Gagal Lagi
Aku tahu, perjuangan untuk mendapatkan
beasiswa memang tidaklah mudah. Banyak rentetan persiapan yang harus dijalani.
Tantangan demi tantangan harus dengan tangguh dilewati. Mulai dari sertifikat
bahasa dengan biaya yang cukup menegarkan kantong. Serentetan syarat administrasi
lainnya yang juga menunggu. Bahkan niat yang tulus dan optimisme yang harus
senantiasa terjaga keberadaannya. Jika tidak begitu, pupus sudah harapan untuk
menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Meski sebetulnya, ini bukan
satu-satunya cara.
Omong-omong, aku memang kadang merasa
aneh dengan diriku. Sebab aku sangat ingin berkelana, menjadi traveller, atau back packer, namun nyatanya keluar rumah saja malas-nya minta
ampun. Masa liburan lebih suka ku habiskan dengan mendekam di rumah. Jadilah
tempat terjauh yang pernah ku lalui dengan motor hanyalah kampus. Namun, sebab
keinginan-ku begitu tinggi untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana, aku rela
menyusuri Surabaya bermodal smartphone
dengan internet yang menyala. Berkali-kali bolak balik sendiri, mengikuti tes
bahasa hingga mencari tempat tes bebas narkoba termurah di sana.
Anak Madura rumahan ini pernah nyasar
selama satu jam karena baterai handphone
yang low-bat. Bak kehilangan kompas,
ia benar-benar kehilangan arah meski sudah beberapa kali bertanya pada
orang-orang di pinggir jalan raya. Lucunya, ia sampai seperti masuk ke daerah
antah berantah. Beruntung terdapat sebuah warung kecil dengan pemilik yang
hangat. Jadilah ia mengisi daya hand
phone-nya sekitar sepuluh menit, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.
Dulu, aku mengira hal-hal seperti itu
bukan bagian dari sebuah perjuangan. Aku pikir, itu adalah sebuah keharusan dan
memang sebuah kewajiban yang harus dilalui. Jadi tidak perlu diapresiasi. Namun
kini aku kian belajar. Belajar untuk menghargai sekecil apapun usaha yang sudah kita lakukan. Karena
dengan begitu, itu juga berarti kita bersyukur sudah diberikan daya dan kekuatan
oleh Tuhan hingga bisa melewati semuanya.
Sampai hari ini, terhitung baru tiga kali
aku telah melamar beasiswa. Kesemuanya belum digariskan untuk ku genggam. Beda,
dengan cerita-cerita orang ‘sukses’ di luar sana, atau thumbnail iklan berbayar di beragam platform sosial media yang
berbunyi “Gagal Sepuluh Beasiswa, Pemuda Desa Ini Kini Diterima di Lima
Universitas Ternama di Inggris”. Hehehe.
Betul. Aku memang belum apa-apa dibanding mereka semua. Barangkali perjuanganku
masih seujung kuku mereka. Pola belajarku juga masih berupa: belajar saat ada
tes atau ujian, bukan karena keingintahuan. Namun, kadang hidup memang bukan
untuk dibanding-bandingkan. Sepatu yang sama persis, tidak menjamin sama juga
perasaan yang dialami pemakainya. Hasil jahitan yang tak seberapa, bukan
berarti tak lebih berproses dari yang sudah bertumpuk karyanya. Maka, mungkin
kali ini akhirnya aku bisa sedikit bercerita kisahku. Semoga ada manfaatnya
meski hanya seujung kuku.
_______
Singkat cerita (yang padahal juga tidak
singkat ini, hehe), usai lulus kuliah
pada 2018 aku yang tidak visioner dalam hal pekerjaan, memilih untuk memikirkan
bagaimana caranya bisa memperoleh beasiswa pascasarjana dengan bahasa Inggris
yang pas-pasan. Hingga akhirnya aku dan sahabatku mencoba untuk mendaftar sebuah
beasiswa belajar di Pare, namun ternyata sudah ditutup. Setelah itu, aku
kembali mendapat informasi dari sahabatku itu jika ada beasiswa lain yang masih
dibuka. Kami pun mendaftar dan qadarullah
aku lolos. Sedang sahabatku, she deserved better. Usai lolos dari beasiswa itu,
aku kemudian mempersiapkan tes bahasa (TOEFL ITP) sebagai salah satu syarat
beasiswa. Juga syarat-syarat lain seperti esai dan lain sebagainya. Hingga pada
2019, setelah perjalanan yang cukup panjang, aku akhirnya dimudahkan untuk
mendaftar beasiswa LPDP jalur Afirmasi – Alumni Bidikmisi. Bagi alumni
bidikmisi, jatah jalur ini maksimal hanya dua tahun sejak lulus.
Sekitar enam bulan proses seleksi beasiswa
tersebut kala itu. Bagi orang yang tidak begitu pintar sepertiku, lolos hingga
tahap wawancara adalah sebuah pencapaian yang lumayan. Sebab aku harus
menghadapi tes akademik dan kebangsaan sebelum akhirnya bisa berjuang ke tahap
wawancara tersebut. Takdir berkata lain, malam itu aku tidak tahu harus berkata
apa saat membaca kalimat: MOHON MAAF ANDA TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Yang
jelas aku baru menangis beberapa jam kemudian. Karena sebenarnya selain memang
Allah SWT yang memutuskan semuanya, aku memang seringkali sudah bisa mengukur
diriku sendiri kala berkompetisi. Aku ingat sekali, dalam persiapan wawancara,
bukannya yakin menjadi agen perubahan, aku malah seperti dibayang-bayangi
pertanyaan: layakkah kamu memegang amanah itu? Dilanjutkan, “ jangan-jangan
kamu memang tidak layak. Ini adalah amanah yang begitu besar.” Betul, ragu pada
diri sendiri membuat aku akhirnya tidak melakukan persiapan dengan matang.
Sebab aku percaya, kekuatan pikiran memang begitu dahsyat efeknya.
Tak mau berlarut-larut, aku bersiap-siap untuk mengikuti LPDP lagi di tahun berikutnya. Namun karena pandemi, LPDP tahun 2020 ditiadakan. Kala itu aku tidak kecewa. Sebab jangankan berpikir untuk kuliah lagi, diberi hidup saja sudah merupakan anugerah tak terkata. Apalagi, pandemi menjadi momen untuk merenungi kembali baik itu tujuan hidup secara umum, maupun tujuan kuliah lagi secara khusus. Pandemi adalah momen perjuangan bagi hampir semua orang. Beruntung, kala yang lain harus berjuang sebab di-PHK, aku justru mendapat berkah dengan membantu guruku. Pekerjaan tidak terikat yang dulu memang pernah aku ucap agar aku bisa sembari melamar beberapa beasiswa tanpa mendzolimi perusahaan swasta. Hingga akhirnya aku melamar beasiswa Turkiye Buslari masih pada 2020. Meski tak memerlukan sertifikat bahasa asing, perjuangan lain datang dari berkas dan esai berbahasa asing, serta isian form yang tidak sedikit jumlahnya. Meski berat meninggalkan orang tua, kala itu aku optimis lolos, bahkan masa menunggu pengumuman tahap satu yang begitu lama aku habiskan dengan sesekali belajar bahasa Turki sebagai bahasa pengantar belajarku nanti. Namun lagi-lagi aku harus menghadapi kegagalan yang juga disertai banyak pelajaran.
Jumat,
24 September 2021, aku membaca tulisan: SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI
ADMINISTRASI. Allah SWT, padahal H-2 pengumuman aku membaca esai-ku dan
mendapati masih banyak memerlukan perbaikan. Namun akhirnya aku sangat
bersyukur bisa sampai di tahap itu. Diberikan kelancaran yang sangat luar biasa
hingga bisa lolos di tahap pertama seleksi LPDP 2021 Jalur Reguler (Jalur
seleksinya relatif lebih ketat dari Afirmasi) meski tak seuforia dulu. Maksudku,
bukan karena tidak bersyukur secara menyeluruh tapi kegagalan demi kegagalan membuatku
berpikir bahwa apapun yang sudah menjadi rezeki kita tidak akan pernah meleset
barang sejengkal.
Selasa,
19 Oktober 2021, pengumuman hasil seleksi substansi sudah bisa dilihat. Kali
ini, terpampang lagi kalimat dengan huruf-huruf besar itu: MOHON MAAF ANDA
TIDAK LULUS SELEKSI SUBSTANSI. Aku tak bisa berkomentar apa-apa. Aku bahkan
tidak menangis, sebab air mataku sudah kering usai tes akademik dan kebangsaan
pada 13 Oktober lalu. Bagaimana tidak, aku sudah yakin tidak lolos passing grade, meski passing grade tiap jalur masih menjadi
misteri. Selain karena tingkat kesulitan soal yang lumayan lebih tinggi, aku
juga dihadapkan dengan aplikasi yang error
berkali-kali. Bahkan aku kehilangan sekitar 30 menit waktu ujian pada bagian yang
krusial, yakni part kuantitatif---karena aplikasi ujian yang kurang bersahabat.
Semua sudah takdir dari-Nya. Namun mungkin kesalahan yang menjadi pelajaran
bagiku adalah tidak men-setting alat ujian jauh-jauh hari. Walaupun sebetulnya
aku memang sudah melakukannya, walau hanya 3 hari sebelum hari H, sebab panduan
tes dikirim H-5. Namun aku tidak menyalahkan semua itu. Aku sangat yakin,
rezeki tidak akan lari kemana. Hanya saja, yang membuatku bersedih kala itu
adalah bayangan orang-orang yang sudah membantuku. Bayangan orang-orang yang
sudah mendoakanku. Bayangan orang-orang yang sudah mendukungku. Tapi bantuan,
doa dan dukungan mereka semua tidak akan pernah sia-sia. Sama halnya seperti
perjuangan yang sudah aku lakukan, meski hanya sebesar biji zarrah. Insya Allah.
Mungkin
pesanku untuk adik-adik yang juga sedang atau ingin memperjuangkan beasiswa, insya Allah lillahita’ala, jangan
ragukan dirimu. Sebab siapapun boleh memperoleh akses pendidikan dan berhak
serta bertanggung jawab untuk berkontribusi pada negeri ini tanpa memandang
warna kulit, suku maupun ras. Juga, jangan patah semangat untuk mempersiapkan
dengan sangat matang. Bagiku, keyakinan berasal dari doa yang deras dan
usaha yang keras. Iya, dua pesan tadi
juga dihaturkan pada diriku saat ini dan nanti terlebih dahulu. Lalu yang
pasti, jangan berkecil hati dengan apapun hasilnya. Allah SWT Maha Mengetahui.
Anyways,
dulu, jika ada orang yang tahu (kecuali keluarga dan sahabat-sahabat terdekat)
bahwa aku tengah melamar beasiswa atau berproses, aku malu karena khawatir akan
sombong dan dikira sosok yang pintar. Akhirnya, saat beberapa mulai mengetahuinya,
aku jarang menimpali mereka dengan serius, padahal itu bisa menjadi momen untuk
minta didoakan hasil yang terbaik. Karena kadang dengan banyak orang yang tahu bisa
menjadi jalan untuk memperoleh doa sehingga harapannya akan ada lebih banyak
doa, dari siapapun itu. Sama seperti menceritakan kegagalan. Selain sebuah healing kata Ibu Teti, ini adalah cara
lain untuk menuai doa-doa terbaik. Iya, berbagi kisah ini adalah saran dari
beliau. Terima kasih banyak nggih, Bu.
Salam
sungkem dan terima kasih yang sangat mendalam juga saya sampaikan kepada
guru-guru saya yang lain. Ibu dan bapak dosen saya di kampus yang telah banyak
membantu, mendukung dan mendoakan saya. Bapak Dekan, Bapak Andrie, Ibu Teti dan
Ibu Ratna yang sudah berulang kali memberikan surat rekomendasi dan me-review esai saya di sela-sela jadwal beliau-beliau
yang sangat padat. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan limpahan
kebahagian kepada beliau semua beserta keluarga. Juga pada kita sekalian. Aamin
allahumma amin.
0 komentar