Catatan Tak Berjudul
Rasanya sudah setahun draft catatan ini bercokol tanpa pernah ditindak lanjuti. Berat sekali menggerakan jemari untuk menyentuh huruf virtual pada sekotak benda yang ditenteng kesana kemari. Sedang pikiran begitu penuh, ingin sekali berbagi. Namun perasaan itu seakan baru menetap kemarin. Haru melihat orang-orang sepuh yang masih berjuang untuk menyambung kehidupan, selalu. Berjualan dengan ragam barang yang ala kadarnya, untungnya pun tak seberapa.
Hmm, aku tak pernah sepeka ini. Maksudku seseorang bisa memilih ingin melihat satu topik dari sudut yang mana. Dan aku belum pernah mencoba melirik topik ini: pekerjaan. Sampai akhirnya aku belajar untuk melihat dari sudut pandang yang lain. Sama seperti saat berburu beasiswa dan merasakan (baru sedikit) rentetan perjuangannya, kala itu aku juga seolah merasakan bagaimana susahnya memperoleh penghidupan. Boleh jadi memang tak seberat mereka yang menjadi tumpuan keluarga. Tapi paling tidak aku bisa menuliskan beberapa hal yang baru kupelajari itu.
Begini. Menjelang kelulusan, seorang dosen bertanya padaku, "Kalo Lutfiyah, setelah lulus mau kerja atau punya perusahaan sendiri?", refleks aku menjawab, "Kerja dulu baru buka usaha sendiri, Bu." Namun kenyataannya belum pernah terpikir bagiku untuk melamar apalagi bekerja setelah kuliah. Maksudku di masa setelahnya aku masih ingin mengeksplor diri. Tapi aku juga tidak bilang, dengan bekerja artinya tidak bisa bertumbuh. Biar ku perjelas. Yang ku maksud, pekerjaan tetap, atau rutinitas yang 'terasa' bekerja (Eh, susah dijelaskan istilahnya). Mungkin karena selama ini yang ada di otakku hanyalah tentang sekolaaah saja. Entah ini menjadi kabar baik atau buruk, karena bagiku semua pilihan, pemikiran, dan lainnya memiliki argumen dan sisi-sisi yang berbeda.
Bukan. Ini bukan berarti karena aku tidak pernah berpikir untuk mandiri secara finansial sedari muda. Tentu penting jika bisa atau berusaha demikian. Karena aku pun berasal dari keluarga dengan perekonomian yang sederhana---pantang meminta pada orang tua selain kebutuhan sekolah, keadaan menjelma pengertian nyata, bahwa untuk mendapatkan sesuatu haruslah dengan usaha dan doa sendiri. Terlebih impian kita tak terbatas disitu. Siapa yang bisa mengelak jika ada macam kebermanfaatan terbuka setelahnya. Akan tetapi, dalam hal ini hanya soal rangkaian prinsip yang kadang membikin bingung sendiri.
Hingga pada akhirnya kebingungan itu membawaku kepada pusaran yang sama dengan apa yang telah lama diceritakan dan dipersiapkan orang-orang: melamar pekerjaan. Cerita tentang betapa kian peliknya persoalan yang satu ini. Cerita tentang pengangguran di sana sini. Cerita tentang potensi yang berhenti digali. Cerita-cerita demikian, kala itu membentang lebih terang.
Jadilah, lagi, aku merasakan (meski baru sedikit) betapa sulitnya mendapat pekerjaan, atau mungkin lebih tepatnya memperoleh pekerjaan yang tepat dan sesuai. Sebab kalau berkaca pada diri dengan banyaknya syarat, mungkin, mendapatkannya juga akan lebih perlu perjuangan. Betul, seperti; apakah seragam kerjanya cocok, apakah pekerjaan itu tidak membuat stuck melainkan berkembang, atau apakah bisa berkontribusi banyak, apakah, apakah, apakah, begitu saja terus. Hehe.
Saat "apakah" itu masih meloncat-loncat liar dalam batok kepala, di bagian kehidupan lain justru terus bergulir ragam perjuangan. Kakek yang entah sudah berkepala berapa itu terlihat sangat sepuh. Cara bicara beliau juga sepertinya sudah tidak sesempurna dulu. Tapi semangat juangnya lebih dari pemuda-pemudi yang menulis lembaran kehidupan mereka dengan berpetualang. Mendaki gunung bersama kawan sefrekuensi, berswafoto di spot langka, menjelajah. Bedanya kakek itu berulang kali menghitung lembaran rupiah yang ia dapat dalam setengah hari ini. Belum sampai dua lembar, tapi energinya masih berbinar. Rasa syukurnya tetap meletup-letup.
Kita ke potret kisah yang lain. Anak Adam yang terlihat kerepotan dengan bawaan yang banyak. Siapa sangka, ia masih berstatus sebagai mahasiswi namun terpaksa rehat sejenak dari perkuliahan. Dana menjadi salah satu yang menghambatnya. Aku ralat: menjadi salah satu tantangan dalam hidupnya, karena saban hari alasan itu tidak lantas menjadi penghambat untuk mengumpulkan rezeki lewat berjualan nasi bungkus, kue-kue dan makanan lezat lain bikinannya sendiri, aneka dagangan yang membuatnya terlihat repot tadi.
Pada kepingan mozaik lain, tampak pasangan muda tak kalah menularkan energi yang baik. Kita patut bersyukur karena memiliki akses dan pemahaman untuk memanfaatkan teknologi. Karena meski itu yang belum dimiliki, mereka tetap melakukan pekerjaannya dengan penuh harap dan hamdalah yang lebih penuh. Auranya memenuhi dagangan yang dijejer rapi, usai sebelumnya diamankan karena hujan mendera siang ini.
Walau tak seberapa, aku jadi teringat saat keterbatasan justru membuatku semakin giat belajar. Keringat yang membasahi tubuh setelah berjalan hingga ruang kelas, justru menjadi pemantik semangat untuk lebih fokus menyimak kuliah yang disampaikan dosen. Saat tak memiliki laptop, aku malah berinisiatif untuk menulis dulu konsep tugas akhir di kertas-kertas bekas sebelum akhirnya mengetiknya di ruang Warnet dengan kepulan asap rokok yang menyebalkan.
Keterbatasan harusnya juga mampu membuat kita berlama lama dalam berdoa. Lalu selipkan juga agar tak berhenti bersua dengan-Nya saat tak butuh, meski hakikatnya kita selalu membutuhkan Dia. Seperti yang juga aku rasakan. Saat tak ada lagi jalan kaki, sabar yang diuji kala menunggu angkutan yang tak pasti, melainkan motor yang tinggal dipacu, dan sederet hal lain yang agaknya menyeret kita ke zona nyaman.
Padahal berjibun orang 'sukses' yang lahir dari keterbatasan. Aku memaknai keterbatasan tidak melulu pada anggaran, walau maraknya begitu. Aku mengartikannya lebih luas. Sebab sering yang lahir dari keluarga berada (dari orang tua) tapi mau bekerja sangat keras dan mandiri. Hei, zona nyaman juga bisa jadi sebuah keterbatasan yang---jika tidak dikelola, melahirkan akses untuk bisa berbuat lebih---akan menghanyutkan.
Di tingkat yang lebih tinggi, persepsi keterbatasan berkenaan dengan terbatasnya amal kita untuk mendapat sisi terbaik. Pemahaman itu yang membuat kita terus berusaha memperbaiki diri. Salah satu yang bisa dilakukan ialah memaknai hidup lewat perjuangan seperti yang dilakukan orang-orang tadi, siapapun, atau bisa jadi sosok-sosok di sekitar kita.
Namun sering kita malah menimpali perjuangan orang-orang hebat itu dengan komentar-komentar tak perlu bahkan menjijikkan. Seperti, "Ya ampun, kok ngga gengsi, sih. Kan, anak orang kaya," atau "Sarjana tapi gitu-gitu aja tuh kerjaannya," "Kok mau, ya. Ngga gampang loh." dan ungkapan sejenis.
Sering pula aku berusaha mencerna kalimat-kalimat yang patutnya tak pernah diterima itu. Meski bukan pribadi yang dikomentari, aku, terjadi begitu saja, berpikir atas apa jawabannya. "Lah, kenapa harus gengsi, ya.Toh asal halal dan diniatkan untuk-Nya semua bernilai ibadah. Lagi pula pekerjaan ini-itu, label kaya-miskin itu, kan, cuma standarisasi buatan manusia. Bahwa yang kaya cenderung lebih terhormat dan perlu diberi tempat duduk khusus. Sedang yang melarat bahkan tak pernah diakui sebagai kerabat. Secara tidak sadar kita kerapkali terdoktrin bahwa orang yang bisa survive dan terpandang adalah mereka yang bekerja di kantor, berkemeja, bayaran terjamin. Padahal tiap orang sah-sahnya saja berusaha dalam bentuk apapun untuk bertahan hidup. Tak perlu ada paradigma yang menyudutkan. Justru butuh saling menguatkan. Sungguh, bukan kita yang menurunkan hujan dan menumbuhkan biji-bijian. Lantas kenapa seperti pihak yang mempertimbangkan nasib banyak orang" gumamku dalam hati.
0 komentar