Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Kompleksnya kehidupan tentu membuat kita tidak terlepas dari dihadapkan dengan beragam kejadian. Dengan begitu, lautan informasi juga tidak bisa dibendung lagi alirannya dalam otak.Tak jarang ini yang kemudian menstimulus kita untuk banyak berkomentar akan hidup kita, bahkan tidak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang lebih condong untuk sibuk dengan mengomentari hidup orang lain. Cara-cara yang ditampilkan macam-macam; baik secara halus, atau blak blak-an. Dan mendikotomikan dua cara itu demi mendefinisikan ketulusan seseorang tidak melulu menghadirkan hasil yang saklek. Sebab seringkali kita dapati komentar yang hanya ditujukan untuk menjatuhkan yang dianggap lawan, bukan memberi saran untuk menyadarkan, guna perubahan. Celakanya lagi kalau kita sampai terjerumus ke lembah niat yang sama sekali tidak dibenarkan. Kenapa celaka? Karena menumbuhkan kebencian, merasa paling benar, dan selalu merasa bebas dari segala bentuk kesalahan adalah beberapa penggalan alasan yang bisa membuat celaka membersamai kini atau kelak, baik bagi yang berkomentar maupun yang dikomentari. Fatal nian.

Di lain segi, acapkali bentuk blak-blakan lantas membawa kita pada pemahaman bahwa barangkali memang benar, seseorang tengah ingin membangunkan untuk perubahan yang lebik baik. Ini terjadi di berbagai lini kehidupan. Bisa berupa ucapan, tulisan, atau bentuk lain yang kian kekinian dan lebih mudah dan cepat diserap secara masif. Yang demikian itu akan afdol rasanya jika disandingkan dengan tindakan. Pada akhirnya semua akan menjadi bakal catatan yang dikenang. Menjadi sesuatu yang mungkin bisa terus kita ingat, baca, telaah, pelajari dan nikmati dari zaman ke zaman. Tidak bisa dipungkiri, apabila kita mau berpikir, dari sana akan ada banyak pelajaran yang bisa dikuliti. Harapannya bisa menggerakkan hati dan raga untuk meng-upgrade kualitas diri.

Sama halnya seperti kehidupan, manusia juga begitu kompleks. Hal tersebut salah satunya bisa diamati dengan aneka karakter yang menetap pada tiap-tiap mereka. Tidak ada yang menjamin karakter-karakter itu akan tetap menempel, tidak merubah atau menghilang. Karena mereka bisa berubah ke arah yang lebih baik, atau menghilang dan berganti dengan yang buruk, misalnya. Salah satu bagian yang merubah karakter adalah berubahnya prinsip yang biasanya dibawa oleh pemahaman baru. Ini bukan berarti tidak konsisten dengan prinsip yang dipilih di masa lalu. Karena bagaimana mungkin menyangkal untuk mencipta perubahan dengan adanya pemahaman yang lebih baik?

Dengan begitu, penting untuk banyak berkaca diri. Selain dari orang-orang berilmu nan tawaddu', kisah tokoh-tokoh 'besar' dalam sejarah, dan lain sebagainya-----tidak ada salahnya juga membuka kembali catatan dimasa lalu, apa-apa yang kita perbuat sebelumnya yang mungkin saja menjadi sejarah pribadi yang menguatkan untuk menapaki jalan kehidupan yang masih berlanjut. Dari situ tidak luput ibrah untuk bahan evaluasi diri jika kita mau mengamatinya satu demi satu. Kita kemudian bisa menyimpulkan, apakah kita menjadi orang berkarakter dengan jalan hidup yang jauh lebih baik, stuck atau justru merosot.

Bahasa-bahasa kasar yang mungkin pernah kita lontarkan dengan lisan atau jemari tangan bisa menjadi sebuah pelajaran ke depan. Kritik-kritik menukik juga bisa menjelma materi untuk banyak berkaca diri, kemudian mempertanyakan apa kontribusi yang sudah diberikan. Dan berbagai tindakan lain. Karena ini perihal semua aspek kehidupan. Membersamai dengan statement itu, tidak berarti menjadi haram berpikir kritis, lalu mengkritik dan memberi saran. Sebab sudah ditegaskan oleh-Nya bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan dengan cara-cara yang tepat dan baik pula. Memperbanyak berkaca diri tidak lalu menghentikan kita untuk tidak berusaha menjadi salah seorang dalam golongan tersebut. Justru dengan begitu, kita akan jauh berpikiran lebih luas dan terbuka.
Seperti yang sudah disampaikan, tidak ada jaminan kita akan wafat dengan karakter yang melekat kini kecuali atas kehendak Allah Swt. Untuk itu, selagi berkesempatan, berkaca diri penting dilakukan supaya terus memelihara niat, menjaga ketulusan dan menetapkan diri di paham berorientasi kebaikan.

---------

Catatan: Tergerak menulis ini setelah mendapati banyak sekali kelakuan, baik itu ucapan, tulisan atau tindakan di masa lalu yang barangkali sarat akan kenarsisan, kesombongan atau niat yang berbelok liar tak karuan. Permohonan maaf untuk siapapun yang merasa pernah tersakiti dan mendapat dampak dari berlapisnya kekhilafan. Semoga diampuni dan bisa menjadi insan yang lebih baik (dibukakan tabir pemahaman dari banyak sisi, dikaruniakan ilmu manfaat yang mumpuni dan dijadikan insan berarti. Tapi yang paling utama dan didambakan setiap pribadi adalah diridloi Illahi Rabbi).


Dulu kita adalah pribadi yang peduli. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang amat tangguh. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang penuh semangat. Sekarang kenapa begini?

Dulu kita adalah pribadi yang terus berpikir positif. Sekarang kenapa begini?

Dan seterusnya.

Mungkin pertanyaan demikian pernah hinggap di dalam pikiran hampir semua dari kita. Saat kemudian karakter-karakter baik dalam diri seringkali terasa kian surut. Seolah kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Yang dulunya kita adalah orang yang begitu rajin. Sekarang terasa sekali jika kita pemalas dan lebih sering bermalas-malasan. Kenapa bisa begitu?

Sejatinya dalam hati manusia sudah tertanam sifat baik sejak ia diciptakan. Sehingga kebaikan-kebaikan yang tercermin dari karakter mereka adalah fitrah. Itu sudah pemberian dari Yang Maha Kuasa dan tidak bisa diingkari. Dalam banyak kesempatan kita sering mendengar istilah nurani. Kita pada hakikatnya tidak akan pernah bisa membohongi hati nurani kita. Kecuali jika kita selalu berusaha mengabaikannya, hingga akhirnya kita terbiasa untuk tidak mendengarkannya barang sedetikpun.

Sama halnya dengan karakter baik yang sebenarnya sudah menjadi jati diri setiap manusia. Oleh karenanya, jangan sampai melupakan jati diri. Bukankah pasang surut itu benar adanya. Hanya saja selalu ingatkan diri, bahwa menjadi pribadi yang baik dengan kapasitas dan kualitas yang diperhitungkan adalah hak setiap orang. Jemput lagi, kejar lagi jika memang jati diri itu mulai menjauh. Karena kita hanya tinggal mendekat dan meminta pada Yang Maha Memiliki segala.

Sekalipun dulu kita belum sempat menjalankan karakter baik itu di masa lalu, tetaplah meminta agar mudah mengaplikasikannya di masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Karena selama napas masih berhembus, sebagai manusia kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates