani gue yang lagi berpetuah. Bikin ngilu.
Uda ah, ngilu juga baca note yang full ama kata "gue" hehehe. Karena kebiasaan pake kata ganti itu jadi aneh kalo pake kata ganti "aku" yang sebenernya lebih enak di denger. Rasa apa coba?

Adapun gue sebenernya tiba-tiba kerrong Kak Udin---yang meski nyebelin ternyata bisa ngangenin.

Ini sudah kali kelima Ebok ngingetin buat makan, sejak ba'dha Ashar. Emang kamu itu ya anak macam apa, Lut. Parah. Padahal kata Rosul, kalo Ibu kita manggil pas sholat sunnah, ya dibatalin. Kalo pas sholat wajib, ya dipersingkat. Dipanggil buat apapun, yang penting sesuai syari'at dan buat kebaikan. Apalagi ngingetin makan. Kebaikan siapa coba? Dan kamu emang sering gini, pura-pura lupa meskipun dikit-dikit paham ilmu agama. Hmm.

Yang namanya seorang Ibu ya ga ada kapok-kapoknya sama anak. Tulus banget. Jadi meski gimanapun tetep aja Ebok senantiasa ngingetin buat makan, buat jaga kesehatan. Kalo udah khusyuk ngerjain tugas kampus, akhirnya dengan berat hati bilang, "Iya, nanti." Padahal parah banget itu.

Jadi inget kemaren, dipanggil-panggil buat makan, jawabannya nanti-nanti aja. Pas uda pada bobo semua, mau makan ternyata nasinya abis. Rasaiiiiin. Hehe. Akhirnya bikin mie instan yang ga sama kek gambar dikemasannya.😂
Kalo ngerantau kelak, I will really miss her. Till now, even I always be with her, I still miss her. I'm sorry for everything. Wish me be a person who can implement what she understand (gatau tensesnya bener apa ngga).

Eh, ga cuma Ebok sih. Bapak juga demikian kalo uda ngingetin makan bisa berkali-kali. Pokonya Bapak yang biasanya pendiam banget dan irit ngomong---meski pada beberapa kesempatan banyak kebanyol---menjelma jadi sosok bawel ngangenin, ngingetin buat makan. Kebiasaan ngingetin buat makan kek gitu akhir-akhir ini diteladanin sama Mbak Ais. Semenjak lulus, Mbak Ais tinggal di rumah. Beberapa bulan lagi dia insyaAllah bakal pergi ke rumah (calon) suami. Sejak itu Mbak Ais jadi anak yang tersepuh di rumah dan berangsur sering ngingetin makan. Duh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Dulu kecelakaan di semester 5 pas ketika materi kuliah ini itu anget-angetnya (gorengan kali). Akhirnya dua minggu ga masuk bikin pelenga pelongo pas masuk di hari pertama. Ini belajar apaan kok kek susah banget. Dan ga tau kenapa kemarin diminta ganti judul yang persis pake materi kuliah itu. Qadarullah. Jadi, semacam bener-bener belajar lagi, karena dulu pahamnya cuma ampe pertengahan. Gue juga baru inget, dulu pas pertama kali masuk kampus di hari pertama mata kuliah lain di semester satu, kita disuruh buat ngereview skripsi. Akhirnya gue comot secara asal skripsi perihal tembakau, isinya persis perihal materi kuliah yang pas gue kecelakaan. MasyaaAllah. Sungguh ga ada yang kebetulan di dunia ini.

Maka, setiap kata yang diucapkan Pak Andrie itu serupa air zam-zam yang kemudian dimasukkan kedalam cangkir lantas gue pegang dengan hati-hati kala meminumnya, begitu berharga. Kemudian air itu mengalir dalam tubuh, menyegarkan raga juga jiwa. Lalu, titahnya tidak akan gue tawar. Sungguh, beliau telah Allah gariskan untuk membimbing gue. Maka, gue percaya saja akan alurnya, karena pada beberapa hal ia yang lebih mengerti. Semoga Dia selalu merahmati beliau dan memudahkan jalan gue, juga teman-teman gue.

Setelah gue pikir-pikir inilah yang terbaik buat gue. Ini sepertinya lebih mudah dari penelitian dengan judul sebelumnya. Itu sih pendapat gue. Akhirnya gue terus berprasangka baik sama Allah. Ini bener-bener yang terbaik yang Allah beri buat gue. Sampai akhirnya, beberapa temen bilang, justru ini materi yang lebih sulit. Gue kaget. Masak sih? Ngga ah!

Dari situ gue jadi paham, kalau sulit tidaknya itu berasal dari presepsi tiap orang. Dari ucapan dan pola pikir. Jadi, ucapkanlah yang baik-baik dan senantiasa berprasangka baik pada Sang Kholik. Sebab innallahaa'lamumalaata'lamuun. Dia mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Bagi gue, Allah tidak hanya menciptakan air zam-zam berwujud cair dan dapat dinikmati secara lahir. Tapi ia juga bisa berbentuk petuah dan ilmu yang keluar dari lisan seorang guru yang kadangkala dahsyat dan mampu menentramkan batin. Berprasangkalah baik, karena Allah Maha Baik.

Menurut forum terkemuka di Inggris, ada tiga hal yang menjadi kiat sukses untuk menguasai bahasa Inggris. Kiat yang pertama  adalah memahaminya, kemudian menghafalkannya dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tiga kiat yang dilakukan secara terus menerus itu, maka biidhnillah kita akan mampu menguasai bahasa Inggris.

Benar, saya memahami beberapa grammar, menghafal 100 kosa kata per minggu---yang kini banyak mengilang---tapi selalu ragu untuk mempraktekkan. Selalu dihantui perasaan takut salah, malu, takut dianggap sombong, dsbgnya yang pada hakikatnya hanya merugikan diri sendiri. Karena itulah, meski mempelajari bahasa Inggris dalam waktu yang lama (bagi saya), saya belum lancar melafalkan dan menuliskannya. Saya mengabaikan peringatan yang jelas-jelas sudah nampak di depan saya, di atas papan tulis putih kala itu, yang berbunyi: Don't hesitate to speak english!

Kala itu saya tidak pernah berpikir jika saya akan melewatkan kiat ketiga yang justru menjadi salah satu langkah besar untuk menuju perubahan. Saya juga terlalu sibuk memikirkan bagaimana jika tenses yang saya gunakan tidak pada tempatnya? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Kesibukan itu yang akhirnya membuat keinginan untuk sungguh-sungguh menguasai bahasa Inggris justru perlahan menguap. Yang tertinggal hanya keraguan dan ketakutan yang tidak akan pernah putus jika saya sendiri tidak mau memutusnya.

----

Untuk kiat diatas saya pikir juga berlaku kalau kita ingin menguasai ilmu lain. Sejak SD hingga sekarang kita diajarkan untuk bersabar---meski seringkali tidak tersurat---tapi betapa sulit mengamalkannya, menguasainya, karena kita tidak mau mempraktekkanya. Maka teori sabar, toleran, perhitungan, bisnis, etika, dan lain-lain itu seringkali hanya menjadi seonggok oretan.

Semoga selalu Allah mudahkan🌸

Malam tadi aku mengemas barang yang esok akan ku bawa ke seminar, salah satunya novel milik Mbak Lia. Mau minta TTD-nya Asma Nadia. Beliau sudah menjadi salah satu idolanya sejak lama. Karena itulah, di kesempatan ini barangkali beliau bisa mendapatkannya, TTD itu.

Aku kadang berpikir berkali-kali, kenapa orang bisa mati-matian berebut TTD seseorang (dalam hal ini idola). Setelah ku pikir lagi, ternyata mereka (kebanyakan), memang bukan orang-orang biasa, tidak manja. Mereka menginspirasi dan telah berhasil keluar dari zona sebelumnya. Berjuang untuk impian yang mereka rangkai setelah sekian lama. Tak ayal, TTD mereka pun sangat berharga, spesial. Apalagi ilmunya. Lalu apakah kita sudah menjadi sespesial itu bagi orang lain? Jika belum, setidaknya kita bisa menjadi spesial di hadapan Tuhan. Namun, bukankah ketika kita sudah spesial di langit maka kita secara otomatis juga spesial dibumi berkat-Nya. Itu sudah sunnatullah.

Bagaimana kita seorang manusia yang bisa jadi jiwanya mudah rapuh, namun disanjung begitu hebat dan dispesialkan TTD-nya? Wallahua'lam. Hakikatnya, meski seringkali nampak dari ucapan dan perilaku, kita tidak akan pernah tahu seperti apa dalamnya isi hati seseorang. Hanya bisa merapalkan doa agar diteguhkan untuk bersifat rendah hati.

----

Aku adalah tipikal orang yang entah kenapa tidak suka keributan, meski kecil. Maka, ribut-ribut, antre, berebut TTD, meminta foto bareng, dan lain sebagainya adalah hal yang sangat ku hindari. Lebih-lebih aku pemalu untuk itu. Meski tidak dipungkiri, seorang idola yang kerap ku anggap guru akan menjadi berarti, meski sekadar oretan jari. Tapi lebih dari itu, merindu seorang idola dan guru tidak melulu harus berfoto selfie, dll---karena cukup dengan bertemu saja sudah meluruhkan rasa rindu yang memang telah lama menggebu. Atau sebenarnya, rasa rindu tidak perlu diluapkan dengan adanya sebuah pertemuan, tapi cukup hanya dengan melantunkan doa untuk yang tengah dirindu. Iya, hanya sebegitu.

Namun, lihatlah. Entah Kakak sudah menskenarionya dengan rapih, aku terpaksa berada di antrean panjang para pemburu TTD itu. Membawa sebuah novel kesayangan Mbak Lia, yang kala itu sedang menyusui anaknya. Kondisi ini kualami karena Kakak tiba-tiba mengestafetkan novel itu padaku, meminta untuk antre demi mendapatkan TTD, biar berani katanya. Aku yang sudah ada di depan pintu tidak dapat lagi mengelak. Pada ini bukan soal berani, akan tetapi sering sekali aku tidak suka keramaian, apalagi berdesak-desakan. Dan bagiku malu dalam hal ini bukan berarti tak berani. Lain hal.

Akhirnya, aku berhasil mendapatkan oretan tinta itu. Langsung saja kuberikan pada sang empu. Mbak Lia amat bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur. Lalu saat itulah, aku juga merasa lebih bersyukur bisa mendapatkan kesempatan telah sedikit membahagiakan Mbak Lia. Maka aku sama sekali tidak menyesal berebut TTD keramat itu untuknya. Aku bahagia melihat pipinya merona. Namun, tetap pada ulasan awal, aku tidak menyukainya. Aku terlampau malu. Bahkan ketika aku bertemu dengan Ahmad Fuadi, Eka Kurniawan dan lain sebagainya. Aku enggan meminta TTD apalagi berfoto bersama.

Alhamdulillah, akhirnya saya makin menyadari jika hanya dengan daya dan kekuatanNya-lah saya bisa memiliki waktu untuk menceritakan kembali perbincangan dengan Eka Kurniawan (Penulis buku Cantik itu Luka yang terjemahkan ke dalam 55 bahasa di dunia) dan Khoirul Rosyadi (Dosen Universitas Trunojoyo Madura / Pegiat sastra) yang dilaksanakan hari Sabtu, 28 Oktober 2017 lalu. Eh, bukankah kita harusnya masih bisa menulis di tengah rutinitas mencekik sekalipun. Kenapa saya mengatakan "waktu" jika selama ini Allah masih memberikan banyak waktu senggang untuk saya? Ah, mungkin lebih tepatnya menghadirkan kembali semangat untuk bisa menulis ulang dan bermanfaat. Semoga masih banyak yang saya ingat. Karena setelah menengok notebook milik saya, saya pusing, tulisan cepat serupa cacing membuat ide sempat skakmat.

Baik, mari kita mulai...

"Dalam hidup, kita tidak hanya dituntut untuk membaca kemudian tamat. Tapi bagaimana kita mampu menginterpretasi dan pada akhirnya menulis."

Eka Kurniawan sempat berpikir, "Bagaimana saya bisa hidup dengan menjadi seorang penulis?." Karena pikiran itu akhirnya semasa kuliah, ia memperkaya keahliannya dengan belajar desain grafis dan lain-lain. Akhirnya ia pun sempat bekerja menjadi ilustrator, designer, dan sebagainya. Ia juga sempat menulis di berbagai media dan mendapat kesimpulan jika "Menulis tidak memberinya banyak uang." Padahal kebutuhan juga meningkat. Karena dorongan untuk menulis---yang sangat mengganggunya---akhirnya kurang lebih 1 tahun ia menjadi wartawan. Sulitnya mencari narasumber, transportasi dan berbagai alasan lain membuat ia memilih hengkang meski baginya menulis itu menyenangkan. Eka Kurniawan juga pernah bekerja di industri pertelevisian untuk membuat naskah. Tapi ia merasa ia bekerja seperti tukang jahit. Menulis apa yang sesuai dengan keinginan mereka. Kemudian ia juga tidak lama di pekerjaan itu. Itulah sedikit potongan mozaik kehidupan yang dulu pernah dijalani penulis berprestasi itu. Berikut isi talkshow-nya.

Sebenarnya apa sih sastra?

"Bagi saya, sastra adalah menulis. Kita sebagai manusia pada dasarnya memiliki sifat dasar yakni pelupa. Sehingga kita perlu untuk menulisnya agar pengalaman atau ilmu yang kita punya bisa abadi. Dan untuk menulis memerlukan sastra. Maka, daftar belanja juga bisa disebut karya sastra karena kita melibatkan kegiatan menulis. Bedanya daftar belanja itu kemudian hanya dibuang. Iklan-iklan di papan reklame juga sastra karena memerlukan keahlian menulis."

Eka Kurniawan melanjutkan, "Kalau kita bicara sejarah kesusastraaan sama dengan kita bicara sejarah menulis. Yang awalnya "mencatat" gagasan dan pengetahuan. Tidak cukup disitu, ia ingin orang lain mampu menikmatinya sehingga dibagikan kepada orang lain. Hingga timbullah tatabahasa, komunikasi juga undang-undang yang melindungi karya. Disana juga timbul persaingan dan kreativitas yang menghasilkan kesusastraan. Novel, puisi, cerpen, lagu dan lain-lain, adalah bentuk karya sastra konvesional yang paling menonjol.

Lalu bagaimana pendapat anda tentang tugas sekolah yang kebanyakan hanya berkutat pada cipta puisi, sementara saya sendiri tidak menyukai puisi?

"Seperti yang saya sampaikan, bahwa puisi termasuk salah satu karya sastra yang menonjol sehingga barangkali itulah yang membuat sistem mengajar menjadi monoton. Padahal sastra begitu luas. Kalau sistem ini diubah, misal kita dibebaskan untuk bercerita secara mengalir maka saya yakin semua pasti bisa mencintai sastra. Daripada memusingkan dengan memaksa membuat puisi, lebih baik meminta untuk bercerita tentang pergi ke rumah nenek, dan sebagainya dengan bahasa sendiri. Menulis skripsi juga sebenarnya sastra, tapi karena kita hanya menulisnya berdasar teori tanpa analisis yang mengalir maka seringkali terasa berat menyelesaikannya."

Bagaimana menurut anda tentang rendahnya minat baca masyarakat setempat yang sekarang bisa dilihat dari jumlah seminar pada malam hari ini?

"Saya keberatan jika masyarakat kita sering dikatakan memiliki minat baca yang rendah. Pada malam hari ini saya kira hadirinnya cukup banyak, bahkan bisa jadi masih lebih banyak disini kalau kita mengadakan seminar yang sama di universitas X (menyebutkan nama universitas terkemuka), jadi perlu kita apresiasi. Lagi pula, kalaupun ingin memperbaiki, yang diperbaiki bukan minat baca, melainkan infrastruktur yang mendukung meningkatkan minat baca saat ini. Kita akan lebih mudah menemui toko buku di kota besar daripada di pelosok desa. Ditambah dengan harga buku yang kadang tidak pas dikantong. Padahal masa depan sastra terletak pada ilmu yang berasal dari buku. Manfaatkan juga karena pada malam hari ini kalian bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama," jawab Eka Kurniawan.

Meski hanya berniat untuk membaca karyanya, (karena bahkan saya belum membaca sepotong pun karya beliau) saya sangat bersyukur bisa bertemu beliau secara langsung. Belajar banyak hal; salah satunya untuk senantiasa bersifat tawaddhu' yang bisa dilihat dari cara beliau menjawab pertanyaaan demi pertanyaan. Saya jadi paham, orang besar selalu memiliki mental demikian, rendah hati.

Bagaimana menurut anda tentang banyaknya politisi yang tidak menggeluti dunia sastra meski sastra begitu penting untuk semua elemen masyarakat?

  "Saya sendiri tidak paham politisi mana yang anda maksud. Mungkin karena kurang baca. Tapi saya kira banyak juga politisi yang menekuni dunia sastra. Seperti contoh politisi X dan Z (menyebutkan nama tokoh politisi terkini di Indonesia)."

Di kalimat "kurang baca" bisa saya pahami, jika seseorang yang karyanya sudah diterjemah ke 55 bahasa sekalipun tidak sungkan mengakui bahwa dia akan terus selalu kurang membaca. Padahal bisa jadi itu adalah caranya untuk tidak terlalu mudah menghakimi, seperti pada kalimat "banyak juga" beliau tidak mau menggunakan mayoritas (politisi tidak menyukai sastra) sebagai patokan.

"Bahkan tokoh sejarawan kita, Bung Hatta dan Bung Karno juga menulis beberapa buku. Namun tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang penulis. Tapi karena mereka menulis kita bisa tahu pemikiran mereka."

Saya mau bercerita, salah satu dosen saya meminta kami para mahasiswanya untuk membaca karya anda yang berjudul Lelaki Harimau, padahal beliau berasal dari fakultas dakwah. Setelah saya baca ternyata saya lihat karya tersebut memang recomended dan bahasanya mengalir. Nah, bagaimana strategi agar saya mampu terus mengalir saat menulis cerita dan tidak mengalami stuck?

"Saat menulis, sebenarnya kita hanya menulis ulang sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia. Baik itu yang alamiah, maupun berasal dari bacaan. Saya kira keahlian menceritakan ulang sudah dimiliki setiap orang. Apalagi kemampuan berbicara anda pun saya pikir telah mengalir. Anda juga telah memahami strateginya. Sebelum bertanya, anda memberikan pengantar dengan mengatakan "saya mau bercerita" dan disitu ada "padahal" yang semakin membuat orang penasaran dan mau mendengar cerita anda. Sama halnya dengan menulis. Kalau kita ingin bercerita perihal pertanian, mula-mula kita akan mengawali dengan mengenalkan alam, mendeskripsikan dulu siapa itu petani, apa itu sawah, air yang mengalir dan sebaganya. Sehingga pembaca tidak akan merasa bosan dan tegang. Kemudian, menurut beberapa pendapat karya yang bagus adalah karya yang didalamnya tidak ada kata obyek yang dimaksud. Misal anda menulis puisi perihal daun, tapi anda sama sekali tidak menyebutkan kata "daun". Anda membuat novel tentang Madura dan satu kali pun anda tidak menyebutkan kata itu."

"Kita tidak harus memaksa semua orang menyukai sastra. Juga tidak harus menjadi penulis terkenal dan best seller. Tapi setidaknya setiap orang memiliki kemampuan menulis dengan baik," jelas Eka Kurniawan di akhir perbincangan.

Oke, sekian ilmu hari ini. Semoga berguna. Salam literasi!

Oleh: Lutfiyah🎈

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates