Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Seingatku sudah cukup lama tak merasa jengkel dan marah di level yang lumayan seperti ini. Alih-alih nonjok-nonjok tembok layaknya tontonan di televisi, aku hanya mampu berderai air mata saking kesalnya. Lalu ujung-ujungnya, seperti biasa, buruknya: menyalahkan diri sendiri karena tak mampu bersabar.

Hmm, kita memang manusia biasa, yang selain diberi kesabaran, juga diamanahi amarah. Namun di momen itu, dari rasa yang tengah membara kala itu, aku jadi belajar lagi betapa beratnya menahan amarah. Tak berlebihan sabda Rasul, bahwa orang kuat dan tangguh bukanlah mereka yang handal berkelahi. Melainkan yang pandai mengelola amarahnya.

Betul. Aku yang seharusnya berwudhu, berdoa atau paling tidak duduk dulu, malah memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa menit berlalu akupun berpikir lagi: kalau terjadi kecelakaan, sungguh, aku tidak hanya akan menyusahkan banyak orang. Karena saat ada orang yang meregang nyawa sebab ketidaksabaranku mengatur emosi, pastilah aku hidup dengan rasa bersalah yang bertambah-tambah sebab kebodohan sendiri.

Lalu kalau aku yang harus mati, bukankah sama saja dengan bunuh diri? Haduh, membayangkannya saja sudah begitu ngeri.

Sejam kemudian, masih tak ada yang bisa menjadi tempat pelampiasan. Dan memang harusnya begitu. Untuk apa melampiaskan kemarahan pada orang yang tidak tahu menahu? Alih-alih menyelesaikan masalah, malah membuat pikiran kian runyam.

Namun alhamdulillah, guyuran rasa yang menyebalkan itu akhirnya reda juga. Sesal datang berduyun-duyun melingkupi diri setelahnya. Katanya: Kenapa harus marah? Kamu mau berusaha menjadi hamba yang baik, kan? Meski normal, bukankah kamu juga bisa mengontrolnya?

Walau belum merutuki siapa-siapa (kecuali diri sendiri dan itu juga tak baik), ternyata menyesal juga karena seolah gagal menjadi pribadi yang tak gampang tersulut amarahnya. Apalagi, saat dengan itu, kita mungkin akan dengan mudah menyakiti perasaan orang lain, terlebih orang-orang terdekat kita. Padahal, merekalah sosok yang akan selalu menerima bagaimanapun kebobrokan yang masih lekat dengan kita.

Jadi, barangkali itulah kenapa sesal selalu datang di episode terakhir. Agar kita tahu, betapa besar balasan bagi orang yang mengendalikan diri atas bara yang dilemparlan setan. Duh, semoga dan semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari jeratan iblis yang durjana.

Pernahkah kalian merasa kecewa karena ekspektasi yang mungkin perlu terlalu tinggi. Terlalu naif menganggap bahwa semua orang itu bersih. Maksudku, semua orang yang terlihat baik di luar akan selalu baik kepada kita di belakang.

Namun ternyata memang tak selalu benar.
Tidak selamanya orang yang terlihat baik sekali di depan, tidak pernah mengecewakan saat di balik layar.

Ini yang seringkali membuat kita sakit sendiri. Membayangkan betapa tega orang-orang semacam itu. Atau kenapa bisa ada orang-orang seperti itu.

Kita tidak sedang bilang bahwa kita adalah manusia paling suci di dunia. Tapi bukankah menjadi seorang yang berbeda di depan dan belakang harusnya adalah beban yang begitu berat?

Lalu sebenarnya kita perlu menarik benang merah. Daripada terus menyuburkan rasa sakit, jauh lebih baik jika apa-apa yang kita alami adalah sumber pembelajaran hidup paling dahsyat. Sebuah pelajaran untuk bersikap lebih hati-hati kepada setiap orang. Hati-hati pada siapa kita berbagi kisah.

Apalagi, barangkali sengaja atau tidak kita juga seringkali melakukan hal yang sama. Sehingga kita pun perlu hati-hati atas itu. Dengan begitu kita akan kembali tersadar bahwa pada pribadi tiap-tiap manusia terselip banyak warna.

Jangan kaget dan jangan putarkan mata lalu langsung membenci seseorang yang berbuat tidak sesuai dengan harapan kita. Justru ini adalah ajang peringatan untuk tidak terlalu bergantung kepada manusia.

Menjadi baik adalah bukan karena seseorang telah berbuat baik kepada kita. Juga bukan karena kita harus berbaik dan membalas kebaikannya. Karena yang terpenting adalah selalu berusaha mengutamakan-Nya sebagai alasan.

Selain itu, lihat dan ingat kembali kebaikan-kebaikannya. Selalu ada sisi untuk membuat keadaan menjadi lebih baik lagi. Jangan merusak susu sebelanga karena nilai setitik. Hingga berhari-hari lumayan cukup menguras banyak energi untuk memikirkan pertanyaan yang tak beranjak, di situ-situ saja.
Ingat, tak ada jaminan bahwa kita sosok yang tidak lebih hina darinya. Berdamailah dengan itu.

Mulailah memaafkan diri atas setiap kesalahan yang mungkin sama. Atas hari-hari yang terlewati dengan terlampau memikirkan bagaimana sikap orang lain. Bukan malah merenungi untuk kian memperbaiki diri dan menata hati. Jika sudah begitu, racun semacam ini hanyalah penghambat kita untuk maju.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates