Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Ada yang bilang, tak elok bersyukur karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Ada baiknya bersyukur ya bersyukur saja, tidak perlu karena berasalan melihat hidup orang lain yang lebih berkekurangan, katanya. Apalagi, pada beberapa saluran media yang kadang hanya mengambil manisnya saja. Namun memang, saat kita melihat ke bawah, rasanya hati lebih mudah tersentuh, bersyukur, dan kaki lebih menapak ke tanah. Betul, ada benarnya juga bahwa pada akhirnya kita perlu memiliki poin syukur tanpa pernah menghinakan sisi lain, atau bahkan diri kita sendiri. Aku pun masih sangat belajar, karena kerap mengesampingkan omongan baik untuk diri sendiri hanya demi ‘merendah’ dengan cara yang salah. Padahal barangkali itu akan menjelma sebuah afirmasi yang kemudian hidup dalam alam bawah sadar. Lalu mengakar.

Walau sebetulnya aku tidak ingin memberikan penilaian mutlak tentang itu. Aku hanya ingin berbagi, betapa kemarin malam, sebelum tidur, aku di bayang-bayangi rasa syukur yang tiada berhenti. Sprei tempat ku berisitirahat baru saja dipasang, usai dicuci bersih di pagi hari. Rasanya adem, dan masih wangi. Pagi itu matahari begitu cerah, air juga melimpah. Untuk mendapatkannya, tak perlu menimba atau berjalan menyusuri bukit berkilo-kilo meter untuk mencapai sumbernya. Hanya perlu menekan tombol on, lalu air bersih akan mengucur dengan deras.

Malamnya, hujan turun begitu deras. Aku suka sekali hujan. Hujan yang damai. Tanpa petir dan angin kencang. Hehe. Terlebih jika aku telah berada di rumah, maka rasanya hujan benar-benar berkah yang tiada duanya. Saat hendak terlelap, hujan telah usai. Hawa dan bau tanah usai hujan betul-betul enak dihirup, menenangkan bukan main. Bukan hanya petani yang senang, aku juga sangat menyukai momen semacam itu. Apalagi ditambah mati lampu----dengan catatan sedang tidak ada tugas----aku sangat menyukai perpaduan yang demikian. Hujan dan gelap adalah saat yang nikmat untuk kembali merenungi hidup yang amat singkat. Sebab seolah kembali ke zaman dahulu kala, saat desa belum dialiri listrik. Aku sendiri belum ada di masa itu, namun pernah merasakan bagaimana pemadaman berbulan-bulan hingga perlu menenteng obor saat hendak kemana-mana.

Meski belum pernah berpengalaman menetap di kota-kota besar, namun hujan dan gelap itu membuat pikiranku bak lari dari hiruk pikuk duniawi. Layaknya menyelam ke dasar laut terdalam, ku temui ragam makhluk hidup yang aneh, yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Pikiranku lalu sesak dengan hal berbeda namun jauh ‘lebih menyenangkan’ agaknya. Atau kadang sebaliknya, momen serupa mengingatkanku pada hal bernama kematian. Gelap dan dingin, bayanganku terseret pada lubang kuburan yang sempit. Betul, lagi-lagi rasanya tidak baik berburuk sangka dengan ketetapan Allah saat kita diwafatkan kelak, namun seringkali kenyataan membawa kita pada pikiran demikian.

Baiklah, kembali kepada momen sebelum tidur yang membuat aku kembali bersyukur, tak hanya karena sprei, sinar matahari, air bersih dan hujan----hal kecil yang acapkali kita remehkan----namun nikmatnya iman dan taqwa yang masih bisa digenggam hingga sekarang adalah harta yang tidak terukur. Meski barangkali, kian kemari warnanya agaknya kian luntur. Namun paling tidak, kita sangatlah beruntung, hingga kini masih diberikan kesempatan menjadi empunya. Sebab tak semua orang menggenggamnya hingga akhir hayat. Iya, bukan kita yang mampu membolak-balikkan hati manusia, termasuk hati kita sendiri. Hal yang paling sering kita dengar, terdengar biasa, namun mengena saat kita coba memahaminya lebih dalam lagi. Karena pada akhirnya, nikmat iman yang membuat hidup terasa lebih gampang, lalu jiwa menjadi lebih tenang, hingga kita tidak menemukan alasan lain kecuali banyak-banyak bersyukur.

Saat pertama mendengar lagu Manusia Berisik dari Dere ini, aku langsung suka. Cepat-cepat ingatanku terseret pada ungkapan Umar bin Khattab yang kerap berseliweran, "Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. 

Hehehe, betul sekali. Kadang lebih baik diam, daripada membuang energi sia-sia. Berbicara yang sia-sia. Diam betul-betul bisa menjadi emas. Tapi tidak bisa dijual, hehe. Maksudku, ini tentu beda konteks-nya saat kemudian kita juga butuh speak up loh, ya.

Pernah tidak, saat kalian ada perkumpulan atau apapun namanya kemudian berbincang lama, biasanya perbincangan basa-basi, dan saat usai, pulang dan tiba di rumah, kalian lalu berpikir, "Harusnya tadi aku tidak bilang seperti itu, jangan-jangan ucapanku telah menyakiti hati orang." Dan beragam bentuk kalimat lain yang berkerumun dipikiran kalian.

Meski sebetulnya tidak semua akan mengalami itu. Bahkan ada yang bilang, orang mudah lupa, tidak usah khawatir dengan apa yang kita ucapkan. Namun ternyata benar, kadang memang lebih baik diam. Sebab apapun itu ucapan yang kita lontarkan akan dipertanggung jawabkan. 

Aarrgh, masih sangat belajar. Menjadi manusia yang tidak berisik secara negatif. Berusaha mengerem apa-apa yang barangkali tidak ada faedahnya. Beda jika kemudian bercanda, misalnya. Dalam taraf yang pas, dan korelasi yang tepat, bercanda adalah ibadah. Hihi, pakai bahasa apa sih aku ini. Ya ampun 😅

Judulnya bikin geleng-geleng kepala. Supaya seperti headline berita-berita, hehe. Padahal, ya hanya ingin bercerita. Tentang pengalamanku pagi itu. Kala mendapati sepasang suami istri yang dulunya sama-sama sehat. Tampan, gagah dan 'jelita' di usia mudanya.

Kini keduanya sudah menua. Suaminya sakit. Total tidak bisa bekerja. Memang sudah saatnya rehat. Sedang sang istri, meski tak sekuat dulu, masih bisa merawat sang suami dengan penuh cinta. Aku yang kala itu diminta ibu untuk sebuah keperluan ke kediaman beliau dibuat tertegun sejenak.

Aku lalu mulai berpikir. Betapa cepat waktu berlalu, betapa manusia bisa berubah, yang dulu sehat bisa sakit, yang dulu muda sekarang tua. Betapa---kata orang---rasa cinta juga bisa hilang. Tapi tidak dengan kasih sayang dan komitmen, katanya. Maka barangkali itu yang membuat manusia bisa berbuat baik terus, tanpa "tapi."

Berbuat baik pada anak, orang tua, suami, istri, saudara, dan lainnya. Meski aku mengerti, bahwa doanya pasti selalu sama: diberikan kesehatan sepanjang masa. Namun pada akhirnya momen itu membuat aku berpikir lagi. Bahwa, seperti apa orang yang kamu inginkan. Sungguh, kita tidak butuh yang palsu. Sebab di dunia tipu-tipu, selain Tuhan, keluarga adalah tempat untuk bertumpu.

Atau aku balik kalimatnya. Apakah kamu bisa menjadi orang yang tidak palsu? Menjadi sosok yang baik walau waktu terus berlalu. Sebab orang tidak butuh yang palsu. Ini yang kemudian mengingatkanmu juga, bahwa kerap kamu lupa: keluarga yang menerima kamu apa adanya. Maka selain bersyukur, banyak-banyaklah belajar darinya. Hmm.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates