Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
"Perempuan ngga perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya....." kalimat serupa sepertinya sudah hatam di telinga kita, ya. Hampir semua orang pernah mendengar atau bahkan barangkali kitalah yang menjadi orang yang melontarkannya. Semoga saja tidak. Bagaimana jika laki-laki? Rasanya pendidikan lebih layak untuk mereka. Tentu bisa kita rasakan perbedaannya. Misal, kala perempuan yang bisa memasak dan mengurus rumah tangga dianggap biasa.

Sedang lelaki yang mau membantu masak dan sesekali mengurus rumah tangga dianggap luar biasa, bahkan aneh. Padahal sebenarnya tidak ada yang membantu dan dibantu, karena yang ada adalah bergerak bersama, kan. Namun kali ini aku tidak fokus untuk bercerita topik "kesetaraan" dan semacamnya dari segi itu. Karena jujur, aku pun belum mengerti. Aku hanya bercerita random saja perihal pendidikan. Bercerita tentang ingatan-ingatan.

Ya, aku ingat sekali, dulu saat aku masih MTs, aku tidak pernah berpikir untuk bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya karena aku tidak tahu dari mana biayanya. Alasan paling besar: Tidak ingin membebani orang tua. Aku pernah bercerita di catatan berjudul Putus Sekolah tentang ini. Tentang aku yang kemudian terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan lagi karena kakakku. Betul, dia memiliki peran yang begitu besar untuk mendorong adik-adiknya mengenyam pendidikan. Bukan dari paksaan, melainkan memberi teladan.

Aku juga ingat, ingin sekali masuk salah satu SMA favorit di Bangkalan tapi karena nilainya tipis, akhirnya kakak mengantarku untuk mendaftar di MAN Bangkalan, hanya sampai gerbangnya saja. Yup, sekolah yang tak kalah jauh spesial, bagiku. Aku lalu diminta untuk mendaftar sendiri ke dalam dan aktif bertanya kepada siapapun di ruang pendaftaran. Ku dapati beberapa calon siswa mendaftar didampingi orang tuanya. Beberapa lagi sendiri. Namun mungkin hanya aku yang takutnya minta ampun, sampai berkeringat dingin segala. Bayangkan saja, aku ini dulu sangat pemalu bahkan untuk sekedar menyapa orang. Aku tidak suka basa-basi. Aku tidak suka berbicara jika tidak teramat penting. Aku tidak tahu bagaimana mengawali percakapan. Aku hanya bisa heboh dan konyol dalam circle yang membuatku nyaman saja. Namun karena waktu itu aku terdesak, aku mendobrak ketakukan yang bagi beberapa orang sangat remeh itu.

Nah, setelah aku mengisi formulir dan hampir selesai, seingatku barulah kakak kemudian menyusulku ke dalam. Ternyata pengalaman itu menjadi momen ketika gerbang untuk melawan rasa takut dan malu terbuka lebar. Setelahnya aku jadi sering melatih diri untuk bisa speak up, seperti bertanya di kelas, dll. Mungkin aku tidak berubah dengan cepat begitu saja. Tapi aku bisa bilang, karena bersekolah di MAN Bangkalan, banyak sekali hal positif yang aku dapatkan. Salah satunya mengubah sifat itu. Meski sampai sekarang pun aku masih sangat sangat sangat belajar.

Ingatan yang kembali menjadi bukti betapa kakak memiliki pengaruh yang besar adalah saat menentukan jurusan di MAN. Aku ingin sekali masuk Jurusan Bahasa, namun beliau memberiku dua pilihan: memilih Jurusan IPA atau Agama. Sebetulnya, aku suka Bahasa Inggris, itulah kenapa setelah banyak mendengar jika di Jurusan Ipa kita akan dibebani dengan menghafal ratusan vocab aku langsung tertarik untuk mendaftar, walau aku benci Aritmatika. Dan benar, lagi-lagi aku bersyukur masuk jurusan ini. Apapun itu, semuanya ternyata memang baik untukku.

Saat kuliah pun aku tidak pernah berpikir bisa kuliah, seperti yang pernah aku tulis di catatan berjudul Putus Sekolah itu. Aku pernah bercerita, barangkali usaha, doa dan motivasi dari guru-guru yang akhirnya membawaku lulus di salah satu universitas negeri di Madura. Saat hendak memilih jurusan aku bingung akan mengambil jurusan apa. Kakak memberi saran untuk mengambil jurusan Agribisnis. Padahal aku ingin sekali belajar di Prodi yang berbau Bahasa Inggris. Hehe, salah satu impian masa kecilku adalah menjadi guru bahasa Inggris. Mungkin karena terinspirasi oleh kakak.

Hingga kemudian aku mengulik lebih dalam tentang jurusan Agribisnis dan ternyata aku malah tertarik dan memilih prodi tersebut. Alasannya, mungkin akan aku ceritakan di catatan yang berbeda judul nanti. Dan sungguh aku sama sekali tidak menyesal dengan keputusan itu. Banyak sekali hal yang sulit aku ungkapkan yang ku dapat di sana. Meski at the end of the day aku sangat salut dan kagum ketika banyak sekali anak muda yang sudah mampu menentukan pilihannya sendiri. Sudah pandai mengeksplor, mengukur, minat, bakat, kemampuan diri sejak dini, dan sebagainya.

_________

Kita pasti tahu bahwa definisi impian dan pencapaian dari setiap orang itu berbeda-beda, tidak bisa kita seragamkan. Ada yang bahagia bisa membangunkan rumah yang nyaman dan layak bagi orang tuanya. Ada yang bahagia bisa memberikan kendaraan super mewah bagi pasangannya. Ada yang bahagia bisa memberangkatkan haji dan umroh keluarganya. Ada yang bahagia bisa berprestasi di kelas. Ada yang bahagia bisa berprestasi dalam lingkup sosial. Ada yang bahagia bisa menyantuni beribu anak yatim. Ada yang bahagia bisa dapat menimba ilmu terus dan lain-lain. Bagiku, hal semacam itu sah-sah saja. Sebab bagaimana orang melihat, berada dan bersikap di sebuah sudut tidaklah sama. Yang menjadi aneh adalah ketika kita mulai saling menjelekkan satu sama lain.

Jujur, setelah lulus dari kampus mungkin hampir semua orang mengalami masa krisis, anak muda sering menyebutnya quarter life crisis. Ada banyak sekali pertanyaan yang menuntut untuk dijawab. Ada juga yang kemudian membawa kita kepada pikiran-pikiran yang kurang baik seperti: "Untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi, jika ujung-ujungnya aku sama sekali tidak berarti?" Mungkin salah satu yang menjadi penyebab hal ini adalah kurangnya persiapan yang matang ketika dulu. Personally, misalnya aku yang dulu hanya berpikir untuk bisa menimba ilmu, tanpa pernah berpikir kuliah untuk mendapat pekerjaan. Memang tak sepenuhnya salah, namun visioner untuk kontribusi kita di masa depan ternyata memang sangat penting.

Pada masa QLC itu pikiranku jadi melayang ke mana-mana. Ingatan bahwa ternyata semakin kita berilmu dan memiliki gelar, maka beban yang kita pikul akan semakin berat. Bahkan tidak jarang dunia makin terlihat begitu runyam dan menyeramkan. Dunia yang harusnya menjadi tempat untuk mengukir karya dengan lapang malah menjadi sesuatu yang banyak menuntut kita untuk menghasil banyak buah dari rentetan ekspektasi. Karena itu aku sempat berpikir untuk mengubur impianku "sekolah" lagi. Sebab toh menjadi bermanfaat tidak perlu menempuh pendidikan formal dan mempunyai gelar, bukan?

Namun hari demi hari membuat aku semakin yakin bahwa berkah pendidikan tidaklah sesempit itu. Aku ingat betapa salah satu faktor besar yang membuat aku semakin percaya diri adalah bisa mengenyam pendidikan di MAN Bangkalan dan bertemu dengan teman-teman yang punya semangat tinggi. Saat kuliah juga demikian, sejatinya ilmu yang ku dapat bukan hanya berasal dari tugas dan materi di ruang kelas saja. Akan tetapi bagaimana kita bertutur, kita menghargai orang lain, kita berusaha memiliki sifat rendah hati dan lain sebagainya juga secara tidak langsung aku pelajari dari pipa bernama pendidikan. Dari kesempatan baik bertemu dengan ragam orang. Dari kesempatan baik dihadapkan dengan ragam lingkungan.

Aku sebetulnya tidak ingin menggeneralisir, karena ada juga segelintir orang yang berpendidikan namun memiliki karakter (maaf) seperti hewan. Rakus dan tak memiliki moral, sama sekali tak layak jadi teladan. Sedangkan banyak juga yang tak mengenyam pendidikan secara formal tapi memiliki jiwa dan nilai yang tinggi. Berwawasan luas karena tak mau berhenti belajar. Membaca buku adalah cemilan sehari-hari. Baik buku dalam artian sebenarnya, maupun buku dalam arti yang luas.

Mungkin kita juga sudah paham betul kalimat dari Bung Hatta ini: "Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia. Sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan, berarti telah mendidik satu generasi." Agaknya kalimat ini sudah sangat menjelaskan pernyataan pertama bahwa perempuan jika bisa, jika mau, jika boleh, dan jika perlu sangat dianjurkan untuk sekolah tinggi-tinggi karena kalimat ujung-ujungnya tidak sama sekali diperlukan. Sebab tidak ada yang sia-sia dan ujung dari belajar. Belajar adalah seumur hidup. Dan memang tidak selalu secara formal. Namun sering yang dibutuhkan adalah lingkungan yang mendukung, sinergitas dan lainnya. Sering ku lihat dengan mata kepalaku sendiri, beberapa orang menggunakan ilmu dan gelarnya untuk membantu banyak orang dalam kebaikan.

Sekarang makin kesini aku kian sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Betul, pendidikan tidak otomatis membuatmu kaya secara materi. Namun barangkali pendidikan bisa membuat cara berpikir, bersikap dan mengelola hatimu lebih kaya. Bahkan kian dekat dengan Sang Pencipta. Karena harusnya semakin berpendidikan kita makin merenungi betapa kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Sang Pencipta. Kita makin menyadari betapa besar Sang Pencipta dari ilmu yang kita pelajari. Bahwa ilmu yang ada di bumi saja begitu luas, apalagi yang tidak terjangkau oleh kita. Jadi untuk apa menyombongkan diri?

Maka apapun definisi impian menurut kita, teruslah bergerak. Jangan berhenti! Sebab gagal itu datang bukan karena kita tidak memperoleh apa yang kita kehendaki. Namun gagal adalah saat kita berhenti mengusahakan dan menyebutnya dalam untaian doa. Pada akhirnya memang bukan kita yang menentukan hasil, jadi tidak perlu mempermasalahkan hasil, yang terpenting prosesnya. Apalagi, saat ingin menyerah, sering aku diingatkan kembali oleh sahabatku bahwa menimba ilmu itu adalah sebuah kewajiban. Maka sering-seringlah menengok kembali ingatan yang membuatmu bersemangat lagi, ya.

Tanpa bermaksud menjelekkan agama apapun aku jadi kian yakin bahwa orang Islam itu memang harus kaya dan pintar. Mungkin salah satu cara untuk menjadi "pintar" adalah melalui pendidikan. Baik secara formal maupun informal. Aku tidak menulis ini adalah satu-satunya cara. Hanya salah satu. Aku jadi ingat kalimat yang disampaikan Gita Wirjawan di salah satu podcast beliau, katanya: "Kalau saya lihat, dalam konteks pemenang nobel pada 630-an dalam bidang Sains. 60% dimenangkan oleh Nasrani atau Kristen, 23%- 24% dimenangkan oleh Yahudi, dan 0,5% oleh Islam. Ini bukan pernyataan spiritual atau religi. Tapi ini sebagai impetus untuk kita bisa menunjukkan keterbukaan terhadap ilmu." Meskipun menurut analisis cetek-ku adalah kalau kita ingat sejarah Islam banyak sekali justru orang muslim yang "pintar-pintar". Jadi tentu mungkin banyak faktor yang akhirnya membuat data itu menjadi seperti itu, ya.

Ingatan-ingatan itulah yang akhirnya membuat keinginanku untuk bisa sekolah lagi hidup kembali. Bahwa ini bukan perkara mengejar gelar tertentu. Bukan perkara mengejar jabatan tertentu. Tapi lebih kepada keinginan untuk terus belajar, salah satunya lewat lembaga formal. Terlebih makin kesini makin sadar, bahwa untuk menjadi manusia yang bermanfaat paling tidak kita harus kaya dan berilmu, sedang beradab adalah harga mati. Dengan menjadi kaya barangkali kita bisa menjadi orang yang dermawan, Aamiin. Kemudian dengan berilmu kita bisa membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Dengan lingkungan dan orang-orang yang mendukung kita merealisasikan ide-ide besar yang sering dianggap omong kosong. Again, I didn't say kita hanya mampu mendapat dukungan semacam ini di dunia pendidikan.

Walau sebetulnya aku tidak ingin menuntut siapapun, atau bahkan spesifiknya menuntut untuk memiliki pasangan hidup yang mempunyai rentetan gelar tertentu. Karena aku juga bukan orang yang suka dipaksa. Jadi selama orang tersebut baik, klick, rendah hati dan rajin gosok gigi kurasa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kalau ternyata sudah beristri (hehe, jangan tersinggung ini hanya bercanda, loh ya. Eh, tapi serius juga sih 😂. Lah kok jadi kemana-mana pembahasannya ini). Maksudku, yang menjadi masalah penting adalah ketika kita berhenti belajar menjadi manusia. Juga kalimat tentang, "Perempuan kalo terlalu pinter, nanti cowo-cowo pada minder" yang membuatku geleng-geleng kepala.

Poinnya adalah aku mendukung siapapun untuk mengenyam pendidikan, tanpa menunjuk gender tertentu saja. Walaupun mayoritas barangkali belum bisa mengakses hal tersebut, karena sudah menjadi rahasia umum, pendidikan di negara ini menjadi salah satu hal yang mahal. Meski tidak bisa dipungkiri ada banyak beasiswa dari pemerintah saat ini. Pada akhirnya bagiku setiap orang memiliki hak yang sama untuk sukses. Lagi-lagi sukses menurut versi definisi mereka sendiri-sendiri. Setiap orang---baik itu yang berkesempatan mengenyam sekolah tinggi atau tidak----memiliki kesempatan yang sama untuk merangkai dan mewujudkan impian-impiannya.






Kini, saat mulai menulis sebuah catatan, aku kerap mengingatkan diriku terlebih dulu untuk tidak membawa egoku dalam tulisan itu. Dan aku berusaha. Aku berusaha untuk menulis catatan yang kemudian ditujukan untuk umum dan diriku sendiri, bukan untuk menunjuk pribadi tertentu. Sebab bagiku, terkadang, tidak suka kepada orang lain itu wajar karena kita cuma manusia. Namun ketika ranahnya sudah membenci, maka itu hanya kerap merugikan diri dan menyakiti hati sendiri. Yup! It's just gonna waste our time for doing such a that kind of thing.

Kembali ke catatan...

Beberapa bulan lalu aku dihadapkan dengan banyak sekali titik-titik pertanyaan. Banyak sekali yang belum terjawab, banyak juga yang sudah terjawab, namun tidak sedikit pula yang bahkan ku coba uraikan sendiri. Titik itu membawaku pada beberapa kesimpulan. Salah satu yang sangat aku ingat adalah kita memang boleh berharap kepada Allah SWT bahkan memang justru itu yang betul, tidak boleh berharap selain kepada-Nya. Namun yang ku maksud adalah keinginan untuk melakukan banyak kebaikan tanpa embel-embel apapun seperti sholat sunnah, mengaji, bersedekah, membaca sholawat, membantu tetangga, dan lain-lain bukan karena ingin balasan langsung berupa materi, misalnya.

Memang, Allah SWT menyukai hamba yang rajin meminta. Makin banyak permintaan yang dialamatkan pada-Nya, Allah SWT justru kian senang. Namun salah satu yang aku simpulkan dari perjalanan hidup yang sebenarnya masih seperempat abad ini membuat aku ingin kembali kenal dengan apa-apa yang coba aku lakukan. Ingin sekali rasanya melakukan apa-apa hanya karena ingin dekat kepada Sang Pencipta. Hanya itu. Tak ada yang lain. 

Aku tahu, untuk orang yang, katakanlah, belum punya dan bahkan menghasilkan apa-apa di dunia ini mungkin statement itu akan terdengar bak omong kosong melompong di siang bolong dengan gigi ompong dan muka yang gosong memang, ya. Hehehe. Kecuali jika yang berbicara adalah orang yang memang sudah punya segalanya. Tentu, segalanya dalam versi manusia. Sebab menjadi manusia membuat kita kerap dihadapkan pada realitas yang sering membikin geleng-geleng kepala. Apalagi alasan untuk hanya ingin dibalas "dekat dengan Allah SWT" itu seolah terdengar ahli ibadah sekali, bukan. Padahal masih teramat jauuuuuuuuh.

Bukan. Bukan untuk membatasi orang untuk meminta, untuk berdoa. Ini hanya sedikit opini personal saja. Yang ingin mengubah beberapa haluan sebagai nahkoda. Bahkan bisa jadi memulai dari nol kembali. Beberapa yang lain kemudian mengingatkanku tentang pelajaran saat MA dulu. Bahwa Riya' itu bukan melulu perkara tentang melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT, namun juga tentang meninggalkan sesuatu bukan karena Allah SWT pun juga termasuk di dalamnya. Sholat karena ingin dipuji manusia. Tidak sholat karena takut disangka ingin dipuji manusia. Arrrghhh! Hehehe.

Lalu pemahaman itu membawaku ke pintu selanjutnya. Ada dua pintu berhadapan. Satu pintu berisi orang yang kerap merasa taat kepada Allah, melakukan ragam amalan dengan kerajinan tak terperi, namun anehnya dengan mudah menyakiti hati orang lain. Tak mengenal toleransi sama sekali. Yang ku maksud adalah toleransi yang dibenarkan. Amboi, lagakku sudah seperti orang yang tahu segalanya, ya. Segala batasannnya. Sedang di pintu selanjutnya, aku melihat orang yang tidak berusaha ta'at kepada Allah SWT, lalu dengan bangga memamerkan 'kemaksiatannya' dengan dalih "open minded" yang keliru. Lalu mudah meremehkan orang 
yang benar-benar berusaha taat.

Hmm, aku pernah di posisi dua orang itu. Atau aku saja yang terlalu percaya diri. Barangkali aku masih berusaha keluar dari dua pintu itu? Allah... betul, ingat sekali dulu pernah menjadi sosok yang barangkali begitu menyebalkan, setidaknya itu seingatku. Meskipun belum ada yang berani terus terang hingga kini, hehe. Maksudku, dengan begitu bukan berarti menuntut orang untuk berhenti berdakwah. Memang apa hakku? Apalagi jika memang sudah "ahli"nya. Sama sekali bukan itu yang aku maksud. Namun bagiku pribadi, ternyata yang paling butuh didakwahi pertama, kedua dan ketiga kali olehku adalah diriku sendiri. Keempatnya? Entahlah. Ini satu pertanyaan yang ku bilang di awal tadi, belum menemui jawaban.
_______

Bangga dengan ketaatan, bagiku tak benar. Maksudku, kalau bersyukur mungkin masih relevan. Namun bangga? Untuk apa? Bukan kita yang membolak-balikkan hati manusia, kan? Pun bukan kita juga yang memberi daya atas setiap semangat ketaatan yang kita lakukan. Juga, untuk apa bangga dengan keburukan yang kita lakukan? Supaya dianggap teman? Sefrekuensi? Hmm, agaknya Allah SWT sudah dengan baik menutup aib kita rapat-rapat, jadi tidak perlu susah-susah mengumbar hanya untuk mendapatkan atensi atau bahkan lucunya, apresiasi. Paling tidak ini yang acap kali "disemprotkan" nuraniku kepadaku.

Jadi, ternyata, kadang diam memang emas. Diam disertai doa. Berdoa dalam lirih ketika memang kita ingin menghendaki kebaikan untuk orang lain. Hehe, barangkali ini jalan "paling lemah" yang ku pilih. Walau efek doa amatlah dahsyat. Dan... banyak berdoa saat kita masih dalam kubangan keburukan, kemalasan dan segala tetek bengeknya, semoga segera Allah gugah hati dan kesadaran kita. Perbanyak diam, dan tak perlu menyorot keburukan kita, apalagi sampai mempublikasi. Bukan diam di tempat, namun diam tak "bersuara". Sebab aku sangat yakin, sejelek-jeleknya orang, pasti ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik di lubuk hatinya. Insya Allah. Dan sebaik-baiknya orang, tidak akan pernah sesempurna itu. Ah, tentu.
"Mau sampai kapan futur terus?" itu yang diungkapkan oleh lubuk hatinya yang terdalam. Memang normal sebagai manusia, semangat kita dalam beribadah (dan lain-lain) ada di atas dan kadang di bawah. Namun jika justru berlarut-larut dan tidak mau keluar dari perangkap itu, sampai kapanpun kita tidak akan bisa keluar dengan sendirinya. Maka selain berdamai dengan keadaan itu barangkali kita juga perlu berusaha untuk menyibak tabir yang tipis namun dampak yang dibuatnya bisa begitu fatal itu.

Kenapa ku bilang tabir yang tipis? Karena bagiku, sejatinya yang memisahkan antara ruangan semangat dan malas hanyalah sebuah tabir yang tipis. Tipis namun fatal ketika kita sejatinya bisa menyibak takbir itu bahkan merobeknya, kemudian lari ke bagian 'ruangan semangat' namun malah terpaku. Pasti kita pun akan terheran saat kita dimampukan untuk bergerak, kenapa tidak dari dulu saja, ucap kita. Padahal memang seringkali semua ini hanya soal waktu dan keinginanmu. Sedang waktu seringkali tidak mau menunggu maka tidak perlu juga untuk menunggunya, kan.

Itulah kenapa ketika situasi dan kondisi sangat mendukung untuk ber malas-malasan ada momentum tentang nurani yang kembali mengingatkan bahwa kamu hanya perlu bangun sekarang juga dan melakukan hal yang lebih bermanfaat. Bukankah kamu ingat bahwa mimpi besar itu tidak diwujudkan dalam waktu yang kilat? Juga tidak melulu dibuat dengan sesuatu yang besar. Sebab ia dimulai dari hal-hal yang kecil. Iya, yang kamu anggap sepele seperti membersihkan rumah, membantu orang tuamu dan membaca beberapa halaman buku setiap hari itu.

Namun kala futur menghampiri melakukan hal yang sepele kerap jatuh menjadi sebuah kemustahilan. Apalagi impian besar yang rasanya jauh dari hadapanmu. Ia sudah tidak seperti di film layar lebar lagi, yang berada lima senti meter di depan wajahmu. Berlembar-lembar halaman al-qur'an yang awalnya ringan dibaca kini menjadi sangat berat. Belum lagi amalan sunnah yang lain. Rasanya seperti  berton-ton beban menindih tubuhmu seketika. Ceramah dan nasehat yang biasanya mudah kau cerna dan membuatmu seolah sefrekuensi dengan sang pembicara malah makin membuatmu kalut dan menggila. Alih-alih menjadi sumber penyemangat, mereka malah melengos begitu saja, keluar tanpa merasa berdosa dari daun telinga.

Sungguh, kamu tak sendiri. Manusia hanyalah manusia. Tapi kamu juga bisa bertindak dan melakukan sesuatu pada takbir pemisah itu. Apalagi kini kau diberikan keberuntungan yang begitu dahsyat, Nak. Kau dipertemukan dengan bulan yang begitu keramat. Jangankan beri'tikaf di masjid berjam-jam lamanya, membantu ibumu memasak saja balasan hitungannya tak pernah bisa diperkirakan. Maka sungguh, tak ada lagi waktu untuk futur dan menyia-nyiakan.

Memang berdamai dan menerima diri sebagai manusia, lalu menerima tingkatan semangat yang tengah di bawah sebagai sebuah kenormalan juga tidak salah. Yang menjadi salah barangkali adalah kalau kita berlarut-larut di dalamnya. Maka mungkin akan lebih baik jika kita mengingatkan diri kita sendiri. Bahwa, tidak ada waktu untuk terus bergerumul dengan futur dalam waktu yang begitu lama. Semangat untuk kita! Siapapun dan bagaimanapun kita saat ini sungguh Allah SWT selalu membimbing dan membersamai. Tinggal kita saja yang perlu mendengarkan nurani lebih dalam lagi.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates