Belajar dari presentasi kemarin, aku yang di malam sebelumnya belum membaca materi sama sekali. Entah karena malas atau jadwal rutinitas yang lumayan mencekik. Beruntungnya seminggu yang lalu aku telah sedikit membaca dan memahaminya. Secara otomatis memoriku memanggil kembali ingatan-ingatan mengenai materi itu. Ini yang ku maksud bahwa apa yang aku baca seminggu yang lalu berdampak pada hari kemarin, seminggu setelahnya.
Seorang pencari ilmu menempa diri mereka bertahun-tahun lamanya. Saban hari melatih dan menguji kemampuan memahami, menghafal, menghitung, menganalisa, dan lain sebagainya. Apa mereka langsung bisa menikmati hasilnya saat itu juga? Tidak. Mereka akan menuainya beberapa tahun kedepan. Apa yang seorang pencari ilmu latih sekian lama akan berdampak beberapa tahun lagi.
Seorang manusia juga akan merasakan dampak dari apa yang dilakukannya selama di dunia. Semua yang dilakukan selama hidupnya bertahun-tahun akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Ini nasihat yang selalu ku ingatkan pada diri sendiri; untuk selalu ingat bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Puluhan tahun di dunia yang di jika dikonversikan dalam waktu di akhirat hanyalah beberapa jam saja. Sebentar memang. Itu karena Allah sayang. Dia tidak ingin kita terlalu lama menumpuk dosa. Dia ingin waktu yang singkat ini digunakan untuk memupuk kebaikan yang kita tanam dan kita nikmati buahnya di tempat yang abadi.
Konsep yang saya sederhanakan ini seringkali kita lupakan. Bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Sangat sebentar lagi fana. Sering kita tertipu oleh sosok bernama dunia.
***
Hari ini umurku di dunia genap sudah berkurang 21 tahun. Juga hari dimana Ibuku berada diambang kematian. Sedang Bapak tiada berhenti merapalkan doa. Hari yang begitu sakral. Hari yang mengingatkanku betapa beberapa jam di duniaku semakin terkurangi. Semoga diiringi dengan pribadi yang lebih baik kian hari.
Bangkalan, 11April 2017 - 11:04 WIB
0 komentar