Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Bangkalan, 10 Februari 2015

         Waktu tepat menunjukkan bahwa schedule untuk sekarang adalah belajar TOEFL. Memang dasar kurang ajar betul aku ini. Tak menghargai schedule yang sudah aku buat susah payah. Indah sekali jadwal untuk sekarang ini tapi agaknya terdengar cukup sumpek di telingaku. Oleh karena itu, biarkan aku sedikit bercerita pengalaman kemarin ya book! (buku gado – gado milikku).

        Kemarin tepatnya tanggal delapan februari dua ribu lima belas, aku dan kakak pergi ke salah satu swalayan di Bangkalan karena hendak mengambil sejumlah uang di rekeningku untuk sebuah keperluan. Setelah usai berjibaku dengan mesin ATM dan mengambil lembaran uang, aku beranjak keluar swalayan menuju kakak yang menunggu di parkiran untuk pulang. Tiba - tiba aku tersadar tak memegang kartu ATM-ku. Mungkin terjatuh di dalam swalayan atau tertinggal di mesinnya. Aduhai! Inilah aku shobat! Menderita penyakit ceroboh kronis di tambah agak pelupa. Entah apa karena sudah melihat merahnya uang hingga aku lupa pada perantaranya. Untungnya tak terlalu jauh. Kakak kembali mengantarku kesana.

        Aku seperti itik ayam yang kehilangan induknya. Kucari di luar, di setiap sudut di swalayan, namun Tak dapat ku temukan kartu sakti itu. Kembali ku mengingat setiap langkah sebelum akhirnya aku menyadari kecerobohan ini. Terlintas di ingatanku aku sempat berbalik ke mesin ATM setelah mengambil uang dan melangkah. Seperti ada yang tertinggal saat itu, bisik batinku. Aku berbalik dan tersenyum pada mesin itu layaknya seorang artis dan segera ku sambar benda yang ku anggap terlupakan itu. Selembaran resi. Malah resi? Sungguh menjengkelkan! Berarti kartuku sudah ada di luar mesin, tapi lupa ku ambil.

        Setelah pontang panting kesana kemari akhirnya aku menyerah dan memilih bertanya pada beberapa orang di swalayan sekaligus semua karyawan disana. Namun tak ada yang mengetahuinya. Aku merelakan kartu itu. Tapi tidak untuk isinya. Hehe

        Esok harinya kakak kembali mengantarku ke bank untuk mengurus kartu baru. Sebenarnya aku tak enak hati karena diantar lagi. Aku ingin berangkat sendiri saja. Syukurlah kakak memaksa mengantar J.
Akhirnya, sampailah kami di depan bank. Sepeti biasa kakak hanya mengantar dan menunggu di luar. Ia mengajariku untuk dapat mengurus sesuatu sendiri. Kali ini ia tak menunggu di luar. Ia memilih untuk berkunjung ke kostan temannya karena berpendapat antrian di bank akan memakan waktu yang lama. ‘’ kalo udah nanti sms yaa,’’ itulah pesan terakhirnya. Akupun mengangguk.

        Prosesi pembuatan kartu berjalan amat cepat. Aku orang pertama yang menduduki kursi layanan costumer service pagi ini. Tandas sudah uang lima puluh ribu rupiahku hari itu karena kecerobohanku. Aku mencoba melihat sisi baiknya. Aku memiliki pengalaman baru di bidang problem. Setelah usai, aku segera menghambur keluar dari bank. Ku rogoh tasku, namun tak ada HP satu – satunya milikku disitu. Ternyata aku terburu – buru saat berangkat tadi hingga lupa membawa dan meninggalkannya diatas meja. Akupun pasrah dan menunggu kakak di luar bank tanpa mengirim pesan. Saking lamanya menunggu, agaknya aku hampir menjelma menjadi arang karena terik mentari yang cukup menyengat meski belum terlalu siang.

        Hampir satu jam aku menunggu dan akhirnya kakak datang juga. Aku menceritakan kecerobohan keduaku. Dan ia hanya tersenyum dan berkata, ‘’waah…berarti kamu nunggu lama yaa..’’

        Yah. Begitulah aku. Cerobohnya gak ketulungan. Mudah sekali menimbulkan masalah baru dalam masalah. Masalah yang datang padaku itu rasanya tak etis jika tak mengajak istrinya, mbaksalah. Istrinya tak rela meninggalkan anaknya. Anaknya membawa cucunya. Cucunya tak mau kalah, ia mengundang cicitnya. Benar – benar keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah! Tapi jangan di aminin ya. Kalau tidak, tamatlah saya! Hehehe.

Made on 13rd of March 2015
Bangkalan, 16 februari 2015

           Pagi ini aku dikagetkan dengan pesan singkat Fitri---teman sekelasku yang kebetulan satu dosen wali---yang berbunyi, “Kita udah janjian sama dosen walinya jam Sembilan, ini tinggal kamu. Kamu dimana?” lucunya, ia mengirim pesan singkat itu tepat pada pukul 09:17 pagi. Saat menerima pesan itu aku kebingungan, karena jika aku berangkat artinya aku akan sampai di kampus paling lama satu setengah jam lagi. Apa ibu akan menungguku selama itu? Pemikiran anak SD berkelebat dalam benakku. Aku pada saat itu juga baru tahu bahwa konsultasi dengan dosen wali harus bersama – sama dan memutuskan janji dengan dosen walinya terlebih dahulu. Sebenarnya aku telah bertanya pada Fitri perihal konsultasi itu, tapi memang dasar karena kemahatololanku aku jadi lupa bertanya masalah yang tidak aku tahu itu. Salahku memang.

            Beberapa jam kemudian Fitri membalas pesanku dengan mengirimi kontak wali dosen kami. Lebih lucu lagi, aku baru memiliki kontak beliau saat itu. Segera ku sambar ponsel bututku dan memencet tut demi tutnya secepat mungkin. Ku kirim pesan yang panjang lebar, sangat ku perhatikan kesopanan kata demi kata yang terangkai yang intinya minta maaf atas kemahacerobohan dan bertanya apa masih bisa konsultasi besok pagi. Waktu saat sms itu terkirim menunjukan angka 10:40 dan akhirnya dibalas 31 menit kemudian. ‘’Mbak sekarang masih bisa. Saya ada di ruang sekjur tapi kalau terlalu siang saya pulang.’’ 


            Akhirnya aku lansung berangkat mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku adalah perempuan tulen tapi seperti biasa selalu saja aku meluapkan suasana hati saat itu seperti orang yang kebakaran jenggot. Ibu melihatku dengan gemas dan member khotbah meski bukan hari jumat. Jujur, aku memang tak menampilkan kehebohan masalahku yang genting dengan lontaran kata-kata. Lebih sering ku pendam seperti mengaggap segalanya enteng, tapi air muka dan gerak gerikku tak dapat berdusta pada orang sekitar apalgi ibu.

            Setelah lontang lantung kesana kemari mempersiapkan diri aku berpamitan dengan ibu yang agaknya masih belum selesai dengan isi khotbahnya. ‘’cepatlah berangkat..nanti telat..dari tadi mondar mandir aja.’’ Kakak yang berada di halaman sembari menyelesaikan pembuatan kandang kelincinya menyarankanku untuk membawa motor. Aku memang belum pernah seumur hidupku ke sekolah apalagi ke kampus membawa motor dengan menyetir sendiri. selain karna trauma yang agak kronis juga karena kekhawatiran bapak yang mengalahkan ibu. Jangankan ke kampus yang lumayan jauh itu, menyentuhkan ban sepeda motor ke jalan raya saja sudah tak di beri izin. Alhasil aku hanya bisa menikmati menjadi pejalan kaki yang memang nikmat. Aku menggeleng dengan air muka kebingungan diikuti saran ibu untuk berangkat saja dan menitipkan sepeda motor itu di rumah Bu Siti di muka jalan raya. Aku mulai kebingungan lagi namun lekas mengambil helm. Ibu terlihat tak yakin. Apalagi aku sangat tak yakin. Sebaliknya kakak tersenyum dan meyakinkanku. Mengatakan bahwa semua akan mudah saja.

            Sampailah aku di muka jalan raya, hatiku berkecamuk. Menitipkan sepeda motor atau melanjutkan perjalanan. Tiba – tiba ku ingat kalimat yang kakak torehkan di pikiranku. ‘’Kalo belum coba mana bisa, kalo ga di paksakan ya tidak akan penah berani dan bisa.” Ah, itulah kakaku chairuddin. Ia tak pernah meremehkan adik – adiknya, malah selalu menguatkan. Ku sentuhkan sepeda motor bapak ke jalan raya, ku coba hapus trauma yang ku pendam sekian lama sembari teringat pada bapak yang sedang tertidur pulas karena semalam lembur bekerja. Hatiku berdebar. Aku layaknya balita yang baru bisa berjalan. Namun tak se-berdebar saat melewati jalan rumah yang sudah biasa ku lewati setiap hari. Ku nikmati jalurnya tanpa berani mendahului pengendara lain. Tak terasa sudah sampai di pos polisi pertama, tangkel. Kali ini hatiku kembali berdebar khawatir ditilang karena tak memiliki SIM. Namun aku dapat melewatinya. Saat melewati bong mereng burneh aku didahului mahluk raksasa layaknya paus, ulu hatiku ngilu. Bengkokkan jalan raya kembali berhasil ku lewati di jalan ring road, kabupaten bangkalan. Kembali sesosok makhluk besar seperti ibu paus mendahuluiku. Wuthh! Tertulis di punggungnya dengan jelas ‘’Bus Pariwisata.” Aku tak bergeming. Agaknya mental tempeku mulai ber-metamorfosa.

            Alhamdulillah. Aku sampai di depan faperta. Lama perjalananku lima puluh tiga menit. Benar – benar perjalanan ke kampus yang agak muskil bagiku, terlebih tak setetespun keringat mengucur. Aku memarkirkan sepeda motor di depan gedung sekjur dan bergegas menuju ruangan Ibu Aminah Happy Moninthofa A, Sp., Msi. Tak lebih dari satu menit aku sampai. Disana ibu memberi petuah – petuah yang singkat saja, hanya memerlukan waktu tak kurang dari tiga menit namun sangat bermakna. Aku segera pulang, namun sebelumnya aku bertandan ke masjid terlebih dahulu untuk menunaikan kewajiban kemudian ke perpustakaan. Sudah hampir dua bulan libur kuliah. Otakku rasanya berkarat karena juga ku liburkan. Aku memutuskan meminjam beberapa rujukan disana meski sesampainya di rumah hanya menjadi penambah sesaknya buku di mejaku. Setelah itu aku langsung pulang. Perjalanan pulang sangat berbeda dengan ketika aku berangkat. Aku seolah mahir saja berada di jalan raya. Aku juga sering mendahului kendaraan lain. Ngebut. Namun sayangnya, speedomotornya rusak. Alhasil aku sampai lebih cepat di rumah. Empat puluh Sembilan menit. Aku terkesan karena dapat mengalahkan traumaku. Terlihat bapak menghela napas karena melihatku kembali dengan selamat. Ibu yang agaknya mengeluarkan semua beban pikirankanya seketika itu dan tersenyum lalu menanyakan perjalananku. Bapak sama sekali tak marah. Namun esok harinya beliau menggantikan ibu untuk berkhotbah meski hari itu belum jumat. Sambil mengendarai motor demi mengantarku ke muka jalan raya. ‘’Lebih baik naik angkot saja kalau tidak terburu – buru, naik becak dari pertigaan kampus kalau capek. Bapak sangat khawatir.’’ Aku terdian sejenak dan mengiyakan. Dalam hatiku aku memang senang sekali dengan efisiensi bersepeda ke kampus namun bukankah pilihanku untuk tidak ngekost agar merasakan sensasi perjalanan yang berbeda? Keringat bercucuran, kaki yang melepuh, kulit yang gosong, ciut karna dinginnya hujan, pedagang yang menuju pasar, buruh tani yang tengah berjibaku di sawah, dsb. Jadi kesimpulannya, aku tak apa kok pak. J

Made on March 5, 2015 
Bangkalan, 23 Februari 2015 
         
            Iya.. saya paham betul. Saat anda renggut HP cina tulen yang satu – satunya saya punya dan memainkannya seraya berkata ‘’ayo…selfie pake ini…bla..bla…bla….,’’ bayi juga tau kalau itu muskil. Apalagi sebelum itu anda sempat mengumbar harga HP pintar yang baru sahabat anda beli sekaligus harga HP berry anda meski saya sama sekali tak menanyakannya. Sama sekali bukan karna saya iri tapi memang saya sama sekali (untuk ketiga kalinya) tidak takjub dengan angka – angka itu. Sudah biasa. Meski HP saya

hanyalah HP butut tanpa tombol QWERTY. Tapi tahukah anda? Bagi saya itu HP keramat. Penasaran kenapa? Biarlah hanya saya dan Allah yang tahu. Oleh karena itu, saya tak berniat untuk menggantinya. Selain tak punya uang (hehe). Meminta pada orang tua? Meminta uang saku dan pulsa saja saya sungkan. Mungkin jika orang tua berasal dari kalangan beradapun saya masih sungkan. Lebih baik membelinya sendiri jika benar – benar menginginkannya. Mengenai gaptek dengan HP pintar yang kini begitu booming saya tak ambil pusing. Bahkan saya lebih tahu dari sekedar nge-PING!!!, nge-PARPEL!!!,dkk *aduhai..sombongnya* atau memang hanya itulah yang saya tahu (hehe).

(kembali ke anda)

           Hanya tersenyum. Itulah yang bisa lakukan demi mengapresiasi tingkah anda sembari mencoba mencerna apa maksud dari kelakuan anda. Meskipun sebenarnya lebih enak mencerna makanan apalagi masakan ibu. Setelah saya perhatikan panjang pendek, tinggi rendahnya intonasi, kecepatan,dan massa kata – kata yang keluar dari mulut anda*aissh..ngawur*, tak sebersitpun air muka anda menunjukkan bahwa itu sebuah humor yang coba anda bangun, kecuali tawa kecil yang terlihat sangat tidak natural. Tengik sekali. Seketika pikiran saya terseret pada ingatan lalu, saat anda melakukan hal yang sama. Menyinggung bagaimana cara berjilbab, berpakaian, bahkan skirt yang anda bilang seperti bendera yang berkibar. Lebay sekali tutur anda. Maaf! Bukan apa - apa! Tapi itu sama sekali tak mempan untuk apa yang disebut sebagai pembunuhan karakter saya. Saya sudah sering mengenal orang yang bersikap lebih dari itu. Menatap saya dengan tatapan yang kurang lebih menurut saya bermakna: Dasar orang udik! Meskipun tak dapat dipungkiri saya memang udik (hehe), dan lain sebagainya.

           Saya sempat bertanya pada ibu mengapa ada orang yang mudah sekali berbuat seperti itu. Ibu, tempat curhat terbaik setelah Allah dan sebelum buku gado – gado alias diary book saya. Selalu saja jawaban ibu membuat saya kikuk: ‘’sudahlah… tak boleh berpikiran begitu, nanti jatuhnya suudzan” ibu menjawabnya dengan lembut dan air muka yang tersirat seakan mengetahui watak anaknya yang sedari dulu terobsesi bisa membaca pikiran orang berbekal penglihatan yang mengamati gerak gerik dan air muka seseorang. Hehehe. Semoga Allah swt mengampuni saya, anda, dan kita semua. Aamiin.

Made on Feb 23, 2015 
Postingan Lebih Baru Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates