Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Aku tersenyum masam, melihat diriku yang barangkali kerap menulis tentang bagaimana berkontribusi, fokus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan atau merajut taqwa dalam setiap perjalanan yang berliku.

Manisnya, itu adalah sebuah doa, yang sungguh tidak bisa diremehkan keberadaanya. Namun pahit rasanya kala hati kerap menuntut adanya aksi. Agar tak terdengar seperti tong kosong yang cempreng berbunyi.

________

Saat aku mungkin sering hanya menuliskan apa-apa yang ingin aku semogakan, maka aku kemudian merasa amat beruntung belajar dari tulisan yang hidup. Yang telah separuh abad tertempa dengan begitu elok.

Memang, "tulisan yang hidup" itu sudah terbiasa meng-handle banyak pekerjaan. Beliau memulai aktivitas dengan bersiap menunaikan tahajud sebelum melakukan aktivitas lain sejak dini hari di usia yang begitu muda. Usai mendirikan sholat malam, ia langsung bergegas menyelesaikan rendaman cucian untuk satu keluarga yang bisa berember-ember besar jumlahnya.

Setelah itu, menpersiapkan sarapan untuk adik-adiknya adalah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan. Jangan bilang jika sosok yang rendah hati itu tak disibukkan dengan tugas sekolah, karena bahkan sering ia menjadi delegasi lomba yang harusnya menyita waktu sebagai masa persiapan.

Apa yang tertanam di pola pikirnya sejak kecil adalah bahwa hidup prihatin dan disiplin adalah ciri-ciri orang sukses di masa depan. Itulah yang membuat semua dilakukannya dengan senang hati. Selain itu, baginya belajar mengerjakan banyak hal sedari kecil akan menguntungkannya sendiri, bukan orang lain.
Mindset yang luar biasa saat mungkin kita kerap menganggap sebuah tempaan sebagai beban, bukan malah berpikir bahwa potensi merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Maka tak heran bila hingga berkuliah, wanita yang terbiasa mendapat juara kelas itu selalu ingin belajar hidup prihatin, disiplin dan berusaha mencari tambahan penghasilan. "Kost-kostan super jelek menjadi saksi bisunya menggurah ilmu", kenangnya saat bercerita sembari meneguk segelas infused water lemon yang masih berembun.
_________

Pengimplementasian yang juga sering aku semogakan lewat tulisan sudah terbiasa dilakukannya sejak masih berstatus sebagai pelajar. Seolah semua ilmu yang dimiliki, berapapun besarnya, tak boleh ia nikmati seorang diri. Sebab saat dibagi, jumlahnya malah tak terbatas dan kian rekat. Seperti mengajari anak-anak yang kurang mampu untuk mengaji, berhitung, menari bahkan belajar bahasa Inggris-pun menjadi makanan sehari-hari. Adalah hal yang menyenangkan mengumpulkan alat tulis tak terpakai untuk menyokong KBM yang dirintisnya seorang diri.

Kini beliau hanya bisa mengucap syukur. Karena sekarang semua ilmu itu benar-benar dibutuhkan. Bagaimana mengatur ini dan itu dan tak pernah menuhankan materi melainkan selalu dan selalu memprioritaskan berbagi. Barangkali---wallahua'lam--- ilmu, tahajud, doa ibu dan faktor lain yang tidak ada dalam model (hehe) itu yang membuat hidupnya berkecukupan. Tentu karena dibarengi dengan rasa syukur yang kian subur.

Maka sungguh, bukan materi yang membuatku iri. Namun sholat malam yang terpatri sejak dini. Rasa yang tak pernah bosan untuk berbakti. Juga jiwa sosial yang tinggi, namun tetap rendah hati menjadi resep yang cukup membuatku menelan ludah. Ah tulisan perihal orang-orang inspiratif selalu membuat hatiku ngilu. Apalagi tulisan yang hidup.

Terlebih saat membaca sirah Rasul yang sejak kecil sudah luar biasa keproduktifannya. Banyak dari kita yang familiar dengan kisah beliau menggembala kambing penduduk Mekkah. Lalu menginjak usia dua belas tahun, pengalaman berbisnis hingga ke luar negeri menambah ketajaman ilmu, pengalaman dan kemandirian sang uswatun hasanah. Tak hanya itu, kemahiraannya menangani urusan-urusan kemiliteran adalah buah dari tempaan semenjak belia. Pun kepiawaiannya dalam berdiplomasi.

Hmm, dengan berbagi kisah ini, pertama aku hanya ingin mengingatkan kembali diriku. Bahwa meski kita bukan keturunan Kiai, bukan anak seorang Ustadz---dan apapun alasan yang akhirnya membuat kita ingin berhenti---kita insya Allah selalu punya kesempatan yang sama untuk bisa menganyam taqwa dan menjadi sosok yang berbakti.

At the end of the day, tiap kita itu unik dan tidak mungkin memiliki garis kehidupan yang sepenuhnya persis dengan orang lain. Jadi barangkali, menjadi bijak jika tak melulu membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Namun menjelma pribadi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Alih-alih diminta untuk membandingkan diri, kita malah ditunjukkan jalan untuk meneladani dan menyerap saripati yang dibagikan secara cuma-cuma oleh orang-orang hebat.

~

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad!

Akhir minggu kali itu, seperti biasa, masih aku habiskan dengan berada #dirumahsaja. Bedanya, minggu ini keponakanku, Nuh, pulang kampung, hehe. Yaps! Kampung atau desa dimana aku tinggal. Suasana kediaman begitu asri dan sarat kedamaian. Ada hamparan sawah di sepanjang jalan menuju rumah.
_________

Wajah langit yang ku pandang pagi itu terlihat megah dan memukau. Selalu. Besar sekali kuasa-Nya. Aneh rasanya bila masih saja mengerdilkan impian perlahan. Sungguh gila, rutuk nuraniku saat pandanganku mengamati langit lebih lama lagi. Luas. Indah. Tak bisa ditiru. Tanpa tiang. Terlukis begitu nyata.

Maka harusnya nyata pula cara kita memvisualisasikan mimpi itu. Benar-benar aneh kalau masih saja bingung dari mana mendapatkan semangat dan karakter pejuang tak kenal menyerah. Jika hamparan jawabannya selalu mengawasi tiap kita fokus pada kesia-siaan.

Tak seperti biasanya, mau tidak mau aku harus menemukan cara untuk keluar dari kungkungan kesiaan itu dengan menyibukkan diri. Dimulai dengan menyapu halaman dan beberapa bagian pekarangan rumah. Terdengar sepele, dan sepertinya memang sudah kewajiban. Walau hanya membutuhkan time management yang baik, tapi siapa yang menyangka, kadang itu bisa menjadi sangat berat saat ada prioritas lain yang menyesaki pikiran. Padahal sudah paham, jika justru hormon kebahagiaan akan meningkat seiring dengan pergerakan yang kita lakukan. Alias kegiatan yang berfaedah dan dilakukan dengan senang hati sama dengan menurunkan tingkat depresi.

Setelah itu, kembali pandanganku menyapu pekarangan yang sudah lumayan bersih usai disapu. Ditambah pemandangan hijau di sekeliling rumah membuat aku kembali merapalkan syukur dianugerahi kesempatan untuk tinggal di desa. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kemacetan. Tempat menghirup udara yang relatif jauh lebih bersih dengan sepuasnya. Tempat dengan ragam potensi yang menanti untuk dimanfaatkan.

Kalau dulu saat masih kecil, potret kehidupan kota yang seolah menawarkan banyak kenyamanan hidup sering memaksaku untuk berpikir dan ingin memilih: rasanya jauh lebih enak jika aku hidup di kota besar dengan segala fasilitasnya. Sekarang, aku malah sangat sangat sangat merasa kurang mengenali daerahku sendiri, banyak keindahan, misteri, atau apapun penamaannya yang belum tergali.

Walau kadang, katanya, hidup di desa sering membikin terlena dengan kenyamanan yang juga sulit dijelaskan. Sedang di kota, kita akan terus ditempa menjadi sosok yang memiliki daya saing tinggi. Meski dewasa ini sudah lain lagi faktanya. Banyak potret desa yang berhasil, tak jauh dari andil pemuda-pemudanya yang melek pengetahuan, teknologi dan berjiwa sosial tinggi. Mereka dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif.

Lalu lihatlah, pagar alami yang terlihat hijau karena dedaunan yang rimbun itu mengelilingi rumah, menenangkan. Seolah menenangkanku yang mencoba berpikir, meski masih menikmati olahan ceker ayam ala Ibu. Ini makanan kesukaan Nuh. Sebagian bumbu dan rempah diambil dari tanaman di pekarangan rumah. Beginilah hidup di desa. Hobi bapak dan kakak sangat membantu kami menikmati rupa hasil bercocok tanaman secara percuma. Sebut saja pisang, rambutan, nangka, mangga, nanas, serai, buah naga, aneka rimpang dan masih banyak lagi. Terasa semakin betah berada di zona nyaman ini. Karena meskipun ada keterbatasan, hidup di desa juga penuh dengan kemudahan-kemudahan.

Jadi, bagiku, dimana pun tinggalnya, tidak ada pemuda yang lebih unggul. Karena toh sejatinya tiap mereka dihadapkan dengan tantangan yang sama: sejauh mana bisa berkontribusi dan memberikan performa terbaik. Namun tetap, semuanya butuh pengalaman, saling berbagi pengalaman yang berasal dari desa maupun kota. Ah, sungguh, aku (masih) hanya berteori. Masih hanya menjadi pemerhati bagi mereka yanhlg sudah bisa berbakti pada negeri.

_________

Kemudian aku dan Nuh bergegas menunaikan tugas selanjutnya: menggiling padi. Tak berbeda, masih dengan ibu-ibu yang sesekali membicarakan nama-nama, bahkan pemerintah dengan dana desanya. Namun ada yang berbeda. Nuh yang sedari tadi sibuk mengamati ruang penggilingan padi. Mendekati tiap sudut dengan hati-hati. Selayaknya orang yang tengah menganalisis sesuatu. Dia kemudian diam sejenak sampai akhirnya mengeluarkan suara: "Nte, itu buat apa?," menunjuk mesin besar tua yang penuh debu.

Aku pun menjelaskan yang aku bisa dan menceritakan sedikit life cycle dari padi sampai akhirnya sampai di tempat penggilingan ini. Lalu tentang beras yang kemudian jadi teman makan ceker kesukaannya. Hampir selalu, sejak dulu, Nuh selalu mendengarkan dengan penuh antusias. Rasa keingintahuannya begitu besar. Apalagi membawa-bawa makanan favoritnya.

Nuh terlihat senang bukan main tiap kali pulang untuk ber-weekend di desa. Sepertiku yang juga sangat bersyukur dan bahagia. Tak berhenti disitu, aku berdoa, agar tak hanya syukur, senang dan bahagia. Tapi juga bangga, bangga yang semoga mengundang energi-energi baik untuk bisa berbuat lebih. Di desa, kota, di negeri terkasih.

Hanya saja, Nuh sedari kecil sudah tumbuh perasaan cintanya pada desa. Tak sepertiku saat kecil, media---salah satunya---membuatku mungkin sempat menderita inferiority complex. Namun sekarang semoga aku sudah lebih mengerti. Bahwa memang kata Imam Syafi'i: "Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Tapi tetap pada akhirnya dimanapun kita bermuara (desa/kota/negeri orang sebagai diaspora) impiannya akan selalu sama, mengabdi untuk Indonesia.
~

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

"Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?!" Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaan dari teman  saat masih MA itu. Sejenak = sepersekian detik = aku tidak habis pikir ternyata gerakku di media sosial diperhatikan juga walau besar kemungkinan tulisan itu hanya lewat di berandanya = aku hendak bilang bahwa: ini hanya rutinitasku yang fun---sebelum tidur, tapi karena dewasa itu manusia pada umumnya materialistik, maka aku jawab saja singkat: "Menulis di blog bisa dapat uang, loh! Hehe." Temanku itu nampak ogah menimpali. Aku membalas cuek tak mau kalah.

Masa bergulir. Ternyata jawaban tak niat itu jadi kenyataan. Padahal tidak ditekuni secara serius dengan ruang tulis menulis yang sebenarnya amat luas. Pun meski belum sebagus kata-kata yang dirangkai penulis-penulis ternama. Tapi Allah selalu menuntun orang-orang yang selalu berusaha memiliki niat yang tulus. Meski belum tajir melintir seperti berbilang penulis fenomenal, setidaknya, belajar dari penulis sejati lain--bahwa sering malah tak ada rupiah sepeser pun untuk karya mereka. Selain passion, ada kebahagian tersendiri saat mampu mengekspresikan rasa lewat aksara.

Jadilah aku sedikit demi sedikit juga belajar mengesampingkan semua pikiran yang buruk. Pun daripada ruwet memikirkan usaha yang nihil, ada baiknya sembari secuil demi secuil mengasah lewat menulis catatan. Catatan remeh, pemahaman masih seadanya, dan dari keamburadulannya barangkali membuat satu oraaaaang saja bisa memetik insight baru.

______

Kejadian bertahun-tahun itu terulang lagi. Kali ini malah "diriku" yang bilang. "Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?" Lihat! Amalmu masih tipis! Miris! Kekuranganmu bukan main jumlahnya. Belum lagi, kala diberi sejumput pujian, kamu agaknya mau terbang. Padahal cuma dari satu-dua orang. Tidakkah kamu malu? Kalau saja mereka tau aib yang Allah tutup itu, pastilah kamu mengemban malu yang bertambah-tambah.

Aku menjawabnya dengan berhenti, mencoret kegiatan itu dari list to do harian. Lagi pula aku merasa tak pernah mengasah keahlian. Gaya tulisan pun masih itu-itu saja. Belum lihai membikin alur yang berbeda. Dalam dunia tulis semacam ini, bahkan aku belum mampu berani bergerak mengeluarkan novel atau buku. Padahal banyak event yang memfasilitasi untuk itu. Toh "diriku" itu benar juga, banyak hal dalam hidupku yang masih tak keruan.

Tapi "diriku yang lain" (WKWK, ampun deh. Caraku menulis dari awal sudah bikin pening, ya. Hehe. Makanya doain, semoga diberi semangat latihan. Semua pasti bisa kalo belajar dan Allah berkehendak. HEHE) malah kian mengompori untuk mencatat apa yang nampak dari hari ke hari. Karena aku bisa membacanya lagi sebagai pengingat, katanya mengingatkan. Terlebih, selalu dan selalu, doa-doa dilantukan agar bisa melampaui apa yang dicatat. Bukankah tak ada salahnya berharap pada Yang Maha Hebat. Allah!

________

Malam itu, di blog, aku mencoba membaca kembali beberapa postingan lampau, yang memang jumlahnya masih beberapa. Kemudian beberapa kali merasa tertampar, iya, tersadar oleh catatan sendiri. Beberapa hikmah kembali menyusup. Bagaimana bisa?

Ternyata ada benarnya kata Cak Nun, bahwa sebenarnya yang mengendalikan kita adalah Allah SWT. Bila tengah berucap kebenaran Allah-lah yang sedang menolong. Maka rasanya amat tidak pantas untuk berbangga diri karena apapun kemampuannya pada akhirnya bukan terlahir murni dari diri kita.

Seperti saat ada yang mampu berbicara cas cis cus memesona dengan tatanan kalimat yang nyaris paripurna. Ada yang mampu menulis buku-buku tebal nan bermakna. Ada yang memiliki kemampuan hafalan dengan teknik dan cara penjabaran yang tak terduga. Ada yang visioner menciptakan benda-benda canggih yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pantas saja, rasanya bisa amat sulit sekali menulis catatan. Karena selain sedang berlumur noda, memang Allah belum menggerakkan, meski kita terus berusaha mengusahakan. Laa hawlaa wa la quwata illaa billah.

Sekarang aku kian mengerti mengapa selalu ada kalimat: kalau benar semua dari Allah, sedang jika salah, semua memang kekhilafan kita sebagai manusia. Ungkapan yang ternyata amat dalam maknanya.

Namun aku yakin, sebagai manusia yang sejati, se-amburadul apapun itu, se-materialistik apapun, se-alpa apaun, dengan kerap memohon ampun, insya Allah pasti akan selalu ada ketukan yang menyelinap untuk bisa ikut andil dalam kebermanfaatan. Tak peduli apapun bentuknya.Tak peduli berapapun jumlahnya.

_______
#please #bismillah #semoga #nggacumabelajarnulis #ncbn #menuliskarenaAllah #insyaAllah ❤

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates