Bukan sepenuhnya karena usai mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor, aku akhirnya enggan belajar naik sepeda motor. Padahal adikku sudah mahir mengendarai benda 'ajaib' pada masanya tersebut. Hingga akhirnya saat menjelang lulus dari MA, aku memberanikan diri untuk belajar sendiri. Bertahap, sampai pada hari ini alhamdulillah bisa menyebrang pulau sendiri. Perkara yang mudah, biasa dan bukan sebuah prestasi bagi banyak orang. Terkecuali bagi anak yang kala itu atau bahkan mungkin sampai sekarang, masih gelagapan memacu motor ala pembalap handal. Hehe.
Dari perjalanan kesana-kemari (Aih, seperti sudah berkelana kemana-mana saja), maksudku perjalanan 'formalitas' itu, aku akhirnya jadi belajar satu hal. Tentang mengarungi hidup yang mungkin bisa aku analogikan layaknya mengarungi perjalanan dengan motor (ini disesuaikan dengan kendaraan yang digunakan masing-masing pribadi) ini.
Betapa tidak, orang yang sampai duluan bukan perkara mereka yang start-nya lebih awal atau jarak tujuan yang relatif lebih dekat. Karena tiap orang punya tujuan dan kepentingan yang tidak senada. Ada yang lambat, karena harus membantu orang yang tengah mengalami kecelakaan. Ada yang mempercepat laju karena sudah banyak yang menunggu bantuan. Dan lain sebagainya. (Serupa hidup dengan maut, jodoh, dan lain-lain yang sudah digariskan dan tiba dengan timing dan cara yang beragam).
Di bagian lain, menyetir kendaraan mungkin agaknya seperti menyetir kehidupan. Meleng sedikit, kita bisa tertinggal, didahului, atau bahkan yang paling parah kecelakaaan. Maka seringkali, fokus yang kita alokasikan tidaklah main-main. Apalagi fokus kita untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal kelak, tak terbayang berapa lelah-lillah yang perlu dialokasikan.
Ada mereka yang menikmati perjalanan dengan begitu menghayati setiap masanya. Pelan-pelan berkendara sembari hati-hati memandangi sekitar. Entah melihat peluang lain, atau memang hanya sekadar memaknai dan menyelami setiap detik anugerah yang diberikan.
Hingga maut tiba, hidup di dunia akan terus berjalan. Bukankah baik dari segi keimanan, harta, ilmu, fisik, usia dan apapun itu akan terus dinamis. Tak selamanya kita berada di tempat yang sama. Selama itu pula semoga kita istiqomah untuk tidak bosan meminta.
Karena itulah kita mungkin pernah berada di kondisi amat senang, antusias, ketagihan mengaji berlama-lama dan benci sekali pada syair-syair duniawi, tapi juga pernah di posisi malas membaca kalam ilahi dan malah lihai memencet playlist musik yang hakikatnya tak pernah bisa mewarnai sunyi. Pernah dengan mudah menyerap ilmu karena hati senantiasa direfresh dengan amal kebaikan, tapi juga pernah dalam posisi otak seakan tumpul, susah menyerap pelajaran.
Itulah kenapa dilarang untuk merasa lebih suci dan dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar selalu dipatrikan keimanan pada hati. Atau terus bermimpi besar, karena harta, ilmu dan kebaikan pada diri dan untuk orang lain mampu diusahakan. Pun jangan pernah berputus asa jika diri menjadi amat terhina karena dosa yang menggunung. Sepanjang kita berusaha meremidinya, sungguh, Allah Maha Pengampun.
______
BTW, apa hanya karena aku yang culun saja hingga merasa speed kendaraan mereka yang mengemudi di kota ini (Surabaya) bikin ngos-ngosan. Tapi mau tidak mau seringkali wajib diikuti. Sama seperti kehidupan yang kadang mau tidak mau juga demikian. Padahal ini sudah sekitar lebih dari sepuluh kali kesini. Relatif tak banyak. Jadi mungkin cukup normal kalau pada perjalanan kedua, hampir satu jam lebih aku berkutat di jalan dan tempat yang sama sebab handphone sedang lobat dan aku benar-benar seperti kehilangan petunjuk, meski berulang kali bertanya ke penduduk sekitar. Benar-benar sama seperti kehidupan, kita butuh pedoman sebagai petunjuk agar tidak kelimpungan menjalani hidup yang benar.
Berbicara tentang benar, sebagai orang tua, anak, suami, istri, kakak, adik paman, bibi, dan seterusnya kadang kita tidak menyadari bagaimana seharusnya 'menyetir' dengan benar. Bahwa hanya karena kita lebih tua dan sebaliknya, lebih berpengalaman, (merasa) lebih berilmu dan lebih-lebih lainnya kita kerap tidak mau mendengar mereka yang lebih kanak. Walau yang disampaikan adalah kebenaran dan meski sebenarnya mereka hanya perlu didengar, bukan karena merasa pintar.
Hanya karena gender dan posisi dalam keluarga, kita akan menganggap seharusnya mereka hanya diam dan menurut, tanpa harus ikut andil menentukan pilihannya sendiri. Seolah kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak bisa berjalan ke tempat selain yang diminta sang empu.
Kita juga akan lebih mudah mendikte dan menasehati orang lain, tanpa pernah mengoreksi cara kita atau bahkan tindak tanduk kita sendiri. Saat mereka menyampaikan pendapat, kita malah menyangka sedang didebat. Tak berhak memberikan opsi. Sudah sepantasnya mereka bungkam dan tak pernah bersuara. Sepertinya kita yang paling sempurna, dan satu-satunya yang perlu didengarkan. Tidak hanya itu, perkataan kitalah yang paling benar dan patut dituruti. Sungguh, huruf-hurufnya tak perlu direvisi barang sebiji.
Itu cuma satu sampel di satu lini kehidupan, bahwa kadang kita tidak berada di jalan yang benar melainkan terus merasa benar. Yang bisa terjadi di kantor, sekolah, dimana-mana. Duhai Rabbi, ampuni kami, bimbing kami agar lebih bijak mengemudi. Supaya tidak beranggapan jika apa-apa yang kami kendarai adalah milik pribadi, padahal hakikatnya Engkau yang memiliki.
_______
Pada akhirnya, ada banyak orang yang tak patah arang. Semua dilalui sebagai tempaan untuk beribu balasan kebaikan yang menunggu di depan. Jangan merasa final menganalisis, barangkali banyak kebaikan yang disaksikan dalam kacamata buruk. Maka daripada terus meributkan perilaku orang lain, lebih baik memperbaiki diri untuk senantiasa menjaga nyala semangat menggapai impian. Karena dengan kemampuan (yang bahkan rapuh mendapati perlakuan menyakitkan dari manusia) agaknya impian hanya disematkan bersama kata mustahil. Namun dengan daya dan kekuatan dari Allah tidak akan ada yang muskil.