Kompleksnya kehidupan tentu membuat kita tidak terlepas dari dihadapkan dengan beragam kejadian. Dengan begitu, lautan informasi juga tidak bisa dibendung lagi alirannya dalam otak.Tak jarang ini yang kemudian menstimulus kita untuk banyak berkomentar akan hidup kita, bahkan tidak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang lebih condong untuk sibuk dengan mengomentari hidup orang lain. Cara-cara yang ditampilkan macam-macam; baik secara halus, atau blak blak-an. Dan mendikotomikan dua cara itu demi mendefinisikan ketulusan seseorang tidak melulu menghadirkan hasil yang saklek. Sebab seringkali kita dapati komentar yang hanya ditujukan untuk menjatuhkan yang dianggap lawan, bukan memberi saran untuk menyadarkan, guna perubahan. Celakanya lagi kalau kita sampai terjerumus ke lembah niat yang sama sekali tidak dibenarkan. Kenapa celaka? Karena menumbuhkan kebencian, merasa paling benar, dan selalu merasa bebas dari segala bentuk kesalahan adalah beberapa penggalan alasan yang bisa membuat celaka membersamai kini atau kelak, baik bagi yang berkomentar maupun yang dikomentari. Fatal nian.
Di lain segi, acapkali bentuk blak-blakan lantas membawa kita pada pemahaman bahwa barangkali memang benar, seseorang tengah ingin membangunkan untuk perubahan yang lebik baik. Ini terjadi di berbagai lini kehidupan. Bisa berupa ucapan, tulisan, atau bentuk lain yang kian kekinian dan lebih mudah dan cepat diserap secara masif. Yang demikian itu akan afdol rasanya jika disandingkan dengan tindakan. Pada akhirnya semua akan menjadi bakal catatan yang dikenang. Menjadi sesuatu yang mungkin bisa terus kita ingat, baca, telaah, pelajari dan nikmati dari zaman ke zaman. Tidak bisa dipungkiri, apabila kita mau berpikir, dari sana akan ada banyak pelajaran yang bisa dikuliti. Harapannya bisa menggerakkan hati dan raga untuk meng-upgrade kualitas diri.
Sama halnya seperti kehidupan, manusia juga begitu kompleks. Hal tersebut salah satunya bisa diamati dengan aneka karakter yang menetap pada tiap-tiap mereka. Tidak ada yang menjamin karakter-karakter itu akan tetap menempel, tidak merubah atau menghilang. Karena mereka bisa berubah ke arah yang lebih baik, atau menghilang dan berganti dengan yang buruk, misalnya. Salah satu bagian yang merubah karakter adalah berubahnya prinsip yang biasanya dibawa oleh pemahaman baru. Ini bukan berarti tidak konsisten dengan prinsip yang dipilih di masa lalu. Karena bagaimana mungkin menyangkal untuk mencipta perubahan dengan adanya pemahaman yang lebih baik?
Dengan begitu, penting untuk banyak berkaca diri. Selain dari orang-orang berilmu nan tawaddu', kisah tokoh-tokoh 'besar' dalam sejarah, dan lain sebagainya-----tidak ada salahnya juga membuka kembali catatan dimasa lalu, apa-apa yang kita perbuat sebelumnya yang mungkin saja menjadi sejarah pribadi yang menguatkan untuk menapaki jalan kehidupan yang masih berlanjut. Dari situ tidak luput ibrah untuk bahan evaluasi diri jika kita mau mengamatinya satu demi satu. Kita kemudian bisa menyimpulkan, apakah kita menjadi orang berkarakter dengan jalan hidup yang jauh lebih baik, stuck atau justru merosot.
Bahasa-bahasa kasar yang mungkin pernah kita lontarkan dengan lisan atau jemari tangan bisa menjadi sebuah pelajaran ke depan. Kritik-kritik menukik juga bisa menjelma materi untuk banyak berkaca diri, kemudian mempertanyakan apa kontribusi yang sudah diberikan. Dan berbagai tindakan lain. Karena ini perihal semua aspek kehidupan. Membersamai dengan statement itu, tidak berarti menjadi haram berpikir kritis, lalu mengkritik dan memberi saran. Sebab sudah ditegaskan oleh-Nya bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling nasihat menasihati dalam kebaikan dengan cara-cara yang tepat dan baik pula. Memperbanyak berkaca diri tidak lalu menghentikan kita untuk tidak berusaha menjadi salah seorang dalam golongan tersebut. Justru dengan begitu, kita akan jauh berpikiran lebih luas dan terbuka.
Seperti yang sudah disampaikan, tidak ada jaminan kita akan wafat dengan karakter yang melekat kini kecuali atas kehendak Allah Swt. Untuk itu, selagi berkesempatan, berkaca diri penting dilakukan supaya terus memelihara niat, menjaga ketulusan dan menetapkan diri di paham berorientasi kebaikan.
---------
Catatan: Tergerak menulis ini setelah mendapati banyak sekali kelakuan, baik itu ucapan, tulisan atau tindakan di masa lalu yang barangkali sarat akan kenarsisan, kesombongan atau niat yang berbelok liar tak karuan. Permohonan maaf untuk siapapun yang merasa pernah tersakiti dan mendapat dampak dari berlapisnya kekhilafan. Semoga diampuni dan bisa menjadi insan yang lebih baik (dibukakan tabir pemahaman dari banyak sisi, dikaruniakan ilmu manfaat yang mumpuni dan dijadikan insan berarti. Tapi yang paling utama dan didambakan setiap pribadi adalah diridloi Illahi Rabbi).