Kapal berlabuh saat adzan ashar berkumandang indah. Masjid Jamik Baitul Amal Kamal berada tak jauh dari pelabuhan. Akhirnya sembari menunggu Fatim--yang berbaik hati, bersikeras ingin menjemputku--aku menuju masjid itu. Dan ini kali pertamaku menginjakkan kaki disana. Aku kemudian duduk sebentar membalas beberapa pesan via whatsapp di hapeku. Salah satu pesan berisi sebuah alamat laman artikel menarik terkait fitnah dan smartphone di jaman internet ini.
Selang beberapa menit, dua orang anak kecil yang cantik dan lucu menghampiriku. Yang satu agak berisi, sedang satunya cenderung langsing. Keduanya sama-sama membawa mukenah yang telah terlipat dan seakan dibungkus dengan sajadah seperti saat aku pulang mengaji dulu. Mereka berdua tiba-tiba berbicara padaku.
"Mbak, Mbak namanya siapa? Mbak, minta pin-nya." Kata si berisi, yang belakangan ku ketahui namanya Yuli, kelas 4 SD.
"Iya, Mbak. Minta pinnya." si lansing dan cantik ikut menimpali. Dia Warda kelas 1 SD. Sekilas mereka terlihat sepantaran.
"Ayo, Mbak. Minta pinnya." keduanya pura-pura memohon.
"Hah?," aku masih tidak percaya pada permintaan keduanya. Yang lebih membuatku heran, bagaimana bisa mereka berdua mendekatiku. Padahal sepanjang perjalanan aku berusaha menutupi mata yang sembab. Takut kalau-kalau berjumpa anak kecil, mereka akan berlarian, ketakutan.
"Ayo, Mbak." masih memohon.
"Pin apa?" aku pura-pura bertanya. Ya masak mereka mau minta pin kartu ATM.
"Pin BBM, Mbak." keduanya bergantian melafalkan kalimat yang sama.
"Pin BBM milik Mbak?" aku berlagak dodol.
"Iya, Mbak, Iya."
"Memangnya buat apa, Dek? Tersenyum. Ah, ini senyum pertamaku hari ini.
"Ga buat apa-apa, Mbak."
"Iya, Ga buat apa-apa."
"Lah terus kenapa minta? Kalian punya BBM?"
"Iya, Mbak. Punya. Di rumah hapenya."
"Rumahnya dimana?"
"Deket sini, Mbak."
"Rumah Mbak dimana?"
"Di Tanah Merah. Tahu?"
"Iya tahu, Mbak."
"Kalo Mbak boleh tahu, memangnya buat apa?" Aku merogoh tas mengambil sebuah buku.
"Ya cuma buat ngeping-ngeping aja, Mbak. Biar rame." tersenyum polos.
Duh, Allah. Aku ingin tertawa mendengar jawaban itu. Sambil menulis pin di sebuah kertas dan kembali tersenyum menahan tawa aku melanjutkan perbincangan.
"Buat apa BBM, mending hapenya buat belajar. Mbak aja sebenernya pengin ngapus BBM Mbak. Tapi..."
"Duh, jangan Mbak. Jangan!" ucap mereka kompak dengan sedikit berteriak.
"Tapi apa, Mbak?" penasaran.
"Tapi Kakak Mbak di Arab. Jadi kalo nelfon pake BBM?"
"Video call?" heran.
"Iya," aku tersenyum lagi.
"Ya udah ya, Mbak mau sholat dulu."
"Iya, Mbak. Makasih yaa.."
Keduanya berjalan lucu sambil membawa yang lebih mirip memeluk mukena. Di tangan, mereka telah memegang satu-satu kertas yang aku sobek dari bukuku. Berisi nama dan pin BBM-ku. "Mbak, satu-satu ya bikinnya." pinta mereka.
***
Selamat datang di dunia dewasa ini. Masa dimana kau akan lebih banyak menemukan di lingkunganmu anak-anak kecil berkerumul dengan hape daripada buku-buku. Maka bagus sekali terobosan disana sini yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak, mengajak mereka membaca. Sungguh mulia. Seorang penjual cilok di daerah Jawa Barat rela menyesaki gerobaknya dengan buku-buku. Saat anak-anak atau pelanggannya mengantri cilok. Mereka bisa sambil membaca. Itu hanya secuplikan contoh.
Aku sendiri sering sedih melihat adikku yang masih SMP kelas 7 namun tidak bisa terpisahkan dengan hape. Sering aku menasehati. Sering pula tidak didengar sama sekali. Saat istirahat sekolah ia menggunakan Wi Fi sekolah yang tersedia bebas. Di rumah ia menggunakan data pribadi. Lalu kapan membacanya? Saya tahu, tidak seperti saya yang meski berusaha keras meraih peringkat satu dengan belajar--ia bisa mendapatkannya hanya dengan belaiar semalam. Namun buku adalah jendela dunia. Bukan hanya sekadar bahan mengisi lembar jawaban.
Aku sering merasa sedih dengan diri sendiri yang kerap menggunakan smartphone dengan cara yang stupid. Memotret sana sini lantas kububuhi tulisan. Touch send. Terupdatelah status intagram milikku. Aku telah membuang waktu sepersekian menit atau bahkan jam. Padahal Allah telah bersumpah dalam surah Al-Ashr.
Aku juga kerap shock dengan aplikasi pengolah data yang tiba-tiba muncul iklan-iklan berbau porno. Hal seperti itu juga acapkali tersebar di internet. Fitnah bertebaran dimana-mana. Maka, peran keluarga, guru dkk sangatlah penting disini. Mengawasi, menjaga, menasehati dll.
Yang menjadi pertanyaaku, akankah semua orang yang menurut mereka bisa berbagi pin akan mereka tanyai satu persatu. Akankah kita membiarkan wajah-wajah bibit Indonesia seperti ini? Sepertiku?
***
Sebenarnya smartphone itu untuk siapa? Jangankan anak kecil, orang dewasa saja tidak mampu menggunakannya dengan bijak. Smartphone kerap merenggut waktu bercengkrama bersama keluarga. Merenggut waktu belajar dan bermain, kecuali main game. Smartphone membuat kita mengurangi durasi membaca al-Qur'an. Smartphone membuat yang dekat terasa jauh. Dan yang jauh dan maya terasa begitu dekat lagi akrab. Dan berbagai fenomena lain.
***
Sejam kemudian sebuah invite datang dari Yuli. Aku confirm. Ia langsung mengirim pesan berupa voicenote. Aku play it.
"Mbak, invitannya Warda nyampe?"
"Haha, belum."
"Ooo, oke. Udah dulu ya, Mbak. Hape saya lobet (bukan lobat)."
"Oke, Dek."
"Oke, Mbak." (Original text: Oke bk)
Bangkalan, 16 April 2017 - 17:20 WIB
0 komentar