Berubah Dalam Sekejap
Siapa yang tidak berlinang air mata? Atau memang aku saja yang terlampau melankolis. Menganggap adegan real seperti ini jauh berbeda dengan FTV dan bumbu-bumbunya. Lebih menggugah, tentu saja.
______
Di pagi hari, sang istri bercerita, beliau masih menjalankan aktivitas seperti biasa, banyak yang bisa dilakukan. Bahkan pekerjaan yang cukup keras di usia sepuhnya. Dan memang sering aku menjumpai orang-orang semacam itu. Adalah hal lumrah, berlomba-lomba dalam ibadah.
Namun bukan itu cuplikan yang ku maksud. Melainkan malam ini, wanita yang menemani sepanjang umurnya itu mulai memapah suaminya menuju sebuah becak dibantu Ibuku dan Pak Tukang Becak. Seolah tak ada lagi tulang yang bisa membuatnya berdiri tegak. Aku menolong memegang becak agar tak berjalan kemana-mana. Kesetiaan dan kepingan haru memenuhi becak itu. Yang sekarang mulai menjauh, menuju klinik terdekat di desa.
______
Sebenarnya, bukan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, hingga tak ada orang lain. Hanya saja, beliau tak mau banyak orang tahu. Jadilah saat aku dan Ibu datang, kita sedikit membantu agar paling tidak mereka lebih merasa berbesar hati atas ujian yang menimpa hari ini. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Memang penting untuk mengingat kematian. Pun tak kalah perlu untuk memohon kesembuhan. Kemungkinan itu selalu ada, bahkan terbuka lebar. Sebab tak bisa kita lupa, Allah Maha Berkendak, dan Maha Besar. Seperti mengubah apapun dalam sekejap. Yang awalnya sehat jadi sakit, taat jadi ingkar, berharta jadi papa, sedang baik-baik saja malah diuji seketika. Hidup betul-betul dipenuhi rahasia.
Karena walau mungkin tak seberapa dengan kisah itu, aku juga pernah di posisi yang sama. Menjalani aktivitas seperti biasa di pagi hari, tas yang penuh dengan tugas tidak juga menjadi alasan untuk berhentinya episode kecelakaan yang mengubah hidupku dalam sekejap. Meski aku menganggap itu adalah kecelakaan yang konyol, tapi aku sangat mengimani bahwa tak ada sepercikpun yang terlewat, alirannya sudah digariskan.
______
Setelahnya aku harus mengerjakan apa-apa dengan satu tangan. Karena sebelahnya lagi mengalami patah tulang. Aku ingat sekali, di pagi pertama waktu pandanganku menyapu sebelah tangan itu, aku benar-benar cukup sulit untuk percaya, seperti mimpi. Lalu aku mulai berpikir telah menyusahkan banyak orang, seperti untuk mengambil makanan, dan lain-lain. Sedih sekali rasanya, aku juga tidak bisa membantu pekerjaan rumah saat itu. Merasa tak berguna, meski tetap berusaha melakukan semuanya sendiri, terkecuali mengikat rambut.
Tapi, kalau mau dipikir ulang, sungguh Allah SWT memahamj yang terbaik. Allah paham bagaimana memberi pelajaran. Betul. Banyak sekali dosa yang menghiasi hari, namun satu yang sangat ku ingat hingga kini. Jawaban yang sedihnya baru aku dapat berbulan-bulan kemudian. Bisa jadi itu adalah peringatan untuknya.
______
Jadi, pagi hari sebelum berangkat kuliah, aku sempat mendumal sebal---meski barangkali tak ada manusia yang mendengar saking kecil volumenya---begini, "Aduh, kenapa ngerjain semuanya mesti nunggu aku?" Padahal kenyataannya tidak begitu juga, aku tidak mengerjakan segalanya. Namun sebagai manusia biasa yang banyak khilafnya, terkadang rasa penat dan pikiran yang sedang absurd membuat kata-kata yang keluar dari mulut bisa sekenanya, seringkali menyakitkan, melampaui batas, lalu sialnya menjadi doa yang terdengar jernih hingga ke lapis langit paling akhir.
Membuatku kian terbangun. Menyadari jika ternyata tidak menyenangkan berbaring saja seperti itu. Sebab yang paling melegakan bagi seorang manusia adalah berkontribusi. Entah dalam ranah keluarga maupun di lingkup yang jauh besar. Dengan begitu, hembusan napas kita akan lebih berarti. Seperti kata nuraniku setahun silam: Bukankah lebih berat menjadi seorang pemalas daripada seorang yang rajin dan berani menghadapi rentetan hidup yang keras. Kalau kata orang hebat, di dunia memang untuk berlelah-lelah. Sedang menurut penelitian, banyak beraktivitas membuat hormon bahagia meningkat.
Maka kesal karena ragamnya kebiasaan tiap orang tidak akan berlarut-larut bahkan mungkin tak hadir lagi. Sebab mengerti bahwa dengan merapikan perabotan yang berantakan, membagi ilmu, mengayomi masayarakat dan lain lain di setiap aspek, justru membikin kehadiran kita akan jauh lebih bermakna.
Sedang kita kerap mudah jumawa meski ingat bahwa semua daya dan upaya hanyalah titipan dari-Nya.
_______
NB: Bukan berarti, siapapun yang tengah berjuang dengan sakit sampai hari ini juga sedang diperingati seperti yang aku alami. Siapalah aku yang berani-beraninya mengukur dan menghakimi. Karena sungguh, Allah SWT Maha Adil, semua bernilai ibadah jika hanya dilakukan untuk-Nya. Termasuk untuk senantiasa bersabar dalam setiap kondisi. Berat, semoga Allah selalu memperkuat.
0 komentar