Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Aneh, justru saat mengetik menggunakan laptop atau komputer, idenya malah tidak mau keluar. Belum lagi saat tujuannya untuk mengikuti sebuah perlombaan. Macet.

Ini kadangkala ku anggap sebagai sebuah 'bala' karena kerap mempublikasikan tulisan di medsos atau blog, namun tidak mampu mengaplikasikan. Pun juga sebuah peringatan pada hati yang kerap lupa pada esensi niat kala menuai pujian. Maka benar kata Darwis Tere Liye, bahwa ada baiknya mendoakan ketimbang memuji. Hal itulah yang selalu membuatku berpikiran jika aku harus menghentikan aktivitas posting status semacam ini. Aku juga berpikir jika ini akan menyulitkanku untuk memelihara hati yang bersih, membuatku tidak mengerjakan laporan dan membuatku tidak belajar UTS seperti hari ini.

Iya, hari ini, mungkin untuk pertama kalinya aku tidak belajar blaaas untuk sebuah ujian. Secara kurang ajar betul kemarin sore tidak ku gunakan untuk belajar. Malam hari merasa ngantuk dan malas menyerang. Paginya aku harus bergegas berangkat biar tidak telat. Padahal sudah seminggu ini tidak nonton televisi. Tidak juga bermain game. Dll. Jadi apa yang sebenarnya membuat aku tidak mampu mempelajari sedikit saja MK PBI yang diujikan hari ini? Entahlah. Aku sejak lama telah paham tentang bagaimana faedahnya mempelajari materi jauh-jauh hari sebelum ujian dimulai---yang bukan hanya berguna untuk sebatas mengisi lembar jawaban, tapi jauh luas tak terbatas dari sekadar itu---namun kadang sulit menerapkan. Jika sudah begini, dalam bis, alih-alih membaca buku sedikit saja aku membaca kalimat subhanallahu wa bihamdihi minim seratus kali, yang dapat menghapus dosa meski sebanyak buih dilautan. Hmm, berasa berdosa mengingat Bidikmisi dll telah banyak 'memberi' kesempatan padaku. Adapun membaca buku di dalam kendaran yang tengah berjalan sering membuatku pusing.

Kalimat "Aku padamu, ya..." saat ujian yang biasa aku lontarkan sebagai candaan, kini menjadi kalimat yang amat serius aku lontarkan pada Irvi, dan mungkin untuk pertama kalinya, karena sejak dulu, aku biasanya mengkosongkan saja jawaban (seperti kata Bu Mardiyah) yang tidak aku ketahui bentuknya, atau sekadar mengarang sampai mentok.Tapi hari ini, aku mengeluarkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh karena merasa belum membaca apalagi memahami materi sama sekali. Inilah salah satu contoh saat aku belum mampu mengaplikasikan pesan yang akau dapat.

"Nah, sebelum ujian, mari kita berdoa dulu, ya.."

*berdoa*

"Yah, selesai. Selamat mengerjakan. Sudah semester enam, ya. Tidak perlu diperhatikan lagi. Sudah paham. Karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Ya kan, Lutfiyah?," ucap Bu Teti.

Perasaanku tersentak, "Eh.. Iya, Bu." Terlihat tersenyum. Merenung.

Atas peringatan itu aku jadi urung meminta jawaban pada Irvi. Aku mengenang. Bukankah aku telah melakukan kegiatan mengkosongkan jawaban dan mengarang sebisanya sejak SD. Akahkah aku menodai dan melupakan kegiatan itu hari ini hanya karena tidak membaca materi sama sekali? Kegiatan yang membuat kebanyakan teman acapkali menganggap aku bisa mengerjakan ujian karena begitu khusyuk mengerjakan. Kegiatan yang kerap membuat aku menyesal tiada guna berhari-hari, namun kerap juga ku ulangi. Kegiatan yang meski memalukan, namun syarat kejujuran.

Peringatan dan renungan yang terbesit itu akhirnya membuat aku tetap mengandalkan ilmu mengarang bebas. Mencongkel ingatan-ingatan tentang materi yang diberikan dalam kuliah Bisnis Perdagangan dan Internasional. Ingatan tentang presentasi yang disampaikan teman-teman malam-malam, yang membuat aku akhirnya menginap di kost Ulfa dengan sukarela. Mengingat haru, betapa MK ini adalah mata kuliah pilhan yang telah lama aku idam-idamkan dan sekarang terlihat ku sia-siakan.

***

Beberapa menit yang lalu, sebelum sampai di halte pertigaan Telang, Kamal ini kami berempat masih tertawa-tawa, bercanda. Kini semua bungkam. Melihat sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Seorang pelajar SMP yang membawa motor menghantam bagian belakang mini bus yang tengah menurunkan penumpang. Aku yang biasanya melihat foto korban kecelakaan di FB, BBM dll yang disebarkan secara sembrono saja tidak berani, kini memberanikan diri melihatnya secara langsung. Nicun dan Himma bertanya dari kejauhan. Irvi tidak berani mendekat walau sudah ku ajak. Aku terus mendekat. Melihat kain batik berwarna coklat menutupi seonggok tubuh. "Allah.. Meninggalkah?" tanyaku dalam hati. Saat bertanya pada salah satu orang yang mengerubuti, ternyata memang demikian. *deg* Aku terkesiap. Aku memberanikan melihat wajah almarhum yang tengah dibuka oleh seseorang. Innalillahi wa innailahi rojiun. Seorang laki-laki, yang tidak ku kenal, terlalu banyak cairan merah. Secara ajaib aku berani melihat. Entah seperti apa wajahku. Apakah sudah pucat pasi. Entahlah. Pengingat kematian ada tepat di depan mataku. Maut bisa datang kapan saja. Aku boleh berkata ini dan itu. Tapi saat itu aku hanya mampu diam. Takut. Takut mati.

"Cepat kesini! Bustomi meninggal..," seseorang tengah menelfon.

Aku kaget. Aku pikir sahabatku Tommy yang juga kuliah di UTM. Dengan perasaan tak menentu aku mendekat lagi memastikan. "Duh, pake seragam coklat," batinku. Siapa pun adik ini, semoga husnul khotimah. Meninggal dalam keadaan menuntut ilmu/berjihad. Katanya mati syahid kalau meninggal karena kecelakaan. Apa pun itu aku sendiri takut memikirkan bagaimana matiku. Lalu semua terjadi seperti tidak nyata bagiku. Darah berceceran. Orang-orang panik. Mobil dan motor berhamburan. Maut telah memisahkannya dari kehidupan.

***

Pidato yang diungkapkan Pak Habibie dalam sebuah forum sangat menyentuh. Tentang dirinya yang bersyukur bisa memahami ilmu pesawat. Namun ia menyesal tidak menghafal dan memahami al-Qur'an sejak dulu. Sang brilian itu barangkali ingin meninggal bersama al-Qur'an. Seperti almarhum qori yang baru-baru ini diberitakan. Maka beliau kini tengah berusaha untuk itu. Memahami al-Qur'an yang menjadi sumber kedamaian hati dan pikiran.

Benar, doa-doa untuk bisa meraih jabatan karir yang membanggakan, meraih beasiswa kuliah di luar negeri dll memang amatlah baik jika selalu diiringi dengan hati yang selalu mengingat-Nya. Bukankah belajar, bekerja dll juga dianggap sebagai jihad di jalan Allah. Namun salah satu doa yang utama, menurut sedikit pemahamanku adalah mati dalam keadaan khusnul khotimah.

***

Kecelakaan tadi telah mengingatkan padaku tentang kematian yang begitu misteri. Tiba-tiba motor hancur, baju kotor, sepatu entah bagaimana, keluarga ditinggalkan, dst. Semua tidak tersisa. Satu yang utuh. Yakni amal perbuatan selama hidup di dunia. Sebentar. Namun menjadi sebuah penentu untuk kehidupan kekal di akhirat. Selain itu, tiga amal yang tetap mengalir meski kita telah wafat, yakni anak yang soleh/soleha, ilmu yang manfaat dan amal jariyah.

Setelah kejadian yang ku lewati hingga siang ini, aku akhirnya urung berhenti memposting tulisanku di medsos. Karena berpikir saat aku mati, aku masih bisa meninggalkan pesan lewat tulisan. Mungkin sedikiiiiit ilmu yang manfaat yang mungkin bisa menjadi sebuah amal jariyah. Yang perlu ku ingat lekat-lekat adalah keharusan implementasi pesan pada diriku, pada hidupku sendiri, sebagai pembagi pesan. Semisal kala ujian, dan berbagai kegiatan lain dalam menjalani kehidupan. Implementasinya memang tidak akan semudah menulis dan membagikan pesan. Tapi semoga Allah selalu berkenan mengingatkan.

***

Kemudian aku pikir-pikir lagi. Membuat pesan lewat status seperti ini sebenarnya tidak menyita banyak waktuku. Bukan penyebab aku tidak mengerjakan laporan, tidak belajar UTS seperti hari ini, dan lain-lain. Karena kebanyakan tulisan yang aku bagikan aku buat sejam atau dua jam sebelum tidur (kecuali catatan ini dan beberapa catatan lain yang tidak lebih dari tiga) sebagai cara untuk merefresh pikiran. Jadi tanggal dan waktu yang tertera dibawah kebanyakan adalah tanggal dan waktu posting, selebihnya memang tanggal pembuatan. Sedang ide yang kerap macet saat dibutuhkan untuk sebuah kompetisi sebenarnya karena diri yang tidak bisa mengontrol rasa malas. Pun kegiatan lainnya.

Akhirnya, semoga niat yang lurus, kemudahan memperoleh ide, kemudahan mengimplementasikan sebuah pesan, kemudahan meraih impian dan selalu mengingat mati lantas mempersiapkan, selalu menyertai kita semua. Aamiin ~

Bangkalan, 28 April 2017 - 13:55 WIB

Aku kerap tersenyum saat bisa begini dan begitu. Ya, aku juga tidak lupa bersyukur. Tapi sayang, aku kerapkali lalai. Aku lalai memahami bahwa semua terjadi berkat daya dan kekuatanNya. Aku bisa membaca, memasak, mengaji dll.

Mungkin kalian juga pernah merasakannya. Saat kalian telah dengan mudah memperoleh juara dalam setiap perlombaan, mendapat karir yang cemerlang, memiliki harta yang berlimpah ruah, mudah memahami pelajaran, mudah melaksanakan shalat tahajjud, berbakti pada orang tua, dan mudah beramal shalih lainnya---kalian akan tersenyum dan merasa bahwa Allah pasti senang melihat apa yang kalian perbuat. Merasa bahwa kalian adalah orang baik yang mampu melakukan banyak kebaikan. Terlintas rasa bangga meski tak sampai terucap.

Tetapi kita lalai kalau semua itu terjadi karena daya dan kekuatanNya. Kita hanya cukup senang dan berucap syukur tanpa benar-benar memahami bahwa tangan-Nya-lah yang membuat semua itu terjadi. Kita bisa belajar dan memahami dengan mudah. Kita bisa bangun pagi dengan mudah. Dan lain-lain. Kita lalai untuk 'benar-benar' memahami. Sampai saat semua itu diambil, barulah kita menyadarinya. Saat kita sulit sekali menghapus rasa malas untuk belajar atau mengaji, barulah kita menyadarinya. Saat sangat sulit rasanya untuk bangun pagi atau hanya sekadar menelan nasi, barulah kita menyadari. Menyadari bahwa laa haula wa laa quwata illaa billah.

Meski ada juga yang amat sadar dan memahami sebelum semuanya diambil. Itu pun terjadi berkat daya dan kekuatan-Nya. Satu lagi yang perlu diingat, bahwa Allah tidak pernah butuh dengan amalan-amalan kita. Justru kitalah yang membutuhkannya.

Bangkalan, 1 Mei 2017 - 12:30 WIB

"Ga semudah itu mengubah cacian menjadi sebuah penyemangat."

Aku tersenyum. Senang sekali. Kala mendapat masukan, saran, kritikan, atau hanya sekadar komentar lewat sebuah pesan. Bukan. Bukan hanya sekadar pesan. Tapi bisa menjadi bahan tulisan baru, renungan baru. Bahan evaluasi diri baru. Bahan muhasabah yang membikin haru.

Semua yang aku tulis dalam statusku adalah berdasarkan sedikit apa yang aku pahami, apa yang pernah aku jalani, apa yang sudah aku lewati, dan apa yang pernah aku alami. Jadi, status itu bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang dipahami orang lain, yang dialami orang lain, yang dijalani orang lain, dan yang pernah dilewati orang lain.

Sudah pernah ku sampaikan, jika tidak pernah ada manusia (kecuali Nabi Muhammad SAW) yang akan selalu bijak disetiap jengkal hidupnya. Pun aku. Karena aku adalah manusia. Aku tidak pernah bijak menggunakan seluruh 24 jam-ku setiap hari. Buktinya, masih banyak impian yang terbengakalai. Aku tidak pernah mudah untuk selalu bersabar, bertaqwa, belajar dan segala tindak tanduk terpuji lainnya. Aku tidak menghapus akun dumay-ku, kan? Aku hanya mengurangi durasi berselancar di dalamnya. Semakin lama semakin coba ku kurangi. Step by step. Hanya saja seperti apa yang ku ungkapkan di catatan Demi Masa || Bacalah itu. Bahwa kemana rutinitas itu akan membawa kita. Itulah yang membuat aku akhirnya menerapkan apa yang pernah disampaikan Pak Andrie dalam kuliahnya saat semester awal dulu. "Kalo yang suka bikin status, ya ga pa-pa. Tapi yang panjang sekalian." ucap beliau.

Aku juga tidak akan dengan gampang mengubah cacian menjadi pemantik semangat. Karena yang ada aku malah merasa kecewa, sedih, down, ingin menangis, dan tidak berharga. Apalagi saat dibanding-bandingkan.

Pernah ku ceritakan saat perkataan menyakitkan itu keluar dari guru ngajiku (dalam catatan Bagaimana Aku Mengartikan Sebuah Tangisan), aku bukannya mampu lebih baik tapi malah makin down. Pindah tempat untuk mengaji. Mencari guru lain, dengan harapan ada guru yang mau menerima murid yang ingin belajar. Setelah SMP aku paham, langkah yang ku ambil itu salah. Aku lalai memahami bahwa guru juga seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Dan aku tidak mau menerima kekurangan itu. Namun hendaknya guru harus berusaha belajar peka, bahwa semua perilaku, perkataan dan sebagainya adalah pelajaran. Keburukan dan kesalahan yang mereka punya juga mampu menjadi pelajaran. Meski, yet stange, I'm ungrateful to  those teachers, kata Kahlil Gibran. Kembali ke cerita, aku malah mendapat motivasi untuk belajar mengaji agar lebih baik lagi dari teman SMP-ku. Bagiku ia mengaji dengan makhroj yang bagus. Maka terlantun doa dalam hati, semoga suatu saat bisa mengaji sebagus dirinya.

***

Sayang, tak apa, bersedihlah...
Karena itu manusiawi. Yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai kau kehilangan pesannya. Pesan yang mengabarkan padamu bahwa kau harus bangkit. Ini hidupmu! Bukan hidup mereka! Kau yang menjalani. Kau sendiri yang akan mampu membawanya kemana.

Aku bilang, status yang ku bagikan juga berdasarkan apa yang sudah aku lewati. Iya, sejak kecil aku seringkali mendapatkan cacian dan sejenisnya. Alih-alih bersemangat untuk membuktikan, aku malah menangis dan makin down. Jika tidak salah aku baru menjadikan itu sebuah penyemangat sejak SMP. Semakin dimantapkan saat di SMA. Itu semua berkat Allah, orang tua, guru-guru dll.

Ada orang yang mampu mengubah cacian menjadi penyemangat secara cepat. Ada yang memerlukan waktu yang cukup lama. Ada orang yang lebih mudah menerima cacian saat orang lain mendambakan pujian. Ada juga orang yang melupakan pujian dengan cepat lantas mengingat cacian dan merenunginya lamat-lamat.

"Tapi kamu hebat sudah bisa mengubah itu."

Aku tersenyum lagi. Pesan berikutnya. Renungan berikutnya. Aku balas:

Sebenarnya aku tidak mengubahnya secara total. Kadang masih ada rasa kecewa, sakit hati, ingin menangis, down, dan segala tetek bengeknya. Yaah, sekali lagi itu manusiawi.

Tapi sebenarnya satu lagi yang ingin aku sampaikan: bahwa apa yang aku bagikan lewat status yang aku bagikan adalah berdasarkan apa yang ingin dan sedang ku usahakan. Karena memang, semua tidak semudah menulis dan membaca teorinya. Pratiknya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan Mpok Mai. Karena bisa jadi, Mpok Mai langsung berlarian kabur, merasa aneh karena kita secara tiba-tiba memegang dan menarik tangannya. *Krik, suer kaga lucu. 😴

***

Katanya, seseorang yang makin tinggi tingkat ketaqwaannya, akan dengan mudah menjalani kehidupan yang semakin tidak mudah. Juga selalu mengingat, bahwa kehidupan yang kekal bukanlah di dunia ini. Hmm, semoga kita senantiasa dibimbing dan dimudahkan untuk paling tidak selalu berusaha menjadi seseorang itu. Aamiin ~

Bangkalan, 24 April 2017 - 11:03 WIB

Aku selalu mengimani jika manusia yang jujur akan mendapat tempat khusus di sisi Tuhannya. 

Kita dapat mempelajari teori Matematika, Ekonomi, Sains, dan sebagainya di bangku kelas. Namun menjadi manusia yang jujur tidak akan pernah cukup dengan hanya mendengarkan materinya di kelas. Perlu praktik, prinsip dan komitmen yang ditancapkan dalam-dalam ke sanubari. Agar tidak oleng ataupun goyah. Walau kemanapun kaki melangkah.

***

Kehidupan kerap menjadi pelajaran yang tidak terlupakan. Belajar tidak hanya identik dengan membaca dan menulis secara arti sesungguhnya. Karena dengan melihat mozaik kehidupan, bisa jadi seseorang tengah belajar.

***

Pernah aku terkesiap saat sopir bus dengan santainya mengembalikan kembalian ongkos yang nominalnya hanya seribu rupiah. Sedikit memang. Namun cukup membuatku berpikir bahwa masih ada sopir-sopir bus yang memelihara kejujuran. Masih ada. Masih banyak. Sama halnya saat aku mendapati sopir bus yang ramah dan baik. Tidak memperlakukan penumpang layaknya barang. Mereka seperti seseorang yang pernah belajar ilmu pemasaran. Ya, memang. Mereka mempelajarinya dari kehidupan. Namun sayang, banyak sopir yang diberi pelajaran yang sama namun lalai mengerjakannya, bahkan untuk sekadar memperhatikannya.

***

Aku juga terenyuh ketika seorang pedagang pengecer aneka rempah-rempah datang ke rumah. Saat itu Ibu sedang tidak ada, jadi pedagang yang ku taksir berusia enam puluh tahun lebih itu memberikan sejumlah uang kepadaku. Itu uang hasil menjual serai.
Jadi begini, kebun di timur rumah kami tanami serai. Dulu kami memanennya secara massal lalu menjualnya sendiri ke pasar. Namun karena terkendala di pemasaran, akhirnya kami hanya memanen beberapa kilo sesuai permintaan pengecer yang datang ke rumah. Adapun kendala pemasarannya terletak pada fakta bahwa banyak serai yang didatangkan dari Jawa untuk dijual di Madura. Akhirnya serai mereka yang besar-besar mampu mengeser serai lokal. Singkat cerita, itulah uang yang kini Nenek itu beri padaku. Namun bukan itu klimaks-nya. Melainkan kalimat yang beliau lontarkan. Begini: "Nak, uangnya masih kurang lima ratus rupiah, ya. Besok saya kesini lagi. Soalnya tadi baru datang dari ladang."
Pecahan yang bagi kita tidak seberapa itu memberi pelajaran tentang nilai kejujuran yang berasal dari sosok sederhana, namun bermakna.

Di Jaman sekarang, kita acapkali seperti seekor sapi yang dicucuk hidungnya. Menurut saja jika disuruh kesana kemari. Ini seperti apa yang diungkapkan Bu Ratna, tentang sistem di beberapa toko dan swalayan yang menjadikan permen sebagai kembalian. Kita langsung mengiyakan. Tidak protes dengan itu. Maka seperti apa yang disampaikan guru saya itu, beliau akhirnya bilang pada si kasir: "Mbak, nanti kalo saya beli-beli pake permen berarti bisa, ya!" "Oh, bisa, Bu." Akhirnya beliau kembali beberapa saat kemudian. Sesuai kesepakatan, beliau membeli barang menggunakan permen kembalian tadi. Itu yang beliau sebut fair. Namun menurutnya, kejadian itu hanya terjadi karena kesepakatan yang dibuat beberapa saat dan sang kasir masih mengingat. Jika tidak?

***

Jujur juga terkait dengan yang namanya keadilan. Saat seseorang menerapkan kejujuran, ia juga membuat keadilan senantiasa terpelihara. Adil pada diri sendiri. Adil pada orang lain.

Lihatlah, dewasa ini, diseluruh penjuru negeri para pejabat membohongi hati nurani. Mereka seakan tidak pernah mengenal pelajaran apalagi praktik perihal kejujuran. Saat dikatakan tidak adil mereka tidak peduli. Asal kepentingan pribadi terpenuhi. Mereka lebih tidak peduli saat rakyat menjerit kelaparan dan mengeluh. Asal perut mereka penuh. Persetan jika hati makin kotor. Asal belum dinobatkan menjadi koruptor. Persetan rakyat menderita. Asal mereka masih bisa menggunakan tameng agama.

Hidup yang dijalani rakyat seperti sopir bus, pedagang kecil dan lain-lain hanya dianggap sebagai episode sinetron yang tak kunjung usai dan patut dilewati begitu saja.

***

Kawan, tetaplah menjadi manusia jujur tak ternilai kemanapun kaki melangkah. Karena kita akan selalu mengimani jika manusia jujur akan mendapat tempat khusus di sisi Tuhannya.

Bangkalan, 25 April 2017 - 05:15 WIB

Kawan, pernahkah kita berpikir berapa akumulasi waktu yang kita habiskan untuk berselancar di dunia maya hanya untuk kebutuhan 'refreshing'?

Pernahkah juga kita mengakumulasi waktu yang kita habiskan untuk berkerumul dengan game?

Pernahkah kita berpikir berapa jumlah waktu yang kita habiskan hanya demi drama korea, dsb?

Pernahkah juga kita menjumlahkan waktu yang kita habiskan untuk kegiatan-kegiatan bersifat hiburan lainnya?

Dari semua kegiatan itu, saya pernah mengakumulasinya. Jangan tanya tentang surfing di dumay. Karena saya pernah menceritakan pasal itu pada kalian. Saya juga pernah amat kecanduan dengan game, puncaknya saat menginjak SMP. Saya juga acapkali menghabiskan waktu untuk menonton drakor (drama korea), dan film-film barat.  Iya, tak bisa dipungkiri, semua itu memang menyenangkan. Lebih tepatnya melenakan. Membuat lupa masa, lupa waktu.

***

"Demi masa." (QS. Al-Ashr: 1).

***

Akhir-akhir ini saya sering berpikir untuk menjumlahkan waktu yang saya habiskan untuk sekadar menunggu angkutan, atau menuggu di dalam bus yang tengah ngetem. Lama. Jika tidak sedang beruntung bisa berjam-jam. Saya lalu berpikir untuk mengakumulasikannya dengan lama perjalanan dari rumah ke kampus dan dari kampus ke rumah. Berapa angka yang akan saya dapat per hari lalu dikalikan per minggu, dst. Habis sudah umur saya hanya untuk menunggu angkutan, perjalanan, dan ngetem. Itulah mengapa kawan-kawan sering menasehati saya untuk menetap di kost saja. Lalu saya tidak mampu menjamin jika di kost saya akan kembali ke masa SMP saya dulu, berkerumul dengan game, drakor dan dumay.

Maka, saya mulai berpikir apa kegiatan yang ringan dilakukan kala menunggu angkutan dan bus ngetem, namun manfaatnya bisa dirasakan.
Dan yah! Saya (insyaaAllah) menemukannya.

***

Semua kegiatan berbau hiburan jika secara wajar dan kadar yang sesuai memang tidak ada salahnya. Apa salahnya merefresh otak yang penuh dengan rutinitas harian. Namun ada tipikal orang--seperti saya--yang jika sudah mencoba sesuatu akan mudah menggandrunginya. Saya kalau sudah memulai bermain sebuah game pasti akan menandaskan levelnya hingga tamat. Pun drakor dan sbgnya. Itulah mengapa kini saya berusaha tidak menginstal aplikasi game di hape saya. Meski tidak naif, jika saya kerap ingin sekali bermain game, nonton drakor, dll saat ini-itu belum kelar.

***

Yang perlu dimengerti adalah bagaimana kita memperlakukan hobi atau rutinitas kita. Akan dibawa kemanakah rutinitas itu? Apakah hanya sekadar hobi dan suka saja? Permisalan mudahnya seperti ini; seseorang belum dikatakan profesional dan dapat mengambil saripati dari hobinya hanya karena berlabel 'suka'. Mereka harus benar-benar mengaplikasikannya. Orang yang suka menbaca kemudian tekun, dapat melatih dan mengembangkan diri di dunia reportase. Orang yang suka memasak belum dikatakan profesional hingga ia menempa diri dengan mengikuti berbagai lomba masak, atau membuat usaha kuliner. Pun orang yang suka menulis hingga ia mengikuti beragam kompetisi, sekadar berbagi, atau menerbitkan buku.Orang yang gemar bermain game belum mampu memetik hasilnya hingga ia benar-benar menjadi seorang gamer profesional. Orang yang suka menjahit, harus mampu membuka order jahitan. Orang yang sedari kecil seringkali membaca komik Jepang sebagai hobi, akhirnya saat menginjak dewasa bisa memetik buah manis karena lancar dan fasih berbahasa Jepang. Dan berbagai contoh lain.

***

Umur manusia diperkirakan hanya beberapa puluh tahun saja. Sedang saya tidak pernah mengetahui berapa sisa umur saya. Saya terkadang takut, jangan-jangan setelah diakumlasi oleh malaikat yang bertugas untuk itu, timbangan saya berat di hiburan. Duh, ya Allah biha ya Allah biha.Ya Allah bihusnil khotimah.

***

Menurut Agnes Mo, ketika ditanya tentang apakah ia tidak takut kehilangan masa mudanya. Ia menjawab dengan santai bahwa ia lebih takut jika harus kehilangan masa tuanya.

***

Ini pesan Pak Andrie kala mengisi MK dulu, beberapa tahun silam: "Mulai sekarang, cobalah baca buku berat, berteori. Nanti beberapa tahun kedepan jumlahkan. Sudah berapa buku yang kalian baca." juga ungkapan penulis ulung Tere Liye yang tak kalah menukik di hati: "Bacalah sepuluh buku saja, maka kau akan merasa sok tahu." dan "Membaca adalah sumber kebahagiaan, jika kita bete, kesal, sakit hati dan sebagainya, maka bergegaslah membaca. InsyaaAllah suasana hati akan lebih tenteram. Dan ingatlah, satu dari sepuluh, novel hanya ada di urutan ke sepuluh bacaan-bacaan terbaik. Masih ada sembilan urutan prioritas lainnya."

***

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).

***

Bangkalan, 24 April 2017 - 04:22 WIB


[Oleh: Dahlan Iskan]

Waktu anak saya tamat SMA di Sarcamento, Amerika Serikat dan memutuskan masuk perguruan tinggi di sana saya tidak sedikitpun memberikan pandangan apalagi arahan. Maka saya tidak tahu dia amsuk fakulstas apa dan jurusan apa. Bukan saja saya memang tidak biasa mau memberikan arahan, juga saat itu  saya sangat focus dan sibuk mengembangkan Jawa Pos—yang karena sukses kemudian menjadi lading penelitian oleh Tatik Suryani saat menyusun Tesis dan kemudian dilanjutkan dalam penyusunan Disertasi pada Program Doktor Universitas Airlangga. Sebuah disertasi yang mendapat nilai cum laude dalam ilmu marketing.

Ketika menyusun Tesis di program MM Unair Tatik Suryani saat itu melakukan penelitian mengenai perilaku pelanggan Jawa Pos yang dianggapnya sangat unik dan loyal. Hasil penelitian itulah yang kemudian juga menjadi sebagian bahn buku yang sedang  anda baca ini. Banyak sekali temuan Tatik Suryani yang saya sendiri sebagai pimpinan puncak Jawa Pos tidak menyadarinya. Yang terpenting dan selalu saya ingat—barangkali akan terus saya ingat seumur hidup—adalah haisl penelitian bahwa sebuah keluarga yang berlangganan Jawa Pos akan sangat sulit untuk memutuskan berhenti berlangganan. Mengapa? Karena, kata Tatik suryani kepada saya di suatu saat, untuk berhenti berlangganan Jawa Pos harus melalui rapat keluarga dulu! Seorang bapak tidak berani begitu saja memutuskan berhenti berlangganan sebelum berunding dengan isterinya. Seandainya sang isteri setuju pun masih harus mendengar pendapat anaknya yang sudah remaja. Kalau tiga-tiganya sudah seendapat barulah keputusan diambil. Satu saja dari unsure tiga keluarga itu ngotot menolak berhenti berlanggannan maka kebutuhan lainlah yang harus dikalahkan. Itu juga mencerminkan betapa mayoritas pelanggan Jawa Pos adalah keluarga yang in good standing. Tentu ada juga keluarga yang suami atau suaminya sangat diktator, namun itu bukan cerminan mayoritas profil perilaku pelanggan Jawa Pos. di sini terlihat kejelian Tatik Suryani dalam melakukan penelitian. Perilaku pelanggan Jawa Pos ternyata begitu khas. Saya belum tahu sebuah produk lain bisa memilki perilaku pelanggan seperti itu.

Adakah terciptanya perilaku pelanggan seperti itu merupakan hasil sebuah strategi marketing yang jitu dari Jawa Pos? Saya harus terus terang mengatakan ini: bukan! Kami tidak begitu hebatnya sehingga mampu menemukan dan merumuskan strategi marketing yang setelah diteliti terlihat begitu hebatnya. Kami tidak pernah belajar ilmu marketing yang begitu canggih. Memang kami sering terinspirasi oleh kasus-kasus marketing di luar negeri, taau juga terinspirasi oleh maha guru marketing seperti Hermawan Kartajaya—untuk diingat bahwa Hermawan saat itu adalah redaktur khusus Jawa Pos—namun terciptanya perilaku pelanggan Jawa Pos seperti tergambar di atas adalah berkat tiga hal: kepepet untuk bisa hidup, fokus perhatian yang tidka mendua dan kerja keras yang tidak mengenal waktu. Memang ada sedikit referensi dan kecerdasan tapi kami tidak pernah menjadikan itu lebih penting posisinya dibanging tiga hal yang saya sebutkan tadi.

Posisi “kepepet”, memang sering membuat orang nekat. Sebuah keberjhasilan yang dilatarbelakangi posisi “kepepet” penjelasannya memang tidak ilmiah. “Kepepet” yang kemuidan melahirkan “kenekatan” bisa bermuara pada keburukan atau kebaikan. “Buruk” kalau kenekatan itu diwarnai oleh cara berpikir yang negatif. Akibatnya bisa menghasilkan peristiwa bunuh diri, merampok, culas, curang dan setidak-tidaknya menyerah pada keadaan. Tapi kenkatan yang sma akan menghasilkan keberhasilan atau diwarnai oleh suasana berpikir yang positif. Kepepet, nekat dan kemudian kerja keras. Sambil kerja keras, terus berpikir keras. Karena waktunya hanya untuk berpikir dan bekerja di bidang itu, maka lahirlah “fokus”. Ini yang seiring saya sebut sebagai “tauhid perusahaan”. Begitu fokusnya, sehingga tidak sempat memikirkan yang lain-lain. Termasuk memikirkan akan ke manan dan mengambil jurusan apa anak saya ketika masuk perguruan tinggi.

Enam bulan setelah anak saya masuk perguruan tinggi, saya mendapat kesempatan pergi ke Amerika. Di masa-masa pertumbuhan Jawa Pos saya memang sering ke Amerika—rata-rata enam bulan sekali. Amerika sungguh menjadi Negara yang tepat untuk melakukan shopping ideas. Waktu itu Tiongkok masih masih sangat terbelakang—lebih terbelakang dari Indonesia. Namun dengan kemajuan Tiongkok sekarang ini, saya tidak sering ke Amerika lagi. Saya selalu belanja ke Tiongkok. Kali ini “belanja semangat”—agar semangat untuk maju terus terjaga.
Saat ke Amerika itulah saya sempat mengunjungi anak saya. Baru saat itulah say bertanya mengenai keberadaan anak saya di perguruan tinggi. Itupun bertanya sambil lalu saja dalam perjalan dari lapangan terbang ke apartemennnya.

“Ambil jurusan apa?,” Tanya saya.

“Manajemen,” jawabnya.

“Mengapa manajemen?,” Tanya saya lagi.

“Lho kan saya lihat abah (begitu anak saya memanggil saya) itu bergerak di bidang manajemen,” jawabnya.

“Mengapa pilih jurusan yang begitu gampang?,” tanya saya lagi.

“Lho manajemen itu gampang,” kata saya sekenanya.

“yang sulit itu marketing,” jawab saya.

“mengapa sulit…..?,”
“juga lebih penting dari manajemen,” sela saya.

“Kok…?”

“Katakanlah kamu jadi top manajemen di sebuah perusahaan. Kalau marketingnya tidak jalan, apanya yang mau dimanajemeni? Karena marketing tidak jalan, perusahaan tidak punya income. Kalau perusahaan tidak punya pendapatan, apa yang akan diatur?,” jawab saya.

“Ooh…”

“Jualan itu sulit…”

Tapi saya tidak pernah memintanya pindah ke jurusan marketing. Saya juga tidak mencela pilihannya di jurusan manajemen. Saya tidak cukup waktu dan perhatian untuk memikirkan itu.
Enam bulan kemudian, ketika saya ke Amerika lagi, dan smepat menengok anak saya lagi, saya dilapori bahwa dia sudah lam pindah jurusan manajemen ke marketing. Dia lulus dengan cum laude dari jurusan marketing di Sacramento State University. Salah satu karyanya adalah bagian Deteksi, bagian penting di Jawa Pos sekarang ini—yang antara lain membuat iklim seorang pelanggan Jawa Pos baru bisa berhenti berlangganan kalau sudah melibatkan anak remajanya untuk mengambil keputusan.

Buku Tatik Suryani ini telah merupakan penghargaan yang sangat besar bagi saya khusunya dan Jawa Pos pada umumnya dank arena itu saya pun memerlukan membacanya sejak masih berwujud Tesis, kemudian juga Disertasi. Bahkan saya juga sempat menyaksikan bagaimana disertasi ini harus diuji oleh Tim Penguji yang kemudian memberikan kelulusan doktor dengan cum laude.

Surabaya, 25 Februari 2008

Dipindah dari: Suryani, T. 2012. Perilaku Konsumen: Implikasi pada Strategi Pemasaran. Graha Ilmu. Yogyakarta.


Bangkalan, 27 April 2017 - 06:08 WIB



[Oleh: KH. Bachtiar Nasir]

Penekanan bahasan kali ini lebih kepada personality ketimbang disiplin akhlak, karena jika tidak salah konotasinya; Akhlakku Kepribadianku. Dalam bahasa Arab, personality adalah as-syakhshiyah.  As-syakhshiyah al islamiyah. Islamic personality. Walaupun sebetulnya kata personality tidak tepat untuk menggantikan kata as-syakhshiyah. Pertama dari segi bahasa, personality dari kata persona dalam bahasa Inggris berarti topeng. Selanjutnya personality berubah konotasinya menjadi keseluruhan organisasi individu di tingkat pikiran, perasaan dan tindakannya, baik terhadap dirinya sendiri atau hubungannya dengan orang lain. Jadi yang akan dibahas adalah soal intrapersonal skill dan interpersonal skill. Bagaimana kita menata kelola diri kita sendiri dan menata kelola hubungan kita dengan orang lain.

Secara keilmuan sebenarnya personality umat islam yang kurang paham mengenai  as-syakhshiyah al islamiyah lebih terpengaruh oleh cara-cara pandang atau budaya-budaya non islam. Mulai dari tingkat pemikiran, keyakinan, sampai kepada tindakan-tindakannya.
Sejarah ilmu kepribadian dalam ilmu modern yang sering kita pelajari, baik di kampus, training-training, yang notabennya rujukannya seringkali bukan agama dan jauh dari nilai-nilai islam. Sejarah tersebut ada yang berasal dari ilmu gurat tangan, ilmu perbintangan, ilmu tulisan tangan, ilmu tentang wajah, ilmu tentang kuku dan lain sebagainya. Mereka bisa membaca karakter seseorang dilihat dari kukunya. Kemudian secara keilmuan perkembangannya menjadi beberapa tipologi. Seperti tipologi yang didasari oleh pemikiran Hipocrates, Jung, Aristoteles dan lain-lain. Mungkin kita telah sering mendengar istilah introvert dan ekstrovet, itulah yang ada dalam teori Jung. Atau istilah sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis yang dikemukakan oleh Hipocrates dan Aristoteles.

***

Melihat dari segi keilmuan, Islam adalah agama yang sejalan dengan ilmu pengetahuan, selama akal manusia yang digunakan untuk menyelami ilmu pengetahuan itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Fenomena soal Ayah Edy yang mengatakan bahwa pelajaran seks awal untuk anak adalah bukan mengajari mereka malu terlebih dahulu. Melainkan dipuaskan dulu logikanya. Ini menurut pendekatan barat. Sebab jika seorang anak diajarkan malu terlebih dahulu lalu dia belum kenal tentang anatomi tubuhnya, akhirnya dia akan sulit mengenal. Inilah yang membuat Ayah Edy memperlihatkan kemaluannya kepada anak yang masih di bawah umur itu. Sehingga dijelaskan anatomi biologis alat vitalnya supaya anaknya memahami itu secara rasional. Sudut pandang ini tentu keliru dan bertentangan dengan nilai-nilai fitrah. Karena tidak melihat science atau ilmu pengetahuan dari sudut pandang wahyu terlebih dahulu, tapi lewat pendekatan-pendekatan kebenaran yang bersifat empirik.

Ini menjadi penting untuk mempelajari ilmu kepribadian berdasarkan sudut pandang agama Islam. Kepentingan itu bukan hanya karena soal karir, bakat, dan cerdas melihat diri sendiri, atau cerdas berinteraksi dengan orang lain. Dalam Islam ketika kita mempelajari soal  As-syakhshiyah al islamiyah, pertama kali yang diharapkan adalah bagaimana kita bisa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi puncak kepribadian seseorang adalah taat. Sebab kalau semata-mata pergaulan, lalu output-nya adalah maksiat, maka kita sendiri yang akan sengsara. Misalnya, seorang agent insurance atau penjual kartu kredit yang dikejar target akan melakukan cara apapun untuk memenuhi target tersebut. Negotiation to yes strategy, pukat harimau, jaring laba-laba dan lain-lain adalah cara-cara yang dilakukan untuk mendapatkan klien. Jika cara yang dilakukan telah  bercampur dengan kemaksiatan, maka kita sendiri yang akan hancur.

Sedang dengan mempelajari ilmu  As-syakhshiyah al islamiyah, output yang diharapkan adalah bagaimana kita mampu; 1. ‘uluwwul himmah, dan 2. quwah amaliyah. ‘Uluwwul himmah artinya memiliki semangat yang tinggi dan tekad yang kuat di dalam jiwanya. Sedang quwah adalah kekuatan dan amaliyah adalah perbuatan. Jadi, mampu menjadi pribadi yang sangat produktif karena telah memiliki semangat yang tinggi.

Itulah sedikit gambaran awal mengenai akhlakku kepribadianku, selengkapnya dapat disaksikan di youtube channel AQL Islamic Center.

Bangkalan, 22 April 2017 - 08:39 WIB

Innamal a'malu binniyat adalah hadits yang pertama kali aku pelajari saat duduk di bangku MTs. Namun siapa sangka bahwa bagiku hingga kini pengamalannya ternyata sulit. Artinya kurang lebih adalah amal itu tergantung dari niatnya.

Seorang pemuda mudah saja berkata: "Ayolah, Men! Ga masalah-lah bilang mery christmas hanya untuk toleran. Kan innamal a'malu binniyat."

Atau

"Foto dengan pose mata satu? Sungguh, innamal a'malu binniyat, Kawan!"

Dan lain-lain.

Aku pun dulu mengira begitu (untuk contoh kedua). Namun ternyata, seperti apa yang diungkapkan oleh KH. Bachtiar Nasir bahwa Qul, innal huda hudallah. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah". Jadi, no excuse!

***

Ngomong-ngomong soal niat, aku akhir-akhir ini dibingungkan dengan bagaimana memelihara niat yang benar nan lurus. Aku bergabung dengan sebuah organisasi yang sejauh pengetahuanku ini adalah organisasi yang komplit. Bergerak di dakwah, sosial dan bisnis. Meski begitu, tetap tidak ada manusia yang sempurna. Pun organisasi ini. Ada titik dimana tidak ku sukai. Yang terkait dengan niat. Membuat aku jadi bimbang.

Keputusan itu dikritisi oleh beberapa anggota keluarga. Sebaiknya aku keluar dari komunitas itu. Lebih baik fokus kuliah dan ibadah. Mereka pada muasalnya memang tidak pernah setuju aku ikut sebuah organisasi. Meski telah aku jelaskan secara amat detail organisasi apa yang aku ikuti. Ini juga lebih membuatku bimbang.

Keduanya sama-sama membuatku berpikir: "Jangan-jangan niatku tidak dibenarkan Allah. Jangan-jangan orientasiku hanyalah gelar, pekerjaan, kemampuan, dan beasiswa magister. Jangan-jangan orientasiku hanyalah dunia dan dunia." Aku tergugu.

Untuk itu begini logikanya: "Aku hanya mencari seseorang yang tampan, pintar, cerdas dan kaya raya untuk menjadi pendamping hidupku tanpa memikirkan bagaimana akhlak dan ibadahnya.

Aku makin tergugu kala mengetahui pengakuan jika larangan itu karena mereka terlalu menyayangiku--orang yang bagi mereka terlalu polos. Padahal ini bukan organisasi yang terkait dengan sindikat bom bunuh diri dan lain sebagainya. Hehe.

Pikiran yang lain berkata: "Luruskan niatmu, Nak. Niatkan untuk benar-benar beribadah. Karena apa yang kamu dapat berasal dari apa niatmu. Bukankah komunitas ini dipenuhi dengan kegiatan beribadah? Meski berseliweran iming-iming duniawi. Maka jernihkan hatimu. Tata lagi niat yang lurus. Jadikan lelah menjadi lillah." Aku tertunduk.

***

Sungguh, terlepas dari innamal a'malu binniyat, kini aku hanya butuh hudallah. Petunjuk dari Allah. Sebenar-benar petunjuk yang harus diikuti.

Bangkalan, 18 April 2017 - 03:59 WIB

Kapal berlabuh saat adzan ashar berkumandang indah. Masjid Jamik Baitul Amal Kamal berada tak jauh dari pelabuhan. Akhirnya sembari menunggu Fatim--yang berbaik hati, bersikeras ingin menjemputku--aku menuju masjid itu. Dan ini kali pertamaku menginjakkan kaki disana. Aku kemudian duduk sebentar membalas beberapa pesan via whatsapp di hapeku. Salah satu pesan berisi sebuah alamat laman artikel menarik terkait fitnah dan smartphone di jaman internet ini.

Selang beberapa menit, dua orang anak kecil yang cantik dan lucu menghampiriku. Yang satu agak berisi, sedang satunya cenderung langsing. Keduanya sama-sama membawa mukenah yang telah terlipat dan seakan dibungkus dengan sajadah seperti saat aku pulang mengaji dulu. Mereka berdua tiba-tiba berbicara padaku.

"Mbak, Mbak namanya siapa? Mbak, minta pin-nya." Kata si berisi, yang belakangan ku ketahui namanya Yuli, kelas 4 SD.

"Iya, Mbak. Minta pinnya." si lansing dan cantik ikut menimpali. Dia Warda kelas 1 SD. Sekilas mereka terlihat sepantaran.

"Ayo, Mbak. Minta pinnya." keduanya pura-pura memohon.

"Hah?," aku masih tidak percaya pada permintaan keduanya. Yang lebih membuatku heran, bagaimana bisa mereka berdua mendekatiku. Padahal sepanjang perjalanan aku berusaha menutupi mata yang sembab. Takut kalau-kalau berjumpa anak kecil, mereka akan berlarian, ketakutan.

"Ayo, Mbak." masih memohon.

"Pin apa?" aku pura-pura bertanya. Ya masak mereka mau minta pin kartu ATM.

"Pin BBM, Mbak." keduanya bergantian melafalkan kalimat yang sama.

"Pin BBM milik Mbak?" aku berlagak dodol.

"Iya, Mbak, Iya."

"Memangnya buat apa, Dek? Tersenyum. Ah, ini senyum pertamaku hari ini.

"Ga buat apa-apa, Mbak."

"Iya, Ga buat apa-apa."

"Lah terus kenapa minta? Kalian punya BBM?"

"Iya, Mbak. Punya. Di rumah hapenya."

"Rumahnya dimana?"

"Deket sini, Mbak."

"Rumah Mbak dimana?"

"Di Tanah Merah. Tahu?"

"Iya tahu, Mbak."

"Kalo Mbak boleh tahu, memangnya buat apa?" Aku merogoh tas mengambil sebuah buku.

"Ya cuma buat ngeping-ngeping aja, Mbak. Biar rame." tersenyum polos.

Duh, Allah. Aku ingin tertawa mendengar jawaban itu. Sambil menulis pin di sebuah kertas dan kembali tersenyum menahan tawa aku melanjutkan perbincangan.

"Buat apa BBM, mending hapenya buat belajar. Mbak aja sebenernya pengin ngapus BBM Mbak. Tapi..."

"Duh, jangan Mbak. Jangan!" ucap mereka kompak dengan sedikit berteriak.

"Tapi apa, Mbak?" penasaran.

"Tapi Kakak Mbak di Arab. Jadi kalo nelfon pake BBM?"

"Video call?" heran.

"Iya," aku tersenyum lagi.

"Ya udah ya, Mbak mau sholat dulu."

"Iya, Mbak. Makasih yaa.."

Keduanya berjalan lucu sambil membawa yang lebih mirip memeluk mukena. Di tangan, mereka telah memegang satu-satu kertas yang aku sobek dari bukuku. Berisi nama dan pin BBM-ku. "Mbak, satu-satu ya bikinnya." pinta mereka.

***

Selamat datang di dunia dewasa ini. Masa dimana kau akan lebih banyak menemukan di lingkunganmu anak-anak kecil berkerumul dengan hape daripada buku-buku. Maka bagus sekali terobosan disana sini yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak, mengajak mereka membaca. Sungguh mulia. Seorang penjual cilok di daerah Jawa Barat rela menyesaki gerobaknya dengan buku-buku. Saat anak-anak atau pelanggannya mengantri cilok. Mereka bisa sambil membaca. Itu hanya secuplikan contoh.

Aku sendiri sering sedih melihat adikku yang masih SMP kelas 7 namun tidak bisa terpisahkan dengan hape. Sering aku menasehati. Sering pula tidak didengar sama sekali. Saat istirahat sekolah ia menggunakan Wi Fi sekolah yang tersedia bebas. Di rumah ia menggunakan data pribadi. Lalu kapan membacanya? Saya tahu, tidak seperti saya yang meski berusaha keras meraih peringkat satu dengan belajar--ia bisa mendapatkannya hanya dengan belaiar semalam. Namun buku adalah jendela dunia. Bukan hanya sekadar bahan mengisi lembar jawaban.

Aku sering merasa sedih dengan diri sendiri yang kerap menggunakan smartphone dengan cara yang stupid. Memotret sana sini lantas kububuhi tulisan. Touch send. Terupdatelah status intagram milikku. Aku telah membuang waktu sepersekian menit atau bahkan jam. Padahal Allah telah bersumpah dalam surah Al-Ashr.

Aku juga kerap shock dengan aplikasi pengolah data yang tiba-tiba muncul iklan-iklan berbau porno. Hal seperti itu juga acapkali tersebar di internet. Fitnah bertebaran dimana-mana. Maka, peran keluarga, guru dkk sangatlah penting disini. Mengawasi, menjaga, menasehati dll.

Yang menjadi pertanyaaku, akankah semua orang yang menurut mereka bisa berbagi pin akan mereka tanyai satu persatu. Akankah kita membiarkan wajah-wajah bibit Indonesia seperti ini? Sepertiku?

***

Sebenarnya smartphone itu untuk siapa? Jangankan anak kecil, orang dewasa saja tidak mampu menggunakannya dengan bijak. Smartphone kerap merenggut waktu bercengkrama bersama keluarga. Merenggut waktu belajar dan bermain, kecuali main game. Smartphone membuat kita mengurangi durasi membaca al-Qur'an. Smartphone membuat yang dekat terasa jauh. Dan yang jauh dan maya terasa begitu dekat lagi akrab. Dan berbagai fenomena lain.

***

Sejam kemudian sebuah invite datang dari Yuli. Aku confirm. Ia langsung mengirim pesan berupa voicenote. Aku play it.

"Mbak, invitannya Warda nyampe?"

"Haha, belum."

"Ooo, oke. Udah dulu ya, Mbak. Hape saya lobet (bukan lobat)."

"Oke, Dek."

"Oke, Mbak." (Original text: Oke bk)

Bangkalan, 16 April 2017 - 17:20 WIB

Belajar dari presentasi kemarin, aku yang di malam sebelumnya belum membaca materi sama sekali. Entah karena malas atau jadwal rutinitas yang lumayan mencekik. Beruntungnya seminggu yang lalu aku telah sedikit membaca dan memahaminya. Secara otomatis memoriku memanggil kembali ingatan-ingatan mengenai materi itu. Ini yang ku maksud bahwa apa yang aku baca seminggu yang lalu berdampak pada hari kemarin, seminggu setelahnya.

Seorang pencari ilmu menempa diri mereka bertahun-tahun lamanya. Saban hari melatih dan menguji kemampuan memahami, menghafal, menghitung, menganalisa, dan lain sebagainya. Apa mereka langsung bisa menikmati hasilnya saat itu juga? Tidak. Mereka akan menuainya beberapa tahun kedepan. Apa yang seorang pencari ilmu latih sekian lama akan berdampak beberapa tahun lagi.

Seorang manusia juga akan merasakan dampak dari apa yang dilakukannya selama di dunia. Semua yang dilakukan selama hidupnya bertahun-tahun akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Ini nasihat yang selalu ku ingatkan pada diri sendiri; untuk selalu ingat bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Puluhan tahun di dunia yang di jika dikonversikan dalam waktu di akhirat hanyalah beberapa jam saja. Sebentar memang. Itu karena Allah sayang. Dia tidak ingin kita terlalu lama menumpuk dosa. Dia ingin waktu yang singkat ini digunakan untuk memupuk kebaikan yang kita tanam dan kita nikmati buahnya di tempat yang abadi.

Konsep yang saya sederhanakan ini seringkali kita lupakan. Bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Sangat sebentar lagi fana. Sering kita tertipu oleh sosok bernama dunia.

***

Hari ini umurku di dunia genap sudah berkurang 21 tahun. Juga hari dimana Ibuku berada diambang kematian. Sedang Bapak tiada berhenti merapalkan doa. Hari yang begitu sakral. Hari yang mengingatkanku betapa beberapa jam di duniaku semakin terkurangi. Semoga diiringi dengan pribadi yang lebih baik kian hari.

Bangkalan, 11April 2017 - 11:04 WIB

Sikap ambisius orang tua kerap terbungkus rapi oleh cinta dan kasih sayang. Berlandaskan kedua alasan itulah kedua orang tua bisa sampai hati memberikan banyak didikan tambahan berupa les/kursus. Beragam les seperti les Matematika, les bela diri, les bahasa asing, les musik, les tari dan sebagainya. Seorang anak bisa jadi menjalani lebih dari tiga les setiap harinya. Ini semua demi 'kebaikan' sang anak, kata orang tua mereka.

Les memang penting, agar anak mampu membayar ketertinggalan pelajaran saat di sekolah. Atau untuk orang tua yang super sibuk dan tidak ada waktu untuk mendampingi anak belajar, les menjadi teramat penting. Les juga dapat dijadikan ajang latihan, menemukan atau pun mengasah bakat, dan tujuan-tujuan tertentu lainnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak-anak juga membutuhkan waktu bermain.

Masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan untuk dikenang nantinya. Jangan sampai karena rentetan les yang harus mereka lakukan akan menjadi sejumlah beban tak tertangguhkan. Oleh karenanya orang tua harus bijak pada anak-anak mereka. Jangan biarkan apa yang kita lakukan dengan cinta dan kasih sayang membuat anak malah stress. Bisa jadi pahit yang didapat, bukan buah manis .

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang menghafal al-Qur'an sejak kecil? Tidakkah mereka stress?
Yang ada mereka malah ketagihan dengan kegiatan itu. MasyaaAllah. Sebut saja Musa dan Wirda Mansur. Mereka mengaku tidak tertekan dengan apa yang mereka jalani. Itu semua salah satunya karena orang tua yang paham akan porsi bermain mereka sebagai anak-anak.

Bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah membanting tulang, memeras keringat, mencari nafkah sendiri sedari kecil?
Mereka adalah anak-anak yang 'berbeda' dari anak kebanyakan. Mereka telah didewasakan oleh peliknya kehidupan. Mereka anak-anak yang bijak, bersyukur dan tahan banting, tidak seperti hape dari Tiongkok. Mereka lebih kuat dari apa yang kita kira. Mereka lebih dewasa dari usia yang mereka punya. Mereka mampu menjadi pelajaran bagi yang mau melihat dan mendengarkan. Melihat dan mendengarkan televisi dalam acara Orang Pinggiran, Bocah Pejuang (hehe, jadi promo) dan lain-lain.

***

Sebuah pengakuan lucu dari seorang dosen tentang anaknya yang tidak pernah dipaksa untuk les bahasa Inggris namun memiliki nilai Toefl yang mengagumkan untuk anak seusianya. Itu adalah hasil dari belajar secara intensif yang timbul dari keinginan sendiri. Berawal saat ditertawakan teman-teman kelas kala hendak ijin ke kamar mandi dengan menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, ia yang tidak mampu berbahasa asing tersebut menjadi bahan tertawaan. Kabar baiknya, ia menjadikan itu sebuah motivasi.

Pernah juga seorang dosen yang IPK-nya empat bahkan tidak mendaftarkan anak les ini dan itu. Anaknya belajar dan bermain sewajarnya.

Kedua cerita itu juga hampir serupa dengan adikku yang selalu mendapat peringkat satu di kelas meski tidak pernah belajar secara berlebihan. Aku seringkali jengkel, kenapa aku yang dulu belajar dengan keras malah tidak mampu mencicipi peringkat pertama sama sekali.

***

Akhir oretan: adapun beberapa cerita di atas tidak bermaksud untuk mengajak para orang tua tidak mengkursuskan anak mereka. Atau mengajak anak-anak untuk tidak perlu belajar. Bukan. Percayalah, bahwa mereka akan mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Meski begitu memang, apa yang dijalani dengan tekun akan membuahkan hasil yang indah. Seperti prestasi Musa, Rio Haryanto dan masih banyak lagi. Sekali lagi, yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan sang anak dengan porsi belajar dan bermain yang sesuai dengan kebutuhan. Aku bukan orang tua. Aku hanya menulis dari sedikit apa yang aku pahami. Aku pribadi tidak menjamin jika kelak aku membaca lagi oretan ini, aku akan mampu mendidik anakku dengan baik. Sungguh, aku tidak dapat menjamin. Aku hanya ingin berbagi atas apa yang Ibu dan Bapakku bagi kepadaku, meski hanya dalam diam mereka. Semoga bermanfaat!

Bangkalan, 9 April 2017 - 18:30 WIB


Aku seringkali penasaran dengan cara orang pintar dan cerdas mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Berapa buku yang telah mereka telan? Berapa jurnal yang telah mereka tandaskan? Atau mungkin berapa situs web yang telah mereka buat menjadi sebuah rujukan?

Aku seringkali mengevaluasi caraku berpresentasi. Membuatku tertawa sendiri. Melihat omonganku yang kerap tidak jelas, konyol, belibet, dan mutar-mutar. Tak apalah. Lain waktu akan aku perbaiki. Dan kenyataannya, begitu lagi, ku ulangi, dan payah sekali.

Aku seringkali membuat target-target, lantas ku tulis besar-besar di sebuah kertas. Sering juga sedih karena banyaknya tulisan itu hanya menjadi bangkai target. Hanya ku tulis dan tidak ku upayakan apa yang pada awalnya harus ku lakukan.

Dua bangkai target dari sekian banyak target itu adalah Soft Skill dan Writing Essay. Ku harap mereka hanya mati suri. Tidak sampai menjadi bangkai.

***

Right, aku telah sedikit memahami apa itu essay. Namun membuat sebuah essay ternyata lebih sulit dari membuat dodol. Kekeringan ide adalah alibiku. Ah, barangkali aku hanya sulit untuk memulai. Memangnya sudah berapa buku, jurnal dll yang telah aku lahap? Lantas mengapa kurang ajar betul mengatakan kekeringan ide?

Lalu aku melirik target yang juga tergeletak membuat pilu. Soft Skill, yang artinya upaya-upayaku untuk melatih soft skill di semester sepuh ini. Tidak ada kata terlambat. Jangan sampai  begitu lagi,  ku ulangi dan payah sekali.

Hope Allah tidak bosan memberi bimbingan pada hamba yang acapkali lupa ini. Juga mengantarkan teman-teman terbaik yang tidak sukar berbagi. Seperti segelas susu coklat hangat yang rela berbagi nikmat dan kehangatan kala pagi. 

Bangkalan, 14 April 2017 - 07:59 WIB

[Obrolan santai || 😔: Lut, kamu kok ga pernah ngelike postinganku? 😅: Hehe, maap, aku jarang nyecroll newsfeed ampe bawah. Paling-paling cuma yg top. Ato cuma ngupdate status dan liat notif. Maklumlah, biar ga terlalu kecanduan kek dulu (ngeles, padahal biar hemat data), sampe paham amat seluk beluk facebook. Sorry ya, hehe. 😒: Nyesel aku nanya. 😂: Duh, cerewet suka kambuh. 😴: Hzz~]

***

Cacian dan pujian adalah sama. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran. Bergantung pada bagaimana kita menyikapi cacian dan pujian.

Pujian bisa jadi membuat kita tersenyum, namun jangan sampai kita terlena dan terjebak didalamnya. Rasul pernah bersabda tentang peringatan bahwa kita harus mewaspadai perbuatan yang satu ini. Beliau mengibaratkan orang yang memuji orang (saudara seiman) lain seperti memenggal kepala orang itu. Itu adalah sebagai bentuk bahwa pujian mampu memberikan kemudharatan pada yang menerimanya. Untuk itulah rasul berpesan agar kita senantiasa memohon ampun atas diri kita dan diri orang lain yang memuji kita. Beliau sendiri jika memuji para sahabat tidak langsung di depan mereka, akan tetapi saat sahabat yang dipuji tidak ada. Ini bertujuan agar menjadi motivasi untuk yang lain. Namun tidak menjerumuskan yang dipuji.

Mengapa memuji disebut sebagai salah satu cara untuk menjerumuskan? Karena kadangkala pujian yang berlebihan, setinggi langit cenderung membuat yang dipuji terjerumus ke sifat tercela, yakni ujub dan sombong. Dalam keseharian, kita tidak mampu mengelak jika kita memang sudah tidak asing lagi dengan pujian dan memuji. Maka dari itu, kita perlu untuk memahami bagaimana cara untuk meyikapinya.

Saat menerima pujian hendaknya kita menghargai dan mengapresiasi orang yang telah memuji kita. Lebih-lebih pujian yang mereka lontarkan dengan tulus. Jadikanlah pujian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan cepat puas diri. Namun bukan juga terlalu ambisius berburu duniawi. Karena bahasannya disini sangatlah luas.

Selalu bersikap rendah hati. Karena semua terjadi hanya berkat daya dan kekuatan-Nya. Selalu berpikir bahwa masih banyak orang yang lebih baik dan lebih hebat daripada kita. Ini membuat kita tidak akan sampai hati untuk meremehkan orang lain. Pun selalu ingat jika ada Yang Maha Baik dan Maha Hebat.

Saat menerima pujian, kita hendaknya juga mengingat jika Allah hanya sedang memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan menutupi aib-aib yang kita miliki.

Kemudian jangan lupa bersyukur saat menerima pujian. Semua hanyalah sebuah titipan. Meski hanya seuntai pujian.

***

Lalu bagaimana menyikapi cacian yang kerap begitu menyakitkan?

Sama, jadikanlah cacian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi. 

Selain itu jadikan cacian sebagai pengingat untuk muhasabah diri, intropeksi.

Cacian tidak lantas membuat kita lemah dan keok menjalani kehidupan. Tapi cacian adalah sesuatu yang mampu membuat kita melesat ke depan.

Kita hendaknya mengingat Allah di setiap waktu. Pun saat menerima cacian. Berdoa, memohon padanya supaya selalu diberikan kekuatan dan kesabaran. Karena hakikatnya, cacian adalah sebuah ujian.

Bersyukur, karena Allah mau mengingatkan kita lewat cacian yang dilontarkan oleh orang lain. Bersyukur, karena itu artinya Allah masih mau menganggap kita sebagai hamba-Nya.

***

Ingat, cacian dan pujian adalah sama-sama sebuah ujian untuk kita. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran.

***

[Nyanyi lagunya Smash 🎤 : "Cacian loe gue cuci dengan senyuman prestasi."]

Bangkalan, 23 April 2017 - 05:46 WIB

Door Duisternis Tot Licht adalah judul buku berisi kumpulan surat-surat yang konon ditulis oleh R.A Kartini. Dalam bahasa Indonesia dapat berarti; Habis gelap terbitlah terang, yang begitu familiar di telinga kita. Jika tidak salah istilah tersebut terinspirasi dari penggalan ayat al-Qur'an yang berbunyi; Minadzulumaati ilan nur dalam QS. Al-Baqarah. Adapun surat-surat yang ditulis beliau berisi dobrakan pemikiran-pemikiran yang dampaknya bisa kita rasakan hingga kini.

***

Aku tidak ingin membahas mengenai isi buku itu, karena aku bahkan belum pernah memegangnya. Aku juga tidak ingin bercerita mengenai sejarah beliau. Karena memang, meski aku menyukai sejarah, aku lebih suka orang lain yang menceritakannya untukku. Maka, pembendaharaan cerita mengenai sosok RA. Kartini dalam benakku sangatlah terbatas. Hanya sekelumit perjuangan yang ia tuliskan lewat surat-surat mendobraknya. Yang kemudian ia kirim ke korespondensinya di Eropa. Tentang beliau yang berjuang agar wanita pribumi dapat mengenyam pendidikan, hingga akhirnya ia mampu mendirikan sekolah wanita. Tentang emansipasi yang selalu dijunjungnya tinggi-tinggi. Hanya itu. Duh, malu juga rasanya di umur yang sama dengan tanggal kelahiran beliau ini aku hanya mengenal beliau sebatas itu.

Karena itu, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, telah menjadi salah satu wanita yang dapat menikmati buah manis atas perjuangan yang berhasil beliau lewati. Meski aku bukan Dwi Handayani Syah Putri dan Kartika Jahja yang baru-baru ini masuk di daftar 100 wanita berpengaruh di dunia---dirilis sebuah media ternama, BBC.  Aku juga belum mampu mengharumkan nama Indonesia seperti Alexandra Asmasoebrata dengan kemampuan balapnya. Seperti Rini Sugianto sebagai animator di Film The Hobbit 3, Iron Man 3 dan lain-lain (lupa, hehe). Seperti Irma Hardjakusumah, Anggun Cipta Sasmi, Christine Hakim, Sri Mulyani Indrawati dan masih banyak lagi. Banyak banget. Iya, aku belum seperti mereka. Namun itu tidak membuatku urung berterimakasih pada R.A Kartini--sekali lagi--yang membuatku dapat menikmati buah manis atas perjuangan yang berhasil beliau lewati.

***

[Di balik beragam kontroversi mengenai ke-akurat-an isi buku tersebut. Aku hanya ingin bilang satu hal pada kalian: "Kalo kalian punya bukunya, aku minjem yak!" hehe]

***

Selamat Hari Kartini! Buatlah beliau tersenyum bangga terhadap kita, wanita-wanita Indonesia!

Bangkalan, 21 April 2017 - 19:05 WIB


Pun aku juga beberapa kali (mungkin cuma tiga kali) menjumpai teman yang tiba-tiba bertanya padaku. Aku kaget, ternyata mereka memperhatikanku. Begini pertanyaannya: "Kenapa kamu ga pernah pake celana jeans ke kampus?"
Lalu dengan kalimat awalan yang agak terbata-bata akhirnya aku menceritakannya. Sepotong demi sepotong.
Kedua orang tuaku adalah sosok yang sederhana. Pun keluarga. Mereka tidak pernah memaksa ini itu. Hingga akhirnya saat adikku menggunakan celana jeans, hendak tour bersama teman sekelas di SD-nya. Lalu seorang anggota keluarga, Kakak---yang kala itu ku anggap bawel, berkata: "Doh, mau kemana? Ayo ganti-ganti. Ganti rok atau celana biasa (seperti training, dll), mulai sekarang jangan pakai celana jeans lagi."
Kejadian itu terlintas di depan mataku. Membuatku hanya bisa bertanya dalam keterperangahan. Ini artinya himbauan itu juga berlaku padaku, pikirku. Atas hal ini Ibu bahkan sudah agak menghimbau sejak lama, begini kalimatnya: "Ga papa pake celana jeans, tapi di dalem rok, ya."
Himbauan itu membuatku tertawa, aku belum juga paham.
Sejak kejadian itu aku pernah satu kali, pas SMA, melanggar aturan itu. Saat tour ke Jember, aku memakai celana jeans. Tanpa merasa terpaksa. Tanpa merasa berdosa. Biasa saja. Aku tidak mendengarkan siapapun. Ini hidupku. Privasiku!
Lambat laun aku akhirnya mulai paham berkat-Nya. Ternyata memang lebih baik seperti ini. Berbagai celana jeans baru dengan beragam warna yang baru saja dibelikan Mbak sulung-ku kala itu tidak mampu menggeser pemahamanku dan kedua adikku (kemenakan yang lebih ku anggap adik). Sekarang, malah merasa aneh, malu dan kurang nyaman jika harus demikian, seperti saat ke Jember dulu. Adapun aku juga banyak belajar dari diamnya Mbak Lia.
Aku juga banyak belajar dari Mbak Ais. Saat SMP aku bilang padanya: "Mbak, aku mau ngupload foto ini, ya," kataku sambil menyodorkan hape, terpampang fotoku yang tanpa kerudung. "Hah? Itu kan ga pake kerudung!" Ia agaknya kaget. "memangnya kenapa? Kan cuma foto, Mbak," tanyaku polos dan tidak tahu. " Akhirnya Mbak Ais mulai menjelaskannya.
Islam adalah agama yang detail. Agama yang sangat menjaga kehormatan para pemeluknya. Islam juga tidak mempersulit. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Pada akhirnya semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang. Sungguh, Allah Maha Memahami kita semua.
Bangkalan, 31 Maret 2017 - 22: 00 WIB
Pernah seorang teman mengagetkanku. Ia bertanya padaku: "Kamu keturunan Kiyai, ya?" aku tidak paham dengan arah pembicaraannya, namun langsung saja ku jawab dengan santai: "Hehe, bukan."
Dia hanya meng-oh-kan. Kami pun terdiam menunggu antrian, latarnya saat diklat jurusan.
Pernah juga seorang teman yang berbeda nyinyir padaku. Menyindir yang lebih mirip bercerita secara blak-blakan dengan kalimat: "Ya ampun, rok uda kayak bendera berkibar." atau "Jilbab culun amat. Dilipat doang gini," katanya sambil mempraktekkan melipat sedikit jilbabnya di bagian kening."
Lalu aku, sayangnya aku seringkali tidak peduli dengan omongan yang lebih mirip sampah. Lebih baik memikirkan kalimat-kalimat sastrawan yang indah.
Alih-alih sakit hati, aku hanya mampu tersenyum. Refleks. Adapun latarnya didepan kelas, saat semester satu.
Pernah juga seorang teman yang berbeda (2) menanyakan hal yang membuatku tertawa. Dia bertanya: "Kamu itu anak pondok, ya?" kali ini aku penasaran. Aku balik bertanya: "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dia jadi ikut tersenyum: "Karena kamu selalu memakai rok saat ke kampus."
Aku ikut memberi jawaban, meski tidak ada hubungan dengan pertanyaannya: "Haha, aku pernah kok pake celana. Celana training."
Akhirnya tawa kami kembali pecah. Seperti panasnya mentari yang seakan membuat kepala kami pecah kala itu. Di jalan menuju halte yang kami tuju.
Mereka harusnya tahu, bahwa ketaqwaan bukan soal siapa kakek nenek kita. Mereka harusnya tahu, bahwa masih ada seseorang yang tuli saat dicaci atau dibully. Perkataannya tidak akan membuatku tiba-tiba berkerudung seperti anak-anak yang mau fashion saat di TB dulu. Karena memang aku hanya mampu mendadani orang lain. Mereka juga harusnya tahu, bahwa tidak semua orang yang tidak pernah makan bangku pesantren (rayap kali) akan rela melingkarkan kedua belah tangannya dipinggang seseorang yang hanya berlabel kekasih, saat dibonceng.
Kita begini dan begitu karena kita sama-sama orang muslim. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Lalu karena kita umat Nabi Muhammad SAW. A simple man who changed the darkness to the lightness life. A patient man who could spread Islamic law that contain with love in the whole word. Lebih - lebih karena kita tidak ingin dosa kita mengalir pada Ayah Ibu kita. Pada almarhum Ayah dan almarhumah Ibu kita. Kita tidak menginginkan itu.
Memang benar, kulit kacang yang bagus kadang tidak ada korelasinya dengan biji kacang berkualitas baik. Kadang kulit kacang yang kuat dan bagus ternyata isinya sudah menghitam. Iya, benar. Namun semoga seiring berputarnya masa semua akan menjadi semakin lebih baik. Karena doa dan kebaikan Tuhan-lah kita mampu memiliki niat yang lurus.
Aku acapkali memiliki kesimpulan yang lucu. Aku kira semua mahasiwi harus memakai jelana jeans dan necis. Itu pemikiranku saat masih kecil. Aku kira semua muslimah di Arab itu akan mengenakan jilbab. Aku mengira jika seorang alim akan memiliki anak-anak perempuan yang memakai jilbab. Pada kenyataannya, kita bisa menjumpai hal yang sebaliknya. Seorang jurnalis kondang itu anak seorang alim ulama, tapi. Dan lain-lain. Pada kasus itu, mungkin masih jauh dari pemahamanku. Aku tidak bisa membandingkan pemahamanku yang sempit dengan mereka. Tentang ajaran Islam rahmatan lil 'alamin dan sebagainya. Maka aku tidak akan banyak berkomentar pasal itu. Boleh jadi beberapa tahun ke depan pemahamanku akan jauh lebih berkembang. Wallahua'lam.
Pada akhirnya, semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang yang perlu kita hargai. Pun aku.
Bangkalan, 31 Maret 2017 - 19:22 WIB


"You are what you think" jika kita artikan lurus maka memiliki arti "Kamu adalah apa yang kamu pikirkan". Namun artinya lebih luas daripada itu. Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah. Jika tidak salah mengingat, aku membaca kalimat itu dari T-shirt AFR saat semester empat. Kala itu kalimat singkat itu membuatku merenung untuk beberapa waktu.

****

"Pi, aku ga bisa ngomong, Pi," ucap teman berinisial INK itu.
"Lah, itu bisa ngomong!" aku menyengir.
"Aku ga bisa lancar, Pi. Aku ga tahu," lanjutnya.
"Jangan gitu. Inget, setiap orang punya kelebihan maupun kelemahan."
"Tapi, Pi. Aku tidak bisa mengatasi kelemahan ini."
"Kamu bisa. Kamu mampu. Semua bisa dipelajari. Inget juga, kamu punya passion dalam mata kuliah berhitung. Kemampuan berhitung yang lebih baik dariku. Jangan selalu meratapi kekurangan. Selalu berpikir akan kelebihanmu. Belum lagi, jangan-jangan yang kamu anggap kekurangan itu tidak ada. Karena hakikatnya, semua bisa dipelajari," jawabanku yang satu ini cukup membuatnya terdiam beberapa saat. Pun cukup membuat hatiku teriris. Bagaimana tidak, aku bahkan belum mengubah mindsetku tentang ketakutanku pada mata kuliah atau pelajaran berhitung, tapi sudah berani 'menceramahi' orang. Padahal memang, semua hanya berasal dari apa yang kita pikirkan. You are what you think.

****

Sebelum membagikan sebuah oretan atau apapun, aku selalu bertanya terlebih dulu pada diriku apakah aku sudah mengamalkannya. Atau apakah aku---minimal---sudah memiliki niat untuk melakukannya. Maka, keputusan untuk membagikan oretan akhirnya terputuskan, dimulai dengan menulis kontennya, meski dengan terputus-putus.

Aku kadang sedih sendiri, saat apa yang aku bagikan ternyata bahkan belum mampu menggerakkan hatiku. Seperti sampai saat ini, saat aku belum bisa menghapuskan ke-parno-an kala bertemu dengan mata kuliah yang berbau hitung menghitung dengan berupa-rupa rumus, atau sekadar di curahkan dalam bentuk kurva-kurva---yang memang sudah menjadi menu wajib prodi yang aku geluti. Padahal, aku pernah membuktikannya sendiri jika ini hanya soal 'think'.

Baik, lepas dari anggapan bahwa setiap orang memiliki passion yang berbeda, aku akan menceritakan pengalamanku tentang pembuktian sederhana namun bermakna dari "you are what you think".
Jadi dulu, aku merasa lemah di pelajaran Matematika saat masih SD. Ini terbawa hingga SMA. Singkat cerita, aku belajar sedikit lebih intensif untuk pelajaran Kimia saat duduk di bangku kelas sebelas. Hingga ulangan digelar. Materinya kala itu penuh dengan berhitung, namun ada hal yang mengejutkan. Aku termasuk dari tiga orang siswa dalam kelas yang tidak perlu remidial untuk pelajaran itu. Betapa sederhana. Namun sangat mengejutkanku. Benar, kita adalah apa yang kita pikirkan. Aku mampu mematahkan kekurangan dengan latihan/belajar yang lebih intensif. Orang lain boleh jadi diberkahi kemampuan menghafal yang cepat. Akan tetapi kita juga mampu menghafal meski harus lebih intensif dari mereka. Pun pada kasus lainnya. Seperti adikku yang selalu bilang: "Tapi aku tidak bisa menulis, Mbak." dan lain sebagainya.

Itu adalah contoh sederhana yang sebenarnya sangat luas pengertiannya. Tentang aku yang acapakali takut bergerak, ragu keluar dari zona nyaman, selalu kurang percaya diri dalam melakukan sebuah langkah perubahan hidup. Meski begitu kita juga tidak diperkenankan untuk over percaya diri. Berpikir bahwa kitaselalu yang terbaik dibanding yang lain. Berpikir selalu mampu melakukan semuanya sendiri. Jika sudah begitu, maka lain lagi bahasannya.

****

Ini pesan yang pertama aku berikan untuk diriku sendiri; Selalu ingat tentang perkataan: you are what you think. Meski tidak mudah, tapi semoga kita selalu  diberikan kemampuan untuk selalu 'think' bahwa itu adalah hal yang mudah. Sadarkah kalian, pada kalimat yang aku tulisankan di paragraf pertama? Kalimat ini: " Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah." adalah salah satu kalimat menurut apa yang aku pikirkan, berdasarkan mindsetku. Pikiran seperti ini pada kenyataannya tidak berdampak baik pada kita, meski mudah mengucapkannya. Harusnya aku berpikir untuk bergerak menempa diri daripada selalu berpikir seperti itu, bukan? Sulit mengamalkan, meski mudah mengucapkannya.

Akhirul kalimat: "Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan kita semua. Aamiin."

Bangkalan, 5 April 2017 - 11:35 WIB

[Iklan] "Tulisan gue akhirnya masuk di majalah terkenal!" "Weiih, keren loe! Rubrik apa?" "Rubrik itu looh, tapi cuma titik sama komanya doang." "hzZz--" *Krik [End]

Hubungan iklan dengan tulisan ini? Hehe, sepertinya tidak ada. Baik, mari kita mulai membuat kontennya.. Jreeeeng!

"Kamu sudah siap?" salah seorang anggota kelompok bertanya padaku. "hmm, belum," balasku.

Kurang lebih selalu seperti itu perbincangan yang terjadi kala hendak maju ke depan kelas guna presentasi. Selalu merasa tidak siap. Pun saat ujian. Entah ujian tengah semester, ujian akhir, dan sejenisnya. Selalu.

Aku selalu mendambakan masa dimana aku hanya tinggal duduk manis di bangku sambil menunggu pengawas datang membawa soal ujian. Iya, hanya tinggal duduk dan menunggu. Tanpa harus membolak balik buku lagi. Tanpa harus bergulat dengan pertanyaan yang berkerumul di kepala seukuran batok kelapa ini. Tanpa tanpa. Dan tanpa. Apa sih, Dek? Mulai geje, hehehe.

Pada kenyataannya aku selalu tidak siap kala ujian. Berlagak seperti orang yang teramat pintar---kutu buku mungkin, aku masih menenteng buku menuju ruang ujian. Lantas aku mulai membolak baliknya lagi. Selalu tidak siap pikirku. Selalu begitu.

Sama halnya saat hendak presentasi, apapun. Selalu merasa tidak siap dan cukup. Semakin aku pelajari, semakin timbul banyak pertanyaan. Semakin beranak pinak. Meski sudah bertanya sana sini. Meski sudah meluangkan 'sedikit' waktu membaca materi. Meski sudah mengggenggam beberapa rujukan yang keren-nya tak terperi. Tapi selalu merasa tidak siap dan cukup.

Itu adalah pengalaman pribadi setelah sekian tahun hidup di muka bumi. Maka, aku simpulkan, jika pada hakikatnya kita tidak akan pernah siap dan cukup. Itulah ilmu.

"Siapa yang menyangka bahwa ilmu itu ada akhirnya, maka dia telah salah sangka. Selalu ada ilmu di balik setiap ilmu lain."
- Dr. Khalid Al Mushlih

Hanya saja yang membedakan adalah persentasenya. Kadarnya. Misal, hari ini aku tidak siap menghadapi ujian (sebesar 30%). Esok hari aku juga tidak siap menghadapi ujian (sebesar 25%). Angka-angka itu pun juga bisa jadi hanya bersifat spekulatif.

Teori "tidak pernah siap dan cukup" ini juga berlaku pada amal shalih. Bukankah kita harus selalu berpikir fakir amal? Kita perlu berpikir bahwa kita ini masih berlumur dosa. Jika ditanya apakah kita siap mati, maka bagi saya, tidak akan pernah siap. Tidak akan pernah merasa siap dan cukup dengan amal baik yang kita lakukan di dunia. Lebih-lebih, bisa jadi kita hanya 'merasa' bahwa kita kerap beramal shalih. Padahal (nauzubillah) amal-amal itu terhapus oleh riya, ujub, dan dosa-dosa yang lain.

Namun lain halnya saat konsep "tidak pernah siap dan cukup" ini soal hal yang berbau duniawi. Manusia tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Entah itu harta dan lainnya.

"Ada dua jenis manusia yang tidak akan pernah merasa cukup; pemburu ilmu dan pemburu harta."
- Imam Ali Ra

Bangkalan, 04-04-2017 - 19:51 WIB

Seingatku berdasarkan apa yang aku pelajari saat di MTs dulu ialah orang yang mengajarkan sebuah ilmu walau seayat bisa dianggap sebagai guru. Guru yang wajib kita hormati dan doakan.

Dalam postinganku beberapa bulan lalu telah sedikit ku ulas mengenai pentingnya memelihara budi pekerti terhadap seorang guru. Ini bukan hanya karena mereka telah ikhlas membagi ilmunya, namun karena doa mereka yang begitu dahsyat.

Bagaimana tidak, seorang guru adalah orang yang ber'puasa' dalam hidupnya. Sebelum mereka mengajar, mereka telah terlebih dahulu menempa diri, berjuang mati-matian demi mendapatkan ilmu. Menimba ilmu bisa berarti sebuah puasa.

****

"Fia, nanti mau dibuat apa uangnya?" tanya Bu Nurul---guru Bahasa Indonesia yang juga mengajar Tata Busana. "He, buat daftar jalur mandiri, Bu. Kalo semisal tidak diterima di jalur SBMPTN". "Keterima, kok, Fi." "Hehe, iya, Bu. Aamiin."

Lalu siapa yang menyangka jika perbincangan itu adalah salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah. Benar, perkataan adalah doa. Apalagi kata-kata yang keluar dari lisan seorang guru. Sekali lagi, mereka orang-orang yang telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Maka, berhati-hatilah dengan mereka. Jangan lupakan tata krama terhadap seorang guru. Mulailah berhenti, meski hanya sekadar menjadikan nama mereka bahan candaan. Muliakanlah mereka.

***

Aku mulai memiliki akun FB sejak MTs. Sejak itu pula aku tidak pernah menambahkan akun guru sebagai teman di FB-ku. Bagiku, itu adalah hal yang tidak sopan. Karena akun medsos semacam itu informal dan hanya sebagai hiburan. Saat di MAN prinsip itu tetap ku pegang. Hingga akhirnya aku mulai menambahkan akun Bu Nurul dan Sir Wahid. Keduanya adalah guru yang amat bijaksana dan menyenangkan. Kini, pemahamanku berbeda, FB bisa menjadi ruang untuk mengirim tugas atau mendiskusikan sesuatu yang serius dengan santai. Asal tetap menjaga tata krama terhadap guru-guru.

***

Guru juga merupakan orang yang diangkat derajatnya karena ilmu yang ia miliki. Bukankah sudah ku bilang jika guru juga berarti orang yang membagikan ilmunya meski seayat. Inilah yang membuat aku sangat menghormati Mbak Puput----mentor mata kuliah PAI---meski kita seumuran dan seangkatan.

Kemarin, saat duduk di halte menunggu bus sembari membalas pesan dengan posisi menunduk ke HP, suara seorang wanita yang terlihat sedikit lebih berusia dariku membuat aku mengangkat kepala melihat asal suara. Ia bertanya apakah aku tengah menunggu bus. Aku mengiyakan dan balik bertanya. Kami tersenyum serempak. Kemudian aku mulai sibuk kembali dengan pesan-pesan di HP. Dengan posisi duduk yang terkesan /nyantai/.
Lalu seorang mahasiswi bersepeda motor menghapiri kami.
"Ibu mau pulang?" "Iya" "Mari ikut saya, Bu." "Oh, Baiklah."
Aku refleks membenarkan posisi duduk kala mendengar pertanyaan pertama meluncur dari mulut mahasiswi itu. "Duh, seorang guru," batinku.
"Duluan, ya, Mbak." Kata dosen muda itu. "Eh, iya, Bu." aku masih sibuk membenarkan posisi duduk.
"Betul, ilmu mampu mengangkat derajat seseorang," aku membatin lagi.

***

Doa seorang guru bisa menjadi doa yang dahsyat saat mereka ridlo pada kita, murid-muridnya. Bahkan meski hanya sebuah kata-kata. Jadi, berhati-hatilah bersikap pada seorang guru. Karena kita bisa seperti sekarang ini berkat guru-guru terbaik dalam hidup kita selama ini. Berkat dahsyatnya doa seorang guru.

Bangkalan, 07 April 2017 - 22:36 WIB

Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari input, proses dan output. Dalam proses pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi; motivasi, kepribadian, pembelajaran, persepsi dan sikap.
(Behind the scene: "Siah, loe hapal ya?" "Ya, kagak lah. Ini gue nyontek dari buku. *krik😂)

Persepsi oleh Shiffman dan Kanuk (2004) didefinisikan sebagai proses dimana dalam proses tersebut individu memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan stimuli menjadi sesuatu yang bermakna. Namun yang ingin saya bahas kali ini bukan mengenai seluk-beluk persepsi, seperti proses persepsi, aplikasinya dalam strategi pemasaran dan lain-lain. Saya hanya tertarik untuk sedikit mengulik  perihal iklan sebagai salah satu bentuk stimulus yang mempengaruhi persepsi konsumen. Karena di akun ini akan lebih baik jika membahas hal yang ringan-ringan saja dulu. Biarlah ROE, ROA, kurva-kurva dkk berada di dalam ruang kelas dulu, alih-alih dalam status. Hehehe.

Siapa sih yang tidak tahu iklan? Iklan atau pariwara atau yang biasa kita sebut sponsor adalah semua hal  berbentuk pesan promosi barang dan jasa. Iklan tersebut tentunya ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan menjadi konsumen dari barang atau jasa yang ditawarkan. Iklan biasanya di sampaikan melalu media (seperti Tv, dll) dengan biaya yang ditetapkan.

Pernahkah kalian memperhatikan iklan di televisi?
Ada iklan yang disampaikan dengan orang yang bernyanyi sumbang dan terdengar menyebalkan. Ada iklan yang disampaikan dengan tarian-tarian erotis penyanyi dangdut. Ada juga iklan yang disampaikan dengan nada bicara yang aneh atau bagi kita tidak lazim. Itu semua adalah cara untuk menciptakan daya tarik dalam iklan itu sendiri. Agar memancing perhatian, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.

Dalam iklan kadang kita bisa melihat, bahwa pemasar kerap membumbuhi iklannya dengan hal yang negatif. Sebut saja iklan margarin: dalam iklan itu terdapat seorang anak yang hendak berangkat sekolah usai sarapan. Saat di bis ia menyadari bahwa bekal yang ia bawa tertinggal di rumah. Akhirnya dengan baik hati temannya menawarkan untuk berbagi bekal. Lalu apa yang terjadi? Yang ditawari malah berkata: "Tapi nasi gorengku kan nasi goreng 'band blue'," katanya.
Jadi secara tidak langsung iklan itu memberikan pesan yang kurang pas. Saya yakin kalian bisa menyimpulkannya sendiri.

Saya seringkali memperhatikan iklan, ada banyak juga iklan-iklan yang bermanfaat karena memberikan pesan yang baik. Itu salah satu kriteria iklan yang saya suka. Saya juga sangat menyukai sebuah iklan pewangi pakaian yang dibintangi seorang bocah yang gendut, gempil pipinya dan lucu seperti pemain kartun Up. Saat mengetahui akan kedatangan tamu yakni teman-teman Mamanya, ia segera berlari-lari agar baju yang ia pakai tidak wangi lagi akibat buliran keringatnya. Sayangnya ini tidak berhasil karena  sebuah pewangi pakaian.
Namun belakangan ku ketahui edisi kedua iklan ini, dan aku kecewa. Si bocah lucu bermain dengan teman perempuannya, kemudian ada momen freeze, berpelukan, lantas gelembung-gelembung berbentuk love beterbangan yang disinyalir datang dari cucian. Selalu ada bumbu dalam iklan yang kerap meracuni pikiran. Okelah, jika iklan tersebut ditonton oleh yang dewasa dan paham memilah. Namun bagaimana jika yang melihat anak-anak kecil? Dimana mereka memiliki kecenderungan untuk meniru, merekam, dll.

Ada juga iklan yang lebih menekankan erotisme sebagai daya tarik. Bagaimana tidak, kita bisa amati bagaimana cara pengambilan enggel sebuah iklan dengan wanita sebagai objek putri iklannya. Pun bagaimana mereka berpakaian, berbicara dsbgnya.

Unsur erotisme tidak hanya di iklan, namun juga terdapat di shitnetron *eh maksud saya sinetron. Ya, kemajuan dunia pertelevisian membuat channel tv juga beranak pinak. Pun acara sinetronnya. Ada banyak alasan mengapa kita harusnya menghindari tayangan sinetron, khususnya anak-anak hingga remaja. Karena berlomba mendapatkan rating teratas, sinetron makin tidak layak tonton. Beda dengan jamn dulu, saat masih ada beberapa sinetron yang mengedepankan pesan moral.

Alasan mengapa kita sepatutnya menjauhkan anak-anak, adik-adik kita dari sinetron adalah karena sinetron membuat kita lalai. Yang tadinya waktu belajar, waktu memasak dan lain sebagainya harus ditukarkan dengan menonton sinetron yang durasinya mampu berjam-jam. Sinetron memiliki jalan cerita yang mainstream dan mudah ditebak sehingga tidak mampu merangsang anak untuk berpikir kritis. Berapa kali kita melihat adegan di meja makan dalam sinetron? Selain itu cerita yang ditawarkan kebanyakan hanyalah kisah cinta remaja atau masalah rumah tangga. Ini kerap membuat remaja hanyut dalam cerita. Bisa jadi mereka lebih mendambakan mendapat seorang pacar layaknya sinetron yang ia tonton daripada mendapat nilai Matematika yang sempurna. Pun saat sinetron menawarkan cerita dengan bermewah-mewahan, modis, make-up tebal dan banyak lagi.
Belum lagi, wajah-wajah yang berseliweran dilayar kaca adalah remaja dan memiliki wajah yang dianggap tampan atau cantik. Ini kadangkala membuat kita berpikir untuk mampu memiliki hal yang sama. Kemewahan yang sama. Make up yang sama. Bahkan tuntutan untuk operasi plastik agar memiliki wajah yang 'sama'.

Meski sinetron sudah saya tinggalkan sejak lama. Saya sesekali mengamati beberapa cuplikan sinetron terbaru baru-baru ini. Cuplikan tersebut hadir didepan mata saya karena kemenakan---kelas VI SMP---yang tidak menggubris nasihat yang saya sampaikan dengan amat hati-hati. Jadilah saya mengamati beberapa waktu.

Disana saya melihat sinetron yang sarat dengan kekerasan, pornografi, permusuhan dll. Selain adegan pacaran dini disana sini, saya melihat bagaimana mereka berkelahi---memamerkan seni bela diri yang dikuasai, kebut-kebutan, meski dibungkus rapi dengan sedikit bubuhan ibadah dan belajar. Atau mungkin dengan wanita-wanita berjilbab. Ada sinetron yang secara tidak langsung mengajarkan untuk memiliki sebuah geng lantas saling membela mati-matian. Kemudian sinetron perihal putri duyung yang bajunya kurang bahan. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Saya selalu bilang, bahwa sinetron adalah salah satu cara untuk meninabobokan kita semua. Memang, sinetron bisa jadi menjadi sebuah hiburan usai berlelah-lelah beraktivitas seharian. Atau menjadi teman bagi anak-anak yang kesepian di rumah. Namun setelah membaca alasan-alasan diatas masihkah kita tidak mau menjahui sinetron? Mungkin akan sulit bagi yang telah amat menggandrunginya, tapi  step by step inshaaAllah bisa.

Akhir paragraf, kita memang tidak bisa benar-benar menghapuskan iklan dan sinetron yang tidak mendidik dalam hidup kita. Akan tetapi kita masih bisa bergerak. Bergerak untuk mengawasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan lain sebagainya. Menasehati dengan hikmah dan mauidhatul hasanah. Demi menghasilkan pemuda-pemudi yang berkualitas. Tidak dijajah sinetron, apalagi sinetron dari luar negeri. Well, untuk hiburan memang tidak ada salahnya. Hanya saja harus paham porsinya. Jangan sampai kita hanya dijadikan sasaran empuk untuk memperoleh rating dan memasarkan produk. Membuat mereka sejahtera. Sedang kita?

Bangkalan, 2 April 2017 - 17:03 WIB

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates