Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Ini adalah hari ke-30 kaki saya menapaki tanah Lumajang ini. Lebih spesifiknya lingkungan P4S Persada Nusantara Lumajang. Okelah, spesifiknya lagi, keramik kamar bercat kuning, yang dilengkapi dengan jendela, kusen dan pintu yang bercat hijau.
To the point, hari ini kami akan pulang. 😊🎉Yippie!
***
Semoga ilmu yang kami raih bermanfaat. Dan adik-adik yang masih belajar di P4S selalu di berikan kelancaran dan semangat demi meraih indahnya ilmu.
.
.
Lumajang, 5 Februari 2017 @04:50 WIB

Sekitar satu jam lama perjalanan menuju koperasi Hortikultura "Sri Lestari" yang terletak di Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Lumajang. Untuk sampai disana kami melewati sekitar 6 kecamatan yang ada di Kabupaten Lumajang.
***
Koperasi Hortikultura "Sri Lestari" ini merupakan salah satu jaringan P4S Persada Nusantara Lumajang. Yang berperan sebagai penyedia input berupa bibit cabai merah besar di P4S. Selain itu hasil budidaya cabai merah yang ada di P4S nantinya akan dipasarkan ke koperasi "Sri Lestari" dengan harga kontrak terendah Rp. 9000,- per kg. Di Koperasi tersebut juga membudidayakan berbagai tanaman Hortikultura berupa Cabai merah besar, cabai rawit, kacang panjang, tomat, dll. Hasil panen cabai merah besar akan dipasok ke PT. Indofood dengan syarat standarisasi yang telah ditentukan.
***
Ingin rasanya berbagi banyak perihal ilmu yang didapat dari kunjungan tadi. Namun sekarang sudah larut malam. Atau mungkin ini efek usai makan malam tadi. Iya, tadi selesai masak jam setengah sepuluh lalu makan bersama adik-adik dengan lahap. Waktu makan malam kami biasanya ba'dha atau qobla magrib. Namun kali ini bisa selarut ini. Mungkin kami lelah. Eaaaa. Jadilah ngantuknya makin berlipat. Meminta saya menghentikan menulis lagi kalimat-kalimat.
Btw, walau tulisan saya tidak anda baca dengan khidmat. Semoga meski sedikit tapi bermanfaat.
.
.
Lumajang, 4 Februari 2017 @23:30 WIB

Dek Yaqin, Dek Rudi dan Dek Riko membantu kami menyelesaikan penyiangan dan pemupukan kangkung darat. Dan hari ini kedua kegiatan tersebut benar-benar selesai!
***
Ini adalah hari terakhir kami ke lahan. Sedih rasanya meninggalkan kangkung yang kami tanam dan rawat sejak orok (hehe, lebay), cabai yang kita rawat (pemupukan, penyemprotan pestisida, pewiwilan, penalian, pemasangan ajir, dan penyiangan) seakan tidak rela melepas kepergian kita siang ini, para bayam seperti memanggil-manggil kami dari kejauhan, kacang panjang dan sawi agaknya tersedu melihat punggung kami yang perlahan menghilang. 😭😂
***
Selain berat rasanya meninggalkan para tanaman tesebut, berat juga meninggalkan sosok-sosok yang ada di P4S Persada Nusantara.
Mereka, yaitu:
Bapak Ir. H. Machmud Hadi, MP:
Sosok yang tawaddu', religius, gigih, kritis, detail melihat sesuatu, guru yang hebat, memahami betul teori maupun praktek di bidang pertanian. Ini lazim mengingat beliau merupakan lulusan Sekolah dan Kampus di bidang Pertanian. Ilmu yang beliau dapat benar-benar diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Contoh kecil, saat beliau berbelanja buah, beliau akan paham mana buah yang hendaknya menjadi pilihan, cara mengupas dan lain sebagainya.
Ibu Sofi (Istri Pak Machmud):
Waktu beliau menjemput kami di POM bensin saat survey lokasi PKL untuk pertama kalinya, beliau menelfon saya terlebih dulu. Saat itu suara beliau membuat saya mengira beliau adalah wanita muda sebagai sekretaris di P4S. Padahal beliau adalah istri Pak Machmud. Saya tidak bilang beliau tua loh ya. Hehehe. Baru-baru ini saya ketahui beliau adalah manajer keuangan P4S. Ah, tidak jauh berbeda dengan dugaan saya sebelumnya. Ibu itu suka sekali memasak. Kami seringkali kecipratan hasil olahannya. Seperti cilok, kolak, keripik pisang, dll. Kesemuanya memiliki rasa yang lezat!
Mbak Farah(Putri Pak Machmud):
Duh, cantik sekali Mbak yang satu ini. Tidak hanya itu, orangnya menyenangkan saat ngobrol. Bercerita topik apa saja yang menarik bagi kami.
Himma:
Saya akrab dengannya sejak semester satu. Sering kesana kemari bersama untuk hal tertentu. Seperti ke WiFi Zone, perpus, warung, dll.
Selebihnya, kami melatih diri kami mandiri.
Pelan tapi pasti adalah salah satu paham yang dia anut. Saat memasak, memilih belanjaan di tukang sayur, dll. Saya kerap gregetan karena sepertinya saya selalu bekerja dengan cukup cepat alias kadang bisa membuat saya mudah ceroboh. Beda dengan Himma. Mungkin dia ingin teliti dan telaten dalam mengerjakan setiap hal. Himma kadang bisa juga banyak bicara. Dia juga baik orangnya. Oya, dalam hidup, tiga orang wanita yang saya tidak pernah mendengar mereka bernyanyi, yaitu: Ibu saya; Mbak Lia--Ipar saya; dan Himma. Namun belakangan saya mendapati Himma bernyanyi. Cukup lama. Ini sangat langka.
Kesamaan kami kadangkala bisa sama menganggap sesuatu lucu padahal tidak bagi orang lain. Hehehe.
Irvi:
Pertama mengenalnya saya pikir dia sangat jutek. Ternyata perhatian sekali orangnya.
Yang bikin saya gemes sama orang ini adalah saat dimintai pendapat Ia sering sekali menjawab: "Terserah"
Hadeee, kan bikin bingung. Tapi orangnya baik kok. Dia itu orangnya panikan dengan masalah kecil. Apalagi besar. Butuh waktu menjelaskan, menenangkan, dan memaparkan solusi padanya. Dia orang yang mudah peka--ini saya simpulkan semenjak mengenalnya di kampus. Ia selalu merencanakan kegiatan yang akan dilakukannya dalam waktu dekat secara detail. Kesamaan kami: pengin cepat pulang ke rumah. Hehehe
Huda:
Rempong, mungkin kata itu yang tepat kalo mood-nya lagi baik. Rempong itu timbul kala bercanda dengan kami. Mempraktekkan bagaimana lemah gemulainya sosok wanita, membuat kami tergelak.
Terkenal suka tidur di kelas, padahal duduk di kursi paling depan.
Tapi kalau sudah berpendapat/berdiskusi dalam forum bisa cas-cis-cis. Seakan lupa akan dosanya di kelas. Hehehe
Dek Hilman:
Dek Jokowi adalah panggilan yang akrab dipakai. Anaknya humoris, kadang ceplas ceplos, rajin bekerja, berani menjawab dan iseng.
Selera humornya lenyap saat sakit kemarin. Yaiyalah~
Dek Riko:
Jarang pisah lahan dengan Dek Hilman. Sudah seperti soulmate. Anaknya suka bercanda, mudah tertawa, juga rajin bekerja.
Paling giat mengamalkan lelucon khas mereka. Seperti: saat ada yang berbicara dan pembicaraan mengandung kata 'siapa' maka akan di jawab dengan plesetan 'yang nanya'. Namun dalam bahasa Madura agar pas. Jadi? 'Sapah' ditimpali kata 'Se atanyah'.
Sebenarnya lelucon itu telah saya kenal di masa kecil pada zaman lampau.
Dek Zaeni:
Suka memasak, suka bersih-bersih, bisa lari cepat, pandai melantunkan adzan dan menggandrungi seni bela diri.
Pernah suatu waktu anak ini galau katanya.
Secara spontan melihat kerudung di jemuran depan kamar. Ia memakainya dengan lihai. Sontak kami semua kembung karena tertawa.
Dek Husen:
Sangat pendiam, rajin bekerja, suka bersih-bersih, dan suka memasak.
Meski pendiam dan berbicara seperlunya, kala itu ia berani meminta saya membantu menyiapkan bahan diskusi.
Ia yang sibuk menyiapkan--sementara yang lain bermain hape disampingnya atau tengah memasak--bertanya mengenai bahan diskusi untuk malam nanti. Tetap dengan ekspresi pendiam dan gaya bicara seperlunya.
Dek Nasir:
Dekat dengan Dek Yaqin, baik, dan sok manis.
Anak ini yang paling sering menyindir saya kalau saya sedang menggunakan hape. Duh, Mbak hape mulu. Kira-kira begitu katanya.
Dek Franzah:
Sering ngebanyol (sebenarnya semua), baik, dan suka jail.
Kadang bisa sangat handal menceramahi Dek Zaeni yang sedang galau.👍🏻
Dek Rangga:
Ketua, baik dan hobi menyanyi sambil mendengarkan musik. Hobi itu ia lakukan di kamar tidur, kamar mandi, musola, teras, dapur dll. Ini karena suaranya yang begitu nyaring meski tanpa microfon. Semua genre lagu ia putar dan nyanyikan. Tak kenal waktu. Tak kenal bahasa.
Iya, kami akui jika ia punya bakat dari suaranya yang pas untuk ukuran vokalis. Hanya saja perlu dipoles sedikit. Hanya saja sering mengganggu tidur kami. 😁
Dek Mamat:
Sopan, baik, dan sering tidak terpisahkan dengan hape dan earphonenya. Namun sebenarnya anaknya rajin jika di telaah lagi. Butuh kesungguhan untuk memelihara 'rajin' dalam diri kita bukan?
Dek Rudi:
Suka jail, baik, dan humoris. Humornya ia salurkan pada puisi, pantun, cerita pendek dan lagu yang ia buat sendiri sesuka hati.
Gerakan tubuh yang mengikuti humornya membuat saya menduga kalau ia berbakat bermain dalam sebuah pentas teater.
Dek Yaqin:
Lumayan cuek, baik sebenarnya, dan bicara seperlunya. Tawanya pecah saat melihat Dek Rudi tercebur ke selokan air. Terbahak-bahak. Menghilangkan kesan cuek yang melekat pada dirinya.
Sering ia menjadi tempat curhat Dek Zaini, karena orangnya memang dinilai peduli dan punya solusi.
Bu Putri:
Beliau adalah salah satu buruh di P4S yang telah bekerja selama 15 tahun.
Darinya kami belajar arti bersyukur, kesederhanaan dan kedermawanan.
Kami pernah di minta untuk silaturahmi ke kediaman beliau. Jadilah kami menandaskan suguhan yang beliau siapkan sepenuh hati dengan sahabatnya, yang juga buruh tani di P4S.
Senyum Bu Putri membuat hati kami senang, bukan karena seringnya beliau memberi kami kudapan. Akan tetapi pelajaran yang secara tidak langsung beliau ajarkan pada kami.
***
Entah apa kenang-kenangan yang pantas saya berikan pada mereka yang telah ada dan menjadi bagian di PKL saya. Hanya doa agar tali silaturahmi kami selalu terjalin dan selalu dalam ridlo dan lindungan-Nya. Aamiin~
.
.
Lumajang, 3 Februari 2017 @22:41 WIB

Kadang merasa bosan jika pekerjaan/kegiatan yang dilakukan di PKL ini selalu sama. Seperti kegiatan menyiangi kangkung yang tak kunjung selesai ini. Hmm, penaksiran saya mengatakan jika penyiangan kangkung ini berakhir besok. Barulah kemudian di pupuk dan ditunggu pertumbuhannya seperti kangkung yang sebelumnya.
Rasa bosan yang saya rasakam sama halnya saat menjalani rutinitas kuliah yang mainstream. Kuliah-pulang. Rasa bosan/jenuh (karena zona nyaman) ini kadang membuat saya mengeluh tak sabar meski seringkali hanya tertanam di dalam hati.
Dan berbagai kegiatan lain yang menimbulkan alasan bosan terbit dan memililit.
Kalau sudah begini jalan terbaik yang musti dipilih ialah bersabar.
***
Menurut Ibnu Abbas, sabar dalam Al-Qur'an itu ada tiga bentuk; pertama, bersabar dalam menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah SWT, yang kedua, sabar saat ditimpa musibah, dan yang ketiga sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah SWT.
Dari situ dapat kita pahami bahwa sabar membuat manusia terhindar dari maksiat, istiqomah dalam menjalankan ibadah, dan menerima ketentuan yang pahit.
Kita bersabar beribadah (dalam arti luas) melaksanakan tugas kompleks sebagai manusia dengan ikhlas, tanpa menggerutu ataupun mengeluh.Bersabar menahan diri untuk meninggalkan hal yang dilarang agama. Karena sejatinya itu untuk kebaikan kita sendiri. Bersabar saat ditimpa kenyataan pahit. Misalnya saat kita bersabar bangun pagi untuk sholat subuh, belajar demi mendapatkan ilmu, bersabar menjauhi kemaksiatan, bersabat kala terkena musibah, dsbgnya.
Dari ketiga macam beserta penjelasan dan contoh sabar di atas kita dapat memahami pengertian sabar secara sederhana. Memang butuh mujahadah (kesungguhan) untuk benar-benar menerapkannya.
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya."
(HR Muslim)
***
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh."
Inilah artinya, bahwa sabar bukan sebuah akhlak pelengkap bagi manusia. Akan tetapi menjadi salah satu dasar dalam menjalani sebuah kehidupan. Kehidupan yang tidak pernah terlepas dari persoalan.
Bisa kita lihat dari kaitan sabar dengan ikhlas, dan akhlak terpuji lain. Menandakan bahwa sabar memang terkait dan tidak dapat dipisahkan.
***
Penegasan bahwa manusia pasti akan menemukan persoalan hidup telah disampaikan dalam al-Qur'an. Salah satunya dalam ayat berikut:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ”Inna lilla hi wa inna ilaihi ra jiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
(QS. Al-Baqarah: 155–156)
Untuk itu sabar perlu diterapkan maupun dilatih agar kita bisa menjalani hidup hingga menuju alam indah yang kekal.
Karena kesabaran adalah salah satu tolok ukur dari kualitas keimanan dan kehidupan seseorang.
***
Telah saya sampaikan, jika pemaparan saya tentang sabar ini masih sederhana. Tentang macam dan sedikit contoh tersebut hanya sekadar potongan mozaik dari utuhnya kata sabar
Karena sabar mempunyai definisi yang lebih luas dan komprehensif. Kita akan dibuat terkagum saat mengetahui esensi dari sabar yang sesungguhnya. Pun kagum pada manusia yang mampu menerapkan akhlak sempurna ini.
***
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 153)
***
😔Maka, dengan tugas hidup yang tak seberapa berat ini, saya memohon pada Allah. Agar sabar pada diri saya selalu bisa tumbuh subur kembali, meski kerap dilanda kekeringan.
.
.
Lumajang, 2 Februari 2017 @20:04 WIB

Setelah adik-adik SMK PPN 1 Tegal Ampel Bondowoso memasang ajir pada tanaman cabar merah; kami semua melakukan pemupukan terhadap tanaman cabai merah untuk kesekian kalinya. Pemupukan diawali dengan meracik pupuk ponska dan pupuk mutiara. Keduanya dicairkan menggunakan air bersih untuk kemudian dilarutkan ke dalam dua tong plastik besar berkapasitas 150 liter. Setiap tong berisi 1,5 kg pupuk ponska dan 1 kg pupuk mutiara. Kami berempat belas memupuk tanaman cabai yang luas lahannya mencapai 2,5 ha bersama 5 Ibu-ibu, tenaga kerja tetap P4S Persada Nusantara.
***
Sementara yang piket sedang mencuci piring, kami memulai diskusi rutin yang kali ini dimulai ba'dha magrib usai makan malam bersama. Diskusi selalu di dampingi oleh Pak Machmud. Beliau bisa membuat kami terperangah dengan setiap ilmu yang beliau sampakan. Saya selalu berpikir tentang kemampuan praktek dan pemahaman teori beliau yang mendalam. Ada rasa syukur yang menguap karena bisa di pertemukan dengan sosok guru serupa beliau.
***
Rasa syukur semacam itu saya rasakan sejak SLTA. Ini bukan karena saya tidak bersyukur atas guru yang mengajari saya di MI, SD hingga SLTP. Namun mungkin karena pada saat itu saya kurang peka.
Tidak ada yang kebetulan!
Seperti saya yang selalu dipertemukan dengan guru-guru (formal) yang luar biasa.
Guru dapat mengubah pola pikir kita. Memang tidak instan kadang. Tapi saya rasakan.
Guru-guru di SLTA (MAN) saya adalah orang-orang luar biasa. Bisa jadi mereka adalah guru-guru yang paling mendobrak pola pikir saya. Mengajarkan arti taqwa, pantang menyerah, syukur, gigih, dan lain sebagainya dengan cara yang begitu berkesan. Tak terlupakan.
Sebut saja, beliau-beliau adalah Bu Ifa, Pak Wasil, Sir.Wahid, Bu Nursiyah, dan lain-lain.
Di bangku kursus saya juga dipertemukan dengan guru yang juga amat memotivasi. Beliau adalah Mrs. Ria, Mrs. Silvi, Mr. Catur, dan lain-lain.
Sulit menjelaskan motivasi mereka yang jumlahnya banyak itu. Salah satunya untuk tidak ragu.
Di kampus saya bertemu dengan dosen-dosen prodi Agribisnis yang tak kalah keren dan menggugah. Pelajaran dari mereka tidak sebatas apa yang di sampaikan di papan tulis atau pun layar proyektor. Perilaku di luar kelas juga kerap membuat kami terkesan. Kami berpikir jika semua dosen agribisnis adalah orang-orang pilihan. Ini bukan karena membanggakan jurusan kami. Tapi karena kami menjadi bagian dari Agribisnis hingga bisa menyaksikannya sendiri.
Benar kata kitab Ta'limul Muta'allim tentang anjuran agar kita pandai memilih teman, memilih guru dan memilih ilmu.
Saya tidak memilih sebelumnya ingin belajar dimana. Karena sering yang didapat bukan apa yang dipilih. Tapi Allah telah memilihnya untuk saya. Dan saya patut bersyukur.
***
What a teacher writes on the blackboard of life can never be erased.
-Unknown Author
***
Guru sangat berperan dalam pembangunan nasional. Karena guru dinilai memberikan sumbangsih terhadap karakter dan keterampilan generasi penerus bangsa. Tingkat ilmu pengetahuan merupakan ukuran yang sangat penting dalam membedakan kemajuan dan kemunduran bagi suatu negara. Jika berbicara mengenai jasa seorang guru tak habis kata-kata yang bisa diutarakan. Kita hanya perlu menerapkan apa yang di ajarkan agama; untuk menghormati guru dan mendoakan guru.
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR. Ahmad)
Menghormati guru ini memiliki arti yang begitu luas. Bagaimana cara bicara kita pada seorang guru, cara bertanya, cara menjawab, cara bertamu, dsbgnya. Intinya, akhlak yang baik adalah hal yang tidak bisa dilupakan seorang murid terhadap gurunya.
***
Alkisah Syekhona Cholil hendak menaiki sebuah delman. Sebelum menaiki delman tersebut beliau bertanya pada sang kusir dari manakah asal kuda yang menjadi penggerak delman itu. Setelah mendapati jawaban bahwa kuda itu berasal dari kota yang sama dengan tempat tinggal sang guru, Syekhona Cholil mengurungkan niat untuk menaiki delman tersebut. Ini dikarenakan beliau khawatir kuda yang di gunakan pada delman tersebut masih sedarah/keturunan dari kuda yang di pelihara sang guru.
Ini hanya sepotong kisah bagaimana kehatihatian seorang pencari ilmu terhadap gurunya. Bagaimanakah dengan kita, perilaku kita pada keluarga guru, dan lain sebagainya?
***
Guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Namun janganlah mencari-cari kesalahan mereka lantas menggunjingnya.
“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.” begitu doa orang salaf terdahulu.
Sebab semua akan berpengaruh pada ilmu yang kita dapat. Akankah ilmu yang kita peroleh akan bermanfaat, atau bahkan kita akan sulit menyerap ilmu yang disampaikan oleh seorang guru. Karena ridlo guru yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan mencapai pemahaman terhadap sebuah ilmu.
Dalam syairnya Imam Syafi'i berkata:
"Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru, sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya."
***
Oleh karenanya, di tengah munculnya persoalan di
masyarakat tentang semakin pudarnya membudayakan kesantunan dan budi pekerti, hendaknya kita dapat meggiatkan perilaku menghormati dan memuliakan guru dari diri kita sendiri.
Salah satunya, perilaku memperingati Hari Guru Nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Harusnya tidak hanya di 25 November, namun setiap hari kita harus memperingati diri bagaimana jasa seorang guru yang kemudian kita balas dengan akhlak baik dan doa yang tulus.
***
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru..
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku..
Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu..
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan..
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia..
-Sartono🎼
.
.
Lumajang, 1 Februari 2017 @14:54 WIB

Kami melanjutkan proses penyiangan pada kangkung darat. Saat kami sampai di lahan, kami terkagum melihat kangkung yang sebelumnya telah disiangi, diberi pupuk dan pestisida telah tumbuh lebih sangat tinggi. Waw. Kami pun bersemangat menyianyi yang lain. Untuk kemudian nantinya akan diberi pupuk dan pestisida.
Sebelumnya kami memasang ajir pada kacang panjang yang tempo hari kita tanam. Ajir berfungsi sebagai media rambat tanaman kacang panjang nantinya. Pemasangan ajir pada tanaman kacang panjang ditancapkan secara tegak lurus dengan jarak 5 cm dari tanaman. Ingat, pemasangan ajir jangan sampai terbalik (yang runcing dibawah) seperti beberapa hal yang terbalik di zaman kekinian ini.
***
Ya, terbalik. Kita akan menjumpai guru/dosen rajin yang banyak haters-nya daripada yang sering absen kuliah. Kerajinan dan upaya pendisiplinan kerap menjadi sebuah "kecerewetan" belaka.
.
.
Di sekolah ataupun kampus, kita akan lebih meng-wisss-kan orang yang rajin pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Tunggu, jangan sampai membaca, membawa saja kita akan berceloteh: "Wisss, rajin amat. Tebel banget buku loe. Buat nimpukin maling?"
Padahal bukankah kewajiban pelajar memang belajar. Lalu buku menjadi salah satu media pembelajaran. Jadi kenapa harus membuat orang salah tingkah? Membikin budaya membaca kian surut di negeri ini.
Bersikap biasa saja itu harus. Karena ya, memang biasa saja membaca buku itu. Siapapun berhak belajar. Seperti tukang becak, tukang ojek dan lain sebagainya yang masih sempat meminjam buku di perputakaan jalanan, dobrakan orang-orang yang masih peduli nilai-nilai luhur.
.
.
Pun saat kita mencatat dengan cekatan penjelasan guru/dosen. Kita bisa jadi dianggap rajin atau bahkan sok rajin.
Kenyataannya, memang ilmu itu musti diikat. Karena diibaratkan buruan yang musti diikat dengan tulisan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang bernada: “Ikatlah ilmu dengan tulisan."
Maka berhentilah berpikir bahwa menulis itu sebuah kegiatan yang wow apalagi sok. Karena kewajiban kita memanglah mencari ilmu. Lantas menulisnya agar mudah dibaca, dipahami, diingat lalu diamalkan.
***
Saya sendiri lebih suka mencatat penjelasan dari seorang guru. Apalagi kalau pelajarannya terasa lebih sulit dipahami. Saya akan lebih giat mencatat, lalu teman sebelah saya akan berkata: "Duh, rajin sekali!"
The fact, itu karena saya tidak paham. -__-
Akan tetapi memang, sepenglihatan saya, saat seseorang tengah menulis (menggunakan pen dan buku tulis) akan terlihat lebih apik, brilian.
***
Bermodal kata kekinian dunia akan terasa makin terbalik. Tidak afdol rasanya bila tidak mengikuti trend pacaran. Aneh saat melihat seseorang belum mempunyai pacar. Bahkan bisa jadi kita yang malu melihat mereka berpacaran, bukan mereka yang malu karena kita lihat berpacaran.
Lalu akankah kita abaikan pengetahuan tentang peringatan Allah yang satu ini: "Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk."
(QS Al-Isra 17: 32).
***
Sama halnya saat kita berpikiran bahwa tidak keren rasanya jika belum memiliki gadget canggih dengan fitur permainan yang menarik. Memaikannya sampai paham, sampai level tertinggi main lagi, entah sampai kapan. Tidak peduli meski pelajaran/kuliah tadi pagi belum kita pahami.
***
Kita juga kadangkala lebih memperdulikan berlama-lama menyanyikan lagu tanpa berpikir sudahkah membaca al-Qur'an hari ini?
Seperti saya yang belakangan menyadari betapa lupanya saya pada lagu-lagu sholawat yang terdapat di kitab Barzanji karena terlalu sering menyanyikan lagu barat.
Tidak seperti zaman saat saya masih di Madrasah Ibtidaiyah dulu.
***
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56)
*** ***
Bahasan mengenai 'terbalik' sebenarnya amat luas. Tak habis-habis penjelasannya. Selalu menemukan celah lewatnya ilmu baru. Untuk itu, banyak sekali bacaan yang akan memperkaya pemikiran kita mengenai itu. Jangan bosan membaca dan menulis. Karena membaca adalah salah satu cara memburu ilmu. Lalu menulis adalah cara untuk mengikatnya. Keduanya bernilai ibadah, dalam rangka fastabiqul khairat. Jadi tidak ada yang perlu dirasa; aneh, sok, gengsi, cerewet, dsbnya. Kembalikan pada posisi yang benar pola pikir kita yang terbalik ini. Karena setiap perbuatan bergantung pada niat.
.
.
Lumajang, 31 Januari 2017 @22:10 WIB

Hari PKL kedua puluh dua ya? Ini sudah memenuhi syarat lama PKL yang ditentukan jurusan. Artinya, it's ok jika kita pulang besok.
Tapi lihatlah, laporan bagian pembahasan belum kami sentuh sama sekali. Rangkanya pun masih terkurung di kepala kami. Konon, memulai adalah kegiatan yang sulit. Padahal jobdis pokok bahasan kami sudah jelas. Saya bagian pemasaran, Himma bagian pengolahan, Irvi membahas MSDM dan Huda mendapat bagian budidaya. Komoditas hortikultura di P4S yang berniat kami bahas juga jelas. Mereka antara lain: cabai merah; bayam; kangkung; dan kacang panjang. Pak Macmud membimbing kami di lapang, ditambah diskusi rutin tiap malam. Lalu masih kurang apalagi?
Hmm, jangan-jangan memang memulai itu sukar.
***
Hari yang mendung plus gerimis ini membuat kami berangkat ke lahan hampir pukul setengah delapan. Ini sesuai perkataan Pak Machmud: "Kalau masih gerimis jangan berangkat ke lahan dulu."
Jadilah kami tidak seperti biasa yang sarapan di lahan, karena sebelum berangkat kita telah menandaskan jatah sarapan kita.
Meski tetap mendung dan gerimis, kita tetap berangkat dan menjalankan aktivitas seperti biasa.
Kegiatan hari ini adalah pewiwilan cabai merah. Lahan cabai seluas kira-kira lebih dari tiga ribuan meter persegi selesai kita wiwili.
Masih ingat definisi pewiwilan, kan?
Ialah kegiatan membuang tunas yang tumbuh diketiak daun mulai dari bawah hingga cabang Y.
***
Hari ini makan siang terasa begitu berbeda. Kita berempat makan bersama adik-adik SMK PPN Bondowoso Tegal Ampel. Sebelumnya para anggota piket memasak bersama. Kami yang tidak kebagian piket dipanggil-panggil, diminta untuk makan bersama di aula.
Hmm, adik-adik ini kian hari kian baik, sopan, konyol, kocak, rempong dan mengesankan.
Bagaimana tidak, mereka sangat perhatian pada keempat kakak non kandung mereka ini.
Misal, saat kami kehabisan lotion anti nyamuk, salah satu dari mereka akan mengulurkan obat nyamuk bakar. Saat saya dan Irvi mencuci piring dengan tangan yang penuh dengan busa, salah satu dari mereka tanpa segan menyuapi kami setusuk kelepon yang entah di dapat dari mana. Saat salah satu dari kami sakit, mereka akan berbondong mengantar ke puskesmas. Saat kami kehabisan camilan, merekan tergerak untuk berbagi.
Sungguh, tak bisa saya sebutkan kebaikan mereka. Terlalu banyak. Terlalu berarti. Terlalu mengaharukan.
Sampai-sampai kami tidak rela meninggalkan mereka yang masih satu bulan lagi magang disini.
Kesan kami pada adik yang lugu-lugu ini lebih dari hitungan jari saat kami pergi.
Namun kami juga merindukan kampung halaman yang telah menanti.
***
Hari ini usai sholat magrib berjamaah dan mengaji, kami menonton film The Karate Kid. Sampai berbusa mulut kami menimpali film yang dibintangi Jaden Smith ini. Tentu kami telah berulang kali menonton film ini. Namun alur, latar, komedi dan pesan yang disampaikan membuat kami ingin menonton lagi dan lagi. Pesan mengenai sifat tawaddu', pantang menyerah, yakin dan lain sebagainya diungkapkan dengan amat apik. Terlebih sifat tersebut harus dimiliki oleh seorang guru pada murid-muridnya.
Kami terlena hingga tak terasa adzan Isyak berkumandang. Kami juga tidak dapat berkutik kala Pak Machmud memencet tombol off. Padahal turnamen dan filmnya hampir end. Ah, sadarkah kita. Bukankah film bagus selalu di putar di jam-jam sholat?
***
Hari yang tergabung dari kumpulan detik, menit lalu jam yang kemudian bersatu menjadi bulan, tahun dst kadang kala terasa sangat cepat berlalu.
Sepertinya baru kemarin malam kami membiasakan telinga kami dengan lagu-lagu mp3 yang mereka putar yang hampir kesemuanya bernada galau. Seperti baru kemarin sore Dek Riko, Dek Jokowi dan Dek Zaeni menjemput kami di muka jalan raya kota. Seperti baru kemarin siang kami menikmati perjalanan pulang dari lahan untuk pertama kalinya. Sepertinya baru kemarin pagi kami mulai mengenal lelucon khas mereka.
"Every meeting always ends with a farewell. The most important thing is not how we weep the farewell, but how we color our togetherness, provide our masterpiece, so its presence will be there when we’re gone."
-Anonymous
***
Hari itu, sepulang kampus, di dalam mini bus, seorang pria paruhbaya bertanya pada saya: "Kuliah, Nak?" "Iya, Pak." "Jurusan apa?" "Agribisnis, Pak." "Pertanian, ya?" "Iya, betul, Pak."
Saya tidak menatap wajah Bapak itu dengan jelas namun bisa saya gambarkan bagaimana ekspresinya.
"Kenapa ga ngambil jurusan Teknik aja?" "Anak saya di jurusan teknik," lanjut Beliau. "Hmm," saya hanya membalas dengan senyum.
Maka, saya sangat kagum manakala pertama kali melihat para adik-adik SMK PPN yang gigih bekerja dengan atribut lengkap. Huh, Indonesia butuh orang-orang seperti mereka. Saya memetik pelajaran yang sangat berharga dari mereka.
Ingat kawan, Indonesia adalah negara yang berkarakter agraris. Namun sedikit pemuda yang ingin berkecimpung di dunia pertanian. Sedikit yang saya ketahui, di Madura sepertinya tidak ada SMK atau SMA Pertanian. Padahal kalau dikelola secara profesional, pertanian akan menjadi ujung tombak meraih keselarasan sosial.
Pertanian adalah karakter budaya bangsa ini. Jadi untuk apa malu menjadi petani, malu menjadi bagian dari petani.
Pertanian juga mengajarkan pemuda agar berjiwa kewirausahaan hingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi beban negara. Lebih-lebih, dengan memahami ilmu pertanian kita akan menjadi manusia yang lebih menghargai hidup ini. Percayalah.
Karena "Tanpa petani kita hanyalah seonggok benda mati."
-Anonymous
.
.
Lumajang, 30 Januari 2017 @21:00 WIB

"Keep running though haunted by fatigue, keep learning despite being approached by boredom, because the things we do for sure there will always be obstacles that hinder."
-Anonymous
***
Saya tengah asyik bernapas lega menikmati hari minggu, libur. Sementara yang lain sudah terlelap kembali. Saya terbangun sendiri karena tidak mengikuti project "tembus pagi" yang diadakan mereka di malam minggu. Ini juga karena tidak genap seminggu lagi kami berempat pergi. Jadi mereka membuat acara tembus pagi yang lebih kita kenal sebagai begadang. Ada yang baru tidur jam 4 dini hari, jam 1, 2 dsbgnya. Sementara saya, jam sepuluh sudah siap berlayar ke pulau kapuk.
Sebenarnya agak tidak enak hati, karena kurang menghargai dan tidak berpartisi-sapi. Tapi saya pergi meninggalkan layar televisi setelah izin dengan sangat hati-hati.
Ini bukan tidak berasalan. Saya telah memikirkannya matang-matang. Saya teringat dulu, kala saya dan teman-teman SLTA mengerjakan sebuah proyek hingga dini hari. Bisa sampai jam empat. Lalu jam lima bangun kembali. Duh, mata saya terasa panas. Dan itu terjadi beberapa kali. Pun setelah saya berkecimpung dengan tugas kampus. Saya harus merelakan tidur sedikit kadang, dan mata yang merah disertai rasa panas. Mungkin juga lebih banyak yang merasakan lebih dari saya. Seperti anak yang aktif di kegiatan mahasiswa, atau sopir yang hanya tidur beberapa menit, dll. Maka, saya memilih tidur lebih awal malam ini.
***
Dek Jokowi menjawab pangilan telefon dari Pak Machmud. Beliau meminta kami ke lahan di HARI MINGGU. Sontak semuanya terbangun dan begegas bersiap-siap. Kami diminta mengikuti kegiatan pemipilan jagung bersama pekerja lain di lahan. Pemipilan jagung menggunakan mesin khusus. Kami hanya diminta mengikuti, mengamati dan sesekali membantu.
Jadilah kami serempak berseru kala mendengar kabar itu: "Duh, malasnyaaaa!"
***
Saya dan Himma telah berada cukup jauh di depan sementara yang lain masih berjalan gontai di belakang, letoy. Himma sebenarnya juga masih mengantuk katanya. Tapi ya bagaimana lagi. Sedang saya segar bugar karena cukup waktu tidurnya. Hehehe, curang.
***
Meski begitu saya sebenarnya juga malas ke lahan. Bagaimana tidak, hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Lalu hari Senin diplesetkan menjadi MONsterDAY.
Masih banyak bibit-bibit malas dalam diri saya. Atau bisa jadi dalam diri setiap orang.
Saya sempat bertanya pada salah satu sahabatsaya yang IP-nya hampir selalu sempurna. Sempurna. Saya bertanya apakah dia tidak malas jika harus membaca buku tebal, sementara saya tertidur pulas di rumah. Dia menjawab dengan santai: "Ya malas sebenarnya, Lut-lut. Malas banget. Tapi gimana lagi."
Saya pernah membaca buku tentang kisah nyata orang yang selalu mendapat nilai yang bagus dan rajin sekali belajar. Seakan tidak pernah merasa lelah. Saat temannya bertanya apakah dia tidak punya rasa malas, dia menjawab:"Punya, namun saya hapus demi bakti saya pada orang tua yang telah membiayai sekolah saya. Berjuang untuk saya."
***
"Study while others are sleeping; work while others are loafing; prepare while others are playing; and dream while others ar wishing."
-William Arthus Ward
***
Omong-omong tentang nilai, banyak sekali orang yang menimba ilmu lantas terlalu fokus pada nilai yang dia terima. Pun saya dulu sebelum memahaminya. Mereka dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus sesuai yang mereka inginkan. Mereka juga bisa menyalahkan siapa saja jika nilai yang mereka dapat tidak sesuai, alih-alih berkaca tentang diri sendiri yang memelihara malas. Berkaca tentang diri sendiri yang lebih rela berjam-jam bermain hape daripada satu jam belajar Bahasa Inggris. Oya, nilai yang dimaksud disini bisa berbentuk nilai tertulis ataupun tidak. Saya tidak bilang saya tidak punya rasa malas, namun saya berusaha hati-hati sebelum berkomentar dahulu. Dahulukan muhasabah diri, intropeksi.
***
"Fokuslah pada proses dan perubahan pada diri anda. Maka dengan sendirinya anda akan mendapatkan hasilnya. Karena jika anda terlalu fokus pada hasil, bisa jadi anda tidak memperoleh hasil perubahan sedikitpun, melainkan seonggok nilai."
-Lutfiyah
***
Rasa malas tidak hanya timbul menjadi masalah dalam urusan dunia saja, namun juga agama. Seperti kefluktuatifan iman seseorang. Ada kalanya seseorang sangat bersemangat beribadah wajib maupun sunnah, namun ada saatnya seseorang merasakan masa datangnya rasa malas yang amat sangat hingga mulai meninggalkan yang sunnah bahkan yang wajib sekalipun.
“Diceritakan kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah, maka beliau berkata, "Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka."
(HR. Ahmad, Dihasankah oleh Al-Albany dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah)
Dapat kita pahami bahwa setiap manusia akan mengalami semangat beribadah yang fluktuatif, kecuali waliyullah. Hanya saja perlu diperhatikan kalau-kalau malas sampai membuat kita meninggalkan ibadah wajib, maka harus berusaha di lawan karena merupakan kemaksiatan dan dikhawatirkan suul khotimah. Naudzubillah~
Sedang bila malas membuat kita meninggalkan yang sunnah seperti qiyamul lail, banyak membaca al-Qur'an dsbnya, maka semoga itu hanya sesaat. Lalu kita lawan dengan tekat yang kuat.
***
Banyak sekali orang berilmu yang menyampaikan agar kita menjauhi sifat merugi yang bernama malas. Hendaknya kita membuat program perencanaan anjurnya.
Jadi mengingatkan pada Saidina Ali ra yang pernah berkata, "Wahai manusia, kehidupan dunia yang dijalani tanpa aturan dan program yang baik, tidak akan memberikan kebaikan sedikit pun."
Meski tak mudah untuk kebanyakan orang, namun banyak yang telah berhasil merealisasikannya. Membuat schedule, lantas mengimplentasikannya. Saya sering sekali membuat schedule. Sering saya perbaharui. Namun sering hanya beberapa yang saya laksanakan. Hmm, kalau mereka bisa kenapa kita tidak usaha?
***
"Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah."
-Buya Hamka
***
Mari sama-sama berdoa, semoga kita senantiasa terselamatkan dari sifat malas. Diberikan daya dan kekuatan untuk melawan rasa malas. Merealisasikan setiap niat yang baik. Demi masa depan (dunia dan akhirat) yang cerah bagi kita semua. Aamiin~
***
"I will study and get ready, and perhaps my chance will come."
-Abraham Lincoln
.
.
Lumajang, 29 Januari 2017 @20:49 WI

Sesungguhnya semua hanya milik Allah dan akan kembali padaNya.
Saya mendapat kabar tentang berpulangnya Abah--Ipar Bapak. Saya kaget dan sempat tidak menyangka. Meski saya telah mendengar lama tentang sakit yang beliau derita.
***
Saya menyesal karena selama beliau hidup saya jarang sekali berkunjung. Pun pada saat hari raya ketika semoga saudara saya kesana, kadang saya memilih tinggal di rumah. Alasan saya sederhana: tidak enak badan. Kalau sudah begitu Ibu akan membela saya jika Bapak meminta saya ikut serta. Suhu badan saya memang sering naik semenjak saya menginjak SLTA. Ini membuat Ibu selalu khawatir. Pernah saya membaca sebuah ayat al-Qur'an dan hadits tentang sakit panas/demam yang menghapus dosa. Itulah sebabnya, tidak seperti Ibu, saya justru biasa-biasa saja.
***
Entah, saya kadang lebih sering dan suka berada di rumah. Karena itulah, saat semua saudara saya menyambung tali silaturahim, bercanda tawa bersama, menikmati gelondongan kelapa muda, saya justru mendekam di rumah.
Akibatnya, saya paling sering ditanya almarhum Abah. "Dimana yang katanya pandai menjahit?," tanya Abah sembari mencari-cari matanya. "Ga ikut, Bah. Katanya ga enak badan."
***
Iya, Abah adalah penjahit yang handal. Setelah kepulangannya dari Jakarta karena sakit, Almarhum ditemani oleh mesin jahit tua namun tangguh di sisa hidupnya di Madura. Jarak rumah kamu kurang lebih dapat ditempuh dalam 3 jam. Saya sangat menyesal kala Abah berniat mengajarkan ilmunya pada saya. Kala Abah membetulkan mesin jahit saya yang rusak karena kesembarangan pemakainya. Kala itu, Abah terlihat pucat saat saya berkunjung bersama Kakak.
Semoga beliau mendapatkan tempat yang indah di sisiNya.
Khususon ila hadrotin nabiyyil mustofa sayidina wa maulana Muhammadin SAW wa 'ala alihi wa shohbihi wa dzurriyatihi ajma'ina, syaiu lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti malaikatil jibriil wa mikail wa isrofil wa `izroil wal malaikatil
muqorrobin wal karubiyyin syaiu lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti sadatina khulafaur rosyidin, abi bakrin, wa umar, wa utsman, wa ali,syaiu
lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti quthbur robbani syaikh `abdul qodir jailani syaiu lillaahi lahumul fatihah...
Wa khususon ila ruhi H. Abdul Qirom, al fatihah...
Kawan, terima kasih telat ikut mendoakan.
***
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menerima kabar duka di tanah Lumajang ini. Pun bukan hanya pada satu orang saya melakukan kebiasaan buruk itu. Sebelas hari yang lalu Umi--Bibi Ibu juga telah berpulang. Dan saya juga orang yang jarang berkunjung kesana. Saat semua saudara saya menikmati rujak lezat bikinan almarhumah, saya malah asyik menonton TV di rumah. Padahal beliau kerap berkunjung kerumah. Doa yang sama saya haturkan untuk almarhumah.
Saya juga sering tidak datang saat ada kumpulan, misal saat di SLTA dulu. Selain karena saya malas minta ongkos pada ortu di usia yang setua itu, alasannya juga karena jarak yang jauh. Mereka di kota dan saya di desa. Hehe, alasan -__-
***
Duh, kala menulis catatan ini saya seperti merutuki diri sendiri. Saya menyesal. Semoga saya bisa mengubah kebiasaan buruk ini dan mengimplementasikan pentingnya silaturahmi yang bahkan telah dijejali pada saya sejak SD. Aamiin~
***
Berikut sedikit firman dalam al-Qur'an maupun sabda al-Hadits yang mengingatkan kita tentang anjuran dan faedah saat menjalin tali silaturahim dari berbagai sumber:
.
.
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."
(QS An Nisaa’ 4:1)
.
.
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.”
(QS Muhammad :22-23)
.
.
“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.”
(HR Imam Bazar, Imam Hakim)
.
.
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.”
(HR Muslim)
.
.
“Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.”
(HR Imam Tirmidzi)
.
.
“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.”
(HR Imam Bazar, Imam Hakim)
.
.
“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.”
(HR Imam Muslim)
***
Silaturahmi tidak sebatas berbentuk pertemuan. Namun bagaimana membuat pertemuan itu menjadi rahmat karena ridlo Allah. Silaturahmi secara sederhana juga dapat berbentuk ucapam salam, dimana kita saling mendoakan sesama muslim.
Silaturahmi bisa berupa kunjungan ke rumah, di masjid, perpustakaan, majelis, organisasi, seminar dan lain sebagainya. Yang penting dan perlu di ingat adalah sesuai syari'at.
***
Bagaimana dengam zaman yang sudah secanggih ini? Bisakah menggunakan gadget dan social network sebagai media silaturahmi?
***
Ada yang berpendapat jika hanya dengan nge-PING!!! dan bertanya kabar sekadarnya belum termasuk kedalam bentuk mengeratkan tali silaturahmi. Karena barangkali yang mengatakan "tidak apa apa" tengah membutuhkan pertolongan.
***
Bagi saya, menggunakan social network sebagai sarana silaturahmi adalah sah-sah saja. Apalagi sudah ada fitur video call. Namun yang perlu digaris bawahi adalah esensi dari silaturahmi yang telah saya sampaikan diatas. Bahwa silaturahmi (sedikit yang saya ketahui) adalah tentang saling mendoakan untuk keselamatan dan senantiasa berada dalam jalan Rabb-nya. Selain itu silaturahmi dengan cara berkunjung ke rumah akan membuat kita mengetahui keadaan saudara kandung, saudara senasab, saudara seiman yang sebenernya. Agar nantinya kita dapat membantu jika mereka membutuhkan pertolongan. Membantu saudara yang sedang sakit, membantu yang dalam kesulitan, maupun membantu menyelamatkan jika mengarah ke lembah kehinaan.
Jadi, lebih afdol rasanya jika berkunjung.
***
Ah, saya bahkan masih ingat sedikit tentang pelajaran silaturahmi ini. Lantas saya makin menunduk. Bukan karena saya tengah mengupas jagung hasil panen bersama yang lain, namun karena berpikir betapa menyesalnya saya. Penyesalan yang kini hanya bisa saya perbaiki lewat doa-doa pada almarhum dan almarhumah. Terlebih doa untuk diri saya sendiri agar lebih mengamalkan apa itu silaturahmi.
***
Sore ini, Dek Jokowi, Dek Riko dan Dek Zaen bermain bola dengan riang, tertawa-tawa. Saya jadi teringat Rohman, adik saya yang duduk di bangku SLTP. Rindu.
Saya juga teringat kegiatan penyemprotan pestisida sebagian bentuk pengendalian hama pada tanaman kangkung dan pemanenan jagung di hari ke 20 ini. Hari ke 28 selalu diingat karena kami akan pulang pada hari itu. Pas 30 hari berada di Lumajang ini. Nantinya saya akan bertemu Rohman dan keluarga saya yang lain. Namun saya akan meninggalkan adik-adik SMK PPN Bondowoso yang baik-baik itu. Mereka yang religius, jujur, sopan, lugu, keren, gigih, cerdas, berani, telaten, pekerja keras, rajin, humoris, kocak, heboh, rempong, stress, error, bahkan ceroboh. Mereka adalah Dek Hilman alias Jokowi, Dek Riko, Dek Zaeni, Dek Nasir, Dek Rudi, Dek Husen, Dek Rangga, Dek Franzah, Dek Yaqin dan Dek Mamat. Meniggalkan keluarga Pak Machmud yang terdiri dari Pak Machmud yang super sekali, Bu Sofi yang ramah dan Mbak Farah yang begitu cantik. Meninggalkan Bu Putri yang dermawan dan buruh tani lain. Rabbi, semoga tali silaturahmi kami selalu terikat erat. 😭Hiks~
.
.
Lumajang, 28 Januari 2017 @18:58 WIB

Kami siap berangkat menuju lahan hanya tinggal melangkah dari teras dan memakai sandal. Sedang para adik SMK telah menggunakan sepatu boot mereka. Tapi suara Dek Nasir disertai seringai senyum mengagetkan saya: "Mbak Lutfi, masih pagi langsung pegang hape."
Candaan Dek Nasir membuat saya menjawab:
"Hehe, baru juga pegang udah dikritik. Ah, kamu kayak Irvi, Dek."
"Loh, kok aku? Hehe, iya deh aku sering bilang gitu ke kamu, Fi. Tapi kalo aku paketan juga pasti kayak kamu. Hehehe." Irvi menyambung pembicaraan.
"Huuuu," sambung saya.
Kami semua akhirnya melangkahkan kaki, berangkat menuju lahan.
***
Begitulah. Semua kadang memang apa yang tampak di penglihatan kita saja. Kita bahkan belum tahu isinya tapi sudah tidak sabar menilai, bahkan yang lebih parah menghakimi.
***
Seseorang bisa jadi akan sinis pada orang yang sedang memegang hape daripada al-Qur'an. Padahal yang sedang pegang hape bisa jadi tengah membaca al-Qur'an. Sedang yang sepertinya membaca al-Qur'an, mata ngantuknya tertutup kaca mata hitam.
Atau orang yang tengah belajar on-line dengan hape bisa jadi akan dilihat sinis daripada orang yang tengah terlihat membaca buku tebal yang didalamnya diselipkan hape dengan game COC yang sedang war. Orang juga bisa saja lebih sinis pada seseorang yang tengah menulis artikel lewat hape daripada orang yang tengah menulis surat cinta monyet. Terlihat brilian orang yang sedang menggunakan pulpen dan buku lantas menulis.
***
Hanya menilai berlandaskan sampul. Hanya menilai berlandaskan image. Image buruk handphone yang kerap menjadikan orang lupa diri dan menjadikan orang mengubah smartphone menjadi stupidphone, membuat kita pandai memberi penilaian berdasarkan sampul. Walaupun pada akhirnya kita lebih butuh untuk menilai diri sendiri terlebih dulu.
***
Saya tidak mengatakan jika saya telah menggunakan gadget sebagamana mestinya. Karena saya juga masih berusaha. Tak perlu saya sampaikan secara gamblang apa saja usaha saya. Karena sejatinya usaha yang saya anggap begitu sukar dan penuh perjuangan bisa terlihat ringan dalam penilaian orang lain.
Apalah pentingnya mendengarkan penilaian oranglain. Bagaimana pun kita akan selalu salah dimata orang lain. Terus berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya bukan dari diri orang lain.
***
Ingat tentang kisah seorang ayah, anak dan keledainya?
Kisah ini sangat populer. Sampai-sampai perkataan ayah kepada sang anak dijadikan kata mutiara. Bunyinya: "Kalamunnnas laa yantahii”
Artinya: "Perkataan manusia tidak akan ada habisnya."
***
Penyiangan kangkung darat belum kelar juga. Kami melanjutkannya hari ini. Hasil yang kami berempat hasilkan lebih banyak dari hari biasanya.
Jam kerja kami hingga 10:30 WIB. Sekitar 10:08 kami melakukan pemanenan jagung bersama adik-adik SMK dan para pekerja atas permintaan Pak Machmud. Jagung yang dipanen sudah lumayan terlambat. Ada beberapa jagung yang sudah hitam-hitam bijinya.
Disaat yang sama pekerja lain sedang melakukan pemanenan kelapa muda. Kami melihat tumpukan kelapa muda yang nampak segar. Lalu kami dihadiahkan satu kelapa muda per dua orang. Ternyata penilaian kami tentang segarnya kelapa muda ini sebenar apa yang kita lihat. Gleg~
.
.
Lumajang, 27 Januari 2017 @11:32 WIB

Sejauh ini PKL bagi saya mengesankan, menenangkan, menyenangkan, mengasyikkan, mengharukan, menyedihkan, mengejutkan, menelantarkan, memalukan, mengerikan, mengekalkan, menghinakan, menerangkan, menyanggupkan, menormalkan, menggagalkan, melimpahkan, menyerapkan, mewujudkan, mengakseskan, membetulkan, membenarkan, menempatkan, mengasamkan, menajamkan, mengukuhkan, mengadaptasikan, melekatkan, memaniskan, menggembirakan, menakutkan, mengagresifkan, mengaktifkan, menyisakan, menyerasikan, mengedepankan, membukakan, menyamakan, menghidupkan, menjauhkan, menakjubkan, membingungkan, menggelikan, menyemangatkan, menyesalkan, mengesalkan, menjengkelkan, mencemaskan, memalukan, meninggikan, mengherankan, mengharapkan, mengotomatiskan, menyediakan, meratakan, menyadarkan, mengerikan, mengindahkan, mencocokkan, memanfaatkan, membengkokkan, melimbungkan, membesarkan, mengecilkan, mematikan, menganehkan, menghitamkan, memutihkan, mendidihkan, membosankan, menggoyahkan, mencerdaskan, memberanikan, mengototkan, memecahkan, membekukan, menyingkatkan, menyemilirkan, menyuarakan, menerangkan, meluaskan, menyempitkan, menyoklatkan, merepotkan, menyibukkan, mencerdikkan, menenangkan, mempedulikan, mengacuhkan, menentukan, melelahkan, melunturkan, mengutamakan, menggemukkan, menterengkan, membersihkan, menjelaskan, mengaburkan, memberantakkan, mendinginkan, memanaskan, menyesakkan, melegakan, menyejukkan, menyamankan, mengumumkan, memprihatinkan, memperhatikan, menyadarkan, mengandalkan, mengkoordinasikan, mengecilkan, membesarkan, menakutkan, membengkokkan, meramaikan, menyemarakkan, mendekapkan, menyandarkan, meluruskan, melengkungkan, menghembuskan, mengalirkan, mengucurkan, mengajarkan, memperhatikan, mempraktekkan, mengimplementasikan, membagikan dan mengamalkan.
.
.
Lumajang, 27 Januari 2017 @23:01 WIB

Saya, Himma dan Huda langsung berkubang dalam air berlumpur yang tingginya melewati mata kaki. Sementara Irvi melanjutkan kegiatan pewiwilan pada cabai merah. Awalnya kegiatan penyiangan ini sangat membosankan dan melelahkan manakala kita harus menyianyi sambil berdiri lantaran terdapatnya kubangan. Kangkung yang tadinya hampir tidak kelihatan karena tertutup oleh gulma, kini bisa nampak dengan mudah. Kangkung-kankung itu terlihat bernapas lega.
***
Pak Machmud datang dengan satu timba berisi pupuk kimia (ponska) menghampiri kami. Ini waktunya pemupukan kangkung darat yang selesai disiangi. Usai saya, himma dan Irvi mempraktekkan pemupukan, saya kembali melakukan penyiangan kangkung darat. Irvi kembali melakukan pewiwilan cabai merah. Sementara Himma tetap melanjutkan pemupukan kangkung darat. Huda sedari awal tetap sibuk menyiangi.
***
Kami tengah beristirahat kala sebuah panggilan di handphone saya memaksa untuk dijawab. Ini bisa jadi adalah panggilan yang paling kita nanti. Panggilan dari dosen yang bertugas menjadi supervisor PKL kami. Saya menjawab panggilan itu. Beliau telah sampai di depan kediaman Pak Machmud. Akhirnya atas permintaan Pak Machmud, saya dan Himma menggiring beliau menuju lahan dengan maticnya. Lega rasanya setelah semuanya usai. Setelah mengetahui mereka menghabiskan jamuan degan yang kami suguhkan. Setelah memberikan oleh-oleh degan dari Pak Machmud. Setelah melihat mobil mereka menjauh perlahan setelah sebelumnya melemparkan salam dan senyuman.
***
Padahal baru kemarin. Iya, baru kemarin Himma dan Irvi menjahili saya.
***
Mereka mengetuk yang lebih mirip menggedor pintu kamar mandi. Saya sedang mencuci baju dan masih separuh perjalanan. Mereka serempak memberitahukan "Fi, ada AKS. Cepetan, Fi. Fi, ayo cepet. Pak AKS. Fi, Fi" dengan nada yang serupa dengan teriakan.
Sontak saya kaget dan percaya begitu saja. Saya langsung terburu-buru meninggalkan kesibukan saya di dalam kamar mandi. Saya benar-benar tidak ingin Pak AKS (Andrie Kisroh Sunyigono-dosen pembimbing PKL yang diperkiran akan melakukan supervisi)menunggu lama. Mungkin bisa dibilang saya terperanjat dan panik. "Hah! Iya tah? Bentar, bentar. Santai. Benar kan aku bilang, supervisinya hari ini." Jawaban saya dari kamar mandi.
***
Tidak sampai lima menit hingga saya keluar dan mendapati mereka kompak meneriakkan: "Kena deh!" Lalu tertawa-tawa. Kemudian saya dengan muka flat. Entah kenapa tidak bisa tertawa dengan lelucon itu meski sekadar mengulum senyum. Saya kembali memasuki kamar mandi dengan cucian yang saya telantarkan. Lalu hening. Krik krik ~
***
Saya keluar kamar mandi dan mereka masih diam seribu bahasa. Saya tidak sedang marah tapi saya benar-benar tidak bisa mengatakan ini lucu.
Usai menjemur pakaian saya sholat dzuhur. Mereka masih membisu. Jujur, saya menunggu permohonan maaf. Namun ini lelucon bagi mereka tak ada yang perlu me- atau dimaafkan bukan!
***
Selepas mengaji saya mendapati mereka masih mengunci mulut mereka masing-masing. Tak ingin satu kata pun meluncur kabur. Lalu saya membuka pembicaraan. Pembicaraan tentang betapa percayanya saya, paniknya saya, dan pekerjaan yang saya tinggalkan. Mereka serempak terbahak-bahak. Saya pura-pura mendeheh sebal, lalu ikut tertawa tetapi tidak pura-pura. Karena pura-pura piaraan kakak saya telah lama wafat. Eh, itu kura-kura!
Krik krik (2) ~
***
“ Do not expect your friends to be perfect people for you . But, help them to be a perfect person. because that is the meaning of true friendship .”
-Anonymous
.
.
Lumajang, 26 Januari 2017 @ 06:50 WIB

Saya terbangun pada pukul 01:29 WIB karena sebuah mimpi. Dalam mimpi itu saya merasa mengunjungi rumah Almarhumah Bibi Ibu saya yang meninggal seminggu yang lalu di hari Rabu. Hari yang sama seperti pagi ini. Dalam mimpi saya rumah almarhumah beliau sangat sepi, rumah sepi,musholla sepi, halaman sepi, dan saat saya menuju dapur hanya ada beliau tengah makan di meja makan tanpa mengenakan kerudung. Padahal di dunia nyata saya selalu bertemu beliau dalam keadaan berkerudung. Anehnya semua bagian rumah beliau (dapur, dll) bernuansa abu-abu. Pun rambut beliau. Pada saat saya menuju dapur dan terkaget melihat beliau yang menoleh pada saya, saat itulah saya terbangun. Dalam mimpi saya sebernya tidak jelas, apakah itu beliau, apa makanan beliau, apa warna piringnya dsb. Hanya saja perasaan saya mengatakan bahwa dalam mimpi itu adalah beliau.
***
Setiap saya bermimpi di tengah malam, ingin rasanya bertemu dengan Nabi Yusuf. Ingin menanyakan apa arti mimpi-mimpi saya. Hmm, kadang saya menerjemahkannya sendiri. Mimpi malam tadi mungkin karena saya hanya sekali mengirim doa pada beliau. Rabb, semoga sosok yang ramah, rendah hati, baik hati, murah senyum dan dermawan itu husnul khotimah. Allaahummaghfirlahaa war hamhaa waafihaa wa'fuanhaa. Aamiin~
***
Ya Tuhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)
(QS: Al-A'raf Ayat: 124)
***
Saat saya terbangun, beberapa pikiran muncul begitu saja. Pikiran tentang mengingat kematian. Pikiran tentang banyaknya waktu yang saya sia-siakan. Pikiran tentang ibadah yang saya tinggalkan. Dan banyak lagi. Setelah beberapa menit merenung mengingat mati, saya membaca doa dan tidur kembali. Hehehe.
***
"Wasting time is worst than death, because death separates you from this world whereas time separates you from Allah."
-Ibnul Qayyim Rahimallah
***
Duh, bergidik rasanya mengingat dosa yang makin bertambah tiap hari. Mengingat kesombongan yang makin meninggi. Mengingat kesalahan yang tak terhitung.
Allah, saya takut.
***
"Manusia yang sebenarnya itu adalah yang takut kematian hatinya bukan kematian badannya."
-Ibnul Qayyim Rahimallah
***
Kawan, pagi ini kami melakukan penyiangan pada pinggiran bedengan persemaian bayam. Usai gulma kami libas habis dengan tangan-tangan kami yang mulai kapalan kami akhirnya menyiangi kangkung darat yang siap untul disiangi. Wekwew. Kami menanam kangkung darat per dua bedengan di waktu/hari yang berbeda sehingga penyiangannyapun berbeda. Menunggu kesiapan kangkung bisa dilihat dari usia kangkung. Kangkung yang sudah cukup usia penyiangan membuat akar lebih kuat sehingga menghindari kerusakan saat proses penyiangan. Setelah melakukan penyiangan kangkung darat, kami melakukan pewiwilan pada tanaman cabai merah yang luasnya minta ampun. Hehe.
***
Pewiwilan adalah kegiatan tunas yang tumbuh di tiap ketiak daun mulai bawah hingga cabang Y.
Pewiwilan dapat menambah volume hasil panen karena nutrisi yang diserap tanaman akan terfokus dan tidak terbagi di banyak cabang sehingga buah yang dihasilkan besar-besar.
Jadi ketika tidak dilakukan pewiwilan, maka: pertumbuhan tidak terarah; buah tidak terlalu lebat karena nutrien terbagi; buah yang dihasilkan kecil-kecil; dll.
Pewiwilan dilakukan dengan cara mendorong/menarik tunas ke arah luar agar cabang yang menjadi ketiak daun tidak cacat. Karena jika pewiwilan salah akan menghambat pertumbuhan.
Pewiwilan dilakukan setelah tumbuhnya cabang Y yang menunjukkan tanaman makin tua. Saat cabang Y terlihat maka tanaman harus segera dipelihara melalui pewiwilan.
Potensi cabai merah yang ditanam di P4S Persada Nusantara Lumajang menghasilkan >1,5 kg per pohon.
Petik top hingga ke-9 dan pemanenan dilakukan 2-3 hari sekali dengan harga kontrak Rp. 7.000,- s/d Rp. 9.000,- per kg cabai merah. Tinggal dikalikan dengan jumlah pohon cabai merah di P4S yang mencapai lima belas ribuan.
"Dengan menjadi petani kita bisa menakar sendiri bayaran yang kita mau," ujar Pak Mahmud.
Pertanyaan saya adalah: Bagaimana dengan petani kecil yang minim modal?
***
Pak Machmud mempraktekkan pewiwilan pada cabai merah terlebih dahulu sembari kita perhatikan dan praktekkan. Beliau kembali berpetuah: "Pemahaman akan teknis itu sangat penting saat nantinya kalian jadi pemimpin. Karena kalian akan memahami mana teknik yang paling efektif dan efisien."
Saya mengangguk pelan dan lupa mengucapkan aamiin. Entah perlu diamiinkan atau tidak. :)
.
.
Lumajang, 25 Januari 2017 @22:17 WIB

Jarak tanam kacang panjang 65 cm. Mengatasi perebutan unsur hara antar tanaman merupakan salah satu fungsi dari jarak tanam. Mula-mula proses pelubangan menggunakan alat khusus pembuatan lubang. Kemudian memasukkan benih kacang panjang, masing-masing lubang dua biji benih kacang panjang. Lalu tahap penutupan kembali dengan tanah secukupnya. Jangan terlalu menekan tanah karena dapat menghambat pertumbuhan kacang panjang. Usai kegiatan tersebut tinggal menunggu kacang panjang tumbuh, kira-kira selama dua sampai tiga hari untuk kemudian dipasang ajir. Setelah itu hanya tinggal perawatan seperti memberikan tali untuk rambatan kacang panjang dan pengendalian hama dengan pestisida. Barulah menunggu masa panen dengan controlling dan pengendalian HPT.
***
Diakui Pak Machmud, menanam kacang panjang itu mudah. Perawatannya gampang. Belum lagi penanaman kacang panjang tidak hanya di lahan yang terdapat bedengan. Namun pada pinggiran pematang juga ditananami kacang panjang. Ini adalah contoh pemanfaatan lahan secara optimal. Hasil dari penanaman kacang panjang dapat membantu menambah income petani dalam kurun waktu yang relatif singkat. Dengan pemanfaatan pinggiran pematang, hasil yang diterima petani otomatis akan bertambah.
***
Hari ini peserta magang dari SMK PPN Tegalampel Bondowoso melanjutkan pemasangan ajir pada tanaman cabai merah. Maklumlah, lahan yang ditanami cabai sangatlah luas. Selepas menanam kacang panjang, kami membantu pemasangan ajir.
***
Kata ajir mengingatkan saya pada sebuah umpatan yang sepertinya sedang digandrungi khususnya oleh remaja. Maaf, barangkali dengan mengucapkannya pamor dan gengsi akan naik level. Ini bukan tentang judge the book from its cover. Atau menghakimi orang tanpa mengetahui isi hati dan peliknya hidup yang dilaluinya. Atau ngurusin orang yang belum tentu mau kurus (kata Cak Lontong). Atau mungkin berdalih: "Saya selalu melaksanakan tugas saya sebagai muslim. Saya selalu beribadah siang dan malam. Mengumpat hanyalah gurauan atau sebatas perkataan saja."
Tapi ini tentang saling nasehat menasehati sesama muslim.
Pendapat mengenai seseorang yang sudah sholat namun masih mengumpat pada sesama muslim hampir sama dengan saat seseorang telah ibadah (sholat, ngaji, sedekah dan lain-lain) namun belum menutup aurat. Keduanya menunaikan kewajiban yang hamblumminallah, akan tetapi belum pada hamblumminannas. Lalu bahasan hamblumminannas terkait dengan hamlumminannas.
Ah, nasehat ini saya haturkan pertama kali pada diri saya sendiri.
***
Sedih saat melihat adik-adik kita seiman yang mudah terpengaruh atau ikut-ikutan. Berpose menunjukkan jari tengah meski tidak memahami artinya, merokok dengan seragam yang masih melekat lantas berpose, memenuhi berita tentang video asusila, dsb.
Kita memang tidak bisa langsung menghakimi mereka. Karena sekali lagi, kita tidak pernah tahu peliknya kehidupan yang mereka lalui, pergaulan yang mereka jalani dan pengaruh yang mereka dapatkan.
Maka siapa lagi kalau bukan kita yang akan merangkul mereka?
Mencontohkan, menasehati dan mengingatkan dengan lemah lembut dan mauidhatul hasanah, sesuai dengan titah Rasulullah.
***
Islam itu agama yang detail sekali ajarannya. Sampai-sampai perkataan pun juga sangat diperhatikan dan dipelihara. Bukankah segalanya dari hal yang paling kecil. Berawal dari hal yang sering diabaikan atau diremehkan. Mengumpat kadangkala menjadi hal yang biasa, kadar kesalahannya diremehkan dan cenderung diabaikan. Maka, periliharalah keimanan kita, nilai-nilai islam dalam diri kita dari hal yang paling kecil dan mendetail. Dimulai dari diri kita, lingkungan rumah dst.
InshaaAllah, kita pasti mampu.
***
"Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya) dan bukan orang yang jorok omongannya."
-HR. Tirmidzi no. 1977, HR. Ahmad no. 3839 dan lain-lain.
.
.
Lumajang, 24 Januari 2017 @23:55 WIB
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates