Aku tersenyum masam, melihat diriku yang barangkali kerap menulis tentang bagaimana berkontribusi, fokus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan atau merajut taqwa dalam setiap perjalanan yang berliku.
Manisnya, itu adalah sebuah doa, yang sungguh tidak bisa diremehkan keberadaanya. Namun pahit rasanya kala hati kerap menuntut adanya aksi. Agar tak terdengar seperti tong kosong yang cempreng berbunyi.
________
Saat aku mungkin sering hanya menuliskan apa-apa yang ingin aku semogakan, maka aku kemudian merasa amat beruntung belajar dari tulisan yang hidup. Yang telah separuh abad tertempa dengan begitu elok.
Memang, "tulisan yang hidup" itu sudah terbiasa meng-handle banyak pekerjaan. Beliau memulai aktivitas dengan bersiap menunaikan tahajud sebelum melakukan aktivitas lain sejak dini hari di usia yang begitu muda. Usai mendirikan sholat malam, ia langsung bergegas menyelesaikan rendaman cucian untuk satu keluarga yang bisa berember-ember besar jumlahnya.
Setelah itu, menpersiapkan sarapan untuk adik-adiknya adalah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan. Jangan bilang jika sosok yang rendah hati itu tak disibukkan dengan tugas sekolah, karena bahkan sering ia menjadi delegasi lomba yang harusnya menyita waktu sebagai masa persiapan.
Apa yang tertanam di pola pikirnya sejak kecil adalah bahwa hidup prihatin dan disiplin adalah ciri-ciri orang sukses di masa depan. Itulah yang membuat semua dilakukannya dengan senang hati. Selain itu, baginya belajar mengerjakan banyak hal sedari kecil akan menguntungkannya sendiri, bukan orang lain.
Mindset yang luar biasa saat mungkin kita kerap menganggap sebuah tempaan sebagai beban, bukan malah berpikir bahwa potensi merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Maka tak heran bila hingga berkuliah, wanita yang terbiasa mendapat juara kelas itu selalu ingin belajar hidup prihatin, disiplin dan berusaha mencari tambahan penghasilan. "Kost-kostan super jelek menjadi saksi bisunya menggurah ilmu", kenangnya saat bercerita sembari meneguk segelas infused water lemon yang masih berembun.
_________
Pengimplementasian yang juga sering aku semogakan lewat tulisan sudah terbiasa dilakukannya sejak masih berstatus sebagai pelajar. Seolah semua ilmu yang dimiliki, berapapun besarnya, tak boleh ia nikmati seorang diri. Sebab saat dibagi, jumlahnya malah tak terbatas dan kian rekat. Seperti mengajari anak-anak yang kurang mampu untuk mengaji, berhitung, menari bahkan belajar bahasa Inggris-pun menjadi makanan sehari-hari. Adalah hal yang menyenangkan mengumpulkan alat tulis tak terpakai untuk menyokong KBM yang dirintisnya seorang diri.
Kini beliau hanya bisa mengucap syukur. Karena sekarang semua ilmu itu benar-benar dibutuhkan. Bagaimana mengatur ini dan itu dan tak pernah menuhankan materi melainkan selalu dan selalu memprioritaskan berbagi. Barangkali---wallahua'lam--- ilmu, tahajud, doa ibu dan faktor lain yang tidak ada dalam model (hehe) itu yang membuat hidupnya berkecukupan. Tentu karena dibarengi dengan rasa syukur yang kian subur.
Maka sungguh, bukan materi yang membuatku iri. Namun sholat malam yang terpatri sejak dini. Rasa yang tak pernah bosan untuk berbakti. Juga jiwa sosial yang tinggi, namun tetap rendah hati menjadi resep yang cukup membuatku menelan ludah. Ah tulisan perihal orang-orang inspiratif selalu membuat hatiku ngilu. Apalagi tulisan yang hidup.
Terlebih saat membaca sirah Rasul yang sejak kecil sudah luar biasa keproduktifannya. Banyak dari kita yang familiar dengan kisah beliau menggembala kambing penduduk Mekkah. Lalu menginjak usia dua belas tahun, pengalaman berbisnis hingga ke luar negeri menambah ketajaman ilmu, pengalaman dan kemandirian sang uswatun hasanah. Tak hanya itu, kemahiraannya menangani urusan-urusan kemiliteran adalah buah dari tempaan semenjak belia. Pun kepiawaiannya dalam berdiplomasi.
Hmm, dengan berbagi kisah ini, pertama aku hanya ingin mengingatkan kembali diriku. Bahwa meski kita bukan keturunan Kiai, bukan anak seorang Ustadz---dan apapun alasan yang akhirnya membuat kita ingin berhenti---kita insya Allah selalu punya kesempatan yang sama untuk bisa menganyam taqwa dan menjadi sosok yang berbakti.
At the end of the day, tiap kita itu unik dan tidak mungkin memiliki garis kehidupan yang sepenuhnya persis dengan orang lain. Jadi barangkali, menjadi bijak jika tak melulu membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Namun menjelma pribadi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Alih-alih diminta untuk membandingkan diri, kita malah ditunjukkan jalan untuk meneladani dan menyerap saripati yang dibagikan secara cuma-cuma oleh orang-orang hebat.
~
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad!