Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Hehe, hari kedua belajar. Hebat banget, semangat banget mereka. Masya Allah, tabarakallah. Sampai-sampai hampir selalu datang lebih awal. Haha.

Selalu, terinspirasi itu kadang bukan dari orang dewasa. Tapi dari anak-anak kecil. Super duper masih polos, dengan jiwa-jiwa yang masih bersih.

Nah, mereka belum saya minta menghafal. Yang penting merasa nyaman dulu dengan bahasa asing ini. Supaya berkenalan dulu, seperti tema materinya. Hihi.

Tapi Alhamdulillah, otak manusia memang Allah ciptakan dengan sangat luar biasa. Tanpa menghafal pun manusia sudah bisa cepat sekali menangkap informasi baru, ya.

Tetap semangat. Memang tak harus selalu semangat. Tapi paling tidak usaha. Jangan riweuhkan masalah hasil. Yang penting prosesnya ya, Nak 💕

Ingat sekali dulu saat kecil bapak sering mendengarkan kami lagu-lagu anak. Hehe, aku, adik dan kakak perempuanku. Sering juga beliau menyiapkan microfon lengkap dengan sound-nya. Jadilah kami sering 'konser' kecil-kecilan di rumah. Tak peduli suara cempreng kami memekakkan telinga seisi rumah.

Beruntung sekali, memiliki bapak yang sampai sekarang saat aku sudah tua pun beliau tidak pernah protes anaknya hobi menyanyi, rumah jadi ramai hehe. Dulu sempat berhenti saat awal-awal semester kuliah. Karena berpikir hanya buang-buang waktu. Dan kadang, jika terlalu banyak musik yang didengar, saat sholat jadi tambah tidak khusyuk, ingat ke lagunya hihi.

Tapi entah benar atau tidak, makin kesini aku makin ingat kembali, dulu saat SD, aku tidak menyukai mata pelajaran apapun, kecuali bahasa Indonesia dan seni budaya. Itu pun hanya karena ada praktik menyanyi dan menggambar. Baru kemudian kelas enam sadar suka bahasa Inggris. Bukan, bukan karena merasa gambar dan suaraku bagus. Tapi mungkin karena aku berpikir ini adalah kegiatan tanpa mikir berat. Kegiatan yang bagiku mampu mengisi waktu luang dan mengurangi stress. Ampun, deh. Masih SD sudah kenal dengan stress, ya. Tapi ternyata, kalau dilatih sebetulnya tidak hanya sebatas hiburan. Namun bisa jadi berpenghasilan dari menggambar, dan lain sebagainya.

Aku juga bersyukur punya ibu yang tidak menuntutku harus sama dengan saudaraku yang lain, untuk jago Matematika juga. Ibu benar-benar tidak ambil pusing. Atau lebih tepatnya tidak ambisius. Meskipun aku ingin mengingat lagi, bahwa tak semua ambisius itu negatif. Banyak juga sisi positifnya. Bahkan mungkin sebuah keharusan. Hanya saja, mungkin karena dari kecil aku tak biasa dididik dengan pola seperti itu, maka jadilah aku begini haha.

Dari kecil aku terbiasa melakukan apa-apa karena keinginan sendiri. Ya, mungkin banyak juga yang diarahkan seperti penentuan jurusan studi dan lain-lain. Namun secara garis besar semua betul-betul dibebaskan begitu saja. Tak sepenuhnya bebas, namun tidak diikat, atau didikte. Misal, contoh kecil, ibu tidak pernah menyuruhku beres-beres rumah. Atau memasak. Keahlian bersih-bersih memang mungkin naluriah dimiliki semua orang. Tapi ini yang akhirnya membuat aku berinisiatif sendiri, seperti mempelajarinya sendiri dengan mencontoh.

Memasak juga begitu, karena tidak pernah disuruh membantu, aku hanya belajar dengan melihat. Maka dari itu, aku terbilang telat bisa memasak dari kebanyakan teman sebayaku. Aku baru bisa memasak, meski sederhana, saat SMP. Sebab ibu tidak pernah memaksa. Aku hanya menginginkannya sendiri. Itu hanya dua contoh kecil. Banyak sekali yang akhirnya membuat aku berpikir, ternyata pola didik seperti ini bagus, sebab membuat kita tak perlu disuruh untuk belajar sesuatu. Namun kadang ada sisi negatifnya juga. Ya begitulah, selalu banyak sisi di setiap apapun itu, bukan.

Namun sebetulnya, aku hanya ingin menyampaikan, terutama untuk diriku sendiri, bahwa dengan bisa apapun dan mampu mengerjakan banyak hal, kamu tidak akan merugi. Sungguh, kamu tidak rugi sama sekali. Justru kamu jadi bisa lebih banyak latihan dan belajar. Walau tak se-multitalent Youtuber Liziqi yang bahkan bisa mengerjakan banyak pekerjaan berat lelaki, namun intinya kita tidak akan rugi dengan mencoba dan bisa banyak hal baik. Namun tentu, bahasan ini bukan ke ranah penekanan hustle culture, ya.

Dengan konsep bahwa kita tidak akan merugi, maka kita kemudian tidak akan mengomel, jika misal hanya kita yang diminta mengecat rumah sementara saudara kita yang lain tidak (ini hanya permisalan loh 😂). Sebab kita paham, yang akan lebih pintar dan terlatih disini adalah kita. Bukankah pintar dan cerdas itu definisinya amat luas, bukan melulu jago mapel di kelas. Setidaknya ada delapan jenis kecerdasan anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner, antara lain; bahasa, musikal, matematika, antar pribadi, spasial, jasmani, intrapersonal dan naturalis. Untuk tiap penjelasannya bisa di-search sendiri ya, supaya tidak panjang-panjang tulisannya.

Dengan konsep ini juga kita kemudian mampu berusaha melakukan sesuatu karena dan untuk diri kita. Bukan untuk orang lain. Walau memang perlu dilatih. Apalagi saat kadang kita malah dianggap 'cari muka' di sebuah organisasi karena ingin melakukan yang terbaik. Padahal kita hanya ingin belajar, atau bahkan barangkali berkontribusi. Tak apa, kembali ke konsep dan prinsip yang kita bangun. Kita melakukan apapun bukan karena ingin dilihat orang lain, kan.

Kita belajar masak, menyanyi, qira'ah, banyak bahasa asing, membuat software, coding dll bukan karena orang lain. Melainkan karena yang untung kita sendiri. Alhamdulillah kalau kemudian suatu saat bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Hal itu juga mengingatkan kita juga, bahwa jangan sampai juga salah kaprah. Mampu mengerjakan ini-itu bukan berarti kita bisa dengan mudah dimanfaatkan orang. Ingat, bermanfaat dan dimanfaatkan itu berbeda, ya. Maka kita juga perlu belajar mengetahui porsinya. Hehe, pandai sekali jika hanya menulis, praktiknya susah bukan bualan. Sebab bisa jadi kita adalah orang yang sungkan untuk menolak. Namun selama kita berusaha memiliki niat yang tulus, jangan khawatir, setelah banyak kerikil, kita akan sampai juga akhirnya di jalan yang mulus.

________

BTW lagu ini ternyata karya anak 2000-an. Suka sekali yang judulnya Berisik, tapi entah kenapa malah nyoba ini hehe. Memang anak jaman now tidak bisa diragukan, ya kreativitasnya. Kata Pak Gita Wirjawan, jadilah divergent. Pasti akan ada buah manis yang kelak bisa dipetik. Lalu bagiku, walau tak mudah----apalagi semakin dewasa ternyata waktu terasa semakin sempit dan berharga-----tetap optimis, setiap orang punya porsinya masing-masing.

Satu lagi, dengan aku bercerita kebaikan tentang orang tua, bukan berarti aku ingin membandingkan dengan mereka yang (maaf) barangkali di luaran sana 'broken home'. Maaf, sekali lagi aku tidak bermaksud seperti itu. Lagi dan lagi, ini hanya soal porsi yang berbeda. Dan tak semua porsi yang kita lihat artinya begitu. Tak semua cerita yang hadir berarti telah diceritakan, hehe.

________

*note: abaikan amatir ini, hehe. Just for fun. Entah kenapa kalau nyanyi ngegas wkwk. Bagian "hmm" susah ternyata. Ternyata pendapat saat SD dulu bahwa menyanyi itu tak mikir, ternyata tak benar ya. Perlu latihan, perenungan, dll untuk kemudian biasa membuat lagu yang bagus dan bermanfaat apalagi menyanyikannya. Hehe, kalau saya mohon maklum, baru dengar lagunya beberapa kali, beda jam terbang juga, beda suara, beda porsi, porsi makan kali ah 😂
Dulu aku benar-benar mempertanyakan, benarkah ada cinta yang tulus?
Sebab biasanya, cinta yang seperti itu tidak mengenal kata "tapi" apalagi akal bulus.
Ia datang dari Yang Maha Suci. Maka ia betul-betul putih. 

Apapun alasannya, harusnya tidak dinodai. Sebab paham, bahwa sumbernya amatlah agung dan barangkali bahan untuk menguji. Betul, anak, istri, suami dan lain sebagainya pada akhirnya hanyalah tipuan dan ujian. Begitu kira-kira kalau kita ingat-ingat kembali.

Dulu aku juga berpikir, bahwa pertanyaan “Sudah makan?” hanyalah bentuk basa-basi.
Bukti kalau tidak ada kreativitas untuk merangkai pertanyaan yang lebih baik dan bervariasi.
Tapi kini aku benar-benar menyadari, bahwa itu adalah pertanyaan paling menyentuh di muka bumi, yang mencakup segala sendi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah bosan melontarkannya padaku, bahkan lebih dari tiga kali sehari.
Ibu paham, barangkali dengan makan, salah satunya, kita bisa memperoleh energi.
Lalu kemudian dapat beraktivitas dengan baik, jangan sampai jatuh sakit.

Dulu aku pun berpikir, bahwa pertanyaan “Lagi ngapain?” adalah pertanyaan paling mainstream.
Bagiku, apa pentingnya tahu urusan orang lain? Kenapa tidak fokus pada kesibukan sendiri saja.
Tapi ternyata itu bukan sekadar pertanyaan penasaran saja, melainkan bentuk kepedulian yang amat tinggi.

Itulah kenapa Ibu tidak pernah absen menanyakan itu hampir saban hari di ponsel, seolah mengintrogasi kakak perempuanku.
Atau bertanya padaku saat aku berada jauh darinya, di Kediri dulu.
Beliau benar-benar ingin tahu apa saja kegiatan anaknya sampai begitu lama tidak memberi kabar, hingga lupa waktu.

Omong - omong tentang kabar, pertanyaan "Bagaimana kabarnya?" juga terbaca super duper aneh bagiku. Maksudku, jawabannya seringkali tidak menjamin kejujuran. Bisa jadi dijawab "Sehat" padahal sedang "Sakit". Jadi bagiku yang sebetulnya tidak suka basa basi, ada baiknya bertanya kabar dengan silaturahmi. Atau jika tidak sempat, doakan saja. Semoga kesehatan selalu menyertai.

Namun ternyata, menanyakan kabar memang bentuk perhatian tak ternilai. Karena penanya mengerti bahwa nikmat sehat adalah kunci yang begitu berharga. Kenikmatan yang sering terlupa, namun tiada duanya.

Begitulah sedikit bahasa cinta yang aku pelajari. Banyak sekali yang tidak bisa aku tuliskan. Seperti, "Sudah kamu capek, biar ibu saja." Dan lain sebagainya. Walau kadang bisa ditujukkan dengan bahasa sebaliknya, aku benar-benar belajar cinta yang begitu tulus dari ibu. Yang tidak mengenal alasan sama sekali. Yang tetap mencintai saat aku busuk atau pun dikala aku wangi.

Ibu tidak pernah pergi. Dia selalu ada. Doanya selalu membersamai. Senyumnya senantiasa menyejukkan sanubari. Tampa pamrih, beliau tak perlu dipaksa untuk menyayangi. Tuhan memang betul-betul hebat, memberikan kita sosok dengan jiwa sepertinya.

Lalu, usai belajar, semoga kelak aku bisa memilki cinta setulus ibu. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berdoa. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu berusaha. Tak harus sama, namun setidaknya aku selalu percaya pada takdir-Nya.
Saya kemarin dibuat sangat terharu dengan sikap seorang murid yang selepas pembelajaran datang menghampiri saya. Awalnya saya mengira dia ingin pamitan karena jam sekolah sudah usai.

Dia bilang: "Makasih ya, Miss. Sudah sabar dengan teman (sebangku) saya." Sambil melirik temennya yang dengan air muka gembira tengah berbincang-bincang dengan yang lain. 

Dia kemudian melanjutkan, "Dia kan spesial, Miss. Berbeda dengan kita." Mendengar itu saya langsung sedikit kaget. Sebab saya sama sekali tidak menyadari itu. Menyadari bahwa beliau (maaf) berkebutuhan khusus.

Akhirnya saya bilang dengan suara yang saya kecilkan: "So sorry, I don't know about that. Soalnya dia hebat dan menjawab seperti biasa, loh. Makanya saya ngga tahu. Meskipun jawabannya dengan bahasa Indonesia, tapi kan itu artinya dia mengerti. Maaf, ya."

"Iya, Miss. Dia berbeda. Tapi ngga, kok. Miss sudah sabar banget tadi. Makasih, Miss." tambahnya lagi. Tapi sebetulnya yang membuat saya terharu adalah betapa temannya ini 'nganggep' banget sampai bela-belain ke depan dan menyampaikan terima kasih. Lalu bagi saya, beliau tidak berbeda. Beliau sama seperti kita. Bahkan sangat menginspirasi.

Sedangkan untuk saya, mungkin ke depan saya harus belajar lebih peka lagi. Lalu saya jadi merenung: Kita yang sudah Allah anugerahi "segalanya" apa tidak malu jika harus berasalan tidak percaya diri, tidak semangat, masih banyak kekurangan, dll. Hehe *fomaself 😅
Saat ada pilihan untuk tetap egois dan bertahan demi cuan, kamu berhasil dengan sangat sadar dan rela melepas. Selamat, kamu menang!

Bukan. Bukan berarti yang bertahan egois, namun sungguh tulisan ini begitu personal. Tiap-tiap pribadi punya sikap, alasan, dll sendiri. Tidak bisa disamaratakan.

Tak hanya cuan. Posisi aman  dan ragam iming yang disampaikan dengan meluap-meluap tak juga mampu menggoyahkan hatimu. Maaf, saya memang masih miskin harta, tapi bukan itu tujuan utama saya, katamu. Realistis perlu, tapi caranya tak begitu.

Akan banyak suara, dan mustahil semuanya akan "pro" denganmu. Bahkan barangkali sikapmu dianggap berlebihan. Tak apa, mereka tidak salah. Tidak ada dosa bagi orang yang tidak tahu, bukan.

Selain harga diri, yang mahal ternyata memang adalah saat kamu bisa meraih pelajaran dan menghadapi setiap tantangan.

Walaupun kamu bisa belajar dari hal terjelek sekalipun, apa iya kamu akan bertahan di tempat yang sering mem-blurkan definisi nilai diri, pelajaran, dan tantangan itu sendiri.

Maka, Nak. Selamat kamu menang.

Tapi ingat, selama hidup berlanjut kamu akan masih ke pertandingan yang lain. Kamu akan terus dites. Omonganmu, tulisanmu, doamu, semua akan diuji.

Lalu ingat juga, bahwa kau juga banyak menyerap pelajaran dan memperoleh banyak kebaikan dari sana. Selain bertemu orang-orang baik, kamu juga belajar bagaimana melihat uang dari sudut yang berbeda sekarang.

Dulu kamu selalu berpikir, tanpa uang kamu tidak akan bisa sekolah, kuliah, daftar lomba, dan sebagainya.

Namun kini berbeda.

Tempat itu mengajarimu bahwa ternyata "uang tidak berarti apa-apa". Ya, uang sebanyak apapun tidak ada artinya jika tidak dibarengi semangat.

Meskipun berjibun uang yang kita punya, modal atau apapun sebutannya, kalau pada akhirnya kita tidak memiliki daya juang dan semangat untuk "Sekolah, Bekerja, atau bahkan Mendirikan Usaha" maka ya sama saja nihil.

Kamu juga jadi bisa berpikir, uang bisa dicari dan diusahakan, tapi "semangat yang sama" seringkali tidak datang dua kali.

Itulah kenapa ini yang membuatmu berani mengambil resiko kuliah lagi dengan biaya sendiri. Meskipun siapa yang tahu, kesempatan beasiswa on-going bisa dijajal, walau juga super duper memerlukan keseriusan.

Nak, aku hanya ingin berpesan padamu. Jangan lupakan setiap pelajaran. Tak apa jika terkadang lupa. Sebab kamu cuma manusia. Namun sambil ingat kembali. Supaya kamu bisa menjadikannya pijakan yang kokoh untuk melanjutkan perjalanan.

Sekali lagi, selamat kamu menang!

_______

*Note: aku dan 'diriku yang lain' seperti Ibu dan anaknya sendiri wkwk.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates