Sikap ambisius orang tua kerap terbungkus rapi oleh cinta dan kasih sayang. Berlandaskan kedua alasan itulah kedua orang tua bisa sampai hati memberikan banyak didikan tambahan berupa les/kursus. Beragam les seperti les Matematika, les bela diri, les bahasa asing, les musik, les tari dan sebagainya. Seorang anak bisa jadi menjalani lebih dari tiga les setiap harinya. Ini semua demi 'kebaikan' sang anak, kata orang tua mereka.
Les memang penting, agar anak mampu membayar ketertinggalan pelajaran saat di sekolah. Atau untuk orang tua yang super sibuk dan tidak ada waktu untuk mendampingi anak belajar, les menjadi teramat penting. Les juga dapat dijadikan ajang latihan, menemukan atau pun mengasah bakat, dan tujuan-tujuan tertentu lainnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak-anak juga membutuhkan waktu bermain.
Masa kanak-kanak adalah masa yang menyenangkan untuk dikenang nantinya. Jangan sampai karena rentetan les yang harus mereka lakukan akan menjadi sejumlah beban tak tertangguhkan. Oleh karenanya orang tua harus bijak pada anak-anak mereka. Jangan biarkan apa yang kita lakukan dengan cinta dan kasih sayang membuat anak malah stress. Bisa jadi pahit yang didapat, bukan buah manis .
Lalu bagaimana dengan anak-anak yang menghafal al-Qur'an sejak kecil? Tidakkah mereka stress?
Yang ada mereka malah ketagihan dengan kegiatan itu. MasyaaAllah. Sebut saja Musa dan Wirda Mansur. Mereka mengaku tidak tertekan dengan apa yang mereka jalani. Itu semua salah satunya karena orang tua yang paham akan porsi bermain mereka sebagai anak-anak.
Bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah membanting tulang, memeras keringat, mencari nafkah sendiri sedari kecil?
Mereka adalah anak-anak yang 'berbeda' dari anak kebanyakan. Mereka telah didewasakan oleh peliknya kehidupan. Mereka anak-anak yang bijak, bersyukur dan tahan banting, tidak seperti hape dari Tiongkok. Mereka lebih kuat dari apa yang kita kira. Mereka lebih dewasa dari usia yang mereka punya. Mereka mampu menjadi pelajaran bagi yang mau melihat dan mendengarkan. Melihat dan mendengarkan televisi dalam acara Orang Pinggiran, Bocah Pejuang (hehe, jadi promo) dan lain-lain.
***
Sebuah pengakuan lucu dari seorang dosen tentang anaknya yang tidak pernah dipaksa untuk les bahasa Inggris namun memiliki nilai Toefl yang mengagumkan untuk anak seusianya. Itu adalah hasil dari belajar secara intensif yang timbul dari keinginan sendiri. Berawal saat ditertawakan teman-teman kelas kala hendak ijin ke kamar mandi dengan menggunakan bahasa Inggris. Alhasil, ia yang tidak mampu berbahasa asing tersebut menjadi bahan tertawaan. Kabar baiknya, ia menjadikan itu sebuah motivasi.
Pernah juga seorang dosen yang IPK-nya empat bahkan tidak mendaftarkan anak les ini dan itu. Anaknya belajar dan bermain sewajarnya.
Kedua cerita itu juga hampir serupa dengan adikku yang selalu mendapat peringkat satu di kelas meski tidak pernah belajar secara berlebihan. Aku seringkali jengkel, kenapa aku yang dulu belajar dengan keras malah tidak mampu mencicipi peringkat pertama sama sekali.
***
Akhir oretan: adapun beberapa cerita di atas tidak bermaksud untuk mengajak para orang tua tidak mengkursuskan anak mereka. Atau mengajak anak-anak untuk tidak perlu belajar. Bukan. Percayalah, bahwa mereka akan mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Meski begitu memang, apa yang dijalani dengan tekun akan membuahkan hasil yang indah. Seperti prestasi Musa, Rio Haryanto dan masih banyak lagi. Sekali lagi, yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan sang anak dengan porsi belajar dan bermain yang sesuai dengan kebutuhan. Aku bukan orang tua. Aku hanya menulis dari sedikit apa yang aku pahami. Aku pribadi tidak menjamin jika kelak aku membaca lagi oretan ini, aku akan mampu mendidik anakku dengan baik. Sungguh, aku tidak dapat menjamin. Aku hanya ingin berbagi atas apa yang Ibu dan Bapakku bagi kepadaku, meski hanya dalam diam mereka. Semoga bermanfaat!
Bangkalan, 9 April 2017 - 18:30 WIB
0 komentar