Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Malam itu aku iseng mencari, barangkali ada acara yang bisa ditonton di TV yang nyaris tak pernah ku nyalakan lagi. Saat berhenti di acara berita aku langsung berpindah ke channel lain karena tak ingin pusing yang menderaku kian berpilin. Hingga akhirnya berhenti di sebuah film lama tahun 80-an. Film ini sangat populer dan fenomenal pada masanya. Pun tokoh-tokoh di dalamnya begitu lekat dalam ingatan masyarakat.

Seolah diri yang sudah terbiasa mengkritik dan mungkin setelah ditelaah barangkali bergeser menjadi nyinyir. Aku bertanya dalam hati "Ah, apalagi sih ini. Apa ada manfaatnya? Jangan-jangan hanya penuh dengan adengan yang mengedepankan aspek sensualitas sebagai bumbu." Begitu komentar dari seorang yang bahkan belum berbuat apa-apa untuk negeri, apalagi membuat film atau serial di televisi---spontan. Padahal itu bukan acara yang dibawakan oleh Komeng. *krik.

Aku jadi ingat potongan materi dari salah satu Komedian yang aku lupa namanya. Katanya, seringkali kita mencela sinetron tapi akhirnya ditonton juga. Hingga sinetron usai, sampai itu pula kita akan terus mencerca. Hahaha. Dan agaknya saat itu aku juga terjebak dalam potongan materi itu. Karena ingin lebih dalam mengkritik aku memutuskan untuk menonton hingga segmen awal usai. Tapi rasa penasaran ternyata membuatku menamatkannya. Bagaimana tidak, ternyata aku telah salah sangka. Untuk yang ini, bisa dibilang pesannya begitu menggugah dan related dengan apa yang aku alami. Setidaknya itu pendapatku.

Singkat cerita (versi lengkapnya bisa ditonton sendiri. Sebab sesuatu yang ditonton bolehlah sama, tapi perspektif kadangkala sangat berbeda. Ini hanya sudut pandang asal ala aku saja.) isi film berkisah perihal sebuah desa yang seolah diberikan kutukan dengan makin merajalelanya teluh. Awalnya santet dialami putri kepala desa yang belum lama dilantik. Seperti telah terskenario rapi oleh dukun yang sebenarnya dulu merupakan lawannya saat menjabat sebagai kepala desa. Di lain sisi, seorang gadis desa difitnah sebagai pelakunya, dia pemeran utamanya.

Cerita bergulir, sang gadis diangkat menjadi murid si Dukun, dengan dalih untuk membalaskan dendamnya---atas tindakan warga yang anarkis setelah termakan fitnah---yang sebenarnya adalah dendam dukun itu pada masyarakat desa dan lurah terpilih. Desa itupun kian semwarut seiring makin jauhnya masyarakat dengan amalan-amalan agama. Lihatlah, masjid berbahan kayu saja sudah rapuh dimakan rayap, berdebu dan nyaris ambruk karena tak ditempati apalagi dirawat. Sholat saja tidak, apalagi mengaji.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda taat beragama dari kota yang heran dengan keadaan desa itu. Pemuda itu perlahan mengajak warga desa untuk kembali dekat dengan Allah SWT. Mengetahui hal tersebut si dukun tak ingin tinggal diam. Ia menghasutnya untuk kembali ke kota. Sang pemuda menimpali bijak, "Bagaimana aku bisa kembali ke kota. Disinilah aku dilahirkan." begitu kira-kira. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki yang hijrah ke kota dengan pamannya untuk menimba ilmu di sebuah pesantren. Lalu kembali ke desa untuk mencari adiknya, pemeran utama yang diperankan oleh Suzzana. Gadis baik nan jujur, keturunan baik-baik, namun harus sesat karena ilmu hitam dan guru yang salah. Ringkasnya, pemuda inilah yang menjadi perantara untuk memperbaiki kekacauan di desa.

Dari situ aku jadi merinding sendiri mengingat ternyata memang banyak benarnya. Tentang peran pemuda begitu besar sebagai agen perubahan. Kalau di dunia kampus, salah satu peran mahasiswa dalam masyarakat memanglah agen of change. Menimba ilmu hingga ke negeri orang, lalu kembali ke tanah kelahiran untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Walau pada beberapa konteks, berbuat sesuatu juga bisa dari tempat yang jauh.

Seputar peran pemuda inilah yang membuat aku dan ibu kadangkala berbeda pengertian. Normal, karena zaman kita pun tidak sama. Kata ibu, belajar ilmu umum sekedarnya saja. Tapi tidak dengan ilmu agama. Benar-benar harus dikejar, di-upgrade selalu. Salah satunya dengan belajar di pesantren.

Walau begitu, beliau tetap tidak memaksakan kehendak. Contoh kecil, tidak memaksakan anak-anaknya mendapat nilai yang bagus di kelas, juara, atau bisa terlibat dalam ragam kompetisi. Mungkin karena memang tidak begitu sesuai dengan prinsipnya. Sebab sering sekali beliau bilang, "Yang penting sudah bisa adhuwâaghi rebbâ (Rebbâ dalam bahasa Madura adalah tradisi bersedekah makanan disertai dengan doa-doa, yang pahalanya diniatkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Wallahua'lam), aku sudah bahagia." Inilah yang menurutku membuat kami tidak ambisius mengejar sesuatu. Meski ambisius memiliki banyak sisi.

Sedang aku berpendapat jika ilmu umum juga sangat penting. Sebab orang-orang amanah yang kelak diberi amanah akan membawa kehidupan yang lebih baik. Jujur, aku memang terkesan lebih mendukung untuk kuliah daripada di pesantren. Namun aku juga tidak menegasikan jika banyak yang dimampukan oleh Allah SWT untuk menjalani keduanya bersamaan. Tetap saja, ibu memiliki pendapat yang berbeda. Fokus (mondok) insya Allah akan mengantarkan pada sesuatu yang jauh lebih baik. Aku lagi-lagi tak begitu setuju walau telah mengetahui jika banyak lulusan pesantren yang dengan izin-Nya menjadi 'orang-orang hebat'.

Setelah menonton film itu, aku jadi berpikir lagi. Sangat betul ilmu umum itu penting, tapi ternyata ilmu agama juga utama. Lingkungan, guru, doa dan seterusnya adalah faktor-faktor penting pembentuk sebuah generasi. Pemahaman yang benar, akan melahirkan para agen perubahan yang arif dan bijaksana. Ngeri saat membayangkan generasi penerus nantinya makin anti ke masjid, misalnya. Tak seperti dalam film, masjid-masjid yang ada di desa-desa akan mentereng dan bagus-bagus, namun sayangnya S-E-P-I. Naudzubillah. Maka boleh jadi, mimpi ibuku yang sesederhana adhuwâaghi rebbâ adalah bentuk untuk tidak memberikan pressure, melainkan menuntut ilmu dengan hati yang lapang. Tapi siapa sangka, barangkali di balik itu ada doa-doa yang beliau panjatkan. Seperti lahirnya agen-agen perubahan sebuah peradaban.

Motor yang kupacu 'otomatis' berhenti saat lampu merah jalan raya menyala. Kulirik halus dan diam-diam seorang adik yang terdiam di trotoar. Membawa kemucing sebagai senjata ampuhnya untuk mengisi hari-hari. Aku tidak tahu banyak, jika mungkin saja aktivitas itu juga satu-satunya cara agar bisa membeli sepiring nasi. Yang aku tahu dia hanya terpaku disitu. Mungkin karena tidak ada mobil mewah yang bisa dilap. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang terus mengamen dengan alat musik seadanya.

"Ah, betapa masih belia anak-anak itu. Wajah-wajah polos yang harusnya mengisi ruang-ruang kelas untuk berdiskusi, pusing dengan soal-soal, atau melayangkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan," ucapku lirih dalam kalbu. Hmm, lagi-lagi aku juga tidak mengerti. Apakah ini lebih karena ekonomi yang pas-pasan, atau memang sebuah pilihan. Sebab sebenarnya pilihan-pilihan berat memang selalu ada. Sama sepertiku, waktu itu. Mungkin. Sedikit.

Kala itu aku benar-benar tidak berniat untuk kuliah. Betul, mungkin aku lebih beruntung dari mereka yang sudah sejak dini putus sekolah. Namun yang ku maksud adalah aku yang tidak pernah berpikir bahwa pendidikan adalah hak setiap anak manusia, hingga patut diperjuangkan. Selain karena orang-orang di lingkungan desaku belum begitu familiar dengan berkuliah kala itu, aku memang berpikir ulang mengenai kemampuan orang tua untuk membayar.

Hingga guruku menyertai dengan pemahaman bahwa ada beasiswa, salah satunya dari pemerintah. Dan salah satu sarat untuk bisa lolos adalah dengan nilai yang stabil dan senantiasa meningkat per tiap semester. Itulah satu alasan kenapa aku berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki pola belajar saat di MA. Karena aku paham, aku bukan sosok jenius dengan nilai yang gemilang.

Ku pelajari bagaimana teman-temanku mendapat peringkat. Bagaimana mereka bisa jadi 'pintar' di kelas. Mungkin aku juga sudah pernah bercerita. Jika bisa jadi aku adalah satu-satunya anak Bapak dan Ibu yang tidak pernah mendapat peringkat 3 besar di kelas di SD. Tapi ortu tak pernah mempermasalahkan. Lagipula, peringkat dan nilai itu adakala tidak penting. Namun kali itu, aku berpikir salah satu indikator untuk melihat progres belajarku adalah lewat tingkatan rangking.

Aku yang tidak terbiasa naik angkutan terlalu jauh sering mengalami mabuk kendaraan membuat sesampainya di kelas tidak fokus mendengarkan dan menyerap pelajaran. Saat guru tak begitu memperhatikan aku tidur-tiduran karena masih lemas. Tak heran kalau di semester pertama aku berada di peringkat ke-20. Karena terngiang syarat beasiswa, aku tertatih memperbaiki cara belajarku. Mulai dari mengisi berlembar soal si LKS meski tak ada yang meminta---yang aku pelajari dari Aisyah, teman sebangku-ku yang begitu rajin. Kita bagai langit dan bumi.

Aku juga belajar untuk jujur dan tidak mencontek dari Azizah, teman yang tempat duduknya pas di depanku. Atau belajar dari yang lain untuk berusaha aktif di kelas, meski lidahku begitu kelu. Saban hari minimal satu pertanyaan ku lempar pada guru-guru. Meskipun tak selalu berhasil karena seringkali merasa pertanyaan-pertanyaanku tak bermutu. Sungguh, yang ini jangan ditiru.

Di semester berikutnya, meski bukan perkara wow bagi orang lain, aku kaget bukan main saat ternyata masuk ke 10 besar. Hehe. Qadarullah. Aku jadi semakin bersemangat 'mempersiapkan' beasiswa mulai dari tahun pertama di sekolah itu. Singkat cerita, alhamdulillah, bisa lolos dan menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Madura.

Aku ingat sekali, di semester-semester awal perkuliahan seorang dosen mengisi sebuah mata kuliah dengan begitu apik. Cara mengajarnya membuat kuliah itu lumayan ditunggu-tunggu. Ku tulis "lumayan" karena tidak dengan tugasnya. Haha. Saat itu beliau menjelaskan rantai kemiskinan. Betapa salah satu cara untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah pendidikan. Beliau menjelaskan dengan begitu rinci sebelum sampai pada kesimpulan itu.

Maka pendapat mengenai pendidikan yang tak penting menurutku kurang tepat. Pendidikan hanya melahirkan robot-robot dengan cara berpikir yang sama. Menjadikan manusia-manusia terdidik yang semata haus nilai yang tertera, lalu lupa nilai yang sebenarnya. Bahwa tugas (yang masih wajar sekalipun) di sekolah maupun dunia perkuliahan sama sekali tak ada faedahnya.

Justru dengan pendidikan, pola pikir kita lebih terbuka. Jadi kian paham bahwa belajar tak hanya dari buku, ruang kelas dan tugas-tugas di dalamnya saja. Namun tambahan-tambahan dari luar yang timbul dari keinginan sendiri tak kalah penting. Sistem pendidikan tak membuat rasa keingintahuan kita terbatas. Effort kita saat mengerjakan tugas dan menyelesaikan ragam persoalan saat masih berstatus seorang penimba ilmu adalah bekal mahal menghadapi tantangan baru di medan yang lebih luas.

Jangan berdalih: tingkat pendidikan tak jadi jaminan dapat pekerjaan, hingga tak mau menimba ilmu. Banyak yang berpendidikan tapi pengangguran. Hei! Harusnya pendidikan tidak hadir dengan tujuan yang sesempit itu, bukan. Bahkan katanya, tingkat pendidikan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Maka maknanya agaknya tak terbatas.

Kita tahu bahwa pendidikan formal tak menentukan nasib seseorang. Masih banyak jalan lain untuk meraih 'kesuksesan' yang definisinya pun tak sama. Lebih-lebih lewat pendidikan dalam arti luas. Jadi, doaku untukmu duhai adik-adik di jalanan: "Bersabarlah, semoga Allah berikan padamu kehidupan yang lebih baik. Sebab kesempatan yang lebih baik dihaturkan untuk semua orang. Dan semoga lebih banyak dermawan yang peduli dengan masa depan anak bangsanya. Aamiin."

Aku berharap, mereka tak pernah berhenti berdoa dan berharap. Sama sepertiku dulu. Selalu berharap dan berdoa dibukakan jalan-jalan yang lebih baik. Tidak lagi berpikir orang tua yang akan membayar, tapi berganti "Allah yang akan bayar." Salah satunya lewat beasiswa. Juga bisa lewat beragam cara. Putus sekolah bukan berarti putusnya harapan. Justru akan ada lebih banyak waktu untuk belajar lebih banyak hal yang juga membuka pintu-pintu kesempatan.

Bagaimana kita mendefinisikan awet muda?
Apakah muda hanya terbatas pada penampilan, bagaimana cara kita berjalan, cara kita berbusana, bentuk tubuh yang masih sama atau bahkan keadaan kulit yang belum mengeriput?

Maka sungguh dewasa ini banyak sekali produk-produk dengan dalih segudang manfaat. Ada yang memang benar-benar memberikan perawatan lahiriah, namun banyak pula yang bodong dan aji mumpung.

Lantas, sebatas demikiankah kita mendifinisikan muda?

Atau justru muda sangat terkait dengan jiwa. Tentang kita yang tetap semangat dalam kebaikan meski jatah usia kian berkurang. Kian memiliki hati yang luas. Kian bersikap dengan cara yang bijak.

Maka, jika kata "muda" selalu identik dengan "segar", harusnya awet muda adalah tentang kesegaran ide dan semangat yang selalu terjaga karena senantiasa diperbaharui.

Maka semoga kita tak jadi budak standar- standar yang seolah telah begitu lama mengakar. Atau akhir-akhir ini begitu erat digandrungi. Karena sungguh, kita punya standar kita sendiri. Standar untuk mendefinisikan banyak hal dengan lebih baik.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates