Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Bangkalan, 16 November 2015
Sulit dipercaya, malam ini aku naik motor begitu jauh. Hal itu muskil bukan karena aku baru belajar bersepeda motor namun karena ijin bapak yang muskil ku dapatkan. Untung saja bapak sedang bekerja. Diperjalanan aku masih belum percaya bahwa angin dingin yang menerpa wajahku itu nyata, aku juga sangsi kalau kendaraan yang berseliweran itu nyata, motor yang kutunggangi, bahkan diriku sendiri. Apakah aku nyata?
Dahlan kecil pernah mempunyai impian untuk bersepeda kesekolah supaya lebih efisien sehingga waktu yang lain itu dapat digunakan untuk kegiatan bermanfat lainnya.
Aku sendiri seringkali menyusun-nyusun kata-kata permohonan pada bapak. Seperti:
‘’ayolah pak, anakmu ini sudah pandai menjaga diri. Bahkan lebih pandai dari seekor tupai”
Atau:
‘’pak, saya janji saya tidak akan ngebut. Hanya 0 Km/Jam! *eh”
Atau kalimat yang dianjurkan temanku:
‘’pak, saya ingin menjadi mahasiswa seutuhnya, ingin belajar organisasi. jika saya tidak dijinkan ngekos. Maka ijinkanlah sayaaa…’’
Namun, kata hanyalah kata, kalimat hanyalah kalimat. Semua itu seakan tertelan begitu menghadapi bapak. Bukan karena beliau akan marah, mengamuk, lantas berteriak sampai memekakkan telinga. Bukan! Tapi wajah muram beliau telah menerjemahkan segalanya. Aku tahu beliau akan ketar ketir Karena kuatir. Seringkali pernyataan bapak--untuk mengantar dan menjemputku saja-- membuatku merasa bersalah. Sungguh, meskipun aku sering sekali menyusahkan orang lain, namun aku sangat membeci hal itu. Maka dengan segenap hati aku tolak tawaran yang satu itu mentah-mentah. Ya, mentah-mentah, tanpa dimasak. Padahal aku senang sekali memasak. Eh, senang memasak bukan berarti jago memasak. Jago? Emangnya ayam? Nahloh, kok jadi kesitu?!!!
intinya, akan aku jalani hidup ini apa adanya. Akan aku terima. Toh hidupku tak sesulit para pendulang timah di belitong. Toh bapak tidak marah walau aku sampai malam hari di rumah. Hebat betul kuliah itu! Omong-omong apa saja yang telah ku dapat ya? Toh aku hampir selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Maka, akan aku terima dengan lapang.

Tapi ijin dari ibu yang meluap-luap meski tak dapat dipungkiri beliau juga khawatir --walau tak se-over protektif bapak—seringkali menggodaku.

Maulidin teman SD-ku, prodi ilmu hukum, jarak rumah kami dekat dan dia boleh berspeda motor. Hahaha..

Rohman adikku, masih kelas enam SD dan bapak membolehkannya bersepeda motor ke sekolah. Heufh!

‘’Habis gelap terbitlah terang’’ petuah Ibu Kartini menari-nari dikepalaku.

NB: Ambillah pesan penting dari oretan ini, kalo ga ada ga usah dipaksain. Masih banyak hal penting lain!

Bangkalan, 1 Desember 2015

Adakah kesuksesan yang sudi menghampiri orang yang menghabiskan sisa waktunya untuk berjam-jam membaca Wattpad? Atau mau menyertai remaja tanggung yang sepertinya sedang jatuh cinta dengan permainan bernama Clash Of Clans hingga tak pernah seharipun dilewatkan untuk menggosok-gosok layar hape pintarnya?
Entahlah, aku benar-benar tak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Hanya saja aku memiliki beberapa analisa seperti: bisa jadi si pembaca Wattpad akan menjelma menjadi penulis buku religi kelas kakap, atau pemain game akan memiliki akhir cerita layaknya di Flm Top Secret. Apapun itu tetap saja dari berbagai sisi aku tidak suka Wattpad dan COC. Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? setiap waktu aku hanya berkerumul dengan banyak pertanyaan. Adakah kesuksesan untukku?

Puncaknya, pertanyaan demi pertanyaan kian berkembang biak begitu ganas, menyesaki pikiranku. Saat mendengarkan ceramah dosen, atau saat menggoreskan pen di permukaan kertas, atau saat mengikuti kegiatan serupa namun dengan sebutan berbeda yaitu praktikum dan atau-atau lain, seperti saat mengenakan baju putih kedodoran, aneh sekali bukan. Kemudian tes yang sebelumnya dihadapi dengan merapalkan beberapa paragraf dalam kertas fotokopi yang dijilid, yang mereka sebut dengan modul–dan banyak hal lainnya–rupanya tak menyurutkan frekuensi pertanyaan yang ada dalam benakku.
Adakah kesuksesan untukku?
Benarkah kesuksesan itu sudi menjadi bagian hidupku kelak atau bahkan nanti? Lagi-lagi entahlah, aku tak lebih dari manusia yang GUGUP menatap masa depan. Masa depan didunia, apalagi di akhirat. Aiih, kenapa jadi pesimis begitu?!! Tidaak!!! TIDAK boleh!!!
“Haduuh, siapa sih itu teriak-teriak?!! Berisik tauk!”
“Weiih, Aku kan teriaknya dalam hati, kamu kok bisa denger?,”
“Iya dong, aku kan disebelahmu,” jawab Jantung cengar cengir.
“Huaa.. iya ya (-_-!),” tanggapan Hati dengan takzim.
“Heh.. kalian malah ngobrol! Ga kasian ngeliat aku dari pagi ga diisi?,” Lambung menyambung perbincangan dengan nada melambung.
“Lalu apa yang bisa kami bantu?!!,” jawab Hati dan Jantung kompak.
Perbincangan pun semakin panas dan aneh. Tidak hanya Lambung, Hati dan Jantung yang terlibat dalam ketegangan itu, namun organ-organ yang lain juga ikut menyumbang suaranya. Kecuali otak yang terus berkerumul dengan pertanyaan-pertanyaan, atau mulut yang tak mau mengeluarkan secuil suara pun. Jadi suara semacam apa yang dikeluarkan organ lain? Hmm.. Lambung mencak-mencak mengalahkan kegaduhan organ yang lain.
Akhirnya inilah saatnya oretan ini harus diakhiri, karena tak ‘kan ada akhir. Belum ada akhir maksudnya. Belum ada jawaban lebih tepatnya. Harus diakhiri sekarang juga. Sebelum menyesatkan lebih jauh nantinya. Sebelum lebih aneh lagi. Sebelum bikin darah tinggi. Kapan sudahnya kalo se-belum mulu ini!!!
Babaiii..
Nb: Buat adik-adik yang masih belajar menulis, jangan dicontoh oretan yang urakan ini. Apalagi dijadikan rujukan buat belajar dikelas atau dijadiin dasar teori laporan sama kakak-kakaknya mungkin. Hehehe. Jangan yaaa adik-adik! Soalnya, oretan ini tidak menganut paham EYD. Parahnya lagi, banyak kata yang tidak baku. Kalo diamalin inti maknanya, bolehlah.
بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).


Suara Syeikh Masyari Rashid melantun indah dan syahdu, menentramkan kalbu...



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates