Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati, ucap Andrea Hirata. Hidup tanpa visi: mungkin salah satu alasan yang membuat banyak dari kita sukar mempertahankan nyala semangat hingga akhir. Memang, wajar jika sebagai manusia, kadang sinarnya meredup, tapi tentu jangan sampai mati. Sebab kita akan selalu mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang dahulu kita tancapkan sebagai visi.
Ah, mudah bukan. Memang. Menulisnya memang terlampau mudah. Tak seperti pengamalannya. Susah bukan main, kalau sandaran semangatnya hanyalah diri kita yang rapuh bagai rempeyek. Maka yang terjadi, peka sedikit saja rasanya sudah ingin mewek. Hmm. Namun beda jika semangat itu disandarkan pada Yang Maha Kuat, Al - Qawiyy. Lalu terus menerus diminta dari Yang Maha Membangkitkan, Al - Baa'its.
___
Tetap di rumah jika tidak ada keperluan genting sebenarnya memang sudah menjadi makanan sehari-hari bahkan sebelum himbauan pemerintah sejak pandemi membersamai. Malas keluar akut mungkin salah satu alasannya. Padahal petualangan seringkali didapat dari perjalanan-perjalanan menakjubkan, tapi yang benar-benar penting, bukan kesia-siaan. Hehe. Maka saat kini himbauan itu berlaku, aku tidak sebegitu riweuh. Hanya saja, sekarang kondisinya sudah berbeda, ada kewajiban penting yang harus dijalani. Di luar yang satu itu, mendekam di rumah memang tidak perlu diperintah lagi.
Adapun kala itu Senin. Kaki rasanya berat sekali beranjak keluar kamar, apalagi rumah. Berat. Payah. Di usia sepuh ini masih kelimpungan mencari ikigai sendiri. Masih sibuk mempertanyakan. Masih ini dan itu. Padahal Allah selalu punya jawabannya. Jadi tanyakan saja pada-Nya, bukan pada rumput yang bergoyang apalagi pada search engine yang tak punya perasaan. Eh, kembali ke hari Senin. Aku akhirnya memang harus melewati masa itu. Kerikil kecil yang muncul karena mungkin hidupku yang terlalu 'nyaman'. Kecil tapi mampu menutup cela untuk meneropong visi yang dari dulu sudah berusaha dibangun satu demi satu, layaknya lego-lego kecil.
____
Motor yang kupacu melewati pasar---tetap saja ramai di masa seperti ini. Maklum, meski sudah dicap sebagai zona merah, masyarakat masih pergi mencari nafkah. Selain lembaga pendidikan yang mendaringkan KBM, dan membuat usaha-usaha di sekitarnya tutup---semua relatif tak berubah. Yang paling terlihat adalah hampir semua orang mengenakan masker dan tersedianya 'wastafel' cuci tangan di beberapa spot. Sesekali pandanganku menyapu bagian luar pasar yang terletak persis disamping jalan raya. Ku dapati orang-orang dengan ragam dagangan, penuh semangat, penuh harap, penuh perjuangan. Menjajakan dagangan, rela berpanas-panasan, bahkan meski nyawa yang menjadi ancaman. Aku mulai merasa kecil, melihat para pedagang kecil namun Allah mampukan memiliki semangat yang besar.
Beberapa menit kemudian motorku, eh motor Bapak ding, melesat menyisiri jalanan kota. Ada yang sibuk mencabuti rumput sebagai tugas mulia sekaligus ibadah untuk memperoleh suapan nasi. Ada yang sejak lama ku dapati berpeluh-peluh membawa gerobak sorong berisi kursi-kursi dari bambu. Ada yang melewati hidup yang lebih berat: sopir-sopir angkot dan tukang becak yang sepi penumpang. Penjual nasi bungkus, dan pedagang kecil lainnya yang menguap saking terlalu lama berdiam. Lebih berat artinya, insya Allah, disediakan pahala yang lebih berlipat.
Kalau melihat di media massa, banyak guru honorer yang beralih profesi dadakan menjadi penjahit, kuli bangunan, buruh tani dan lain-lain. Sungguh, tanpa merendahkan profesinya, aku hanya ingin kembali mengingatkan diriku, betapa mereka benar-benar berjuang, menerima apapun bentuk jalan yang mereka hadapi di depan.
Di masa yang berat ini, ada juga mereka yang diPHK sepihak, para ABK Indonesia yang tak punya pilihan dan mereka yang ditimpa musibah seperti kebakaran. Bahkan kalau mau lebih luas lagi di belahan negara lain hari-hari yang mereka lalui jauh lebih berat. Karena saban hari harus menghadapi krisis kemanusiaan, krisis pangan, konflik antar negara, dan gap sosial yang sebenarnya juga terdapat di negara kita.
Jadi merasa aneh jika harus menjadi budak oleh diri kita sendiri. Duh, semoga selalu dibimbing untuk memanfaatkan tiap waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sebab kita semua punya visi yang sama, yang tak hanya berakhir bila kita hanya tinggal sebuah nama.
Kata Buya Hamka, "Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah." Tak heran jika beliau berpesan demikian, karena Allah SWT telah memampukannya untuk menelurkan beragam karya.
Satu pesan menarik dalam sebuah konten dakwah visual yang temanku bagikan beberapa hari yang lalu berjudul: Menu di Bulan Ramadhan. Adapun salah satunya: Talas. Yang merupakan akronim dari Tak Ada Kata Malas. Aku pun terbangun, benar-benar related dengan apa yang aku alami Senin itu.
Tak mau buang waktu. Aku juga ingin berusaha sepeti yang lain. Mengerjakan apapun dengan luapan semangat. Apalagi di bulan penuh nikmat dan pahala yang berlipat-lipat. Terlebih, orang tua sudah berbuat sangat banyak, rugi rasanya jika tidak bermanfaat. Paling tidak dimulai dari lingkungan terdekat.
Semangat, besok Senin lagi! Hihi.