"Aku cinta diriku," ini kalimat yang bukan saja ku pelajari untuk diucapkan, melainkan juga diamalkan. Memang betul, selama hidup, manusia akan terus belajar apa saja. Termasuk untuk kian belajar mencintai berawal dari memahami dan mencintai diri mereka. Ini adalah bukti usaha pengembangan diri. Karena mungkin saja kita memiliki impian yang besar---memberdayakan masyarakat---namun sebelum itu haruslah dimulai dengan memberdayakan diri terlebih dulu. Yang bisa sejenak kita pelajari dari catatan populer mengenai seseorang yang ingin mengubah dunia, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ialah yang harus berbenah diri sebagai langkah pertama misi akbarnya.
Bagiku, berbenah diri tidak melulu tentang menjadi pribadi lebih baik dan memanen hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab dengan berdamai dengan diri sendiri pun adalah bentuk membenahi diri. Menerima apapun yang sudah dilalui karena selain kita bukan penentu hasil, kita juga cuma manusia yang bisa salah, lelah, gagal, kecewa, menangis dan sisi lain lainnya dalam menapaki hidup. Sisi-sisi itu tidak lantas diartikan dengan kekurangan, bahkan mungkin memang tidak sama sekali diartikan demikian. Itu normal dan manusiawi. Setelah itu, lebih manusiawi lagi kalau kemudian memaafkan diri dan menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai kekuatan di masa depan. Ah, klise sekali, bukan?
Klise juga tapi benar adalah pernyataan bahwa langkah merawat tubuh dari luar dan dalam akan mencerminkan bahwa kita mencintai diri kita. Tidak mesti diperlihatkan dengan berbelanja segunung barang branded, make up mahal dan makanan yang sulit dijangkau, atau menghadiri seminar tokoh populer demi mendapatkan sengatan semangat. Dengan hal-hal kecil seperti menjaga pola makan, mengaji, membersihkan kamar, membaca buku, mengucapkan kalimat positif, tidak menyia-nyiakan waktu, beramal dan kegiatan berarti lain (meski kadang juga tidak mudah diterapkan) juga membuat kita merasa menjadi manusia yang lebih berarti dan kian mencintai diri sendiri.
Bentuk mencintai diri sendiri juga bisa dilakukan dengan penerimaan kenyataan bahwa kita cuma manusia: yang bisa mengerjakan 'banyak' hal dalam 24 jam, tapi tidak 'semua' hal. Lagi-lagi narasi: cuma manusia---bukan malah meringankan kita untuk berbuat kesalahan, tidak produktif, tidak punya visi dan seterusnya. Melainkan justru dalam konteks ini menyajikan bagaimana kita bisa belajar menjadi manusia (Seperti kalimat awal bahwa kita akan terus belajar----manusia tempatnya lupa membuat mereka sekaligus (kerap) lupa menjadi manusia. Sampai-sampai lupa memanusiakan manusia). Jadi sebenarnya tidak perlu stres berlebih jika tidak semua list dalam schedule bisa tercentang, selama masih ada prioritas.
Sama halnya saat berbicara mengenai tahun baru dengan resolusi tahun lalu yang jumlahnya tidak sedikit tapi baru beberapa tercentang. Duh, rasanya kepala auto pusing. Aku mengira, itu adalah bentuk koreksi pada doa dan usaha yang kurang maksimal, padahal aku saja barangkali yang kurang bersyukur. Sampai akhirnya aku menemui satu 'ritual' yang banyak dilakukan oleh orang-orang 'besar' yang aku singkat menjadi: bersyukur. Belakangan aku tahu jika teknik ini banyak ditulis ulang dan dikembangkan oleh praktisi-praktisi pengembangan diri.
Langkahnya dengan menulis apa-apa yang sudah kita capai (sebelum tidur). Rasakan energi positif dan kebahagiannya mengalir. Ingat semua daya yang sudah diberikan Allah SWT untuk bisa menyelesaikan kegiatan-kegiatan itu. Lantas bersyukur. Karena meski hanya membantu membersihkan rumah (misalnya), membantu orang tua dan hal lain yang dianggap remeh, itu adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri.
Menyadari dan menerima bahwa tiap manusia memang akan selalu berbeda dalam banyak hal juga bentuk mencintai diri. Entah dari segi fisik, kekayaaan, jalan hidup atau apapun itu. Termasuk keunikan yang mampu menjadi kekuatan di tiap pribadi. Lalu percaya, jika tiap insan pasti dianugerahi potensi. Dengan begitu, tidak perlu membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena jalan yang kita pilih akan selalu berbeda. Pun saat pilihannya sama, hasilnya tidaklah sama. Jadi berbeda pilihan tidak selalu berarti salah. Kita akan menulis versi cerita kita sendiri.
Orang bilang, kita juga perlu jujur dalam memilih apa yang kita sukai. Karena kita berhak menentukan apa yang ingin kita jalani. Meski ada kalanya, kita tidak melulu memahami diri dengan do what we love tapi juga love what we do. Selain itu mungkin kita kerap merasa menjadi pribadi yang egois karena berani say no to not to do something karena ada hal prioritas yang juga harus dilakukan. Merasa egois karena tidak mau membantu orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri. Namun ternyata, pada beberapa momen kita memang perlu mengutamakan diri guna menuntaskan kewajiban kita terlebih dahulu.
Intiya, mencintai diri sendiri dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan. Memahami bahwa kita hanyalah seorang manusia. Kita hanya seorang hamba. Menjadi diri sendiri kapan pun dan dimanapun karena bagaimanapun kadarnya pasti akan dipertanggung jawabkan di hari nanti. Tidak melulu sibuk memperindah tampilan, namun memupuk isi senantiasa didahulukan. Juga hidup yang bukan hanya tentang diri sendiri tapi tentang manfaat yang bisa diberi. Memang berat diamalkan. Semoga Allah SWT ringankan.
"Duhai Allah, terima kasih atas seluruh nikmat di hari lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan hingga hari ini dan barangkali esok hari. Di saat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, di saat itulah kudapati dosaku yang kian menggunung."
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣).
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan." (QS: Ar-Rahman: 13).
#backtoquran #selflove #selfnote #selfempoverment 💙