Sesungguhnya semua hanya milik Allah dan akan kembali padaNya.
Saya mendapat kabar tentang berpulangnya Abah--Ipar Bapak. Saya kaget dan sempat tidak menyangka. Meski saya telah mendengar lama tentang sakit yang beliau derita.
***
Saya menyesal karena selama beliau hidup saya jarang sekali berkunjung. Pun pada saat hari raya ketika semoga saudara saya kesana, kadang saya memilih tinggal di rumah. Alasan saya sederhana: tidak enak badan. Kalau sudah begitu Ibu akan membela saya jika Bapak meminta saya ikut serta. Suhu badan saya memang sering naik semenjak saya menginjak SLTA. Ini membuat Ibu selalu khawatir. Pernah saya membaca sebuah ayat al-Qur'an dan hadits tentang sakit panas/demam yang menghapus dosa. Itulah sebabnya, tidak seperti Ibu, saya justru biasa-biasa saja.
***
Entah, saya kadang lebih sering dan suka berada di rumah. Karena itulah, saat semua saudara saya menyambung tali silaturahim, bercanda tawa bersama, menikmati gelondongan kelapa muda, saya justru mendekam di rumah.
Akibatnya, saya paling sering ditanya almarhum Abah. "Dimana yang katanya pandai menjahit?," tanya Abah sembari mencari-cari matanya. "Ga ikut, Bah. Katanya ga enak badan."
***
Iya, Abah adalah penjahit yang handal. Setelah kepulangannya dari Jakarta karena sakit, Almarhum ditemani oleh mesin jahit tua namun tangguh di sisa hidupnya di Madura. Jarak rumah kamu kurang lebih dapat ditempuh dalam 3 jam. Saya sangat menyesal kala Abah berniat mengajarkan ilmunya pada saya. Kala Abah membetulkan mesin jahit saya yang rusak karena kesembarangan pemakainya. Kala itu, Abah terlihat pucat saat saya berkunjung bersama Kakak.
Semoga beliau mendapatkan tempat yang indah di sisiNya.
Khususon ila hadrotin nabiyyil mustofa sayidina wa maulana Muhammadin SAW wa 'ala alihi wa shohbihi wa dzurriyatihi ajma'ina, syaiu lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti malaikatil jibriil wa mikail wa isrofil wa `izroil wal malaikatil
muqorrobin wal karubiyyin syaiu lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti sadatina khulafaur rosyidin, abi bakrin, wa umar, wa utsman, wa ali,syaiu
lillahi lahumul fatihah...
Wa ila hadroti quthbur robbani syaikh `abdul qodir jailani syaiu lillaahi lahumul fatihah...
Wa khususon ila ruhi H. Abdul Qirom, al fatihah...
Kawan, terima kasih telat ikut mendoakan.
***
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menerima kabar duka di tanah Lumajang ini. Pun bukan hanya pada satu orang saya melakukan kebiasaan buruk itu. Sebelas hari yang lalu Umi--Bibi Ibu juga telah berpulang. Dan saya juga orang yang jarang berkunjung kesana. Saat semua saudara saya menikmati rujak lezat bikinan almarhumah, saya malah asyik menonton TV di rumah. Padahal beliau kerap berkunjung kerumah. Doa yang sama saya haturkan untuk almarhumah.
Saya juga sering tidak datang saat ada kumpulan, misal saat di SLTA dulu. Selain karena saya malas minta ongkos pada ortu di usia yang setua itu, alasannya juga karena jarak yang jauh. Mereka di kota dan saya di desa. Hehe, alasan -__-
***
Duh, kala menulis catatan ini saya seperti merutuki diri sendiri. Saya menyesal. Semoga saya bisa mengubah kebiasaan buruk ini dan mengimplementasikan pentingnya silaturahmi yang bahkan telah dijejali pada saya sejak SD. Aamiin~
***
Berikut sedikit firman dalam al-Qur'an maupun sabda al-Hadits yang mengingatkan kita tentang anjuran dan faedah saat menjalin tali silaturahim dari berbagai sumber:
.
.
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."
(QS An Nisaa’ 4:1)
.
.
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.”
(QS Muhammad :22-23)
.
.
“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.”
(HR Imam Bazar, Imam Hakim)
.
.
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.”
(HR Muslim)
.
.
“Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian.”
(HR Imam Tirmidzi)
.
.
“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.”
(HR Imam Bazar, Imam Hakim)
.
.
“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.”
(HR Imam Muslim)
***
Silaturahmi tidak sebatas berbentuk pertemuan. Namun bagaimana membuat pertemuan itu menjadi rahmat karena ridlo Allah. Silaturahmi secara sederhana juga dapat berbentuk ucapam salam, dimana kita saling mendoakan sesama muslim.
Silaturahmi bisa berupa kunjungan ke rumah, di masjid, perpustakaan, majelis, organisasi, seminar dan lain sebagainya. Yang penting dan perlu di ingat adalah sesuai syari'at.
***
Bagaimana dengam zaman yang sudah secanggih ini? Bisakah menggunakan gadget dan social network sebagai media silaturahmi?
***
Ada yang berpendapat jika hanya dengan nge-PING!!! dan bertanya kabar sekadarnya belum termasuk kedalam bentuk mengeratkan tali silaturahmi. Karena barangkali yang mengatakan "tidak apa apa" tengah membutuhkan pertolongan.
***
Bagi saya, menggunakan social network sebagai sarana silaturahmi adalah sah-sah saja. Apalagi sudah ada fitur video call. Namun yang perlu digaris bawahi adalah esensi dari silaturahmi yang telah saya sampaikan diatas. Bahwa silaturahmi (sedikit yang saya ketahui) adalah tentang saling mendoakan untuk keselamatan dan senantiasa berada dalam jalan Rabb-nya. Selain itu silaturahmi dengan cara berkunjung ke rumah akan membuat kita mengetahui keadaan saudara kandung, saudara senasab, saudara seiman yang sebenernya. Agar nantinya kita dapat membantu jika mereka membutuhkan pertolongan. Membantu saudara yang sedang sakit, membantu yang dalam kesulitan, maupun membantu menyelamatkan jika mengarah ke lembah kehinaan.
Jadi, lebih afdol rasanya jika berkunjung.
***
Ah, saya bahkan masih ingat sedikit tentang pelajaran silaturahmi ini. Lantas saya makin menunduk. Bukan karena saya tengah mengupas jagung hasil panen bersama yang lain, namun karena berpikir betapa menyesalnya saya. Penyesalan yang kini hanya bisa saya perbaiki lewat doa-doa pada almarhum dan almarhumah. Terlebih doa untuk diri saya sendiri agar lebih mengamalkan apa itu silaturahmi.
***
Sore ini, Dek Jokowi, Dek Riko dan Dek Zaen bermain bola dengan riang, tertawa-tawa. Saya jadi teringat Rohman, adik saya yang duduk di bangku SLTP. Rindu.
Saya juga teringat kegiatan penyemprotan pestisida sebagian bentuk pengendalian hama pada tanaman kangkung dan pemanenan jagung di hari ke 20 ini. Hari ke 28 selalu diingat karena kami akan pulang pada hari itu. Pas 30 hari berada di Lumajang ini. Nantinya saya akan bertemu Rohman dan keluarga saya yang lain. Namun saya akan meninggalkan adik-adik SMK PPN Bondowoso yang baik-baik itu. Mereka yang religius, jujur, sopan, lugu, keren, gigih, cerdas, berani, telaten, pekerja keras, rajin, humoris, kocak, heboh, rempong, stress, error, bahkan ceroboh. Mereka adalah Dek Hilman alias Jokowi, Dek Riko, Dek Zaeni, Dek Nasir, Dek Rudi, Dek Husen, Dek Rangga, Dek Franzah, Dek Yaqin dan Dek Mamat. Meniggalkan keluarga Pak Machmud yang terdiri dari Pak Machmud yang super sekali, Bu Sofi yang ramah dan Mbak Farah yang begitu cantik. Meninggalkan Bu Putri yang dermawan dan buruh tani lain. Rabbi, semoga tali silaturahmi kami selalu terikat erat.
😭Hiks~
.
.
Lumajang, 28 Januari 2017 @18:58 WIB