Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Dulu aku selalu berpikir, bahwa sosial media adalah salah satu distraksi terbesar bagiku. Bagi orang yang masih amat sangat belajar untuk memanfaatkan waktu. Kalau kata orang jaman sekarang: produktif. Walau kadang kita juga harus mampu membedakan busy dan productive. Juga membedakan bermalas-malasan dan istirahat atau quality time bersama keluarga. Setelah mampu membedakan, bagian tersulit adalah pengaplikasiannya. Karena merupakan bentuk dari membangun habit. 

Apa jadinya kalau sudah kecanduan scrolling sosial media? Waktu akan cepat berlalu begitu saja. Lalu penyesalan memang selalu hadir di scene terakhir. Disusul ucapan Raditya Dika, yang menampar tiba-tiba: opportunity cost: 5 jam rebahan main hape = 5 jam belajar hal baru. Lalu jangan ditambahi: Lah, kan belajar hal baru bisa dari handphone? Maksud tersiratnya barangkali bukan begitu. Kata remaja jaman now: Ngga gitu konsepnya, Bambang 😅

Bukan hanya kalian, aku pun dulu sangat kecanduan sosial media. Sampai-sampai harus memaksa diri untuk off beberapa bulan, namun akhirnya kembali lagi. Tak hanya itu, aku juga mantan pecandu game saat SMP. Hehe. Pernah ku bercerita, jika dalam sehari aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain ragam game di komputer hasil keringat kakak-ku. Padahal, komputer itu sebetulnya menetap disitu agar adiknya bisa belajar desain, bahasa, dan hal lain yang lebih bermanfaat. Jadilah sampai sekarang aku belum bisa mengetik dengan teknik 10 jari. Hihi.

Kian kemari, aku tidak bilang jika game itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Mungkin ini hanya perihal tujuannya. Kalau hanya untuk hiburan, baiknya tidak terlalu berlebihan, penting dibatasi. Jika tujuannya profesionalitas, berarti memang perlu banyak latihan, cakupannya lebih luas lagi. Sebab aku pun tak mau bohong jika game juga mampu mengasah otak yang tumpul. Pada porsi yang pas.

Sama halnya kian kemari, aku juga menyadari jika kita pun pada beberapa hal, bisa memanfaatkan media sosial. Tentu dengan batasan-batasannya juga. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai personal branding. Aku ingat sekali betapa cukup kagetnya saat bertemu dengan kakak kelas sekitar tiga tahun lalu. Dalam obrolan beliau bertanya padaku: Lutfiyah masih aktif nulis, ya? Akupun hanya bisa menjawab ala kadarnya sembari berpikir: ternyata barangkali ini yang dimaksud personal branding. Apa deskripsi diri kita bagi orang lain yang dibentuk dari apa yang kita lakukan (dalam hal ini media sosial).

Memang, salah satu pengertian personal branding adalah bagaimana kita memperkenalkan diri di hadapan publik, intinya kita ingin dikenal sebagai apa. Nah, ini berarti ranahnya bisa masuk ke pencitraan dan sesuatu yang fake, dong? Sabar, tunggu dulu. Personal branding ini, sependek pemahamanku begitu luas ranahnya. Yang paling sering dibahas adalah keterkaitannya dengan bisnis, pemasaran, self development dan lain sebagainya. Namun barangkali yang ingin ku bahas kali ini adalah yang lebih personal, self development atau pengembangan diri.

Untuk itulah, dalam hal personal diri ternyata personal branding tidak = promosi, tidak = pamer, dan tidak = pencitraan. Personal tidak = kontroversi. Personal branding = menghasilkan karya. Personal branding = prestasi. Personal branding = melakukan atas dasar kemampuan dan atau proses mengasah kemampuan tersebut. Itulah kenapa Pandji Pragiwaksono bilang, "Lakukanlah personal branding melalui karya." Sebab bagi Dewa Eka Prayoga, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun personal branding kita. Dan hanya butuh waktu sepersekian detik untuk menjatuhkannnya. Salah satunya, karena ketidak-konsistenan, dan tidak menjadi diri sendiri.

Lantas, lebih spesifik lagi, bagaimana harusnya kita sebagai seorang muslimah membranding personal kita? Setidaknya ada tiga poin penting dari podcast Farah Qoonita: a. Moral/Akhlak: menjadi sosok yang penyayang dan ramah, manajemen waktu dan hidup, mempunyai rasa malu dan menjaga kehormatan. b. Skill/Kemampuan: ilmu pengetahuan dengan al-Qur'an sebagai teknologi tertinggi. Dan yang terakhir: c. Value/Nilai: mempunyai landasan dan alasan yang jelas dan tepat (untuk Allah): kenapa harus memiliki skill ini dan itu. Nah, kata Sherly Annavita, paling tidak ada dua hal dari pentingnya personal branding: a. membangun trust yang terkait dengan konsistensi, dan kedua: b. membuka pintu-pintu kesempatan.

Inilah yang akhirnya membawaku untuk memanfaatkan sosial media (salah satunya) dengan baik. Meski sangat kusadari masih terdapat banyak kekurangan. Walau sesederhana melatih public speaking, menulis juga barangkali berbisnis. Meski, lagi dan lagi, pada akhirnya jangan lupa pada personal branding di dunia nyata juga, bukan hanya di dunia maya. Harusnya, apa-apa yang dibagikan di dunia maya---yang tidak mencerminkan diri kita 100%---itu bisa menjadi refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin. Lalu, jangan sombong, semua itu, termasuk potensi hanyalah titipan belaka.
Saat masih kecil, cita-citaku banyak sekali. Semua yang umum disebut akan ku sebut, kecuali dokter, bidan dan perawat. Aku tidak berani, hehe. Juga guru. Memang, aku pernah bilang jika ingin menjadi guru bahasa Inggris. Tidak ingat kapan tepatnya aku mengungkapkannya. Apakah saat SD atau SMP, atau lebih tepatnya MTs. Yang jelas, aku tidak pernah sampai 50% menginginkannya. Sedang berbicara demikian mungkin hanya karena aku selalu ingin menjadi seperti kakakku, aku yang suka bahasa Inggris dan kakakku yang seorang guru bahasa Inggris. Iya, beliau selalu menjadi role model utama dalam hidupku, setelah Rasulullah tentunya.

Kenapa aku tidak pernah menyebut profesi guru menjadi cita-cita? Salah satu alasan utama yang masih sangat ku ingat adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan guru di Indonesia kecil. Hehe, banyak yang bilang, disini guru kurang "dihargai". Walau tak terjadi disemua daerah. Namun hal-hal semacam itu sudah menjadi buah bibir yang sayangnya masih melekat. Lalu aku ternyata dari kecil sudah realistis dengan hal itu. Alasan lain adalah, bagiku, sosok guru itu haruslah sosok yang luar biasa, bukan orang "sembarangan". Sebab ia tak hanya mengajar, namun mendidik, mengayomi, menuntun, menjadi teman dan seterusnya. Dan aku sepertinya tidak bisa.

Bagiku, guru haruslah pribadi yang super pintar, cerdas, berwawasan luas. Apalah aku yang hanya butiran debu. Sedangkan guru juga haruslah arif dan bijaksana, open minded, tidak mudah menghakimi, bisa melihat dari ragam sudut pandang, mampu menghubungkan sesuatu dengan banyak hal, ibadahnya harus top, dan lainnya. Namun dewasa ini ku pahami, ternyata menjadi guru tidak harus sesempurna itu. Maksudku, karakter-karakter itu memang sebuah keharusan, namun ada satu yang benar-benar perlu dimiliki seorang guru (setidaknya ini opiniku) yakni selalu mau belajar. Belajar hal baru. Belajar dari siapapun. Belajar dari apapun. Sebab menjadi guru bukan berarti selalu benar, selalu ingin terlihat benar, tak ingin dikoreksi, tak ingin salah dan terlihat salah.

Justru "salah" adalah pelajaran bahwa ia adalah manusia normal. Manusia yang selalu mau belajar. Manusia yang selalu mau mengoreksi dirinya. Manusia yang selalu mau memperbaiki kesalahannya. Manusia yang mau mendengar aspirasi dan masukan. Sebab guru bukan melulu tentang apa yang diajarkan, namun apa yang dicontohkan. Ia adalah tauladan. Aaaarrrgh, berat sekali bukan! Entah kenapa tugas guru menjadi sangat berat seperti itu. Pun tulisan ini juga terkesan berat dan begitu mencekik. Tulisan yang sejatinya ingin ku buat seminggu lalu, namun selalu ku tunda karena entah akan menjadi apa tulisan ini. Hehe. Setidaknya berat bagiku yang ingin menjadi guru ini. Benar sekali, di masa depan nanti aku ingin sekali (tetap) menjadi seorang guru.

____________


Boleh dibilang pengalaman pertamaku mengajar adalah saat masih berkuliah adalah mengajar anak-anak SD di kursusan gratis yang dibuat oleh kakakku. Awalnya aku mengajar dengan takut-takut, namun ku jalani saja sebab aku pun ingin belajar. Lalu saat berkuliah aku membantu mengajar dengan menjadi asisten praktikum. Lagi-lagi awalnya ku lakukan dengan takut-takut namun dengan keinginan besar untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Di Pare aku diberi kesempatan menjadi tutor dengan sistem yang bagiku sangat mengesankan. Tutor dan anggota (murid) benar-benar serupa berteman, memang ada plus minus, namun itu hanya salah satu contohnya. Sedang saat menjadi asisten dosen, aku seringkali di doakan menjadi dosen oleh beliau. Atau pada akhirnya sama saja: menjadi seorang guru.

Hingga aku kemudian selesai belajar (menjadi asisten dosen beliau selama dua tahun). Selama itu pula aku belum terketuk untuk menentukan ingin menjadi apa aku. Padahal beliau seringkali mendoakanku. Sangat sering. Bahkan selalu. Beliau selalu berpesan, bahwa passion itu bisa dibangun. Maksudnya, aku memang tidak pernah ingin 100% menjadi guru atau dosen, namun keinginan dan minat itu bisa dibangun. Sampai akhirnya aku lalu bergabung di tempat kursus. Inilah awal mula ku temukan puncak cahaya itu. Walau tak bisa ku bilang jalan hidup akan selalu mudah. Namun harus ku akui, bahwa dengan mengajar aku benar-benar menjadi lebih hidup. Aku seperti menemukan apa yang aku cari. Aku menemukan diriku. Aku menemukan impianku. Aku menemukan tujuanku. Aku ingin terus (belajar) menjadi guru. Aku suka (belajar) menjadi guru. Meski pada akhirnya, di kesibukan yang ku jalani sekarang, aku selalu bilang bahwa aku bukanlah seorang guru. Aku hanyalah teman "belajar" yang berkedok tutor. 

Ada banyak hal yang membuatku kemudian memilih, memutuskan dan mendoakan diriku untuk tetap dan akan menjadi "guru" di masa depan (walau aku tidak bisa menyalahi takdir yang sudah digariskan Tuhan kelak. Siapa tahu aku akan menjadi guru sekaligus pengusaha, hehe). Betul, aku jadi belajar banyak hal. Tak hanya mereka, aku juga mendapatkan banyak ilmu baru. Dengan menjadi guru, aku tidak hanya meng-upgrade diri dari segi ilmu, namun juga bagaimana bersikap atau berperilaku: bagaimana menghargai orang lain, toleran terhadap perbedaan, tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakini, belajar memelihara open minded yang tepat dan lebih memiliki keterbukaan terhadap ilmu, yang pada pengaplikasiannya berubah begitu cepat. Aku tidak bilang jika hal-hal semacam itu tidak bisa didapatkan lewat profesi lainnya. Namun melalui profesi "guru" semuanya akan terasa begitu berbeda.

Dulu saat menjadi asisten dosen beliau, aku selalu bertanya dalam hati: kenapa beliau begitu peduli dengan mahasiswanya, seperti anak sendiri. Sampai-sampai tidak nyenyak tidur adalah hal kecil yang menjadi efeknya. Benar-benar mahasiswa menjadi prioritas utama. Meski sesekali mengerti, namun sebetulnya aku tidak pernah totally mengerti sebab aku tidak pernah di posisi beliau. Namun akhir-akhir ini aku jadi mengerti, meski tak sepenuhnya sama, aku juga merasakannya. Aku merasakan, bahwa mereka bukanlah hanya sekedar tanggung jawab, namun juga keluarga yang perlu didukung kesuksesannya.

Walau aku juga perlu belajar berdamai dan mengingat pesan alm. KH. Maimoen Zubair, dawuh beliau: "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang, Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah." Pesan yang amat menggugah dan menggetarkan.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates