Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Memang hakikat tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, kerapkali membuat diri selalu saja mencari celah untuk mengeluh. Begitulah karakter kompleks yang seringkali membersamai makhluk bernama manusia. Yang pada pengimplementasiannya, keluhan ini keluar dalam berupa-rupa bentuk.

Bentuknya terlihat dari seorang guru yang geram bukan main melihat beberapa murid yang tidak menunjukkan kemajuan yang bermakna. Malah kian mengekalkan perasaan yang terluka karena tingkah polanya.

Juga dari orang tua yang kesal karena telah mati-matian menutrisi anak dengan ilmu agama dan eloknya akhlak. Tapi kenapa hasilnya amat jauh dari ekspektasi. Padahal ia dan suami adalah orang yang alim, sejak kecil menjaga diri dari perbuatan yang dianggap sepele hingga yang paling dimurkai.

Seorang anak manusia yang nyaris berputus asa sebab berusaha siang dan malam membuka satu pintu rezeki, diselingi ibadah wajib dan tambahan sunnah tiada henti. Namun hasilnya masih selalu sama, penolakan dari berbagai macam perusahan, hampir tak terhitung jumlahnya.

Kecewanya seorang pemburu ilmu yang entah sudah berapa kali menjalani rentetan ikhtiar untuk berkesempatan meraih aliran pengetahuan lewat beasiswa. Realitasnya, memang belum saatnya ia menikmati buah manis, melainkan menelan pil pahit. Yang sejatinya menyehatkan, mendewasakan langkah kedepan.

Pejuang tugas akhir yang tertekan dengan revisi tanpa ujung. Sedangkan rasanya, perasan kerja keras sudah disampaikan hingga ujung. Tapi yang sedang diperoleh seolah tidak berujung, terus menggelisahkan dan kian membikin bingung.

Pelajar yang gagap definisi 'sukses' karena sudah menempa diri dan terus berusaha menjaga nilai yang tertera dan diri yang taqwa, namun malah gagal lolos perguruan tinggi yang diidam-idamkan di sepanjang usia.

Ada hamba-hamba lain, percaya diri telah menamatkan kiat-kiat memperoleh jodoh, keturunan, kemapanan, prestasi, dan aneka pencapaian lain---pada satu waktu harus kembali menekuri keberuntungan yang sepertinya tidak pernah berpihak pada mereka.

Dan lain-lain.

Ternyata, kalau dipikir lagi dan lagi, atau mungkin sudah cukup sekali berpikir, bahwa tujuan dari semua kepayahan yang dilakukan tiap insan adalah untuk Allah Azza Wa Jalla, untuk beribadah. Mereka membacanya berulang kali per hari dalam sholat. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati, lillaahi rabbil 'alamin. Lantas kenapa merasa tidak terima dengan hasilnya. Toh, Allah tidak akan melihat hasil, tapi menimbang usahanya. Sekecil apapun kebaikan dan perjuangannya, meski hanya sekecil biji zarrah, meski hanya sebutir pasir sepanjang diniatkan karena Allah.

Aku jadi ingat salah satu nasihat dari Alm. KH. Maimoen Zubair lewat sosial media yang sarat makna. Dawuh beliau, "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah."

Kisah keshalihan Nabi Nuh yang justru punya anak durhaka bernama Kan'an. Dan cerita mengenai Rasul yang bersedih karena pamannya wafat dalam keadaan kafir, meski Rasul senantiasa mendoakan beliau memperoleh hidayah juga kian membuka mata kita. Tentang betapa kita hanya mampu berusaha, berdoa dan tidak berputus asa hingga akhir hayat. Karena memang Allah Maha Mengetahui yang terbaik dan Allah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Jadi, kalau hidup dan mati untuk Allah dan untuk beribadah kepada-Nya, harusnya tidak perlu berlama-lama pening menerima takdir yang acapkali pahit dirasa. Yang terpenting, tidak berhenti berusaha dan pantang patah arang----mengatur rencana, strategi dan jalan baru untuk memperoleh kebaikan-kebaikan di dunia dengan cara dan jalan paling tepat bagi Allah. Agar kelak semoga timbangannya bisa berisi bakal meraup rahmat dan kebahagiaan yang abadi di akhirat. Kholidina fiha abada. Kekal didalamnya dan abadi. Bukankah pada akhirnya ini impian terbesar manusia dalam hidup?

Tidak ada yang bisa menghentikan manusia untuk terus memperoleh kebaikan dari-Nya dalam kapasitasnya masing-masing. Bahkan tidak juga diri sendiri. Siapa lagi jika enggan memulai dari diri sendiri yang menguatkan. Yang tiada pernah berhenti memohon daya dan kekuatan untuk senantiasa bertaqwa dan dibimbing hingga mencapai kemenangan yang sejati.

____________

Kalau aku biasanya tidak menyalahkan orang lain apalagi Sang Pencipta atas semua yang aku hadapi silih berganti. Aku malah acapkali cenderung berdefinisi menyalahkan diri sendiri, tentang apakah aku yang kurang berdoa dan berusaha maksimal untuk terus menjadi pribadi yang berperilaku baik di setiap kesempatan, mengamalkan ilmu dari cara yang paling sederhana misalnya, dan terus belajar. Memang, intropeksi itu penting. Namun satu yang mungkin sering luput dari pemahamanku adalah, jika hal tersebut mengarah kepada berlebihan apalagi menyalahkan, maka dikhawatirkan termasuk dalam berandai-berandai yang dilarang dalam agama berupa penyesalan atau protes terhadap takdir. Naudzubillah.

Maka nuraniku (layaknya orang tua yang dengan cara apapun kerap menjaga anaknya) seperti memekik padahal pelan berbisik, "Nak, dalam melangkah, jangan lupakan berupa-rupa nikmat yang hadir dalam kehidupan. Nikmat kesehatan, nikmat pendidikan, nikmat kelapangan, nikmat keluarga yang membahagiakan dan nikmat lain yang seringkali tak pernah diperhitungkan. Jangan juga terlupa untuk memohonkan doa. Supaya kenikmatan-kenikmatan itu bisa berguna melalui petunjuk-Nya yang memesona. Dan, senantiasa hidup untuk Allah dan beribadah kepada-Nya. Sebab jikalau sudah memahami untuk siapa dan untuk apa kamu hidup, akan lebih mudah memiliki jiwa yang lapang sampai usia tertutup. Alih-alih terus merisaukan hasil, setelah jungkir balik melewati terpaan kerikil hingga yang paling muskil, kamu malah selalu menyerahkan keputusan pada Allah Yang Maha Adil. Karena sungguh, Dia yang pegang andil dan memahami tiap resikonya sampai teramat detil.

Ù‚ُÙ„ْ Ø¥ِÙ†َّ صَÙ„َاتِÙŠ ÙˆَÙ†ُسُÙƒِÙŠ ÙˆَÙ…َØ­ْÙŠَايَ ÙˆَÙ…َÙ…َاتِÙŠ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ (١٦٢) 

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An'am: 162)

Eyang Habibie. Seseorang yang menginspirasi dengan segudang prestasi (makna 'prestasi' disini lapang sekali). Sosok ini tepat tiga hari lalu pergi dari bumi menuju tempat yang abadi. Meski begitu, sejatinya karya-karyanya menjadi saksi. Dan kebaikan-kebaikan yang beliau tularkan masih bisa kita nikmati dimana-mana. Di dunia nyata, bahkan---karena zaman melesat begitu cepat perubahannya---kita bisa mendapatinya di dunia maya.

Itulah yang membuat aku, alih-alih melihat pemberitaan kepergian salah satu panutan bangsa itu, aku malah menyaksikan yang lain, konten-konten menginspirasi yang telah lebih dulu dipublikasi. Karena meski aku adalah salah satu pemuda yang amat biasa dan mengagumi tanpa pernah bertatap muka, entah mengapa aku tidak bisa menyaksikan pemberitaan itu lama-lama, sedih dan perih, meski hakikatnya setiap kita akan mengalaminya juga. Dan duka ini aku yakin banyak dirasakan oleh banyak anak bangsa. Seperti saat tokoh-tokoh alim lain tengah berpulang ke kepangkuan Yang Maha Kuasa.

Omong-omong tentang pencapaian beliau, sebenarnya itu semua tidak lepas dari jerih payah panjang yang akhirnya berbuah manis. Konsistensi usaha dan doa-doa yang mengalir membersamai keimanan dan ketaqwaan membawa Eyang Habibie ke perjalanan-perjalanan dan pelajaran yang menakjubkan. Kisah-kisahnya juga menggetarkan. Salah satunya seperti kala mengharumkan negeri di kancah internasional.

Bagiku, momen perjuangan menimba ilmu dan berbesar hati meninggalkan kewemahan di Jerman untuk berkontribusi di Bumi Pertiwi juga tidak kalah mencengangkan. Menggambarkan, betapa tujuan untuk menghilangkan kebodohan bukan lantaran ingin memperkaya diri, melainkan untuk ikut membangun 'rumah' sendiri---walau aku tidak bilang, tinggal di luar negeri artinya tidak bisa berkontribusi secara nyata. Karena nyatanya, banyak diaspora yang ikut andil mendorong kemajuan bangsa.

Maka petuah yang keluar dari lisannya bukanlah bualan semata, karena beliau pernah di masa-masa sulit dan masa-masa perjuangan itu. Saat beliau diminta untuk memberikan pesan pada para penerus bangsa pada satu momen, ungkapnya: mereka harus unggul pada bidangnya masing-masing dan bisa bekerja sama dalam tim, alias memiliki kemampuan teamwork yang baik. Sebagai sebuah team, mereka harus unggul dalam segala bidang memperjuangkan kepentingan bersama, adanya transparansi dan berbudaya.

Saat ditanyai tentang apa yang membuat Eyang Habibie marah dengan cucunya, beliau menjawab: Di waktu mereka menggunakan teknologi (dalam hal ini gadget) hanya untuk game (mungkin dalam porsi yang berlebihan, sampai lupa waktu dan banyak menyebabkan kemudharatan, jadi aku kemudian menyimpulkan bahwa kata 'game' hanyalah istilah, karena apapun itu jika berlebihan, membutakan dan melalaikan kewajiban yang sebenarnya harus kita kerjakan sebagai hamba, maka sama saja konteksnya). Tambahnya, anak muda (yang lebih familiar disebut sebagai Kids Zaman Now) harus mengerti, jika hidup adalah kerja keras bukan gambling atau perjudian.

Masih berhubungan dengan pesannya untuk menjadi 'unggul', beliau menyarankan anak muda untuk menyibukkan diri membaca buku dengan tema-tema yang disukai dan ditekuni (dalam bidang itu).
Sehingga goal-nya adalah, menimba ilmu tidak untuk menjadi lulus, melainkan untuk mencari tahu jawaban atas ketidaktahuan yang pada akhirnya bisa diaplikasikan untuk kebermanfaatan. Pada bagian ini aku seolah diminta untuk menancapkan lagi apa-apa yang ingin aku tekuni, aku suka dan apa tujuan akhirnya. Begitulah, banyak sekali cara memaknai hidup versi beliau bertebaran, aku mencoba menyampaikan kembali (beberapa) yang paling berkesan.

Aku juga jadi diingatkan lagi tentang gumaman nuraniku beberapa hari yang lalu: "Setiap sentuhan di layar HP pintarmu ini akan dipertanggung jawabkan. Maka gunakanlah untuk perkara yang berfaedah saja. Supaya jerih payah atas benda ini bisa membuahkan amal kebaikan yang mengalir dan dicatat juga. Sepatu, baju, dan beragam hal yang ada pada dirimu juga gunakanlah untuk kebaikan. Agar buah yang kelak dipetik bisa sepadan dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan. Belum lagi jika berbicara perihal badan yang juga merupakan titipan. Pada masanya, tiap organ akan dimintai kejelasan, oleh yang Maha Memiliki Kehidupan.

Entah sudah berapa kali aku diperingatkan tentang hal ini. Juga entah sudah berapa catatan yang menyinggung perihal ini. Seperti aku yang entah sudah berapa kali diberikan nikmat untuk menikmati buah jeruk keprok yang rasanya nikmat. Manis, diselipi asam-asam segar seolah menggambarkan manisnya buah tidak terlepas dari asamnya jerih payah  yang menyegarkan. Membuat hidup terasa lebih bervariasi. Seperti apa yang dijalani dan dicurahkan Eyang Habibie.

Terima kasih, Eyang. Kisahmu akan dikenang. Semoga tenang. Di sisi terindah oleh Yang Maha Penyayang. Tak kalah penting, doa untuk kita yang tengah berjuang. Supaya Allah berkenan menjadikan kita semua sebagai 'pemenang'.

Mengingat setiap perjuangan dan perjalanan panjang kadang menjadi salah satu cara sederhana supaya semangat lebih tersengat. Lalu, menuliskannya membuat manusia dengan tipikal mudah lupa bisa membacanya kembali kapan saja, baik berupa dokumen pribadi maupun yang bersifat massa. Nilai tambah lainnya, mereka akan lebih bersyukur. Karena telah diberikan kekuatan untuk melampaui tiap perjalanan terjal, berliku bahkan curam dengan langkah-langkah yang kerap rapuh dimakan pemikiran buruk, bermetamorfosa menjadi racun mematikan, meciutkan kepercayaan diri.

Kawan, lihatlah kita sudah sampai pada langkah ini. Kata orang bijak, jangan berhenti jika bukan untuk beristirahat sejenak. Teruslah berjalan menapaki kehidupan yang kian nampak bentuk sesungguhnya. Kian hilang kabut yang menutupinya. Yang membuat ia seringkali menjelma fatamorgana. Teruslah merapalkan doa, semoja senantiasa berada pada jalur terbaik dan alur yang tepat. Bukan demi mengedepankan gengsi atau ambisi pribadi. Melainkan karena tujuan paling suci: untuk beribadah kepada Sang Illahi. Sebab tiap kepayahan di dunia tiadalah berguna, sampai selalu beorientasi pada keabadian, diniatkan untuk-Nya.

___________

Aku kemudian mengingat, betapa banyak orang yang mendapati perjalanan yang lebih tidak mulus, tapi melangkah terus. Meski cobaan itu relatif. Tergantung pribadi, situasi dan kondisi. Jadi tak bisa dibandingkan-dibandingkan. Sama seperti 'keberhasilan'. Hasil dan definisi dari kata itu seringkali tidaklah sama. Ucap satu kalimat kutipan yang bertebaran, bunga tidak selalu mekar bersamaan, melainkan bergantian. Aku sendiri belum mencari tahu, siapa yang menulis itu.

Namun perjalanan menyeramkan dari testimoni banyak orang jangan kemudian menjadi alibi untuk berhenti. Justru itu mampu melecut semangat lebih jauh lagi. Betapa banyak kesulitan yang bergelimang kemudahan hingga bisa hidup sampai hari ini. Inna ma'al usri yusro. Maka, semangat jangan sampai padam. Redup boleh. Tapi jangan melama. Karena kita cuma manusia biasa. La hawla wala quwwata illa billah. Kita hanya mampu berharap dan mengemis APAPUN pada-Nya.

Itulah kenapa, dalam perjalanan menggapai sesuatu, meski aku kerap berbicara pada hati kecil: bagaimana bisa aku menggapainya jika aku bukanlah orang yang teramat rajin belajar-cerdas-pintar dan sebagainya, aku sungguh paham kemampuan diri karena masih kurang tekun menempanya dengan konsistensi, aku juga belum menjadi orang - orang yang berusaha di atas rata-rata mayoritas manusia---hati kecilku menimpali: tenanglah, Allah punya segalanya. Teruslah berdoa agar diberikan daya untuk terus berupaya keras dan mengalirkan doa deras-deras. Niscaya Allah mudahkan. Itu sudah janji-Nya, tak terbantahkan.  Ud'uni astajib lakum.

Karena katanya, hidup (dalam beribadah) bukan perkara se-simple sekolah, kuliah, menikah, memiliki anak lalu mati (Meski menghadapi itu sebenarnya juga tidak simple, ya hehehe). Tiap manusia dianugerahi potensi, yang akan dipertanggung jawabankan pada hari yang sudah ditentukan. Saat dimana sekecil apapun berbuatan diperhitungkan oleh kecanggihan alat yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan.

Jadi,

Untuk kamu dengan segala impian yang (katanya) mustahil dan seringkali bikin mengigil.

Untuk kamu yang merasa tidak ada satupun yang mendukung dan menjadi orang paling tidak beruntung.

Untuk kamu yang diremehkan hingga jatuh berkali-kali karena prosesnya memang tidak seperti menjentikkan jemari.

Untuk kamu dengan berlapis tekanan keadaan yang mungkin jauh dari perkiraaan orang-orang.

Untuk kamu yang mengarungi jalur penuh cacian dan lara lantaran berbeda dari kebanyakan manusia.

Untuk kamu yang sedang merintis menjadi versi terbaik dirimu meski harus kerapkali meringis.

Jangan bersedih. Jangan takut. Sungguh, di dunia ini kamu tidak sendiri. Ada mereka yang juga tengah berlari menyulam mimpi-mimpi. Ada juga yang tulus  mendoakan di malam-malam sepi.

Tapi, yang terpenting ada Allah, tuhan pemilik alam semesta, yang 'kan menggengam setiap asa. Dia Yang Maha Segala, setia membantumu kala terjatuh untuk kembali berdiri, bahkan berlari. Mengejar kembali mimpi. Dengan niat lurus dan kemuliaan tak terperi.

  اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ (٦)
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Sebagai manusia, mungkin kita pernah berada di titik rasa puas. Baik sebagai hamba. Maupun sebagai anak dari pasangan seorang manusia.

Kita merasa puas, karena barangkali kita telah banyak membanjiri kedua orang terkasih dengan hujan materi. Bahkan telah berulangkali memberangkatkan mereka ke tanah suci. Sampai kita kemudian terlupa dan tidak sadar diri. Bahwa apapun yang kita berikan tidak akan mampu melampaui pengobanan mereka.

Kita juga merasa puas. Karena merasa telah banyak memperkaya hari dengan setumpuk amalan yang bagi kita lebih dari hitungan jemari. Padahal siapa yang menjamin, mereka justru terkikis dengan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang lalai kita identifikasi.

Seorang ustadz pernah menyampaikan hal ini dalam dakwahnya. Bahwa bisa jadi kita telah berhijrah. Lahir dan batin. Hijrah dari dosa-dosa lama yang berpilin-pilin. Tapi setan tak akan tinggal diam. Mereka akan terus ambil bagian. Menjerumuskan kita ke dalam dosa yang bahkan jauh lebih berat dari menzinai ibu sendiri. Benar saja. Kita hijrah lahir batin, tapi lidah masih sering mencaci dan menhujat lalu mengafirkan sesama muslim. Iya, kita dengan mudah menodai kehormatan orang mukmin. Apakah itu yang dimaksud lahir batin?

Kita juga merasa puas karena telah berhijrah. Tapi masih dengan mudah menyakiti hati orang tua. Ungkapnya, atas hal ini Rasul bersabda, tidak ada kebaikan yang Allah segerakan didunia kecuali kebaikan kepada orang tua. Dan tidak ada kejahatan yang Allah segerakan pula di dunia sebelum kelak kejahatan itu di balas di akhirat, kecuali kejahatan kita kepada orang tua. Tambah beliau, jangan pernah berbicara kasar hanya karena ingin melakukan kebaikan. Karena kebaikan selalu disampaikan dengan cara yang baik. Apalagi kepada kedua orang tua.

Dari dua contoh ini kita akan lebih menyadari. Ternyata, merasa puas menjadikan kita pribadi yang amnesia dengan kata intropeksi. Juga membuat kita seolah tidak mau berbagi surga yang begitu luas. Padahal tetap saja terasa sepi jika ditinggali seorang diri.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates