Orang tuaku terbilang bukan merupakan sosok yang ambisius. Mungkin ini yang kemudian mempengaruhi pola asuh dan akhirnya menjadi salah satu faktor besar yang mempengaruhi karakter dari anak-anaknya. Barangkali, karena hal itu pula banyak dari anaknya tidak pernah berpikir untuk bersaing dan selalu menjadi yang terbaik di antara teman-temannya yang lain, baik itu di sekolah maupun dalam dunia kompetisi yang lebih luas. Sedang bagiku pribadi, jika bahkan ada tekad ingin menjadi lebih baik, itu bukan karena ingin menyaingi orang lain, melainkan ingin menjadi versi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya. Ada plus minus dari setiap kejadian, prinsip dan apapun itu.
Karena bagi mereka, bukankah nilai manusia tidak terlihat dari situ. Pendek kata, ketika kita ingin berteman dengan orang lain, bukan karena prestasi (dalam tanda kutip) yang ada pada diri mereka yang menjadi alasan, tapi lebih pada karakter-karakter yang menetap. Namun tengoklah di masa kini, tak bisa dipungkiri dengan semakin digandrunginya sosial media kadangkala orang berbondong-bondong untuk semakin produktif, semakin berprestasi, semakin menggaungkan hustle culture. Seiring kerap dijadikannya sosial media sebagai tempat untuk membagikan sisi yang baik-baik saja dari sang empu. Hmm, aku pun begitu.
Selalu ada sisi baik dan sisi buruknya. Sisi buruknya adalah sering kemudian orang melihat value dari seseorang hanya dari segi harta, profesi, posisi, paras, prestasinya di kelas, piagam yang dikumpulkan, keterampilan-ketrampilan yang dimiliki, bahasa-bahasa asing yang dikuasai, pengalaman yang dikantongi, ilmu-ilmu yang tinggi dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang kemudian tidak bisa atau belum dianugerahi kesempatan, kebisaan atau kemampuan itu merasa tidak bernilai dibandingkan yang lainnya. Padahal sama sekali tidak demikian.
Sungguh. Aku tidak bilang, menjadi ambisius itu adalah sebuah hal yang buruk karena ambisius tidak selamanya negatif. Justru Indonesia membutuhkan orang-orang yang berpikiran maju dan ingin selalu membuat perubahan yang lebih baik ke depan. Namun yang menjadi fokusku adalah bahwa seringkali kita merasa tidak memiliki apa-apa sehingga cenderung tidak bersyukur---tidak mau mengembangkan potensi dan keunikan---yang sebenarnya dimiliki oleh setiap insan yang bernyawa.
Ini yang juga pernah aku alami. Yang pada akhirnya setelah banyak direnungkan, malah mengundang pernyataan: Untuk apa buang-buang masa hanya untuk memikirkan itu-itu saja. Toh, saat kita tidak menghargai diri kita atau bahkan merendahkan diri kita, itu artinya kita sedang merendahkan ciptaan-Nya. Dan ciptaan yang pertama kali harus menjadi fokus kita adalah diri kita sendiri.
Omong-omong aku tidak pernah berpikir sebelumnya jika orang-orang yang terlihat lebih sempurna dari orang lain (setidaknya saat didefinisikan dari rincian-rincian di atas) juga pernah mengalami hal tersebut. Benar, salah satunya adikku. Aku tidak bilang dia adalah satu-satunya (let say) orang "sempurna" yang memiliki sifat yang demikian dimana dia merasa tidak lebih bernilai dari orang-orang lain. Karena bagiku, setiap orang punya atau pernah di fase ini. Fase quater life crisis dengan isu yang baru-baru ini sedang gencar diperbincangkan di kalangan anak muda, yakni insecurity.
Bagaimana tidak, adikku, anak ketujuh di keluarga kami adalah orang yang bagiku sangat "berprestasi" dan sebenarnya jarang aku puji. Pun ketika ku puji, sebetulnya (insya Allah) beliau adalah orang yang sama sekali tidak terpengaruh dengan itu. Apa sih arti dari pujian? Bukankah sebetulnya pujian adalah jelmaan pecutan yang lebih dahsyat dari cacian untuk kita, yang sebenarnya menjadi motivasi agar lebih bisa mengembangkan potensi yang di titipkan dan kelak akan dipertanggung jawabkan.
Kembali ke adikku. Beliau adalah seseorang yang berprestasi sejak kecil, jika ingin digeneralisir (terlebih dahulu) bahwa prestasi adalah pencapaian-pencapaian yang berkutat di ranking, piala, bahkan inovasi. Maka sejak kecil dia sudah Allah SWT mampukan untuk bisa membaca latin dengan lancar sebelum memasuki pendidikan formal (SD). Adikku belajar otodidak karena menonton serial anak di sebuah acara televisi. Kemudian saat SD, ia sering memperoleh juara kelas bahkan sering didelegasikan ikut berbagai perlombaan. Dia juga sosok yang Allah SWT anugerahi talenta yang banyak. Pintar di beragam bidang, baik itu eksak, sosial bahkan seni. Itulah kenapa lomba-lomba yang diikutinya pun bervariasi. Mulai dari olimpiade mapel, pidato, lomba nyanyi dan lain sebagainya.
___________
Orang tua kami adalah orang yang sederhana. Mereka adalah seorang petani yang tidak pernah bermimpi anaknya bisa sekolah tinggi. Maka prestasi-presentasi semacam itu seolah seperti angin lewat saja. Seperti dianggap sesaat keberadaannya sehingga kerap cepat-cepat dilupakan, namun betul-betul disyukuri. Kemudian, usai lulus dari sekolah dasar adikku berhasil lolos program akselerasi untuk tingkat SMP. Hingga sempat urung dari program itu karena ia tidak ingin membebani orang tua dengan biaya dan berniat masuk di program reguler saja. Namun ternyata sudah garis dari-Nya. Ia Allah mudahkan lolos program akselerasi tingkat SMP dan SMA kala itu.
Aku tidak bilang adikku adalah satu-satunya orang yang pintar namun beliau adalah salah satu orang yang berjuang untuk pendidikannya. Ia berjuang sendiri untuk bisa kuliah. Aku ingat sekali, dia benar-benar nekat merantau ke Surabaya dengan ongkos pas-pasan dan bahkan masih berproses mendaftar di sebuah universitas tanpa pernah berpikir dari mana akan mendapatkan uang pendaftaran dan keperluan akomodasi. Akhirnya dia dipertemukan dengan orang-orang baik yang memberi pinjaman tanpa bunga sepeserpun. Memang, sebelumnya orang tua sudah menyampaikan jika hanya bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SMA saja. Aku pribadi tidak menjamin aku bisa seberani itu. Sebab saat ingin kuliah, aku langsung berkesempatan mendapatkan beasiswa. Saat kuliah Ia sempat bekerja untuk menyokong kebutuhan hidupnya hingga akhirnya beliau Allah mampukan untuk lulus 3,5 tahun dengan predikat cumlaude.
Namun lagi, orang tua kami tidak pernah silau dengan hal-hal yang demikian, yang kata sebagian orang adalah pencapaian yang krusial. Namun aku tahu, mereka juga bangga dan bersyukur. Bagi mereka, pencapaian terbesar adalah melihat anak-anaknya bisa memiliki akhlak yang baik. Sebab at the end of the day, apapun yang melekat pada kita, baik itu skill, ketampanan, dan lain-lain sesungguhnya bukan karena diri kita, bukan karena kehebatan kita. Tapi lebih karena daya dan kekuatan yang Allah berikan sampai akhirnya kita bisa bergerak menempa diri dan mengembangkan tiap potensi.
Intinya, yang aku ingin tekankan: jangan merendahkan diri kita dan jangan juga terlalu membanggakan diri kita. Sebab seringkali kita merasa diri kita ini tidak bernilai atau lebih inferior dari orang lain, bahkan banyak orang. Lalu saat saking bangganya, merasa lebih hebat dari orang lain dan merendahkan orang lain. Juga, ingat, ingat dan ingat bahwa setiap kita unik dan berharga. Jangan sama ratakan warna kulit, keahlian dan apapun itu satu sama lain. Aduhai, aku pun masih belajar untuk lebih menghargai diri sendiri. Kemudian selalu dan selalu mengingat kembali bahwa prestasi terbesar adalah selalu (berusaha dan belajar) menjadi orang BAIK.