Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Menjadi orang tua bukan hanya tentang kemampuan untuk mencukupi sandang, pangan dan papan anak-anaknya. Tapi bagaimana membuat sang anak selalu bermimpi untuk meraih ketaqwaan. Karena kebahagiaan sejati bagi seorang hamba adalah saat dekat dengan Tuhannya.

Mungkin kita pernah melihat, kedua orang tua yang mampu mencukupi permintaan anaknya saat menginginkan baju. Karena mampu, orang tua tersebut tanpa babibu akan membelikan apa yang diingankan sang anak. Pun saat anak dengan mudah memperoleh mainan dan barang lain yang mereka minta. Kita akan melihat, bahwa orang tua seperti itu telah mendidik anak dengan amat benar karena membahagiakannya. Namun siapa sangka, mereka ternyata mengajarkan kemudahan pada sang anak. Mereka mudah mendapat apa yang mereka mau. Tanpa ada usaha lebih. Atau mungkin, orang tua telah mengajarkan pada sang anak untuk bisa membeli apa saja meskipun barang yang dibeli bukan barang 'kebutuhan'. Melainkan barang 'keinginan' semata.

Kita mungkin juga pernah menemui orang tua yang mampu memenuhi perut anak-anak mereka dengan makanan, tanpa memperhatikan halal tidaknya uang yang pakai untuk membeli. Padahal, orang tua perlu begitu waspada dan hati-hati terhadap apa yang masuk kedalam perut anak-anak mereka, yang nantinya akan menjadi daging dan mengalir menjadi darah. Ini yang juga akan menentukan kesalehan dan ketaqwaan seorang anak. Maka jangan heran jika anak kita nakal. Muhasabah diri. Barangkali ada yang salah dengan nafkah yang didapat selama ini.

Pernahkah kita mendengar sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi, "Sebuah keluarga yang bahagia tidak hanya identik dengan rumah yang kokoh, anak-anak yang lucu, istri idaman dan lain-lain. Karena hakikatnya, keluarga adalah tempat dan jalan untuk bersama-sama membangun rumah di surga." Itulah mengapa, keluarga tidak melulu tentang memaksakan kehendak untuk memiliki rumah mewah nan megah. Atau memiliki istri dan keturunan yang sehat. Melainkan akan selalu ada ujian, agar nantinya bisa menggapai Jannah bersama-sama. Meski memang, sebagai hamba yang biasa-biasa saja, akan menjadi berat untuk menjalani sebuah ujian. Untuk itu, marilah belajar menjadi hamba yang lebih dari biasanya. Hanya lebih, bukan luar biasa.

---

Menjadi orang tua adalah tentang bagaimana seseorang mampu memberikan pendidikan karakter dengan mengimplementasikan karakter. Karena seorang anak lebih suka mengikuti daripada digurui.

Aneh jika orang tua memerintahkan sang anak untuk bertaqwa tapi orang tua malah enggan. Walau kadang dalam beberapa kasus justru anak yang menyadarkan orang tua.

Juga banyak kita temukan, orang tua yang terlalu sibuk mencari sandang, pangan dan papan untuk anak-anaknya hingga lupa untuk memberikan asupan karakter pada anak-anaknya. Mereka lupa justru itulah hal yang begitu krusial. Kenyataan seperti ini tentunya membuat kita amat prihatin.

---

Dulu saat Ibu ingin membantu Bapak dengan berjualan di pasar, Bapak melarangnya. Kata Bapak, biarlah beliau yang sibuk mencari nafkah. Agar Ibu bisa dengan optimal mengaduh anak-anak dengan baik, kasih sayang dan berbudi luhur. Dari awal Bapak memang tidak pernah mengizinkan, hingga sekarang. Karena demikianlah alasannya.

Meski begitu, juga ada orang tua yang sibuk mencari nafkah, namun tetap mampu mendidik dan memberikan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Maka, hebatlah seseorang yang mampu menjadi sebenar-benarnya orang tua.

Aku sendiri sama sekali belum siap untuk menjadi orang tua yang mumpuni. Karena, bukan perkara yang main-main untuk bisa menjadi orang tua. Ya, memanglah tidak mudah, tapi semoga selalu dimudahkan oleh-Nya.

Yang perlu diingat, menjadi orang tua bukanlah sebuah lomba lari. Melainkan garis yang telah ditakdirkan oleh Illahi.

Terus berdoa agar senantiasa diberikan kemudahan untuk menempa diri dengan ilmu. Agar kelak mampu menjadi orang tua yang bermutu.

InsyaaAllah.

Banyak (lebih dari satu) yang bertanya kepadaku, kenapa berhenti memposting tulisan di Facebook. Banyak alasan yang akhirnya membuatku begitu. Pertama, karena aku bingung dengan esensi niat. Aku takut niatku tidak benar-benar beres. Padahal awal niat untuk memposting curhatan panjang di Facebook tak lain tak bukan hanya untuk berbagi pesan moral. Khususnya untuk keluarga yang membaca.

Kedua, entah ini hanya perasaanku atau tidak. Tapi semenjak aku membuat status panjang seperti itu, aku seringkali di sebut-sebut di dalam kelas oleh dosen-dosen yang berbeda. Mendadak beberapa dosen jadi mengenalku. Dan sungguh, aku tidak suka menjadi sorotan. Sampai-sampai suatu saat aku diminta oleh seorang dosen untuk membuat status mengenai apa yang aku pikirkan di pagi hari kala itu. Aku sampai harus bertanya dua kali pada beliau, memastikan apakah permintaan itu sungguhan. Akhirnya saat kuliah berakhir, di waktu senggang aku membuat status dengan perasaan sungkan.

Sebelumnya, di dalam kelas, aku cekikikan dengan Evi (nama lengkapnya Siti Luthfiyah). Aku bilang padanya, "Duh, Vi. Malu aku. Prestasiku bikin status di FB. Hahaha." Tawa Evi akhirnya ikut pecah. Padahal kuliah belum berakhir.

Ketiga, beberapa dosen beberapa kali mengomentari statusku. Mungkin itu adalah hal lumrah untuk sebagian orang. Tapi bagiku tidak sopan saling berkomentar dengan guru dan aku merasa sungkan. Memang, senang hati karena ada semacam apresiasi. Tapi tetap saja, hati kecil merasa sungkan, dan sebagainya.
Pernah tulisan terakhirku dishare oleh seorang dosen favoritku yang tengah menjalani kuliah doktornya. Beliau adalah salah satu dosen favorit sejak aku belajar di prodi yang ku jalani. Dan beliau membagikan tulisanku di dindingnya? Oh, Tuhan! Aku tak percaya. Tapi saat seperti inilah aku akhirnya merenung. Perasaan senang macam apa ini? Akankah niat dikotori?

Alasan keempat, karena kadangkala aku berpikir, aku bahkan tidak mampu melaksanakan pesan moral yang aku bagikan. Tapi, bukankah aku memang hanyalah manusia yang tidak sempurna? Allah hanya menutup aib-aibku dengan sempurna. Jadi apa salahnya memperingati, memperbaiki diri seraya berbuat kebaikan dengan menyampaikan pesan moral pada yang lain?

Yang terakhir---atau mungkin ini bukan yang terakhir, karena di dalam benakku masih banyak berkerumul berbagai alasan---karena aku takut itu akan mempengaruhi penilaianku di perkuliahan. Tulisanku yang payah akan membuat nilaiku juga jelek. Hehehe (Untuk yang ini aku hanya bercanda, meskipun pas dibaca berulang-ulang kok tetap tidak lucu, ya? Hzz)

Atas semua alasan itu, aku kerap menegaskan. Kalau niat memang baik kenapa harus ada alasan!
Lanjutkan! Teruslah menulis, seperti apa yang diungkapkan salah seorang dosen. Teruslah menebar kebaikan. Toh, kita tidak berlomba-lomba untuk terlihat bijak di mata manusia. Tapi kita berlomba-lomba berbuat kebajikan dengan sesama muslim. Tingkat ketaqwaanlah yang justru membuat kita iri dengan cara yang baik.

Wallahua'lam.

Mbak Ha, begitu aku biasa memanggilnya. Sebenarnya dalam bahasa Madura Mbok Ha. Mbok berarti kakak perempuan. Dia itu kakak tertua. Dulu senang sekali kalau lebaran sudah tiba. Memakai baju baru pemberiannya. Mbakku yang satu itu memang dewasa karena juga seorang sulung, tapi kadang dia bertingkah seperti anak-anak. Dan itu lucu. Ia juga amat polos dan mudah kasihan pada orang. Saat membaca tulisanku--tertentu--ia kerap menangis. Juga saat membaca tulisan perihal orang tua, air akan mengalir deras di ujung matanya. Ia kerap bilang, "Enak kamu, Lut. Kuliah di Madura, tinggal sama Ebok Bapak." Padahal anaknya sudah dua, tapi mengaku selalu rindu orang tua. Dalam hati aku berceloteh, suatu saat aku akan hijrah ke luar negeri untuk beberapa waktu. Demi menimba ilmu. Ingin merasakan apa itu rindu.
Suaminya berasal dari Tuban, jadi Mbak Ha fasih berbahasa Jawa. Sebenarnya bukan itu juga penyebabnya, karena sebelumnya Mbakku itu telah merantau di tanah Jawa. Itu yang juga membuatku sedikit mengerti bahasa yang satu itu.

Josop. Begitu kami memanggilnya. Tapi aku memberinya nama pena Kak Ucup. Ia orangnya stay cool dan kritis. Kritis komentarnya kala menonton news.
Ia yang kerap membelikan kami barang-barang elektronik yang dikiranya bermanfaat seperti komputer. Kak Ucup orangnya agak cuek, beda dengan saudaranya yang lain yang lebih pecicilan, tidak sungkan tertawa. Dia orangnya serius. Tapi kini seiring berjalannya waktu, Kak Ucup justru makin terbuka. Makin ramah dan suka tertawa. Seperti yang lain, juga suka membikin humor. Humor seakan telah mendarah daging dalam keluarga kami, hehe.
Kak Ucup kerap mengatakan pada kami nasihat-nasihat yang begitu melekat seperti; jangan unggah foto di media sosial, jangan tertawa terbahak-bahak, dll. Kami sering mangut-mangut, juga sering tidak mematuhi.
Kak Ucup bisa berbahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Sunda dan sedikit bahasa Mandarin. Dia juga bisa berbahasa Jawa dan Madura, wkwk.

Rudden. Keluarga memanggilnya begitu. Nama pena untuknya: Kak Udin. Aku acapkali bertanya. Kenapa bukan Kak Udin saja yang berkuliah di prodi Agribisnis. Dia suka menanam, dia suka berjualan, dia pekerja keras, dia tidak mudah jijik, dia tidak gengsi, dia pintar, dia multitalent, dia dermawan, dll. Dia dulu pandai membuat komik bergambar, dia selalu juara kelas, dia sederhana, dll. Dia sempurna untuk ukuran seorang mahasiswa Agribisnis. Dia sempurna untuk ukuran seorang pria jaman sekarang. Tapi, yang paling aku takutkan, saat dia marah. Diam dalam kemarahannya. Itu benar-benar menyeramkan. Aku sungguh takut. Ini terjadi saat aku atau siapa saja tak sepaham dengannya.
Kak Udin juga kerap memberikan petuah seperti; hapus foto di sosmed, jika mau pacaran--Kakak nikahkan, dll.
Kadang dia amat open minded atau bahkan sebaliknya. Entahlah. Selebihnya, dia begitu kocak, suka act out aneh. Hehe, itu juga kebiasaanku, Mbak Ais, Tomato dan Rohman sih.

Kak Wahed. Aku dan yang lain memanggilnya demikian. Padahal namanya Abdul Wahid.
Kak Wahed orang yang sabar. Ia satu-satunya Kakak yang hampir tidak pernah marah. Dia suka membantu keluarga juga teman-temannya. Saat masih kecil, aku ingat sekali, Kak Wahed kerap mencuci piring, mencuci baju, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Meski laki-laki ia amat ingin meringankan beban orang tua. Seperti Kakaknya yang lain ia juga sering membantu Bapak.
Dulu, Kak Wahed jago Matematika. Ga tahu deh sekarang, hehe.
Kak Wahed itu baik banget. Kalau ia pulang, kita akan bersorak gembira dan menyerbunya. Ia kerap membatu tanpa pamrih.
Saat kecil, Kak Wahed suka sekali main layang-layang. Layang-layang banyak sekali. Entah hasil buatan tangannya sendiri atau hasil kemenangan bertanding dengan lawan-lawannya dari hari ke hari. Saat aku masih sangat belia, aku ingat Kak Wahed selalu menang kala bermain apapun. Seperti bermain remi yang hadiahnya karet gelang, bermain kelereng, dsbgnya. Kak Wahed dimataku kala itu sangat luar biasa. Hahaha.

Mbak Ais. Keluarga memanggilnya Isa. Berasal dari kata Aisyah. Aku kebiasaan memberinya nama pena Mbak Ais.
Seperti saudaranya yang lain, saat SD ia didelegasikan untuk mengikuti lomba mapel. Jika Kak Wahed Matematika, ia IPA. Kalau Mbak Ha, Kak Ucup dan Kak Udin aku lupa mapel apa. Yang jelas, dulu Mbak Ais itu lebih sering ikut lomba dari saudaranya yang lain. Di diniyah ia juga sering mendapat juara. Mungkin aku pernah bercerita, jika aku selalu tanpa sadar mengikuti jejaknya. Seperti gemar mengedit foto dan lain-lain. Inilah yang membuatku ingin sepertinya, mewakili sekolah untuk lomba mapel IPA. Tapi aku malah didelegasikan untuk mengikuti lomba mapel agama. Kala itu aku sempat berpikir, itu adalah pelajaran yang gampang dan tidak keren. Ternyata sekarang aku malah sangat bersyukur.
Dulu, aku dan dia seperti bumi dan langit. Dia dengan segala prestasi dan aku yang selalu tak percaya diri. Sekarang? Tau deh. Hehe.

Aku. Keluarga biasa memanggilku Lut. Nabi Isa lalu Nabi Luth. Hoho.
Sedang kerabat, kadang kala memanggilku Lulu'. Di SMA aku dipanggil fia, Lutfia, juga Lut. Di Kampus aku sering dipanggil dengan nama lengkap, Lutfiyah dengan pelafalan: Lutfiyah. Dulu di tempat les, aku dipanggil Lutfi. Bapak sampai bingung, saat seorang teman menelfonnya dan mencariku dengan panggilan itu. "Anakku kan bukan cowok," gumamnya pura-pura sebal tidak terima. Nama panggilan lain saat les adalah Cartoon. Konon aku mempunyai seribu ekspresi. Aku juga bingung seperti apa. Entahlah, meski awalnya bingung, pada akhirnya sudah merasa biarlah.
Pernah ku bilang, penulisan Lutfiyah sebenarnya adalah Luthfiyah karna memakai huruf Tha' dalam bahasa Arab. Adapun aku lebih suka di panggil Lutfia, dengan pelafalan Lutfia agar lebih enak didengar. Tapi terserah yang memanggillah. Nama tetaplah kembali pada nama awal mula diberikan, semoga menjadi doa. Huhuhu.
Eh, bahas nama aja lama banget dah.
Aku seseorang yang biasa-biasa saja. Tidak seperti saudaraku yang lain. Aku sulit memahami Matematika. Aku juga tidak pernah menduduki peringkat tiga besar kala SD. Di entri yang lain aku sudah pernah bercerita. Dulu, saat aku belum paham hakikat perbedaan, kelebihan dan kelemahan, aku sempat sedih mengahadapi kenyataan itu.
Saat SD, aku amat pemalu. Kemana-mana malu dan tidak percaya diri. Diperparah dengan adanya seorang teman yang selalu saja membully. Aku hanya tidak akan malu pada saat diminta untuk maju kedepan kelas, untuk bernyanyi, berpuisi dan berpidato. Hal itu dilakukan untuk penilaian. Aku juga bingung kenapa bisa begitu. Aku yang katanya amat pendiam, tiba-tiba bringas saat diminta bernyanyi di depan kelas. Meski cempreng sekalipun. Meski suka lupa lirik dan ditertawakan. Aku juga suka menggambar meski hasilnya macam cakar ayam. Untuk itulah, selain ingin mengikuti lomba mampel IPA, aku dulu juga ingin mengkuti lomba mapel Bahasa Indonesia dan lomba kesenian Menggambar. Tapi ternyata, aku diminta mengikuti lomba mapel Agama. Dan dampaknya aku syukuri sekarang.
Eh, sudahlah. Giliran cerita diri sendiri malah panjang. Kalau ga distop ga bakal berhenti ini. Ya iyalah!

Tomato (Baca: tomato, bukan seperti membaca tomat dalam bahasa Inggris.) Panggilan itu melekat padanya yang kerap ku panggil Mato. Meski namanya Matus. Pipinya yang bulat membuat aku melengkapinya dengan Tomato, walau cara bacanya tetap lurus.
Tomato sejak kecil banyak mengikuti lomba. Entah lomba bernyanyi, lomba berpidato dan lomba siswa berpretasi. Saat di SMP dan SMA juga demikian. Meski tidak selalu mendapat juara, tak apa.
Ia kuliah di usia 16 tahun. Mungkin itu yang kadang membuatnya mengeluh saat diterpa banyak tugas. Tapi bukankah sudah banyak prosfesor-profesor muda?
Tomato bisa sangat cuek, atau kadang menyebalkan karena bisa sangat cerewet. Bisa flat atau bisa sejadi-jadinya menangis karena membaca Wattpad. Hah, entahlah.
Saat masih kecil, dia sering kali mendapat juara lomba bernyanyi. Aku sering didaulat untuk melatihnya berminggu-minggu sebelum tampil. Anehnya, aku bahkan belum pernah mengukuti lomba menyanyi barang satu kalipun. Wkwk.

Abdul Rohman. Aku memanggilnya Rohman. Sedikit kisah tentangnya bisa dibaca di entri berjudul "Menjadi Seorang Hacker". Karena hari sudah sore untuk membiarkan jemari tetap bergerak sedari tadi. Belum lagi beberapa kewajiban telah menunggu untuk dilunasi. Akhir kata, semoga curhat kecil kali ini bisa menjadi ajang untukku melawan malas dan berlatih menulis. Hehe.
Moralnya apa ya?
Hmm, intinya, aku menyayangi saudaraku bagaimanapun mereka. Meski saat kecil dulu aku selalu berpikir bahwa aku berbeda,---dan ternyata setiap orang memang berbeda---aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka.

Aku yakin kalian juga demikian.

||~

Si bungsu saat masih bayi sakit-sakitan. Setiap hari aku membantu Ibu meramu jamu. Mengambil daun senam, daun asam dan ramuan lainnya. Kemudian Ibu meracik dan meletakkannya di dahi bungsu. Airnya diminumkan. Sontak bayu kecil itu menjerit, kepahitan.

Kian hari tidak ada tanda-tanda bahwa kondisi si bungsu akan membaik. Tidak ada kemajuan. Obat tradisional maupun modern seakan tidak mempan. Anak ke delapan itu sampai direlakan oleh Ibu jika Allah ingin mengambilnya kembali. Saking tidak tega Ibu melihatnya kesakitan setiap hari.

Aku tidak terlalu ingat persisnya si bungsu akhirnya sembuh dari sakit. Yang ku ingat ia akhirnya bersekolah di sebuah SD. Ia bisa membaca bahkan sebelum masuk SD karena sudah belajar sebelumnya pada sang Kakak, adikku juga. Sejak di SD, si bungsu selalu mendapat juara kelas di kedudukan pertama. Padahal kedua orang tua tidak pernah mengenyam pendidikan yang sama. Sejak dini, ia sering didelegasikan mengikuti lomba siswa berprestasi tingkat SD dan selalu membawa kemenangan. Padahal dia tidak terlalu rajin saat dirumah. Mungkin ia sangat memanfaatkan waktu belajar saat di sekolah.

Di Diniyah juga sama. Ia selalu mendapat juara kelas dan dua kali meraih tropi murid teladan. Padahal ia belajar hanya pada saat ada ujian.

Sejak kecil saat masih SD, aku ingat sekali, si bungsu seringkali membuat prakarya. Dalam waktu senggangnya ia membuat barang-barang unik seperti miniatur motor dari korek api, atau motor dari botol plastik berlampu warna-warni, kapal lucu dari sterofom bertenaga baterai handphone bekas, teropong paduan kardus pasta gigi dan cermin kecil, traktor pegas dan lain-lain.

"Itu tugas sekolah?"

"Bukan, aku hanya penasaran ingin membuatnya."

"Tau dari mana?"

"Kalo ini tau dari buku pelajaran disekolah." memperlihatkan teropong kardus pasta giginya.

"Kalo yang lain, belajar dari Youtube."

Aku tertegun.

Memang, si bungsu amat sering menyebalkan. Tapi aku sungguh berdoa yang terbaik untuk potensi yang ada dalam dirinya.

Dalam setiap kesempatan sebenarnya si bungsu tidak selalu menyebalkan. Dia kerap membantuku.

Dulu waktu Kak Yusuf membelikan kami modem untuk internetan, Kak wahid mengajari kami untuk menggunakannya. Lalu aku tidak memperhatikannya. Hanya si bungsu, bocah kelas dua SD yang duduk di samping Kak Wahid. Hanya memperhatikan. Tapi siapa sangka ia diam-diam merekam. Alhasil, saat aku kebingungan menggunakan modem, si bungsulah yang mengajariku.

Sering juga, saat komputer selalu mati karena usia tak lagi muda. Bungsu mempreteli beberapa onderdil dan menyatukannya kembali. Dan usahanya sering berhasil. Komputer kembali nyala. Dalam hati, aku ternganga.

Aku memang pemalas. Kadang aku malas sekali men-setting handphone-ku. Mengganti kartu, mensetting internetnya dan lain-lain. Aku malas mencari tahu. Itulah aku sering menyuruh bungsu. Lalu ia langsung mengiyakan. Ini adalah kegiatan yang ia gemari. Berbeda saat ia aku suruh mengambil sesuatu di dapur, misalnya. Alih-alih patuh, ia malah mendumal sebal dan panjang.

Bungsu beberapa kali memamerkan homescreen S8 handphone S4-nya. Hasil rasa ingin tahunya.

"Nih, Mbak. Layar hapeku keren, kan? Pake homescreen S8. Hebat, kan?"
Aku hanya melirik sebentar. Dalam hati aku bergumam: "Ada-ada saja tingkahnya."
Ia membaca homescreen dengan homskren. Pelafalan bahasa Inggrisnya memang payah. Tapi hasil ujian bahasa Inggris tulis sering menghasilkan nilai yang sempurna. Ini yang membuatku selalu berkata: "Makanya, belajar baca bahasa Inggris di pendopo."
Ia juga kerap sombong padaku, bisa dilihat dari potongan kalimat: "Hebat, kan?"
Tapi hal seperti itu hanya berani ia lakukan pada Mbak dan saudaranya yang lain. Di sekolah, ia akan menjelma menjadi sosok yang amat rendah hati, santun, sopan, pendiam dan lain-lain. Aneh. Semoga lama kelamaan ia makin paham.

---

Akhir-akhir ini kudapati ia sibuk menatap layar hape. Ia sedang browsing cara menjadi seorang hacker. Di search engine google, juga youtube. Dulu, ia hanya sibuk bermain game bernama Clash of Clans.

Aku sering menjelaskan padanya. Apa itu hacker. Hukum meretas. Mempelajari ilmu hacker untuk berbuat baik, atau tentang hacker yang buruk dan harus dihindari. Aku menjelaskan setahuku. Ia hanya mangut-mangut. Sesekali bertanya. Sesekali menyela. Sesekali tidak terima. Sesekali teguh pada keinginannya. Lalu diakhir kalimat, ia berkata: "Aku ingin menjadi seorang hacker!"

Aku kira itu hanyalah bualan bocah yang kini duduk di kursi SMP. Tapi suatu saat aku agak kaget. Melihat si bungsu menyala komputer, laptop dan hape dengan akses internet secara bersamaan. Kulihat layar hitam dengan tulisan dan kode-kode asing. Seperti yang kulihat di screeshootan dosen favourite-ku yang memamerkan hasil belajar meretas-nya. Tak salah lagi. Si bungsu sedang belajar meretas. Pikirku.

"Kamu belajar ngehack?"

"Hehe, iya. Kan sudah ku bilang. Aku mau jadi hacker."

"Memangnya kamu ngerti kode-kode itu?"

"Ngga."

Aku tertawa. Lalu menjelaskan bahwa hacker itu bukan sebuah cita-cita. Si bungsu masih sibuk dengan layar komputernya.

Duh, gusti. Sebagai keluarga kita harus mendukung bakat dan potensi yang ada di setiap anggota keluarga. Juga mengarahkan ke jalan yang tepat. Jangan sampai, kemajuan teknologi membuat para pemuda gelap mata. Karena pemuda mampu mengguncang dunia. Itulah kenapa kita temui seorang hacker handal di berbagai belahan dunia hanya berumur belasan tahun. Mereka mempunyai rasa ingin tahu dan belajar yang tinggi. Sayangnya belum diarahkan dengan tepat.

Aku sendiri sebagai Kakak perempuan si bungsu, aku selalu bermimpi. Agar si bungsu bisa belajar ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang, atau bahkan lebih banyak ilmu agama. Karena agama Islam tidak pernah mendikotomikan ilmu umum dengan ilmu agama. Aku bermimpi, si bungsu minimal seperti Ahmad Fuadi yang mengenyam pendidikan di Ponpes Gontor Darusallam. Iya, memang dimanapun sekolahnya adalah sama. Tapi lingkungan kadangkala juga ikut andil. Dengan tidak melupakan kenyamanan sang penuntut ilmu. Aku hanya ingin si bungsu menghafal dan mengamalkan isi al-Qur'an. Agar Bapak dan Ibu di mahkotai di akhirat kelak. Dalam tahap yang muluk, aku bermimpi, si bungsu menjadi seperti BJ Habibie. Namun tetap memahami dan mengamalkan ilmu agama.

Pernah aku bercerita, jika BJ Habibie di usianya sekarang pernah berkata dalam sebuah forum, jika ia sangat bersyukur bisa mempelajari ilmu pesawat dan memahaminya. Tapi ia menyesal ia tidak pernah belajar dan menghafalkan isi al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Itulah yang membuatnya sekarang tengah berusaha untuk mewujudkan mimpi yang satu itu.

---

Si bungsu jika ku singgung tentang pondok pesantren, ia seperti mau "melenggung". Tapi aku sadar, jika kesalehan seorang anak tidak akan pernah jauh dari doa-doa yang dilantunkan kedua orang tua, juga keluarga. Aku hanya berdoa, semoga Allah melebarkan jalan untuknya meraih cita. Semoga ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Seorang bayi yang dulunya sakit-sakitan itu. Aamiin~

Bangkalan, 26 Juni 2017 - 14:34 WIB

Pekan lalu, waktu mewawancara kerja praktikan---yang berlangsung 5-8 menit itu---saya memperoleh banyak pelajaran. Salah satunya saat banyak dari mereka yang menjawab sama di pertanyaan: "Apakah anda bisa bekerja di bawah tekanan?"
Mereka kebanyakan menjawab: Bisa, mampu, bersedia, atau jawaban senada lainnya. Hanya beberapa yang menjawab: Tidak. Kedua jenis jawaban harus disertai alasan. Alasan mereka menjawab tidak ialah mereka malah tidak bisa berpikir saat bekerja dibawah tekanan. Lantas saya dalam hati bergumam, tekanan seperti apa dulu?
Tapi kini, mereka ada benarnya juga. Bekerja dibawah rentetan jadwal dan deadline yang menekan memang membuat ide macet. Entahlah, kadang tekanan justru membuatnya keluar. Selalu ada beberapa sisi untuk melihat sesuatu. Tapi hari ini aku menyadari bahwa aku belajar banyak dari mereka.

Seseorang yang beberapa tahun silam ku kagumi itu kini berjalan tepat dihadapanku. Membelakangiku menaiki anak tangga yang lebar-lebar. Jika ku taksir dari gerak tubuhnya, ia seperti tidak nyaman. Entah tidak nyaman dengan suasana ini, terasing, atau tidak nyaman karena merasa terpaksa. Apapun yang ia rasakan, aku malah berniat ingin menghiburnya, mengobati keresahan yang singgah di hatinya. Ah, niat macam apa ini. Setelah bertahun-tahun berlalu kenapa perasaan semacam ini muncul kembali. Aku juga tidak tahu mengapa.

Lagipula, hanya untuk sekadar menyapa saja lidahku kelu. Apalagi datang dan menghiburnya. Kemustahilan seperti itu kenapa bisa muncul dengan liar dalam benakku. Entahlah.

---

Bertahun-tahun lamanya aku berusaha menghilangkan kekaguman itu. Tentang kamu yang rendah hati, mudah bergaul dan bicara seperlunya. Meski yang lain menganggapmu orang yang terlihat 'sangar' aku justru melihatmu sebagai sosok yang amat lembut. Yes, I remember the baloon. Dan momennya. Saat kamu mengambil sebuah balon yang mengarah datang padamu dan dengan lembut mengembalikannya kepada sang empu, seorang anak kecil. Aku makin terenyuh melihat kejadian sepersekian detik itu. Mungkin terlalu berlebihan bagi beberapa orang. Tapi itulah yang aku rasakan.

---

Kamu juga humoris. Siapa yang menyangka kita punya selera yang sama. Duh, apa-apaan aku ini, dengan berani membubuhkan kata 'kita'. Baiklah, aku banyak menemui orang yang begitu humoris dalam kehidupan, tapi kenapa perasaanku tidak demikian. Hmm, lagi-lagi aku bilang perihal perasaan. Memangnya apa itu perasaan?

Pertanyaan-pertanyaan lain juga kerap menodong diriku sendiri. Pertanyaan yang masih saja tentangmu.

---

Dulu, perasaan itu sangat kuat. Aku juga tidak mengerti tingkat relatif dari 'sangat kuat'ku. Perasaan yang menjadi begitu karena ditempa oleh perbincangan panjang malam-malam. Lewat ketikan jari-jemari yang kemudian meluncur ke layar hape kita masing-masing. Eh, aku hilaf lagi memberikan kata kita. Maaf.

Perasaan yang saban waktu makin kuat karena aku merasa makin memahami karaktermu. Juga karena kamu tidak pernah melihatku dengan cara seperti itu sebelumnya. Why are you looking at me that way? Itu pertanyaan yang seketika muncul kala itu. Pertanyaan basa-basi, padahal senang tak kepalang.

Perasaan itu stuck pada saat kamu makin menghilang. Kamu tidak hilang. Tapi pesan-pesan panjangmu. Semua perlahan menghilang. Pesan berisi kalimat singkat 'mimpi yang indah' dalam bahasa asing itu menjadi pesan terkahirmu. Sesak kalbuku oleh rindu. Rindu tulisanmu. Rindu. Amat rindu. Atau jangan-jangan rindu kamu? Meski setiap hari bisa leluasa melihatmu dari kejauhan. Tapi tetap saja aku rindu.

Seiring hilangnya pesan-pesanmu, aku berusaha menghilangkan perasaan yang terpendam itu. Aku masih belum begitu paham apa itu perasaan. Atau biar ku balik, aku masih belum begitu paham perasaan apa itu. Yang aku pahami adalah aku harus lekas menghapusnya. Mengusir dengan tega kala rindu datang tiba-tiba.

Siapa yang mengira, dengan kesibukan dunia aku perlahan mulai lupa. Lupa bahwa kamu adalah orang yang pernah aku kagumi. Yang ku ingat, kamu adalah temanku. Berbulan-bulan usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Aku benar-benar mampu menganggapmu sebagai teman biasa. Bukan menganggap aku sebagai pengagum rahasia.

Aku berhasil. Meski tak bisa ku pungkiri kamu kerap muncul dalam mimpi-mimpi. Bertamu menjelma rindu di tengah malam sunyi. Perbincangan yang dulu biasa diakhiri pada waktu ini. Setidaknya, keberhasilan itu dideskripsikan dengan; aku yang tidak lagi gugup jika harus berhadapan denganmu, tidak lagi gemetar, dan tidak lagi merasa aneh. Duh, lagi-lagi aku tidak tahu, kenapa perasaan itu bisa membuatku sampai sebegitu.

---

Bertahun-tahun berlalu. Tanpa tedeng aling-aling, perasaan itu bertamu kembali. Aneh. Darimana asalnya. Seperti dulu, aku mengusirnya dengan tega. Tapi ia mengelak. Ia tidak bergeming. Aku masih terus berusaha. Membuatnya enyah dari singgahsanaku. Menghilangnya perbincangan, fakta menarik yang diungkapkan Tuhan, juga kamu terlalu sempurna sebagai anggapan---telah cukup membuatku sadar untuk tetap berusaha mengusirnya.
Bukankah dulu aku berhasil?

---

Ia selesai menaiki anak tangga. Aku juga. Yang lain ramai sekali. Bergantian berbicara dari sana ke sini. Tapi aku sepi. Lalu bertanya pada diri sendiri, kemanakah usaha selama ini?

*potongan naskah cerpen

Aku sudah meng-uninstalled app Instagram-ku. Juga app BBM-ku. Pun app Facebook-ku. Ini ku lakukan agar tidak terlalu update di media sosial. Kini hanya ada app Line, WhatsApp, Gmail, Blogger dan Youtube. Setidaknya aku tidak akan update status apapun disana. Ku gunakan mereka sebagaimana mestinya. Namun sehari kemudian, sebuah notif untuk memperbaharui app WhatsApp muncul di layar handphone-ku. Akhirnya, setelah lama ku pertahankan akan tidak ku perbaharui, sekarang terpaksa ku perbaharui juga. Disana ada fitur baru yang membuat kita bisa membuat status. Duh, setelah mencoba satu kali akhirnya aku tersadar jika ingin membuat status lagi. Lalu kemana usaha uninstall-ku yang kemarin?

Entahlah, kurang afdol rasanya kalau belum memfoto lantas membagikan semangkuk bakso yang tengah kit nikmati. Atau membagikan foto tugas sekolah atau kuliah yang bertumpuk lengkap dengan laptop yang masih menyala. Atau membagikan apa saja. Dimana-dimana ada status.

Aku kadang berpikir. Pentingkah? Waktuku terbuang beberapa detik atau bahkan jam hanya untuk hal yang sia-sia. Namun aku kadang berdalih. Bahwa foto yang aku bagikan tadi itu ada manfaatnya: saat membagikan foto berkumpul dengan teman misalnya, mungkin akan membuat orang lain termotivasi untuk menjaga tali silaturahim yang sama. Lagi-lagi entahlah. Innamal a'malu binniyat. Juga setiap orang pasti mampu berpikir bijak.

Belum lagu, dewasa ini apa-apa gampang yang dishare kadang hanyalah hoax atau ajakan kebencian, hasutan. Juga kadang sesuatu yang amat tidak patut untuk dibagikan. Seperti tumpukan harta, dan lain sebagainya. Aku sempat shock melihat sebuah postingan di facebook. Kakak kelas SMP yang kita tidak perlu tahu namanya, tega menshare foto temennya yang dibunuh (maaf) secara sadis. Ada dua foto, yang satu foto almarhumah yang masih cantik lengkap dengn kerudung. Lalu foto yang lain adalah penampakan tragis dan bersimbah darah. Shock sekali.

Aku kadang berpikir pentingkah sosial media jika hanya dengan pola seperti ini aku menggunakannya. Banyak berpikir tapi sulit mengimplentasikannya.

Salut mendengar ungkapan aktor ternama Reza Rahardian yang mengaku bahwa ia tidak memiliki akun sosial media satupun. Baginya, ia belum membutuhkannya. Apalagi, akan terlalu ribet jika saat ia ke restoran, kemudian pesanan makanannya sampai di meja, ia akan terlebih dahulu sibuk memotretnya lalu membagikan ke khalayak daripada langsung menyantapnya.

Yang jelas, jika kita masih mampu menggunakan sosmed dengan takaran yang pas, maka akan sedikit juga dampak negatif yang ditimbulkan. Menyambung tali silaturahim, berbagi kabar, mengais rezeki, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Tapi memang, akan selalu berbeda tingkatan seseorang di sisi Tuhannya, saat mampu menjahui perbuatan yang sia-sia. Wallahu'alam.

*nasihat untuk diri sendiri.

Bangkalan, 26 Juni 2017 - 12:07 am

Kemarin aku menceritakan kisahku tentang kenek yang lagi-lagi mengambil besaran ongkos yang lebih dari seharusnya. Aku mendumal sebal, karena ini sudah keempat kalinya dalam waktu dekat. Lalu Ibu---dengan santai dan senyumnya yang manis---hanya berkata:

"Sudahlah, Nak. Kasian.."

"Tapi, Bu. Mereka tidak jujur. Aku tidak habis pikir. Hidup ini pilihan. Dan masih banyak orang yang memilih untuk bersifat jujur. Kenapa mereka tidak?," aku masih tidak terima.

"Belajarlah mengerti, Nak. Lagipula kamu kan tidak sekali dua kali menggunakan jasa angkutan." masih dengan tersenyum.

"Hmm.."

"Jika punya uang lebih, apa salahnya memberi lebih." beliau menambahkan.

Aku merenung. Dalam banyak hal aku sungguh malu pada Ibuku. Beliau selalu mempunyai pemikiran yang jauh dari perkiraanku. Wawasan beliau juga kerap lebih luas dariku berkat hobinya menonton berita.

Aku juga jadi teringat saat awal-awal kuliah. Aku menemukan beberapa teman yang menyebalkan. Akhirnya aku bercerita pada Ibu. Ini kebiasaanku dari dulu, daripada bercerita pada orang lain aku lebih suka bercerita pada Allah, diary atau Ibu.

Kala itu Ibu hanya bilang padaku:

"Sudahlah, Nak. Itu mungkin hanya perasaanmu saja."

"Tapi, Bu.."

"Mereka bukan hanya temanmu. Tapi juga saudara. Pikirkan tentang itu."

Aku juga teringat saat masih kecil dulu. Saat aku pulang sekolah dalam keadaan menangis tergugu usai dibully teman-teman. Ibu bukannya berniat mendatangi rumah anak-anak yang membully dan menghakimi orang tua mereka seperti orang tua kebanyakan, Ibuku hanya akan menguatkanku:

"Kamu kuat. Kamu tidak cengeng, Nak. Hal seperti ini tidak akan mampu mebuatmu menangis. Percaya pada Ibu."

Saat aku akan menghadapi semester enam di bangku perkuliahan, aku mengungkapkan sesuatu pada Ibu:

"Bu, aku akan lebih sibuk di semester enam ini. Aku tidak akan bisa banyak membantu Ibu lagi."

Lantas Ibu menjawab dengan santai:

"Memangnya apa yang perlu dibantu?," ucap beliau.

Begitulah sedikit gambaran tentang bagaimana Ibuku menyikapi sesuatu. Saat Bapak bercerita pada Ibu, jawabannya juga akan bernada demikian. Duh, Ibu.

***

Aneh sekali. Saat ada kasus seorang guru yang harus mendekam di balik jeruji hanya karena memperingati muridnya untuk shalat Dhuha. Aneh. Membela mati-matian anak yang sudah jelas salah. Inilah yang pada akhirnya membentuk karakter si anak. Maka, semoga kita menjadi ibu yang bijak. Karena seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya.


Kuliah tamu yang dilaksanakan pada Selasa, 6 Juni 2017 di Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura ini dihadiri oleh Menteri Pertanian RI Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P. dengan tema "Pengembangan Potensi Pertanian Pangan Berbasis Lahan Kering". Itulah mengapa saya membubuhkan judul catatan ini demikian. Pertemuan yang singkat, namun banyak makna yang tersirat.

Pada awalnya saya merasa biasa saja mendengarkan kuliah yang disampaikan Pak Menteri. Biasa saja. Sama seperti yang saya lihat di televisi. Saya hanya tertegun, memperhatikan seperti apa gaya bicara orang besar. Bagaimana gerak geriknya. Itu yang selalu saya lakukan. Bahkan ketika semua bertepuk tangan riuh, saya hanya bisa diam. Mencoba mencerna setiap perkataan yang dilontarkan seorang menteri. Lagipula, bagi saya, tepuk tangan bisa menjadi sesuatu yang amat sakral dan diberikan untuk hal-hal yang penting. Perkataan atau kejadian yang amat luar biasa. Luar biasa bisa saya artikan luas. Seseorang yang berusaha menampilkan yang terbaik layak mendapat tepuk tangan, misalnya.

Saya duduk dikursi yang cenderung berada di belakang. Saya masih diam. Memperhatikan Pak Menteri menyampaikan ceramahnya. Tentang pertanian. Hal yang begitu krusial untuk diperbincangkan. Tapi itu masih membuat saya terdiam. Lagi-lagi saya lebih terpaku dengan cara bicara beliau. Entah, saya tidak peduli jika itu yang disebut retorika. Saya masih terdiam. Padahal ada tugas meresume paparan materi beliau.

Ceramah akhirnya usai. Buku resume milik saya masih kosong. Kini tibalah sesi bertanya. Setelah banyak yang mengangkat tangan, Pak Menteri secara random memilih lima orang dari mereka. Seorang mahasiswa laki-laki yang mengenakan songkok, seorang penyuluh, seorang mahasiswa laki-laki yang cenderung berisi, seorang mahasiswi yang berkacamata dan seorang mahasiswi tanpa kacamata

Mereka akhirnya maju kedepan, menaiki panggung, dan berjejer disamping Pak Menteri di sebelah podium. Kemudian Pak Menteri mempersilahkan mahasiswa bersongkok mengawali sesi bertanya.

Mahasiswa itu bergebu-gebu. Memperkenalkan diri. Lalu bertanya dengan semangat ribuan watt. Pak Menteri hanya tersenyum.

"Pak, saya ini anak petani! Saya keturunan petani! Kakek Nenek saya juga seorang petani! Saya dari ......! Jadi saya asli orang .....! (sepertinya semua kalimat perlu dibubuhi tanda seru, saking bersemangat, tegas, atau entahlah) Orang tua saya biasa menanam jagung. Juga masyarakat di Desa saya. Permasalahannya adalah, kini hasil panen jagung melimpah, tapi harga merosot. Ini yang akhirnya membuat kami lebih rela membiarkan jagung-jagung kami tetap di lumbung dan dimakan rayap. Pak, bagaimana anda menyikapi hal tersebut?," tanya mahasiswa itu.

Alih-alih menjawab dengan nada yang sama, Pak Menteri malah merangkul, menepuk-nepuk lembut punggung mahasiswa itu dan berkata: "Gini, loh, Nak. Kita santai-santai saja." dengan mimik senyum tulus nan kebapakan.
Sontak semua audien yang merupakan seluruh mahasiswa pertanian dan lain-lain itu terbahak. Saya sendiri reflek tersenyum. Ini mimik pertama saya setelah sebelumnya hanya terpaku dan flat.

Pak Menteri melanjutkan: "Baik, saya tanya. Tadi penyuluh yang mana? Oh. Harga jagung turun apa naik, Pak?," tanyanya pada sang penyuluh.

"Naik, Pak. Sekarang harga jagung Rp... per kg."

Seisi gedung pertemuan riuh kembali.

"Inilah, Pak. Pemahaman yang sesat. Banyak anak kita yang akhirnya tersesat seperti ini. Jika seorang menteri bertemu dengan sepuluh orang saja mahasiswa seperti ini, maka pusinglah sang menteri," jelas Pak Menteri yang ditujukan pada rektor.

Audien terbahak.

"Pernah nanam jagung, Nak?," tanya sang menteri.

"Iya, Pak. Orang tua saya."

"Loh, bukan. Kamu pernah tidak menanam sendiri? Ke sawah, lantas berkerumul dengan tanah dan lain sebagainya."

"Belum, Pak." jawabnya agak tersipu.

Audien kembali riuh.

Pesan (dalam artian luas) yang coba saya taksir:
Pertama, betapa banyak seseorang yang sudah 'merasa' paham lalu pandai sekali menyimpulkan sesuatu. Atau hanya paham kulit luarnya saja, tapi tidak sungkan untuk mudah menghakimi.
Kedua, kita ini seorang pelajar. Tapi kerap malas untuk mendalami ilmu, menambah wawasan dan mengasah pengalaman. Hingga akhirnya, minimnya pemahaman dan wawasan membuat kita bisa gelap mata. Kita juga kerap bertanya panjang lebar, menukik dan lain sebagainya hanya untuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal hakikatnya kita tidak memahami pertanyaan yang kita buat atau mungkin telah paham jawabannya. Kita kerap lama-lama berargumen, padahal secuil saja kita tidak pernah mengimplementasikannya.
Ketiga, kita terlalu malas atau mungkin gengsi untuk berpraktek. Padahal lahan dimana-mana. Dan negara kita adalah negara agraris.

Setelah memberikan pelajaran berharga, Pak Menteri kemudian membesarkan hati si mahasiswa yang sudah memiliki mental baja untuk kedepan dan bertanya. Tidak seperti saya yang tidak memiliki iktikad untuk bertanya.

"Tidak apa-apa, Nak. Kamu hebat, bla..bla... Baiklah, Nak. Mana hapemu? Ayo kita selfie." ajak sang menteri.

Penonton bertepuk tangan.

"Sekarang, coba telefon orang tuamu. Menteri ingin bicara."

Riuh. Mahasiswa itu mencoba menghubungi keluarga. Sebentar kemudian ia menjulurkan telefon genggamnya pada menteri. Penonton senyap seketika.

"Halo.." Pak Menteri mengawali perbincangan.

"Halo, iya. Ibuk, saya Menteri Pertanian."

Riuh sebentar oleh penonton lalu hening lagi.

"Iya. Ini ... anak Ibu, ya?"

Seseorang disana menjawabnya. Entah bagaimana kalimatnya. Pak Menteri hanya mangut-mangut.

"Orangnya rajin tidak, Buk? Oh rajiin."

"Pernah bantu tanam jagung, tidak? Oh! Tidak?"

Penonton ngakak.

Dan seterusnya. Hingga akhirnya panggilan diakhiri. Dan semua penonton termasuk saya bertepuk tangan. Pak Menteri menepuk punggung mahasiswa dan tersenyum.

"Kami dulu adalah pekerja keras! Tidak malas! Kemiskinan tidak lantas membuat kami putus asa! Saat masih kecil, kami pergi ke sawah dulu agar bisa makan! Tidak peduli cemoohan seperti apapun. Kami percaya, dengan BELAJAR dan KERJA KERAS, suatu saat kami akan menjadi orang besar!"

Penonton bertepuk. Pun saya. Saya mengartikan orang besar adalah orang yang bermanfaat. Dan kalimat itu sungguh membuat saya haru. Pak Menteri mengajak kita agar mau bermimpi besar!

Sebelum mengakhiri pertemuan ekslusifnya dengan mahasiswa itu, Pak Menteri menghadiahinya sebuah topi dan mengajak selfie kembali. Dia kemudian kembali ke tempat duduknya.

"Inilah cara kerja kami. Mengusut sampai ke akarnya. Mendapatkan informasi-informasi penting demi perubahan. Pernah suatu ketika rombongan mahasiswa berdemo pada kami. Setelah kami tanya apa tuntutannya ternyata sudah terselesaikan semua. Seperti traktor dan lain sebagainya. Setelah kami usut mereka hanyalah pesuruh calon .... (menyebut jabatan). Syukurlah, tidak terpilih."

Audien memberikan applause-nya lagi.

Sekarang giliran seorang mahasiswi berkacamata. Membaca notebook lengkap dengan penanya.

"Begini, Pak. Saya ingin bertanya mengenai kasus yang ada di...."

"Dari mana anda tahu kasus itu?," Pak Menteri memotong.

Penonton riuh.

"Saya membaca dari berbagai jurnal dan..."

"Berapa biaya yang anda habiskan untuk melakukan penelitian itu?," lagi.

Lagi, penonton riuh.

"Bukan saya yang meneliti, Pak. Ta.."

"Habis berapa biayanya?"

"Tidak, Pak. Saya hanya membaca da.."

"Baik, anda saya hadiahkan lima juta rupiah!"

Penonton riuh kuadrat.

Pesan yang coba saya terka:
Seseorang yang mau menyekap malas dan membaca lalu memahami beberapa kasus yang terjadi nyata tidak akan rugi. Tidak akan rugi orang-orang yang mau dan rajin belajar. Bonusnya tidak terbatas senilai lima juta rupiah. Tidak akan rugi seseorang yang suka membaca.

Penanya ketiga mengarahkan ujung microfon dan mulai bertanya. Seorang penyuluh.

"Bla..bla.. (sudah saya bilang, saya tidak terlalu mendengar pertanyaannya. Karena saya duduk agak belakang. Ruangan yang luas membuat suara seakan makin menghilang. Kualitas suara dari microfon juga buruk. Menggema dan ngeblur, kalau untuk bahasan gambar. Hehe)

"Kami dapat demo agar penyuluh naik pangkat. Kami naikkan ratusan dari mereka, (Jika tidak salah) 900 pegawai. Setelah itu mereka minta dua kalilipat bahkan lebih. Saya bilang, itu sih bukan kenaikan pangkat. Tapi transmigrasi."

Cerita beliau membuat penonton kompak terbahak.

"Sekarang saya tanya, siapa yang memberikan rejeki?."

"Allah..," jawab penyuluh itu.

"Siapa yang menentukan jodoh?."

"Allah..."

"Maut?."

"Allah..."

Penoton bertepuk tangan.

Sebelum sang penyuluh kembali ke tempat duduk. Ia dihadiahi sebuah topi dan diajak untuk selfie bersama. Setelah itu Pak Menteri meminta para dandim untuk mengajak penyuluh berfoto bersama dan mengapitnya.

"Jika ingin sukses, jangan banyak tidur. Kami tidur hanya 2 jam. Perbanyak DOA agar sukses dipermudah. Kita sekarang adalah mahasiswa yang kere. Tapi bisa jadi dua puluh tahun kedepan kita adalah seorang menteri. Dan yang terpenting, mintalah pada Allah. Bukan pada seorang menteri," pekik Mentan itu.

Kami bertepuk tangan. Tangan saya sampai memerah. Merah muda.

Keempat, seorang mahasiswa yang agak berisi mendapatkan gilirannya untuk bertanya.

"Lahan di yang dimiliki keluarga kami kemarin sudah dijual, Pak. Karena untuk menutupi hutang."

"Kenapa tidak dibuat lapangan futsal? Lantas disewakan."

Kami semua tertawa mendengar ungkapan spontan Pak Mentan.

"Wah, gimana petani kita ini? Kalau semuanya begini, makan apa kita nanti.

"Bla..bla.."(Saya tidak begitu mendengar jelas bentuk pertanyaannya. Yang jelas tentang pupuk. Hehe)

"Baik, saya akan mengirim bantuan pupuk secukupnya."

Gedung dipenuhi suara tepuk tangan untuk kesekian kalinya.

Seperti yang lain, ia juga mendapat topi dan berfoto bersama Pak Mentan.

Kini saatnya penanya terakhir. Pak Menteri telah mempersilahkannya. Namun mahasiswi berkacamata yang sedari tadi masih berdiri di panggung itu berbicara sesuatu pada Mentan. Penonton bertanya-tanya.

"Berpuisi.. Silahkan.." ucap Mentan.

Mahasiswi itu berpuisi dengan apik. Puisinya untuk Pak Menteri. Saya merinding. Haru mendengarnya. Puisi yang bisa jadi ia buat beberapa menit yang lalu itu begitu menyentuh. Penonton bertepuk tangan. Saya juga demikian.

Akhirnya, penanya terakhir mendapatkan kesempatannya. Seorang mahasiswi yang memakai baju merah.

"Pak, di Desa ..., desa saya banyak sekali hama wereng yang menyerang tanaman warga. Ka.."

"Dimana itu?" Jangan tiru kebiasaan memotong pembicaraan, kecuali kalian seorang menteri. Hehe.

"Di ..., Pak."

"Baik, nanti saya kirim pembasmi hama wereng. Tolong nanti langsung dikirim ke desa anak ini secukupnya, ya." titah Pak Menteri pada ajudannya.

"Terima kasih, Pak."

Audien kembali meriah.

Seperti yang lain, mahasiswi itu juga mendapatkan hadiah sebuah topi yang dipasang langsung oleh Mentan.

Sebelum mengakhiri kuliah tamu, Pak Menteri memerintahkan ajudannya memberikan uang senilai yang disebutkan tadi kepada mahasiswi berkacamata. Penonton riuh. Sampai banyak yang berdiri untuk memastikan apakah kejadian ini memang sungguhan. Bagi saya, belajar, doa dan kerja keras memang mampu membuat kita mengalami hal-hal yang menakjubkan. Yang bahkan luput dari terkaan orang-orang.

Pengalaman bertemu Menteri Pertanian ini saya lihat dari sisi yang berbeda. Bukan dari segi pertanian yang memiliki potensi yang begitu besar dan permasalahan yang amat kompleks, namun dari segi bagaimana seorang menteri mengajak para pemuda untuk tidak takut bermimpi besar. Disertai dengan doa, belajar dan kerja keras. Karakter inilah yang justru nantinya akan mampu menyelesaikan permasalahan yang selama ini menghambat cita-cita luhur bangsa. Jangan sampai jaman yang sudah serba enak ini malah mebuat otak kita makin tumpul. Jaman dimana orang nun jauh di sana sekalipun dapat mengetahui bahwa kita tengah menikmati semangkuk bakso. Usai kita jepret dan bagikan story-nya. Semoga semangat selalu menyertai kita semua. Karena kata Andrea Hirata dalam novelnya yang berjudul Maryamah Karpov: "Ilmu dan semangat dapat menaklukkan apapun."
Pengalaman bertemu Pak Menteri ini juga mengajarkan saya bahwa dengan semangat dan ilmu kita akan lebih mudah membantu banyak orang.

Sebelum sesi tanya jawab itu Pak Mentan telah memberikan bantuan sepuluh traktor untuk UTM. Setelah semua bersorak, beliau mengungkapkan: "Nanti, kalian bongkar satu. Tidak mengapa jika tidak bisa mengembalikannya lagi. Yang terpeting berusaha. Buatlah hal baru, duhai pemuda!"

"Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
- Bung Karno

Hampir semua orang berebut bersalaman dengan beliau. Ada juga yang berebut untuk bisa berfoto. Di sisi lain saya dapati mahasiswi-mahasiswi lain cekikikan berfoto dengan topi yang didapat temannya tadi. Satu-satu bergantian. Sedang saya masih terharu. Entah. Perasaan saya campur aduk. Kepingan ilmu dan semangat juga ikut bercampur di sana. Duh, Gusti~

[Curhat: Akhirnya, setelah rutinitas atau mungkin malas yang mengganggu niat untuk membuat catatan ini, sekarang catatan ala kadarnya ini rampung juga setelah pagi ini meluangkan beberapa masa untuk mengkritingkan jari. Sepertinya masih banyak yang belum tersampaikan, tapi baterai HP nyaris lobat, tinggal 11%. Baik, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk bagian yang dirasa perlu diedit. Karena tulisan ini hanya berbekal ingatan, bertanya, buku catatan resume yang ternyata kosong, dan posisi duduk yang tidak strategis. Catatan ini saya tekankan untuk meperingatkan diri sendiri terlebih dulu. Akhir kalimat, semoga bermanfaat!]

Bangkalan, 11 Juni 2017 - 07:52 WIB

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates