Ada yang bilang, tak elok bersyukur karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Ada baiknya bersyukur ya bersyukur saja, tidak perlu karena berasalan melihat hidup orang lain yang lebih berkekurangan, katanya. Apalagi, pada beberapa saluran media yang kadang hanya mengambil manisnya saja. Namun memang, saat kita melihat ke bawah, rasanya hati lebih mudah tersentuh, bersyukur, dan kaki lebih menapak ke tanah. Betul, ada benarnya juga bahwa pada akhirnya kita perlu memiliki poin syukur tanpa pernah menghinakan sisi lain, atau bahkan diri kita sendiri. Aku pun masih sangat belajar, karena kerap mengesampingkan omongan baik untuk diri sendiri hanya demi ‘merendah’ dengan cara yang salah. Padahal barangkali itu akan menjelma sebuah afirmasi yang kemudian hidup dalam alam bawah sadar. Lalu mengakar.
Walau sebetulnya aku tidak ingin memberikan penilaian mutlak tentang itu. Aku hanya ingin berbagi, betapa kemarin malam, sebelum tidur, aku di bayang-bayangi rasa syukur yang tiada berhenti. Sprei tempat ku berisitirahat baru saja dipasang, usai dicuci bersih di pagi hari. Rasanya adem, dan masih wangi. Pagi itu matahari begitu cerah, air juga melimpah. Untuk mendapatkannya, tak perlu menimba atau berjalan menyusuri bukit berkilo-kilo meter untuk mencapai sumbernya. Hanya perlu menekan tombol on, lalu air bersih akan mengucur dengan deras.
Malamnya, hujan turun begitu deras. Aku suka sekali hujan. Hujan yang damai. Tanpa petir dan angin kencang. Hehe. Terlebih jika aku telah berada di rumah, maka rasanya hujan benar-benar berkah yang tiada duanya. Saat hendak terlelap, hujan telah usai. Hawa dan bau tanah usai hujan betul-betul enak dihirup, menenangkan bukan main. Bukan hanya petani yang senang, aku juga sangat menyukai momen semacam itu. Apalagi ditambah mati lampu----dengan catatan sedang tidak ada tugas----aku sangat menyukai perpaduan yang demikian. Hujan dan gelap adalah saat yang nikmat untuk kembali merenungi hidup yang amat singkat. Sebab seolah kembali ke zaman dahulu kala, saat desa belum dialiri listrik. Aku sendiri belum ada di masa itu, namun pernah merasakan bagaimana pemadaman berbulan-bulan hingga perlu menenteng obor saat hendak kemana-mana.
Meski belum pernah berpengalaman menetap di kota-kota besar, namun hujan dan gelap itu membuat pikiranku bak lari dari hiruk pikuk duniawi. Layaknya menyelam ke dasar laut terdalam, ku temui ragam makhluk hidup yang aneh, yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Pikiranku lalu sesak dengan hal berbeda namun jauh ‘lebih menyenangkan’ agaknya. Atau kadang sebaliknya, momen serupa mengingatkanku pada hal bernama kematian. Gelap dan dingin, bayanganku terseret pada lubang kuburan yang sempit. Betul, lagi-lagi rasanya tidak baik berburuk sangka dengan ketetapan Allah saat kita diwafatkan kelak, namun seringkali kenyataan membawa kita pada pikiran demikian.
Baiklah, kembali kepada momen sebelum tidur yang membuat aku kembali bersyukur, tak hanya karena sprei, sinar matahari, air bersih dan hujan----hal kecil yang acapkali kita remehkan----namun nikmatnya iman dan taqwa yang masih bisa digenggam hingga sekarang adalah harta yang tidak terukur. Meski barangkali, kian kemari warnanya agaknya kian luntur. Namun paling tidak, kita sangatlah beruntung, hingga kini masih diberikan kesempatan menjadi empunya. Sebab tak semua orang menggenggamnya hingga akhir hayat. Iya, bukan kita yang mampu membolak-balikkan hati manusia, termasuk hati kita sendiri. Hal yang paling sering kita dengar, terdengar biasa, namun mengena saat kita coba memahaminya lebih dalam lagi. Karena pada akhirnya, nikmat iman yang membuat hidup terasa lebih gampang, lalu jiwa menjadi lebih tenang, hingga kita tidak menemukan alasan lain kecuali banyak-banyak bersyukur.