Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Saya: Mbak, bisa ceritain sedikit gimana bahagianya bisa ngewujudin mimpi pergi ke luar negeri?

Someone: Ke LN sih biasa aja. Hahaha. Malah kadang ngebosenin. Rumah sendiri is better daripada hotel manapun. Tapi enaknya ketemu orang-orang barunya sih, dan networking.

Saya: Bener banget, Mbak. Sebenernya, Indonesia dan rumah sendiri emang ga ada duanya. Tapi ingin saja memperkaya pengetahuan dan pengalaman lewat perjalanan dan penjelajahan. Barangkali, inshaaAllah menjadi jalan untuk menambah ketaqwaan. Hehehe.

---

Jawaban pada percakapan di atas sebenarnya tidak selalu demikian, bergantung pada pribadi, pengalaman dan persepsi orang yang kita tanya. Akan sangat beragam jawaban yang kita jumpai nantinya. Namun percayalah, bagaimanapun jawabannya kita akan selalu bisa memetik pelajaran.
Dari jawaban itu kita jadi diingatkan kembali, bahwa memang Indonesia (Kampung halaman kita) akan selalu ada di hati dan menjadi tempat bermuara setelah pengembaraan yang panjang. Sebab sepandai-pandai kita berbahasa asing, tetaplah kita ini orang Indonesia. Se-lancar-lancar saya berbahasa Inggris, (Kelak, mungkin. Wallahua'lam. Hehe) tetaplah saya ini orang Madura.
Memang, saat di rumah sesekali pertanyaan yang sama muncul samar-samar dalam pikiran, "Mau ke mana lagi? Ini kan sudah enak."
Tapi justeru itu yang membuat diri bisa jadi tidak berkembang. Stuck. Atau bahkan menurun. Karena ada di zona nyaman.
Oleh sebab itu, perlu pindah, perlu menjelajah, agar bermanfaat. Meski menjadi orang yang bermanfaat tidak mesti harus pindah. Meski di Indonesia juga banyak universitas ternama yang tidak diragukan lagi. Meski Indonesia sangat kaya raya (katanya). Ya! Kaya akan sumber daya. Tapi tetap, kita perlu hijrah. Untuk beberapa masa. Mengais ilmu yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Setelah itu kembali ke satu muara: Indonesia. Karena kita tetap Indonesia.

Saya sempat bertanya pada seseorang yang seringkali mendapatkan pencapaian hidup yang luar biasa tentang apa kiat untuk sukses. Salah satu menurutnya adalah membuat rencana hidup, schedule, atau target seminggu, sebulan, enam bulan, setahun, lima tahun dan sepuluh tahun ke depan. Saya mencoba melakukan kiat yang satu itu. Hasilnya, banyak target terbengkalai, schedul berantakan, rencana tidak terealisasikan dsbgnya. Tapi saya mafhum karena saya memang sangat sangat sangat masih kurang berusaha dan berdoa. Saya juga kadang tidak melengkapi impian saya dengan target di tahun kapan  saya akan mencapainya. Menulis memang tidak semudah melakukannya. Pun menulis rencana hidup. Saya ingat apa yang disampaikan Muhammad Nuh (Mantan Mentri Pendidikan), bahwa hidup adalah perencanaan. Saya juga ingat apa yang disampaikan Dewi Nur Aisyah (Awardee LPDP yang prestasinya segudang), bahwa dengan menulis impian, kita telah menyelesaikan separuh ikhtiar. Allahu akbar!

Aku melihat dua sosok manusia dengan karakter yang berbeda. Seseorang yang mempermudah urusan orang lain. Barangkali ia paham bahwa seorang lain---yang ia mudahkan---itu telah memiliki schedule yang saat ditunda beberapa saat atau satu hari saja, maka akan berdampak pada jadwal lain, berantakan. Harus mendesain ulang schedulenya. Bahkan ia tak segan menyemangati dan memberi deadline. Di saat yang sama, aku melihat seseorang yang entah kenapa tidak peduli apakah seorang lain memiliki schedule, deadline atau target dalam hidupnya. Ah, barangkali aku salah lihat saja. Melihat kan bukan hanya dengan mata fisik, tapi juga mata hati. Setiap yang tampak tidak selalu berarti demikian, apalagi hanya berlandaskan persepsi pikiran. Selalu percaya, bahwa Dia yang menggenggam hati setiap manusia. Hmm, lagipula jangan-jangan aku yang perlu memperbaiki diriku, hatiku, cara pandangku.

Kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak. Kita ini seringkali bertindak serupa bocah ingusan. Mudah mengeluh, cengeng, lekas menyerah dll. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang jauh lebih dewasa ketimbang kita. Bagaimana saat kita dihadapkan pada kehidupan sebenarnya sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan? Tak apa, sebelum semuanya terlambat, kita masih punya waktu. Untuk meneladani karakter-karakter hebat orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya orang tua.
Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model hebat di luar sana, di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi bisa dengan mudah kita ketahui keberadaan dan kisahnya. Pun bisa kita ketahui meski mereka telah lama tiada, karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam.

H: Lut, menurutmu aku masih centil, ga?

G: Centil gimana maksudmu?

H: Ya, kalo ama cowo itu gimana? Apa masih suka cerewet, dll?

G: Hehe, akhir-akhir ini kan kita jarang bareng. Jadi aku ga tau gimana-gimananya kamu. Lagian aku ga merhatiin.

H: Menurut sepenglihatanmu aja gimana?

G: Wah, keknya kamu nanya sama orang yang salah deh. Hehe. Aku aja ngenilai diriku blangsak. Gimana mau merhatiin orang coba.

H: Ayo, Lut. Gimana aku yang sekarang menurutmu?

G: Mmm, Iya. Udah amat jauh lebih baik. *siaah, ngenilai orang tapi dirinya? Hehe.

H: *senyum. Iyakah, beneran? Eh, emang kalo kamu gimana. Kok masih nganu ga bener. Gmn caramu bergaul ama cowo?

G: Hehe, lah ya itu. Kek yang uda aku bilang tadi. Masih geje. Iya sih, malu kalo ama temen-temen cowo yang ga akrab. Tapi kalo ama mereka-mereka yang udah aku anggep akrab dari SMP, SMA, temen les, dll---kadang aku bisa bergaul dg rada ngawur. Meskipun ya, hanya sebatas cekakak-cekikikan pas ngumpul, pake VN kalo lagi males ngetik, heboh kalo ketemu, dll---tapi pas aku pikir lagi, hadu, aku bener-bener masih buta agama.

H: Loh emangnya kenapa kalo pake VN, Lut?

G: Hehe, ya ga papa. Ga ada masalah. Cuma aku kadang mikir. Meskipun sedeket apapun temen, mereka kan tetep bukan mahrom.

H: Loh iya ta? Ga boleh?

G: Eh, gimana ya ngejelasinnya. Gini loh, aku aja masih pake VN, tapi itu cuma pemikiranku yang kadang kerap muncul. Selama kita tahu batasannya, mungkin ga papa. Semua kembali kepada orangnya. Ada yang benar-benar wara' ada yang ngga. Kembali ke tingkatan Iman. Lagipula aturannya kan sudah ada, yang penting kita ga bicara dg nada yang lemah lembut dan bermanis-manis ria. *ngeles mulu kek bajaj.

H: Jadi sebenernya gimana cara kita bersikap dan bergaul sama mereka, Lut?

G: OMG. (*macam mana pula menjawab pertanyaan semacam itu, sbb aku sendiri geje dalam pengamalan.) Hehe, sebenernya yang paling tahu gimana kita harusnya bersikap adalah diri kita, hati kita. Konon, caranya adalah dengan cara banyak belajar dan merenung, serta berdoa agar diberi kemudahan untuk mengamalkan dan memperbaiki kualitas diri sbg hamba. Kita tidak akan pernah tahu, apakah iman kita akan bertambah atau berkurang sebelum kita sendiri yang berusaha meraih dan menjaganya. Jangan pula membenci perbedaan (orang yang sepenglihatan kita salah). Sebab barangkali sekarang ia ahli maksiat, tapi kita tidak tahu bbrp waktu kemudian.

H: Mmm... Makasih, ya.

G: Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan, dan menjadikan kita manusia yang haus untuk selalu belajar dan memperbaiki diri.😥

Keterangan:
H: Hinisial
G: Gue

Kadang, kalo kita ngaminin doa orang lain itu sebenernya kita biasa aja. Karna ngerasa itu bukan doa kita. Iya, ngaminin. Tapi sebatas ngaminin. Tapi coba ngaminin dengan amin yang bener-bener ngaminin plus ngerasa di posisi mereka, kepengin banget doanya terkabul. Ngerasa kalo doa yang mereka panjatin itu juga kita panjatin *udah kek poon aja. Pun doa mereka itu pro dengan pendapat kita. Pasti deh, aminnya bakal ga sebatas amin biasa. Tapi amin yang bener-bener ngaminin. Sebab sebenernya, doa yang kita aminin bakal balik ke kita. Oleh karena itu, kuy ngaminin doa orang lain dengan amin yang banget banget banget dari hati. Biar aminnya bisa mengaminkan amin yang pengin diaminin sama pengamen, eh pengamin Hehe *gueje cah. Inti ya saya lagi belajar bagaimanan mengaminkan doa orang lain dengan amin yang bener-bener amin, bukan asal ketik.

"Phârajhâh atèh." Walau bagaimanapun, guru adalah guru. Dosen juga guru. Meskipun kamu telah menentukan tanggal sekian, tetap saja, Allah yang Maha Tahu. Ikuti alur guru. Barangkali mendapat berkah karena beliau telah lama berpuasa. Ingat pesan ibumu, bahwa sesungguhnya pencari ilmu itu orang yang tengah berpuasa. Menahan dan menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan, bukan melulu berpuasa dalam arti sebenarnya. Mereka menempa diri dan menggali ilmu bertahun-tahun.

Lalu bagaimana meraih keberkahan hidup jika pikiranmu selalu picik? Bersihkan hatimu! Kencangkan sabuk pengaman! Hidup usai wisuda nanti masih amat panjang. Ah, semoga kau selalu ingat hadits tentang: perbanyaklah amal sholih seakan-akan kau mati besok dan bekerjalah seakan-akan kau hidup seribu tahun lagi.

---

Duhai Allah, berikanlah umur yang berkah dan panjang kepada orang tua kami,  keluarga kami, dan saudara seiman kami. Lapangkanlah hidup kami dengan iman dan islam yang senantiasa menetap dalam jiwa kami. Letakkanlah dunia di telapak tangan kami, bukan di hati kami. Berikan kami kesabaran agar mampu menyiapkan bekal untuk akhirat kami, tempat yang hakiki. Anugerahilah kami keberkahan hidup.

Dr. Ibrahim Elfiky. Beliau pemilik perusahaan berskala internasional dan meraih 23 gelar diploma dari beberapa lembaga papan atas di bidang MSDM, marketing, manajemen, dll. Seorang yang juga Dirut di sebuah hotel bintang lima ini dijuluki sebagai pembicara terbaik dan berhasil melatih lebih dari 700.000 orang melalui seminar dan kegiatan lain yang di gelar di seluruh dunia dengan tiga bahasa, yakni, Inggris, Prancis dan Arab. Salah satu karyanya adalah sebuah buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul: Terapi Berpikir Positif. Dari buku tersebut, beliau mengajak pembaca untuk senantiasa berprasangka baik pada Allah dan selalu berpikir positif. Sebab Allah memberi sesuai dengan apa yang kita prasangkakan dan yakini. Kekuatan berpikir positif membuat seseorang mampu mengarungi segala bentuk rintangan yang ada dalam kehidupan dan mewujudkan seluruh impian baik yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah sebuah kemustahilan. Beliau juga seolah terus mengingatkan pembaca bahwa ada Dzat yang mencintai kita melebihi apapun dan siapapun, yakni Allah SWT. Dengan membaca buku ini, saya juga melihat sosok Dr. Ibrahim yang dekat dengan Allah. Untuk itu saya jadi sedikit memahami, bahwa Allah akan memudahkan jalan menuju kesuksesan jika kita terus berikhtiar dan hanya berharap dan mendekat kepadaNya. Memahami penyampaian ilmu yang dilakukan dengan arif nan bijak, seketika membuat saya terhenyak dan kian penasaran dengan Rasul kita, Muhammad SAW. Rindu dengan manusia pilihan, yang sudah tidak perlu dijabarkan keahliannya. Allahumma sholli 'ala sayyidina muhammad!

---

Saya, Lutfiyah. Belum memiliki perusahaan, hotel bintang lima, juga gelar. Belum menjadi pembicara handal karena berbicara saat presentasi kelas saja masih belepotan, meski dalam bahasa Indonesia. Dengan segala hal yang belum saya miliki itu, kerap timbul untuk tidak update status di sosial media manapun kecuali ia bermanfaat. Bahkan, berhenti surfing di media sosial. Menurut saya, atas ijin Allah dan kemauan keras saya, saya amat berhasil menerapkannya pada IG, FB, BBM dan twitter (setiap orang mempunyai pilihan; sosmed untuk hiburan, jualan, dll). Tapi keingingan untuk selalu menasehati diri dan banyak orang kerap timbul. Akhirnya, saya aktif di WA dengan fitur barunya yang bisa mengupdate status. Meski kerap kali banyak postingan tidak jelas dan tidak penting yang saya bagikan, saya kerap berusaha membubuhkan pesan dan semangat di dalamnya. Itu (insyaAllah) didasari atas kecintaan saya karena Allah pada mereka, para pembaca status. Karena saya menyadari dan percaya jika orang sholih dan mushlih itu berbeda. Bagi saya, saya bukan keduanya. Karena memang, semua yang saya lakukan masih dengan keadaan diri yang bergelimangan kekurangan. Semoga Allah mengampuni setiap kekhilafan. Dan menjadikan kita hamba yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan. Aamiin.🍃

Menangis bukan berarti kita lemah atau rapuh. Justru dengan menangis kadang kala berarti bahwa kita telah menyuarakan kekuatan. Sebab tangisan bisa menjadi simbol kekuatan.

Menangis acapkali merupakan bentuk refleksi karena tidak sanggup meluapkan kemarahan, juga hati yang ingin memberontak kebatilan, atau ketidakpercayaan terhadap kenyataan pahit. Misalnya, seseorang yang begitu baik dimata kita justru berkhianat. Dan lain sebagainya.

Tak apa, menangislah. Setelah itu jadilah lebih kuat. Lalu dengan kekuatan itu kau akan lebih tegar mengarungi hidup. Sebab menangis adalah respon yang alamiah. Usainya, bersegeralah bangkit!

---

Hanya karena saya menulis catatan ini, bukan berarti saya sedang, sudah atau akan menangis. Ingat, satu-satunya makhluk yang boleh disu'udzoni ialah setan. Sedang saya adalah manusia tulen. Hehe.

Sejak kecil ada beberapa hal yang membuatku secara alamiah merinding, seperti; mendengar orang membaca puisi, mendengar lagu kebangsaan, dan tentunya kala mendengar orang mengaji, dll. Di TV, Radio, dll. Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku tidak merinding mendengar seseorang berpuisi. Entahlah.

Selain itu, secara alamiah kita sebagai manusia juga bisa merespon hal lain dengan merinding. Seperti saat menonton film, membaca novel, mendengar cerita dan lain-lain. Apalagi kalau filmnya horor, novel bergenre horor dan bercerita horor. Hehe. Ya iyalah.

Beberapa perdebatan, eh maksud saya, pendapat tentang tidak berfaedahnya sesuatu yang horor kerap mengemuka dan bisa menjadi pertimbangan untuk kita agar bijak memilih hiburan. Sebab banyak yang bilang jika yang demikian adalah perbuatan yang sia-sia. Sebab nyatanya makhluk halus sebagai makhluk ghaib memang benar ada dan hidup berdampingan. Meski begitu, mungkin tidak ada gunanya mengulik mereka hanya untuk memenuhi rasa penasaran. Kecuali untuk mengambil pelajaran.

Bagi saya novel, cerpen dll yang bergenre horor tidak selalu negatif. Setiap orang memiliki seni sendiri untuk menyelipkan kebaikan lewat karya. Saya sendiri belum pernah membaca novel bergenre horor sih. Hehe.

Pun dulu saya tidak suka novel bergenre romance. Sebab saya lebih suka novel inspiratif yang menurut saya lebih banyak manfaatnya, selain itu saat membaca yang demikian saya sangat bersemangat. Namun setelah baca salah satu karya Tere Liye, saya jadi punya pandangan lain tentang novel romance. (Hehe, jadi seperti mempromosikan, ya.) Banyak kebaikan yang beliau tanamkan disana, dimana-mana. Dan beberapa penulis lain yang justru handal mengambing sudut pandang romance dengan taburan nilai dimana-mana.

Akhirnya saya belajar, bahwa sebelum menghakimi sesuatu saya perlu memahami lebih jauh dulu. Perlu berpikir jika pengetahuan masih amat terbatas, untuk itulah penting mencari tahu. Juga, bahwa yang terlihat sama tidak selalu persis isinya.
Lagipula, sebenarnya kadangkala bukan tentang yang paling 'wah' atau paling 'benar' karena ini hanya perihal sudut pandang, kreativitas dan pilihan. Akan ada banyak cara untuk berkarya dan menjadi manusia yang berguna.

"Kau mungkin sudah gila, Nak. Jika kau telah mengaku beriman, tapi tak ingin diuji."

"Sungguh, tidak demikian. Aku hanya ingin bertanya: sedang diuji atau tengah diperingati?"

"Lebih baik kau berpikir, jika kau sedang diperingati. Sebab dengan begitu kau akan sadar dengan kekurangan diri. Lagipula, percayalah. Allah akan menimbang kebaikan dan kesalahan apapun meski hanya sebesar biji sawi."

"Anda benar. Hidup bukan melulu tentang menghitung kesalahan, tapi bergerak memperbaiki."

Siti: Busyeeeet. Loe kalo bikin status udah kayak tabrakan, beruntun.

Gue: Lah inilah gue. Mau gimana lagi coba. Ga suka? Yaudah. Dimute aja. Eh, tapi kabar baiknya gue udah ga kecanduan update dan stalking di FB, IG, dll. Akhirnya kabar buruknya adalah jadi Blog ngikut ga update. Hehe. Anyway gue punya pengertian beda perihal status. Kalo makenya manfaat dan ga berlebihan kek gue (hehe) why not. Manfaat: buat jualan, nambah wawasan dan pengetahuan, ngibur orang, iseng yang ga ngerugiin (tapi kadang buang waktu juga sih, wkwk), dll.

Siti: Hmm, gitu. Kalo perihal kriteria jodoh loe yang kek gimana?

Gue: Tetep, wkwk. Yang ga pernah update status.

Siti: Itu mah Ujang. Ga pernah sekalipun update status dia.

Gue: Benarkah?😍

Siti: Iyalah, hapenya ga bisa dipake buat internetan soalnya.

Gue: Hadeeee. 😑

Siti: Terus yang kek gimana lagi?

Gue: Yang jarang banget upload foto.

Siti: Lah, iya. Itu Ujang juga!

Gue: Kok bisa? *mulai curiga

Siti: Hapenya ga dilengkapin kamera, wkwk.

Gue: Plis deh, ga lucu. Garing.

Siti: yang gimana lagi?

Gue: *males jawab lagi sebenernya. Yang bisa menyuburkan hati yang kerontang, wkwk.

Siti: Wah lagi lagi itu mah Ujang. Lahan Pak Tani aja jadi subur kalo ada dia!

Gue: Itu ujan betewe. 😑

Siti: *Kaboooor. 👣

-----

Hehehe, maaf kalau cerita di atas sangat amat garing dan ga lucu sekali banget. Padahal sebenarnya cuma mau bilang, bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita.

Karena yang baik akan bertemu yang baik pula. Bahasan gampangnya, kalau kita malas bangun malam, dia juga demikian. Kalau kita malas belajar, dia juga demikian. Kalau kita menyerah pada skripsi, dia juga demikian. Kalau kita mudah mengaji, dia juga begitu. Kalau kita pandai menjaga diri, dia juga begitu. Dsbgnya.
Sejatinya jodoh itu diterima bukan dengan apa adanya. Tapi karena memang ada apanya. Oleh karena itu, kita juga harus ada apanya. Sebab semua bisa dilatih, dipelajari dan diperjuangkan. Termasuk menjadi pribadi yang terbaik dari sebelumnya.

Sekali lagi, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Kenyataan yang agak menyakitkan jika melihat diri banyak kekurangan bukan? Sama, aku pun begitu.

Sungguh, pernyataan di atas bukan kata saya. Tapi rangkuman setelah membaca rubrik di majalah ternama bernama Al-Hidayah. Berdasarkan al-Qur'an dan al-Hadits. Kuy berjuang! Karena Allah tapi, bukan jodoh. Hmm. 😗

Aku sudah biasa diremehkan. Jadi aku paham bagaimana rasanya diremehkan. Itu yang membuat aku amat takut meremehkan orang lain. Sebab aku pernah merasakannya, diremehkan. Pun kalau aku tidak pernah diremehkan, bagiku perbuatan meremehkan orang lain adalah perbuatan yang tidak terpuji dan patut dijauhi.

Akan menjadi sangat lucu jika orang yang diremehkan justeru meremehkan orang lain. Padahal ia tahu bagaimana rasanya diremehkan. Hanya membuang waktu jika kita menghiraukan orang yang meremehkan. Lebih baik maju, bergerak, hidup bukan untuk membuat mereka terkesan dan agar kita tidak diremehkan. Tapi hidup untuk kebermanfaatan, bukan perihal remeh meremehkan.

Lagipula hakikatnya setiap orang memiliki kelebihan, bagaimana bisa kita meremehkan jika kenyataan dan janji Allah memanglah demikian?

Pun bagus jika kita diremehkan. Dengan begitu kita bisa melangkah, maju ke depan, tanpa ada yang menganggap bahwa kita adalah saingan. Kita bisa bebas berkarya dan melenggang.

Omong-omong tentang saingan, sebenarnya saingan terberat kita adalah diri kita sendiri. Berperang melawan diri sendiri. Diri kita adalah saingan kita. Kalau dalam berwirausaha, tidak ada yang namanya saingan. Yang ada hanyalah mitra. Kata Pak Novianto, mereka yang menganggap dirinya sedang bersaing dengan pengusaha lain hanyalah para kaum kapitalis. Sedang kita adalah mitra. Bekerja sama.

Jadi sungguh aneh tapi nyata jika ada seseorang yang pandai meremehkan orang lain hanya karena terlihat tidak memiliki kemampuan atau bahkan karena sebenarnya menganggap mereka adalah saingan. Sebab yang ada (sekali lagi) adalah bekerja sama untuk sama-sama menciptakan kebermanfaatan.

Aku pernah membaca quote yang mampu membuat ulu hatiku ngilu. "Orang yang bisa menghentikan mimpi kita adalah kita sendiri," kira-kira begitu bunyinya. Orang yang mampu membesarkan atau mengkerdilkan semangat dalam dirimu adalah dirimu sendiri. Sepersekian persen berasal dari luar. Bersyukurlah untuk itu.

Saya pernah mencoba meng-off-kan data handphone selama empat hari. Karena bagi saya, say belum menjadi orang sibuk yang amat tergantung dengan data internat handphone yang harus on setiap hari. Saya pun mencoba terobosan ini untuk mengurangi ketergantungan. Sekaligus sebagai cara saya untuk kembali merefresh pikiran dari informasi apapun dari internet yang kadang menumpuk dalam pikiran.

Alhasil saya banyak dikeluarkan dari grup WhatsApp. Salah satunya grup yang mengharuskan untuk tilawah sekian perhari dan laporan. Sakit sih awalnya. Tapi sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. Saya jadi berpikir, bahwa beramal sebaiknya tidak bergantung dengan apapun, kecuali Allah.

Padahal sebenarnya penasaran seperti apa sistem dan kajiannya. Juga sebagai penyemangat karena merasa memiliki visi yang sama untuk menanam benih kebaikan. Akhirnya setelah kejadian itu saya jadi mikir lagi: Bahwa semangat yang paling ampuh adalah yang berasal dari dalam diri sendiri. Dan untuk mendapatkannya adalah meminta kepada yang Maha Segala.

Terobosan yang saya lakukan beberapa minggu yang lalu ini memiliki beberapa pesan moral. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa jangan pernah sekali-kali bergantung dengan sesuatu, kecuali Allah Swt. Serta jangan lupa untik menikmati hidup di dunia nyata jika di dunia maya belum perlu-perlu amat. Hehe. Setiap orang mempunyai pilihan dan alasan. Dan sata yakin, setiap orang mampu berpikir bijak. Paling tidak setiap dari kita memiki potensi untuk senantiasa berperilaku bijak. Sebab bayi lahir tidak langsung menjadi sosok arif nan bijak. Perlu ditempa dari masa ke masa.

Juga barangkali kita telah merasa amat ketergantungan, janganlah putus harapan untuk terus melatih diri. Handphone acapkali menjadi sesuatu yang merusak pikiran, seperti saat seseorang ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang. Untuk siapapun di sana yang barangkali tengah di posisi itu, janganlah patah arang untuk terus berubah menjadi lebih baik. Selalu yakini dan dengarkan hati nurani.

Beberapa tahun silam kuungkapkan keinginanku untuk menetap di kost. Aku ingin tahu seperti apa organisasi di kampus. Tapi keinginan ini langsung ditolak secara halus; Kau sudah berorganisasi disini, tugasmu hanyalah fokus kuliah. Ungkap seorang anggota keluarga padaku.

Kala itu aku mengerti, dari nadanya, beliau takut aku terpengaruh (padahal aslinya mempengaruhi, hehe *jk). Maka aku menurut saja. Kendati demikian aku akan selalu ingat perkataan Murti; bahwa ia ingin menjadi orang yang terbuka dan berteman dengan siapa saja. Meski memang, aku juga ingat sabda Rasul; jika kita ingin melihat karakter seseorang tengoklah siapa temannya. Seorang bisa wangi karena berteman dengan penjual minyak wangi, dst.

Apapun itu, in shaa Allah, aku bukan tipikal orang yang mudah percaya dengan hasutan, tidak mudah memihak dan sebagainya. Alladzii 'allama bil qalam (eh, ini bener ga sih tulisannya). Allah yang akan selalu menunjukkan jalan yang baik selama kita terus berusaha mendekat padaNya. Karena tidak ada guru yang terbaik ketimbang Dia, dzat Yang Maha Segalanya.

****

Malam ini. Tomato---panggilan untuk adik perempuanku---pulang larut malam usai mengikuti kegiatan organisasi kampus. Seketika hatiku takut. Mungkin perasaan yang sama dan menjadi alasan kenapa dulu aku dilarang. Tapi jika hanya diam, kapan akan berkembang?
Aku merapalkan doa, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga. Semoga Ia terus membimbing adikku di jalan kebaikan.

Apa yang kau pikirkan jika listrik padam? Apa kau akan sedih jika mendapati desamu belum terjamah aliran listrik? Benarkah kegelapan mengingatkan kita pada kematian?

Waktu kecil aku amat penakut. Bagiku listrik padam adalah sebuah mimpi buruk. Karena tentu semua akan berubah menjadi hitam, gelap. Lampu minyak sederhana buatan tangan yang bisa diandalkan sebagai penerangan.

Belum lagi jika saat itu Bapak sedang tidak berada di rumah. Hanya aku, Ibu dan adik-adik. Kami seolah anak-anak itik yang ikut kemanapun induknya pergi kala mati listrik. Kalau sudah begitu, Ibu akan gemas pada kami. Meminta kami untuk lebih sedikit berani.

Kala itu aku tidak pernah berpikir, jika justeru di berbagai belahan di Indonesia, masih banyak desa yang belum terjamah listrik. Mereka biasa belajar hanya ditemani lampu minyak. Tidak merasakan dampak kemerdekaan yang ternayata telah lama ditegakkan. Mereka pasrah dan menerima keadaan yang demikian.

Namun nyatanya ada juga desa yang memang tidak mau terjamah listrik dan terangnya sinar lampu sama sekali. Demi tetap terjaganya adat istiadat di desa itu. Hmm, fakta yang unik. Ketika melihat pemborosan energi dimana-mana.

---

Sejak menginjak bangku perkulianan, kejadian yang aku rasakan justeru berbalik. Aku malah senang kala listrik padam. Karena menyiratkan ketenangan. Meski kadang sebal saat ternyata aku tengah mengerjakan tugas kuliah dengan komputer. Tapi ternyata aku merasa nyaman dengan kegelapan saat listrik padam. Apalagi saat itu bulan dan bintang sedang memancarkan sinarnya. Aku terpana.

Selain itu, saat listrik mati dan tak ada penerangan, aku merasakan kedamaian. Aku seperti beristirahat sebentar, menenangkan pikiran dari kesibukan, merenungi setiap hikmah dari kegelapan dan kesunyian. Dunia dan segala hingar bingarnya seringkali membuat kita lupa bahwa kita kelak, cepat atau lambat akan kembali. Ke alam yang bisa jadi amat gelap tanpa penerangan dari amal yang kita lakukan selama hidup di dunia. Mengingat itu, aku jadi bergidik. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. Semoga setiap kejadian mampu membuat kita mengambil hikmah dan pelajaran.

Karena hidup sudah kepalang nyaman, jadi berasa lupa kejadian menakjubkan dan susah di masa lalu, masa MTs, MA. Masa-masa sekolah yang dulunya pahit dirasakan, justeru kini membuat tersenyum saat diingat.

Kapan-kapan saya ingin menulisnya, meski tentu kisah saya tidak semenakjubkan kisah Andrea Hirata, Dahlan Iskan, Andy F Noya, Ahmad Fuadi yang sampai tidur di ujung kasur teman kostnya, dll.

Setidaknya bisa saya membacanya sendiri kelak. Agar tidak mudah mengeluh dengan hal kecil dan menyerah pada keadaan. Belum lagi, berada di zona nyaman acapkali membuat saya lupa saat berada di masa-masa kesusahan.

Hihi, nganterin Muna yang hendak belajar Penjas pagi buta ini membuat pikiran seperti ini keluar menari-nari. Mengenang setiap kejadian yang seolah baru terjadi kemarin. Kala saya harus pergi pagi buta dan menunggu angkutan yang tidak tentu kapan datang. Berangkat menjelang subuh, hingga mengharuskan saya berhenti sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan kewajiban. Berjalan kaki usai menaiki bus sebab tak ada bus yang berhenti di depan gerbang sekolah. Dan kenangan lainnya.

Memang, sekali lagi, bisa jadi masa seperti itu adalah pengalaman biasa bagi setiap orang. Namun tetap bagi saya pribadi, mengenang kepahitan dengan senyuman adalah cara untuk kembali membangkitkan semangat yang jauh dari keabadian.

Bener kata Pak Novianto, bahwa kita belum komitmen berjualan karena hidup masih di zona nyaman. Makan masih minta ke orang tua, dll. Belum merasa kepepet. Belum merasa benar-benar sendiri untuk berusaha memenuhi dan mencari penghidupan.

Aku juga demikian, jualan kalo lagi mood lagi bagus. Saat mendapatkan untung juga biasa-biasa aja. Biasa dalam artian senang barangnya laku, tapi aku tidam memperhatikan profit, keberlanjutan usaha, dsbgnya. Karena mungkin belum benar-benar mebutuhkan uang.

Sama seperti saat mendapatkan honor menulis sebesar Rp.150.000,_ kala itu. Biasa-biasa aja. Biasa aja dalam artian senang naskah lolos tapi tidak terlalu memperihatikan jika ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan tulisan. Waktu mengirim juga coba-coba karena saran teman. Barangkali tulisannya bisa bermanfaat. Tapi waktu lagi kepepet  butuh uang akhirnya mikir buat segera ngirim naskah, lebih banyak. Dan belum ada yang lolos. Bahkan bisa terbilang lumayan sulit. Hehe bisa jadi karena salah niat. Padahal tulisan bisa membikin perubahan.

Well, uang emang bukan tujuan akhir, melainkan cuma bonus atau bahkan tujuan antara yang mendukung kita untuk melakukan kebaikan sebagai tujuan akhir. Yang perlu digarisbawahi adalah mandiri. Berusaha agar tidak membebani negara, minimal keluarga. Lebih luasnya lagi akan membantu mereka mendapat lapangan kerja, dan atau membantu mereka menjalankan usahanya.

Setelah sedikit berpikir, ternyata kita cuma mau berjualan dan menulis kalau sedang kepepet butuh uang. Jadi mungkin sangat perlu membetulkan niat, agar bisa menjalankan sesuatu dengan tujuan yang lebih besar, yakni kebermanfaatan. Bukan hanya melulu uang dan terjebak dalam zona nyaman.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates