Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Beberapa minggu lalu aku mendapat informasi mengenai beberapa beasiswa dari salah seorang sahabat. Beasiswa belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri yang terkenal itu. Sudah lama aku ingin belajar disana, bahkan aku juga bermimpi belajar di negara asal bahasa asing itu. Namun aku tidak pernah membayangkan salah satu dari mimpi itu kemudian menjadi nyata. Karena aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tak berhenti bermimpi hanya karena bingung bagaimana caranya. Sebab cara Allah Swt. selalu tidak dapat diduga.

Hingga pada akhirnya aku mempersiapkan persyaratan. Saat hari H hendak mendaftar, ternyata ada kesalahan, info beasiswa di salah satu course tersebut belum diperbaharui. Admin menyatakan jika pihaknya belum membuka beasiswa untuk angkatan selanjutnya. Alhasil aku harus menerima kenyataan yang pahit itu. Sebab aku percaya, akan ada kesempatan lain. Sekali lagi, tak pernah kita duga sebelumnya.

Suatu hari sahabatku mengirimkan link mengenai informasi beasiswa di tempat kursus berbeda. Aku kemudian melihat persyaratan dan menelan ludah kala mengetahui kita diharuskan membuat video dengan durasi 1 menit. Dan aku adalah orang yang tidak terlalu suka diekspose dalam video. Percaya atau tidak, meski aku amat mensyukuri setiap apa yang Allah berikan, aku dulu masih sering berpikir bahwa orang-orang yang tampil dalam sebuah video adalah mereka yang good looking. Maka bagiku, biarlah mereka yang pegang andil. Hehe.
Tapi aku harus berusaha atas mimpiku. Itu sudah konsekuensi. Karena Allah Maha Adil untuk menakar usaha makhluknya. Maka aku menyanggupi syarat itu.

Dalam rutinitas siaran dan mengedit video di studio ATM Radio, aku menyempatkan diri sebentar untuk menulis oretan naskah yang akan aku sampaikan dalam video Challenge 1. Ya, masih ada tantangan selanjutnya. Sebelumnya, saat mencuci piring, menyapu lantai, sampai dalam perjalanan ke radio aku sudah menerka-nerka bagaimana isinya nanti. Aku bahkan memperagakan gerakan yang agaknya cukup heboh, kepribadianku yang lain. Namun nyatanya saat di video malah garing. Haha.
Aku kemudian meluangkan beberapa waktu membaca naskah dan mengulang-ulangnya agar paham dan hafal sembari menunggu editing video untuk radio yang sedang diproses untuk publish. Sedang khusus untuk syarat beasiswa, 41 video rekaman berdurasi 7 detik - 1 menit berhasil bersarang di galeri HP putih itu. Dan satu video pilihan akhirnya aku unggah sepulang dari studio. Bermodal tethering dari kemenakanku, video itu akhirnya terunggah juga. Aku menyelesaikan tantangan pertama. Lantas aku berdoa, sesungguhnya usahaku amatlah tidak seberapa, maka jika aku lolos nantinya, itu bukan karena aku bisa, tapi karena Allah Swt. yang menghendakinya.

_______

Pengumuman peserta yang lolos Challenge 1 tertera di akun resmi Mr. BOB. Yap! Aku mendaftar beasiswa yang dibuka Mr. BOB english course. Mataku kemudian mendapati namaku ada disana, di paling akhir rentetan 10 peserta yang lolos. Allah, alhamdulillah, seperti yang aku tanamkan dalam hati, jika memang lolos, itu semua karena kehendak-Nya. Aku tidak berpuas diri setelah itu. Sebab aku yakin tidak hanya aku, banyak orang akan melakukan hal yang sama: lebih giat lagi berdoa. Semoga jika ini memang jalanku, aku bisa lolos hingga tahap akhir. Eaaak, eh, aamiin dong ya.

Setelah dilakukan interview melalui WhatsApp, beberapa hari kemudian qadarullah aku lolos ke tahap wawancara langsung pada 23 Oktober 2018. Kami berlima akhirnya mempersiapkan diri untuk datang ke Mr. BOB Office guna menyelesaikan tahap terakhir.

Kami tidak diberitahu perihal jam interview, untuk itulah aku khawatir datang terlambat. Berbekal pengetahuan tentang jadwal bus dari Sumenep, aku berangkat jam 03:11 dini hari. Sekitar satu jam kemudian bus yang aku tunggu tidak juga lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk naik mini bus hingga ke Tangkel, Burneh. Lagi, sekitar satu jam berlalu belum ada bus yang akan mengantarkanku ke terminal Purabaya. Aku mulai gelisah. Karena setelah mencoba mengalkulasi waktu secara sederhana, aku akan telat tiba di Pare. Pagi. Hanya kata itu yang menjadi patokan. Karena admin tidak membalas pesanku yang bertanya kepastian jam interview.

Ditengah kegelisahan aku bergumam, "Beneeeeeer! Ga ada yang bisa bantu aku. Kecuali Allah Swt. Ga ada yang bisa nolong. Kecuali atas izinnya. Bener. Tiap manusia sendiri. Mati pun sendiri. Meski makhluk sosial, Allahlah yang menggerakkan hati mereka untuk saling tolong menolong. Maka Rabb.. tolong hambamu, jika ini memang baik maka mudahkan. Jika tidak, hamba akan pulang"

Hehehe. Betapa mental tempenya aku. Belum berjuang sudah mau pulang. Beruntung ada keluarga dan Allah yang menguatkan untuk tidak menyerah. Hingga akhirnya sebuah mobil sedan berhenti di depanku. Sang pemilik (mungkin) menjadikan mobil pribadinya sebagai angkot. Aku sendiri belum melihat warna plat nomornya. Apakah Bapak ini bayar pajak atau tidak. Yang jelas, ia mematok tarif sedikit lebih mahal dari bus ekonomi.

Setelah menimbang dan melihat semua penumpang naik dari lokasi yang sama denganku (meski ini juga tidak bisa menjadi patokan aman tidaknya), dua penumpang wanita, dan beberapa pertimbangan yang lain----akhirnya aku memutuskan untuk naik mobil itu. Sembari merapalkan doa, aku teringat pesan Ibuku: "Jangan melihat orang hanya dari luar. Orang yang bersorban bisa jadi adalah tukang tipu. Berhati-hatilah."
Aku yakin, tiada yang lain selain pada Allah untuk menggantungkan segala harapan, salah satunya perlindungan.

Alhamdulillah tiba di terminal Parubaya. Aku lalu menaiki bus Patas yang bisa mengantarkanku ke Pare. Kondisinya masih sepi, jadi aku harus menunggu berpuluh menit sampai akhirnya bus itu berangkat juga. Bersyukur rasanya meski aku belum tahu apakah aku akan tiba tepat waktu. Ah, apa yang aku risaukan? Bukankah semuanya sudah digariskan?

Di dalam bus aku mengontak salah satu teman yang lolos lewat Instagran. Ray rupanya telah tiba kemarin. Ia juga mengungkapkan jika interview akan dilangsungkan pukul 10:00 WIB setelah bertanya langsung pada PJ. Karena sama sepertiku, saat bertanya jam lewat WhatsApp tidak dibalas. Hehe. Aku pun bernapas lega. Insya Allah aku tidak akan terlambat. Mungkin jam 9 sampai di lokasi.

Lanjut cerita, setelah untuk pertama kalinya aku menggunakan jasa Go-Jek aku sampai di kantor Mr. BOB pukul 09:52 WIB. Masya Allah. Beberapa menit kemudian interview berlangsung. Kami berlima dinyatakan lolos. Jika tidak, kami berempat sudah siap pulang kampung. Karena hanya Ghani yang akan tetap kursus tanpa beasiswa, katanya.

Ya, jadi kami berlima. Pertama Kak Icha asal Balik Papan, Kalimantan, dia sedang dalam proses pengerjaan Tesis pada salah satu kampus di Jogja. Kedua, Kak Santi yang berasal dari Sumatera Utara. Dia sarjana Ahli Gizi lulusan salah satu perguruan tinggi di Jogja dan sempat tinggal di Jakarta untuk bekerja. Yang ketiga Ray, anak Serang, Banten yang sedang mengambil cuti kuliah. Sedang Ghani dari Pandegelang, Banten yang masih dalam gap year usai lulus SMA. Lalu aku.
Hmm, mereka berempat, bagiku adalah pribadi yang menyenangkan.

_________

Keluar dari zona nyaman memang tidak enak pada awalnya. Tapi akan manis pada akhirnya. Tentu tidak gampang, apalagi bagiku yang sudah biasa hidup serba gampang. Maksudku hanya tinggal bersekolah tanpa bekerja. Meski aku dan saudara bukan tipe anak yang minta dibelikan ini itu, karena memang kami terlampau mengerti keadaan perekonomian keluarga. Mungkin bagi sebagian orang keputusan untuk kursus ke Pare adalah hal yang biasa saja. Kecil. Tapi bagiku ini adalah langkah yang besar dan cukup berat. Aku harus meninggalkan orang tua dan berbakti dengan cara yang berbeda dengan yang biasanya bisa aku lakukan saat ada di rumah, meski tak seberapa. 

Benar, Allah Maha Mendengar. Satu yang selalu aku ingat meski diriku masih bergelimang kekurangan yakni, andalkan Allah di setiap sendi impian. Jika memang yang terbaik untuk kita, maka Allah wujudkan.

Akhir kalimat, semoga Allah tanamkan keteguhan dalam hati kita untuk senantiasa bertaqwa dan merajut mimpi demi kebermanfaatan, serta memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang telah diberikan. Aamiin.

Aku selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Bukan lantaran aku paham jika iman seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Namun lebih karena sejak kecil secara tersirat maupun tersurat, itu adalah sikap yang diajarkan Ibu padaku. Maka aku amat tidak habis pikir ketika ada beberapa orang yang seenaknya mengeluarkan kata-kata menyakitkan, mengiris hati. Seolah ialah paling benar terhadap apa yang mungkin sedang dinilainya. Seolah apa yang dikeluarkan dari lisannya tak bisa menjadi bumerang baginya. Seolah tidak ada yang tak terlihat sedang mengawasi apapun yang ia lakukan selama ia masih bernyawa.

Aku begitu perasa. Karakter yang bagiku bisa menjadi sebuah kelebihan atau kekurangan dalam diri. Aku seringkali tidak ambil pusinh dengan ucapan seseorang. Namun adakalanya ucapan-ucapan itu melekat, ku ingat. Atau ku cerna, padahal ia bisa menjelma racun yang mematikan. Mematikan semangat untuk maju, untuk lebih baik dan lain sebagainya. Karena ucapan yang membangun dan menjatuhkan sudah barang tentu berbeda. Aku bahkan mengingat tiap-tiap empu mulut yang sudah sedemikian lancarnya mengeluarkan kata saat bahkan tidak ada satupun yang meminta. Jika sedari awal sebelum ucapan-ucapan itu keluar aku telah mengetahuinya lebih dulu. Maka telingaku sepakat denganku: tak sudi mendengarnya.

Namun tenanglah. Meski mengingat, aku tidak pernah menaruh dendam. Lebih tepatnya tidak bisa. Kadang aku sebal sendiri mengapa aku tidak bisa? Atau paling tidak, membalas yang sepadan! Tapi mungkin lagi-lagi Ibuku. Beliau yang mematrikan karakter ini bertahun-tahun padaku. Bahwa menjadi pendendam adalah asing bagi kami. Karena kami tak ingin menjadi asing bagi Tuhan kami.

Ibu: “Kenapa ga sekalian di ratakan saja. Bangun pondasi dari awal. Buat semuanya dari bawah, yang baru.”

Bapak: “Ga usah. Perbaiki saja yang rusak. Kita kan sudah tua. Sudah saatnya memikirkan bekal yang akan kita bawa kelak. Sudah tidak lama lagi kita disini. Maka biarlah anak-anak kita yang nantinya membangun yang baru jika mereka mau.”

Begitu potongan perbincangan menggentarkan kedua orang tuaku pagi itu. Banyak bagian yang akhirnya banyak membuat aku merenung. Betapa aku yang masih belum berbakti apa-apa di usia mereka yang kian senja. Aku yang juga belum memiliki bekal yang cukup, karena sejatinya maut tidak pernah mengenal usia. Dan beragam pikiran lainnya.

Aku sendiri memang tidak berkeinginan di masa depan untuk memiliki rumah yang megah, melainkan rumah yang nyaman. Adapun nyaman bisa datang dari suasana, design dan interior rumah yang tidak mesti mahal. Nuansa rumah berwarna putih dengan interior hijau mungkin akan menjadi pilihan utamaku. Sedang suasana yang nyaman dan mendamaikan hati juga tumbuh dari para penghuni rumah yang dipenuhi dengan cahaya taqwa. Rumah yang selalu bercahaya Karena dibacakan kalamullah setiap hari. Rumah yang penuh dengan keberkahan karena acapkali digunakan untuk menggali ilmu, nilai-nilai kebaikan dan tempat untuk kian menundukkan diri kepada Sang Khalik.

Jadi kamu tidak ingin diamanahkan harta berlimpah?
Jika memang itu yang terbaik, maka siapa yang bisa menolak. Boleh jadi arta yang berlimpah justru akan menjadi salah satu jalan yang memudahkan untuk mewujudkan impian-impian luhur. Seperti membangun sekolah gratis, perpustakaan gratis, dan lain sebagainya ketimbang hanya sebagai pelepas nafsu dan memperkaya diri. Memenuhi laci dengan tumpukan perhiasan warna-warni, memenuhi garasi dengan koleksi mobil pribadi, memenuhi lemari dengan tumpukan baju yang selalu baru dan tidak sempat dikenakan sama sekali, atau barisan tas bermerk agar bisa ditampilkan di TV, dan beragam pola konsumtif yang hanya mementingkan diri sendiri. Naudzubillahimindzalik.

Aku percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Jadi siapalah aku yang berani-beraninya menjamin bahwa aku akan selalu memiliki prinsip dan jalan hidup yang sama dari waktu ke waktu. Namun aku selalu berdoa, semoga Allah teguhkan pemahamanku, jika dunia hanyalah sementara. Supaya aku tidak akan pernah lalai dan berbelok arah. Juga, dimudahkan untuk menyiapkan amal baik yang suatu saat bisa ditukarkan dengan rumah yang nyaman di akhirat, yang kekal, abadi, hakiki. Aamiin.


Aku kerap mendapat pertanyaan yang bernada sama seperti: “Buat apa sih, Lut kamu seringkali share kata-kata atau cerita yang menginspirasi dan memotivasi? Toh kamu belum bisa meraih apa-apa.” Untuk kalimat terakhir hanya asumsiku. Hehe, tidak untuk ditiru. Aku sendiri sudah mencoba untuk berhenti karena merasa lebih baik fokus pada diriku yang masih sangat dipenuhi kekurangan dalam menjalani kehidupan yang benar. Namun ternyata itu tak bertahan lama. Aku benar-benar tidak bisa berhenti.

Jawabannya sebenarnya sederhana. Beberapa orang akan merasa sangat berapi-api untuk membagikan apa yang telah dia dapat. Baik itu ilmu, harta dan lain sebagainya. Seperti saat mereka usai mendapat khazanah ilmu dari pengalaman menjelajah dunia, menonton film, membaca buku, dan macam-macam. Mungkin aku salah satu diantaranya. Aku belum memiliki banyak harta yang bisa dibagi, untuk itulah barangkali sembari memperbaiki diri sendiri, aku mau membagikan semangat optimisme memperbaiki kualitas diri pada orang lain. Karena yang aku tahu, banyak sekali pelajaran yang bisa aku dapatkan dengan melihat kehidupan orang lain.

Selalu saja. Keinginan yang menggebu dan terlintasnya pikiran: “Duh! Jangan sampai hanya aku yang mengetahui dan merasakan ilmu dan semangat ini. Harus ada banyak orang yang mengetahuinya.” Walau pada akhirnya akan selalu ada langit di atas langit. Bisa jadi orang yang mendapat apa yang kita bagikan justeru lebih handal dan ahli di bidangnya. Namun alasan semacam itu tidak mampu menghentikan niat baik. Toh dunia ini amat luas dan ilmu lebih luas dari pada itu. Maka akan ada banyak hal yang mesti dipelajari, tak terhitung. Itulah mengapa manusia tidak bisa angkuh dengan apa yang sudah dipahaminya, karena mereka terbatas. Terlebih jika kita (setiap manusia) bisa saling melengkapi, saling memberi arti, saling berbagi dan saling menasehati.

Aku yakin, fitrah ini dimiliki banyak orang di muka bumi. Semacam konsep “Wa ta waa shaubil haq” dalam Islam. Meski memang, bagiku menasehati yang paling benar adalah dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi, itu tidak bisa jadi alasan. Sebab yang perlu dilakukan adalah bukan lantas memilih berhenti dan pandai mencari alasan, melainkan terus bergerak mengaplikasikan. Kemudian terus giat berdoa kepada Tuhan, semoga niat kita selalu tulus dan diluruskan.

Pertanyaan lain juga pernah hinggap di hadapan dari beberapa orang. Mereka bilang: “Untuk apa nyanyi-nyanyi di social media?”. Mungkin jika diterjemahkan dalam konotasi negatif, kegiatan semacam itu yang bagi beberapa orang tidak berfaedah adalah bentuk aktualisasi diri yang negatif. Padahal, bagiku pribadi, itu adalah bentuk untuk meningkatkan percaya diri. Karena jujur, aku masih berusaha meningkatkan kepercayaan diri karena sebenarnya aku tipikal manusia yang amat pemalu. Terkadang tidak semua alasan bisa dibagikan atau bahkan dimengerti oleh semua orang. Tak apa, teruslah memperbaiki kualitas selama itu jalan yang benar dan jangan lupa berdoa pada Yang Maha Mengetahui untuk senatiasa ditunjukkan jalan yang benar untuk belajar.

Sama halnya saat kita mencoba membagikan pesan moral. Boleh jadi kita telah berapi-api saat menyampaikannya. Namun setelah sampai di orang lain, alih-alih mendapat pencerahan, mereka malah merasa kosong tidak memperoleh apa-apa. Ini bisa jadi karena mereka memiliki pandangan yang berbeda, momen yang berbeda dan lain sebagainya. Tak apa, yang terpenting adalah terus memelihara niat yang tulus nan lurus. Kita sama-sama manusia, makhluk mulia. Pun artinya kita memiliki kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah mau atau tidaknya kita mengambil kesempatan itu. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang akan melakukannya?

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates