Memang hakikat tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, kerapkali membuat diri selalu saja mencari celah untuk mengeluh. Begitulah karakter kompleks yang seringkali membersamai makhluk bernama manusia. Yang pada pengimplementasiannya, keluhan ini keluar dalam berupa-rupa bentuk.
Bentuknya terlihat dari seorang guru yang geram bukan main melihat beberapa murid yang tidak menunjukkan kemajuan yang bermakna. Malah kian mengekalkan perasaan yang terluka karena tingkah polanya.
Juga dari orang tua yang kesal karena telah mati-matian menutrisi anak dengan ilmu agama dan eloknya akhlak. Tapi kenapa hasilnya amat jauh dari ekspektasi. Padahal ia dan suami adalah orang yang alim, sejak kecil menjaga diri dari perbuatan yang dianggap sepele hingga yang paling dimurkai.
Seorang anak manusia yang nyaris berputus asa sebab berusaha siang dan malam membuka satu pintu rezeki, diselingi ibadah wajib dan tambahan sunnah tiada henti. Namun hasilnya masih selalu sama, penolakan dari berbagai macam perusahan, hampir tak terhitung jumlahnya.
Kecewanya seorang pemburu ilmu yang entah sudah berapa kali menjalani rentetan ikhtiar untuk berkesempatan meraih aliran pengetahuan lewat beasiswa. Realitasnya, memang belum saatnya ia menikmati buah manis, melainkan menelan pil pahit. Yang sejatinya menyehatkan, mendewasakan langkah kedepan.
Pejuang tugas akhir yang tertekan dengan revisi tanpa ujung. Sedangkan rasanya, perasan kerja keras sudah disampaikan hingga ujung. Tapi yang sedang diperoleh seolah tidak berujung, terus menggelisahkan dan kian membikin bingung.
Pelajar yang gagap definisi 'sukses' karena sudah menempa diri dan terus berusaha menjaga nilai yang tertera dan diri yang taqwa, namun malah gagal lolos perguruan tinggi yang diidam-idamkan di sepanjang usia.
Ada hamba-hamba lain, percaya diri telah menamatkan kiat-kiat memperoleh jodoh, keturunan, kemapanan, prestasi, dan aneka pencapaian lain---pada satu waktu harus kembali menekuri keberuntungan yang sepertinya tidak pernah berpihak pada mereka.
Dan lain-lain.
Ternyata, kalau dipikir lagi dan lagi, atau mungkin sudah cukup sekali berpikir, bahwa tujuan dari semua kepayahan yang dilakukan tiap insan adalah untuk Allah Azza Wa Jalla, untuk beribadah. Mereka membacanya berulang kali per hari dalam sholat. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati, lillaahi rabbil 'alamin. Lantas kenapa merasa tidak terima dengan hasilnya. Toh, Allah tidak akan melihat hasil, tapi menimbang usahanya. Sekecil apapun kebaikan dan perjuangannya, meski hanya sekecil biji zarrah, meski hanya sebutir pasir sepanjang diniatkan karena Allah.
Aku jadi ingat salah satu nasihat dari Alm. KH. Maimoen Zubair lewat sosial media yang sarat makna. Dawuh beliau, "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah."
Kisah keshalihan Nabi Nuh yang justru punya anak durhaka bernama Kan'an. Dan cerita mengenai Rasul yang bersedih karena pamannya wafat dalam keadaan kafir, meski Rasul senantiasa mendoakan beliau memperoleh hidayah juga kian membuka mata kita. Tentang betapa kita hanya mampu berusaha, berdoa dan tidak berputus asa hingga akhir hayat. Karena memang Allah Maha Mengetahui yang terbaik dan Allah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.
Jadi, kalau hidup dan mati untuk Allah dan untuk beribadah kepada-Nya, harusnya tidak perlu berlama-lama pening menerima takdir yang acapkali pahit dirasa. Yang terpenting, tidak berhenti berusaha dan pantang patah arang----mengatur rencana, strategi dan jalan baru untuk memperoleh kebaikan-kebaikan di dunia dengan cara dan jalan paling tepat bagi Allah. Agar kelak semoga timbangannya bisa berisi bakal meraup rahmat dan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Kholidina fiha abada. Kekal didalamnya dan abadi. Bukankah pada akhirnya ini impian terbesar manusia dalam hidup?
Tidak ada yang bisa menghentikan manusia untuk terus memperoleh kebaikan dari-Nya dalam kapasitasnya masing-masing. Bahkan tidak juga diri sendiri. Siapa lagi jika enggan memulai dari diri sendiri yang menguatkan. Yang tiada pernah berhenti memohon daya dan kekuatan untuk senantiasa bertaqwa dan dibimbing hingga mencapai kemenangan yang sejati.
____________
Kalau aku biasanya tidak menyalahkan orang lain apalagi Sang Pencipta atas semua yang aku hadapi silih berganti. Aku malah acapkali cenderung berdefinisi menyalahkan diri sendiri, tentang apakah aku yang kurang berdoa dan berusaha maksimal untuk terus menjadi pribadi yang berperilaku baik di setiap kesempatan, mengamalkan ilmu dari cara yang paling sederhana misalnya, dan terus belajar. Memang, intropeksi itu penting. Namun satu yang mungkin sering luput dari pemahamanku adalah, jika hal tersebut mengarah kepada berlebihan apalagi menyalahkan, maka dikhawatirkan termasuk dalam berandai-berandai yang dilarang dalam agama berupa penyesalan atau protes terhadap takdir. Naudzubillah.
Maka nuraniku (layaknya orang tua yang dengan cara apapun kerap menjaga anaknya) seperti memekik padahal pelan berbisik, "Nak, dalam melangkah, jangan lupakan berupa-rupa nikmat yang hadir dalam kehidupan. Nikmat kesehatan, nikmat pendidikan, nikmat kelapangan, nikmat keluarga yang membahagiakan dan nikmat lain yang seringkali tak pernah diperhitungkan. Jangan juga terlupa untuk memohonkan doa. Supaya kenikmatan-kenikmatan itu bisa berguna melalui petunjuk-Nya yang memesona. Dan, senantiasa hidup untuk Allah dan beribadah kepada-Nya. Sebab jikalau sudah memahami untuk siapa dan untuk apa kamu hidup, akan lebih mudah memiliki jiwa yang lapang sampai usia tertutup. Alih-alih terus merisaukan hasil, setelah jungkir balik melewati terpaan kerikil hingga yang paling muskil, kamu malah selalu menyerahkan keputusan pada Allah Yang Maha Adil. Karena sungguh, Dia yang pegang andil dan memahami tiap resikonya sampai teramat detil.
Ù‚ُÙ„ْ Ø¥ِÙ†َّ صَÙ„َاتِÙŠ ÙˆَÙ†ُسُÙƒِÙŠ ÙˆَÙ…َØْÙŠَايَ ÙˆَÙ…َÙ…َاتِÙŠ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ (١٦٢)
“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'am: 162)