Mereka

Kelas dimulai jam 8 dan mereka dateng 7. Rajin banget. Apalagi yang namanya Uut. Masih bersih-bersih kelas, ngapus papan. Jadi inget pertanyaannya pekan lalu, "Mrs, boleh ngga kalo les ngga usah pake kerudung?" "Eh, iya deh kalian pake kerudung semua, ya," aku baru ngeh. "Gimana, Mrs?" "Iya ga papa, tapi kalo mau pake kerudung juga ga papa."

---

Kelas akhirnya dimulai jam 7 lewat beberapa menit. Selang beberapa menit kemudian Dyah angkat bicara, "Lapaar, Mrs. Diikuti Mega, "Cape, Mrs. Pulang."

"Hade, jam 8 artinya kalian sudah sarapan dan puas-puasin di rumah, Ndro."

---

Mereka beberapa bulan terakhir adalah orang-orang yang menjadi bagian di hidupku. Meski butuh kesabaran karena ulah mereka yang seringkali menyebalkan, namun mereka juga kerap kali aku rindukan. Anak-anak kelas 1 hingga 5 SD itu. Mega, Rahma, Sofi, Nadia, Dyah, David, Barok, Ipin, Ucup, Subhan, Rizal, Abay, Uut, Ika, Shola, dan Eni.

Seperti yang ku sampaikan, mereka rajin sekali. Sesuai kesepakatan, les diadakan Jumat pukul 13:00 dan Minggu pukul 08:00. Tapi faktanya, mereka selalu datang beberapa jam lebih awal. Maka untuk urusan yang ini, aku malu pada semangat mereka. Aku jadi termotivasi.

Tapi anehnya, namanya juga anak-anak, saat di kelas mereka bisa ada aja alasannya. Lapar lah, capek lah, dan lah lain. Pernah suatu ketika di awal pertemuan, seorang anak mungkin tidak biasa dididik dan dicontohkan perihal etika. Perilaku benar-benar memprihatinkan. Akhirnya aku membubuhi pelajaran dengan sedikit ceramah. Aku sampaikan pada mereka, jika belajar Bahasa Inggris itu tidaklah penting kalau kita tidak memiliki etika yang baik. Akhlak adalah hal yang paling krusial dan perlu ditumbuh kembangkan sejak dini.

Kakak perempuanku tersenyum dan geleng-geleng kepala lalu berucap saat mereka sudah pulang, "Kamu itu mau jadi guru bahasa Inggris apa agama? Hehe."

Apapun itu, aku sangat berharap banyak untuk masa depan mereka yang lebih baik lagi. Semoga kelak mereka menjadi orang-orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin.

...

Pada suatu pagi, gue dan bocah-bocah.

Bocah: Mrs (Sebenernya agak geli juga dipanggil 'Mrs' karena ngerasa belum tau apa-apa. Tp mikir lagi, emang dipanggil gitu kudu tau apa-apa?), ini rambutan siapa? *nunjuk plastik besar berisi rambutan.

Gue: Udah, makan aja. Kulitnya dibuang disana, ya. *nunjuk tempat sampah berwarna hitam yang jaraknya sekitar 10 meter dr rambutan.

Gue pun pergi...

Dipikiran gue berputar, gimana cara bocah-bocah makan dan buang sampahnya. Menurut gue, ada bbrp alternatif; mereka makan ditempat dan ngumpulin kulitnya dulu terus sampahnya dibuang belakangan bersamaan, atau main lempar-lemparan kulit sampe gol di tempat sampahnya.

Beberapa menit kemudian.

Gue pun balik...

Gue: Ahaha (ketawa dalem ati).

Mereka asyik makan rambutan sambil ngebuang kulitnya di depan. Di depan mereka pas, udah ada tempat sampah yang ternyata udah mereka angkat dari tempat sebelumnya.

Gue: Cerdik kali bocah-bocah ini (masih dalem ati, bergumam).

Dan makanan seringkali bikin otak lebih encer. Hehe.🤣

0 komentar