Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Duhai Allah, maafkan kami yang seringkali lupa bahwa Engkau tempat meminta, Maha Kuasa atas segala, Dzat yang menggengam hati manusia, tempat segala pengharapan bermuara.

Maafkan kami yang selalu meributkan masalah dunia, padahal dekat dengan-Mu membuat kemudahan menyala-nyala.

Maafkan kami yang paham bahwa meminta haruslah pada yang punya, tapi kami malah sibuk mengurusi dunia.

Maafkan hati kami yang keras dan tidak bisa menangisi dosa-dosa kami.

Maafkan kami yang sadar buta akan ilmu agama tapi enggan mengaji. Padahal para pendahulu kami adalah orang-orang sholih. Lalu kenapa kami begini?

Maafkan kami yang kerap menghakimi iman saudara kami, padahal kami pun tidak bisa menjamin nasib kami di akhirat nanti.

Maafkan kami yang setiap hari bersholawat, tapi belum mau meneladani akhlak nabi.

Maafkan kami yang mengaku telah beriman tapi tak mau diuji. Bimbinglah kami.

Tetap Seperti Ini

Ada khazanah ilmu di setiap goresan penanya. Pantaslah Mbak Lia bilang kalo karya Kang Abik selalu number uno baginya. Sedang karena aku lebih dulu mengenal tulisan Bang Andis, aku selalu bilang tulisannya yang unggul, bagiku. Ada metafora di setiap baris kalimat bikinannya. Keduanya sama-sama penulis novel yg hebat. Aku mungkin akan berkata, jika bisa saja tulisan Kang Abik lebih unggul kalau aku mengenalnya lebih dulu. Tapi semua sudah tergaris. Aku setia. Toh bagaimanapun mereka memang luar biasa. Pujian semacam apapun tidak akan berpengaruh besar pada orang-orang seperti mereka. Seperti ujar Cak Nun, "Aku akan tetap seperti ini. Meski kalian lambungkan namaku ke atas langit. Hanya hamba.
__________

Mereka Saja Berdoa

Mereka saja berdoa. Praying. Hehe. Apalagi kita? Dan kalo dipikir-pikir kita itu enak. Tinggal berdoa: semoga, semoga, semoga dan siapapun akan berkata: amin, amin, amin. Lalu beruntungnya kita, karena Allah Maha Mendengar segala doa.
__________

Aku Tidak Peduli, Bu

Nak, kalau kata orang sini itu: sekolah pertanian itu untuk apaaaa? Ga penting.
Buk, aku tidak peduli apa kata orang. Ini hidupku. Kita tidak akan pernah bisa melangkah jika takluk dengan hanya mendengarkan perkataan tidak berfaedah dari orang lain.
Setelah itu, masih dengan bubuhan tawa kecil, aku menjelaskan betapa pentingnya pertanian. Ibu terdiam. Mencerna setiap kata. Aku yakin, saat itu kata-kata itu tengah berperang melawan perkataan sampah yang sudah kadung mengendap di pikiran Ibu.
__________

Menantang Maut: Potret Anak Bangsa

Menantang maut menyeberangi derasnya sungai dengan sebuah ban bekas menuju sekolah demi menyambung hak untuk memperoleh pendidikan. Kejadian serupa tidak hanya ada di Sulawesi Selatan. Akan tetapi di banyak daerah dan sudah menjadi rahasia umum. Salah satu buah dari ketidakpedulian. Entah apa yang dilakukan orang-orang pemerintahan. Kalau kita sudah mulai ramai. Barulah mereka turun tangan. Tak berani lagi ongkang-ongkang. Baguslah. Meski kadang aneh. Karena meski jutaan kali permohonan sudah di depan mata. Mereka tak sekalipun mau ambil aksi, bahkan sekadar untuk berbicara.
__________

Sosmed dan Al-Qur'an

Dua hari sudah men-PC 55 orang. Bahkan kadang lebih. Mengingat aku belum jualan, ini adalah angka yang fantastis. Pertanyaannya: sudah me-PC berapa malaikat dengan al-Qur'an? Astaghfirullah.
__________

Penyiar Radio

Saya kira, menyuarakan kebenaran, fakta, aspirasi dan khazanah ilmu lewat dunia pers dengan hikmah dan mauidhatul hasanah adalah salah satu langkah untuk memberikan kontribusi untuk negeri dan membangun resolusi terbesar dalam hidup, yakni kebermanfaatan. InsyaAllah.
__________

Satu Muara

Andai dulu tujuan kami tidak hanya perihal dunia. Beasiswa, gadget, impian, dll. Andai dulu tujuan kami selalu bermuara pada Jannah-Mu. Pastilah kami mudah menjaga istiqomah kami.
Hah? Apa kau bilang? Mudah? Kau kira ketaqwaan selalu berasal dari nyala istiqomah yang tak pernah padam? Kau kira jalannya akan semakin mulus? Bukankah justeru akan licin dan membuatmu terjatuh? Sungguh. Tak apa. Kau bisa mengubah muaranya dari sekarang. Agar jiwa tidak gersang meski bahkan target duniawi banyak terlampaui.
Satu muara yang menciptakan kedamaian hati adalah Dia. Sang Kholik, dzat yang tidak pernah menyakiti, senantiasa menjaga dan setia bersama. Selalu mengarahkan pada jalan-jalan menuju tempat keindahan, keabadian. Menerima kembali meski kita pernah seburuk yang tidak bisa dijelaskan lagi.
__________

Kompetisi

Bagi saya, kompetisi menjadikan kita lebih rendah hati. Selain itu, kompetisi sebagai alat ukur untuk mengetahui dimana posisi kita. Apakah berada di posisi top, middle atau lower. Meski tidak selalu dengan alat itu mengukurnya. Kan sudah ku bilang salah satu? Tapi it doesn't matter kita berada di posisi mana. Yang menjadi matter adalah kalau kita sampai berpikir untuk berhenti belajar.
__________

Guru Itu

Guru itu menurut gue mulia. Itu sih di mata gue. Itulah kenapa gue ga berani meskipun hanya sekedar ngejadiin mereka bahan candaan, atau nama-nama mereka yang diplesetkan. Gue ga berani. Terlepas dari pengalaman pahit gue pas esde sama guru ngaji (lengkapnya bisa dibaca entri diblog sebelumnya), guru menurut gue patut banget dihormati, didoakan, dimuliakan. Meres otak buat rupiah yang ga seberapa. Ups, memang mereka ga pernah berharap rupiah. Mereka hanya ingin berbagi, menjadi penyalur ilmu. Itu saja. Tak ada nominal yang mereka inginkan. Hanya kebermanfaatan.
Guru itu menurut gue adalah salah satu prosfesi terhebat di dunia. Karena menjadi seorang guru haruslah memiliki jiwa yang besar.
__________

Mesin Jahit

Orang yang dengan mesin jait sederhana aja bisa masyaAllah semangatnya. Lah gue dengan mesin jait yang bisa dibilang jauh lebih bagus justeru jago banget nyari alasan. Nyari di laci, rak piring, jalan setapak, emperan toko, pasar becek, dll.
__________

Buanglah Komentar pada Icon Tempat Sampah

A: Kerjain, jangan males-males!
B: Makanya jangan gaya, pilih topik yang gampang-gampang aja!
C: Masak sih sulit? Kan bisa saling copas seh!
Dan komentar lain sampe Z.
Apapun komentarnya, minumnya tetep teh gelas bikinan sendiri. Pun kalo misalnya yang fix yang paling gampang di mata mereka lantas  berkomentar, "Gila. Proposal segampang ini aja lama banget. Kemana aja selama ini," ya gapapa. Tetep, minumnya  teh gelas bikinan sendiri. Bagaimanpun kita berperilaku, akan selalu salah di mata orang lain. So, take it easy, biar nyuci jadi enteng. Toh sudah menargetkan dan berusaha semampunya. Sedang Allah yang menentukan.
__________

Kadal

Nemu kadal di bawah kasurnya Ilul. Gerak-gerak di kaki. Siapa coba yang ga jerit kalo kek gitu. Hade.
Jadi inget kejadian beberapa tahun silam. Pas kelas 4 MI kalo ga salah. Zainul yang jail banget kala itu bawa kecoa apa belalang gitu. Lupa. Gede banget pokoknya. Terus dikasih-kasihin (gatau bahasanya apa, haha) ke depan muka yang cewe-cewe. Dia ngitarin tempat duduk murid cewe. Jadi pas MI barisan tempat duduk cewe cowo kan dipisah. Alhasil mereka pada teriak histeris. Pas nyampe di gue. Gue yang cuma flat aja gitu ekspresinya. Diem doang. Zainul pun 'coni' dan bergumam, "Deh, kamu kok ga takut?"
Padahal aslinya takut dan geli, tapi biar Zainul ga meneruskan aksinya, gue coba cara itu. Dan well, berhasil bikin dia ngebuang serangganya keluar kelas. Barangkali baginya 'permainan' yang bikin bbrp orang jantungan itu uda ga seru lagi. Haha.
__________

Hamba Allah

Kita berjuang untuk bisa menjadi manusia bertaqwa semata-mata bukan karena kita ini anak ustadz, putra kiai, jebolan pesantren, lulusan aliyah, pernah mengenyam pendidikan di tsanawiyah dan sebagainya, dan sebagainya. Sama sekali bukan. Melainkan kita bertaqwa karena kita hamba Allah, Tuhan yang paling mengerti diri kita dan umat Muhammad, sosok yang berakhlaq al-Qur'an. Menyadari dan mengingatkan kembali diri tentang dua kenyataan itu, tidak berlebihan jika kita lantas berguman, "Duhai beruntungnya kita."
__________

Setiap Kita adalah Contoh

Sebenarnya bukan nangis lantaran kata 'kagum' tapi lebih karena mikir, ternyata tiap kita itu jadi contoh. Karena kita bagian keluarga A, sebagai kakak, adik, ortu apalagi dll---maka kita jadi contoh dan potret keluarga (mesk tidak sllu begitu). Karena kita pake kerudung, mau tidak mau kita jadi contoh untuk mereka yang belum berkerudung ataupun non muslim. Karena kita berpendidikan kita pun jadi contoh. Dsbgnya. Maka jangan coreng segala trademark kebaikan hanya karena kita. Ah, apa pula aku ini. Menceramahi seseorang. Lihatlah dirimu! Ngaca! Semangat memperbaiki diri! Hehe.
__________

Status di Sosmed

"Lut, status itu ga penting. Aku lihat kamu bikin banyak banget."
Hehe, ssorang bilang seperti itu padaku. Aku hanya menyengir. Itu juga pendapatku dulu. Sekarang? Kenapa ngga kalo status tidak mengganggu ibadah dan tugas-tugas kita yg lain. Pun barang kali ada secuil pesan yang bisa diambil dari status siapapun. Tentu, akan lebih baik belajar dari buku. Tapi kenapa tidak. Sedikit kontribusi kadangkala mampu mengubah. Pertama mengubah diri, lalu sekitar. Tiap status bisa disimpan untuk kemudian dikembangkan menjadi kalimat, paragraf, berhalaman, lalu buku. Ingat, kita bahkan bisa belajar dari sesuatu yg paling buruk sekalipun.
__________

Orang Sholih

Entahlah, orang-orang sholih seringkali bikin saya mudah mudah menangis. Seperti pas liat Ust. Yusuf Mansur ceramah secara live di TVone dan ulama lain. Bukan hanya isi dan penyampaiannya, tapi membayangkan bagaimana sholihnya beliau-beliau. Pun saat membaca novel ini. Tokoh Fahri yang digambarkan sosok yang teguh iman, lembut hati dan luas pengetahuannya membuat saya mudah menitikkan air mata. Iri. Mereka orang-orang sholih. Dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana sempurnanya akhlak rasulullah. Pantaslah beliau amat dicintai. Laa hawla wa laa quwata illa billah.
__________

Film

Setelah nonton film-film bagus, pertanyaan yang terbesit di dalam pikiran adalah selalu, "Kapan bisa bikin yang sama?" atau paling tidak berusaha membuat kehidupan pribadi (yang nyata) menjadi film yang indah saat diputar kembali kelak di yaumul qiyamah. Ah, selalu tidak habis pikir saat seseorang mampu membuat film yang sarat makna.
__________

Sihir Dajjal

Aku dulu juga berpikir begitu. Selama kita beriman, bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad utusan-Nya, maka akan selamanya kita teguh. Meski Dajjal datang dengan segala sihirnya. Tapi ternyata tidak demikian. Sihir Dajjal benar-benar mampu menyedot semua keyakinan dalam diri, menggiring kita untuk menyekutukan Allah. Sampai-sampai ulama terkemuka mengaku tidak siap apabila dihadapkan dengan makhluk keji dan bengis yang satu itu. Hanya pertolongan Allah, syafaat Rasul dan al-Qur'an yang dapat meneguhkan hati kita. Itulah kenapa kita sangat dianjurkan untuk membaca surah al-Kahf. Maka aduhai, bagaimana pula kita mengandalkan iman yang masih serupa kain pakaian kekinian ini, tipis dan terawang. Wallahua'lam.
__________

Agen Perubahan

Heni, mantan TKI Hongkong yang akhirnya bisa kuliah dengan keringatnya di negeri orang. Tak hanya itu, sepulang dari Hongkong, ia telah membeli 30.000 buku dan membangun komunitas yang sangat berpengaruh. Pendidikan untuk masyarakat prasejahtera. Ya, dia salah satu agen perubahan. Baginya, pendidikan adalah salah satu pemutus rantai kemiskinan. Banyak penghargaan yang telah diraih tidak membuat ia berpuas diri. Ia tetap tulus membangun negeri.
__________

Berkunjung ke MA

Setiap sudut seolah menceritakan kembali tiap adegan. Tempat nyetor vocabularies yang kini bagus untuk spot foto, tempat berdiri saat membayar spp kini dipenuhi piala yang berjejer, cermin di masjid juga masih sama, di depannya ada tulisan: sudah rapikah anda?
Hmm, aku seperti terseret oleh kejadian beberapa tahun silam. Berangkat sebelum subuh karena olahraga, datang telat dan dipulangkan, menjahit seragam mencong sana sini, pelajaran matematika yang sulit dicerna. Karena lebih mudah mencerna sekotak nasi yang dibeli dari kantin sekolah. Sering bawa masakan sendiri jika sedang rajin-rajinnya. Hmm, saksi bisu ternyata tidak bisu. Mereka berbicara. Someday, kalau aku ingin membuat novel artinya aku harus mengunjungi tiap tempat yang pernak aku tapaki. Biar mereka yang mengulang cerita kembali. Ah, apa yang menarik dari hidupku?
__________

Jangan Lupa Teliti

Padahal baru kemaren gue omongin. Sekarang uda kejadian lagi

Jadi tadi beli-beli. Tiga setengah jam kemudian gue iseng liat notanya. Ternyata ada typo. Yang harusnya 600ml ditulis 6000ml.
Hade. Kebayang ngga kalo gue jadi utusan perusahaan yang harus ganti rugi milyaran karena gue ga telitiin lagi? Apalagi kalo kita sendiri yang punya perusahaan. Hehe.

Pertanyaan gue: APA KABAR DENGAN SEMUA NOTA YANG BIASANYA LANGSUNG GUE BUANG? 😅
__________

Ngomongin Future Anak

Gue BTW tabu banget kalo ngomongin masalah pernikahan (kata mbak) saking ga pernah ngomongin ke arah sana disaat teman sebaya gue udah pada nikah. Gue mafhum. Soalnya itu emang bener banget. Gue ga kepikiran. Sampe tahun lalu, yang gue pikirin justru melampaui pernikahan. Gue ga mikirin pernikahannya malah mikirin gimana nanti, apakah gue bisa ngurus dan mendidik anak gue agar lantas menjadi seseorang yang berakhlakul karimah dan menganggap pelajaran di dalam dan di luar sekolah amat berharga ga kek gue dulu, dan sebagainya. Soalnya, sampe sekarang pun yg bisa gue simpulin adalah gue bahkan belum becus "ngebantu" ngurus Ilul. Well done, dia emang bukan anak gue sih. Tapi kan... Ah udah ah, ngigo gue.
__________

Stupidphone?

Ayolah, internet bukan hanya perihal main sosmed, Lut. Bukan cuma tentang berbagi cafe yang tengah kita kunjungi, foto makanan yang lagi anget, dll (Meski sesekali buat hiburan gapapa (kek kamu pernah ke cafe aja. Haha). Yap, that's the key. Cuma bonus. Cuma hiburan. Jadi justeru banyaaaaaaaak hal yang lebih krusial). Jangan sampai kamu hanya memiliki seonggok benda berlabel: STUPIDPHONE.
__________

Jangan Sampai Merugi

Biasanya kalo gue share APAPUN, gue bakal nanya dulu ke diri gue niatnya apaan? Kalo emang udah bener, gue tanya lagi: apa pen diliat, apa cuma pen biar ini itu, dll. Nah kalo uda bener, insyaAllah gue aplot. Tampa terkecuali hal-hal yang cuma buat lucu-lucuan dll. Sebab, innamal a'malu binniyat emang amat sederhana, tapi penjabarannya sungguh dahsyat. Jangan sampai kita begini begitu bukan karena Allah. Rugi. Yaaa, iman kita memang alakadarnya, niat emang kadang tergoda untuk bermanuver. Tapi semoga, Allah selalu mengampuni dan memudahkan kita. Aamiin.
__________

Pendosa

Ya Rabb, maafkan diri yang sok suci, dll ini. Hehe. Sebab hati yang kotor (dosa) lah yang bisa menghambat terwujudnya impian mulia kami.

__________

Inspirator

Kadang suka penasaran. Bagaimana ikhtiarnya? Benar saja. Beasiswa LN, research segudang, dan ke Ka'bah bukan pencapaian yang biasa.
.
.
Iya, Mbak. Beliau kan ontime kalau sholat.
.
.
Allah... Iya, Dek. Aku hampir lupa yang satu itu.
.
.
Dan memperbaiki sholat = memperbaiki hidup. Memperbaiki; bacaan, gerakan, waktu, tempat, cara, dsb.

__________

List Target Kedepan:

1. Kualitas HD (Jadi mungkin ngeditnya uda gapake HP.

2. Bingkainya dari bahan yang ga kepake tapi bener-bener bisa dijual, ga keliatan nyampah (Jadi bikin sendiri, ga perlu beli).

3. Menyerap banyak orang yang punya visi sama, sesuai sama tag line: Art for Change!

__________

Beberapa Orientasi dalam Hidup:

SPIRITUAL, GROWTH, LEARN, COMMITMENT, AND USEFULNESS.

Semoga Allah mudahkan.

__________

Random

"Ya Allah, keras kekeuh banget sih, Ibu. Orang aku pen nyuci piring sendiri masih dibantu."
Dan seolah punya indra keenam, Ibu nyaut persis setelah aku menyelesaikan kalimat yg aku kumandangkan dalam batin itu: "Bukan begitu, biar cepat selesai."

Ah, adegan ini seperti acara FTV geje yang pernah kita tonton ya, haha.

Anyway, aku pen nonton film. Butuh judul film recommended dari kalian (bukan FTV). Sebab bagiku, film adalah sepenggal hal yang bisa bikin kita jago nganalisis sesuatu (meskipun gue ga jago-jago). Kuy, apapun filmnya (Inspiratif, action, nasionalisme, dll). Minumnya tetep...

*lagi-lagi ini beda topik tapi dijadiin satu. Biar hemat slide dan kuota. Etdah, anak bisnis banget kalo kek gini. He.

__________

Tulah

Gue dulu sering ngerasa keganggu kalo denger temen cewe manggil temennya pake sebutan "Mat" di awal. Apalagi kalo temennya itu cewe juga. Gimana ceritanya menurut gue.

Akhirnya mungkin gue kena tulah. Gatau mulai semester berapa gue jadi biasa manggil temen dengan sebutan gitu juga. Temen-temen akrab. Karena itulah gue no comment kalo ada orang yang hobi ngomong, "Nj*r, anj*y, dkk."

Tapi kalo yg ngomong adek gue, gue bakal ngomen, bahkan kadang agak lama. Atas kebiasan itu dia bakal bilang, "Ceramah mulu lu, Mbak."

Padahal ni ya, gue uda berusaha nyampeinnya kek ga ceramah, ga pake amma ba'du dll. Hmm.

Meski dia seringkali ngebantah, tapi justru dia yang sering hapal apa yang pernah gue sampein. Lantas kalimat-kalimat itu ia sampein ulang, nyaris persis. Ke Ibu, Mato, dll. Aneh!

__________

Undangan

Undangan perdana buat gue dari anak S2C. Gue terharu, wkwk. Meski sbnrnya gue ga suka kemana-kemana (adapun kemana-mana maknanya menurut gue sendiri yang kalo dijelasin ga bakal selesai dua jilid buku, hehe.)
__________

Pemuda

Dulu para pemuda mengangkat senjata. Kini para pemuda berjuang meraih juara. Terlepas dari apapun hasilnya, gue ga bisa ngebayangin gimana perjuangan mereka. Keduanya punya tekad yang sama, untuk Indonesia tercinta.
__________

Kenapa?

Posisi Bil Gates sempat digeser oleh Jeff Bezos, pegiat E Commerce. Itulah kenapa, selain ilmu Agama dan Psikologi, Lutfiyah ingin sekali belajar E Commerce.

Wulan Guritno ditanya wartawan, "Kenapa anda berbisnis?"

Ia menjawab, "Karena hidup saya bukan hanya tentang saya. Tapi tentang anak-anak saya. Saya ingin memberikan kehidupan yang nyaman, enak dll pada mereka."

Lutfiyah ditanya dirinya sendiri, "Kenapa kamu ingin jadi miliarder?"

Ia menjawab, "Karena hidup saya bukan hanya tentang saya dan keluarga saya. Tapi tentang kebahagiaan orang banyak. Meski membantu mereka tidak melulu lewat materi. Tapi mereka juga butuh membeli sepatu dll, untuk pendidikan sebagai salah satu langkah pemutus rantai kemiskinan."

#kuyhaveabigdream 🎈

_________

Impian Besar

Impian besar memang bukan tentang kenyataan, sebab ia berawal dari kekuatan pikiran, keyakinan, yang kemudian membentuk perilaku. Dengan otot ssorang mampu mengalahkan orang lain, dengan pikiran yang baik ssorang mampu mengalahkan semua tantangan yang berasal dari luar, orang lain dan dari dalam dirinya.
________

Mudah Bagi Allah

Salah satu mimpiku untuk wanita itu adalah membelikan mesin kue seharga puluhan juta. Hehe. Sulit. Karena bahkan aku belum bekerja. Tapi amat mudah bagi-Nya. Karena jangankan mesin puluhan  juta. Diri ini, dunia dan isinya adalah milik-Nya. Well, sbnrnya ini cuma modus biar diajarin bikin kue. Hehe.
________

Sayyidah Khadijah

2/3 kekayaan kota Mekkah pada eranya adalah milik Khadijah. Tapi bahkan Sayyidah Khadijah mengenakan pakaian dengan 83 tambalan yang salah satunya ditambal menggunakan kulit kayu.
_________

Scholarship for Sholar Hunter

Gue mikir keras. (Hehe, ga keras-keras juga, sih). Apa yang bikin mereka mau ngadain simulasi tes IELTS gratis. Hehe. Ternyata salah satunya mungkin bisa jadi ajang promo tempat lesnya. Hehe. Tp ya ga boleh berburuk sangka juga. Banyak benefit karena ada mereka. Thanks dah. Eh, murah kan ya? Kalo punya, hehe. Coba kalo kita les sendiri, pake hape, buku, ebook, dll. Aplikasi, game, film, dll. Kalo niat bener-bener dengan seabrek teknik dan kiat yang bisa dicari di internet, insyaAllah ga perlu les. Justeru katanya lebih efektif. Butuh kuota, kesungguhan, niat bener, waktu, kesabaran, proses, praktik, latihan, senyuman, dll. Etdah, banyak bener. Bismillah, kita semua bisa. Bukan karena kita hebat. Tapi karena Allah ada! Tar kalo Allah jadiin kita bisa, bikin deh tempat les berscholarship for scholar hunter (berbeasiswa untuk pemburu beasiswa, Red). Aamiin.
________

Selftalk

Beberapa nanya, gimana caranya biar bisa ngomong english lancar. "English!!! Yeay!", gitu. Hehe. Pertanyaan kek gini paling banyak aku dapet pas visit camp.
Aih, mereka nanya ke orang yang ga tepat. Pdhl aku juga masih terbata-bata. Tapi paling tidak uda berani ngomong sepatah dua patah kata lah ya. Hehe. Daripada dulu takut bet. Serem. Susah. Takut dibilang sombong. Ato apalah yang akhirnya cuma bikin bahasa Inggrisku pasif. Ratusan vocab yang dihafal pas SMA (MAN Bangkalan) karena disuruh Sir Wahid (hehe) jadi mubazir. Sebab ga dipraktekin. Beliau keren, tapi akunya aja yang ga peka buat praktik.

Nah, salah satu yang pegang andil mungkin adanya grup ini. Grup yang aku gunakan untuk merekam setiap obrolan (topiknya yang ringan aja; pendidikan, family, dll. Tapi kalo kalian mau yang berat ya ga masalah) berdurasi beberapa menit, hampir saban hari. Grup WhatApp yang aku buat 1,4 tahun lalu, beranggotakan aku seorang. Selftalk. Itu teknik yang aku dapet dari Mrs. Ria, guru ketje pas di tempat les dulu (Access Micro Scholarship Program). Ya, berbicara sendiri, karena ga punya partner. Teknik yang kemudian baru aku praktekkin setelah bertahun-tahun sudah lulus dari sana. Hehe. Karena selain nonton film, dengerin musik, baca dll, kita cuma perlu berlatih ngomong. Speak up. Praktik.

Sejak itu aku kian sadar. Tertampar. Bahwa memang ilmu harus diamalkan. Apalagi bahasa. Praktekkan!

Memang tidak mudah. Akan banyak rintangan, alasan dan -an lain. Tapi percayalah, tekad, semangat dan doa seringkali membuat hal banyak terjadi tanpa diduga-duga.

Oke, baii~

________

Be positive!

Berpikir positif saat terpuruk tidak pernah terasa mudah. Tetapi berpikir negatif saat bagaimanapun tidak pernah mempermudah.
________

Laa hawla wa laa quwata illaa billah

Waktu itu saya telah berusaha keras. Tinggal ttd dan cap jempol Ibu yang kemudian menjadi keputusan terakhir untuk bisa kuliah di Mekkah, beasiswa. Tapi ternyata justru itu yang sulit saya dapatkan. Saya gagal berangkat. Disitulah saya berpikir, jika hasil akhir sebenarnya bukan karena kita telah ber-man jadda wa jada. Tapi karena laa hawla wa laa quwata illaa billah," jelas Paman yang luas pengetahuannya itu. Aku menelan ludah mendengarnya. Di saat yang sama, sebuah pintu wawasan baru mulai terbuka.
________

Memaknai Al-qur'an

Tidak ada yang tahu sampai kapan usia kita. Yuk sayangi keluarga. Tanya kabarnya. Tanya apapun. Meski terlihat remeh, sebenarnya amat berharga. Jangan selalu sibuk dengan investasi yang hanya berorientasi dunia. Aku sedikit paham kenapa beberapa ulama mendukung agar menghafal al-Qur'an. Sebab kala maut menjemput, al-Qur'an adalah investasi berharga. Wallahu'alam.
________

Maut

Kullu nafsin dzaaiqatul maut. Nangis kalo nyaksiin prosesi memandikan, mengkafankan mayit dst. Sebab mikir gimana matiku kelak. Karena setelah dikalkulasi, perbandingan ibadah dan perbuatan sia-sia masih begitu senjang.
Allah.. Anugerahilah kami meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
________

Be your self

Jadi dulu suka sekali baca plus ngeSS status Tere Liye yang memang sudah disetting secara otomatis persekian jam, jadi sangat mungkin status yang sama muncul kembali. Bahkan memang. Itulah kenapa, seringkali hafal. Akibatnya, kala menemukan potongan tulisannya di caption siapapun tanpa menyebutkan Tere Liye sebagai penulis, aku bisa mengenalinya. Ingat, seburuk apapun jika memang karya kita maka tak masalah. Sedang sebaik apapun jika bukan karya kita lantas kita akui, maka itu sangatlah menjadi sebuah masalah.
________

Every single person is unique

Dari pas SD memang kalo mapel yang mengharuskan untuk nyanyi, puisi sama pidato aku bisa. Bisa dalam artian ga malu buat maju, meski cempreng dan ga paham berpuisi dan berpidato yang baik. Tapi satu, kalo disuruh gerak alias joget ato nari. Aduh beneran ga ga ga bisa. Malu malu malu. Makanya kalo liat pentas terus ada yang nari, aku jadi salut deh. Karena beneran emang berawal dr kemauan, keberanian dan sekian persen bakat. Kalo olahraga masih mending. Sedang nari? Aduh, jangan kalo aku, kek robot.
________

Never stop learning

Persediaan kopi gunting abis. Akhirnya bikin kopi racik. Dan aku ga yakin hasilnya enak. Hehe. Ternyata aku ga bisa bikin kopi! Hmm.. Semenjak adalah klinik Tong Fang, eh maksudnya semenjak ada kopi gunting, aku jadi lupa cara bikin kopi racik. Hadee.. Padahal kopi sejatinya diracik bukan digunting. Konon, selera tingkat kepahitan, dll menunjukkan karakter dan kisah hidup si peminum kopi. Omong-omong Bapak tidak berkomentar. Aku anggap itu artinya tidak ada apa-apa kopi racikanku. Nikmat. Haha.
________

It's About Allah

Setelah dipikir-pikir, ternyata memang lebih banyak nulis drpd aksi. Memang sih, semua bisa berawal dari pola pikir, tulisan, ucapan, lantas aksi. Tapi kapan?
Sudah jangan banyak tanya. Semoga Yang Maha Kuasa memudahkan kita, Allah yang Membimbing, agar secepatnya merealisasikan apapun yang menjadi niat-niat suci.
________

Story

Hampir setahun yang lalu. Selfie membuat suasana masih hangat dan bertalu-talu. Sekarang aku paham, kenapa adik-adik di Langsar sering mencubit pipiku. Latarnya di Masjid kala magrib duduk berjibaku.
________

Orang Tua

Petuah mengalir deras dari dua orang tua yang amat aku cintai. Perihal kesehatan. Ah, andai saja mereka tahu bahwa aku bahkan tidak mementingkan sedikitpun bagaimana keadaan diriku melainkan memikirkan kebahagiaan mereka. Sayangnya hanya kau pikirkan, Nak. Bukan dikerjakan. Adapun kau harusnya mengerti, bahwa kebahagiaan mereka adalah kelancaran hidupmu, kebahagiaanmu.
________

Pujian

Pujian itu seperti ujian. Seberapa kuat kau melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karenanya, jangan lupa berhati-hati. Pada pujian, yang seperti ujian.
________

Kemudahan

Aku berdoa kepada Allah: Ya Allah, mudahkanlah kami menggapai impian-impian kami. Lalu nyatanya Allah beri padaku beragam rintangan. Itu artinya, Allah ingin aku berusaha menemukan kemudahan-kemudahan di dalamnya.
________

Menutrisi Hati

Perasaanmu kalo cuma di R? Sakit. Tapi setelah mikir lagi ngapain? Cuma ngabisin energi. Lebih baik terus berpikir positif dan fokus ke kegiatan lain. Menutrisi hati dan pikiran dengan makanan yang baik, bukan dengan mudah sakit hati, mudah membenci, mudah menghakimi, dst. Insya Allah.

________

Renungan

Pernah ga loe seketika ngerasa bersalah sama ortu. Karena ngerasa terlalu fokus sama kepentingan hidup loe sendiri. Loe lupa cara ngemuliain mereka. Iya sih, terkadang loe ngebantu. Tapi pernah ga loe ngerasa loe terlalu egois dan sebenarnya cuma mentingin perasaan loe sendiri. Tanpa mau tahu gimana perasaan dan keingingan mereka. Semua kesibukan loe yang loe pikir tujuan akhirnya buat mereka ternyata justru bikin mereka ga nyaman sama anaknya sendiri. Akhirnya loe dan gue pun perlu mahamin lagi apa sih hakikat kehidupan. Allahuakbar.
________

Taqwa

Ketaqwaan kita itu bukan soal kita di mata kita sendiri, kita di mata ortu, saudara, teman, dan sebagainya. Tapi soal diri kita di mata Allah Swt.
________

Amarah

Akal itu kasar, sedang hati itu lembut. Orang beriman tidak akan takut dengan apapun melainkan Rabbnya. Seseorang mampu dikalahkan dengan kecerdasan, kerendahan hati dan ketenangan. Karena pada hakikatnya orang yang hebat adalah orang yang bisa menahan amarahnya, hawa nafsunya.
________

Dewasa

Bahwa memang merenta itu pasti, akan tetapi mendewasa bergantung pada diri.
________

Buta

Allah, hamba buta akan ilmu. Permudahkanlah hamba, ampunilah. Hamba sadar, ilmu tak hanya sebatas layar proyektor. Juga tak berdefinisi nilai yang tertera di kertas-kertas yang dulu begitu asing. Maka mudahkanlah kami mencapai ilmu-ilmu yang benar.
________

Al-Qur'an

Dalam tiga hari mampu menghafal setengah juz (atas izin Allah) hanya dengan mendengar murottal al-Qur'an. MasyaAllah. Sudah pasti orang tuanya pun sholih dan sholihah ( sholih dan sholihah  tidak melulu berarti seorang hamba sholat sampai berpuluh-puluh rokaat per hari, tapi bisa jadi dari amalan lain yang dilakukan dengan ikhlas dan tidak terputus.) Hmm, lèburrâh. Semoga kita dikaruniai keturunan yang mencintai al-Qur'an (menghafal dan mengamalkan isi al-Qur'an dengan penuh ketulusan). Dimulai dari kita. InsyaAllah.
________

Ikhtiar

Kadang kita sering liat penampilan kece yang durasinya cuma dua menit tapi latiannya butuh berbulan-bulan. Atau tayangan dan jepretan kece badai di National Geography yang perjuangannya pun ga perlu diraguin. Atau tayangan berbobot di sedikit stasiun televisi yang penggarapannya menyita jatah tidur. Atau animasi inspiratif Disney yang idenya sering bikin geleng kepala. Atau lantunan indah bacaan al-Qur'an Nabila yang padahal perlu bertahun-tahun menempa diri dengan belajar. Dan lain-lain.
________

Tunggu apa lagi?

Ga konsisten, usaha gini gini aja, doa gini gini aja. Itulah kenapa hidup kita  ya jadi gini gini aja. Kurang bersemangat menatap masa depan. Salah satunya bisa dilihat dari ketidakkonsistenan kita. Hmm, padahal menjadi bermanfaat adalah hal yang amat membahagiakan. Lebih dari sekadar memperkaya diri. Jauh dari sekedar memenuhi berbagai kebutuhan pribadi. Mulai dari sandang, pangan, dan pernak pernik lain yang seringkali mengarah pada sikap konsumtif dan egois sekali. Ayo buka mata, lihat dunia. Ada keberagaman. Ada yang menunggu uluran tangan. Yang tak selalu berarti materi. Tapi buah dari nurani. Karena hidup bukan melulu perihal diri sendiri. Untuk itu perlu menempa diri agar lebih berisi. Tunggu apa lagi? Kenapa masih berpangku tangan dan berdiam diri!
________

Min haitsu la yahtasib

Apa aku lupa? Bahwa yang paling indah dari menggampai mimpi adalah menggunakan cara Allah. Dengan cara manusia, jalannya akan biasa dan mudah ditebak. Sedang dengan cara-caraNya membuat kita mengalami kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan dan saat meraih impian. Min haitsu la yahtasib.
________

Berlebihan

Apapun yang berlebihan tak baik, atau bisa jadi tak ada faedahnya. Bahkan urusan ibadah. Apalagi perbuatan yang sia-sia.
Duh, Nak. Ramadhan tidak juga mengetuk hatimu?
Bagaimana bisa? Bulan semulia itu.
Biar saja. Semoga doa ini menjadi anak panah yang tidak akan meleset mengenai hatimu, mengganti ketukan yang seringkali kau abaikan.
Kalau saja surga bisa didapat dengan membunuh waktu sia-sia. Maka para pendahulu kita sudah banyak yang melakukannya.
________

Kontras

Di sebuah belahan dunia, seorang bocah mengeluh menyebut nama Tuhannya. Astagfirullah, katanya. Rupanya game over.
Di belahan dunia lain seorang bocah juga menyebut nama Tuhannya. Lebih panjang. Hasbunallah wa ni'mal wakil. Rupanya rudal kembali over.
________

Rindu

Dan kerennya adalah ga adanya satu pun foto alias gambar selfie ataupun wefie Nabi Muhammad SAW. Sehingga kesannya kita emang ditantang untuk memperbaiki akhlak agar kelak dengan rahmat-Nya kita bisa bertemu dengan sosok yang berakhlak al-Qur'an itu. Meluapkan segala rindu yang telah lama menggebu. Efek baca prolog jadi bikin story ini. Baca prolog doang lama bet. Gue kalo baca emang lama, niat mempelajari gitu. Meski loadingnya lama. Eh, semoga makin ngga Ya Allah. Hehe. Karena tulisan adalah doa.
________

Punya Andil

Jadi gue dulu gandrung ama lagu Barat, akhirnya bocah-bocah di rumah pada hafal. Jadi bener, spread love, maka lingkungan sekitar bakal dapet love. Spread dan kebiasaan kita, maka mereka lambat laun terpengaruh. Hmm, itu dulu, yang membuat gue sadar bahwa setiap kita punya andil yang besar buat ngebentuk lingkungan berawal dari diri kita sendiri. Sekarang?
________

Pilihan

Jadi kadang ada banyak orang yang ga mau update apapun, share apapun karena bbrp alasan. Takut riya, dibilang sok, dll dll dll. Padahal sebenernya mau share ya share aja. Berbagi info dan konten yang menurut kita insyaAllah menarik. Lalu berdoa semoga niatnya tetep lurus. Karena kita ga mau pinter sendiri, kita mau pinter bareng-bareng. Baik, setiap orang pilihan dan alasan. Ga papa juga hehe.
_________

Pada Jam Itu

Seperti yang pernah gue bilang. Pada jam tengah malem sampe subuh (asumsinya kita udah bangun tidur, bukan begadang) kita bener-bener ga pengen ke dunia. Segala keinginan dan cita-cita jadi ga semenggebu-gebu di jam lainnya, sering jadi ga pengen apa-apa. Bahkan gue kadang ngerasa diri gue masih kek bocah. Pen sama Ibu Bapak terus. Tapi hei, Men. Kamu juga harus berpikir untuk mandiri.
_________

Ngga Suka yang Ribet

Entah kenapa gue dr kecil emang ga trllu suka dg hal yg di mata gue kerasa ribet. Satu contoh: beberapa hal lumrah di acara wisuda. Menurut gue riweh bgt masih gini, ginu, gina. Sedang gue pengennya simpel aja. Kek rapotan biasa. Hehe.
Baik, emang sebenernya perhelatan kek gitu sbg sayonara, ungkapan terima kasih, memutar kembali perjuangan selama sepersekian jam, dsbg. Lalu brbgai pernak pernik dan prosesi lain adalah barangkali sebagai bentuk perlakuan untuk memuliakan orang yg berilmu. Seperti toga kedodoran yg konon terilhami dr Timur Tengah. Dan lain-lain. Tapi ya tetep aja, gue ngerasa kurang srek dg beberapa hal di dunia ini yang udah dianggep lumrah. Itu sih privasi orang ya mau kek gimana. Eh, ini intinya apa ya kok belibet. Hmm, adapun 'ribet' yang gue maksud sebenernya ga berkonotasi negatif. Melainkan ini hanya soal pendapat dari seorang individu yg kadang suka terlihat menyebalkan karena sering berbeda sendiri ngeliat  bbrp hal. Dulu gue kira sifat gue yg satu itu ga wajar, tapi sekarang gue paham, ternyata di balik perbedaan ada persamaan dan di balik persamaan ada perbedaan. ehe. Anyway bahasan ini cuma bentuk refleksi, bukan cuma wisuda. Tapi banyak hal.

________

Objektif

Aku menilai secara objektif. Dulu aku ga suka sebuah grup boy band yang isinya bocah alias ga suka karya-karyanya karena menurutku terlihat nurutin maunya industri, maunya tv, maunya yang mau. Hehe. Jadi bodo amat ama kualiatas, bobotnya segala macem. Ama apakah bisa ngetrigger anak muda, alias ABG yang notabene jadi penggemarnya menjadi lebih baik apa ngga. Intinya, lagunya perihal cinta-cintaan, hehe. Yah, iya si hidup emang hampa tanpa itu ya. Tapi yang aku maksud bukan begitunya. Apa sih absurd jelasinnya. Hehe, penginnya adalah semoga berkarya tapi tetep mikirin dampak buat orang banyak. Eh, siapalah diriku yang berani-beraninya mendikte?
Ayo deh, kita bikin karya sendiri. Hehe. Lagian, selain pandangan bahwa seringkali satu karya belum menggambarkan karakter orang, juga pandangan bahwa sebenarnya apa yang terjadi dan kita lihat bukan cuma buat kemauan satu orang, tapi banyak yang kemudian membentuk sebuah manajemen----pemahaman bahwa perubahan seringkali ga bakal terjadi kalo kita cuma diem dan menggerutu. Pesan membangun kerap cuma lewat. Terakhir, bener banget kalo kita disarankan main jauh, selain biar ga gampang ngeluh, juga supaya pandangan kita bisa lebih menyeluruh.😗

_______

Luruskan Rindu

Aku tidak mengerti. Rindu itu terbuat dari material apa. Apakah kasih sayang, cinta, atau yang lain? Yang aku tahu, ia sering tiba-tiba bertamu. Lantas menetap begitu lama seolah tak merasa jemu. Aku juga tidak mengerti. Kenapa rindu tak mengenal nama. Barangkali karena memang di dalamnya ada sekian persen kasih sayang, disusul alasan lain yang hingga kini bagiku belum ada penjelasan yang mampu menjawabnya. Ah, paling tidak mereka semua pernah hadir dalam hidupku. Karena jika seketika aku merindukan Acha Septriasa, akan menjadi amat lucu bukan? Hmm, kala rindu menyapa begitu lama, aku hanya mampu merapalkan doa. Seperti saat merindukan orang yang sudah mati, aku membubuhkan surah al-Fatihah dalam lantunan doa itu. Bedanya, untuk yang masih hidup, ia hanyalah sebagai pengantar doa. Lalu perlahan, rindu yang berat itu menjadi ringan. Mengingatkan kembali bahwa ada Yang Maha Segala, yang patut dirindukan setiap saat dan menjadi yang pertama.
________

Hati-hati

Masih dalam zona nyaman. Kau belum tau saat dimana kau akan bertemu banyak orang. Lalu mereka memilili karekter yang beragam. Muka dua, tiga dst dianggap kebiasaan. // Hmm, tetap ingat konsep "yang baik akan bertemu dengan yang baik". Konsep itu bahkan kita pelajari untuk menjahit sebuah baju, dulu di Tabus. Tentu berlangsung hingga kini. Yap! Tidak melulu perihal jodoh, tapi juga keluarga, teman, dan lingkungan lainnya. Maksudnya, jika kita baik maka akan dipertemukan dengan teman-teman yang baik, dsbgnya. Ingat, jangan menilai orang hanya dari car mereka berpakaian. Tak pernah kita bisa menjamin tampilan urakan menandakan ia tak memiliki hati yang tulus dan jiwa yang besar. Baik, mungkin pada beberapa hal kemasan bisa jado tolok ukur, tapi tak selalu, Bung. Jadi berhati-hati dengan yang punya banyak muka. Hehe. Adapun hati-hati adalah berarti kita harus berdoa lebih giat lagi. Aku tidak berkata aku orang baik. Aku hanya berusaha dan belajar menjadi orang baik. Bagaimana dgmu? Kuy belajar beringingan😊
________

Pemahaman

Anugerahilah kami pemahaman-pemahaman yang benar, Ya Rabb. Jadikanlah kami ahli ilmu dan pandai mengamalkan serta mengajak dengan penuh kelembutan nan tulus 🤲🏼
________

Catatan: Semoga gue bisa berhenti bikin story alias status di sosmed. Kalaupun memang ngga bisa berhenti, harapannya adalah semoga bisa berbagi pesan moral yang tersirat maupun tersurat. Meskipun seringkali banyak ketidakjelasan alias geje. Hehe. Mohon doa. Mari saling mendoakan untuk menjadi pribadi dengan ketaqwaan yang kian meninggi. Aamiin.

Kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar. Terima kasih.

28 Maret 2018, hari dimana gue ga pernah mikir sebelumnya bakal ngalamin kecelakaan (kebiasaan nonton stand up comedy pas SMA plus ngeliat gaya Alm. Uje dakwah jadi kek gini: biasa pake kata ganti gue. Hade. Kalo nonton film Arab mungkin ngaji gue bakal fasih ya. Ato nonton film Barat yang udah lulus sensor barangkali bakal bikin speaking gue fluent. Hmm). Vonis menyeramkan dokter bahwa gue bakal cacat, tugas kuliah lagi numpuk dan gue gabisa nulis.

Akhirnya alhamdulillah ngetik pake tangan kiri. Pun pas ujian, sembuh lama dll---bikin gue lumayan mumet. Tapi gue akhirnya bisa santai juga ngadepinnya. Laa hawla wa laa quwata illaa billah. Gue yakin sebulan gue udah bisa kuliah. Dan yah! Bener, bahkan dua minggu kemudian gue kuliah lagi padahal sebenernya belum boleh kemana-mana. Nyampe di kelas gue ngerasa dodol banget, pelajaran banyak ketinggalan. Gabisa nyatet juga. Akhirnya, dapet bulan sabit sudah biasaah hehe.

Udah gitu tiap hari kudu makan kuning telur ayam kampung mentah bulet-bulet. Aduh! Kebayang ngga. Dari dulu gue dipaksa makan itu ats alasan kesehatan tapi ga mau, eh karena pen cepet kuliah lagi akhirnya kepaksa, mau ga mau harus mau. Dll deh ceritanya. Keknya cerita lengkapnya udah gue sampein di entri yang gue post setahun yang lalu karena emang udah lewat setahun lebih kejadiannya. Judul entrinya: Ujian Itu Bernama Fracture.

Well, sekitar hampir tiga bulan yang lalu, tepatnya 13 Maret 2018 adalah hari dimana gue baru nyadar ternyata jarak kampus ke rumah lumayan jauh. Perjalanan berasa lamaaaaaaa banget. Kaga nyampe-nyampe. Gue bener-bener udah dag dig dug. Nyetir sambil setengah bengong dan nangis bikin gue hampir nyerempet pengendara lain. Semua cuplikan di 28 Maret itu bener-bener jelas nampak lagi di benak gue. Dan juga, gue jadi nyadar kalo ternyata gue masih cengeng. Haha.

Anyway, dari kejadian 13 Maret itu gue jadi mikir lagi, 1. Bahwa hidup emang bukan kita yang punya, kita bahkan tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi seperkesian detik kedepan; 2. Cintai keluarga, bukan berhala (maksudnya gadget dkk); 3. Dll (lupa mau nulis apa tadi). Hmm, semoga kecelakaan itu bisa bikin Mbak gue kian bertambah keimanannya. Juga orang-orang disekitar beliau. Termasuk gue sendiri. Aamiin.

Aku menggendong Nuh pergi ke luar rumah. Aku sudah kehabisan akal bagaimana menenangkannya yang menangis mencari sang Ibu. Beliau, Kakak Iparku tengah di rumah merawat Ibunya yang tengah sakit. "Buk...buk...buk..." Begitu terus. Bahkan Nuh menjerit-jerit di akhir kalimat panggilannya. Tak seperti dulu, Nuh kini paham jika malaikat tak bersayapnya itu sedang tak berada di sampingnya.

Aku sudah mencoba bercerita seperti apa yang biasa Mbak Lia lakukan. Meski tidak sekreatif Mbak Lia, Nuh ternyata berhasil terdiam dan mendengarkan cerita. Padahal bahasa dalam cerita hanyaku putar ulang saja. Maklum, usianya belum genap dua tahun. Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian dia merengek kembali, memanggil orang yang setiap hari bersamanya. Disaat itulah aku memutuskan keluar rumah menggendong Nuh yang bobotnya Alhamdulillah bisa jadi ajang untuk fitnes.

Kami pun melihat orang dan hamparan sawah. Nuh berhenti menangis karena lebih memilih menyaksikan para petani yang sibuk menyiangi padi. Salah satu dari mereka justeru menanyakan pada Nuh, "Nuh... Tadi malam kemanaaa? Kok tidak beli Martabak?"
Pertanyaan itu diulang beberapa kali. Nuh hanya diam memperhatikan. Barangkali pikirnya, "Ini orang bicara apa, ya? Oh, kalo Martabak mah aku paham." Eh, Nuhnya kok jadi sunda gitu ya wkwk.

Aku pun hanya mampu menyengir. Meski kerap cerewet, aku sebenarnya seringkali bingung ingin berkomentar apa. Karena sebenarnya aku cenderung introvert dan malas berbicara pada banyak momen. Tapi aku kala itu berusaha membalas dengan tersenyum dan menyengir yang agaknya tidak terlihat juga karena para petani silau dengan Matahari yang seolah ada di belakang kami berdua, aku dan Nuh.
Di bawah sinar mentari yang hangat dan masih menyehatkan dengan angin sepoi nan sejuk, akhirnya Nuh mulai terlelap. Entah kenapa rasanya Nuh makin berat. Haha.

Setelah beberapa menit, aku pulang dengan langkah-langkah kecil agar Nuh tidak terbangun. Melewati pematang sawah, aspal, cericit burung-burung, belalang sembah, semak-semak yang tak jauh dari rumah dan seterusnya. Pelan. Sangat pelan. Tidak sampai-sampai. Nuh kian berat saja. Sementara itu rumah yang sudah ada di pelupuk mata seperti masih membutuhkan waktu yang lama untuk tiba disana.
Daaaaan, saat tiba ingin meletakkan Nuh di kasur, ia akhirnya merengek lagi dan terbangun. Aku pun mengendongnya lagi. Kemudian dia tidur lagi. Ku baringkan di kasur lagi. Dia merengek lagi. Ku gendong lagi. Dan begitu terus seperti kisah yang aku ceritakan pada Nuh sebelumnya, berulang-ulang seperti kaset rusak.
Tidak sampai setengah jam, khirnyaaaaaa Nuh tidak merengek lagi. Tepat pukul 09:45 WIB ia benar-benar tertidur di atas kasur. Aku tidak sempat membenarkan posisi bantal. Karena sudah kepalang meletakkan Nuh dengan posisi nyaman yang membuat ia tetap terlelap. Untung saja ada selimut yang terlipat kotak layaknya bantal, lebih empuk. Nuh juga tidur agak kepinggir. Sebenarnya ngin ku geser tapi khawatir akan bangun. Solusinya aku menjadi penjaga di sampingnya sembari menulis cerita ini.

Dalam hati aku bergumam, "Betapa banyak jasa Ibu, tak terhitung, tak mampu terbalas, tak terkata, indah tak terperi." Kemudian aku mengingat kembali, betapa banyak dosaku pada Ibu, padahal pengorbanannya tidak terhingga. Kasih sayangny tak berujung. Cintanya tak bertepi. Sedang yang aku lakukan hari ini pada Nuh hanyalah setitik kecil dari banyaknya masa dan perjuangan yang Ibu lakukan untukku.
O ya, kalaupun kamu diasuh Nenek, Bibi dll itu artinya sama saja, mereka seperti Ibumu juga. Yang mengasuhmu dengan penuh cinta. Maka mari muliakan mereka :)
Jadi ba'dha magrib gue beli obat ke klinik. Antre bet kek antrean sembako. Gue niatnya mau bilang ke Bidannya kalo gue cuma mo beli obat, siapa tahu bisa duluan. Bentar. (Jangan tanya  apotek dari rumah gue. Jaraknya mayan. Jadi ga boleh kalo kesana pas malem). Tapi nurani gue ngingetin buat nerapin apa yang gue baca di story si Spike sebelum gue berangkat kek klinik: antre, Ndro. Antre. Akhirnya gue pun antre.

Pas uda giliran gue. Gue bilang: mau beli obat, Bu. "Loh, ga ga bilang drtd kalo cuma mau beli obat. Kan bisa duluan," ucap beliau santai. "Hehe, kan antre, Bu," balas gue pada Bidan yang biasanya jarang bicara itu. Di dalam hati gue memekik: "Spiiiiiiiike!"

Gue kemudian pergi ke toko membeli obat nyamuk. Bukan sembuh, nyamuknya justeru tewas. Lantas kenapa namanya obat, ya?

Gue akhirnya pen ngamalin materi siaran yang kemaren gue sampein, dg tema Hari Lingkungan Hidup berhashtag Melawan Polusi Plastik. Gue bilang pada si Mbak: "Mbak, gausah plastik. Ini sudah ada." Gue mengatakannya sembari mengangkat sedikit lebih tinggi plastik berisi obat dari posisi sebelumnya. (sebenernya uda pernah ngamalin kek gitu, tapi udah ga jalan lagi, apalagi lari.)

Di jalan gue mikir. "Loh, kan dua benda itu meski sama-sama bernama obat tapi beda alam dan ga boleh disatuin, ya!" Akhirnya gue memekik lagi: "Spiiiike!"

Belalang sembah nyaut: "Loh emang pengimplementasian kedua juga ada hubungannya dg story?"

Gue: "Ngga, sih. Hehe."

"Dek, aku liat kamu kok beda, ya? Ga histeris atau ngomen apa gitu kek yang lain kalo lihat cowok ganteng. Kenapa, Dek? Hehehe, saya sempat berpikir jangan-jangan kamu ga menyukai pria. Hehehe. Bercanda, Dek." Belum sempat aku berkata, beliau melanjutkan apa yang hendak diungkapkannya: "Oh, ya. Gimana, apa belum ada yang cocok?"

Dan atas pertanyaan-pertanyaan  menukik dan menggelitik dari  Mbak Iparku itu, aku hanya mampu nyengir: "hehehe," tak ada balasan lain. Dia bingung dibuatku.

----

Jadi gini. Aku sebenarnya sama seperti kebanyakan orang. Aku akan sedikit histeris atau paling tidak antusias saat melihat para kaum adam yang diberi anugerah lebih dari segi tampilan. Tapi itu dulu. Saat masih SMP. Seingatku hanya pada masa itu. Pemahaman cetek (sekarang juga tidak menutup kemungkinan masih cetek juga) yang membuat aku berpikir jika seseorang yang tampan, tinggi, putih, manis, dll-lah yang merupakan sosok pasangan yang ideal.

Mmm... tentu, pemikiran semacam itu tak lain juga menjadi salah satu buah dari pengaruh lingkungan luar, seperti tontonan televisi, teman-teman yang mencontohkan hal yang sama, grup boy band yang marak kala itu dan lain sebagainya.

Qadarullah, sejak memasuki bangku sekolah yang lebih tinggi aku menjadi lupa dengan pemahamanku yang dulu. Mungkin karena sibuk mengerjakan tugas SMA yang lumayan juga. Dan lain-lain. Tapi yang jelas, boleh percaya atau tidak: aku sejak saat itu biasa-biasa saja melihat orang yang tampan dan beragam ciri lain yang mendorong kaum hawa untuk tersenyum-senyum lantas histeris dengan teman-temannya, mengagumi. Aku justeru secara ajaib (bagiku, karena awalnya aku juga sama) merasa biasa saja, paling-paling jika ada yang bertanya apa komentarku, aku akan menjawab seadanya untuk menghargai, seperti: oh iya, hehe iya, dan lain-lain. Maksudku, dan lain-lain. Bukan aku menjawab dengan kalimat itu, melainkan bermaksud menjelaskan bahwa ada jawaban lain. Iya, iya, pembaca sudah tahu juga kali. Kamu saja yang ingin memperbanyak paragraf. Hehe, bercanda. Eh, pembaca? Pede sekali dirimu. Haha. Payah.

Oke, kembali ke konten awal.

Aku akan menjawab seadanya untuk menghargai bukan berarti sebenarnya aku tidak menghargai. Tapi lebih karena aku memang merasa biasa-biasa saja dan sama dengan apa yang ingin aku ungkapkan: biasa. Seperti saat mengomentari sesuatu saja, tanpa menaruh kecenderungan yang berlebihan apalagi sampai histeris. Bahkan hampir selalu lidahku kelu dan tabu untuk berkomentar secara gamblang bahwa dia, doi, dodol itu tampan. Well, ya. Setiap orang punya alasan dan pilihan, histeris tak selalu buruk, karena bisa menunjukkan sebuah sikap yang ekspresif. Hmm, hanya soal alasan, perasaan, batasan dan pilihan. Kecuali mengomentari orang yang mengagumkan akhlaknya, prestasinya, dedikasinya, dll maka akan berbeda penekanannya. Aku juga akan secara reflek berdecak untuk itu, lalu kemudian mengingat kembali bahwa laa hawla wa laa quwata illaa billah.

---

Lantas bagaimana pemahamanku yang sekarang? Seperti apa pasangan yang ideal?

Wallahua'lam. Itu yang menjadi jawabanku. Artinya, hanya Allah yang megetahui seperti apa pasangan yang ideal. Sudah, selesai urusan. Selesai tulisan! Sekian dan terima kasih sudah membaca sampai di kalimat ini. Wassalam. Hehe.

[Paan sih, Ndro.]

Eiiits, orang ngambekan tidak disayang Tuhan. Ayo, ayo balik lanjut baca lagi. Haha, maksa!

Jadi begini Roma, Roma Irama, Roma Kelapa, Roma Italia, Roma tempat menghilangkan duka lara. [Itu sih rumah!] Eh, maaf maaf. Baiklah, serius sekarang. Siaaah. Daritadi apa berarti?

Bagiku, pasangan yang ideal adalah dia yang memiliki akhlak yang baik. Titik. Akhlak ini penjabarannya luas dan bermacam-macam. Jalurnya juga demikian. Seperti akhlak kepada Tuhan, akhlak kepada sesama Makhluk dan sebagainya. Itulah kenapa akhlak menurutku menjadi indikator yang paling penting. Meskipun perilaku dan perkataan mampu berdusta, seolah kita ini berakhlak mulia dan hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia (padahal dia yang menutupi setiap aib manusia)----tetap saja, cerminan akhlak yang baik kadangkala memancar begitu saja dari seseorang. Padahal sedikit pun tidak berusaha seseorang itu tunjukkan. Hmm, siapa "dia" yang aku maksud, ya? Laaah, itu hanya gambaran. Bukan sedang menceritakan seseorang. Tapi kalau orang yang mencerminkan akhlak semacam itu kalian pastinya sudah tahu siapa role modelnya? Yaps! Rasulullah. Pastilah. Tapi apalah daya kita (manusia bergelimang dosa ini) mengharap pasangan seperti beliau. Karena selain tidak ada yang sekelas beliau, juga karena siapalah kita? Orang yang fakir ilmu pengetahuan dan penerapan akhlak mulia. Kita? [Kok ngajak-ngajak sih, Ndro]. Hehehe.

Macam mana pula kita ini? Mengharap pasangan dengan banyak kriteria mulia tapi diri malas mengejar kemuliaan dengan memperbaiki akhlak (taqwa dan lain-lain). Wallahua'lam. Selesai urusan. Eh, maksud saya semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa memperkaya pemahaman yang baik lantas dimudahkan dalam pengamalan dan memelihara akhlak yang baik. Memahami hakikat kehidupan. Sebab yang baik untuk yang baik. Yang keji untuk yang keji. Itu sudah janji Allah. Tak bisa ditawar lagi. Barang selapis saja, tak bisa!

Lalu kenapa kita perlu mengutamakan akhlak?

Seperti yang sudah aku sampaikan. Bahwa akhlak itu luaaaaaaas penjelasannya. Saking luasnya aku belum mampu menjelaskan semuanya. Baiklah, akan aku umpamakan beberapa.

Begini, hidup itu kata orang bijak bukan melulu tentang keindahan, tapi bagaimana mengubah kepahitan menjadi indah. Menjalani hidup yang naik turun tantangannya haruslah dengan sosok yang tepat. Jangan sampai saat kita tengah rempong membutuhkan bantuan untuk menenangkan anak yang tengah menangis, si dia justeru asyik bermain gadget. Itu cuma contoh kecil. Contohnya besarnya bisa dipahami dari ungkapan Tere Liye ini: "Jangan mau jika orang lain menyukai kita karena fisik, wajah, harta benda, wah, ini bahaya sekali. Melainkan menyukai kita karena cara berpikir, kemandirian, pemahaman, rasa nyaman, karakter dan hal-hal lain yang menetap di diri kita----walaupun fisik dan harta telah jauh pergi."

Kenapa aku bilang besar? Karena bagiku orang-orang demikian adalah orang-orang yang memiliki hati yang besar. Itu yang membuat kita sering terperangah dan terharu dengan tingkah-tingkah mereka. Seperti yang belum lama ini menjadi viral di sosial media. Seorang pria dari luar negeri yang menunggu tunangannya yang mengalami koma selama bertahun-tahun meski telah diijikan untuk mecari pasangan lain. Perjuangan pria itu kemudian dihadiahi sembuhnya sang kekasih. Mereka pun akhirnya menikah. Atau kisah yang baru-baru ini aku simak, tentang seorang wanita muda yang setia pada suaminya. Awal mulanya keduanya tidak kurang sesuatu apapun dalam artian sehat wal afiat meski tidak kaya raya. Karena sehat itu tak ternilai harganya. Sampai suatu ketita sang suami divonis menderita kanker lidah. Lidahnya harus diamputasi. Tubuhnya yang dulu berisi, kini (maaf) qadarullah hanya tinggal tulang dan kulit yang menutupi. Di saat ekonomi keluarga yang kian memburuk, dan suami yang secara ekonomi tidak atau mungkin bahasa tepatnya belum bisa diharapkan untuk sekarang----wanita muda yang tak lain istrinya itu tetap setia menemani, mengurus setiap kebutuhan, mendukung, meski tak ada tanda-tanda untuk sembuh. Ah, bukankah Allah kadang kala tak perlu memberi tanda dulu untuk memberi sesuatu?

Itulah kenapa aku bilang besar. Laa haw la wa laa quwata illa billah, kisah mereka memang mengharukan dan membanggakan. Banyak sekali kisah tauladan semacam itu. Yang mengingatkan kita kembali bahwa hidup bukan soal berbagi suka namun juga duka. Maksudku, soal dia yang berbesar hati merawat dan menemani kita kala sakit (Karena yang kita tahu, kita ini bukan Fir'aun bengis yang Allah jadikan tidak pernah sakit selama hidupnya). Memiliki kepekaan yang luar biasa. Memiliki akhlak yang mulia. Terlepas dari konon yang memang seharusnya kita perlu menerima setiap kekurangan dari pasangan, kita juga perlu ingat bahwa setiap hal bisa dipelajari dan dibiasakan. Termasuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lantas apa yang bisa kita lakukan agar memperoleh pasangan yang ideal sesuai definisi kita----berlandaskan agama?

Bagiku, jodoh itu di tangan Tuhan. Bukan kita harus memiliki jodoh yang mempunyai nama tengah "Johan," bukan. Tidak demikian. [Krik, ngga lucu.] Tetapi yang bisa kita lakukan hanyalah berserah diri sembari memperbaiki kualitas diri. Kian menjadi pribadi dengan artian akhlak baik yang sebenarnya. Soal ikhtiar (usaha dan doa) adalah hal yang tidak usah diungkapkan. Karena itu sebuah keharusan. Keharusan selanjutnya adalah terus berprasangka baik pada Allah dan menerima segala ketetapan-Nya.

Konon, mendapat jodoh yang tepat itu bukan lomba lari maraton----harus cepat, bukan juga soal umur, bukan soal keinginan, bukan soal matematika, eh, dan sebagainya. Dia adalah soal ketetapan dan ketepatan. Innallaha a'lamu ma laa ta'lamun.

Ada ungkapan Tere Liye yang lagi-lagi aku suka. Perihal cinta. Ini dia: "Cinta itu tidak selalu melekat pada kebersamaan, tapi pada doa-doa yang disebutkan dalam senyap. Itulah kenapa seorang Ibu bisa terus mendoakan anak-anaknya  meski terpisah samudera dan benua. Pun seorang istri dan suami  bisa terus membisikkan doa-doa terbaik  bagi pasangannya, meski telah terpisah oleh kematian. Tidak bersama secara fisik tapi bersama dalam doa-doa terbaik."

Aku jadi ingat cerita guru SMA-ku yang berpisah jarak dengan suami karena pekerjaan. Saking sibuknya mereka hanya bisa bertemu sehari saja setelah berbulan-bulan tidak bersama. Kemudian kembali kekesibukan masing-masing lagi. Namun mereka menikmati itu. Sebab mereka mengerti bahwa banyak hal memang butuh pengorbanan dan harus dihadapi dengan hati yang lapang. Juga mereka paham, bahwa waktu bersama-sama bukan tentang kuantitas tapi kualitas. Satu hari tapi kualitasnya seolah berpuluh-puluh tahun.

Omong-omong sebenarnya pernah aku curhat, bahwa aku tidak terlalu suka tulisan romance. Pun tulisan Tere Liye aku lebih menyukai bagian tulisannya yang lain ketimbang yang berbau cinta. Hehe. Jujur. Tapi itu dulu, sekarang beberapa tulisan beliau perihal itu ada yang aku suka. Salah duanya yang aku share ini. Maknanya mendidik. Itu alasannya.

Juga aku biasanya paling ogah kalau diminta berbincang perihal jodoh. Kakak perempuanku mungkin akan terheran kala membaca tulisan ini dan seperti biasa berkata: "Tumben!"

Tetapi aku tidak mempermasalahkan itu semua. Aku hanya ingin saja menulis sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali pemahaman mengenai  pasangan ideal kali ini. Barangkali bisa berguna. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa kerapkali aku berpikir bahwa ini adalah bahasan yang tidak lebih penting dari ujian praktikum atau bahkan bagiku ini perbincangan yang terlalu dewasa dan belum waktunya. Hehe, di umur dua puluh dua [Ups] aku masih merasa seperti bocah SD saja. Intinya aku hanya ingin menulis tentang ini [Hade, diomongin lagi] dan bukan berarti aku berpikir untuk...

Baiklah, semoga bermanfaat. Bye!

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates