Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Pagi ini gue diminta Ebo' buat pergi ke rumah Umi, adik dari almarhumah Nenek. Di sana ada Aba, kakak dari Umi yang berarti juga kakak dari almarhumah Nenek. Hehe, bingung ya? Udaaaah, ga usah dipikirin. Ga masuk ujian juga. Pokonya gue disuruh nganter makanan buat Aba. Sip, gue emang lagi ada perlu ke beliau.

Tadinya uda beraniin diri gitu. Mau ngomong. Dateng, gitu kan. Pas nyampe langsung urung. Serem. Suaranya melengking. Pake tangga nada yang lumayan tinggi. Watau, ciat ciat. Gitu. Ga jadi ngomong. Aissh kualat loh, ga boleh ngomong gitu. Ups, iya deh lupa. Hehe.

Akhirnya gue mutusin buat langsung pulang aja. Gue ga marah. Beneran biasa aja. Sebab gue udah paham karakter beliau. Emang cara bicaranya kek gitu. Tapi gue percaya hatinya baek kok. Jadi ya, its okay lah. No what what. Eh.

Gue pun tancep gas, cabut, balik ke rumah. Dalam perjalanan gue tiba-tiba kepikiran. Rindu. Gimana sosok Rasul. Pen banget ketemu. Pen tau gimana sosok dengan akhlak yang ga usah dipertanyain lagi itu. Iya sih, kita bisa baca banyak riwayat. Tapi kan bener-bener beda kalo ketemu langsung. Ga perlu selfie deh. Cuma ketemu. Ga perlu foto bareng. Cuma pen ngelepas rindu. Kek pas ketemu Bang Fuadi, ga perlu keduanya, karena udah dapet keduanya. Lebih-lebih dapet ilmu. Lebih-lebih dapet petuah.

---

Muhammad SAW💕;Sosok pemuda yang jadi tauladan dan paling berpengaruh di dunia dikutip dari beberapa majalah internasional ternama, walau dalam al-Qur'an---kitab yang ga diraguin lagi kenamaannya---emang udah jelas beliaulah sang uswatun hasanah.

Allaahumma shalli 'ala sayyidina muhammad!

Kala itu aku pura-pura terseok-seok membawa cobek menuju dapur dari tempat cuci piring yang jauhnya kek dari pertelon kampus ke RKBB. Cobek yang berat membuatku spontan berkata: "Aduh, ini cobek apa Candi Borobudur, huh," dengan nada pura-pura kelelahan, meskipun memang. Sontak, tanpa aba-aba seisi dapur terbahak serempak. Iya seisi dapur (Ebok, Mbak Ais, piring, wajan, gelas, ulekan, dkk). *krik

----

Malam ini untuk kesekian kalinya aku menginap di kost salah satu teman kampusku. Apalagi kalau bukan karena ada kelas yang dilangsungkan di malam hari. Belum genap aku menginap, aku sudah di-WA dan ditanyakan, "Pulang kapan?" Aku balas jika aku insyaAllah pulang esok hari. Lalu pesan itu dibalas dengan balasan yang berbunyi, "Oke, nanti masak-masak besar!"

Aku tersenyum, membayangkan aku, Mbak Ais, dan Ibu yang memasak sambil bercanda dan sesekali terbahak di dapur.


Kalau kita mau berpikir sejenak, kita akan menyadari betapa kita adalah manusia yang beruntung.

Kita mempunyai keluarga hangat saat ada seseorang yang sebatang kara meski hakikatnya memiliki keluarga, juga sebatang kara dalam artian sebenarnya.

Kita mampu menikmati sinar lampu di mana-mana saat beberapa desa di berbagai penjuru negeri belum dialiri listrik meski negara sudah lama merdeka.

Kita memiliki sumber air yang melimpah di sana-sini saat banyak orang mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kita bisa menyantap nasi pulen lengkap dengan lauk pauk saat ada sebuah keluarga yang tinggal di hutan dan bertahan hidup dengan memakan dedaunan pahit tanpa bumbu sedikitpun, lebih sengsara dari orang rimba.

Kita dianugerahi nikmatnya bangku pendidikan disaat yang lain bahkan hanya memikirkan bagaimana bisa mendapat makanan demi menyambung kehidupan.

Kita sangat mungkin melesat ke tempat yang kita mau, ke sekolah, kampus, mall, dan sebagainya---saat mereka berjalan kaki berjam-jam menyusuri sungai, hutan, bukit, dan melewati jembatan gantung yang nyaris putus hanya untuk bersekolah, bekerja dan sebagainya.

Kita rela menghabiskan jutaan untuk beberapa porsi makanan, menghabiskan milyaran untuk sepotong meja kantor, menghabiskan triliunan untuk perhiasan pelepas kepuasaan---saat ada orang-orang yang berjuang mengumpulkan recehan.

Kita masih mempunyai banyak waktu, untuk bercengkrama dengan sanak saudara, melakukan banyak hal, bahkan dari hal yang tidak penting sekalipun----membuat status---saat yang lain hampir stres dengan jadwal yang amat padat, beratus-ratus.

Kita berkeinginan untuk memperpanjang paketan, menyelesaikan tugas karena paksaan, mendapat pekerjaan mapan, membeli apapun kelak biar hidup senang----saat banyak bocah-bocah kecil memikul dagangan dengan keinginan yang begitu sederhana: mampu membeli sepasang sepatu, mampu membeli buku tulis, dan mampu memperpanjang usia kepulan di dapur yang seruang dengan kamar tidur.

Kita berdebat seputar anggaran di ruang ber-AC sampai mulut berbusa saat tak terhitung orang terlantar butuh uluran tangan, bukan sekadar perkataan panjang lebar, sebab perut mereka sudah keburu lapar.

Kita diberkahi hidup tenang dan tentram, saat mereka melewati hari-hari dengan keresahan dan kegelisahan akan ledakan yang kapan saja datang.

Kita dengan mudah membuang-buang makanan dan minuman saat yang lain mengais-ngais sisa-sisa makanan di tong-tong sampah pinggir jalan.

Kita hanya bisa terpelongo melihat para koruptor tersenyum melambaikan tangan dengan jam tangan mahal yang sengaja dipamerkan atau make up yang masih saja menor dan tebal----saat di ruangan lain seorang maling ayam kesakitan usai digebuki karena tidak mau mengakui kesalahan.

Kita lancar berdiskusi perihal kesejahteraan petani singkong saat bahkan memakan singkong rebus saja kita enggan.

Kita terus saja mengeluh dengan kehidupan yang nyaris sempurna saat banyak dari mereka terus menebar senyum dengan satu tangan, satu kaki, satu mata, atau tidak satupun.

Kita cukup berpikir keras bagaimana merampungkan keinginan yang lebih persis ambisi untuk melengkapi banyak hal yang telah kita punya saat seseorang cukup berdoa satu hal saja dari apa yang kita punya.

Kalau kita mau berpikir sejenak, akan ada banyak hal yang harusnya membuka mata hati. Bahwa hidup tidak melulu soal memperkaya diri. Tapi saat dalam hidup, kita mau menjadi keluarga hangat bagi siapapun, mau berhemat untuk perubahan, mau membantu sebagai tujuan, mau berbagi kebahagiaan. Sebab tujuan kaya harta karena ingin mudah berbagi dan kaya hati agar senantiasa rendah hati. Sebab pandai usai bersekolah tinggi-tinggi agar jiwa sosial makin peka, bukan malah lihai mengibuli. Sebab segala pencapaian buka hanya untuk berfoya-foya, tapi untuk mereka supaya lebih sejahtera. Sebab hidup adalah tentang kebermanfaatan, tidak hanya berhenti menjadi manusia yang beruntung.

Oleh: Lutfiyah🎈

Materi workshop yang diadakan pada 25 Oktober 2017 di STKIP PGRI Bangkalan, Madura

"Menulis itu berjuang," ucap Asma, "maka harus kita perjuangkan," lanjutnya.

Pernah seseorang bertanya pada Asma Nadia, mengapa ia tidak mencoba menulis dengan genre horror. Akhirnya ia menjawab: "Menulis itu berjuang. Berjuang menebar kebaikan. Dan menulis perihal setan bukan termasuk dari apa yang ingin saya perjuangkan."

Asma Nadia bukan seseorang yang berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dan dibesarkan di keluarga yang begitu sederhana. Inilah yang membuat hobi membacanya sempat terkendala, karena ia tidak mampu membeli buku. Akhirnya setiap hari, Asma dan kakaknya membaca koran yang digunakan sebagai pembungkus cabai. Mereka biasa mengumpulkannya usai Ibu mereka membeli cabai di warung kelontong.

Setiap lewat di toko-toko buku besar, Asma dan kakaknya hanya mampu menelan ludah dari luar gedung. Tidak mungkin dengan keadaan dan penampilan yang begitu kucel mereka akan masuk ke dalam toko, pikir mereka. Lalu Asma berucap pada sang kakak: "Kak, kapan ya kita bisa baca buku-buku bagus itu?" "Semoga suatu saat kita bisa jadi salah satu penulisnya, Dik," jawab kakak Asma tersenyum.

Kini Asma dan kakaknya telah menjadi penulis buku-buku best seller sebab impian yang dulu mereka ukir. Asma juga telah menjelajahi 62 negara dan 360 kota. 

Sejak dulu Asma adalah gadis kecil yang sering sakit-sakitan. Di usia yang masih belia, Asma telah mengalami gagar otak dan mengidap penyakit tumor. Hal itu membuatnya bolak balik pergi ke rumah sakit. Lalu ia berpikir, ia ingin menjadi manusia yang tetap berguna di kondisinya saat itu. Dan jawabannya adalah menjadi seorang penulis. Sejak itu Asma lebih tekun membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah profesi yang begitu mudah dan tidak diskriminatif. Seorang yang suaranya tidak bagus berhak menjadi penulis. Menjadi penulis tidak perlu memiliki tubuh layaknya boneka Barbie. Setiap kita bisa menjadi seorang penulis.

Hingga saat ini Asma masih harus sering ke rumah sakit beberapa kali dalam sepekan karena masih ada tumor yang bersarang di tubuhnya. Kala mengungkapkan itu, air mukanya terlihat begitu santai sembari meminta doa kepada audien agar lekas dianugerahi kesembuhan.

Baiklah, itu sekelumit cerita mengenai Asma Nadia. Berikut adalah beberapa tips menulis buku best seller ala Asma Nadia.

Menjadi penulis buku best seller adalah 5% bakat, 5% keberuntungan dan 90% kerjas keras!

Dalam menulis itu...

1. Bukan sekadar ide bagus
2. Berawal dari keresahan. "Saat saya berkunjung ke toko buku dan tidak menemukan buku yang saya inginkan, saat itulah saya bertekad menulisnya sendiri." atau "Saat menemukan permasalahan di mana-mana, saya dirundung keresahan untuk segera menuliskan dan menemukan solusinya."
3. Buku sebagai kebutuhan. Sebab membaca dan menulis adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
4. Memperbaiki moral. "Indonesia adalah negara dengan populasi _jones_ terbanyak (hehehe), oleh karena itulah ini bisa menjadi pasar yang potensial sekaligus memperbaiki moral mereka. Kenapa demikian? Karena banyak dari mereka akan lebih sering membaca meme yang jurtru membuat mereka tambah _ngenes._" Seperti meme yang berbunyi: "Truk aja ada gandengannya, masak kamu ngga? _Ya udah tinggal jawab aja: Alphard sendiri tapi tetep kece tuh_ Lagi: Maling aja di kejar, masak kamu ngga? _Ya elah, masak para jones dianggap lebih hina daripada maling. Kan parah banget itu meme. Belum lagi pas kena ke kata kamu, bikin mereka malah tambah ngenes. Disinilah peran kita supaya bisa berkontribusi membentuk moral dengan menulis buku perihal kebaikan. Pembentuk kepribadian baik para jomblo agar jauh dari kata ngenes, melainkan mandiri, produktif dan lain sebagainya._
5. Memotivasi pembaca.
"Novel terbaru saya yang berjudul Cinta Dua Kodi dan Bidadari untuk Dewa dibuat dengan banyak alasan. Salah satunya, dalam novel Cinta Dua kodi saya ingin mengajak pembaca (khusunya Ibu-ibu) untuk mampu mandiri dan berwirausaha. Kemudian dalam novel Bidadari untuk Dewa saya menyuguhkan cerita menggugah dari tokoh utama yang mampu bangkit dan menjadi pejuang dalam hidupnya.

Dosa penulis pemula:

1. Judul.
Menggunakan judul yang _mainstream_ dan dengan satu kata: kayu, paku, daun. Padahal pembaca dan penerbit akan melihat judul terlebih dahulu untuk karya-karya penulis pemula.
2. _Opening_tidak menarik
3. Fokus cerita.
Kebanyakan cerita tidak fokus ke masalah sebenarnya, malah bercabang-cabang isinya.
4. Bertele-tele.
5. Konflik tidak menarik.
6. Pesan verbal.
Di akhir naskah, mereka membubuhkan doa-doa dan pesan pesan verbal lainnya.
7. Ending tidak menarik.
Di ending cerita penulis membuat tokoh utama meninggal dunia, diikuti yang lain seolah membuat cerita makin dramatis.

Kesempatan yang didapat...

1. Dengan menulis, nama kita akan abadi meskipun kita sudah pasti akan mati.
2. Menulis menjadi kado indah untuk kedua orang tua kita.
3. Dari menulis, kita bisa mengalirkan pahala lewat tulisan sebab yang kita tulis adalah untuk kebaikan.

Tulislah impianmu, sebab ia mudah menguap karena rutinitas keseharian.

Tiga prinsip menulis:
1. Menulis yang baik
2. Jangan menulis sesuatu yang akan kamu sesali
3. Tulisan sebagai bekal di akhirat

Untuk menulis buku best seller harus...

1. Menjadi predator buku. Bukan 'kutu' sebab ia jauh lebih kecil.
2. Merekam pengalaman dengan tulisan mulai sekarang
3. Jujur (antiplagiasi) dan disiplin dalam menulis.
4. Buka mata buka telinga terhadap setiap hal yang terjadi.
5. Menulis setiap hari dan untuk diselesaikan.

"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
- JK Rowling

Sekian sedikit ilmu yang masih melekat dipikiran dan coretan kecil saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga bermanfaat dan kita semua Allah jadikan manusia yang bermanfaat.

Oleh: Lutfiyah🎈

Waktu duduk di bangku SD kelas pertama, saya mendapat rangking 12 di semester ganjil dan rangking 11 di semester genap. Karena kadang pelajar Indonesia didoktrin akan pentingnya rangking, akhirnya saya cukup sedih dengan kenyataan itu. Belum lagi kebanyakan saudara saya selalu mendapat rangking tiga besar di kelas. Meski Ibu tidak pernah mempermasalahkan. Bisa baca-tulis bagi beliau adalah anugerah besar. Seorang Ibu dengan keinginan-keinginan sederhana, tapi pemikiran-pemikiran yang luar biasa.

Saat itu saya merasa tidak punya kelebihan dibanding saudaraku yang lain. Saya merasa saya begitu berbeda, khususnya dibidang akademik. Kala itu saya tidak punya kelebihan selain membuat kapal dari selembar kertas. Saya masih ingat sekali, waktu itu guru kami, Ibu Syamsiyah meminta kami membuat kapal dengan selembar kertas. Jadi semacam pelajaran perihal origami. Seingat saya, saat itu yang bisa membuat kapal-kapalan hanya saya dan teman saya, Zainal Arifin.

Kami pun menyelesaikan tugas dari Bu Syam. Ketika beliau pergi keluar kelas untuk waktu yang begitu lama, teman-teman yang merasa tidak bisa menyelesaikan tugas mereka meminta tolong pada saya. Lebih tepatnya, minta dibuatkan. Awalnya satu orang, dua orang, dan makin banyak. Hampir semua kecuali Zainal (tentu) dan beberapa orang lain. Sembari saya membuat, mereka memperhatikan, tapi tidak ada yang mencoba memperaktikkan atau sekadar bertanya caranya. Ya, saya kala itu belum paham jika mengajarkan lebih mulia daripada membuatkan. Yang saya tahu, saat itu saya benar-benar bisa membantu mereka.

Lucunya, sambil saya membuat kapal, eh kapal-kapalan, mereka mengipasi saya dengan buku sebagai subtitusi kipas. Saya katakan mereka, karena banyak yang melakukannya. Mereka berkata: "Ayo ee, yang bener ngipasnya. Kasian Lut. Keringetan." Saya hanya bisa tersenyum dan tidak habis pikir: "Segitu amet temen-temen ini, wkwk," ngakak dalam hati. Saat itulah saya berpikir, jika saya juga memiliki kelebihan seperti saudara saya yang lain, yakni membuat kapal-kapalan, hahaha. Keahlian ini sangat berguna saat saya membungkus kado untuk keponakan saya, Nuh. Saya bisa membubuhkan kapal di ujung kado. Meski kemampuan membungkus kado saya masih payah dan hasilnya tidak semenggugah kapal Nabi Nuh.

Bapak itu multitalent (karena Allah). Beliau bisa benerin elektronik, bisa benerin listrik, bisa benerin pompa air yang kecekik, bisa bikin prakarya dan pernak-pernik (tugas SD-ku dulu, wkwk jangan ditiru), bisa nyanyi lagu dangdut nyentrik, bisa melucu dengan gaya eksentrik, bisa bikin ranjang bambu yang berderik dan titik-titik, eh maksudku, dan lain-lain.

Perihal keahlian memperbaiki listrik sampai membuat Bapak dimintai tolong banyak tetangga kalo listrik mereka lagi bermasalah dan bikin pelik. Saking bahagia jika listrik mereka nyala kembali, mereka sampai bersorak dan memekik (hehe, rimanya maksa).

Lalu, lihatlah. Beliau tidak sempat memperbaiki lampu kamarku. Sudah hampir dua tahun kamarku gelap gulita. Hehe, sebenarnya itu bukan salahnya. Aku yang selalu lupa untuk meminta tolong memperbaikinya. Eh, lebih tepatnya sungkan. Aku berpikir jika beliau pasti sedang kelelahan.

Meski pada akhirnya yang namanya orang tua selalu tidak merasa diberatkan oleh anak-anaknya. Pun Bapak. Beliau selalu berani berkorban untuk keluarga. Banyak sekali kisah bersama beliau. Hmm, semoga diberkahi umur yang panjang dan kesehatan.

Aku ingat sekali, saat dulu aku masih bungsu, Bapak selalu bertanya "Mau dibawakan apa?" saat hendak berangkat kerja. Kala itu aku benar-benar dimanja. Maklum, aku lahir kala perekonomian keluarga bisa dikatakan amat baik. Untuk dua orang manusia yang memulai rumah tangga dari nol, kala itu bisa dibilang Bapak telah mampu mengumpulkan buat dari hasil memeras keringatnya. Ada rumah, beberapa petak sawah, kendaraan berupa motor, dan anak-anak yang sehat.

Bapak seperti banyak seorang ayah adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara saat anak-anaknya beranjak dewasa. Meski kadang beliau juga sering bercanda, namun hal itu lebih sering ia lakukan saat anak-anaknya masih bayi hingga balita. Namun, aku tidak akan lupa betapa lucunya Bapak saat mulai membangun humor.

Saat masih kecil, aku sering ikut Bapak menghadiri haflah imtihan madrasah yang masih ada hubungan dengan keluarga besar. Aku duduk dipangkuan Bapak. Karena saat itu masih sangat kecil, aku pernah sampai ngompol dan membasahi sarung Bapak karena acara memang berlangsung hingga larut malam. Untuk seorang anak kecil, jam 10 malam bisa dikatakan amat larut. Dan beliau pastinya tidak pernah marah. Sepulang ke rumah beliau menceritakannya pada Ibu. Namun setiap tahun, aku selalu saja beliau ajak kembali ke acara itu.

Aku amat nakal. Dulu, masih saat aku masih kecil, aku menaiki motor Bapak dalam kondisi mati yang diparkir di halaman rumah bertanah itu. Bapak tengah memperbaiki TV disertai dengan pelanggan yang menungguinya bekerja. Karena mungkin tidak ada yang mengawasi, akhirnya aku bebas berekspresi dengan motor yang berkali-lipat lebih besar dari tubuhku. Akhirnya beberapa saat kemudian sepeda motor itu oleh jatuh. Begitu pun aku. Tapi tidak sampai menindih tubuhku. Sontak Bapak kaget dan berlari menuju aku. "Aduh, anakku!," pekiknya kala itu. Pekikan yang sama terjadi saat aku telah beranjak agak dewasa. Mungkin kala itu aku duduk di bangku kelas 5 SD. Aku yang sangat suka bersepeda, pada waktu itu mengendarai sepeda dengan amat cepat. Alhasil aku jatuh ke sawah yang lebih rendah 1,5 meter dari jalan. Akhirnya aku pun menangis karena malu. Hehehe. Kemudian tanpa ku sadari, ada Bapak yang berlari menghampiriku. Ia memekikkan kalimat yang sama seperti beberapa tahun silam. Ia begitu kaget dan kuatir. Begitulah orang tua.

Saat Bapak pulang kerja, aku akan menunggu beliau di jalan yang tak jauh dari rumah. Kala itu aku sudah punya adik, jadi tidak bungsu lagi. Tapi bisa dibilang aku masih begitu agresif dan tidak mau jika adikku lebin disayang. Buktinya, aku tidak menghiraukan adikku yang berada di belakang. Aku mengejar Bapak yang mengarah ke kita. Bayangkan, 'mengejar' motor yang 'mengarah' ke kita. Kemudian menaiki motor dan duduk di depan memegang kemudi. Adikku terseok-seok mengikuti langkahku. Ia akhirnya duduk di belakang Bapak. Namun belum genap adikku naik, aku tidak sengaja memutar gasnya, dan motor pun berjalan sejenak. Aku pun dimarahi Bapak.

---

Sekarang, beberapa bulan lagi usiaku insya Allah akan menginjak angka 22 tahun. Namun pada beberapa kesempatan, Bapak masih saja menganggapku seperti anak kecil. Seperti mengingatkan makan, melarang naik motor jauh-jauh, keluar sore atau malam meskipun hanya untuk mem-print tugas kampus dan masih banyak lagi. Tapi aku percaya banyak sekali hal yang beliau lakukan adalah tak lain untuk kebaikanku semata.

Dulu Bapak berbadan tinggi besar. Sehat. Pekerja keras. Sekarang, beliau sudah kian sepuh. Badannya makin kurus karena usia dan kerja kerasnya untuk keluarga. Aku makin sadar jika belum bisa membalas apa-apa di usia orang tua yang kian menua. Bapak yang dulu amat cekatan, kemarin jatuh saat menebang bambu. Katanya, "Mataku sudah tua. Sudah senja. Tidak seperti dulu." Mendengar ucapan itu, hatiku teriris. Kapan bisa membahagiakan beliau?

Lalu, sore ini kala terbangun dari tidur siang, aku mendapati lampu kamarku telah terang. Bapak telah memperbaikinya. Entah siapa yang memberitahu beliau. Karena setelah kutanya Ibu, beliau tidak melakukannya.

Ngomong-ngomong soal lampu, ada kebiasaan unik saat malam takbiran atau acara besar lain. Bapak biasanya akan mengganti lampu do rumah dengan lampu yang lebih besar dan lebih terang. Bagiku itu sangat menyenangkan. Suasana rumah jadi berbeda dari biasanya. Karena keahlian memperbaiki sesuatu dan memahami ilmu memasang lampu inilah Bapak tidak perlu meminta bantuan orang lain.

Apapun itu, terima kasih, Bapak. Aku mencintaimu. Bahkan meski dirimu bukan orang yang bisa memperbaiki lampu kamar.

Seseorang yang mumpuni tidak terlihat dari banyaknya berbicara saat dalam forum resmi ataupun tidak. Bukan mereka yang menguasai penuh pembicaraan. Melainkan mereka yang berbicara seperlunya. Berbicara saat waktunya datang dan memang harus berbicara.

Aku memiliki seorang teman les. Dia pintar dan cerdas bukan buatan. Memenangi banyak perlombaan olimpiade tingkat propinsi, memperoleh nilai yang gemilang di kelas, dan dinilai mumpuni dalam banyak hal dan mata pelajaran.

Lalu bagaimana pembawaannya sehari-hari? Saat berkumpul dengan yang lain, ia justru lebih banyak diam dan tidak berkomentar. Dengan wajah yang tenang sebetulnya ia tengah berpikir. Ia hanya akan ngelucu bukan berteori yang berat-berat.

---

Ada sebuah nasihat dari Ibnu Khaldun yang berbunyi: "Puncak dari ketinggian adab, adalah engkau diam dan mendengarkan seseorang yang sedang bercerita kepadamu tentang sesuatu yang engkau ketahui dengan baik sementara dia tidak menguasainya."

Dari sini kita bisa memahami, bahwa memang dalam banyak kesempatan, diam justru adalah benar-benar emas.

Belakangan aku mengikuti beberapa event lomba menulis esai, cerpen, puisi dan quotes. Awalnya iseng. Akhirnya makin termotivasi agar bisa menambah wawasan perihal karya sastra (Baca: biar dapet sertifikat, ups). Dan benar, mengikuti event-event seperti itu menambah pembendaharaan kosakata yang aku miliki. 

Tidak semua event aku ikuti. Tapi hampir semua event yang ku ikuti gratis. Saking detailnya, aku mengikuti banyak event yang tidak wajib membeli buku antologi yang terbit. Bukan karena dugaan bahwa mereka hanya ingin merauk keuntungan secara komersial. Namun lebih kepada aku tidak ingin membeli, perihal budget. Memang, membeli sama dengan menghargai karya kita yang telah diterbitkan. Tapi lagi-lagi aku berpikir dua kali untuk membeli, jangan-jangan uang ini lebih berarti jika aku berikan pada Ibi dan sebagainya.

Meski ada juga beberapa event yang dengan amat tiba-tiba mengubah ketentuan lomba untuk  wajib membeli buku antologi hasil lomba yang sudaj diterbitkan. Aku terhenyak. Hingga saat ini ada empat event yang berperilaku demikian. Mengubah ketentuan lomba secara mendadak. Untuk apalagi kalau bukan untuk meraup keuntungan.

Sungguh, it's not fair. Bagiku itu amat tidak adil. Kita seolah dipermainkan. Sampai yang terakhir, naskahku lolos dengan jumlah peserta ribuan. Sedangkan yang dipilih menjadi kontributor hanya sebanyak tiga ratusan. Event ini juga mengubah ketentuan untuk wajib membeli buku beberapa hari usai pengumuman pemenang telah dirilis. Akhirnya aku merelakannya.

Belakangan aku pahami, jika event-event yang diadakan oleh bermacam penerbit itu beberapa adalah penipu. Banyak sekali yang sudah PO namun buku tak kunjung diantar. Padahal uang sudah ditransfer. Lost contact. Alhasil, berandaku dipenuhi dengan keluhan dan permohonan maaf PJ yang tidak tahu menahu.

Meski kita juga perlu hati-hati dengan penerbit yang not fair dalam eventnya, juga penerbit yang ternyata penipu, kita tidak perlu takut dan kecewa. Masih banyak penerbit lain yang masih menjunjung tinggi kejujuran. Ada penerbit yang justri memberikan voucher terbit dengan nominal sekian. Entah benar adanya, aku belum menggunakan hadiah itu. Kalau tidak salah masa berlakunya hampir habis. Tapi aku sepertinya tidak akan menggunakan voucher terbit itu. Lagi-lagi aku bingung sendiri, apa yang membuatku berperilaku seperti itu.

BTW, ini oretan perdana gue (setelah beberapa bulan ga bikin blas). Kalo curhat? Ga usah ditanya, udah hampir tiap ari selama beberapa bulan ntu😫. Ari anak Pamekasan? Hmm, bisa serius ga sih😒 Eh, oke oke😅. Kenapa sih kok sampe gitu? Karena sok ngerasa sibuk, ngerasa males, ngerasa oretan ga berbobot, ngerasa oretan masih seputar curhat ga penting, ngerasa benerin diri aja belum bisa, ngerasa ilmu masih amat kurang, ngerasa niat ga bener, ngerasa ngerasa, ngerasa ngerasa (1) dan seterusnya. Terus ngerasa ngerasa (1) dan seterusnya (1), ngerasa  ngerasa (1) dan seterusnya (2) dan seterusnya. Hehe😅 ampun, ampun😂

Nah itulah yang bikin gue galau. Mau lanjutin nulis apa ngga. Gue bener-bener galau gitu. Salah satunya karena gue masih sangat harus belajar nulis dengan baca dulu banyak-banyak dulu. Gue harus punya wawasan yang mumpuni. Gue juga harus punya niat yang bener. Baru deh gue bisa yang namanya berbagu nasehat lewat tulisan. Gue terus aja mikir. Tapi ga ada aksi. Iya sih gue baca buku, beberapa. Niat uda gue timbang-timbang terus. Sekilo, dua kilo, tiga kilo, hehe. Tapi tetep aja, makin galau, karena gue malah takut buat nulis. Ga kek biasanya, kalo ada ide langsung cus ngetik di hape. Meski geje, curhat, yang penting ga nyeritain yang ga perlu banget buat diceritain. Nah sekarang justru galau karena takut salah dan sebagainya.

Pengen bikin tulisan yang bener-bener pure ga ada curhatnya tapi pesannya nyampe, yang ada puitis-puitisnya juga dan masih banyak lagi pikiran-pikiran lain yang akhirnya ngehantuin banget. Pengen sekeren ini ina inu. Dan sebagainya dan sebagainya. Terus seperti itu selama berhari-hari, berminggu-minggu dan ga kerasa ampe beberapa bulan. Inilah yang justru bikin ide nulis, eh ide curhat maksudnya, malah ketimbun di otak, kacau, macet, puyeng.

Sampe akhirnya kegalauan gue kejawab. Seorang penulis buku best seller, yakni  JK Rowling berkata: "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
Duh, quote itu bener-bener nampar gue. Jadilah diri kita sendiri. Mengalirlah. Belajarlah. Jadi kita yang belajar dan mengalir dengan cara kita selama itu diridloi Allah. Teruslah belajar, khususnya belajar menjadi diri sendiri.

Lalu di hadits pernah juga disampein kalo kudu nyampein ilmu walau cuma seayat. Lebih-lebih barangkali oretan yang gue bikin bakal mampu nasehatin diri gue sendiri. Dan memang seringnya begitu.

Setelah lima abad, akhirnya nonton tipi juga. Nonton talk show Hitam Putih. Tapi aneh, kok tipi gue masih berwarna, ya? Bener, masih warna warni. Eh, yang bener maksud gue tipi Bapak gue. Ato mungkin jadi aneh gini karena nontonnya sambil bikin status? Jadi sebenernya ga bener-bener nonton dengan cara yang bener, meskipun emang bener dinyalain tipinya dengan bener tapi tetep aja ga bener-bener nonton tipi. Karena masih bener-bener fokus ke hape, ngebales chat dengan bener ama bikin status perihal kata bener yang sekarang uda bener-bener nyampe gatau berapa. Dan bikin status ini bener-bener nyita waktu gue. Soalnya bener-bener gue itung kata bener-nya ada berapa biji. Kalo jumlahnya ga bener, harap mafhum dah. Barangkali perhatian gue kealih ama Hitam Putih. Maklum, bener-bener uda lima abad ga nonton tipi. Lima abad kalo uda di konversiin ke waktu akhirat. Coba deh loe konversiin dengan bener. Terus kasih tau gue hasi yang sebener-benernya. Uda ah, bener-bener geje. Bener! Iya, bener.

---

Kalimat sejenis kek di atas sebenarnya beberapa tahun yang lalu gue pake buat latian ngomong. Biar lancar gitu. Cuma iseng aja. Ga tau kenapa awalnya bisa kepikiran buat ngelakuin hal kek gitu. Yang jelas, sekarang pas mau meraktikin itu lagi malah susah, belibet dan banyak salah kata, terus cenderung telmi buat ngarang plus ngerangke katanya. Duh, ga tau deh kenapa. Apa karena dosa. Apa karena pikiran mulai makin banyak cabang-cabangnya. Pokonya, gue inget dan ngeduga, kalo cara itu dulu efektif banget buat latian ngomong. Meskipun sebenernya isinya bisa diganti teks yang lebih bermanfaat sih, biar ngomongnya ga sia-sia.

Hmm, wallahua'lam.

Benar, kesempatan adalah permata. Kesempatan bahkan bisa lebih berharga dari sebuah permata. Kesempatan yang seketika hangus, entah karena kesalahan teknis yang terjadi seketika, di luar dugaan. Atau karena kesalahan diri yang tidak mampu menghabiskan waktu dengan benar.

Benar, waktu yang diberikan pada setiap manusia adalah sama. Yang membedakan adalah cara mereka menghabiskannya. Jangan sampai penyesalan timbul akibat diri yang lebih suka menunggu deadline. Penyelesan yang bisa menjadi pelajaran berguna, atau angin lewat saja.

Iya, jadikan pelajaran. Agar tidak terjadi hal yang sama untuk urusan-urusan penting lainnya. Sebagai contoh kecil: Skripsi.
Kecil kau bilang? Bukankah ini bisa menjadi hajat orang banyak?

Iya, harus selalu ingat. Bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita. Kita ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Kita ingin mampu menjadi salah satu dari tak terhitungnya agen-agen perubahan. Oleh karenanya, semoga waktu dan kesempatan bersedia memeluk keinginan-keinginan itu.

Hmm, sungguh. Menulis saja memang amat mudah, sukar melakukannya. Tapi semoga tulisan mampu mempermudah jemari menuliskan karya dan membuat mata hati terbuka. Karena aku percaya, bukan hanya ucapan, tapi tulisan juga sebuah doa.

Hmm, konsep sederhana ini sebenarnya berlaku untuk berbagai urusan, bukan hanya perihal akademik. Sederhana, tapi 'susah-susah' gampang.💦

Setelah ku ingat-ingat, ternyata aku sudah aneh sejak dulu. Maksudku, bukan aneh dalam artian sebenarnya. Mmm, apa ya? Mungkin lebih kepada ketidaksesuaian. Apanya yang tidak sesuai? Begini. Aku tidak suka Aritmatika tapi dulu masuk Jurusan IPA. Padahal sebenarnya aku teramat ingin menduduki bangku kelas jurusan Bahasa. Tapi kala itu Kakak memberiku dua pilihan; 1. Masuk Jurusan IPA, 2. Masuk Jurusan Agama.

Iya, dulu di MAN Model Bangkalan, sekolah menengah atas tempatku menggali ilmu---terdapat empat jurusan, yakni Jurusan IPA, Jurusan IPS, Jurusan Bahasa dan Jurusan Agama. Akhirnya, dengan agak terpaksa aku memilih masuk ke Jurusan IPA. Meski sebenarnya aku ingin belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman dengan guru-guru yang hebat. Kala itu aku belum begitu paham, jika agama amat penting. Tapi aku beranggapan saat itu bahwa aku tetap akan mendapatkan pelajar agama lebih karena merupakan sebuah Madrasah Aliyah.

Sebelumnya aku juga diberi tiga pilihan ketika aku mengungkapkan ingin melanjutkan di salah satu sekolah favorit, SMA 1 Bangkalan. Saat itu aku juga belum mengerti betapa pentingnya pondasi ilmu agama. Yang aku ketahui aku sedikit merutuki pilihan yang kesemuanya hampir tidak mau aku pilih. Pilihan itu; 1. Melanjutkan pendidikan di MAN Model Bangkalan, 2. Melanjutkan pendidikan swasta dekat rumah dan 3. Tidak usah sekolah. Dengan berat hati aku memilih opsi pertama, yang kini begitu aku syukuri adanya.

Aku rasa aku amat menyukai Bahasa Inggris. Itulah kenapa aku ingin sekali masuk Jurusan Bahasa. Disana tidak hanya mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, namun juga Bahasa Arab dan Bahasa Madura.
Namun ternyata ada kabar baik. Bahwa di Jurusan IPA juga sangat mengedepankan Bahasa Inggris. Kita diharuskan mempelajari ratusan vocabularies tiap minggunya. Meski tak mudah, kabar ini benar-benar membuatku bahagia karena aku menyukai Bahasa Inggris. Tapi sayang, karena tidak aku praktikkan, akhirnya hafalan ratusan vocabularies itu hilang entah kemana.
Aku, kala itu, ingin sekali masuk ke jurusan yang aku inginkan. Karena aku tidak ingin menjadi ikan yang dipaksa untuk terbang. Aku bukan jenis ikan Indosiar.

Tapi ternyata tak sampai disitu. Menjelang pendaftaran kuliah, aku lagi-lagi diberi pilihan. Pertama, kuliah akademi kebidanan di Bangkalan dan kedua, melanjutkan ke jurusan Agribisnis di Universitas Trunojoyo Madura.
Duh, keduanya adalah pilihan yang pelik. Aku tidak menyukai dan tidak mengerti kedua-duanya. Namun pada akhirnya aku memilih pilihan kedua.

Karena pilihan-pilihan pelik yang berseberangan dengan minatku itu, aku jadi terbiasa nyebrang, mencari tantangan. Seperti kini, aku mengambil mata kuliah pilihan yang didominasi dengan aritmatika dan menghitung di semester tujuh ini. Padahal aku amat sadar, jika aku tidak menyukai mata kuliah sejenis itu. Aku merasa tak handal di bidang hitung menghitung, rumus dan angka-angka. Namun karena seringkali kenyataan yang ada berseberangan, aku akhirnya memilih mata kuliah itu. Saat yang lain bilang, "Itu susah," aku jadi makin penasaran seperti apa susahnya.

Mata kuliah semacam itu aku akali dengan senantiasa duduk di bangku paling depan, aku sedikit banyak mudah memahami apa yang diajarkan. Tahukah kau? Ada dua hal yang sering membuat aku terlihat pintar, katanya. Yang pertama, karena aku seringkali tidak menoleh dan bertanya jawaban saat ujian. Aku terlihat khusyuk mengerjakan. Padahal sebenarnya, kebanyakan jawaban aku karang begitu saja, daripada harus menyontek. Kedua, karena aku acapkali terlihat duduk di kursi dan bangku paling depan. Padahal itu hanya karena agar aku mudah memahami pelajaran. Karena aku juga sadar, aku tidak memiliki kemampuan mencatat dan menghitung lebih cepat dari yang lain. Oleh karenanya, duduk di depan seolah memeberiku keajaiban. Meskipun banyak terpelongo, karena duduk di depan jadi banyak juga yang nyantol.

Dari sedikit uraian di atas, yang terbaru adalah saat aku harus menentukan topik skripsi. Aku yang tidak memahami topik perihal perdagangan internasional justru amat ingin mengambil topik tersebut. Awalnya dilanda keraguan. Namun akhirnya dibismillahin ajalah. Semoga Allah memudahkan setiap urusan. Mengingatkan kita senantiasa akan kemudahan yang hanya terletak pada ridlo-Nya. Aamiin.

Aku tidak ingin menjadi ikan yang dipaksa untuk terbang. Karena aku hanya ingin Allah menunjukkan jalan yang terbaik untukku. Jalan orang-orang yang beruntung. Karena tidak ada yang lebih tepat jika sudah Allah yang memilihkan jalan untuk kita.

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Haii haii... *paan sih?
Seperti biasa. Mau curhat, hehe.
Sebelumnya, aku sapa dulu temen setia yang mau nahan mual, nahan panasnya mata, nanya rasa enek, nahan pipis *eh, nahan de-el-el buat baca setiap entri yang aku published di blog ini. Haii, Nicun! Padahal aslinya bisa nyapa langsung gitu. Tapi kan ga papa yak, nyapa lewat sini, biar menuh-menuhin entri, haha (Entri itu jenis menu(h) apa, ya? Ditemuin di resto mana? *dor!) Ngga, kok. Asli pengen nyapa lewat sini. Dan nyapa reader yang lain juga, kalo pun ga sengaja nge-read ini blog. Inget, ga ada yang kebetulan di dunia ini. So, kalo ga sengaja, itu artinya kudu baca selalu, follow, biar bisa baca terus dan nahan-nahan kek Nicun, haha.
Uda ah, langsung curhat aja. Untuk kali ini aku lagi-lagi mau belajar curhat pake bahasa baku yess. Kalo ada yang kurang tepat, monggo dibenahi, dikritiki, tapi jangan digelitiki. Soalnya bisa spontan aku kasih cubitan mematikan. Wedeeeh.

Begin...

Senin jadwal kuliah lumayan full, dari jam sembilan sampai jam lima sore. Ada jeda istirahat pukul sepuluh lewat empat puluh menit sampai pukul satu tepat. Dari hari yang full itu aku berpikir akan mempunyai hari lengang, santai di Hari Selasa, untuk kemudian kuliah lagi di Hari Rabu. Alhasil, saya bertekad menggunakan hari Selasa (10/10/2017) ini untuk benar-benar fokus merampungkan skripsi. Semoga si Black (seperangkat komputer) bisa diajak berkompromi.

Tetapi, manusia hanya pandai merencanakan sesuatu. Yang terjadi hari ini adalah Kes Rèngkes (Beres - beres, Red). Di rumah, ada aku, Bapak dan Mbak. Sedangkan yang lain tengah berkerumul dengan kesibukan masing-masing. Jadilah aku dan Mbak diminta dengan kerelaan hati untuk membantu Bapak beres-beres. Merapikan berupa barang elektronik, membedakan mana yang akan menjadi rongsokan dan dijual dan mana yang masih bisa diservis. Seabrek barang elektronik itu kami keluarkan dari sebuah kamar yang selama ini kami umpamakan sebagai gudang.

Jadi begini, di rumah kami terdapat tujuh kamar dengan bentuk rumah U. Yang ada ditengah, artinya di bagian dasar huruf U ada sebuah kamar. Sedang keenam kamar berhadap-hadapan berejejer kedepan, di sebelah kanan dan kiri kamar tengah. Nah, rumah tua ini cukup luas. Saat aku masih kecil, bagiku sangat luas. Namun karena sudah tidak terawat dan usia rumah yang memang sangat senja, akhirnya tiga kamar di timur tidak ditempati selayaknya kamar. Lagipula tiga saudaraku telah berkeluarga. Dan beberapa tinggal di kostan karena sedang menjalani studi. Tinggallah Bapak, Ibu, aku, adik, ponakan dan Mbak yang sebentar lagi juga akan menikah dan diboyong suami. Meski begitu kami tidak menempati kamar bagian timur, tapi bagian barat. Alhasil sebuah kamar di bagian timur dijadikan sebagai tempat gudang. Dan dua kamar tidak terpakai dan terawat. Padahal, dalam Islam, kita dianjurkan untuk tidak membuat rumah dengan kamar yang berlebih, semua kamar harus digunakan akan tidak ditempati makhluk astral. Demikian Islam begitu memperhatikan kehidupan para pemeluknya.

Kemudian, dari mana barang-barang elektronik bekas sebanyak itu?

Bapakku, selain bertani, memperbaiki listrik yang korslet, juga mampu menyervis barang-barang elektronik. Itu adalah pekerjaan utama Bapak sejak ia menikahi Ibu. Beliau mempelajarinya secara otodidak. Untuk kemudian bertemu dengan teman sekaligus guru yang makin menambah amunisi ilmu yang beliau punya. Aku sendiri pernah mendapat mata pelajaran mengenai Tehnik Elektro saat duduk di bangku kelas sepuluh Madrasah Aliyah. Aku dibuat pusing tujuh keliling lapangan bola voli oleh pelajaran itu.

Setiap tahun kami membereskan barang elektronik yang telah menumpuk ini. Maklumlah, bisa jadi setiap hari Bapak membawa TV baru (baru dari pelanggan ataupun yang lain maksudnya, kalau TV-nya ya tetap bekas) ke rumah. Apalagi jaman dulu, saat jasa servis ini begitu populer Bapak akan lebih banyak mendapat TV baru pelanggan untuk sekedar diperbaiki, atau diperbaiki dan dijual kembali. Sekarang, meski sudah tergilas perkembangan jaman, jasa ini tetap dicari. Sering banyak TV yang dijual dalam bentuk rusak oleh empunya yang kemudian Bapak servis dan dijual kembali ke orang lain, tentunya. Karena sang empu sudah memiliki TV baru yang lebih bagus dan canggih. Sering juga Bapak membeli TV bekas dan rusak untuk diperbaiki dan dijual---namun ternyata tidak kunjung bisa diperbaiki. Rugi, tapi Bapak terlihat menerima semua risiko dengan lapang. Alhasil inilah yang menjadi salah satu penyebab menumpuknya barang elektronik di rumah.

Meski tak sepopuler dulu, seperti yang sudah ku sampaikan bahwa beberapa orang masih berdatangan ke rumah untuk memperbaiki barang elektroniknya. Dulu, dengan perantara menjadi penyervis elektronik inilah hingga pada akhirnya Bapak mampu menafkahi keluarga dan membangun rumah berkamar tujuh itu. Karena memang, Bapak memulai hidupnya dari nol. Sebenarnya tidak benar-benar nol, karena sebelumnya mereka telah di beri sepetak tanah yang cukup luas dengan sebuah gubuk dari bambu untuk berteduh oleh orang tua Ibu.

Dengan mendengar cerita Ibu, bagiku Bapak adalah orang yang bertanggung jawab, mudah bersyukur, pekerja keras dan tidak mau dikasihani. Butuh kemauan yang kuat hingga akhirnya gubuk itu berubah menjadi sebuah rumah yang cukup besar kala itu. Bapak berpayah-payah mengangkut pasir dan lain-lain agar menghemat biaya yang dialokasikan untuk tenaga kerjanya, alias tukang. Rumah yang menjadi saksi bisu Bapak dan Ibu membesarkan kedelapan anaknya dengan penuh cinta dan kasih.

Kini, rumah itu sudah begitu tua. Tidak hanya barang elektronik yang kita rapikan, kemudian beberapa dijual. Akan tetapi dua kamar lain juga kami bersihkan, sebersih-bersihnya. Satu adalah kamar masa kecil hingga remajaku. Ku pandangi walpaper dinding yang dulu aku buat sendiri. Betapa banyak kenangan yang akhirnya meloncat-loncat dalam benakku. Sedang kamar yang satu lagi adalah kamar Kakak Laki-laki yang kemudian diwariskan ke Mbak. Di dindingnya, masih tertempel kaligrafi yang ia buat sendiri bertahun-tahun silam.

Duh, semua kenangan masa kecil seolah tergambar jelas. Sekarang aku (bisa dikatakan) sudah besar. Menghadapi kenyataan-kenyataan yang mungkin dulu tidak pernah mampu aku terka. Aku ingat, setelah ini aku harus kembali merampungkan skripsi. Salah satu kenyataan (kecil) yang harus aku hadapi. Semoga Allah merahmati. Memudahkan urusan-urusan dunia kita, yang nantinya mampu mengantarkan kita ke rumah terbaik di akhirat kelak. Aamiin.

Dan, kalau semisal skripsiku tidak selesai-selesai (naudzubillahimindzalik), sungguh, jangan salahkan dospem-ku. Semua ada pada diriku, pada tekadku. Aku sampai karena berpikir bahwa kampus adalah akhirat dan rumah adalah dunia. Sebab, saat di kampus aku begitu semangat untuk mengerjakan skripsi, sedang di rumah: ada saja yang harus aku kerjakan selain skripsi, meski hampir tidak pernah nonton TV dan jarang sekali nonton Film apalagi main game seperti saat masih di MTs dulu. Karena itulah, saat di rumah, aku berpikir sedang berada di dunia yang membuat aku lupa akan akhirat (kampus dan skripsi). Naudzubillah, semoga doa-doa mampu menjadi peluru yang bisa membunuh pikiran-pikiran dan perilaku-perilaku yang sia-sia. Semoga kes rèngkes dan lain sebagainya tidak menjadi hal yang sia-sia. Agar suatu hari nanti, aku yang bisa menafkahi dan membangunkan rumah yang nyaman untuk Bapak dan Ibu di dunia dan akhirat. Akhir kalimat, semoga Allah mudahkan. Rabbishrahli shadri wa yassirli amri wahlul uqdatammil lisani yafqahu qauli.

Abdullah Bin Umar; Orangnya lembut, pemanah ulung, ahli ilmu, tawaddu' dan muda. Ia adalah salah satu sahabat nabi yang sholeh dan patut menjadi idola kita. Ketika ditanya apa keinginan terbesarnya dalam hidup, dengan sepenuh hati beliau menjawab; Aku ingin masuk surga.

Jaman sudah banyak berubah. Namun semoga kita akan tetap menjadi orang muslim yang tidak lupa dengan nilai-nilai fitrah. Hanya karena tergerus oleh modernisasi, kita bisa bebas memilih siapa idola kita yang pada akhirnya sedikit banyak mempengaruhi perilaku kita selama hidup dunia. Lalu hasilnya akan kita petik di akhirat.

Selama hiburan yang menjadi pernak pernik dalam kehidupan kita mubah, maka tidak masalah saja. Menyanyikan lagu Dangdut, menonton pertandingan bola, menyaksikan konser, dan sebagainya. Yang perlu digarisbawahi adalah tidak berlebihan. Mengidolakan mereka mati-matian, menjerit-jerit, tak sungkan mengeluarkan sumpah serapah, dan perilaku tidak terpuji lainnya.  Sama halnya saat kita mengidolakan seseorang, seperti artis, youtubers, selebgram, dan lain-lain. Jangan berlebihan. Selama kita benar-benar memahami dengan baik siapa idola yang kita pilih.

Kenapa kita perlu memilih dengan baik siapa idola kita? Karena Rasul Saw. bersabda bahwa kelak di akhirat kita akan bersama orang yang menjadi idola kita. Entah itu di Surga atapun (Naudzubillah) Neraka. Maka, perbanyaklah idola dari golongan orang-orang yang sholeh. Cintailah mereka karena Allah. Sebab kelak, insyaaAllah, kita akan bersama mereka. 

Sayangnya, kadangkala banyak dari kita yang seringkali gengsi untuk belajar ilmu agama. Lebih baik mengerahkan energi, materi dan perasaan untuk sekedar mengetahui lebih dalam dan lebih jauh lagi idola semu kita---para aktor manca negara, personil squad, rela stalker berjam-jam, follow dengan beberapa akun yang berbeda dan lain-lain---daripada mempelajari sejarah peradaban dan tokoh-tokoh Islam yang sebenarnya jauh lebih luar biasa. Tokoh-tokoh cendekiawan, para sahabat (seperti Abdullah bin Umar dan lain-lain). Mereka tokoh-tokoh sholeh yang menjadikan dunia sebagai target antara untuk mencapai akhirat sebagai target akhir. Sayang, kadang kala kita pura-pura lupa dengan hal ini. Aku pun---begitu. Astagfirullahal'adzim.

Ini adalah sedikit materi yang saya ingat pada seminar motivasi bersama Ahmad Fuadi, penerima 11 beasiswa luar negeri dan berkeliling dunia (5 benua 50 negara) secara gratis----tadi (8 Oktober 2017) di Lt. 10 Rektorat Universitas Trunojoyo Madura dengan tema Anak Rantau Istimewa Lintasi Khatulistiwa.

Kemudian kata 'Khatulistiwa' diganti dengan Benua, sesuai saran beliau.

"Saya dulu berpikir saya adalah orang pertama, anak pesantren dari kampung yang kemudian bisa keluar negeri, dapat beasiswa gratis. Namun ternyata telah banyak alumni gontor yang lebih dair saya, tapi banyak yang tidak menulisnya. Benar, tulisan mampu menembus batas benua. Teruslah belajar," jelasnya.

Tips 1(Menulis):

1. Niat yang benar, untuk beribadah.
2. Menulis tema yang disuka, hingga jari tidak bisa berhenti.
3. Melakukan riset, agar tulisan bisa detail dan kongkret.
4. Jangan terlalu memikirkan keilmiahan kata yang digunakan.
5. Komitmen/konsisten latihan.
6. Bergantung pada Allah dan diri sendiri, bukan pada orang lain.
7. Tulis dari sekarang! "Kalian cicil dari sekarang. Saya menulis 300 halaman dalam 1 tahun, saya cicil, saya lakukan riset, pulang kampung, dan lain-lain," ucap beliau.

"Penumpas rasa malas, bosan dan ide yang macet adalah niat dan tekad yang kuat lagi benar," tambah beliau diakhir ceramah.

Tips 2 (Beasiswa):

1. Lebihkah usaha dibanding orang lain, usaha di atas rata-rata.
2. Temukan role model, seperti Ahmad Fuadi yang makin terinspirasi oleh pamannya yang memperoleh beasiswa ke Swedia tahun 70-an.
3. Carilah informasi beasiswa sebanyak mungkin.
4. Kuasai bahasa asing, karena ini sangat penting. Bahasa adalah kunci untuk menjelajah dunia.
5. Mimpi adalah ruang yang mendahului kenyataan. Jadi jangan pernah meremehkan sebuah mimpi hanya karena mimpi itu terlampau besar.
6. Perbanyak sedekah.
7. Kemanapun kita merantau, pada akhirnya kita akan kembali, bermuara dan mengabdi untuk Indonesia, mengabdi untuk agama, menjadi hamba Allah.

Tidak hanya novel baru berjudul Anak Rantau, namun ucap beliau, akan segera tayang film kedua dari adaptasi novelnya yang berjudul Ranah 3 Warna. Ini menunjukkan betapa produktifnya beliau, betapa kemudahan demi kemudahan usai berlelah-lelah kini mulai beliau tuai tiada henti. Semua karena ketaqwaan, keyakinan, doa dan usaha.

"Tips dan motivasi ini hanya berlaku beberapa saat. Beliau hanya membantu menyalakan lilin-lilin semangat yang ada pada diri kita. Karena itulah, kita sendiri yang bertanggung jawab untuk menjaga motivasi itu tetap nyala," tukasnya lagi.

Terima kasih, Ustadz...

Sebenarnya sapaan akrab beliau adalah Bang Fuadi. Itu sih setahuku. Tapi bertahun-tahun yang lalu, semenjak aku menamatkan trilogi novel beliau, aku sepakat dengan diriku sendiri, bahwa beliau adalah seorang Ustadz, seorang guru.

Terima kasih, Ustadz...

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya.

Banyak (Jamak=lebih dari satu) temen yang ngirim info lomba nulis. Banyak juga yang nyuruh buat sambil nulis buku. Yang satu bilang, "perihal pertanian", yang lain bilang: "urband legend, kamu pasti bisa," dan lain-lain.
Bahkan pernah dapet pesan lucu dari temen PKL, "Mbak, kalo uda jadi penulis jangan lupain saya, ya."

Aku sendiri hanya bisa terpelongo, bertanya-tanya. Benarkah aku bisa 'menulis'? Sedang aku selalu berpikir bahwa aku nothing. Aku sebenarnya tidak semudah yang mereka terka. Aku tidak selihai yang mereka duga. Karena pikiran semacam ini akhirnya banyak event yang telah aku jadwalkan jauh-jauh hari dengan gampang aku lepas. Bagiku, jangan-jangan aku hanya berburu sertifikat.
Orang boleh berpikir bahwa ia nothing tapi yang tidak boleh ia lupa adalah bahwa setiap orang itu spesial dan mempunyai something.

Sebenarnya kita bisa becita-cita menjadi apapun, dengan rahmat Allah. Dengan-Nya segalanya benar-benar mudah. Tapi yang menjadi pertanyaanku, benarkah Allah sudi memberikan rahmat padaku, si Pendosa.

Hmm... Perlu diingat, tak baik jika orang beriman putus asa dari hidayah dan rahmat Allah. Semoga aku menjadi bagian dari orang-orang yang tidak putus mengharap rahmat Allah. Karena tidak ada yang lebih indah dan mudah menggapai impian berkat bimbingan dari-Nya.
Bagiku, semua orang bisa menjadi penulis. Yang sulit adalah menjadi seorang penulis yang berkarakter, bermanfaat. Lain waktu akan aku sampaikan mengapa aku berkata demikian.

Sungguh, aku tidak butuh pujian, akan tetapi doa. Karena pujian membuat mimpiku makin jauh. Sedang doa membuat kebaikan Tuhan terbuka dan tak dapat disangka-sangka, memudahkan jemari lincah diatas qwerty seolah menari. Doa akan kembali kepada yang melantunkan. Karenanya, berdoa seperti menanam benih kebaikan yang pada masanya akan kita tuai untuk diri kita sendiri.

Dalam tulisan ini terlihat betul pergolakan batin yang aku alami. Akibatnya, ide macet, malas, banyak deadline yang kacau dan sebagainya.

Akhir paragraf, semoga kita lekas dianugerahi niat yang tulus lagi lurus, semangat, dan kemudahan meraih rahmat-Nya. Karena hanya dengan kebaikan Tuhanlah hal-hal demikian mampu terjadi.


Sajak untuk Anakku Kelak

Oleh: Lutfiyah

Nak, Ibu tak masalah kau tidak ahli Matematika
Asal kau tidak pernah lupa sholat yang lima

Nak, Ibu tak masalah kau tidak ahli di bidang IT
Asal kau pandai mengaji

Nak, sungguh, Ibu tak masalah jika kau tidak bergelar sama sekali
Asal kau memliki akhlak setinggi gunung Fuji

Bangkalan, 10 Sep 17

---

Sajak itu telah saya posting beberapa minggu yang lalu di WhatsApp. Dan menuai beberapa komentar. Salah satu yang masih terngiang di benak saya adalah: "Kalo anaknya cuma bisa ngaji sama sholat, ya bakal gampang dibodo-bodoin orang, dong."
Saya tersenyum. Orang itu mungkin belum memahami maksud saya dari sajak tersebut. Saya mafhum. Sedang saya secara tidak sengaja angkuh, merasa bahwa saya memahami makna sajak itu dengan baik. Bisa jadi karena saya yang membuat sajak dengan tatanan kalimat amat sederhana itu, jadi saya merasa telah memahami maksudnya. Padahal maksud saya, jika memang benar pemahamannya, maka pasti itu semata-mata dari Allah. Jika salah, maka memang saya hanyalah pendosa dan sering berbuat salah.
Adapun saya sebenarnya tidak terlalu yakin apakah tulisan sedemikian rupa bisa dikategorikan sebagai sajak. Hehe.

Baik,

Sholat dan mengaji sebenarnya memiliki makna yang lebih luas dari apa yang kita pahami. Dengan keduanya justru hidup akan semakin tertuntun. Bayangkan, memperbaiki sholat sama dengan memperbaiki hidup. Ini terlepas dari persoalan akhirat mengenai amalan pertama yang ditanya, yakni sholat. Melainkan persoalan hidup di dunia akan terus diperbaiki seiring memperbaiki seorang hamba terhadap sholatnya. Jadi sholat yang saya maksud dalam sajak ini adalah sholat yang sebenar-benarnya, kata Pak Ustadz: mendirikan sholat. Bukan hanya sebagai penggugur kewajiban. Adapun saya, bahkan sangat mungkin belum melakukan sholat semacam itu. Semoga Allah mudahkan.

Kemudian mengaji. Bacalah. Pahamilah. Lalu amalkanlah. Pandai mengaji artinya tidak hanya lihai membaca, namun mampu memahami maknanya lantas mengamalkan. Bukankah al-Qur'an adalah pedoman? Oleh karenanya sudah barang tentu hidup akan terarah. Kita boleh membaca banyak buku ensiklopedia tebal-tebal, buku-buku ilmiah mengagumkan, dan sebagainya. Tetapi, tidak akan ada yang mampu mendamaikan serupa isi al-Qur'an. Belum lagi, sejatinya setiap ilmu telah terkandung di dalamnya sebelum penemuan teknologi muktahir masa kini.

Yang perlu dipahami, bahwa pandai mengaji tidak hanya sebatas membaca, tapi bagaimana seseorang mampu mengamalkan, menyampaikan kebaikan dan lebih indah lagi saat kita diberi kemampuan untuk menghafalkan. Mengamalkan untuk dirinya dan menyampaikan kepada orang lain, dengan hikmah dan mauidhatul hasanah. Lalu, pandai mengaji dalam konteks memahami makna al-Qur'an seringkali membuat seseorang lebih semangat menggali ilmu, ilmu dunia maupun akhirat---dengan tujuan akhirat. Tidakkah kita ingat, jika tujuan hidup kita akhirat, maka dunia akan takluk dan mengikuti?

Lalu akhlak: Hanya karena akhlak berada diakhir, bukan berarti ia tidak penting. Karena ketiganya sama-sama penting. Seseorang yang berakhlakul karimah mampu membuatnya diterima di belahan dunia manapun. Bahkan akhirat. Sebab orang itu mampu mengamalkan akhlak dalam arti luas. Akhlak kepada Tuhannya, akhlak kepada kedua orang tuanya, akhlak kepada guru-gurunya, akhlak kepada teman-temannya, akhlak terhadap tetumbuhan, dan sebagainya-dan sebagainya. Orang boleh menjadi profesor, namun selama ia tidak memahami akhlak kepada mahasiswanya (misal), ia tidak akan berarti apa-apa. Seseorang boleh menjadi penceramah ulung, namun selama ia tidak mengamalkan akhlak kepada anak dan istrinya (misal), ia tidak akan berarti apa-apa. Seperti Malin kaya raya hanya berakhir menjadi seonggok batu karena tidak mengamalkan akhlak yang baik kepada sang ibu--yang jelas-jelas manusia mulia.

Jadi, bukan berarti ilmu IT dan Matematika tidak berguna. Tapi bagaimana kita mampu melihat dari sudut pandang agama. Karena agama mencakup seluruh aspek kehidupan. Banyak sekali orang yang bermanfaat (sukses) yang nyatanya memiliki pondasi agama yang kuat, berkat-Nya.

Tiga poin tadi tidak menutup poin-poin lain. Hanya saja ini dari sedikit apa yang saya pahami. Cukup tiga itu saja dulu. Semoga menjadi pondasi yang mampu mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat. Memang, akan sangat mudah jika hanya ditulis dan dibaca, namun ada kalanya kita mengerjakan sesuatu dari yang termudah dulu, bukan? Bismillah, semoga menjadi doa.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates