Malam itu aku iseng mencari, barangkali ada acara yang bisa ditonton di TV yang nyaris tak pernah ku nyalakan lagi. Saat berhenti di acara berita aku langsung berpindah ke channel lain karena tak ingin pusing yang menderaku kian berpilin. Hingga akhirnya berhenti di sebuah film lama tahun 80-an. Film ini sangat populer dan fenomenal pada masanya. Pun tokoh-tokoh di dalamnya begitu lekat dalam ingatan masyarakat.
Seolah diri yang sudah terbiasa mengkritik dan mungkin setelah ditelaah barangkali bergeser menjadi nyinyir. Aku bertanya dalam hati "Ah, apalagi sih ini. Apa ada manfaatnya? Jangan-jangan hanya penuh dengan adengan yang mengedepankan aspek sensualitas sebagai bumbu." Begitu komentar dari seorang yang bahkan belum berbuat apa-apa untuk negeri, apalagi membuat film atau serial di televisi---spontan. Padahal itu bukan acara yang dibawakan oleh Komeng. *krik.
Aku jadi ingat potongan materi dari salah satu Komedian yang aku lupa namanya. Katanya, seringkali kita mencela sinetron tapi akhirnya ditonton juga. Hingga sinetron usai, sampai itu pula kita akan terus mencerca. Hahaha. Dan agaknya saat itu aku juga terjebak dalam potongan materi itu. Karena ingin lebih dalam mengkritik aku memutuskan untuk menonton hingga segmen awal usai. Tapi rasa penasaran ternyata membuatku menamatkannya. Bagaimana tidak, ternyata aku telah salah sangka. Untuk yang ini, bisa dibilang pesannya begitu menggugah dan related dengan apa yang aku alami. Setidaknya itu pendapatku.
Singkat cerita (versi lengkapnya bisa ditonton sendiri. Sebab sesuatu yang ditonton bolehlah sama, tapi perspektif kadangkala sangat berbeda. Ini hanya sudut pandang asal ala aku saja.) isi film berkisah perihal sebuah desa yang seolah diberikan kutukan dengan makin merajalelanya teluh. Awalnya santet dialami putri kepala desa yang belum lama dilantik. Seperti telah terskenario rapi oleh dukun yang sebenarnya dulu merupakan lawannya saat menjabat sebagai kepala desa. Di lain sisi, seorang gadis desa difitnah sebagai pelakunya, dia pemeran utamanya.
Cerita bergulir, sang gadis diangkat menjadi murid si Dukun, dengan dalih untuk membalaskan dendamnya---atas tindakan warga yang anarkis setelah termakan fitnah---yang sebenarnya adalah dendam dukun itu pada masyarakat desa dan lurah terpilih. Desa itupun kian semwarut seiring makin jauhnya masyarakat dengan amalan-amalan agama. Lihatlah, masjid berbahan kayu saja sudah rapuh dimakan rayap, berdebu dan nyaris ambruk karena tak ditempati apalagi dirawat. Sholat saja tidak, apalagi mengaji.
Sampai akhirnya datang seorang pemuda taat beragama dari kota yang heran dengan keadaan desa itu. Pemuda itu perlahan mengajak warga desa untuk kembali dekat dengan Allah SWT. Mengetahui hal tersebut si dukun tak ingin tinggal diam. Ia menghasutnya untuk kembali ke kota. Sang pemuda menimpali bijak, "Bagaimana aku bisa kembali ke kota. Disinilah aku dilahirkan." begitu kira-kira. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki yang hijrah ke kota dengan pamannya untuk menimba ilmu di sebuah pesantren. Lalu kembali ke desa untuk mencari adiknya, pemeran utama yang diperankan oleh Suzzana. Gadis baik nan jujur, keturunan baik-baik, namun harus sesat karena ilmu hitam dan guru yang salah. Ringkasnya, pemuda inilah yang menjadi perantara untuk memperbaiki kekacauan di desa.
Dari situ aku jadi merinding sendiri mengingat ternyata memang banyak benarnya. Tentang peran pemuda begitu besar sebagai agen perubahan. Kalau di dunia kampus, salah satu peran mahasiswa dalam masyarakat memanglah agen of change. Menimba ilmu hingga ke negeri orang, lalu kembali ke tanah kelahiran untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Walau pada beberapa konteks, berbuat sesuatu juga bisa dari tempat yang jauh.
Seputar peran pemuda inilah yang membuat aku dan ibu kadangkala berbeda pengertian. Normal, karena zaman kita pun tidak sama. Kata ibu, belajar ilmu umum sekedarnya saja. Tapi tidak dengan ilmu agama. Benar-benar harus dikejar, di-upgrade selalu. Salah satunya dengan belajar di pesantren.
Walau begitu, beliau tetap tidak memaksakan kehendak. Contoh kecil, tidak memaksakan anak-anaknya mendapat nilai yang bagus di kelas, juara, atau bisa terlibat dalam ragam kompetisi. Mungkin karena memang tidak begitu sesuai dengan prinsipnya. Sebab sering sekali beliau bilang, "Yang penting sudah bisa adhuwâaghi rebbâ (Rebbâ dalam bahasa Madura adalah tradisi bersedekah makanan disertai dengan doa-doa, yang pahalanya diniatkan bagi orang yang telah meninggal dunia. Wallahua'lam), aku sudah bahagia." Inilah yang menurutku membuat kami tidak ambisius mengejar sesuatu. Meski ambisius memiliki banyak sisi.
Sedang aku berpendapat jika ilmu umum juga sangat penting. Sebab orang-orang amanah yang kelak diberi amanah akan membawa kehidupan yang lebih baik. Jujur, aku memang terkesan lebih mendukung untuk kuliah daripada di pesantren. Namun aku juga tidak menegasikan jika banyak yang dimampukan oleh Allah SWT untuk menjalani keduanya bersamaan. Tetap saja, ibu memiliki pendapat yang berbeda. Fokus (mondok) insya Allah akan mengantarkan pada sesuatu yang jauh lebih baik. Aku lagi-lagi tak begitu setuju walau telah mengetahui jika banyak lulusan pesantren yang dengan izin-Nya menjadi 'orang-orang hebat'.
Setelah menonton film itu, aku jadi berpikir lagi. Sangat betul ilmu umum itu penting, tapi ternyata ilmu agama juga utama. Lingkungan, guru, doa dan seterusnya adalah faktor-faktor penting pembentuk sebuah generasi. Pemahaman yang benar, akan melahirkan para agen perubahan yang arif dan bijaksana. Ngeri saat membayangkan generasi penerus nantinya makin anti ke masjid, misalnya. Tak seperti dalam film, masjid-masjid yang ada di desa-desa akan mentereng dan bagus-bagus, namun sayangnya S-E-P-I. Naudzubillah. Maka boleh jadi, mimpi ibuku yang sesederhana adhuwâaghi rebbâ adalah bentuk untuk tidak memberikan pressure, melainkan menuntut ilmu dengan hati yang lapang. Tapi siapa sangka, barangkali di balik itu ada doa-doa yang beliau panjatkan. Seperti lahirnya agen-agen perubahan sebuah peradaban.