Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Momen Ramadan memang selalu luar biasa. Dari kecil, Ramadan senantiasa menjadi bulan yang paling dirindukan. Dikenal dengan bulan segudang keutamaan, tidak heran jika ada ungkapan bahwa rugilah orang yang tidak menjadi salah satu yang berlomba, meraih, atau paling tidak mendekatinya.

Pada akhirnya, memang semua terjadi atas kehendak-Nya. Paksaan diawal juga menjadi salah satu cara. Namun, bila kemaksiatan juga mengiringi. Maka beratnya langkah kaki yang tengah menuju pada kebaikan juga tidak bisa dipungkiri.

Itulah kenapa, bagiku, barangkali salah satu cara dahsyat untuk meraih keutamaan di dalamnya adalah terus bermuhasabah. Lagi dan lagi mengingatkan diri untuk menyucikan hati. Meski rasanya amat mustahil. Karena mungkin akan lebih mudah menyuburkan perilaku tak terpuji. Naudzubillah.

Walau begitu, sungguh, jujurlah, jangan mengelak, jika kemaksiatan-kemasiatan itu adalah gumpalan berat nan paling menyiksa. Perasaan bersalah pada orang lain karena menaruh su'udzan, misalnya. Beratnya rasa bersalah pada diri sendiri karena tak berusaha menata hati. Belum lagi, yang paling berat ialah perasaan bersalah dan malu pada Yang Telah Memberi Kehidupan dan Limpahan Rezeki.

Duhai, Ramadan. Jika diibaratkan 'sosok mulia' yang tiada hentinya menuntun pada kebaikan, maka pelukanmu tak hentinya kami tunggu-tunggu. Memeluk jiwa-jiwa yang renta di usia belia ini. Pada sepertiga malam. Pada lembaran ayat-ayat suci al-Qur'an. Pada balutan dzikir-dzikir panjang.

Eh, tunggu dulu. Tak hanya soal itu, dan jangan pura-pura lugu. Pelukan Ramadan juga sangat erat di tiap kita mencoba untuk tak menaruh kebencian pada orang-orang yang tidak sesuai ekspektasi, tak berburuk sangka, tak membicarakan kejelekan mereka sebab paham: bisa jadi kita lebih hina. Pelukan itu juga makin hangat seiring kian hangatnya sikap kita pada orang tua. Seiring usaha kita tak menyematkan iri-dengki pada siapa saja. Seiring uluran tangan kita untuk kaum duafa. Ah, berat bukan main sebab kita juga bisa memilih untuk melakukan kebalikannya.

Hingga kala Ramadan di tahun ini telah berpulang, barulah kita menyadari telah menjadi orang yang merugi karena tak mampu mengendalikan nafsu sendiri. Merugi karena terlalu berharap terhadap sikap dan perilaku orang lain daripada fokus memperbaiki diri. Merugi pada hal-hal yang hanya menguras energi, apalagi pahala. Benar-benar merugi.

Jangan bersedih, sebelum ia benar-benar pergi: kita selalu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelukannya. Bagian yang tak kalah menggetarkan adalah saat memeluk. Sebab ia akan berulangkali berbisik: "Hati yang bersih adalah cahaya. Lupakan masa lalu dan fokuslah menjaga kebersihannya. Agar terang jalan-jalan yang kamu lalui. Memang tak gampang. Itulah kenapa penting banyak berdoa dengan jiwa yang lapang."

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates