Aneh, justru saat mengetik menggunakan laptop atau komputer, idenya malah tidak mau keluar. Belum lagi saat tujuannya untuk mengikuti sebuah perlombaan. Macet.
Ini kadangkala ku anggap sebagai sebuah 'bala' karena kerap mempublikasikan tulisan di medsos atau blog, namun tidak mampu mengaplikasikan. Pun juga sebuah peringatan pada hati yang kerap lupa pada esensi niat kala menuai pujian. Maka benar kata Darwis Tere Liye, bahwa ada baiknya mendoakan ketimbang memuji. Hal itulah yang selalu membuatku berpikiran jika aku harus menghentikan aktivitas posting status semacam ini. Aku juga berpikir jika ini akan menyulitkanku untuk memelihara hati yang bersih, membuatku tidak mengerjakan laporan dan membuatku tidak belajar UTS seperti hari ini.
Iya, hari ini, mungkin untuk pertama kalinya aku tidak belajar blaaas untuk sebuah ujian. Secara kurang ajar betul kemarin sore tidak ku gunakan untuk belajar. Malam hari merasa ngantuk dan malas menyerang. Paginya aku harus bergegas berangkat biar tidak telat. Padahal sudah seminggu ini tidak nonton televisi. Tidak juga bermain game. Dll. Jadi apa yang sebenarnya membuat aku tidak mampu mempelajari sedikit saja MK PBI yang diujikan hari ini? Entahlah. Aku sejak lama telah paham tentang bagaimana faedahnya mempelajari materi jauh-jauh hari sebelum ujian dimulai---yang bukan hanya berguna untuk sebatas mengisi lembar jawaban, tapi jauh luas tak terbatas dari sekadar itu---namun kadang sulit menerapkan. Jika sudah begini, dalam bis, alih-alih membaca buku sedikit saja aku membaca kalimat subhanallahu wa bihamdihi minim seratus kali, yang dapat menghapus dosa meski sebanyak buih dilautan. Hmm, berasa berdosa mengingat Bidikmisi dll telah banyak 'memberi' kesempatan padaku. Adapun membaca buku di dalam kendaran yang tengah berjalan sering membuatku pusing.
Kalimat "Aku padamu, ya..." saat ujian yang biasa aku lontarkan sebagai candaan, kini menjadi kalimat yang amat serius aku lontarkan pada Irvi, dan mungkin untuk pertama kalinya, karena sejak dulu, aku biasanya mengkosongkan saja jawaban (seperti kata Bu Mardiyah) yang tidak aku ketahui bentuknya, atau sekadar mengarang sampai mentok.Tapi hari ini, aku mengeluarkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh karena merasa belum membaca apalagi memahami materi sama sekali. Inilah salah satu contoh saat aku belum mampu mengaplikasikan pesan yang akau dapat.
"Nah, sebelum ujian, mari kita berdoa dulu, ya.."
*berdoa*
"Yah, selesai. Selamat mengerjakan. Sudah semester enam, ya. Tidak perlu diperhatikan lagi. Sudah paham. Karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Ya kan, Lutfiyah?," ucap Bu Teti.
Perasaanku tersentak, "Eh.. Iya, Bu." Terlihat tersenyum. Merenung.
Atas peringatan itu aku jadi urung meminta jawaban pada Irvi. Aku mengenang. Bukankah aku telah melakukan kegiatan mengkosongkan jawaban dan mengarang sebisanya sejak SD. Akahkah aku menodai dan melupakan kegiatan itu hari ini hanya karena tidak membaca materi sama sekali? Kegiatan yang membuat kebanyakan teman acapkali menganggap aku bisa mengerjakan ujian karena begitu khusyuk mengerjakan. Kegiatan yang kerap membuat aku menyesal tiada guna berhari-hari, namun kerap juga ku ulangi. Kegiatan yang meski memalukan, namun syarat kejujuran.
Peringatan dan renungan yang terbesit itu akhirnya membuat aku tetap mengandalkan ilmu mengarang bebas. Mencongkel ingatan-ingatan tentang materi yang diberikan dalam kuliah Bisnis Perdagangan dan Internasional. Ingatan tentang presentasi yang disampaikan teman-teman malam-malam, yang membuat aku akhirnya menginap di kost Ulfa dengan sukarela. Mengingat haru, betapa MK ini adalah mata kuliah pilhan yang telah lama aku idam-idamkan dan sekarang terlihat ku sia-siakan.
***
Beberapa menit yang lalu, sebelum sampai di halte pertigaan Telang, Kamal ini kami berempat masih tertawa-tawa, bercanda. Kini semua bungkam. Melihat sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Seorang pelajar SMP yang membawa motor menghantam bagian belakang mini bus yang tengah menurunkan penumpang. Aku yang biasanya melihat foto korban kecelakaan di FB, BBM dll yang disebarkan secara sembrono saja tidak berani, kini memberanikan diri melihatnya secara langsung. Nicun dan Himma bertanya dari kejauhan. Irvi tidak berani mendekat walau sudah ku ajak. Aku terus mendekat. Melihat kain batik berwarna coklat menutupi seonggok tubuh. "Allah.. Meninggalkah?" tanyaku dalam hati. Saat bertanya pada salah satu orang yang mengerubuti, ternyata memang demikian. *deg* Aku terkesiap. Aku memberanikan melihat wajah almarhum yang tengah dibuka oleh seseorang. Innalillahi wa innailahi rojiun. Seorang laki-laki, yang tidak ku kenal, terlalu banyak cairan merah. Secara ajaib aku berani melihat. Entah seperti apa wajahku. Apakah sudah pucat pasi. Entahlah. Pengingat kematian ada tepat di depan mataku. Maut bisa datang kapan saja. Aku boleh berkata ini dan itu. Tapi saat itu aku hanya mampu diam. Takut. Takut mati.
"Cepat kesini! Bustomi meninggal..," seseorang tengah menelfon.
Aku kaget. Aku pikir sahabatku Tommy yang juga kuliah di UTM. Dengan perasaan tak menentu aku mendekat lagi memastikan. "Duh, pake seragam coklat," batinku. Siapa pun adik ini, semoga husnul khotimah. Meninggal dalam keadaan menuntut ilmu/berjihad. Katanya mati syahid kalau meninggal karena kecelakaan. Apa pun itu aku sendiri takut memikirkan bagaimana matiku. Lalu semua terjadi seperti tidak nyata bagiku. Darah berceceran. Orang-orang panik. Mobil dan motor berhamburan. Maut telah memisahkannya dari kehidupan.
***
Pidato yang diungkapkan Pak Habibie dalam sebuah forum sangat menyentuh. Tentang dirinya yang bersyukur bisa memahami ilmu pesawat. Namun ia menyesal tidak menghafal dan memahami al-Qur'an sejak dulu. Sang brilian itu barangkali ingin meninggal bersama al-Qur'an. Seperti almarhum qori yang baru-baru ini diberitakan. Maka beliau kini tengah berusaha untuk itu. Memahami al-Qur'an yang menjadi sumber kedamaian hati dan pikiran.
Benar, doa-doa untuk bisa meraih jabatan karir yang membanggakan, meraih beasiswa kuliah di luar negeri dll memang amatlah baik jika selalu diiringi dengan hati yang selalu mengingat-Nya. Bukankah belajar, bekerja dll juga dianggap sebagai jihad di jalan Allah. Namun salah satu doa yang utama, menurut sedikit pemahamanku adalah mati dalam keadaan khusnul khotimah.
***
Kecelakaan tadi telah mengingatkan padaku tentang kematian yang begitu misteri. Tiba-tiba motor hancur, baju kotor, sepatu entah bagaimana, keluarga ditinggalkan, dst. Semua tidak tersisa. Satu yang utuh. Yakni amal perbuatan selama hidup di dunia. Sebentar. Namun menjadi sebuah penentu untuk kehidupan kekal di akhirat. Selain itu, tiga amal yang tetap mengalir meski kita telah wafat, yakni anak yang soleh/soleha, ilmu yang manfaat dan amal jariyah.
Setelah kejadian yang ku lewati hingga siang ini, aku akhirnya urung berhenti memposting tulisanku di medsos. Karena berpikir saat aku mati, aku masih bisa meninggalkan pesan lewat tulisan. Mungkin sedikiiiiit ilmu yang manfaat yang mungkin bisa menjadi sebuah amal jariyah. Yang perlu ku ingat lekat-lekat adalah keharusan implementasi pesan pada diriku, pada hidupku sendiri, sebagai pembagi pesan. Semisal kala ujian, dan berbagai kegiatan lain dalam menjalani kehidupan. Implementasinya memang tidak akan semudah menulis dan membagikan pesan. Tapi semoga Allah selalu berkenan mengingatkan.
***
Kemudian aku pikir-pikir lagi. Membuat pesan lewat status seperti ini sebenarnya tidak menyita banyak waktuku. Bukan penyebab aku tidak mengerjakan laporan, tidak belajar UTS seperti hari ini, dan lain-lain. Karena kebanyakan tulisan yang aku bagikan aku buat sejam atau dua jam sebelum tidur (kecuali catatan ini dan beberapa catatan lain yang tidak lebih dari tiga) sebagai cara untuk merefresh pikiran. Jadi tanggal dan waktu yang tertera dibawah kebanyakan adalah tanggal dan waktu posting, selebihnya memang tanggal pembuatan. Sedang ide yang kerap macet saat dibutuhkan untuk sebuah kompetisi sebenarnya karena diri yang tidak bisa mengontrol rasa malas. Pun kegiatan lainnya.
Akhirnya, semoga niat yang lurus, kemudahan memperoleh ide, kemudahan mengimplementasikan sebuah pesan, kemudahan meraih impian dan selalu mengingat mati lantas mempersiapkan, selalu menyertai kita semua. Aamiin ~
Bangkalan, 28 April 2017 - 13:55 WIB