Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati, ucap Andrea Hirata. Hidup tanpa visi: mungkin salah satu alasan yang membuat banyak dari kita sukar mempertahankan nyala semangat hingga akhir. Memang, wajar jika sebagai manusia, kadang sinarnya meredup, tapi tentu jangan sampai mati. Sebab kita akan selalu mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang dahulu kita tancapkan sebagai visi.

Ah, mudah bukan. Memang. Menulisnya memang terlampau mudah. Tak seperti pengamalannya. Susah bukan main, kalau sandaran semangatnya hanyalah diri kita yang rapuh bagai rempeyek. Maka yang terjadi, peka sedikit saja rasanya sudah ingin mewek. Hmm. Namun beda jika semangat itu disandarkan pada Yang Maha Kuat, Al - Qawiyy. Lalu terus menerus diminta dari Yang Maha Membangkitkan, Al - Baa'its.

___

Tetap di rumah jika tidak ada keperluan genting sebenarnya memang sudah menjadi makanan sehari-hari bahkan sebelum himbauan pemerintah sejak pandemi membersamai. Malas keluar akut mungkin salah satu alasannya. Padahal petualangan seringkali didapat dari perjalanan-perjalanan menakjubkan, tapi yang benar-benar penting, bukan kesia-siaan. Hehe. Maka saat kini himbauan itu berlaku, aku tidak sebegitu riweuh. Hanya saja, sekarang kondisinya sudah berbeda, ada kewajiban penting yang harus dijalani. Di luar yang satu itu, mendekam di rumah memang tidak perlu diperintah lagi.

Adapun kala itu Senin. Kaki rasanya berat sekali beranjak keluar kamar, apalagi rumah. Berat. Payah. Di usia sepuh ini masih kelimpungan mencari ikigai sendiri. Masih sibuk mempertanyakan. Masih ini dan itu. Padahal Allah selalu punya jawabannya. Jadi tanyakan saja pada-Nya, bukan pada rumput yang bergoyang apalagi pada search engine yang tak punya perasaan. Eh, kembali ke hari Senin. Aku akhirnya memang harus melewati masa itu. Kerikil kecil yang muncul karena mungkin hidupku yang terlalu 'nyaman'. Kecil tapi mampu menutup cela untuk meneropong visi yang dari dulu sudah berusaha dibangun satu demi satu, layaknya lego-lego kecil.

____

Motor yang kupacu melewati pasar---tetap saja ramai di masa seperti ini. Maklum, meski sudah dicap sebagai zona merah, masyarakat masih pergi mencari nafkah. Selain lembaga pendidikan yang mendaringkan KBM, dan membuat usaha-usaha di sekitarnya tutup---semua relatif tak berubah. Yang paling terlihat adalah hampir semua orang mengenakan masker dan tersedianya 'wastafel' cuci tangan di beberapa spot. Sesekali pandanganku menyapu bagian luar pasar yang terletak persis disamping jalan raya. Ku dapati orang-orang dengan ragam dagangan, penuh semangat, penuh harap, penuh perjuangan. Menjajakan dagangan, rela berpanas-panasan, bahkan meski nyawa yang menjadi ancaman. Aku mulai merasa kecil, melihat para pedagang kecil namun Allah mampukan memiliki semangat yang besar.

Beberapa menit kemudian motorku, eh motor Bapak ding, melesat menyisiri jalanan kota. Ada yang sibuk mencabuti rumput sebagai tugas mulia sekaligus ibadah untuk memperoleh suapan nasi. Ada yang sejak lama ku dapati berpeluh-peluh membawa gerobak sorong berisi kursi-kursi dari bambu. Ada yang melewati hidup yang lebih berat: sopir-sopir angkot dan tukang becak yang sepi penumpang. Penjual nasi bungkus, dan pedagang kecil lainnya yang menguap saking terlalu lama berdiam. Lebih berat artinya, insya Allah, disediakan pahala yang lebih berlipat.

Kalau melihat di media massa, banyak guru honorer yang beralih profesi dadakan menjadi penjahit, kuli bangunan, buruh tani dan lain-lain. Sungguh, tanpa merendahkan profesinya, aku hanya ingin kembali mengingatkan diriku, betapa mereka benar-benar berjuang, menerima apapun bentuk jalan yang mereka hadapi di depan.

Di masa yang berat ini, ada juga mereka yang diPHK sepihak, para ABK Indonesia yang tak punya pilihan dan mereka yang ditimpa musibah seperti kebakaran. Bahkan kalau mau lebih luas lagi di belahan negara lain hari-hari yang mereka lalui jauh lebih berat. Karena saban hari harus menghadapi krisis kemanusiaan, krisis pangan, konflik antar negara, dan gap sosial yang sebenarnya juga terdapat di negara kita.

Jadi merasa aneh jika harus menjadi budak oleh diri kita sendiri. Duh, semoga selalu dibimbing untuk memanfaatkan tiap waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin. Sebab kita semua punya visi yang sama, yang tak hanya berakhir bila kita hanya tinggal sebuah nama.

Kata Buya Hamka, "Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah." Tak heran jika beliau berpesan demikian, karena Allah SWT telah memampukannya untuk menelurkan beragam karya.

Satu pesan menarik dalam sebuah konten dakwah visual yang temanku bagikan beberapa hari yang lalu berjudul: Menu di Bulan Ramadhan. Adapun salah satunya: Talas. Yang merupakan akronim dari Tak Ada Kata Malas. Aku pun terbangun, benar-benar related dengan apa yang aku alami Senin itu.

Tak mau buang waktu. Aku juga ingin berusaha sepeti yang lain. Mengerjakan apapun dengan luapan semangat. Apalagi di bulan penuh nikmat dan pahala yang berlipat-lipat. Terlebih, orang tua sudah berbuat sangat banyak, rugi rasanya jika tidak bermanfaat. Paling tidak dimulai dari lingkungan terdekat.

Semangat, besok Senin lagi! Hihi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates