Aku paling tidak suka mengundur keberangkatan kuliah meski hanya beberapa menit. Karena ini juga akan menunda segalanya. Satu setengah jam yang aku alokasikan untuk lama perjalanan membuat aku hampir tidak pernah telat, meski angkutan kerap ngetem dan jalannya lambat. Saat aku mengundur beberapa menit, aku nyaris akan terlambat. Atau kadang amat terlambat.
Terlambat saat ke kampus membuatku rugi berkalilipat. Aku bukan hanya saja harus mengeluarkan biaya untuk ongkos becak menuju ke gerbang kampus. Tapi aku juga akan tertinggal materi kuliah. Ini membuat aku rugi berkali-lipat. Tapi setelah dipikir lagi, aku justru senang karena akhirnya para tukang becak mendapat rezeki dari orang yang berangkat telat sepertiku. Hehe
Tidak hanya itu, saat terlambat aku pada akhirnya harus duduk di belakang. Meskipun memang sering sih duduk di belakang tapi untuk mata kuliah yang menurutku susah, aku lebih suka duduk di bangku paling depan atau paling tidak di urutan kedua sehingga mampu mendengarkan ceramah dosen dengan jelas. Namun jika aku telat dan duduk di bangku terbelakang aku jadi makin menyadari jika lagi-lagi aku rugi. Karena kebanyakan saat aku duduk di belakang, aku tak paham sama sekali. Entah karena suara dosen terlalu lembut atau karena hal lain. Yang ku tahu aku rugi lagi. Karena ulahku sendiri.
----
Waktu SMA aku sangat anti untuk datang terlambat. Karena aturan sekolah yang begitu ketat. Karena di SMP tidak terlalu sebegitunya. Mungkin karena swasta, meski tak selalu itu tolok ukurnya. Pernah waktu belum bisa beradaptasi, aku datang telat hingga harus dipulangkan. Duh, menyedihkan. Padahal jarak rumah bisa dibilang amat jauh. Pernah juga waktu pelajaran olahraga di kelas aku terlambat lebih dari 5 menit hingga dilarang masuk ruangan. Dan masih banyak pernha yang lainnya. Bairlah menjadi aibku saja, hahaha.
Semenjak masuk kuliah, aku jadi agak mafhum dengan keterlambatan. Bagaimana tidak. Toleransi waktu untuk datang terlambat bisa mencapai 15 menit. Bukan main. Lalu meski aku didiklat untuk super duper disiplin, nyatanya saat menjadi asprak, yang mendiklat dulu justru datang terlambat. Parah. Namanya juga manusia. Katanya. Entahlah, pokoknya aku sadar, jika terlambat hanya membuatku makin rugi, berkali-lipat.
0 komentar