Buat Apa Sih?!
"Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?!" Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaan dari teman saat masih MA itu. Sejenak = sepersekian detik = aku tidak habis pikir ternyata gerakku di media sosial diperhatikan juga walau besar kemungkinan tulisan itu hanya lewat di berandanya = aku hendak bilang bahwa: ini hanya rutinitasku yang fun---sebelum tidur, tapi karena dewasa itu manusia pada umumnya materialistik, maka aku jawab saja singkat: "Menulis di blog bisa dapat uang, loh! Hehe." Temanku itu nampak ogah menimpali. Aku membalas cuek tak mau kalah.
Masa bergulir. Ternyata jawaban tak niat itu jadi kenyataan. Padahal tidak ditekuni secara serius dengan ruang tulis menulis yang sebenarnya amat luas. Pun meski belum sebagus kata-kata yang dirangkai penulis-penulis ternama. Tapi Allah selalu menuntun orang-orang yang selalu berusaha memiliki niat yang tulus. Meski belum tajir melintir seperti berbilang penulis fenomenal, setidaknya, belajar dari penulis sejati lain--bahwa sering malah tak ada rupiah sepeser pun untuk karya mereka. Selain passion, ada kebahagian tersendiri saat mampu mengekspresikan rasa lewat aksara.
Jadilah aku sedikit demi sedikit juga belajar mengesampingkan semua pikiran yang buruk. Pun daripada ruwet memikirkan usaha yang nihil, ada baiknya sembari secuil demi secuil mengasah lewat menulis catatan. Catatan remeh, pemahaman masih seadanya, dan dari keamburadulannya barangkali membuat satu oraaaaang saja bisa memetik insight baru.
______
Kejadian bertahun-tahun itu terulang lagi. Kali ini malah "diriku" yang bilang. "Buat apa sih kamu nulis-nulis kayak gitu?" Lihat! Amalmu masih tipis! Miris! Kekuranganmu bukan main jumlahnya. Belum lagi, kala diberi sejumput pujian, kamu agaknya mau terbang. Padahal cuma dari satu-dua orang. Tidakkah kamu malu? Kalau saja mereka tau aib yang Allah tutup itu, pastilah kamu mengemban malu yang bertambah-tambah.
Aku menjawabnya dengan berhenti, mencoret kegiatan itu dari list to do harian. Lagi pula aku merasa tak pernah mengasah keahlian. Gaya tulisan pun masih itu-itu saja. Belum lihai membikin alur yang berbeda. Dalam dunia tulis semacam ini, bahkan aku belum mampu berani bergerak mengeluarkan novel atau buku. Padahal banyak event yang memfasilitasi untuk itu. Toh "diriku" itu benar juga, banyak hal dalam hidupku yang masih tak keruan.
Tapi "diriku yang lain" (WKWK, ampun deh. Caraku menulis dari awal sudah bikin pening, ya. Hehe. Makanya doain, semoga diberi semangat latihan. Semua pasti bisa kalo belajar dan Allah berkehendak. HEHE) malah kian mengompori untuk mencatat apa yang nampak dari hari ke hari. Karena aku bisa membacanya lagi sebagai pengingat, katanya mengingatkan. Terlebih, selalu dan selalu, doa-doa dilantukan agar bisa melampaui apa yang dicatat. Bukankah tak ada salahnya berharap pada Yang Maha Hebat. Allah!
________
Malam itu, di blog, aku mencoba membaca kembali beberapa postingan lampau, yang memang jumlahnya masih beberapa. Kemudian beberapa kali merasa tertampar, iya, tersadar oleh catatan sendiri. Beberapa hikmah kembali menyusup. Bagaimana bisa?
Ternyata ada benarnya kata Cak Nun, bahwa sebenarnya yang mengendalikan kita adalah Allah SWT. Bila tengah berucap kebenaran Allah-lah yang sedang menolong. Maka rasanya amat tidak pantas untuk berbangga diri karena apapun kemampuannya pada akhirnya bukan terlahir murni dari diri kita.
Seperti saat ada yang mampu berbicara cas cis cus memesona dengan tatanan kalimat yang nyaris paripurna. Ada yang mampu menulis buku-buku tebal nan bermakna. Ada yang memiliki kemampuan hafalan dengan teknik dan cara penjabaran yang tak terduga. Ada yang visioner menciptakan benda-benda canggih yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Pantas saja, rasanya bisa amat sulit sekali menulis catatan. Karena selain sedang berlumur noda, memang Allah belum menggerakkan, meski kita terus berusaha mengusahakan. Laa hawlaa wa la quwata illaa billah.
Sekarang aku kian mengerti mengapa selalu ada kalimat: kalau benar semua dari Allah, sedang jika salah, semua memang kekhilafan kita sebagai manusia. Ungkapan yang ternyata amat dalam maknanya.
Namun aku yakin, sebagai manusia yang sejati, se-amburadul apapun itu, se-materialistik apapun, se-alpa apaun, dengan kerap memohon ampun, insya Allah pasti akan selalu ada ketukan yang menyelinap untuk bisa ikut andil dalam kebermanfaatan. Tak peduli apapun bentuknya.Tak peduli berapapun jumlahnya.
_______
#please #bismillah #semoga #nggacumabelajarnulis #ncbn #menuliskarenaAllah #insyaAllah ❤
0 komentar