Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Gue bingung sama status alias story WhatsApp bocah (SMP, SMA dll) jaman sekarang (yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Madura menjadi "Now"). Gimana ngga? Roman-romannya pada berbau romance. Hehe. Salah satu yang bikin gue spechless adalah kala mereka ngomongin jodoh. Tentang bagaimana teman hidup, imam, pendamping, dan istilah berbeda lainnya yang pada akhirnya mengerucut pada satu makna: jodoh.

Sebenarnya ngga ada salahnya juga sih. Daripada berbicara mengenai hal yang lebih tidak-tidak. Toh mereka menulis demikian bukan berarti mereka menginginkannya sekarang. Eh, bahasanya kok gini ya? Haha. Hanya saja sering gue terlempar ke masa-masa gue dan teman-teman gue dulu kala masih seusia mereka. Saat berpikir gimana belajar yang benar meskipun ngga benar-benar (gue doang kali ya), gimana caranya tetap bisa mengelola waktu dengan berbakti pada ortu (siaaah, lu mah mikir doang), gimana caranya mengganti lembaran rupiah ongkos dan bayaran sekolah dengan hadiah sholawat buat ortu agar senantiasa memiliki jiwa yang luas (meskipun ngga seberapa jumlahnya dan ngga sebanding), dan lain-lain yang pada intinya selalu berorientasi pada orang tua demi mengharap ridho-Nya. Yang lebih mulia lagi, para bocah yang menjadikan belajar alias menimba ilmu sebagi jalan untuk kian bertaqwa hingga amat takut akan murka-Nya jika menyiakan-nyiakan kesempatan itu (dan sepertinya kala itu gue belum sampai ke pemahaman yang ini. Hihi. Payah!).

-----

Gue memang seringkali iseng menyimpan banyak kontak siapapun. Kebanyakan memang sudah kenal dari grup menulis, beasiswa, dan sebagainya di WhatsApp yang berasal dari beragam usia. Jika sedang senggang, terkadang gue mengamati story yang bertebaran satu-satu. Sering gue menelan ludah, berdecak kagum, flat, tersenyum, speechless, dan berbagai ekspresi lainnya yang sudah barang tentu akan dialami setiap orang. Atas semua itu gue mencoba untuk mengambil pelajaran, selain ulasan singkat di atas (please, ngga perlu ngeliat ke atas juga, jangan terlalu ekspresif kek gue haha) ada beberapa hal penting yang bisa gue ambil dari bulatan-bulatan story WhatsApp yang jumlahnya bisa lebih dari seratus akun, ialah: betapa banyak waktu yang gue habisin, betapa banyak kuota yang gue habisin, dan betapa pekerjaan rumah ngga bakal selesai dengan gue hanya mantengin story orang-orang.  Apalagi saat kalian mendapat soal yang lumayan kalau pekerjaan rumah-nya disingkat: PR. Krik krik.
Well, gue memang ngga berbakat buat ngelawak. Maapkeun!

Belum lagi berjibaku di Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Wattpad, Line, dan segala tetek bengeknya. Betapa semua itu kerap membuat kita kian jauh dari nilai-nilai kebaikan. Ya, jika penggunaannya tepat, maka justeru segala aplikasi baik yang bahkan belum tersebutkan itu akan membawa perubahan yang amat baik dalam hidup kita. Tapi gue pribadi sadar, jika semua kebaikan dari aplikasi-aplikasi bikinan manusia itu tak akan bisa menyala lama jika tidak terpantik oleh akal pikiran yang selalu dipupuk dengan al-Qur'an yang jelas-jelas bukan bikinan manusia. Tentu, sembari memohon agar kita selalu dilimpahi hidayah agar tidak hanya mampu melantunkan melainkan memahami lantas mengamalkan. Maka, kita (terutama gue) tidak akan berhenti menggunakan smartphone dan instrumen lain hanya untuk membuat status menu makan siang, perihal jodoh dan lain-lain (meskipun sesekali menyelipkan hal remeh-temeh menurut gue ngga masalah juga, daripada membagikan masalah rumah tangga, hehe. Tapi dalam konteks kali ini bukan itu yang gue maksud). Dengan begitu, akhirnya gue mulai berpikir berkali-kali buat ngeliat status orang satu-satu. Jika memang senggang dan ada paketan (haha), maka gue lihat beberapa dengan niat barangkali ada pelajaran yang bisa gue dapatkan. Intinya semua yang gue lakukan sebisa mungkin berawal dari niat yang sudah gue tata sebelumnya. Pun saat menulis oretan ini. InsyaAllah ~

Maka duhai adik-adik gue tersayang. Ceilah. Kesempatan menempa diri dengan ilmu adalah hal yang begitu menyenangkan. Kadang akan sangat membosankan hanya karena kita belum menemukan cara yang tepat untuk belajar atau mungkin masih kurang dalam berikhtiar. Tapi percayalah, bagi gue pribadi, kesibukan yang paling gue suka sebagai manusia (meskipun gue sama kek kalian, sering membiarkan setan membelenggu kita dengan sifat malas) adalah belajar. Hingga ajal menjemput. Salah satunya dengan pendidikan formal. Karena meski apa yang kita dapatkan di sekolah tidak "plek" bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi paling tidak kita bisa tersistem untuk memiliki semangat dan effort untuk mendapatkan ilmu. Maka saripati seperti; semangat, effort, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya yang kita dapatkan dari pendidikan formal semoga bisa kita gunakan untuk menghadapi jaman yang memang tidak selalu "Now", tapi juga "future" alias dinamis ini. Jangan melulu bertumpu pada masalah pendidikan di negara kita yang acapkali bikin geleng-geleng kepala, tetapi fokus untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membawa perubahan di dunia pendidikan agar menjadi lebih baik. Semoga Allah memudahkan kita. Aamiin ~

Allah, kadang aku berpikir. Apa sebenarnya yang aku cari? Kenapa dunia begitu mudah membuat aku bersedih.

Aku memang tidak kaget saat mendengar bahwa beliau akan berangkat haji 21 Juli 2018, sebab sebelumnya aku telah menaksirkan jika beliau akan berangkat di 17 Juli 2018. Namun membuat aku pasrah adalah kala mendengar bahwa beliau telah mengatakan ke Kaprodi akan mempending semua bimbingan hingga ia kembali dari tanah suci.

Dalam hidup, aku berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain atas apa yang aku alami. Meski kerapkali keceplosan mengarah ke menyalahkan, sebenarnya aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri (inipun sebenarnya tak baik. Mungkin tak apa jika tak berlebihan), bertanya pada diri sendiri: apa yang membuat ini begini dan begitu karena perilakuku sendiri.

Bagiku, lulus tidak tepat waktu seperti apa yang kita inginkan bukanlah sebuah petaka melainkan kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya di jalan yang seringkali tidak mudah. Benar, meski optimisme kerap harus dijaga nyalanya, namun aku kala itu juga mengindahkan saran seorang dosen wali untuk berpikir realistis dan siap-siap membayar UKT (di lain sisi beliau juga sering menyemangati dan tak segan melantunkan doa dan harapan. Bukan untukku saja, tapi untuk semua muridnya). Meski hakikatnya, kuasa Allah Swt. tidak sejalan dengan kerealistisan selama kita ikhtiar (Omong-omong, ini bukan masalah UKT. insyaAllah aku akan berusaha perihal itu. Ini masalahnya hanya pada diriku yang seringkali ingin intropeksi diri yang kian tak jelas arahnya: apakah aku kurang berikhtiar. Padahal aku tak perlu bekerja, tak berorganisasi dll). Kala itu selain  mem-planning biaya untuk membayar UKT, aku juga telah merancang plan A, B, C dst. Seperti belajar, bekerja, membantu orang tua, merealisasikan resolusi yang masih hanya menjadi pajangan dinding dll. Aku sebisa mungkin menguatkan diri, jika yang terjadi nanti adalah yang terbaik. Que sera sera.

Tentu, aku tidak sendiri. Banyak doa yang ku minta dari banyak orang. Karena aku paham, bahwa tak ada yang benar-benar menjamin doa siapa yang paling makbul. Doa seorang pemulung shalih bisa jadi lebih luhur dan mudah terijabah dari seorang imam besar masjid sekalipun. Aku juga banyak mendapat kalimat positif bernada optimisme dari banyak orang; orang terdekat dll. Juga nada menyangsikan dan menyakitkan hati. Namun berusaha aku lupakan, abaikan, tepis, sebab jika dipikirkan pikiran semacam itu akan mudah mengotori hati.
Aku telah amat pasrah hari itu, mungkin jika berkonotasi negative artinya menyerah. Sudahlah pikirku. Toh pemahamanku dari dulu, skripsi ini bukan segalanya. Apalagi sampai harus menggadaikan segalanya. Bukankah dulu tujuanku hanya untuk meraup ilmu bukan gelar? Tapi pikiran bahwa ikhtiarku masih amat kurang juga tidak bisa dipungkiri bergentayangan dalam batok kepalaku. Aku yang hina ini mencoba menepisnya dengan mengucap beberapa istighfar. Selain pemahaman itu, aku juga berpikir ada banyak hal bermanfat lain daripada terus “ngoyo” pada skripsi. Tapi, lagi-lagi pemahaman lain yang menyatakan bahwa menyelesaikan skripsi yang merupakan PR kecil untuk melangkah lebih jauh ini juga tak boleh dianggap main-main.

Sebenarnya aku tidak ingin mengkotakkan catatan ini dengan membahas bahwa ujian terberat (konon seberat apapun beban yang dipikul dalam hidup, akan bisa dilewati jika selalu lillahita’ala. Belum lagi menjalani kehidupan yang sebenarnya kelak) dalam menjalankan studi sebagai mahasiwa hanyalah skripsi. Sebab nyatanya memang bukan itu resolusi sebenarnya. Ada ujian yang lebih mumpuni mendewasakan diri, yakni pengimplentasiankannya.

Jadi, banyak yang ingin aku sampaikan. Namun sepertinya oretan ini akan sangat panjang dan membosankan. Maka biarkan aku sedikit menyimpulkan, bahwa apapun yang kau jalani, jalanilah. Kita hanyalah manusia. Iya, sederhana tapi sering kita melupakannya. Bahwa kita yang manusia yang tak patut mendikte hasil. Hmm, menulis kalimat itu membuat ulu hatiku ngilu. Sebab hamba yang cetek imannya ini sering seolah-olah mendikte hasil. Padahal kewajiban kita hanyalah berusaha dan berdoa. Kemudian selalu percaya, keajaiban yang selalu diharapkan datang dari-Nya setelah berikhtiar yang seringkali tak seberapa-----akan datang tak diduga. Selamat, atas langkah awalmu teman-temanku. Semoga Allah memberkahi hidupmu dengan ilmu, memudahkan untuk mengamalkan dan menguatkan dirimu karena ilmu. Bagi yang belum, tak usah berkecil hati. Aku tahu, kesibukan dan jalan yang dipilih dan diberi tak selalu sama. Terimalah. Pahit memang. Tapi percayalah, akan ada buah manis yang akan kau tuai di masa mendatang. Teruslah memelihara kalbu yang tulus, jiwa yang besar dan menebar kebaikan. See you on top, guys! Top sendiri aku artikan ‘ketaqwaan,’ meski tak mudah untuk orang yang mudah mengeluh seperti kita. Namun apa salahnya berdoa. Kita? Ah, barangkali cuma aku saja.

Kemarin malam aku tidur ba'dha sholat isya' dan ini jarang terjadi mengingat aku masih mengemban tugas sebagai mahasiswi semester akhir. Setelah itu aku terbangun sekitar pukul sembilan. Hingga akhirnya memutuskan untuk mengaji (Bagiku ini bukan hal yang tabu lantas terlihat seperti riya. Sebab tujuan kita memanglah untuk beribadah dan membaca banyak al-Qur'an memanglah hal yang harus dan lumrah. Meski pada faktanya----mungkin karena dosa----aku seringkali malas berlama-lama mengaji). Lalu, sebelum genap pukul setengah sebelas, aku berhenti dan memilih ke dapur karena tiba-tiba keroncongan (Hehe, makan di tengah malam).

Aku kemudian tersentak kala sayup-sayup mendengar orang berteriak minta tolong. Ternyata Matus, adikku---juga demikian. Kami pun saling bertanya. Ada apa?
Pikirku, jangan-jangan orang sedang dibegal. Cepat-cepat aku ingin melihat, menyusul ke jalan untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Matus juga terlihat kebingungan dan memanggil Bapak dan Kakak karena menduga terjadi hal yang sama seperti perkiraanku. Namun Kakak menghentikan langkahku. Ia meminta agar tidak meghiraukan panggilan itu. Karena seringkali bocah-bocah tanggung berteriak minta tolong hanya sebagai gurauan. Atau berisik di gardu saat tengah malam  karena asyik dangdutan. Kakak memintaku untuk menutup gerbang. Aku melakukannya sambil mendengarkan kembali teriakan itu lamat-lamat. Ada yang mengganjal. Sepertinya telah terjadi sesuatu. Aku kembali ingin memeriksa ke jalan beraspal. Hingga ku dengar teriakan Kakak yang ternyata sudah siap memacu motornya, "Buka gerbang!"
Aku bak pengawal istana yang sigap dan lekas mendorong gerbang ke samping agar terbuka. Ternyata dia juga merasakan ada hal yang tidak beres. Akhirnya aku berhambur ke jalan itu setelah Kakak pergi dengan motornya.

Yang benar saja. Aku gemetar melihat kobaran api di sebuah rumah yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahku. Allah.. Aku seketika menangis lalu berlari ke rumah lagi mencari kerudung untuk kemudian ingin mendatangi si jago merah yang tengah marah itu. Saking paniknya, sampai-sampai aku menjadikan taplak meja sebagai penutup kepala. Tak hanya itu, komplotan gamers juga ikut kalang kabut kala aku berteriak, "ADA KEBAKARAN!!! Ayo bantu padamkan."

Aku tidak paham jika ternyata mereka telah menyusulku dan berada di belakang. Kami berlari. Aku tidak henti-hentinya menyebut nama-Nya dan sesekali reflek menangis. Ternyata sebelum Kakak pergi dengan motornya dan memanggil banyak orang, hanya ada tiga orang yang berusaha memadamkan api. Diduga semua warga tengah tertidur atau bahkan tidak percaya hingga tidak mengindahkan teriakan minta tolong yang berlangsung cukup lama.

Tak berlangsung lama, para warga mulai berdatangan. Ada yang membawa galah, ember, tangga dan apapun untuk membantu memadamkan api. Aku kemudian berlari lagi ke rumah kerabat yang tak jauh dari sana. Ku ambil ember dan menuju lokasi kebakaran. Ku lihat banyak orang hanya menjadi penonton karena tak ada ember tersisa. Langsung saja aku membantu mengambil air dan bergabung dibarisan pengangkut air yang kesemuanya lelaki. Aku baru saja mengangkut satu ember air hingga akhirnya, "Mbak, udah gausah ngangkat!" panggil adikku diantara kumpulan penonton. Aku pun mengiyakan, karena selain takut dengan reruntuhan yang terlalap, sudah banyak lelaki yang kemudian membantu.

"Allahuakbar... Lantas apa yang kita cari di dunia ini? Apa tujuan kita hidup? Apa yang bisa kita sombongkan? Jika Allah berkehendak mengambil titipannya kembali, maka seketika terjadi. Allah... Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, kemudian akan mempertanggung jawabkan waktu yang dihabiskan di dunia sendiri-sendiri. Lantas kenapa membaca pedoman hidup saja malas? Allah... Ampuni kami, bimbing kami."
Pikiranku kemana-mana sambil menyaksikan api yang sudah mulai padam. Ini kali pertama aku menyaksikan kebakaran secara langsung. Sedari awal hingga api mulai menghilang, aku terus saja gemetar memikirkan akhirat ku dan keluargaku. Innalillah.

-----

Api berasal dari perapian yang dibiarkan menyala dalam kandang berisi seekor sapi dan empat ekor kambing. Kandang tersebut terkunci hingga hewan-hewan malang itu menjadi korban. Sementara sang pemilik tidak menyadari hingga api telah meninggi. Beruntungnya, hanya seperempat dari bagian rumah yang ikut terlalap karena warga (qadarullah) berhasil menjinakkan api.

Selalu, sebelum terjadi sesuatu yang menyedihkan seringkali ditandai dua ekor kucing yang bertengkar hebat. Entah apa memang alam ingin mengabarkan sebelumnya. Wallahua'lam.

Tak jadi makan, aku malah seolah meraup banyak pelajaran. Bahwa hidup memang sebentar. Segalanya adalah titipan. Tak patut disombongkan. Kemudian bersabar kala mendapat ujian. Jangan sampai salah tujuan. Mempersiapkan diri untuk bekal kematian. Selalu berdoa agar Allah senantiasa menambah dan menjaga keimanan dan ketaqwaan.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates