Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Siapa yang tidak berlinang air mata? Atau memang aku saja yang terlampau melankolis. Menganggap adegan real seperti ini jauh berbeda dengan FTV dan bumbu-bumbunya. Lebih menggugah, tentu saja.

______

Di pagi hari, sang istri bercerita, beliau masih menjalankan aktivitas seperti biasa, banyak yang bisa dilakukan. Bahkan pekerjaan yang cukup keras di usia sepuhnya. Dan memang sering aku menjumpai orang-orang semacam itu. Adalah hal lumrah, berlomba-lomba dalam ibadah.

Namun bukan itu cuplikan yang ku maksud. Melainkan malam ini, wanita yang menemani sepanjang umurnya itu mulai memapah suaminya menuju sebuah becak dibantu Ibuku dan Pak Tukang Becak. Seolah tak ada lagi tulang yang bisa membuatnya berdiri tegak. Aku menolong memegang becak agar tak berjalan kemana-mana. Kesetiaan dan kepingan haru memenuhi becak itu. Yang sekarang mulai menjauh, menuju klinik terdekat di desa.

______

Sebenarnya, bukan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, hingga tak ada orang lain. Hanya saja, beliau tak mau banyak orang tahu. Jadilah saat aku dan Ibu datang, kita sedikit membantu agar paling tidak mereka lebih merasa berbesar hati atas ujian yang menimpa hari ini. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Memang penting untuk mengingat kematian. Pun tak kalah perlu untuk memohon kesembuhan. Kemungkinan itu selalu ada, bahkan terbuka lebar. Sebab tak bisa kita lupa, Allah Maha Berkendak, dan Maha Besar. Seperti mengubah apapun dalam sekejap. Yang awalnya sehat jadi sakit, taat jadi ingkar,  berharta jadi papa, sedang baik-baik saja malah diuji seketika. Hidup betul-betul dipenuhi rahasia.

Karena walau mungkin tak seberapa dengan kisah itu, aku juga pernah di posisi yang sama. Menjalani aktivitas seperti biasa di pagi hari, tas yang penuh dengan tugas tidak juga menjadi alasan untuk berhentinya episode kecelakaan yang mengubah hidupku dalam sekejap. Meski aku menganggap itu adalah kecelakaan yang konyol, tapi aku sangat mengimani bahwa tak ada sepercikpun yang terlewat, alirannya sudah digariskan.

______

Setelahnya aku harus mengerjakan apa-apa dengan satu tangan. Karena sebelahnya lagi mengalami patah tulang. Aku ingat sekali, di pagi pertama waktu pandanganku menyapu sebelah tangan itu, aku benar-benar cukup sulit untuk percaya, seperti mimpi. Lalu aku mulai berpikir telah menyusahkan banyak orang, seperti untuk mengambil makanan, dan lain-lain. Sedih sekali rasanya, aku juga tidak bisa membantu pekerjaan rumah saat itu. Merasa tak berguna, meski tetap berusaha melakukan semuanya sendiri, terkecuali mengikat rambut.

Tapi, kalau mau dipikir ulang, sungguh Allah SWT memahamj yang terbaik. Allah paham bagaimana memberi pelajaran. Betul. Banyak sekali dosa yang menghiasi hari, namun satu yang sangat ku ingat hingga kini. Jawaban yang sedihnya baru aku dapat berbulan-bulan kemudian. Bisa jadi itu adalah peringatan untuknya.

______

Jadi, pagi hari sebelum berangkat kuliah, aku sempat mendumal sebal---meski barangkali tak ada manusia yang mendengar saking kecil volumenya---begini, "Aduh, kenapa ngerjain semuanya mesti nunggu aku?" Padahal kenyataannya tidak begitu juga, aku tidak mengerjakan segalanya. Namun sebagai manusia biasa yang banyak khilafnya, terkadang rasa penat dan pikiran yang sedang absurd membuat kata-kata yang keluar dari mulut bisa sekenanya, seringkali menyakitkan, melampaui batas, lalu sialnya menjadi doa yang terdengar jernih hingga ke lapis langit paling akhir.

Membuatku kian terbangun. Menyadari jika ternyata tidak menyenangkan berbaring saja seperti itu. Sebab yang paling melegakan bagi seorang manusia adalah berkontribusi. Entah dalam ranah keluarga maupun di lingkup yang jauh besar. Dengan begitu, hembusan napas kita akan lebih berarti. Seperti kata nuraniku setahun silam: Bukankah lebih berat menjadi seorang pemalas daripada seorang yang rajin dan berani menghadapi rentetan hidup yang keras. Kalau kata orang hebat, di dunia memang untuk berlelah-lelah. Sedang menurut penelitian, banyak beraktivitas membuat hormon bahagia meningkat.

Maka kesal karena ragamnya kebiasaan tiap orang tidak akan berlarut-larut bahkan mungkin tak hadir lagi. Sebab mengerti bahwa dengan merapikan perabotan yang berantakan, membagi ilmu, mengayomi masayarakat dan lain lain di setiap aspek, justru membikin kehadiran kita akan jauh lebih bermakna.

Sedang kita kerap mudah jumawa meski ingat bahwa semua daya dan upaya hanyalah titipan dari-Nya.
_______

NB: Bukan berarti, siapapun yang tengah berjuang dengan sakit sampai hari ini juga sedang diperingati seperti yang aku alami. Siapalah aku yang berani-beraninya mengukur dan menghakimi. Karena sungguh, Allah SWT Maha Adil, semua bernilai ibadah jika hanya dilakukan untuk-Nya. Termasuk untuk senantiasa bersabar dalam setiap kondisi. Berat, semoga Allah selalu memperkuat.

"Hidupnya begitu sempurna," gumam kita usai mengamati postingan beberapa orang di beranda Instagram. Hanya karena apa-apa yang dibagikan disepersekian masa, kita genap menyimpulkan segalanya.

Padahal siapa yang bisa menjamin, di baliknya, seorang yang tampak paripurna itu sedang sembab matanya, usai tergugu meratapi nasib yang pilu.

Tak berhenti di situ, setelah puas berdamai dengan merelakan air matanya berhambur, ia kemudian menguatkan diri dengan memperbanyak syukur.

Meski pelik hari ini masih saja memenuhi pikirannya, ia bersikeras mengalihkan dengan mengeja kebahagian-kebahagian yang tak terukur nilainya. Seperti melihat anak-anak yang sholih dan sholiha, si kecil hari ini sudah hatam Iqro'nya. Juga suami yang senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Adalah karunia tak terkata.

Persona lain juga terlihat sempurna hidupnya karena tak terhitung sudah berapa kali menjuarai ragam kompetisi. Tapi siapa yang tahu, kalau justru ia lahir dari keluarga broken home. Sekuat tenaga menutup kisah pahit dengan senyum tak berujung. Selalu merapal, bahwa ia masih amat beruntung.

Sedang disana terbaring selama bertahun-tahun di ruangan dingin, nyaman tapi mencekam. Seolah tak ada harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Tapi itu kata orang, bukan katanya. Sebab dia terus saja optimis, memaknai tiap detiknya, walau tak nampak sedikitpun kemajuan.

Maka mungkin memang kita yang lupa untuk bertanya dan mengukur sejauh mana pribadi ini sudah melangkah. Jangan-jangan sudah hilang arah.

Tanya. Mungkin memang hati kita yang 'sudah' mati. Dan cuma hidup saat berkelimpahan materi.

Tanya. Mungkin ilmu justru lebih menjauhkan diri dari kearifan. Kian memberikan standar rumit baru pada bentuk-bentuk kebahagiaan.

Tak bahagia kalau belum capai pangkat tinggi. Belum sukses kalau belum punya mobil-mobil gres. Tidak sejahtera jika tanah berhektar-hektar belum atas namanya. Baru gembira setelah berjejer rapi berjibun piala. Merasa dianggap kala jumlah follower bikin gagap.

Tak salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Sebab harusnya, kian dekat dengan esensi ilmu, makin memperjelas, bukan malah mengaburkan pandangan.

Kadang aku berpikir, hidup itu kan begitu sederhana. Maksudku perjuangannya memang tak sesederhana itu, tapi hidupnya adalah perkara yang simpel.

Tak perlu rumah megah, kerjaan mentereng dan lain lain. Karena bahkan menjadi seorang petani, dengan sepetak lahan/kebun dan rutinitas harian, namun membahagiakan karena selalu disertai hati yang lapang juga bentuk anugerah hidup yang 'sempurna' bagiku---sungguh, bagi banyak orang akan terdengar naif berkata demikian jika diartikannya adalah aku sedang say no untuk berjuang memperoleh kesejahteraan hidup, keluar dari kungkungan kebodohan dkk yang bonusnya seringkali berupa limpahan materi.

Tapi ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Karena sudah sunnatullah. Setiap yang beriman pasti diuji. Entah sebagai pengingat, atau pendorong ke tempat yang lebih tinggi. Permasalahan akan selalu ada di setiap lini, pada ragam profesi, usia, kasta, gender, dan tingkat pendidikan. Ada yang diuji finansialnya, keluarganya, pekerjaannya, dan seterusnya.

Terbayang kalau hidup tanpa tantangan, pasti akan terasa garing dan tak ada ladang untuk beribadah. Lagipula hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. Segala penat makin menjauhi pikiran. Pun kala mengingat-Nya lewat ragam ciptaan, seperti langit yang megah, senja yang indah, tanaman yang tumbuh dengan subur dan bunga-bunga yang merekah. Apalagi dengan rasa syukur yang membikin nikmat bertambah-tambah.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates