Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Bagiku, Kartini masa kini pertama adalah seorang Ibu. Ia sejatinya adalah sosok Kartini bahkan sebelum aku lahir, di masa kini hingga mendatang. Bahkan kalau boleh sesumbar, Kartini tidak akan mampu menyamai perjuangan Ibu. Tapi Kartini juga seorang Ibu. Yang luar biasa dan mulia. Bagaimana tidak, Ibu bukan hanya seorang yang multitasking di mata kanakku kala itu. Tapi ia juga teladan. Sebab Ibu tidak melulu memenuhi perut kami dengan makanan, tapi juga hati kami dengan akhlakul karimah. Ibu tidak hanya menyiapkan pakaian-pakaian layak, tapi juga bekal kebahagiaan hakiki yang banyak.
Perjuangannya tidak akan mampu terbayarkan. Meski ia tidak pernah menuntut balasan. Segala perngorbanan yang tak terhitung, mengalir deras membuat hidupku lebih beruntung. Ibu tidak hanya menjadikan rumah yang nyaman untuk pulang, tapi pundak yang kuat kala ujian datang. Kokohnya piramida ketulusan, kadang aku runtuhkan seketika dengan satu kalimat menyakitkan. Terlepas dari semua dosaku, aku senantiasa melantunkan doa. Agar Kartini yang tak pernah lekang oleh masa itu dianugerahi keberkahan usia. Menuai cinta kasih dariku hingga menua. Berkumpul kembali di alam akhirat, yang tiada pernah fana.

Sosok kedua adalah wanita yang sholehah. Wanita sholehah adalah sosok yang mampu mendamaikan hati. Ia tidak hanya mampu menjaga pandangan, pandai menjaga diri, santun, taat, wawasannya luas, inovatif dan beragam akhlak terpuji lainnya. Karena label 'sholehah' yang menetap dalam jiwa---tidak perlu ia perlihatkan karena toh ia tak pernah ingin dilihat---itu tidak pernah membatasinya untuk berkontribusi pada keluarga, negara dan agama. Sebab sosok yang ia teladani bisa jadi seperti Nusaibah binti Ka'ab yang terkenal tangkas dalam perang. Atau wanita lihai berpolitik dengan arif nan bijaksana seperti Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Atau ceria dan kuat hafalannya bak Aisyah RA. Atau lemah lembut, keibuan dan rela berkorban seperti Khadijah RA. Karena menjadi sholehah tidak pernah membatasi wanita untuk berkarya dan bermanfaat dengan tetap menjunjung tinggi ketaqwaan.

Berbicara tentang sosok kartini masa kini yang bermanfaat dan telah berkontribusi nyata lainnya membuat saya mengingat beberapa nama selain tokoh Islam diatas, seperti Dwi Handayani Syah Putri dan Kartika Jahja yang baru-baru ini masuk di daftar 100 wanita berpengaruh di dunia---dirilis sebuah media ternama, BBC.  Kartini yang mengharumkan nama Indonesia bernama Alexandra Asmasoebrata dengan kemampuan balapnya. Rini Sugianto sebagai animator di Film The Hobbit 3, Iron Man 3 dan lain-lain, Irma Hardjakusumah, Sinta Nuriyah Wahid, Anggun Cipta Sasmi, Christine Hakim, Sri Mulyani Indrawati, Siti Walidah, Butet Manurung,  Asma Nadia, Tririsma Harini, liliana Nasir, Susi Susanti, Sarah Tri Monita, dan masih banyak lagi.


Iya, kita sebelumnya tidak pernah minta kedua tangan. Tapi Allah kasih. Meski tidak semua orang. Sebab Allah selalu punya alasan. Pun aku. Aku tidak pernah mengira Allah luluhkan hati Bapak dan mengijinkanku berkendara sendiri menyentuh aspal jalan raya. Sebab biasanya, ke warnet saja harus diantar, meski aku telah memasuki semester enam di bangku perkuliahan. Aku tidak pernah meminta Allah meluluhkan hati Bapak. Aku menerimanya. Karena bagiku, menimba ilmu dengan gratis adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi memang, Allah itu Maha Baik. Kalau kita selalu meyakininya, maka keajaiban akan kerap muncul tanpa permisi. Membuat malu karena acapkali tak sesuai dengan kualitas diri. Oleh karenaya, selalu berbaik sangka padaNya. Sulit, kala kita tengah berada dalam posisi yg sulit. Tp percayalah. Dia yang akan menguatkan dan memberi daya agar segalanya menjadi mudah. Yang ga diminta aja Allah kasih, apalagi yang iya.

Tidak sembarang orang bisa ku ajak bercerita panjang lebar. Hanya orang-orang yang ku percaya. Namun pada masanya jika aku hanya diam dan tak ingin membagikan apapun, itu bukan berarti aku tidak mempercayaimu. Tapi kadang, jika ceritanya teramat menyedihkan aku hanya menceritakannya pada Yang Maha Sempurna. Karena Dia bisa menampung apapun. Sedang kamu tak perlu menyediakan ruang lagi. Doamu sudah lebih dari cukup dan tidak terganti. Kadang, cerita itu aku beri lelucon dimana-mana. Agar kamu tidak terpaku pada kesedihan dan bisa mengambil pelajaran. Karena sebenarnya aku hanya butuh kamu dengar, tanpa kamu harus berkomentar. Sungguh, tak apa. Tetapi memang, dengan-Nya aku bisa bercerita tanpa sepotong leluconpun. Aku bahkan bukan hanya mendapat komentar, tapi ribuan solusi pintar. Tentu aku tidak bisa membandingkanmu. Secuil saja tak bisa, karena kita manusia. Namun kau perlu ingat, tak ingin bercerita bukan berarti aku tidak percaya padamu. *senyum.

Sebelum berangkat ke kampus, aku mencium tangan Ibu dan memeluknya. Sering begitu. Tapi hari ini pelukanku lebih erat. Karena hari ini spesial. Hari dimana wanita luar biasa itu melahirkanku, berada di ambang nyawa. Saat ku sentuh kulit tangannya, amat terasa beliau telah menua. Aku sedih, karena belum bisa memberi apa-apa. Meski ia tak pernah meminta apa-apa kecuali kesehatan dan kelancaran setiap urusan dalam kehidupanku.

Ibu pernah berceloteh, jika hari Kamis adalah alasan kenapa aku menjadi anak kecil yang cengeng dan mudah menangis. Bagaimana tidak, aku memang berbeda dari saudaraku yang lain. Aku kerap dan bahkan selalu menangis kala berada di kendaraan umum saat tengah bepergian. Anehnya, ibu seakan tidak pernah absen untuk membawaku bersamanya. Karena toh kalaupun ditinggal, aku juga akan menangis. Jadi lebih sering dibawa, meski amat merepotkan. Alasan kenapa aku acap kali menangis menurut ibu adalah karena merasa tidak nyaman berada dalam angkot. Panas, pengap, bau bahan bakar yang menyengat, bau keringat, bau gorengan hangat, bercampur lebur menjadi sebuah bracikan yang handal membikin pusing dan mual. Tapi ibu tak pernah kapok, ia lebih tidak tega meninggalkanku. Ya, dulu ibu kerap bepergian, memastikan tantenya di Surabaya baik-baik saja.

Selain perbedaan itu, ada perbedaan yang juga seringkali membuat pertanyaan-pertanyaan memantul dan meloncat liar dalam benakku. Mungkin sudah pernah aku sampaikan di entri sebelumnya, jika hanya akulah yang tidak pernah menduduki peringkat tiga besar di sekolah dasar. Tapi ibu tidak pernah mempermasalahkannya. Baginya, mampu membaca dan menulis sudah merupakan anugerah yang begitu besar. Tak perlu juara ini itu dan punya segudang ilmu jika sedikit saja sudah dengan ikhlas mampu kita bagikan pada banyak orang. Dan belakangan aku tambahkan kalimat itu dengan: namun memperkaya pengalaman dengan merebut juara dan menempa diri demi meraih segudang ilmu juga tidak ada salahnya. Bermanfaat dengan ilmu yang lebih banyak dan lebih banyak orang juga akan lebih baik.

Begitula ibu. Qonaah. Meski namanya bukan qonaah. Tapi memang, beliau tidak pernah memaksakan kehendak. Menerima apapun yang ada, sepenuh hati. Seperti menerimaku sebagai anaknya yang bergelimangan kekurangan. Aku yang rajin menangis ketimbang rajin menabung saat maish kecil. Aku yang mudah membantah ketimbang mudah membantu. Dan sebagainya. Beliau terima dengan lapang dada. Dan kini, sentuhan kasih sayang, kesabaran, cinta dan ketulusannya dean suami---anak kecil itu telah benar-benar tumbuh dewasa dan menua. Usianya sudah kepala dua. Tapi kelakuan masih perlu dibenahi dimana-dimana.

Di usia itu, banyak pemuda telah menelurkan karya-karya menakjubkan. Juga pencapaian-pencapaian yang tidak hanya membanggakan kedua orang tua tapi bangsa. Namun lihatlah, anak yang diberi nama Lutfiyah itu justeru benar-benar belum bisa diandalkan. Bahkan meski hanya untuk membeli sepotong baju untuk sang ibu, wanita hebat yang melahirkannya ke dunia. Walau nyatanya, tak pernah sekalipun ia mengharapkan balasan dari setiap cinta kasih yang ia beri. Karakter inilah yang pada akhirnya secara tidak langsung tertanam pada sang anak. Bahwa member bukan berarti menantikan sebuah balasan.

Aku tidak tahu harus bersyukur semacam apa pada Allah Swt. yang telah menganugerahiku seorang ibu. Sebab beliau memanglah amat perhatian. Di usia yang seharusnya sudah bisa berpisah, merantau, mandiri dan menggantikan kedua orang tua sebagai tulang punggung keluarga ini, aku malah masih makan dari hasil jerih payah mereka. Sering sekali beliau mengingat makan dan ini itu. Semua orang pasti pernah merasakannya. Entah itu orang tua, nenek, kakek, paman dan lain-lain. Mengingat itu, aku tak henti-hentinya berucap,”Aduhai, maka nikmat apa yang akan aku dustakan?”

Sudah sepatutnya seorang ibu punya perasaan takut dan khawatir, ini yang selalu mengundang pembicaran semacam di bawah ini berlangsung.
“Kalau pulang dari kampus jangan terlalu malam. Ibu khawatir ada orang jahat.”
“Ibu tidak usah risau. Allah adalah sebaik-baik pelindung.”
“Iya, tapi ibu takut kamu kenapa-kenapa.”
“Ibu, percayalah. Sehelai daun yang jatuh bahkan tak luput dari kehendak Allah.”
Begitu potongan perbincangannya. Padahal sebenarnya aku ingin bilang,”Ibu, maafkan aku yang selalu membuatmu khawatir dan sedih ketimbang mengukir senyuman dan kebahagiaan.”


Pagi ini, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat beberapa detik. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sampai menit itu aku tidak mendapat ucapan selamat dari siapapun. Meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mengharapkannya. Karena aku percaya, kita semua selau saling mendoakan. Bagiku, mendoakan setiap muslim yang secara telak telah menjadi saudara seiman adalah sepanjang usia dan menjadi rahasia. Tidak perlu pada momen tertentu, tapi setiap hari dan tidak pernah absen. Lagi pula, sebenarnya yang patut dihadiahi ucapan selamat adalah ibuku, yang telah berjuang melahirkan dan berusaha membesarkanku dengan akhlakul karimah. Apalagi mengharap hadiah dan kue dengan lilin menancap dan ditiup seolah layaknya prosesi agama lain? Sungguh aku tidak pernah berharap itu melainkan doa. Namun pada akhirnya, ketika kemudian banyak yang mendoakan dan memberi selamat, aku akan sangat terharu seperti pagi ini. Ah, ternyata masih cengeng alias suka menangis. Adapun aku terharu, juga lantaran mengingat betapa banyak dosaku pada ibu dan betapa secuilpun aku belum memberinya kebahagiaan yang berorientasi dunia dan akhirat. Dan saat dengan keahliannya Ipar membuatkan kue ultah yang amat lucu, aku juga pastinya akan terharu. Meski sekali lagi, aku tidak mengaharap dihadiahi, melainkan doa yang tidak pernah redup dari hari ke hari.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates