Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

"Aku cinta diriku," ini kalimat yang bukan saja ku pelajari untuk  diucapkan, melainkan juga diamalkan. Memang betul, selama hidup, manusia akan terus belajar apa saja. Termasuk untuk kian belajar mencintai berawal dari memahami dan mencintai diri mereka. Ini adalah bukti usaha pengembangan diri. Karena mungkin saja kita memiliki impian yang besar---memberdayakan masyarakat---namun sebelum itu haruslah dimulai dengan memberdayakan diri terlebih dulu. Yang bisa sejenak kita pelajari dari catatan populer mengenai seseorang yang ingin mengubah dunia, namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ialah yang harus berbenah diri sebagai langkah pertama misi akbarnya.

Bagiku, berbenah diri tidak melulu tentang menjadi pribadi lebih baik dan memanen hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab dengan berdamai dengan diri sendiri pun adalah bentuk membenahi diri. Menerima apapun yang sudah dilalui karena selain kita bukan penentu hasil, kita juga cuma manusia yang bisa salah, lelah, gagal, kecewa, menangis dan sisi lain lainnya dalam menapaki hidup.  Sisi-sisi itu tidak lantas diartikan dengan kekurangan, bahkan mungkin memang tidak sama sekali diartikan demikian. Itu normal dan manusiawi. Setelah itu, lebih manusiawi lagi kalau kemudian memaafkan diri dan menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai kekuatan di masa depan. Ah, klise sekali, bukan?

Klise juga tapi benar adalah pernyataan bahwa  langkah merawat tubuh dari luar dan dalam akan mencerminkan bahwa kita mencintai diri kita. Tidak mesti diperlihatkan dengan berbelanja segunung barang branded, make up mahal dan makanan yang sulit dijangkau, atau menghadiri seminar tokoh populer demi mendapatkan sengatan semangat. Dengan hal-hal kecil seperti menjaga pola makan, mengaji, membersihkan kamar, membaca buku, mengucapkan kalimat positif, tidak menyia-nyiakan waktu, beramal dan kegiatan berarti lain (meski kadang juga tidak mudah diterapkan) juga membuat kita merasa menjadi manusia yang lebih berarti dan kian mencintai diri sendiri.

Bentuk mencintai diri sendiri juga bisa dilakukan dengan penerimaan kenyataan bahwa kita cuma manusia: yang bisa mengerjakan 'banyak' hal dalam 24 jam, tapi tidak 'semua' hal. Lagi-lagi narasi: cuma manusia---bukan malah meringankan kita untuk berbuat kesalahan, tidak produktif, tidak punya visi dan seterusnya. Melainkan justru dalam konteks ini menyajikan bagaimana kita bisa belajar menjadi manusia (Seperti kalimat awal bahwa kita akan terus belajar----manusia tempatnya lupa membuat mereka sekaligus (kerap) lupa menjadi manusia. Sampai-sampai lupa memanusiakan manusia). Jadi sebenarnya tidak perlu stres berlebih jika tidak semua list dalam schedule bisa tercentang, selama masih ada prioritas.

Sama halnya saat berbicara mengenai tahun baru dengan resolusi tahun lalu yang jumlahnya tidak sedikit tapi baru beberapa tercentang. Duh, rasanya kepala auto pusing. Aku mengira, itu adalah bentuk koreksi pada doa dan usaha yang kurang maksimal, padahal aku saja barangkali yang kurang bersyukur. Sampai akhirnya aku menemui satu 'ritual' yang banyak dilakukan oleh orang-orang 'besar' yang aku singkat menjadi: bersyukur. Belakangan aku tahu jika teknik ini banyak ditulis ulang dan dikembangkan oleh praktisi-praktisi pengembangan diri.

Langkahnya dengan menulis apa-apa yang sudah kita capai (sebelum tidur). Rasakan energi positif dan kebahagiannya mengalir. Ingat semua daya yang sudah diberikan Allah SWT untuk bisa menyelesaikan kegiatan-kegiatan itu. Lantas bersyukur. Karena meski hanya membantu membersihkan rumah (misalnya), membantu orang tua dan hal lain yang dianggap remeh, itu adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri.

Menyadari dan menerima bahwa tiap manusia memang akan selalu berbeda dalam banyak hal juga bentuk mencintai diri. Entah dari segi fisik, kekayaaan, jalan hidup atau apapun itu. Termasuk keunikan yang mampu menjadi kekuatan di tiap pribadi. Lalu percaya, jika tiap insan pasti dianugerahi potensi. Dengan begitu, tidak perlu membandingkan kehidupan yang kita jalani dengan orang lain, karena jalan yang kita pilih akan selalu berbeda. Pun saat pilihannya sama, hasilnya tidaklah sama. Jadi berbeda pilihan tidak selalu berarti salah. Kita akan menulis versi cerita kita sendiri.

Orang bilang, kita juga perlu jujur dalam memilih apa yang kita sukai. Karena kita berhak menentukan apa yang ingin kita jalani. Meski ada kalanya, kita tidak melulu memahami diri dengan do what we love tapi juga love what we do. Selain itu mungkin kita kerap merasa menjadi pribadi yang egois karena berani say no to not to do something karena ada hal prioritas yang juga harus dilakukan. Merasa egois karena tidak mau membantu orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri. Namun ternyata, pada beberapa momen kita memang perlu mengutamakan diri guna menuntaskan kewajiban kita terlebih dahulu.

Intiya, mencintai diri sendiri dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan. Memahami bahwa kita hanyalah seorang manusia. Kita hanya seorang hamba. Menjadi diri sendiri kapan pun dan dimanapun karena bagaimanapun kadarnya pasti akan dipertanggung jawabkan di hari nanti. Tidak melulu sibuk memperindah tampilan, namun memupuk isi senantiasa didahulukan. Juga hidup yang bukan hanya tentang diri sendiri tapi tentang manfaat yang bisa diberi. Memang berat diamalkan. Semoga Allah SWT ringankan.

"Duhai Allah, terima kasih atas seluruh nikmat di hari lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan hingga hari ini dan barangkali esok hari. Di saat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, di saat itulah kudapati dosaku yang kian menggunung."

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣).

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan." (QS: Ar-Rahman: 13).

#backtoquran #selflove #selfnote #selfempoverment 💙

Kurang lebih dua kali dalam seminggu kaki ini Allah izinkan untuk menapaki RSUD di kotaku dalam kurun waktu hampir dua bulan. Aku amat bersyukur, saat pertama kali melihat dan mengamati tempat ini aku merasa banyak menyerap pelajaran. Karena nuraniku seolah bercerita panjang lebar dengan latar baru yang hadir menyesaki pikiran.

Lalu hari ini. Aku seolah berhenti sejenak. Sepersekian menit bahkan lebih, untuk merenungi apa yang sudah aku pelajari sejauh ini. Aku kemudian menyapukan pandangan ke sekitar. Ku lihat seperti biasa ramai orang duduk dalam antrean. Tapi nyatanya hatiku sepi, sepi dari pelajaran.

Berusaha lebih, akupun meletakkan HP pintar di tas bagian paling dalam. Berharap tidak ada hal yang akan mengalihkan. Namun tetap saja sama. Kosong. Hanya debu di depan daun pintu beterbangan karena terkena angin yang cukup kencang. Keringat dingin serupa kian membawaku sendirian, ke dalam keheningan.

Lalu lalang petugas dan pasien. Keluh kesah yang terselip dalam perbincangan panjang mereka tak juga memberi titik terang. Gelap. Sukar kudapati hikmah di sepanjang perkataan. Yang ada, kembali sendiri, seperti meratapi pribadi yang bagiku makin berubah ke arah yang hakikatnya tidak pernah ada satupun orang menginginkannya.

Aku kemudian menyeret ingatanku pada memori lama saat pertama kali sampai di sini. Harapan-harapan untuk sembuh dari orang-orang. Berbagai lini petugas dengan beragam karakter juga kian memperluas wawasan. Ada yang ramah bukan kepalang. Sabar dan tulus melayani tanpa membaca pangkat jabatan. Ada juga yang menyebalkan---siapa tahu---mungkin sedang memanggul berton-ton beban.

Kerap kali aku dibikin malu saat bertemu dengan orang-orang yang lebih tangguh menjalani hidup. Salah satu dari mereka ialah seorang nenek yang menopangkan tangan kirinya ke tongkat, berjalan seorang diri kesana kemari mengurusi rentetan tahapan untuk bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Setelah membagikan kisahnya, ternyata beliau mengidap penyakit jantung. Tak ku jumpai keluhan, yang kulihat hanyalah ketabahan dan segenap perjuangan.

Di beberapa sudut, beberapa petugas kebersihan menjalani kewajibannya dengan takzim. Hmm.

Lanjutan 👇

Belum dipindah, soon. Dari @l_utfiyah (Instagram)

Pagi itu aku pergi ke pasar lagi bersama ibu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ibu tidak sekuasa dulu berjalan kaki dengan jarak yang relatif jauh, bahkan meski hanya dari parkiran motor ke pintu utama pasar. Namun kali ini, kemuliaan hatinya mendorong ia mau tidak mau harus ke pasar untuk kepentingan orang lain tanpa mau diwakili. Jadilah aku ikut bersamanya. Sembari terbiasa menikmati suasana pasar yang sarat pesan, aku berjalan dibelakangnya, lebih tak kuasa sebenarnya melihat beliau berjalan tertatih dan perlahan. 

Hmm, waktu seolah melesat bak pacuan kuda. Bahkan lebih cepat, tidak terasa sebab sering membikin terlena. Lihat saja, ibu di usianya kini sudah tidak mampu berjalan lama-lama. Padahal rasanya seperti baru beberapa tahun lalu beliau mengerjakan apa saja, mengerahkan segenap tenaga, bahkan rela mengorbankan jiwanya sekalipun.

Benar, label beliau sejak dulu memang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi sebenarnya yang beliau lakukan jauh daripada itu. Eits, aku mengatakan 'hanya' bukan karena merendahkan profesi mulia tersebut. Karena ibu memang tidak merangkapkan dirinya sebagai seorang guru, polwan, dokter, atau apapun secara formal. Tapi sekali lagi, bagiku beliau lebih daripada itu. Dan aku mengimani, setiap anak juga memiliki kesan mendalam terhadap orang tua mereka, apalagi seorang ibu.

Ibuku berasal dari keluarga yang sederhana. Merana. Mungkin kata itulah yang mendeskripsikan hampir dari sepanjang hidupnya saat kecil. Sejak kecil ibu sudah di tinggal pergi ibunya untuk melanjutkan hidup secara mandiri di dunia saat berusia sepuluh tahun. Saat itu seperti kebanyakan anak manusia, ia sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu, tapi pena takdir menggoreskan warna tinta yang berbeda. Tapi baginya, beruntung selama sepuluh tahun ia dianugerahi kedua orang tua yang lengkap. Sampai akhirnya, Ayah yang menopang hidupnya menyusul mendiang sang istri.

Perih hati ibuku, menerima kenyataan yang menyedikan. Namun sewajarnya saja, sebab itulah hakikat kehidupan, yakni kematian. Ibu bukan wanita kecil yang lemah. Ia tetap melanjutkan hidup meski sulit menyalakan kembali api semangat yang sempat sirna. Berkat-Nya, ibu meneruskan jalan hidup yang kini semakin bertambah pelik, tinggal bersama nenek dan bibinya. Meski ia masih belia, ia tak mau diam memandangi kedua orang tua angkatnya itu bekerja.

Setiap hari ia memeras keringat, membantu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah: mencuci baju, memasak, menimba air, menyapu, bahkan menggiling padi dengan beban yang begitu berat. Belum lagi jaraknya yang jauh dan ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Semua ia kerjakan demi meringankan beban nenek dan bibinya yang berdagang di pasar dan tidak pernah menuntut apapun pada mereka. Semangatnya seakan tak pernah surut, semua pekerjaan yang berat meski dengan tubuhnya yang kecil, dianggap ringan saja baginya. Kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang memiliki mental, semangat dan optimisme menjalani hidup dengan baik.

Ibu tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik, kulit cerah bersih, dan senyumnya manis. (Kata orang, cantik itu relatif. Jadi apa salahnya aku memuji ibuku sendiri dengan pendapatku, hehe). Namun sayangnya ia tak pernah mengenyam pendidikan formal lantaran eratnya rantai kemiskinan. Bibi dan neneknya juga tak terlalu mafhum dengan masa depan dan pentingnya pendidikan untuk seorang yang bergender perempuan. Sebab itu ibu hanya cukup dimasukkan ke pesantren untuk belajar mengaji dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Masa bergulir. Ibu menikah dengan bapak dan memiliki delapan orang anak. Kesabaran yang ia tanam sejak kecil justru kian tumbuh subur. Tak perlu kujelaskan betapa sabarnya ibu mengaruhi lautan hidup. Biar Allah yang catat, itu sudah lebih dari cukup. Dengan melihat jalan hidupnya, bahkan mungkin sejak lahir hingga kini telah merefleksikan betapa beliau adalah wanita yang kuat dan penyabar. *musik sedih, please! hehe.

Berbeda dengan hidupku. Selain mendapati nikmat pendidikan, kehidupan nyaman, dan nikmat yang tak terhitung jumlahnya, aku memiliki kedua orang tua yang dianugerahi umur panjang hingga sekarang. Sungguh itu nikmat tak terbilang. Terlebih, kedua sosok itu bukan hanya memberikan sokongan besar di setiap fase hidupku, namun juga penuh dengan ketidakterhinggaan mozaik kisah dan kasih yang tidak penah bisa dinegasikan keindahannya.

Ternyata benar, kalau melihat bagaimana cara orang tua mengarungi hidup, pastilah membuat kita merenung dan merasa malu. Lantas bergumam dengan lirih, "Duh, betapa hebatnya mereka." Bagaimana tidak, kita mungkin serupa bocah ingusan dalam bertindak. Cepat mengeluh, cengeng, lekas menyerah dan mudah menggerutu. Bahkan bisa jadi ada bocah ingusan yang bersikap lebih dewasa daripada itu. Lalu bagaimana saat dihadapkan pada kerasnya kehidupan, sedang kita masih terus membiarkan diri bersikap dan bersifat kekanak-kanakan?

Tak apa, sebelum semuanya terlambat. Kita masih punya waktu untuk meneladani karakter orang-orang hebat. Orang-orang di sekitar kita, khususnya kedua orang tua. Atau tidak mesti orang sekitar, jika memang tidak mendukung untuk itu. Masih banyak role model dengan karya menggelegar, menggetarkan kalbu. Di tempat nun jauh sekalipun yang dengan kecanggihan teknologi, kisah dan eksistensinya bisa dengan mudah kita ketahui. Pun bisa kita pahami meski mereka telah lama pergi. Karena telah diabadikan lewat tulisan ribuan tahun silam. Jangan jauh-jauh ke sosok yang sulit dicerna pelafalan namanya, karena kita memiliki uswatun hasanah yang rekam jejaknya bukan saja mendunia. Dialah Muhammad SAW. Manusia penerang bak rembulan kala malam.

__________

Semoga memang belum terlambat. Semoga Ibu kembali sehat dan Bapak sehat selalu. Semoga kita lekas bergerak. Meneladani sosok-sosok inspiratif sehingga mampu membahagiakan kedua orang tua, terlebih keluarga dan banyak orang---kata doa klise yang sebenarnya pengamalannya amat berat: berguna bagi bangsa dan agama. Semoga tidak pernah lelah untuk senantiasa melantunkan doa, agar tidak hanya bersama di dunia dalam iman dan ketaqwaan, melainkan berkumpul juga di akhirat dengan rahmat dalam keabadian. Aamiin.



وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)


#backtoquran #kisahibu #kasih ibu #love 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates