Adventurer's

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

It’s complicated, because I had never planned to apply for job before. Probably, it’s because of I just always think that I will study forever. Yeah, I do love studying. I don’t even a smart student but I have no idea the reason why I would like to study for entire my life. I just enjoy it. I was extremely excited when I learnt new knowledge. Science always has huge power to fulfill my life. Learning many new things. Finding so many adventures. Feel the main of life.

As far as I realize that I don’t even plan what I will be in the future. I never force to have a certain position for my dream job. I know I had written down some professions, but in point of fact I don’t want to overtake God’s decision about my destiny. As I can pray is the position will be suitable for me. And it has a lot of definitions. Accordingly I know nothing about my job that I am going to apply for. I said “know” because it’s my perspective till now. I just want to focus to learn many things. It’s not only about things that I will get in formal way, but also by informal.

Apparently thinking idealist doesn’t always make us in the straight term. There will be complex obstacles which lead to hard way and try to face a great opportunities at once. Being an adult, being an independent, being realistic, so forth are such main things that trigger someone to find new ways, like find a job. In the other hand some people will have a lofty purpose in life, by letting their parents to take a rest for a while and they will fulfill their parents’ necessaries. Yup! Just because I think about how to pass the test for the scholarship frequently, it doesn’t mean that I’m not one of those people.

When I was in senior high school, I remember that it was an awesome moment when I can pay several administrations without asking money to my parents. Even though it’s not too much, but I was excited. It makes my self be more meaningful. More over when I could give them more. They never ask me to do that kind of thing. But still, at least I won’t ask them anything during I’m trying to reach my dream, except du’a. Thus, I will face everything that I have to. It’s not easy. Nevertheless I have to go a head. Otherwise I will be stuck and block my own way by having bad mindset. Keep walking. Face the obstacles. Those are what I must do now.

Semenjak duduk di bangku MA, aku kerapkali berpikir idealis. Segalanya bagiku mudah saja. Ini bukan berarti setiap yang kita inginkan bisa diperoleh tanpa perjuangan dan tetes keringat, tapi lebih kepada karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Kemudian pola pikir yang tepatlah yang akan membuat segala yang berat akan seringkali mudah dijalani. Belum lagi kala itu aku banyak bertemu guru-guru yang acapkali memberi motivasi menggetarkan. Jadilah aku mudah berpikir idealis, dalam hal ini impian. Aku percaya, jika impian bahkan tidak selaras dengan kenyataan; seperti keadaan kita dan lain sebagainya. Ia adalah keajaiban.

Dalam hidup, aku merasa seperti anak kecil karena kadangkala menganggap banyak hal itu mudah dan tidak perlu dipermasalahkan. Take them all easy. Jangan diperumit, karena pasti ada penyelesaian. Itulah kenapa aku seringkali bingung kala melihat orang dewasa yang kian memperumit keadaan. Masalah yang pada mulanya begitu sederhana, malah makin melebar dan kemana-mana. Lalu beberapa bersuara, jika ini karena aku belum benar-benar menapaki jalan hidup orang dewasa. Oleh karenanya aku berpandangan demikian. Entahlah, yang kutahu sejak dulu aku berusaha menghadapi apapun dengan tetap menjaga pikiran selalu dalam keadaan positif. Kata-kata seperti, “Ok, ini gampang, tak apa, ini mudah, iya, kamu bisa,” dan lain sebagainya meski mungkin hanya terlintas di dalam hati. Walau pada akhirnya semua tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pikirkan.

Atas pemikiran itulah yang kadang membuat aku mudah membuat target-target kehidupan. Beberapa suara memberi saran agar jangan terlalu berpikir idealis. Sebab hidup itu amatlah rumit. Mendengar itu, aku kemudian terseret kepada ingatan-ingatan masa lalu. Beberapa keinginan yang sudah aku peroleh di masa sekarang, karena mungkin cara berpikir masa lalu yang kemudian dibubuhi keajaiban, kehendak Tuhan. Aku tidak pernah berharap hasil seperti itu sebelumnya, aku hanya melewati prosesnya dan aku bersyukur akan itu. Karena Tuhan memampukan aku.

Memang, ada benarnya. Sebab kadangkala kita juga harus berpikir realistis, pada bagian tertentu. Hanya karena kita berpikir impian harus tidak sejalan dengan kenyataan dan besar, tidak berarti kita hanya tinggal diam dan berharap impian itu terwujud dengan sendirinya karena keajaiban dari Tuhan. Atau karena terlampaui realistis, akhirnya memutuskan untuk terpaksa menguburnya dalam-dalam karena telah lebih dahulu membayangkan betapa banyaknya kesulitan yang akan dihadapi. Sungguh, tidak demikian. Iya, memang pada beberapa kasus, ada orang yang dikaruniai keajaiban tanpa diduga-duga. Namun itu tidak menjadi alasan untuk kita berleha-leha. Tuhan melihat usaha dan doa yang dilakukan manusia, setelahnya, perkara hasil adalah kehendaknya.

Tetaplah memiliki impian yang besar. Berpikir idealis pada banyak momen yang kamu rasa perlu. Namun tetap jangan menutup diri dengan adanya kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Kalau boleh dikatakan, berpikir realistis pada beberapa momen tertentu guna menggapai impian itu dan menerjang kesulitannya. Lalu, pada akhirnya apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kita. Yang terpenting adalah selalu mempertahankan pikiran untuk senantiasa berprasangka baik pada Tuhan. Sekian.

*Dari Lufiyah, teruntuk dirinya.

Ngomongin tahun baru dan resolusi tahun lalu yang SEABREK tapi yang kecentang baru beberapa, pasti bikin kepala puyeng. Hmm. Bener. Berasa ga maksimal mulu usaha sama doanya.

Tapi setelah pake salah satu teknik yang banyak dilakuin sama orang-orang "besar" yakni intinya bersyukur----peningnya jadi hilang ga bersisa. Teknik yang aku singkat bersyukur ini ditulis ulang dan dikembangkan oleh seorang praktisi pengembangan diri.

Tulis apa-apa yang sudah anda capai. Rasakan kebahagiannya mengalir. Rasakan energi positifnya. Ingat terus. Lantas bersyukur.

Dan setelah aku tulis. Wih! Aku bahkan baru menyadari, ternyata meski banyak yang belum tercentang, banyak juga yang sudah tercapai. Atau mungkin mendekati, hehe. Yap! Karena meski hanya bantuin beres-beres, kata beliau (penulis) itu adalah pencapaian.

Meski merasa ga ambisius, aku memang cenderung tidak pernah menganggap apa yang aku capai adalah wah, melainkan bonus dari ikhtiar dan cenderung biasa saja. Seperti halnya saat mendapat pujian (padahal ga ada yang muji wkwk), aku lebih menganggap seperti angin lalu, doa-doa (karena memang diri kita yang lebih tahu kalau kita ga sekeren itu), ucapan pelecut semangat atau ujian.
Maka, setelah aku pikir, menjadikan semua hal sama rata dan biasa-biasa saja ternyata ga baik juga buat pikiran. Semacam menutrisi diri buat ga "lebih" bersyukur dan mengapresiasi setiap anugerah alias rejeki.

Bukankah bersyukur tidak melulu menunggu kita memperoleh sebuah nobel? (Kita? Wkwk)

Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu di tahun lalu dan nikmat karena memberikan kesempatan lagi di tahun baru (ini). Disaat nikmat yang Engkau beri sejatinya tak pernah bisa aku tulis dan hitung, disaat itulah kudapati dosaku yang kian tak terhitung.

Bangkalan, 1 Januari 2019

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • I'm Sorry for Everything
  • Kerrong
  • Setiap Orang Berjuang
  • Petunjuk dari Azza wa Jalla
  • Semua Demi Bapak dan Ibu
  • Memilih Menjadi Guru
  • Bawa Motor
  • Poin Penting
  • Mereka
  • Terlambat Membuatku Rugi Berkali-lipat

Categories

  • KKN Stories 27
  • Oretan-oretan di Waktu Luang 177
  • PKL Stories 30
  • Something 5

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (1)
  • Juni 2023 (1)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • Oktober 2022 (5)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (3)
  • Maret 2022 (1)
  • Februari 2022 (1)
  • Januari 2022 (1)
  • Desember 2021 (3)
  • November 2021 (2)
  • Oktober 2021 (1)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (1)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (3)
  • Maret 2021 (3)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (1)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (3)
  • September 2020 (2)
  • Agustus 2020 (3)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (2)
  • Maret 2020 (1)
  • Februari 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Desember 2019 (1)
  • Oktober 2019 (3)
  • September 2019 (4)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (3)
  • Desember 2018 (2)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (4)
  • September 2018 (4)
  • Agustus 2018 (2)
  • Juli 2018 (3)
  • Juni 2018 (6)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (18)
  • Februari 2018 (3)
  • Desember 2017 (4)
  • November 2017 (28)
  • Oktober 2017 (17)
  • Agustus 2017 (10)
  • Juli 2017 (20)
  • Juni 2017 (9)
  • Mei 2017 (15)
  • April 2017 (20)
  • Maret 2017 (38)
  • September 2016 (2)
  • Desember 2015 (2)
  • Oktober 2015 (1)
  • September 2015 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Maret 2015 (3)
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube
  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

About Me


Hi! I'm Lutfiyah. Welcome to My Blog! I just find out my self by writing. Hope it'll be useful :)

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates