Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Aku biasanya lebih mengutamakan kualitas pelayanan kala bertransaksi jasa/barang. Tapi kali ini pikirku beda. Ini for business. Jadi aku rela menunggu agak lama demi bisa menekan harga. Lama karena pelayanan yang kurang dimanaj dengan baik. Padahal sebenarnya ia bisa multitasking, tapi memilih untuk menyelesaikan satu-satu. Aku berharap suatu saat tersedia kotak kritik dan saran. Hehe.

Di tengah perjalanan pulang aku bertanya dalam hati, kenapa bagian belakang motor seolah bergoyang? Tak ku dengar lagu dangdut melainkan riuh rendah beragam kendaraan. Aku pun berhenti sejenak. Ku dapati ban belakang kempes sekempes kempesnya. Hmm, alhamdulillah dapat ujian. Barangkali.

Bukan menuntun, aku malah mengendarainya perlahan. Ucap seorang Ibu paruh baya, ada tempat Tambal Ban yang tak jauh dari situ. Aku akhirnya mengendara dengan begitu hati-hati. Tak seperti sebelumnya, yang katanya ugal-ugalan. Padahal bagiku juga hati-hati.

Toleh kanan-toleh kiri. Tak kunjung kutemukan ban bekas yang ditulis dengan cat putih. Hmm, bismillah. Semoga tak jauh dari sini, rapalku. Hingga akhirnya mataku berbinar menyaksikan benda itu, ban yang ku maksud seolah melayang didepan. Namun sayang, ada bacaan: Tutup, di pintu depan.

Aku masih terus berharap dan melanjutkan perjalanan. Kemudian berdoa, semoga langkahku untuk tidak menuntun kuda mesin itu tidak memperburuk keadaan. Lalu beberapa belas meter jalan beraspal kulewati, aku sumringah. Tempat tambal ban yang lumayan besar masih terbuka lebar. Aku berhenti. Tukang tambal ban yang mendadak jadi superhero di penghujung Magrib itu menpersilahkan aku untuk duduk dengan bahasa Madura halus. Sebelumnya ia bertanya ada apa dengan bannya. Aku menjawab bahwa aku tidak mengetahuinya kemudian menambahkan sebuah pendapat jika barangkali bannya bocor dan perlu ditambal, dengan bahasa Madura halus pula, meski masih amburadul.

Beda dengan tukang tambal yang kutemui beberapa bulan lalu, ia justeru sangat ramah. Tanpa babibu ia langsung mencongkel ban dan melakukan operasi. Persis saat itu, pikiranku terseret ke tukang tambal ban yang kutemui dulu: jutek. Mungkin karena sedang ada masalah, tapi aku tentu tak mau mencari tahu. Yang jelas ia membalas keluhanku sebagai pelanggan dengan sinis. Ah, apa cuma perasaanku? Tapi ternyata temanku sependapat denganku. Hmm, memang, setiap manusia seringkali memiki karakter yang tak sama.

Baiklah, kembali ke tukang tambal ramah yang juga lebih mirip malaikat penolong ini. Ia ku sebut demikian karena sikap welcomenya yang juga tidak berlebihan. Jadi, pernahkah kalian pergi ke sebuah toko lalu lama sekali diacuhkan buka malah ditanyakan perihal keperluan. Ya begitu maksudku. Salah satunya.

Aku baru ingat, sebotol air mineral ukuran 600 ml yang kubeli siang tadi masih utuh. Segera ku rogoh tas dan kuhabiskan setengahnya. Sungguh nikmat yang tiada tara.

Alhamdulillah, selesai juga. Setelah selesai membayar dan mengucapkan banyak terimakasih (lebih dari satu), aku akhirnya melanjutkan perjalanan.

Beberapa belas menit kemudian aku tiba di jalan desa menuju rumah. Masih sama. Tiang lampu seolah hanya menjadi pajangan di kanan kiri. Jalannya? Lebih parah dari medan untuk track-track-an. Hmm, entahlah. Kemana saja dana desa sekian milyar yang sudah digelontorkan? Apakah pemimpin era kini memiliki pemahaman yang berbeda mengenai pelayanan?

Aku baru saja duduk dan meletakkan helm. Beberapa saat setelah itu adzan isyak berkumandang. Antara adzan dan iqomah adalah saat yang mustajab. Doa kulantunkan. Salah satunya perihal pelayanan.

Bangkalan, 28 Agustus 2018

Kalau aku bilang, aku ini bukan layaknya orang yang mau pergi ke kampus, melainkan ke pengajian, hehe. Karena penampilan yang menipu (wkwk) inilah yang membuat orang sering salah kaprah.
Seperti saat pergi ke pasar, seorang penjual sandal akan bertanya padaku dengan air muka kesungguhan: "Anak pondok ya? Mondok dimana, Nak?" 

Atau saat aku tengah menikmati perjalanan di dalam Bis, seseorang tiba-tiba bertanya senada, " Mondok dimana, Mbak?" 

Kala mencetak skripsi, aku bertanya pada pegawai apakah kertasnya bisa aku ganti. Tidak cukup menjawab dengan "iya", dia malah menimpaliku pertanyaan balik, "Dari Fakultas Keislaman ya, Mbak?"

Waktu masih kecil, aku memang berparadigma jika mahasiswa itu harus necis tampilannya. Adapun penampilan demikian aku definisikan dengan mereka menggunakan celana jeans, coat dan lain-lain. Pokoknya terlihat kece dan modis.
Tapi ternyata tidak selalu begitu waktu mamah tahu sendiri (iklan biskuit, hehe). Kita bebas memilih ingin tampil seperti apa. Bebas. Asal masih bisa ditoleransi. Jangan sampai kita mengenakan baju dengan kain beratus lapis yang bisa menyita banyak tempat di dalam ruangan. Atau baju berbahan kardus dan berbentuk kotak hingga amat susah untuk berjalan. Atau baju tipiiiiiiiis sampai membuat yang melihat saja merasa kedingingan. Hehe, baiklah, kita akhiri imajinasi ini.

Don't judge the book from its cover. Siapa yang menjamin jika yang memakai rok sudah tidak malas mengaji (dalam arti luas). Siapa yang tahu, jika yang begini begitu justeru masih dalam masa pencarian. Tetapi tidak masalah. Setiap orang memiliki jalan hijrahnya sendiri (karena seringkali nyaman itu kita yang merasakan, bukan orang lain. Lagipula kita tidak akan pernah mengetahui kedalaman isi hati, pikiran dan pemahaman seseorang). Pun pemahaman yang berbeda mengenai hijrah itu sendiri. Yang terpenting, kita tidak pernah  bosan untuk selalu meminta pemahaman yang benar dari yang Maha Benar.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates