Sebelum berangkat ke kampus, aku mencium tangan Ibu dan
memeluknya. Sering begitu. Tapi hari ini pelukanku lebih erat. Karena hari ini
spesial. Hari dimana wanita luar biasa itu melahirkanku, berada di ambang
nyawa. Saat ku sentuh kulit tangannya, amat terasa beliau telah menua. Aku
sedih, karena belum bisa memberi apa-apa. Meski ia tak pernah meminta apa-apa
kecuali kesehatan dan kelancaran setiap urusan dalam kehidupanku.
Ibu pernah berceloteh, jika hari Kamis adalah alasan kenapa
aku menjadi anak kecil yang cengeng dan mudah menangis. Bagaimana tidak, aku
memang berbeda dari saudaraku yang lain. Aku kerap dan bahkan selalu menangis
kala berada di kendaraan umum saat tengah bepergian. Anehnya, ibu seakan tidak
pernah absen untuk membawaku bersamanya. Karena toh kalaupun ditinggal, aku
juga akan menangis. Jadi lebih sering dibawa, meski amat merepotkan. Alasan
kenapa aku acap kali menangis menurut ibu adalah karena merasa tidak nyaman
berada dalam angkot. Panas, pengap, bau bahan bakar yang menyengat, bau
keringat, bau gorengan hangat, bercampur lebur menjadi sebuah bracikan yang
handal membikin pusing dan mual. Tapi ibu tak pernah kapok, ia lebih tidak tega
meninggalkanku. Ya, dulu ibu kerap bepergian, memastikan tantenya di Surabaya
baik-baik saja.
Selain perbedaan itu, ada perbedaan yang juga seringkali
membuat pertanyaan-pertanyaan memantul dan meloncat liar dalam benakku. Mungkin
sudah pernah aku sampaikan di entri sebelumnya, jika hanya akulah yang tidak
pernah menduduki peringkat tiga besar di sekolah dasar. Tapi ibu tidak pernah
mempermasalahkannya. Baginya, mampu membaca dan menulis sudah merupakan
anugerah yang begitu besar. Tak perlu juara ini itu dan punya segudang ilmu
jika sedikit saja sudah dengan ikhlas mampu kita bagikan pada banyak orang. Dan
belakangan aku tambahkan kalimat itu dengan: namun memperkaya pengalaman dengan
merebut juara dan menempa diri demi meraih segudang ilmu juga tidak ada
salahnya. Bermanfaat dengan ilmu yang lebih banyak dan lebih banyak orang juga
akan lebih baik.
Begitula ibu. Qonaah. Meski namanya bukan qonaah. Tapi
memang, beliau tidak pernah memaksakan kehendak. Menerima apapun yang ada,
sepenuh hati. Seperti menerimaku sebagai anaknya yang bergelimangan kekurangan.
Aku yang rajin menangis ketimbang rajin menabung saat maish kecil. Aku yang
mudah membantah ketimbang mudah membantu. Dan sebagainya. Beliau terima dengan
lapang dada. Dan kini, sentuhan kasih sayang, kesabaran, cinta dan ketulusannya
dean suami---anak kecil itu telah benar-benar tumbuh dewasa dan menua. Usianya
sudah kepala dua. Tapi kelakuan masih perlu dibenahi dimana-dimana.
Di usia itu, banyak pemuda telah menelurkan karya-karya
menakjubkan. Juga pencapaian-pencapaian yang tidak hanya membanggakan kedua
orang tua tapi bangsa. Namun lihatlah, anak yang diberi nama Lutfiyah itu
justeru benar-benar belum bisa diandalkan. Bahkan meski hanya untuk membeli
sepotong baju untuk sang ibu, wanita hebat yang melahirkannya ke dunia. Walau
nyatanya, tak pernah sekalipun ia mengharapkan balasan dari setiap cinta kasih
yang ia beri. Karakter inilah yang pada akhirnya secara tidak langsung tertanam
pada sang anak. Bahwa member bukan berarti menantikan sebuah balasan.
Aku tidak tahu harus bersyukur semacam apa pada Allah Swt.
yang telah menganugerahiku seorang ibu. Sebab beliau memanglah amat perhatian.
Di usia yang seharusnya sudah bisa berpisah, merantau, mandiri dan menggantikan
kedua orang tua sebagai tulang punggung keluarga ini, aku malah masih makan
dari hasil jerih payah mereka. Sering sekali beliau mengingat makan dan ini
itu. Semua orang pasti pernah merasakannya. Entah itu orang tua, nenek, kakek,
paman dan lain-lain. Mengingat itu, aku tak henti-hentinya berucap,”Aduhai,
maka nikmat apa yang akan aku dustakan?”
Sudah sepatutnya seorang ibu punya perasaan takut dan
khawatir, ini yang selalu mengundang pembicaran semacam di bawah ini
berlangsung.
“Kalau pulang dari kampus jangan terlalu malam. Ibu
khawatir ada orang jahat.”
“Ibu tidak usah risau. Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
“Iya, tapi ibu takut kamu kenapa-kenapa.”
“Ibu, percayalah. Sehelai daun yang jatuh bahkan tak luput
dari kehendak Allah.”
Begitu potongan perbincangannya. Padahal sebenarnya aku
ingin bilang,”Ibu, maafkan aku yang selalu membuatmu khawatir dan sedih ketimbang
mengukir senyuman dan kebahagiaan.”
Pagi ini, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat beberapa
detik. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sampai menit itu aku tidak mendapat
ucapan selamat dari siapapun. Meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mengharapkannya.
Karena aku percaya, kita semua selau saling mendoakan. Bagiku, mendoakan setiap
muslim yang secara telak telah menjadi saudara seiman adalah sepanjang usia dan
menjadi rahasia. Tidak perlu pada momen tertentu, tapi setiap hari dan tidak pernah
absen. Lagi pula, sebenarnya yang patut dihadiahi ucapan selamat adalah ibuku,
yang telah berjuang melahirkan dan berusaha membesarkanku dengan akhlakul
karimah. Apalagi mengharap hadiah dan kue dengan lilin menancap dan ditiup seolah
layaknya prosesi agama lain? Sungguh aku tidak pernah berharap itu melainkan
doa. Namun pada akhirnya, ketika kemudian banyak yang mendoakan dan memberi selamat,
aku akan sangat terharu seperti pagi ini. Ah, ternyata masih cengeng alias suka
menangis. Adapun aku terharu, juga lantaran mengingat betapa banyak dosaku pada
ibu dan betapa secuilpun aku belum memberinya kebahagiaan yang berorientasi
dunia dan akhirat. Dan saat dengan keahliannya Ipar membuatkan kue ultah yang
amat lucu, aku juga pastinya akan terharu. Meski sekali lagi, aku tidak
mengaharap dihadiahi, melainkan doa yang tidak pernah redup dari hari ke hari.