Innamal A'malu Binniyat

Innamal a'malu binniyat adalah hadits yang pertama kali aku pelajari saat duduk di bangku MTs. Namun siapa sangka bahwa bagiku hingga kini pengamalannya ternyata sulit. Artinya kurang lebih adalah amal itu tergantung dari niatnya.

Seorang pemuda mudah saja berkata: "Ayolah, Men! Ga masalah-lah bilang mery christmas hanya untuk toleran. Kan innamal a'malu binniyat."

Atau

"Foto dengan pose mata satu? Sungguh, innamal a'malu binniyat, Kawan!"

Dan lain-lain.

Aku pun dulu mengira begitu (untuk contoh kedua). Namun ternyata, seperti apa yang diungkapkan oleh KH. Bachtiar Nasir bahwa Qul, innal huda hudallah. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah". Jadi, no excuse!

***

Ngomong-ngomong soal niat, aku akhir-akhir ini dibingungkan dengan bagaimana memelihara niat yang benar nan lurus. Aku bergabung dengan sebuah organisasi yang sejauh pengetahuanku ini adalah organisasi yang komplit. Bergerak di dakwah, sosial dan bisnis. Meski begitu, tetap tidak ada manusia yang sempurna. Pun organisasi ini. Ada titik dimana tidak ku sukai. Yang terkait dengan niat. Membuat aku jadi bimbang.

Keputusan itu dikritisi oleh beberapa anggota keluarga. Sebaiknya aku keluar dari komunitas itu. Lebih baik fokus kuliah dan ibadah. Mereka pada muasalnya memang tidak pernah setuju aku ikut sebuah organisasi. Meski telah aku jelaskan secara amat detail organisasi apa yang aku ikuti. Ini juga lebih membuatku bimbang.

Keduanya sama-sama membuatku berpikir: "Jangan-jangan niatku tidak dibenarkan Allah. Jangan-jangan orientasiku hanyalah gelar, pekerjaan, kemampuan, dan beasiswa magister. Jangan-jangan orientasiku hanyalah dunia dan dunia." Aku tergugu.

Untuk itu begini logikanya: "Aku hanya mencari seseorang yang tampan, pintar, cerdas dan kaya raya untuk menjadi pendamping hidupku tanpa memikirkan bagaimana akhlak dan ibadahnya.

Aku makin tergugu kala mengetahui pengakuan jika larangan itu karena mereka terlalu menyayangiku--orang yang bagi mereka terlalu polos. Padahal ini bukan organisasi yang terkait dengan sindikat bom bunuh diri dan lain sebagainya. Hehe.

Pikiran yang lain berkata: "Luruskan niatmu, Nak. Niatkan untuk benar-benar beribadah. Karena apa yang kamu dapat berasal dari apa niatmu. Bukankah komunitas ini dipenuhi dengan kegiatan beribadah? Meski berseliweran iming-iming duniawi. Maka jernihkan hatimu. Tata lagi niat yang lurus. Jadikan lelah menjadi lillah." Aku tertunduk.

***

Sungguh, terlepas dari innamal a'malu binniyat, kini aku hanya butuh hudallah. Petunjuk dari Allah. Sebenar-benar petunjuk yang harus diikuti.

Bangkalan, 18 April 2017 - 03:59 WIB

0 komentar