Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Dulu, kelas X MA alias SMA, aku ingin sekali kuliah. Beberapa orang bilang padaku, "Ga bakal bisa. Ga ada uang." Tapi saat itu aku yakin, jika Allah Maha Kaya. Allah yang bayarin.. Allah yang bayarin..

Sekarang, di penghujung semester 7, masih dengan satu mozaik mimpi yang sama, ingin sekali sekolah di luar negeri. Beberapa kalimat muncul dalam benak, "Prestasi nihil, belum lulus TOEFL, ga punya duit buat tes IELTS, dsbgnya." Tapi aku yakin, Allah bakal menggenggam mimpi kita. Allah yang tunjukin... Allah yang tunjukin...

Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena hari ini ga punya uang buat makan. Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena sampai hari ini belum sempro. Kita ga bakal berhenti bermimpi hanya karena belum pernah jadi juara lomba. Just because we are nothing, doesn't mean we will stop dreaming. Keep trying and believing. Because Allah has everything. And He will guide us to be something.

Semoga Allah mengampuni setiap kesalahan. Dan belajar dadakan kala ujian adalah satu dari banyak kesalahan yang seringkali aku lakukan dalam hidup. Menyusul kesalahan lain; buang-buang waktu dll. Semoga Allah tunjukkan jalan dan memudahkan lisan kita untuk memohon ampunan, serta meringankan langkah kita agar tidak mengulangi setiap kesalahan.

Aku dulu juga begitu. Ada masa dimana aku malas sekali pergi sekolah. Entah, malas sekali rasanya. Mungkin karena nilai juga pas-pasan, sering dibully orang yang sama, atau memang karena malas saja.

Jadi begini, aku duduk di bangku pertama SD pada usia 6 tahun. Karena sakit, beberapa hari aku absen di kelas. Sampai seminggu, sebulan dan seterusnya meski aku sudah lama sembuh. Pagi itu, aku diberi tahu teman, jika namaku sudah dicoret dari absensi. Aku pun bilang, "Ya sudah coret saja."
Beruntungnya aku punya Ibu yang benar-benar pengertian, tidak mau memaksakan kehendak. Katanya dengan sabar, "Kalau memang belum mau sekolah lagi, ya sudah masuk tahun depan saja."

Anak kecil tidak butuh paksaan, tapi kasih sayang dan sentuhan pelan-pelan. Aku bersyukur mendapat itu dari Ibuku. Anak kecil juga tidak perlu dibentak dan dikatai kasar. Itu justeru makin membuatnya tidak memiliki siapapun untuk berteduh. Aku pun bersyukur, Ibu selalu memayungiku dengan perkataan baik.

Jangankan anak kecil. Hingga kini pun aku masih amat membenci perkataan-perkataan kasar dan hardikan.

Bukan perkara mudah untuk membiarkan anak memilih apa yang ia mau, yakni tidak bersekolah. Tapi Ibu melakukannya untukku. Ia rela. Ia tidak khawatir akan jadi apa aku nanti. _Que sera sera._ Ia dengan sabar mengikuti jalanku. Sesekali ia memintaku belajar sendiri. Aku akhirnya setiap hari belajar membaca dan menulis dari sebuah acara di kotak televisi.

Tahun berikutnya. Pagi. Dingin. Menusuk tulang. Aku dibangunkan Ibu untuk mandi. Kemudian Ibu memakaikanku seragam merah putih. Aku ingat sekali saat itu. Entah dari mana semangat tiba-tiba meluap-luap dalam diriku. Barangkali dari benih kesabaran yang selama ini Ibuku tabur.

Aku berangkat sekolah tanpa ada paksaan. Bahkan meski seseorang yang membully itu masih ada dan masih membullyku aku tidak peduli! Setiap malam aku belajar tanpa disuruh. Tidak merasa terbebani. Apalagi pelajaran membaca, menulis dan menggambar. Jika sudah sampai di pelajaran menghitung, secara alamiah aku akan mengerutkan kening.

Mengingat hampir semua saudaraku mendapat peringkat satu, Ibu tidak mempermasalahkan peringkatku yang bernominal belasan. Barangkali, kata Ibu, semua insan selalu dikaruniai dengan kelebihan dan kekurangan yang acap kali berbeda-beda. Ibu memang tidak pernah mengungkapkan itu padaku. Tapi aku memahaminya. Pun sebenarnya, apa tujuan kita untuk bersekolah? Untuk menghilangkan kebodohan? Untuk mengoleksi banyak tropi? Untuk meraih juara kelas? Untuk mendapat nilai-nilai bagus? Untuk menerima banyak pujian?

Aduhai, apalah arti tropi, juara dan pujian jika pada hakikatnya kebahagiaan tidak kita dapatkan dari situ. Melainkan kasih sayang Allah yang Dia titipkan pada ibu kita, ayah kita, nenek kita, saudara kita, keluarga kita, dsbgnya. Apalagi kalau kompilasi dari keduanya; kasih sayang dan prestasi. Prestasi dalam arti luas. WOW!

Lihatlah, Ilul (nama panggilan) telah beranjak dari tempat tidurnya. Akhirnya mau bersekolah setelah dibujuk pelan-pelan. Aku percaya, kejadian traumatis dan lain sebagainya itulah yang membuat Ia agak bebal jika diberitahu. Maka sebenarnya Ia hanya butuh kasih sayang, bukan hardikan atau cacian.
Ah, lagakku pagi ini sudah seperti Emak-emak kepagian. 

Beberapa bulan yang lalu gue berusaha sungguh-sungguh supaya ga terlalu kecanduan sosmed (FB, IG, dll) dan menurut gue berhasil. Salah satu triknya adalah ga terlalu banyak beli paketan data sama nguatin tekad. Soalnya gue tipikal orang yang mudah kecanduan hal yang berbau teknologi. Pas SMP, maksud gue pas MTs, gue kecanduan dengerin lagu barat, nonton film sampe larut, maen banyak game, dll. Gue akhirnya mikir, emang sih ada manfaat meski secuil, tapi kapan gue mau ngelakuin hal yang manfaatnya jelas-jelas lebih besar?
Pun sama sosmed-sosmed itu.

Nah, mulai beberapa minggu lalu gue ngelakuin pengamatan mini. Pemaparan yang gue dapetin adalah sosmed sudah menjadi makanan wajib di era digital seperti sekarang.
Para pebisnis, penulis dll harus sedia aktif di sosmed. Beberapa penerbit bahkan mempertimbangkan jumlah followers penulis sebagai penentu keputusan untuk menerbitkan bukunya. Maka selebgram akan mudah dilirik karya tulisnya. Lebih-lebih memang inspiratif. Pun pebisnis. Mereka juga perlu aktif di sosmed, follower kadang kala menjadi acuan pasar yang akan membeli produk atau meski hanya sekedar membantu membagikan info produk.
Dari pengamatan yang gue lakuin, kegiatan di sosmed memang kudu dilakuin (mulai dari update status remeh, berat, promo jualan, promo buku, dll). Seolah sudah menjadi kebutuhan, biar tidak tergerus zaman.

Dari situ gue jadi paham, bahwa sosmed tidak selalu berimage buruk. Disana kita bisa jualan, menebar kebaikan, dll dengan porsi yang pas. Tapi tetap, tidak ada yang lebih mendamaikan serupa isi al-Qur'an. Demi Allah, Tuhan yang jiwa gue ada dalam genggaman-Nya, al-Qur'an adalah pedoman yang tak lekang oleh zaman.

Gue jadi salut banget, sama pebisnis, penulis, yang benar-benar tulus berbagi kebaikan. Misalnya, Darwis Tere Liye. Beliau tidak mau memajang selembar fotopun di karya-karyanya. Ini bukan berarti yang menampilkan foto dan identitas tidak tulus. Tidak, sungguh tidak seperti itu. Gue cuma salut, beliau tidak perlu membuat status alay seperti gue. Hehe. Dengan sedikit memahami bahwa sosmed penting untuk beberapa hal, gue jadi tergoda lagi buat kembali aktif di sosmed. Entah seperti apa polanya. Sebab di saat yang sama gue juga sedikit memahami bahwa al-Qur'an juga tiada duanya.


Mbak Ais. Dia kakak perempuan yang begitu luar biasa di mata kanak-kanakku puluhan tahun silam. Kami seperti bumi dan langit. Dia multitalent. Sejak kecil sering didelegasikan ikut lomba. Sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bagiku megagumkan saja melihatnya mendapat banyak hadiah dari guru-guru kala mampu menyabet juara. Di madrasah juga demikian. Saat lomba setahuku dia yang pertama berpidato dan membikin penonton tidak mengantuk. Akhirnya, caranya berpidato menjadil viral, meski saat itu istilah itu belum gandrung. Di mataku, dulu Mbak Ais tidak mudah marah. Itulah mengapa kami jarang bertengkar.

Mbak Ais bagiku makin terlihat luar biasa, ketika lulus SMA diberi pilihan; mengabdi atau menghafal al-Qur'an. Dan dia memilih pilihan kedua. Allah, semoga engkau membimbingnya untuk menjaga hafalannya, juga ia bisa diberi daya agar mampu meneruskan. Aamiin.
Tapi yang lebih membuat ia terlihat sangat luar biasa di mataku adalah saat ia membelaku waktu kecil dulu. Aku yang biasa diganggu Mashudi (kini berteman baik) setiap hari membuatnya geram seketika waktu. Bagaimana tidak, Udi (panggilan akrabnya. Benci aja masih punya panggilan akrab😂) seakan tidak kehabisan ide untuk menggangguku. Saban hari tiada hari tanpa menggangguku. Mencoret bukuku, dsbgnya. Aku lebih sering tidak meladeni, tapi juga lebih sering menangis (dulu aku bukan kriteria orang yang pemberani. Sekarang? Masih😂 Ngga napa😏 Ngga salah😂). Lalu suatu ketika di puncak kegeramannya, saat aku dan Mbak Ais hendak pulang dari sekolah SD (seingatku aku masih duduk di kelas 2) ada Udi yang lagi-lagi menggangguku dengan ocehannya. Mbak Ais sudah sering mendengar aku diganggu makhluk yang satu itu. Haha. Akhirnya kali ini Mbak Ais naik pitam. Ia pun menghampiri Udi dan menarik kerah bajunya kemudian berteriak keras ke mukanya persis di teve-teve, "JANGAN GANGGU ADIKKU LAGI!!!"
Kejadian itu sungguh membuat aku terpana.

Karena ingin sekali merasakan bangku kuliah, dia dengan semangat kuliah sambil bekerja. Kenapa tidak kuliah sambil berjualan saja? Barangkali sekarang dia sudah punya banyak outlet! Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, hah? Hehe.

Kalau aku nonton teve dengan Mbak Ais, sepertinya justeru tevenya yang akan balik menyaksikan kami mengisi suara pemain yang padahal sudah ada suaranya. Kami seolah menjadi dubber tak diundang. Mbak Ais selalu pandai memilik kata-kata yang membuatku mudah ngakak. Ups.

Aku seringkali meminta diajari ini itu padanya, namun seringkali dia menjawab, "Aku ngga bisa." Pikirku, itu mungkin caranya untuk merendah (Tapi ya ga gitu-gitu juga kale😴) .

Yang paling menyebalkan adalah saat dia bilang "Kamu berbeda," dengan nada khas darinya. Menurutnya, dia sering mengatakan begitu karena aku seringkali berbeda di rumah. Kala yang lain makan malam bersama melingkar di tengah teras, aku justeru makan cemilan di pinggir teras, dan beragam perilaku lain yang menurutnya berbeda dan bisa memancingnya untuk berkata begitu. Alhasil, besok harinya aku tidak ingin berbeda, aku juga ikut makan bersama. Namun yang kudapati adalah ungkapan yang sama dari nya. Serba salah, kan?

Saat aku tengah mengetik, dia akan bilang "Kamu punya dunia sendiri, ya. Enak. Diem." Lah, memangnya aku harus ngetik sambil joget? Hadeeee.

Kalau dia bertingkah seperti anak kecil, aku menjulukinya serupa dengan iklan yang lagunya, "Dodo.. dodo.. Ku hanya mau dodo.. Ku suka dodo.."
Hahaha, maaf ya, aku ulangi deh.

Hmm, banyak sekali kenangan bersama Mbak Ais. Esok, 31 Des 17, InsyaAllah dia akan memulai hidup yang baru. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu. Tetap menjadi partner 'gila'ku ya😭😘

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates