Hidupnya Begitu Sempurna
"Hidupnya begitu sempurna," gumam kita usai mengamati postingan beberapa orang di beranda Instagram. Hanya karena apa-apa yang dibagikan disepersekian masa, kita genap menyimpulkan segalanya.
Padahal siapa yang bisa menjamin, di baliknya, seorang yang tampak paripurna itu sedang sembab matanya, usai tergugu meratapi nasib yang pilu.
Tak berhenti di situ, setelah puas berdamai dengan merelakan air matanya berhambur, ia kemudian menguatkan diri dengan memperbanyak syukur.
Meski pelik hari ini masih saja memenuhi pikirannya, ia bersikeras mengalihkan dengan mengeja kebahagian-kebahagian yang tak terukur nilainya. Seperti melihat anak-anak yang sholih dan sholiha, si kecil hari ini sudah hatam Iqro'nya. Juga suami yang senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Adalah karunia tak terkata.
Persona lain juga terlihat sempurna hidupnya karena tak terhitung sudah berapa kali menjuarai ragam kompetisi. Tapi siapa yang tahu, kalau justru ia lahir dari keluarga broken home. Sekuat tenaga menutup kisah pahit dengan senyum tak berujung. Selalu merapal, bahwa ia masih amat beruntung.
Sedang disana terbaring selama bertahun-tahun di ruangan dingin, nyaman tapi mencekam. Seolah tak ada harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Tapi itu kata orang, bukan katanya. Sebab dia terus saja optimis, memaknai tiap detiknya, walau tak nampak sedikitpun kemajuan.
Maka mungkin memang kita yang lupa untuk bertanya dan mengukur sejauh mana pribadi ini sudah melangkah. Jangan-jangan sudah hilang arah.
Tanya. Mungkin memang hati kita yang 'sudah' mati. Dan cuma hidup saat berkelimpahan materi.
Tanya. Mungkin ilmu justru lebih menjauhkan diri dari kearifan. Kian memberikan standar rumit baru pada bentuk-bentuk kebahagiaan.
Tak bahagia kalau belum capai pangkat tinggi. Belum sukses kalau belum punya mobil-mobil gres. Tidak sejahtera jika tanah berhektar-hektar belum atas namanya. Baru gembira setelah berjejer rapi berjibun piala. Merasa dianggap kala jumlah follower bikin gagap.
Tak salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Sebab harusnya, kian dekat dengan esensi ilmu, makin memperjelas, bukan malah mengaburkan pandangan.
Kadang aku berpikir, hidup itu kan begitu sederhana. Maksudku perjuangannya memang tak sesederhana itu, tapi hidupnya adalah perkara yang simpel.
Tak perlu rumah megah, kerjaan mentereng dan lain lain. Karena bahkan menjadi seorang petani, dengan sepetak lahan/kebun dan rutinitas harian, namun membahagiakan karena selalu disertai hati yang lapang juga bentuk anugerah hidup yang 'sempurna' bagiku---sungguh, bagi banyak orang akan terdengar naif berkata demikian jika diartikannya adalah aku sedang say no untuk berjuang memperoleh kesejahteraan hidup, keluar dari kungkungan kebodohan dkk yang bonusnya seringkali berupa limpahan materi.
Tapi ternyata anggapanku ini tak sepenuhnya benar. Karena sudah sunnatullah. Setiap yang beriman pasti diuji. Entah sebagai pengingat, atau pendorong ke tempat yang lebih tinggi. Permasalahan akan selalu ada di setiap lini, pada ragam profesi, usia, kasta, gender, dan tingkat pendidikan. Ada yang diuji finansialnya, keluarganya, pekerjaannya, dan seterusnya.
Terbayang kalau hidup tanpa tantangan, pasti akan terasa garing dan tak ada ladang untuk beribadah. Lagipula hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. Segala penat makin menjauhi pikiran. Pun kala mengingat-Nya lewat ragam ciptaan, seperti langit yang megah, senja yang indah, tanaman yang tumbuh dengan subur dan bunga-bunga yang merekah. Apalagi dengan rasa syukur yang membikin nikmat bertambah-tambah.
0 komentar