Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Dikutip dari buku Terapi Berpikir Postif karya Dr. Ibrahim Elfiky, “layar setan” adalah sebutan untuk televisi yang ia dengar dari seorang khatib saat shalat Jumat di Montreal. Sebutan itu disematkan karena melihat fenomena tentang banyaknya waktu yang kita habiskan sia-sia karena menatap layar televisi begitu lama dengan tayangan yang juga sia-sia. Beliau juga menyatakan jika kegiatan itu tidak bermanfaat dan justeru membahayakan. Sebab lanjut sang khatib usai ditanya lagi oleh Dr. Ibrahim, “Allah memberi kita akal agar digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Dengan akal kita diperintahkan banyak berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Dengan akal pula kita diharapkan dapat semakin dekat kepada-Nya. Tetapi, ternyata ada orang yang menjadikan akal yang luar biasa ini untuk kejahatan. Kita lihat televisi yang menayangkan para artis yang erotis. Tujuannya tentu mengumbar syahwat, menjadikan masyarakat, terutama kaum remaja, terjerumus ke lembah perzinaan.” Masih dari buku tesebut, sang khatib melanjutkan, “Kalau pun ada berita, bahasa yang digunakan bersifat negative dan membuat orang yang menyaksikan merasa pesimis. Selain itu, televisi mempengaruhi dan menakut-nakuti masyarakat dan mendatangkan kehidupan yang ironis. Bahasa kita menjadi negative dan menyedihkan gara-gara layar laknat itu. selaku dai, aku berkewajiban mengingatkan masyarakat akan bahayanya.

Dari kutipan itu kita bisa belajar dari contoh yang begitu sederhana namun amat bermakna, bahwasannya media informasi mempunyai kekuatan besar untuk mempengaruhi pemirsanya. Seperti halnya perubahan zaman yang kian tidak jelas bentuknya, seperti itu pula program-program yang disajikan dalam televisi semakin tidak beretika dan sama sekali tidak membantu kita mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana tidak negri mendengar bahsa yang digunakan dalam berita-berita kriminal. Keterangan yang seringkali disampaikan secara terang benderang kadang menyalahi kode etik dunia pers. Belum lagi bertopeng kepedulian palsu  pemaksaan mewawancarai pada momen yang tidak pas acap kali menggelembungkan beberapa pertanyaan. Acara anak-anak dengan konten tak patut seolah lumrah ditemui. Memang, tidak semua stasiun televisi menghadirkan acara bobrok. Masih ada stasiun televisi yang mampu menambah ilmu dengan mendatangkan orang-orang arif yang ahli di bidangnya. Akan tetapi pada kenyataannya, program-program yang lebih diminati banyak elemen masyarakat adalah program yang cepat atau lambat hanya mendatangkan kerusakan, sia-sia dan menumbuhkan pikiran-pikiran negatif. Sebab kebanyakan program bagus di tayangkan pada jam-jam yang tidak lagi ada minat untuk menyaksikannya. Sedangkan program tidak mendidik, justeru dihadirkan pada jam yang seolah selalu tepat sasaran untuk meninabobokan masyarakat agar amnesia terhadap masalah-masalah krusial. Belum lagi, stasiun-stasiun yang berkompeten menebar manfaat, biasanya sepi akan sponsor. Lalu bandingkan dengan stasiun televisi yang kerjaannya promosi diri dan unjuk gigi meski belum masa pemilu, maka iklan yang ditayangkan akan lama, beruntun seperti tabrakan.

Media informasi berupa televisi seolah nyata dikuasai oleh kaum berduit dan pandai mengelabui para pemirsanya dengan suguhan yang dianggap menarik. Penikmat, yakni masyarakat awam tetaplah menjadi penikmat tontonan kala penat, tanpa mengetahui dampak dari apa yang ditontonnya. Tanpa menyadari bahwa opini mereka sedang digiring untuk senantiasa berpikir negatif, mudah melontarkan perkataan kotor, bergaya hidup konsumtif, dan lain sebagainya. Sekali lagi memang, masih ada program yang mencerdaskan bangsa, tapi jumlahnya hanya beberapa. Yah, daripada tidak sama sekali. Pun ada program perihal ilmu agama, meski durasinya kerap kali dipotong-potong dan terasa tampil seperti kaset rusak. Ah, sungguh masih banyak channel yang menyuguhkan tayangan dengan khazanah ilmu yang berkesan asal kita pandai-pandai memilah dan memilih. Banyak berarti jamak atau lebih dari satu.

Layar setan dewasa ini tentu bukan melulu berupa televisi. Tengoklah kanan kiri kita, beberapa langkah dari kita, atau bahkan dalam gengaman kita sendiri. Ada seonggok benda yang jauh lebih fleksibel saat dibawa kemana-mana. Di dalamnya kita bahkan bisa mendapat informasi yang belum benar keberadaanya. Sebab benda itu bisa dikatakan sebagai media informasi yang super ajaib. Berita bohong, ujaran kebencian, game tidak tahu sopan santun, gambar-gambar atau video yang aduhai cemewew, bisa diakses siapa saja dengan hanya menyentuhkan jemari bagi anak dibawah umur sekalipun. Jangan tanya tentang pola hidup konsumtif, setiap hari kita akan dijejalkan dengan informasi mengenai pola itu secara gratis karena akses internet tersedia dimana-mana. Siapa yang tidak tahu benda itu. benda yang katanya bernama smartphone dengan panjang sekian inci itu mampu menjadi penentu pola pikir dan hajat hidup orang banyak. Lagi-lagi memang, tidak semua orang yang terjerambab dalam jurang yang dipenuhi dengan kenegatifan karena benda tersebut. Segelintir, eh maksud saya, banyak yang justeru dengan nyaman berenang dalam kolam bergelimang dengan pola pikir yang kemudian melahirkan perilaku-perilaku positif. Kumpulan orang-orang yang tidak hanya berpikir menjadi penikmat, tapi pembuat, tak mau kalah karena ingin menebar manfaat. Kolam itu terletak persis di samping jurang. Terpeleset sedikit, tamatlah riwayat hidup banyak orang. Pertanyaannya, berada disisi manakah kita? Apakah di bagian mereka yang hidupya kian mudharat karena sebuah benda atau di bagian mereka yang hidupnya kian mampu membagi manfaat? Atau jangan-jangan hanya berkedot dan terlihat member manfaat saja? Yang jelas, semoga kita terus berada di jalan kebaikan, jika hendak atau telah berbelok semoga selalu diluruskan kembali.

Pada hakikatnya semua kembali kepada pilihan masing-masing orang. Ingin memilih menutup diri dengan mencari jalan sendiri untuk terus mendapatkan ilmu dan informasi tanpa harus bersinggungan dengan hal yang sia-sia. Atau tetap membuka diri dengan tetap berusaha membentengi diri. Bagi saya, tak apa bermain game, tapi apa jadinya jika bermainnya di depan pasien yang sedang sekarat? Tak apa mendengarkan musik, tapi tegakah melakukannya disamping orang yang tengah sakit gigi. Tak apa  mengamati sinetron sejenak, asal berpikir kemudian bergerak untuk menciptakan sinetron yang baik dan mendidik. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jadilah bijak terhadap diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita dan orang lain di sekitar kita. Jadilah bijak dengan cara yang bijak, bukan memaksakan kebijakan diri sendiri agar terlihat bijak dan bersahaja. Tetaplah berhati-hati menjaga hati, karena layar setan dan jurangnya ada dimana-mana dan mampu menjerumuskan hati. Akhir kalimat, semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita. Aamiin.

"Jadi wanita karir aja! Jangan jadi IRT!" Kira-kira begitu kalimat yang sering saya dengar. Seolah menjadi IRT adalah profesi yang sama sekali tidak perlu dipandang. Kesuksesan wanita hanya dilihat karena dia mampu berdasi dan menyamai pria. Juga dilihat dari berapa banyak rupiah yang berhasil ia hasilkan. Padahal sejatinya, bukan itu tujuannya. Wanita hanya ingin sama bermanfaatnya dengan seorang lelaki. Hanya itu.

"Sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi IRT?" Hmm, mereka kira gampang mengurus keluarga? Mereka kira didikan siapa yang melahirkan banyak anak bangsa mengagumkan di luar sana? Mereka kira sebuah negara yang berhasil tidak disumbang sama sekali oleh kehadiran IRT? Mereka kira dibalik kesuksesan seorang pria itu ada siapa? *Hehe, etdah kek nyolot amat ya kalimatnya, aslinya ngga kok.*

Menjadi IRT bukan perihal menyiapkan sarapan, pakaian, dll. Tapi juga tentang menyiapkan anak-anak berakhlaqul karimah, memiliki etika yang baik dan menjadi pribadi yang arif nan santun. Mengajarkan hakikat kehidupan, dunia, kesuksesan dan banyak hal lain yang seringkali banyak orang salah mengartikan.

Kalau boleh memilih justeru lebih indah menjadi IRT. Fokus mengurus keluarga dengan semaksimal yang bisa dilakukan. Tapi keingingan untuk terus berkarya dan berbuat lebih tentu tak dapat dibendung. Selama terus menancapkan komitmen untuk melakukannya beringingan, kenapa tidak? Dewi Nur Aisyah adalah salah satu potret IRT yang pandai menyeimbangkannya dengan membuahkan banyak karya bermanfaat. Memang berat. Tidak akan pernah semudah yang dibayangkan. Namun, kalau semua dilakukan karena lillahita'ala pasti akan ada saja cara Allah untuk memudahkan langkah kita. Tidak hanya bermanfaat untuk keluarga tapi juga umat. Seperti IRT yang juga berprofesi sebagai guru, designer, petugas bank, penulis, pengusaha, dll. Mereka tidak hany berguna karena mengabdi pada keluarga, tapi juga negara. Karena mereka mampu mencerdaskan bangsa, membuka lapangan kerja, menebarkan ilmu, dll. Pun walaupun kamu adalah seorang pure IRT, itu tentu tidak akan membatasi kamu untuk berkarya. Akan selalu ada jalan untukmu mewujudkan cita-cita luhur bangsa.

Mungkin kamu seorang IRT yang dulunya memiliki cita-cita yang hebat. Seperti menjadi dokter, menteri, penghafal al-Qur'an dan lain sebagainya. Tak apa, kamu bisa menjadi IRT hebat yang memiliki anak yang menjadi dokter, menteri, dan lain-lain.

Fenomena perihal hanya menjadi seorang IRT ini sudah menjadi paradigma yang salah dan lumrah. Akan sering telinga kita diperdengarkan dengan kalimat, "dia itu loh cuma jadi IRT. Pdahal sering juara kelas." dan kalimat lain yang bernada nyinyir dan sinis.

Dengan tulisan ini saya mengajak kepada kita semua untuk tidak ikut serta menyirami paradigma itu lantas kian subur adanya. Semoga kita menjadi orang yang tidak mudah mendiskreditkan sesuatu. Terus berkarya bukan berarti meludahi orang yang belum berkarya. Kehidupan tidak statis, melainkan dinamis. Ada kalanya kita berada di bawah dan ada kalanya Allah gariskan kita berada di atas. Tetaplah rendah hati dan berpikir lantas bergerak membangun negeri.

Ah, akan menjadi amat mudah menuliskan tanpa mempratekkan. Apalagi tulisan ini hasil dari ketikan seseorang yang bahkan masih belum menikah dan merasakan bagaimana mengurus rumah tangga. Hmm, bukankah belajar sesuatu tidak mesti mengalaminya sendiri. Dengan melihat mozaik kehidupan seseorang juga bisa tengah belajar. Barangkali dengan tulisan yang sejatinya tujuan pertamanya mengingatkan diri sendiri ini mampu menjadi pengingat lagi kala dibaca di kemudian hari. Sebab yang seringkali terjadi memang begitu. Kala salah dan hilaf mulai menguasai diri, akhirnya membaca beberapa oretan yang telah ataupun belum dipublikasikan. Alhasil, acapkali tertampar dengan tulisan sendiri. Baiklah, semoga kita bisa menjadi manusia mushlih yang terus saling menasehati dengan hikmah dan diberi kemampuan untuk senantisa mempertanggung jawabakan setiap kata yang pernah kita tulisakan. Aamiin.

----

[Pesan-pesan berikut ini] "Mbak, mbak. Apa?  Topiku ketinggalan." "Hade, cape de." || Akhirnya balik NGANTERIN topi dan ketemu temen yang NGANTERIN anaknya yang berusia 4,5 tahun lalu aku lupa pas  SALAMAN sama temenku pake gaya SALAMAN ala anak gahol. (Baca satu kali tarikan napas ya!) *krik.

Grup WhatsApp teranyaaaar!~ kalo ga ngomongin pasangan, ya momongan, dan -ngan lain. Dagangan kale -___-
Akhirnya aku kaboooor, hehe.

Btw, jadi inget beberapa tahun lalu, pas Pak Ali ngeliat telapak tangan kami satu-persatu. Beliau memang punya kemampuan lebih. Tapi sebelumnya beliau mewanti-wanti kami, jangan sampai ini kami anggap sebagai ramalan, apalagi sampai amat dipercaya. Anggalah ini cuma sebagai permainan, ujar beliau. Kami setuju. Lagipula, kami tidak ingin 40 hari sholat kami hangus hanya karena meramal masa depan. Beliau pun memulai aksinya. Ia melihat telapak tangan Luluk Ita. Beliau tersenyum. Kami penasaran.

"Luluk ini akan jadi orang pertama disini yang menikah," kata beliau lancar. Kami pun ramai. Dan benar, qadarullah, Luluk Italah yang menjadi orang pertama yang menikah di kelas. Tentunya usai lulus. Kemudian beliau melihat telapak tangan Hulwanur Rosida. Beliau tersenyum, kali ini ia bubuhi dengan tertawa.
Hulwanur, yang kala itu kurus dan tinggi cenderung begitu langsing---pun penasaran. "Kamu dulu waktu bayi gendut ya, Hul?," beliau melanjutkan, "pipimu juga begitu cabi."
"Hehe, iya, Pak. Fotonya juga masih ada," timpal Hul.

Pak Ali akhirnya meneruskan perjalanannya, secara acak, ada yang terlewatkan, ada juga yang tidak beliau sampaikan. Sampai akhirnya heliau tiba di samping mejaku. Beliau terperanjat, kaget melihat telapak tanganku.
"Wah, Lutfia ini! Wah," kata beliau. Lalu beliau seolah menutupi kekagetannya dengan tersenyum. Aku pun bertanya, "Kenapa dengan saya, Pak. Apa yang Bapak lihat?"
Beliau tidak menjawab pertanyaanku melainkan hanya dengan kalimat, "Hehe, ngga. Ga pa pa." Kemudian beliau beranjak ke yang lain dan menyudahi aksinya. Ada banyak yang belum beliau lihat telapak tangannya. Aku lupa kelanjutan kisah ini. Sebab fokus perhatianku tertuju kepada pertanyaan yang berputar-putar di dalam benakku.

"Ah, bukankah beliau sudah berpesan untuk menjadikan ini permainan agar fun. Lantas untuk apa dipikirkan?"

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates