Kapan Nikah?

Di usia menjelang seperempat abad, atau jauh lebih dini daripada itu kita mungkin akan terbiasa mendapati introgasi sejenis: "Kapan nikah?", "Kamu kapan?", Kapan nyusul?", dan tambahkan sendiri. Ragam kalimat seperti itu umumnya bertandan ke telinga kala sedang menghadiri kondangan, atau sialnya balasan usai memposting foto akad teman, bahkan saat tak ada api ataupun hujan. Apalagi bagi mereka yang bernapas di desa, lontaran demikian bisa amat menyesaki pikiran, penyimpanan yang mubazir. Baiknya langsung tekan shift+delete saja. Permanently. Sayangnya, tidak bisa mengelak mayoritas Indonesian society juga lekat dengan budaya semacam itu.

Tak banyak yang terbiasa dengan itu. Berjejal yang kemudian 'baper' dan sakit hati. Sementara pribadi yang mengusutkan perbincangan, santai saja seperti tengah meneguk susu hangat yang dihidangkan. Sedang aku termasuk orang yang awalnya selalu menganggap itu pertanyaan biasa, basa-basi, sekenanya, atau kalau mau lebih mendalam mungkin doa. Karena itulah jawaban yang kerap aku lemparkan beberapa tahun terakhir adalah "Doakan saja". Berbeda dengan pada saat masih usia 20 ke bawah, eh ke awal, aku selalu lancar menjawab---Ah, masih lama. Jawaban serius, meski terdengar sekenanya.

Tiga tahun kemudian, seorang dosen berbagi kisah, yang kalau disarikan isinya adalah kiat-kiat memilih pasangan dan ilmu-ilmu parenting. Aku kemudian berceloteh, "Benar juga ya, Bu," ucapku merasa tercerahkan. Beliau menimpali, "Ibu tahu, kamu bahkan tak pernah memikirkan hal semacam itu, kan." Aku tersenyum, sedikit nyengir sebelah, agak pahit, tanda mengiyakan. Dosenku tertawa. Dibanding dengan yang lain, cuma bertanya, beliau malah langsung menyusupi ilmu-ilmunya. Betapa paham betul beliau, memikirkan saja hampir tak pernah, apalagi sampai menuliskan target untuk itu. Hehe, daripada memikirkan kapan menikah, aku lebih suka belajar bagaimana membesarkan anak nanti, itupun sebenarnya jika diamanahkan. Aneh memang.

Namun aku bersyukur, hampir selalu merasa biasa dengan perbincangan pasaran dari society itu merupakan buah karena tidak menjadikan menikah sebagai such a main purpose in life. Seolah cinta dari seseorang atau pasangan hidup adalah segalanya. Iya, penting, tapi bukan akhir tujuan hidup juga. Case tiap orang tidak sama. Ada yang ingin terlebih dulu meraih taqwa dengan fokus berprestasi. Ada yang dengan memperbanyak bakti. Ada pula yang menyibukkan diri dulu dengan berkontrbusi pada negeri. We know, it's all about our choice and His will.

_______

Aku tadi menulis "hampir" bukan "selalu" lagi. Karena ternyata ucapan semacam itu bikin muntab dan menyakitkan juga jika keluar dari lisan orang-orang tertentu. Seperti orang dekat, orang yang mungkin sering berselisih paham dengan kita---padahal bagiku, bukan berdebat, atau mendebat, hanya saling memberi ruang untuk bertukar pendapat. Jadi pada akhirnya everthing is OK. Don't take it personal---Tapi entah kenapa, nasihat mengenai pernikahan seolah menjadi serangan yang sangat menyakitkan. Kalimat, "sudah waktunya kamu menikah," menghujam begitu keras, seperti paksaan. Setelahnya, pemikiran-pemikiran yang dianggap modern keluar, berlarian menghampiriku satu-satu. Serupa anak-anak kecil yang meluapkan isi hatinya pada sang bunda. Yang satu berkata, "Memangnya menikah itu dilandasi paksaan!", Lainnya berebut angkat bicara, tak mau kalah: "Memangnya menikah hanya karena dikejar usia", si bontot mengadu: "Menikah bukan perlombaan, kan", "Alasan menikah tak sedangkal menghindarkan zina, dong", "dan seterusnya. Bergerombol, berteriak-teriak liar dalam batok kepala. Berdemo, ingin aspirasinya tersampaikan. Sementara sang empu hanya terdiam.

Pikirannya terseret ke potret dirinya dulu yang paling anti bercerita perihal nikah, masih sangat jauh pikirnya, sampai akhirnya diusia 20-an, beberapa referensi membawanya pada pemahaman: manusia tidak boleh mendikte Tuhan. Termasuk dengan menancapkan kalimat: Aku tidak mau menikah sebelum ini dan itu, meskipun tidak sepenuhnya salah. Menjadi salah jika kita merasa kitalah yang menentukan, tanpa pernah kembali pada satu titik, bahwa sudah ada yang menggariskan.

Jangan hanya karena kesombongan, nasihat menjelma menjadi nyinyiran. Jangan hanya karena merasa pemikiran yang katanya sudah modern, (padahal tidak juga, karena ide-ide semacam menikah bukan karena dipaksa dan lain-lain sebenarnya sudah termaktub sejak dulu. Islam yang sejati lebih dari pada itu dalam menunaikan hak-hak pemeluknya) membuat kita menutup diri dari masukan, hingga tak paham hakikat open minded yang digaungkan orang-orang.

Well, pada akhirnya siapalah aku yang berhak menyalahkan mereka yang memilih menikah muda untuk menghindari zina, ilmuku masih amat cetek, siapa yang menduga itu adalah bentuk ketaqwaan yang berat timbangannya, lagi pula alasan mereka tak hanya berkutat di situ, ada banyak ulasan luas lain! Aku tidak bilang aku tidak setuju bahwa lewat menikah justru kita berbakti dengan membahagiakan ortu. Aku tidak bilang jika dengan menikah kita berhenti mengukir prestasi dan menikah membatasi kita memperoleh impian-impian yang hakiki. Aku tidak bilang, aku bersih dari tidak pernah mengudarakan "Kamu kapan?" sebab seingatku pernah sesekali bahasan itu menguap juga sebagai guyonan, yang sepertinya harus dihentikan. Karena di banyak momen, sudah benar-benar tidak lucu lagi. Tapi tidak dengan doa, semoga selalu mengudara, untuk siapa saja. Pun aku tidak ingin bilang dengan menulis catatan ini aku akan menikah setelahnya. Ayolah, yang benar saja. But, wallahua'lam. *meskipun cuma "but" yang penting ada campuran bahasa Inggris-nya, biar modern, eh. ✌

0 komentar