Kuliah tamu yang dilaksanakan pada Selasa, 6 Juni 2017 di Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura ini dihadiri oleh Menteri Pertanian RI Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P. dengan tema "Pengembangan Potensi Pertanian Pangan Berbasis Lahan Kering". Itulah mengapa saya membubuhkan judul catatan ini demikian. Pertemuan yang singkat, namun banyak makna yang tersirat.
Pada awalnya saya merasa biasa saja mendengarkan kuliah yang disampaikan Pak Menteri. Biasa saja. Sama seperti yang saya lihat di televisi. Saya hanya tertegun, memperhatikan seperti apa gaya bicara orang besar. Bagaimana gerak geriknya. Itu yang selalu saya lakukan. Bahkan ketika semua bertepuk tangan riuh, saya hanya bisa diam. Mencoba mencerna setiap perkataan yang dilontarkan seorang menteri. Lagipula, bagi saya, tepuk tangan bisa menjadi sesuatu yang amat sakral dan diberikan untuk hal-hal yang penting. Perkataan atau kejadian yang amat luar biasa. Luar biasa bisa saya artikan luas. Seseorang yang berusaha menampilkan yang terbaik layak mendapat tepuk tangan, misalnya.
Saya duduk dikursi yang cenderung berada di belakang. Saya masih diam. Memperhatikan Pak Menteri menyampaikan ceramahnya. Tentang pertanian. Hal yang begitu krusial untuk diperbincangkan. Tapi itu masih membuat saya terdiam. Lagi-lagi saya lebih terpaku dengan cara bicara beliau. Entah, saya tidak peduli jika itu yang disebut retorika. Saya masih terdiam. Padahal ada tugas meresume paparan materi beliau.
Ceramah akhirnya usai. Buku resume milik saya masih kosong. Kini tibalah sesi bertanya. Setelah banyak yang mengangkat tangan, Pak Menteri secara random memilih lima orang dari mereka. Seorang mahasiswa laki-laki yang mengenakan songkok, seorang penyuluh, seorang mahasiswa laki-laki yang cenderung berisi, seorang mahasiswi yang berkacamata dan seorang mahasiswi tanpa kacamata
Mereka akhirnya maju kedepan, menaiki panggung, dan berjejer disamping Pak Menteri di sebelah podium. Kemudian Pak Menteri mempersilahkan mahasiswa bersongkok mengawali sesi bertanya.
Mahasiswa itu bergebu-gebu. Memperkenalkan diri. Lalu bertanya dengan semangat ribuan watt. Pak Menteri hanya tersenyum.
"Pak, saya ini anak petani! Saya keturunan petani! Kakek Nenek saya juga seorang petani! Saya dari ......! Jadi saya asli orang .....! (sepertinya semua kalimat perlu dibubuhi tanda seru, saking bersemangat, tegas, atau entahlah) Orang tua saya biasa menanam jagung. Juga masyarakat di Desa saya. Permasalahannya adalah, kini hasil panen jagung melimpah, tapi harga merosot. Ini yang akhirnya membuat kami lebih rela membiarkan jagung-jagung kami tetap di lumbung dan dimakan rayap. Pak, bagaimana anda menyikapi hal tersebut?," tanya mahasiswa itu.
Alih-alih menjawab dengan nada yang sama, Pak Menteri malah merangkul, menepuk-nepuk lembut punggung mahasiswa itu dan berkata: "Gini, loh, Nak. Kita santai-santai saja." dengan mimik senyum tulus nan kebapakan.
Sontak semua audien yang merupakan seluruh mahasiswa pertanian dan lain-lain itu terbahak. Saya sendiri reflek tersenyum. Ini mimik pertama saya setelah sebelumnya hanya terpaku dan flat.
Pak Menteri melanjutkan: "Baik, saya tanya. Tadi penyuluh yang mana? Oh. Harga jagung turun apa naik, Pak?," tanyanya pada sang penyuluh.
"Naik, Pak. Sekarang harga jagung Rp... per kg."
Seisi gedung pertemuan riuh kembali.
"Inilah, Pak. Pemahaman yang sesat. Banyak anak kita yang akhirnya tersesat seperti ini. Jika seorang menteri bertemu dengan sepuluh orang saja mahasiswa seperti ini, maka pusinglah sang menteri," jelas Pak Menteri yang ditujukan pada rektor.
Audien terbahak.
"Pernah nanam jagung, Nak?," tanya sang menteri.
"Iya, Pak. Orang tua saya."
"Loh, bukan. Kamu pernah tidak menanam sendiri? Ke sawah, lantas berkerumul dengan tanah dan lain sebagainya."
"Belum, Pak." jawabnya agak tersipu.
Audien kembali riuh.
Pesan (dalam artian luas) yang coba saya taksir:
Pertama, betapa banyak seseorang yang sudah 'merasa' paham lalu pandai sekali menyimpulkan sesuatu. Atau hanya paham kulit luarnya saja, tapi tidak sungkan untuk mudah menghakimi.
Kedua, kita ini seorang pelajar. Tapi kerap malas untuk mendalami ilmu, menambah wawasan dan mengasah pengalaman. Hingga akhirnya, minimnya pemahaman dan wawasan membuat kita bisa gelap mata. Kita juga kerap bertanya panjang lebar, menukik dan lain sebagainya hanya untuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal hakikatnya kita tidak memahami pertanyaan yang kita buat atau mungkin telah paham jawabannya. Kita kerap lama-lama berargumen, padahal secuil saja kita tidak pernah mengimplementasikannya.
Ketiga, kita terlalu malas atau mungkin gengsi untuk berpraktek. Padahal lahan dimana-mana. Dan negara kita adalah negara agraris.
Setelah memberikan pelajaran berharga, Pak Menteri kemudian membesarkan hati si mahasiswa yang sudah memiliki mental baja untuk kedepan dan bertanya. Tidak seperti saya yang tidak memiliki iktikad untuk bertanya.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu hebat, bla..bla... Baiklah, Nak. Mana hapemu? Ayo kita selfie." ajak sang menteri.
Penonton bertepuk tangan.
"Sekarang, coba telefon orang tuamu. Menteri ingin bicara."
Riuh. Mahasiswa itu mencoba menghubungi keluarga. Sebentar kemudian ia menjulurkan telefon genggamnya pada menteri. Penonton senyap seketika.
"Halo.." Pak Menteri mengawali perbincangan.
"Halo, iya. Ibuk, saya Menteri Pertanian."
Riuh sebentar oleh penonton lalu hening lagi.
"Iya. Ini ... anak Ibu, ya?"
Seseorang disana menjawabnya. Entah bagaimana kalimatnya. Pak Menteri hanya mangut-mangut.
"Orangnya rajin tidak, Buk? Oh rajiin."
"Pernah bantu tanam jagung, tidak? Oh! Tidak?"
Penonton ngakak.
Dan seterusnya. Hingga akhirnya panggilan diakhiri. Dan semua penonton termasuk saya bertepuk tangan. Pak Menteri menepuk punggung mahasiswa dan tersenyum.
"Kami dulu adalah pekerja keras! Tidak malas! Kemiskinan tidak lantas membuat kami putus asa! Saat masih kecil, kami pergi ke sawah dulu agar bisa makan! Tidak peduli cemoohan seperti apapun. Kami percaya, dengan BELAJAR dan KERJA KERAS, suatu saat kami akan menjadi orang besar!"
Penonton bertepuk. Pun saya. Saya mengartikan orang besar adalah orang yang bermanfaat. Dan kalimat itu sungguh membuat saya haru. Pak Menteri mengajak kita agar mau bermimpi besar!
Sebelum mengakhiri pertemuan ekslusifnya dengan mahasiswa itu, Pak Menteri menghadiahinya sebuah topi dan mengajak selfie kembali. Dia kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Inilah cara kerja kami. Mengusut sampai ke akarnya. Mendapatkan informasi-informasi penting demi perubahan. Pernah suatu ketika rombongan mahasiswa berdemo pada kami. Setelah kami tanya apa tuntutannya ternyata sudah terselesaikan semua. Seperti traktor dan lain sebagainya. Setelah kami usut mereka hanyalah pesuruh calon .... (menyebut jabatan). Syukurlah, tidak terpilih."
Audien memberikan applause-nya lagi.
Sekarang giliran seorang mahasiswi berkacamata. Membaca notebook lengkap dengan penanya.
"Begini, Pak. Saya ingin bertanya mengenai kasus yang ada di...."
"Dari mana anda tahu kasus itu?," Pak Menteri memotong.
Penonton riuh.
"Saya membaca dari berbagai jurnal dan..."
"Berapa biaya yang anda habiskan untuk melakukan penelitian itu?," lagi.
Lagi, penonton riuh.
"Bukan saya yang meneliti, Pak. Ta.."
"Habis berapa biayanya?"
"Tidak, Pak. Saya hanya membaca da.."
"Baik, anda saya hadiahkan lima juta rupiah!"
Penonton riuh kuadrat.
Pesan yang coba saya terka:
Seseorang yang mau menyekap malas dan membaca lalu memahami beberapa kasus yang terjadi nyata tidak akan rugi. Tidak akan rugi orang-orang yang mau dan rajin belajar. Bonusnya tidak terbatas senilai lima juta rupiah. Tidak akan rugi seseorang yang suka membaca.
Penanya ketiga mengarahkan ujung microfon dan mulai bertanya. Seorang penyuluh.
"Bla..bla.. (sudah saya bilang, saya tidak terlalu mendengar pertanyaannya. Karena saya duduk agak belakang. Ruangan yang luas membuat suara seakan makin menghilang. Kualitas suara dari microfon juga buruk. Menggema dan ngeblur, kalau untuk bahasan gambar. Hehe)
"Kami dapat demo agar penyuluh naik pangkat. Kami naikkan ratusan dari mereka, (Jika tidak salah) 900 pegawai. Setelah itu mereka minta dua kalilipat bahkan lebih. Saya bilang, itu sih bukan kenaikan pangkat. Tapi transmigrasi."
Cerita beliau membuat penonton kompak terbahak.
"Sekarang saya tanya, siapa yang memberikan rejeki?."
"Allah..," jawab penyuluh itu.
"Siapa yang menentukan jodoh?."
"Allah..."
"Maut?."
"Allah..."
Penoton bertepuk tangan.
Sebelum sang penyuluh kembali ke tempat duduk. Ia dihadiahi sebuah topi dan diajak untuk selfie bersama. Setelah itu Pak Menteri meminta para dandim untuk mengajak penyuluh berfoto bersama dan mengapitnya.
"Jika ingin sukses, jangan banyak tidur. Kami tidur hanya 2 jam. Perbanyak DOA agar sukses dipermudah. Kita sekarang adalah mahasiswa yang kere. Tapi bisa jadi dua puluh tahun kedepan kita adalah seorang menteri. Dan yang terpenting, mintalah pada Allah. Bukan pada seorang menteri," pekik Mentan itu.
Kami bertepuk tangan. Tangan saya sampai memerah. Merah muda.
Keempat, seorang mahasiswa yang agak berisi mendapatkan gilirannya untuk bertanya.
"Lahan di yang dimiliki keluarga kami kemarin sudah dijual, Pak. Karena untuk menutupi hutang."
"Kenapa tidak dibuat lapangan futsal? Lantas disewakan."
Kami semua tertawa mendengar ungkapan spontan Pak Mentan.
"Wah, gimana petani kita ini? Kalau semuanya begini, makan apa kita nanti.
"Bla..bla.."(Saya tidak begitu mendengar jelas bentuk pertanyaannya. Yang jelas tentang pupuk. Hehe)
"Baik, saya akan mengirim bantuan pupuk secukupnya."
Gedung dipenuhi suara tepuk tangan untuk kesekian kalinya.
Seperti yang lain, ia juga mendapat topi dan berfoto bersama Pak Mentan.
Kini saatnya penanya terakhir. Pak Menteri telah mempersilahkannya. Namun mahasiswi berkacamata yang sedari tadi masih berdiri di panggung itu berbicara sesuatu pada Mentan. Penonton bertanya-tanya.
"Berpuisi.. Silahkan.." ucap Mentan.
Mahasiswi itu berpuisi dengan apik. Puisinya untuk Pak Menteri. Saya merinding. Haru mendengarnya. Puisi yang bisa jadi ia buat beberapa menit yang lalu itu begitu menyentuh. Penonton bertepuk tangan. Saya juga demikian.
Akhirnya, penanya terakhir mendapatkan kesempatannya. Seorang mahasiswi yang memakai baju merah.
"Pak, di Desa ..., desa saya banyak sekali hama wereng yang menyerang tanaman warga. Ka.."
"Dimana itu?" Jangan tiru kebiasaan memotong pembicaraan, kecuali kalian seorang menteri. Hehe.
"Di ..., Pak."
"Baik, nanti saya kirim pembasmi hama wereng. Tolong nanti langsung dikirim ke desa anak ini secukupnya, ya." titah Pak Menteri pada ajudannya.
"Terima kasih, Pak."
Audien kembali meriah.
Seperti yang lain, mahasiswi itu juga mendapatkan hadiah sebuah topi yang dipasang langsung oleh Mentan.
Sebelum mengakhiri kuliah tamu, Pak Menteri memerintahkan ajudannya memberikan uang senilai yang disebutkan tadi kepada mahasiswi berkacamata. Penonton riuh. Sampai banyak yang berdiri untuk memastikan apakah kejadian ini memang sungguhan. Bagi saya, belajar, doa dan kerja keras memang mampu membuat kita mengalami hal-hal yang menakjubkan. Yang bahkan luput dari terkaan orang-orang.
Pengalaman bertemu Menteri Pertanian ini saya lihat dari sisi yang berbeda. Bukan dari segi pertanian yang memiliki potensi yang begitu besar dan permasalahan yang amat kompleks, namun dari segi bagaimana seorang menteri mengajak para pemuda untuk tidak takut bermimpi besar. Disertai dengan doa, belajar dan kerja keras. Karakter inilah yang justru nantinya akan mampu menyelesaikan permasalahan yang selama ini menghambat cita-cita luhur bangsa. Jangan sampai jaman yang sudah serba enak ini malah mebuat otak kita makin tumpul. Jaman dimana orang nun jauh di sana sekalipun dapat mengetahui bahwa kita tengah menikmati semangkuk bakso. Usai kita jepret dan bagikan story-nya. Semoga semangat selalu menyertai kita semua. Karena kata Andrea Hirata dalam novelnya yang berjudul Maryamah Karpov: "Ilmu dan semangat dapat menaklukkan apapun."
Pengalaman bertemu Pak Menteri ini juga mengajarkan saya bahwa dengan semangat dan ilmu kita akan lebih mudah membantu banyak orang.
Sebelum sesi tanya jawab itu Pak Mentan telah memberikan bantuan sepuluh traktor untuk UTM. Setelah semua bersorak, beliau mengungkapkan: "Nanti, kalian bongkar satu. Tidak mengapa jika tidak bisa mengembalikannya lagi. Yang terpeting berusaha. Buatlah hal baru, duhai pemuda!"
"Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
- Bung Karno
Hampir semua orang berebut bersalaman dengan beliau. Ada juga yang berebut untuk bisa berfoto. Di sisi lain saya dapati mahasiswi-mahasiswi lain cekikikan berfoto dengan topi yang didapat temannya tadi. Satu-satu bergantian. Sedang saya masih terharu. Entah. Perasaan saya campur aduk. Kepingan ilmu dan semangat juga ikut bercampur di sana. Duh, Gusti~
[Curhat: Akhirnya, setelah rutinitas atau mungkin malas yang mengganggu niat untuk membuat catatan ini, sekarang catatan ala kadarnya ini rampung juga setelah pagi ini meluangkan beberapa masa untuk mengkritingkan jari. Sepertinya masih banyak yang belum tersampaikan, tapi baterai HP nyaris lobat, tinggal 11%. Baik, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk bagian yang dirasa perlu diedit. Karena tulisan ini hanya berbekal ingatan, bertanya, buku catatan resume yang ternyata kosong, dan posisi duduk yang tidak strategis. Catatan ini saya tekankan untuk meperingatkan diri sendiri terlebih dulu. Akhir kalimat, semoga bermanfaat!]
Bangkalan, 11 Juni 2017 - 07:52 WIB